Jumat, 26 Juni 2020

*CINTA SEGITIGA ANTARA IBN HAJAR, AL-HAITSAMI, AL-IRAQI DAN KHILAFAH*

Oleh: *KH Hafidz Abdurrahman*
[Khadim Ma’had Syaraful Haramain]

*Hubungan Ibn Hajar, al-Haitsami dan al-Iraqi*

Al-Hafidz al-‘Iraqi, nama lengkapnya Zainuddin Abu al-Fadhl ‘Abdurrahim bin al-‘Iraqi [w. 806 H] adalah seorang Hafidz yang luar biasa. Karena dari tangannya, lahir para Hufadz, sekelas Ibn Hajar al-Asqalani dan al-Haitsami. Al-Haitsami [w. 807 H] menyebut guru, yang sekaligus mertuanya itu, dengan sebutan, “Tuanku, Guruku, al-‘Allamah, Guru para Hufadz di Timur dan Barat, yang memberi faidah kepada senior maupun junior.” Begitulah, al-Haitsami membahasakan gurunya yang luar biasa itu. 

Ibn Hajar al-Asqalani [w. 852 H], murid sekaligus teman al-Haitsami, sama-sama pernah belajar kepada al-‘Iraqi, menuturkan bagaimana al-‘Iraqi mendidik muridnya, “Belialah yang melatihnya, dan mengajarinya cara mentakhrij hadits dan mengarang kitab. Beliaulah yang membuatkan pengantar kitab untuknya.” [Inba’ al-Ghamr, Juz V/172]. Hubungan al-‘Iraqi dengan muridnya, al-Haitsami ini memang luar biasa. 

Membayangkan kisah hubungan murid dengan guru ini, tiba-tiba air mata ini meleleh. Mata ini menerawang jauh, membayangkan indahnya hubungan antara guru dengan murid yang begitu luar biasa, sesuatu yang tak lagi kita temukan hari ini. Al-Haitsami menemukan sosok gurunya itu sebagai teladan dalam masalah pemikiran, tsaqafah, akhlak dan perilaku, sehingga al-Haitsami bisa menjadi saudara yang jujur bagi gurunya, anak yang berbakti, kawan yang jujur, teman yang setia, murid yang taat dan pelayan yang amanah. Itulah sosok al-Haitsami bagi gurunya. Hanya ada satu panggilan untuk gurunya dari al-Haitsami, “Sayyidi [tuanku].” Sampai-sampai dalam urusan melayani gurunya beliau bak seorang budak. [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/201]

Sampai Ibn Hajar, teman sekaligus murid al-Haitsami, yang juga murid al-‘Iraqi, menuturkan ketulusan al-Haitsami itu dengan ungkapan, “Aku melihat beliau berkhidmat untuk guru kami, dan adab beliau kepada guru bukan karena memaksakan diri. Aku tidak melihatnya pada diri yang lain. Aku tidak mengira orang lain sanggup untuk melakukannya [sebagaimana yang dilakukan oleh al-Haitsami].” [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/202]

Di mata Ibn Hajar, al-Haitsami adalah orang yang sangat istimewa di mata gurunya, “Orang yang paling istimewa bagi beliau [al-‘Iraqi] adalah menantunya, guru kami, Nuruddin al-Haitsami. Beliaulah yang melatihnya, mengajarinya bagaimana mentakhrij hadits dan mengarang, serta menulis pengantar kitabnya, dan memberi nama untuknya.” [Inba’ al-Ghamr, Juz V/172]

Al-Haitsami memang bukan siapa-siapa, sebelum bertemu dengan al-‘Iraqi. Beliau lahir dari keluarga miskin, bukan keluarga berilmu, tapi keluarga biasa. Meski al-Haitsami mempunyai banyak guru, tetapi mulazamah beliau dengan al-‘Iraqi, kurang lebih selama 56 tahun itulah yang membentuk kepribadiannya, sehingga lahir menjadi sosok al-Hafidz yang luar biasa. 

Bagi al-Haitsami, al-‘Iraqi tak ubahnya seperti orang tuanya sendiri, bahkan lebih. Beliau menyertai ke manapun al-‘Iraqi berada, saat di rumah maupun bepergian, sampai wafat. Beliau haji bersama gurunya, dan semua perjalanan yang lainnya. Beliau menyertai gurunya dalam menyimak di majelisnya, baik di Mesir, Kaero, Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, Damaskus, Ba’labak, Alepo, Hamah, Homs dan Tarablus. [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/201]

Karena itu, al-Haitsami menjadi orang paling istimewa, dan dipercayai gurunya untuk mendapatkan amanah ilmu hingga anak gadisnya. Itulah istimewanya al-Haitsami di antara murid-murid al-‘Iraqi yang lainnya, termasuk Ibn Hajar al-Asqalani sendiri, yang kemudian mendapat gelar sebagai Amirul Mukminin fi al-Hadits.  

Iya, al-Haitsami adalah sosok yang dididik oleh gurunya untuk melakukan tugas, kemudian tugasnya ditelaah saat selesai, dan dibantu bahkan hingga menulisnya. Gurunya yang menulis pengantar untuknya, dan memberi judul kitabnya. Wajar jika kemudian beliau disebut sebagai Hafidz, sejajar dengan gurunya, bahkan konon memiliki kelebihan dalam penguasaan matan, melebihi gurunya. Mereka bertiga, al-Hafidz al-‘Iraqi, al-Hafidz al-Haitsami dan al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, adalah tiga hafidz yang hidup sezaman. Mereka adalah guru dan murid yang luar biasa. 

*Cinta Segitiga dan Majma’ Zawaid al-Haitsami*

Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid [Kumpulan Zawaid dan Sumber dari berbagai Faidah] adalah nama kitab yang ditulis oleh al-Hafidz al-Haitsami, hasil didikan, telaah, koreksi, bahkan judul dan pengantarnya pun diberikan oleh gurunya, al-Hafidz al-‘Iraqi. 

Zawaid adalah kumpulan hadits, yang menambah kitab hadits, baik yang berbentuk Musnad maupun Mu’jam atas Kutub Sittah. Sebagian ulama’ meringkas dari sejumlah kitab Musnad dan Mu’jam, berdasarkan nama-nama syaikh, tetapi tidak disistematikakan dalam bab-bab fiqih. Karena menelusuri dan mencari hadits-hadits dalam bab-bab fiqih ini sulit dan melelahkan. 

Karena itu, al-Hafidz al-Haitsami berkata, “Aku melihat al-Mu’jam al-Ausath dan al-Mu’jam al-Kabir karya Abi al-Qasim at-Thabrani mempunyai kandungan ilmu yang luar biasa, yang tidak bisa diperoleh oleh pencarinya kecuali setelah melakukan penelaah yang mendalam, karena itu aku ingin mengumpulkan semua yang berserakan ke dalam bab fiqih, yang bisa menjadi sumber..” [Majma’ al-Bahrain, Juz I/1]

Enaknya, al-Hafidz al-Haitsami dibimbing langsung oleh guru, tuan dan ayah mertuanya, yang merupakan Huffadz bi al-Masyriq wa al-Maghrib, “Kumpulanlah karya-karya ini. Buanglah isnad-isnadnya agar hadits-hadits setiap babnya bisa dikumpulkan dalam datu bab dari sini.” Al-Haitsami mengatakan, “Ketika aku melihat petunjuk beliau kepadaku untuk melakukan itu, maka himmahku tertuju ke sana. Aku memohon kepada Allah untuk memudahkan dan menolongnya. Aku memohon kepada Allah agar memberinya manfaat. Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/30]

Cinta segitiga murid dan guru inilah yang menghasilkan kitab yang luar biasa ini. Bagaimana tidak,  Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid seperti karya tiga Hafidz. Penulisnya adalah al-Hafidz al-Haitsami, dibimbing, ditelaah dan dikoreksi oleh gurunya, al-Hafidz al-‘Iraqi, kemudian oleh muridnya, al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, kitab ini dibacakan dan ditelaah ulang di hadapan muridnya, sebagaimana yang dituturkan oleh al-Hafidz as-Sakhawi. Karena itu, kitab ini seperti karya tiga Hafidz. 

Wajar, jika kitab ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para ulama’ setelahnya. Muhammad bin Ja’far al-Kattani, dalam ar-Risalah al-Mustathrafah, memberikan komentar, “Ini adalah kitab hadits yang paling bermanfaat. Bahkan, tidak ada kitab hadits yang sepertinya. Belum pernah ada kitab dalam masalah ini disusun yang sebanding dengannya.” [ar-Risalah al-Mustathrafah, h. 129]

Ustadz Ahmad Rafi’ at-Thahthawi berkomentar, “Ini merupakan kitab Sunan yang paling penting, setelah enam kitab induk. Siapa saja yang menelaahnya, dia akan takjuk pada kehebatan kemampuan penulisnya dalam hadits.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/32]

Syaikh Muhammad ‘Abid as-Sindi, “Itu merupakan kitab yang agung, dengan kandungan yang luar biasa, begitu hebat. Belum pernah aku melihat seorang yang mendahuluinya sampai pada metode yang sangat jelas ini.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/32]

Bagaimana tidak hebat dan dahsyat? Di dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, penulisnya, al-Hafidz al-Haitsami, telah mengumpulkan Zawaid yang ada dalam kitab Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu Ya’la al-Mushili, Musnad Abu Bakar al-Bazzar, dan tiga kitab Mu’jam karya at-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath, dan al-Mu’jam as-Shaghir di dalam satu kitab. Kemudian disusun mengikuti bab fiqih. Termasuk di dalamnya, Bab al-Khilafah dalam satu bab tersendiri. 

*Bab al-Khilafah*

Dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid ini, Bab al-Khilafah diletakkan oleh al-Hafidz al-Haitsami pada urutan ke-22, sebelum Kitab al-Jihad, Kitab al-Maghazi wa as-Siyar, dan Kitab Qital Ahli al-Baghyi wa Ahli ar-Riddah. Perlu dicatat, al-Hafidz al-Haitsami adalah penganut mazhab Syafii. Biasanya, kitab-kitab fiqih mazhab Syafii membahas pembahasan Khilafah dan Imamah di Bab Kitab Qital Ahli al-Baghyi wa Ahli ar-Riddah. Tetapi, di dalam kitabnya yang luar biasa ini, al-Hafidz al-Haitsami meletakkan dalam bab tersendiri, terpisah dengan yang lain, dan lebih dulu, ketimbang bab tentang jihad. 

Dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid terbitan Dar al-Minhaj, Jeddah-KSA, cetakan I, 1436 H/2015 M, Bab al-Khilafah ada pada juz XII, mulai dari halaman 7 sampai 242. Jumlah total hadits yang dibahas ada 369 hadits. Mulai hadits no. 8974 sampai 9343. 

Pendek kata, hampir semua hadits yang membahas tentang Khilafah, Imamah, Khalifah dan Imam ada di sana. Mulai dari pembahasan tentang Khulafa’ Rasyidin, Imamah, Khilafah dan Mulk, larangan membai’at dua khalifah, sampai detail tengang sifat dan kriterianya, nyaris semuanya ada. 

Pertanyaannya kemudian, apakah hadits sebanyak 369 hadits itu belum cukup untuk membuktikan, bahwa Khilafah itu ajaran Islam? Khilafah itu merupakan warisan Nabi. Pendek kata, siapa yang mencari kebenaran Islam, dan langsung meneguk dari sumbernya, maka bacalah dengan hati dan pikiran yang sehat, kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid. Sebagaimana namanya, insya Allah, kita akan mendapatkan banyak faidah. 

Dulu, para sahabat Nabi hanya membutuhkan satu ayat, atau satu hadits untuk meyakinkan mereka, dan mendorong mereka untuk mengamalkannya. Mereka tidak perlu berpuluh, bahkan beratus ayat atau hadits. Cukup satu saja, maka mereka langsung laksanakan. Itulah keimanan para sahabat. Maka, mereka pun menjadi umat terbaik. 

Tetapi, jika hati dan akalnya sudah dipenuhi kebencian terhadap ajaran Islam, seberapapun ayat al-Qur’an dan hadits Nabi tak akan sanggup meyakinkannya. Karena di dalam hatinya tak ada lagi iman kepada Islam. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar