Jumat, 26 Juni 2020

*CINTA SEGITIGA ANTARA IBN HAJAR, AL-HAITSAMI, AL-IRAQI DAN KHILAFAH*

Oleh: *KH Hafidz Abdurrahman*
[Khadim Ma’had Syaraful Haramain]

*Hubungan Ibn Hajar, al-Haitsami dan al-Iraqi*

Al-Hafidz al-‘Iraqi, nama lengkapnya Zainuddin Abu al-Fadhl ‘Abdurrahim bin al-‘Iraqi [w. 806 H] adalah seorang Hafidz yang luar biasa. Karena dari tangannya, lahir para Hufadz, sekelas Ibn Hajar al-Asqalani dan al-Haitsami. Al-Haitsami [w. 807 H] menyebut guru, yang sekaligus mertuanya itu, dengan sebutan, “Tuanku, Guruku, al-‘Allamah, Guru para Hufadz di Timur dan Barat, yang memberi faidah kepada senior maupun junior.” Begitulah, al-Haitsami membahasakan gurunya yang luar biasa itu. 

Ibn Hajar al-Asqalani [w. 852 H], murid sekaligus teman al-Haitsami, sama-sama pernah belajar kepada al-‘Iraqi, menuturkan bagaimana al-‘Iraqi mendidik muridnya, “Belialah yang melatihnya, dan mengajarinya cara mentakhrij hadits dan mengarang kitab. Beliaulah yang membuatkan pengantar kitab untuknya.” [Inba’ al-Ghamr, Juz V/172]. Hubungan al-‘Iraqi dengan muridnya, al-Haitsami ini memang luar biasa. 

Membayangkan kisah hubungan murid dengan guru ini, tiba-tiba air mata ini meleleh. Mata ini menerawang jauh, membayangkan indahnya hubungan antara guru dengan murid yang begitu luar biasa, sesuatu yang tak lagi kita temukan hari ini. Al-Haitsami menemukan sosok gurunya itu sebagai teladan dalam masalah pemikiran, tsaqafah, akhlak dan perilaku, sehingga al-Haitsami bisa menjadi saudara yang jujur bagi gurunya, anak yang berbakti, kawan yang jujur, teman yang setia, murid yang taat dan pelayan yang amanah. Itulah sosok al-Haitsami bagi gurunya. Hanya ada satu panggilan untuk gurunya dari al-Haitsami, “Sayyidi [tuanku].” Sampai-sampai dalam urusan melayani gurunya beliau bak seorang budak. [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/201]

Sampai Ibn Hajar, teman sekaligus murid al-Haitsami, yang juga murid al-‘Iraqi, menuturkan ketulusan al-Haitsami itu dengan ungkapan, “Aku melihat beliau berkhidmat untuk guru kami, dan adab beliau kepada guru bukan karena memaksakan diri. Aku tidak melihatnya pada diri yang lain. Aku tidak mengira orang lain sanggup untuk melakukannya [sebagaimana yang dilakukan oleh al-Haitsami].” [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/202]

Di mata Ibn Hajar, al-Haitsami adalah orang yang sangat istimewa di mata gurunya, “Orang yang paling istimewa bagi beliau [al-‘Iraqi] adalah menantunya, guru kami, Nuruddin al-Haitsami. Beliaulah yang melatihnya, mengajarinya bagaimana mentakhrij hadits dan mengarang, serta menulis pengantar kitabnya, dan memberi nama untuknya.” [Inba’ al-Ghamr, Juz V/172]

Al-Haitsami memang bukan siapa-siapa, sebelum bertemu dengan al-‘Iraqi. Beliau lahir dari keluarga miskin, bukan keluarga berilmu, tapi keluarga biasa. Meski al-Haitsami mempunyai banyak guru, tetapi mulazamah beliau dengan al-‘Iraqi, kurang lebih selama 56 tahun itulah yang membentuk kepribadiannya, sehingga lahir menjadi sosok al-Hafidz yang luar biasa. 

Bagi al-Haitsami, al-‘Iraqi tak ubahnya seperti orang tuanya sendiri, bahkan lebih. Beliau menyertai ke manapun al-‘Iraqi berada, saat di rumah maupun bepergian, sampai wafat. Beliau haji bersama gurunya, dan semua perjalanan yang lainnya. Beliau menyertai gurunya dalam menyimak di majelisnya, baik di Mesir, Kaero, Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, Damaskus, Ba’labak, Alepo, Hamah, Homs dan Tarablus. [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/201]

Karena itu, al-Haitsami menjadi orang paling istimewa, dan dipercayai gurunya untuk mendapatkan amanah ilmu hingga anak gadisnya. Itulah istimewanya al-Haitsami di antara murid-murid al-‘Iraqi yang lainnya, termasuk Ibn Hajar al-Asqalani sendiri, yang kemudian mendapat gelar sebagai Amirul Mukminin fi al-Hadits.  

Iya, al-Haitsami adalah sosok yang dididik oleh gurunya untuk melakukan tugas, kemudian tugasnya ditelaah saat selesai, dan dibantu bahkan hingga menulisnya. Gurunya yang menulis pengantar untuknya, dan memberi judul kitabnya. Wajar jika kemudian beliau disebut sebagai Hafidz, sejajar dengan gurunya, bahkan konon memiliki kelebihan dalam penguasaan matan, melebihi gurunya. Mereka bertiga, al-Hafidz al-‘Iraqi, al-Hafidz al-Haitsami dan al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, adalah tiga hafidz yang hidup sezaman. Mereka adalah guru dan murid yang luar biasa. 

*Cinta Segitiga dan Majma’ Zawaid al-Haitsami*

Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid [Kumpulan Zawaid dan Sumber dari berbagai Faidah] adalah nama kitab yang ditulis oleh al-Hafidz al-Haitsami, hasil didikan, telaah, koreksi, bahkan judul dan pengantarnya pun diberikan oleh gurunya, al-Hafidz al-‘Iraqi. 

Zawaid adalah kumpulan hadits, yang menambah kitab hadits, baik yang berbentuk Musnad maupun Mu’jam atas Kutub Sittah. Sebagian ulama’ meringkas dari sejumlah kitab Musnad dan Mu’jam, berdasarkan nama-nama syaikh, tetapi tidak disistematikakan dalam bab-bab fiqih. Karena menelusuri dan mencari hadits-hadits dalam bab-bab fiqih ini sulit dan melelahkan. 

Karena itu, al-Hafidz al-Haitsami berkata, “Aku melihat al-Mu’jam al-Ausath dan al-Mu’jam al-Kabir karya Abi al-Qasim at-Thabrani mempunyai kandungan ilmu yang luar biasa, yang tidak bisa diperoleh oleh pencarinya kecuali setelah melakukan penelaah yang mendalam, karena itu aku ingin mengumpulkan semua yang berserakan ke dalam bab fiqih, yang bisa menjadi sumber..” [Majma’ al-Bahrain, Juz I/1]

Enaknya, al-Hafidz al-Haitsami dibimbing langsung oleh guru, tuan dan ayah mertuanya, yang merupakan Huffadz bi al-Masyriq wa al-Maghrib, “Kumpulanlah karya-karya ini. Buanglah isnad-isnadnya agar hadits-hadits setiap babnya bisa dikumpulkan dalam datu bab dari sini.” Al-Haitsami mengatakan, “Ketika aku melihat petunjuk beliau kepadaku untuk melakukan itu, maka himmahku tertuju ke sana. Aku memohon kepada Allah untuk memudahkan dan menolongnya. Aku memohon kepada Allah agar memberinya manfaat. Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/30]

Cinta segitiga murid dan guru inilah yang menghasilkan kitab yang luar biasa ini. Bagaimana tidak,  Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid seperti karya tiga Hafidz. Penulisnya adalah al-Hafidz al-Haitsami, dibimbing, ditelaah dan dikoreksi oleh gurunya, al-Hafidz al-‘Iraqi, kemudian oleh muridnya, al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, kitab ini dibacakan dan ditelaah ulang di hadapan muridnya, sebagaimana yang dituturkan oleh al-Hafidz as-Sakhawi. Karena itu, kitab ini seperti karya tiga Hafidz. 

Wajar, jika kitab ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para ulama’ setelahnya. Muhammad bin Ja’far al-Kattani, dalam ar-Risalah al-Mustathrafah, memberikan komentar, “Ini adalah kitab hadits yang paling bermanfaat. Bahkan, tidak ada kitab hadits yang sepertinya. Belum pernah ada kitab dalam masalah ini disusun yang sebanding dengannya.” [ar-Risalah al-Mustathrafah, h. 129]

Ustadz Ahmad Rafi’ at-Thahthawi berkomentar, “Ini merupakan kitab Sunan yang paling penting, setelah enam kitab induk. Siapa saja yang menelaahnya, dia akan takjuk pada kehebatan kemampuan penulisnya dalam hadits.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/32]

Syaikh Muhammad ‘Abid as-Sindi, “Itu merupakan kitab yang agung, dengan kandungan yang luar biasa, begitu hebat. Belum pernah aku melihat seorang yang mendahuluinya sampai pada metode yang sangat jelas ini.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/32]

Bagaimana tidak hebat dan dahsyat? Di dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, penulisnya, al-Hafidz al-Haitsami, telah mengumpulkan Zawaid yang ada dalam kitab Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu Ya’la al-Mushili, Musnad Abu Bakar al-Bazzar, dan tiga kitab Mu’jam karya at-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath, dan al-Mu’jam as-Shaghir di dalam satu kitab. Kemudian disusun mengikuti bab fiqih. Termasuk di dalamnya, Bab al-Khilafah dalam satu bab tersendiri. 

*Bab al-Khilafah*

Dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid ini, Bab al-Khilafah diletakkan oleh al-Hafidz al-Haitsami pada urutan ke-22, sebelum Kitab al-Jihad, Kitab al-Maghazi wa as-Siyar, dan Kitab Qital Ahli al-Baghyi wa Ahli ar-Riddah. Perlu dicatat, al-Hafidz al-Haitsami adalah penganut mazhab Syafii. Biasanya, kitab-kitab fiqih mazhab Syafii membahas pembahasan Khilafah dan Imamah di Bab Kitab Qital Ahli al-Baghyi wa Ahli ar-Riddah. Tetapi, di dalam kitabnya yang luar biasa ini, al-Hafidz al-Haitsami meletakkan dalam bab tersendiri, terpisah dengan yang lain, dan lebih dulu, ketimbang bab tentang jihad. 

Dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid terbitan Dar al-Minhaj, Jeddah-KSA, cetakan I, 1436 H/2015 M, Bab al-Khilafah ada pada juz XII, mulai dari halaman 7 sampai 242. Jumlah total hadits yang dibahas ada 369 hadits. Mulai hadits no. 8974 sampai 9343. 

Pendek kata, hampir semua hadits yang membahas tentang Khilafah, Imamah, Khalifah dan Imam ada di sana. Mulai dari pembahasan tentang Khulafa’ Rasyidin, Imamah, Khilafah dan Mulk, larangan membai’at dua khalifah, sampai detail tengang sifat dan kriterianya, nyaris semuanya ada. 

Pertanyaannya kemudian, apakah hadits sebanyak 369 hadits itu belum cukup untuk membuktikan, bahwa Khilafah itu ajaran Islam? Khilafah itu merupakan warisan Nabi. Pendek kata, siapa yang mencari kebenaran Islam, dan langsung meneguk dari sumbernya, maka bacalah dengan hati dan pikiran yang sehat, kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid. Sebagaimana namanya, insya Allah, kita akan mendapatkan banyak faidah. 

Dulu, para sahabat Nabi hanya membutuhkan satu ayat, atau satu hadits untuk meyakinkan mereka, dan mendorong mereka untuk mengamalkannya. Mereka tidak perlu berpuluh, bahkan beratus ayat atau hadits. Cukup satu saja, maka mereka langsung laksanakan. Itulah keimanan para sahabat. Maka, mereka pun menjadi umat terbaik. 

Tetapi, jika hati dan akalnya sudah dipenuhi kebencian terhadap ajaran Islam, seberapapun ayat al-Qur’an dan hadits Nabi tak akan sanggup meyakinkannya. Karena di dalam hatinya tak ada lagi iman kepada Islam. Wallahu a’lam.

Rabu, 24 Juni 2020

*MAKALAH DALIL KOKOH KEFARDHUAN MENEGAKKAN KHILAFAH*

Penyusun: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I 

[Dosen Fikih/Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"]

Salah satu dalil kokoh kefardhuan menegakkan Khilafah adalah dalil *ijma' sahabat*, kedudukannya sebagai salah satu sumber ushul al-syari'ah setelah al-Qur'an dan al-Sunnah pun adalah perkara yang ma'lum, bisa ditemukan dalam banyak referensi berharga ushul fikih dalam khazanah keilmuan kaum Muslim, sehingga keberadaan dalil kokoh ijma' sahabat atas kefardhuan menegakkan Khilafah wajib diperhatikan, menegaskan dalil-dalil al-Qur'an dan al-Sunnah yang mewajibkan kaum Muslim menegakkan Khilafah.

Kedudukan ijma’ sebagai salah satu dalil ushul al-syari’ah pun ditegaskan para ulama: Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (w. 204 H) menegaskan:

أَنَّ لَيْسَ لاَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُوْلَ فِي شَئْ حلّ وَ لاَ حَرَم إِلاَّ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ وَجِهَةُ الْعِلْمِ الخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَةِ أَوْ الإِجْمَاعِ أَوْ الْقِيَاسِ
Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), al-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas. [1]

Senada dengan itu, Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) juga menyatakan:

وَجُمْلَةُ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ تَرْجِعُ إلَى أَلْفَاظِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالِاسْتِنْبَاطِ
Keseluruhan dalil-dalil syariah merujuk pada ragam ungkapan yang tercantum dalam al-Kitâb (al-Qur’an), al-Sunnah (al-Hadits), Ijma’ dan Istinbâth (Qiyas).[2]

Mau dinafikan?! Dalam hal ini, Imam al-Sarkhashi (w. 483 H) yang digelari syams al-a’immah (mentari para imam) menegaskan:

ومن أنكر كون الإجماع حجة موجبة للعلم فقد أبطل أصل الدين فإن مدار أصول الدين ومرجع المسلمين إلى إجماعهم فالمنكر لذلك يسعى في هدم أصل الدين.
Siapa saja yang mengingkari kedudukan ijma’ sebagai hujjah yang secara pasti menghasilkan ilmu, berarti benar-benar telah membatalkan fondasi agama ini, karena sesungguhnya poros fondasi Din ini dan tempat kembali kaum Muslim kepada ijma’ mereka. Karena itu orang yang mengingkari ijma’ sama saja dengan berupaya menghancurkan fondasi agama ini.[3]

Catatan Kaki:
[1] Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Risâlah, Ed: Rif’at Fauzi, Mesir: Dar al-Wafa’, cet. I, 1422 H/2001, hlm. 16.
[2] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Al-Mustashfâ fî ‘Ilm al-Ushûl, Ed: Muhammad bin Sulaiman al-Asyqar, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1417 H/1997, juz II, hlm. 298.
[3] Muhammad bin Ahmad Al-Sarkhasi, Ushûl al-Sarkhasi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1414 H, juz I, 296.

*DALIL DAN PANDANGAN ULAMA TENTANG KHILAFAH*

Dr. H. Muhammad Azwar Kamaruddin, Lc., M.A.*

*Pendahuluan*
Kata Khilafah, merupakan kata yang tak asing bagi kaum muslimin, mulai dari zaman sahabat sampai fakta Khilafah dihilangkan pada tahun 1924, sehingga kaum muslimin generasi selanjutnya, menjadi asing dengan kata tersebut. Bersamaan dengan hilanganya institusi tersebut kaum muslimin kehilangan banyak bagian dalam pembahasan fiqih Islam, ada juga yang kabur, bahkan mengalami distorsi makna, seperti pembahasan tentang nukul dan qasamah dalam peradilan, hisbah, ta`zir, diyat, ghurrah, hukumah dalam sanksi, arsy jinayat sampai jihad kadang-kadang disalah artikan, terutama dalam 1/4 terakhir bagian fiqih tantang Jinayat seakan  hilang dari pembahasan kaum muslimin, hal tersebut hilang bersamaan dengan hilanganya kata Khilafah dari tengah kaum muslimin.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang defenisi, dalil, dan pandangan ulama tentang Khilafah. Adapun pandangan Ulama akan dikategorikan kedalam 9 klasifikasi yaitu: Ulama Lugha, Ulama Kalam, Empat Ulama Mazhab Fiqhi, Ulama Tafsir, Ulama Hadist, Ulama Siyasah Syariyyah, Ulama-ulama Fiqhi secara umum, Ulama dari Universitas Al-Azhar Mesir, dan beberapa Ulama dari kitab-kitab Mu’tabar.

*Pembahasan*

Kata Khilafah yang dulu sangat popular tersebut merupakan hal yang mujma` alaihi (terdapat konsensus ulama di dalamnya) sebagaimana disebutkan dalam kitab "al-mausu`ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah" (6/217).

Khilafah ini adalah institusi orang yang memimpinnya yaitu Khalifah, Imam dan Amirul Mukminin demikian dikemukakan oleh Imam annawawi dalam kitab raudhatu thalibin wa umdatul muftin dan sebagian ulama mengkiaskannya dengan istilah sultan sebagaimana dikemukakan oleh imam aththhabri, السلطان الأعظم هو الخليفة dan ini sangat dipahami oleh kaum muslimin dengan tidak menggunakan kata lain. Hal ini berdasarkan dari apa yang disepakati oleh para sahabat, ketika menggunakan kata Khalifah untuk untuk Abu Bakar dan Ustman RA., Amirul mukminin untuk Umar RA., dan Imam untuk `Ali Karramallah wajhah, sehingga ketiga kata inilah yang dipakai oleh para pemimpin kaum muslimin setelah masa khulafa` rasyidin yang menunjukkan bahwa kata tersebut memiliki makna tersendiri yang tidak dimiliki oleh kata lain, meskipun sama2 pemimpin seperti emperor, kaisar, Raja dll.

Al-Imam dalam pembahasan fiqih ada dua: al-Imam al-Akbar atau Khalifah, adanya kata al-akbar untuk membedakan dengan  Al-Imam al-ashgar atau imam salat 5 waktu, pembahasan keduanya memiliki Korelasi yang kuat karena sama-sama diikuti perintahnya, Cuma Imam salat dalam lingkup yang kecil sedangkan Al-Imam akbar atau Al-Imam al-A`zham dalam lingkup yang lebih luas, yang diikuti perintahnya dalam urusan Agama dan dunia.

Istilah Khalifah dimaksudkan sebagai pengganti kenabian في حراسة الدين وسياسة الدنيا به  sebagaiman yang diungkapkan oleh imam Al-Mawardy dalam kitab ahkam sulthaniyyah, begitupula kebanyak fuqaha madzhab seperti Al-Ramli dalam kitabnya nihayatul muhtaj.
Kata Khilafah menurut bahasa berasal dari mashdar خلف يخلف خلافة  yang maknanya بقى بعده أو يقوم مقامه،  oleh karena itu semua yang mengganti seseorang dinamakan Khalifah, oleh karena itu orang yang menggantikan Rasulullah SAW. Dalam menerapkan hukum-hukum syara dan memimpin kaum muslimin dalam urusan agama dan dunianya adalah Khalifah, dan kedudukannya dinamakan Khilafah dan Imamah, demikian diungkapkan oleh Al-Bushthani dalam bukunya محيط المحيط.
Sedangkan menurut istilah syara: رئاسة عامة في الدين والدنيا, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Abidin dalam hasyiahnya, begitu juga diungkapkan oleh Mahmud Alkhalidi dalam bukunya (قواعد نظام الحكم في الإسلام): bahwa Khilafah adalah: رئاسة عامة للمسلمين جميعا في الدنيا لإقامة أحكام الشرعي الإسلامي وحمل الدعوة إلى العالم.
Peristilahan kepemimpinan dalam Islam telah dipahami dengan baik oleh para ulama-ulama terdahulu yang mu'tabar (perkataannya bisa diterima), sehingga dalam buku-buku karangan mereka tak pernah lepas dari hal tersebut ketika membahas mengenai peristilahan-peristilahan di atas, atau membahas tentang hukum-hukumnya atau sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut.

Hukum menegakkannya adalah fardhu kifayah sebagaimana hukum yg diberikan oleh Ulama-ulama mu`tabar dari kaum muslimin. 

*Dalil tentang Wajibnya Khilafah*

Adapun dalil tentang wajibnya menegakkan Khilafah masing-masing dari (1) Al-Quran, (2) As-Sunnah, dan (3) Ijma’ Sahabat,  adalah sebagai berikut: 

الأدلة على وجوب إقامة الخلافة من الكتاب والسنة والإجماع:
أولا: إجماع الصحابة
أنه تواتر إجماع المسلمين في الصدر الأول من وفاة النبي ﷺ على امتناع خلو الوقت عن إمام، حتى قال أبو بكر رضي الله عنه في خطبته: ألا إن محمدا قد مات، ولا بد لهذا الدين ممن يقوم به، فبادر الكل إلى قبوله، وتركوا له أهم الأشياء، وهو دفن رسول الله ﷺ، ولم يزل الناس على ذلك في كل عصر إلى زماننا هذا من نصب إمام متبع في كل عصر. 
- أن في نصب الخليفة دفع ضرر مظنون وأنه واجب إجماعا. 
 أنا نعلم علما يقارب الضرورة أن مقصود الشارع فيما شرع من المعاملات والمناكحات والجهاد والحدود والمقاصات وإظهار شعار الشرع في الأعياد والجمعات إنما هو مصالح عائدة إلى الخلق معاشا ومعادا، وذلك لا يتم إلا بإمام من قبل الشارع يرجعون إليه فيما يعن لهم، فإنهم - مع اختلاف الأهواء وتشتت الآراء، وما بينهم من الشحناء - قلما ينقاد بعضهم لبعض فيفضي ذلك إلى التنازع والتواثب، وربما أدى إلى هلاكهم جميعا. (الجرجاني في شرح المواقف في علم الكلام).

ثانيا:القرآن الكريم
قال الله تعالى:﴿فاحكم بينهم بما أنزل الله﴾ وقال: ﴿ فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ﴾ وقال: ﴿واعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا﴾. فالآية الأولى خطاب للرسول صلى الله عليه وسلم وخطابه خطاب لأمته ما لم يرد دليل التخصيص، والحكم بما أنزل الله لا يكون إلا بحاكم. وكذلك التحكيم في الآية الثانية لا يكون إلا بحاكم وهو الإمام أو السلطان أو الخليفة، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. وأما الآية الثالثة فإنه سبحانه أمر بالجماعة ونهى عن الفرقة، ولما كانت الجماعة لا تكون إلا على الخليفة كما يفهم من مجموع أحاديث الجماعة، كان نصب الخليفة واجباً بناءً على نفس القاعدة السابقة.

ثالثا: السنة
أخرج مسلم من حديث عبد الله بن عمر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ‹‹من خلع يداً من طاعة الله لقي الله يوم القيامة لا حجة له، ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية›› والواجب في هذا الحديث أن تكون في عنق كل مسلم بيعة لا أن يبايع كل مسلم الخليفة، ووجود الخليفة هو الذي يوجد في عنق كل مسلم بيعة سواء بايع بالفعل أم لا، ولهذا كان الحديث دليلاً على وجوب نصب الخليفة لأن البيعة لا تكون إلا له. 

وعند مسلم من حديث أبي هريرة قال قال النبي صلى الله عليه وسلم: ‹‹الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به›› وهذا خبر أريد به الطلب. 

وأخرج أحمد والترمذي والنسائي والطيالسي من حديث الحارث الأشعري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ‹‹. . وأنا آمركم بخمس الله أمرني بهن بالجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد في سبيل الله، فإنه من خرج من الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه إلا أن يرجع. .›› والجماعة لا تكون إلا على رجل واحد هو الإمام كما في حديث حذيفة الذي رواه مسلم وفيه ‹‹. .قال تلزم جماعة المسلميـن وإمامهم. .›› وعند مسلم ‹‹من أتاكم وأمركم جميع على رجل واحد يريد أن يشق عصاكم أو يفرق جماعتكم فاقتلوه›› وحديث فضالة بن عبيد عند أحمد والبيهقي ‹‹ثلاثة لا تسأل عنهم رجل فارق الجماعة وعصى إمامه ومات عاصياً. .››، فهو صلى الله عليه وسلم أمرنا بالجماعة وبين لنا أنها تكون على رجل هو الإمام. وما دامت الجماعة لا تكون إلا على إمام كان نصبه واجباً من باب ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

وروى الإمام أحمد في المسند عن عبد الله بن عمر أن النبي ﷺ قال: «لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم» فأوجب ﷺ تأمير الواحد في الاجتماع القليل العارض في السفر تنبيهاً بذلك على سائر أنواع الاجتماع، ولأن الله تعالى أوجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ولا يتم ذلك إلا بقوة وإمارة وكذلك سائر ما أوجبه من الجهاد والعدل وإقامة الحج والجمع والأعياد ونصر المظلوم وإقامة الحدود لا تتم إلا بالقوة والإمارة ولهذا روي: "إن السلطان ظل الله في الأرض" ويقال: "ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان". والتجربة تبين ذلك ولهذا كان السلف - كالفضيل بن عياض وأحمد بن حنبل وغيرهما يقولون "لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان" انتهى.

قال أبو بكر رضي الله عنه في خطبته حين مات رسول الله ﷺ وولي الخلافة من بعده: ألا إن محمدا قد مات، ولا بد لهذا الدين ممن يقوم به.

 وقال الدارمي في سننه: أخبرنا يزيدُ بنُ هارونَ، نا بقيةُ حدّثني صفوانُ بنُ رُسْتُمَ، عَنْ عبدِ الرحمنِ بنِ ميسرَةَ، عن تميمٍ الداريّ،، قالَ: تطاوَلَ الناسُ في البناءِ في زَمَنِ عُمَرَ، فقالَ عُمَرُ: يا مَعْشَرَ العريبِ الأرضَ الأرضَ إنه لا إسْلامَ إلاَّ بِجَمَاعَةٍ، ولا جماعَة إلاَّ بإِمارَة، ولا إِمَارَة إلاَّ بطاعةٍ، فمن سوَّدَهُ قَوْمُهُ على الفِقْهِ كانَ حياةً لَهُ ولَهُمْ، وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ على غيرِ فِقْهٍ كان هلاكاً لَهُ وَلَهُمْ. ورواه ابن عبد البر القرطبي في جامع بيان العلم وفضله.

*Pandangan Ulama tentang Khilafah*

Adapun pendapat tentang hukum menegakkan Khilafah adalah fardhu kifayah sebagaimana dijelasakan masing-masing pandangan 9 kategori Ulama yang kami bagi dalam (1) Ulama Lugha, (2) Ulama Kalam, (3) 4 Ulama Mazhab Fiqhi, (4) Ulama Tafsir, (5) Ulama Hadist, (6) Ulama Siyasah Syariyyah, (7) Ulama-ulama Fiqhi secara umum, (8) Ulama dari Universitas Al-Azhar Mesir, dan (9) Ulama dari kitab-kitab Mu’tabar, penjelasannya adalah sebagai berikut: 

أقوال العلماء على وجوب إقامة الخليفة:
1. علماء اللغة:
- أساس البلاغة للزمشخري، ص122: خلفه: جاء بعده خلافة.
- كتاب العين للخليل بن أحمد الفراهيدي (دار ومكتبة الهلال، (4/ص266): الخَليفةُ بمنزلة مال يذهب فيُخلِفُ الله خَلَفاً أي خليفة فيقوم مقامه.
- معجم مقاييس اللغة لابن فارس (اتحاد الكتاب العربي، 2/170): الخِلافة، وإنَّما سُميِّت خلافةً لأنَّ الثَّاني يَجيءُ بَعد الأوّلِ قائماً مقامَه.
- لسان العرب لابن منظور الأفريقي (دار صادر-بيروت، ج12/ص22): والخليفة: إمام الرعية.
- المحكم والمحيط الأعظم لابن سيدة (دار الكتب العلمية، ج5/ص197): والخليفة : الملك الذي يُستَخلَف ممَّن قَبله.
- المصباح المنير للفيومي (المكتبة العلمية، ج1/ص178): وأما الخَلِيفَةُ بمعنى السلطان الأعظم. 
- مختار الصحاح لمحمد بن أبي بكر الرازي (مكتبة لبنان ناشرون، ص196): والخَلِيفَةُ السلطان الأعظم.
- الفروق اللغوية لابي هلال العسكري (مؤسسة النشر الاسلامي التابعة لجماعة المدرسين بقم المقدسة، ص222): الفرق بين الخلافة والإمامة: الخليفة والامام واحد، إلا أن بينهما فرقا، فالخليفة من استخلف في الأمر مكان من كان قبله، فهو مأخوذ من أنه خلف غيره، وقام مقامه. والامام: مأخوذ من التقدم، فهو المتقدم فيما يقتضي وجوب الاقتداء بغيره، وفرض طاعته فيما تقدم فيه.

2. علماء الكلام:
-  المواقف لعضد الدين الإيجي (دار الجيل-بيروت، ج3/ص574): الإمامة رياسة عامة في أمور الدين والدنيا، والأولى أن يقال هي خلافة الرسول في إقامة الدين بحيث يجب اتباعه على كافة الأمة.
- شرح المواقف للجرجاني (دار الكتب العلمية، ج8/ص376): الإمامة ليست من أصول الديانات والعقائد، بل هي عندنا من الفروع المتعلق بأفعال المكلفين إذ نصب الإمام عندنا واجب على الأمة سمعا.
- شرح المقاصد في علم الكلام للتفتازاني (دار المعرف النعمانية، ج2/ص272): والإمامة رياسة عامة في أمر الدين والدنيا خلافة عن النبي عليه الصلاة والسلام.

3. الفقهاء من المذاهب الأربعة:
أ‌. مذهب الحنفي
- البحر الرائق شرح كنز الدقائق لزين الدين ابن نجيم الحنفي (دار المعرفة، ج6/ص299):  وَعَرَّفَ الْمُحَقِّقُ الْإِمَامَةَ الْعُظْمَى في الْمُسَايَرَةِ بِأَنَّهَا اسْتِحْقَاقُ تَصَرُّفٍ عَامٍّ في الدِّينِ وَالدُّنْيَا على الْمُسْلِمِينَ وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا بُدَّ في الْإِمَامِ من عُمُومِ وِلَايَتِهِ وَلِذَا قالوا لَا يَجُوزُ اجْتِمَاعُ إمَامَيْنِ في زَمَنٍ وَاحِدٍ.
- الأشباه والنظائر لابن نجيم: يشترط في الإمام أن يكون قرشيا بخلاف القاضي ولا يجوز تعدده في عصر واحد وجاز تعدد القاضي ولو في مصر واحد ولا ينعزل الإمام بالفسق بخلاف القاضي.
- الدر المختار للحصكفي (دار الكتب العلمية: ص75): الإمامة صغرى وكبرى، فالكبرى استحقاق تصرف عام على الأنام، ونصبه أهم الواجبات.
- حاشية ابن عابدين (دار إحياء التراث، (ج1/ص368): وَعَرَّفَ الإمامة الكبرى بِأَنَّهَا رِيَاسَةٌ عَامَّةٌ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا خِلافَةً عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.
- بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع للكاساني (دار الكتب العلمية، ج7/ص2): لِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ، وَلَا عِبْرَةَ - بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ -؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - عَلَى ذَلِكَ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ.
ب. مذهب المالكي:
- حاشية الدسوقي على الشرح الكبير لمحمد عرفه الدسوقي (دار الفكر، ج4/ص198): إنَّ الْإِمَامَةَ الْعُظْمَى تَثْبُتُ بِأَحَدِ أُمُورٍ ثَلَاثَةٍ إمَّا بِإِيصَاءِ الْخَلِيفَةِ الْأَوَّلِ لِمُتَأَهِّلٍ لها وَإِمَّا بِالتَّغَلُّبِ على الناس لِأَنَّ من اشْتَدَّتْ وَطْأَتُهُ بِالتَّغَلُّبِ وَجَبَتْ طَاعَتُهُ.
- الخرشي على مختصر خليل (دار الفكر، ج3/ص109): الإمامة العظمى فرض كفاية على من توفرت فيه شروطها مع وجود من يشاركه وإلا تعينت عليه.
- منح الجليل شرح مختصر خليل لمحمد عليش (دار الفكر، ج3/ص193) : إقامة الإمامة العظمى فرض كفاية وشرطه كونه واحدا.
- بداية المجتهد في نهاية المقتصد لابن رشد الحفيد (مصطفى الباب الحلبي، ج2/ص460): فمن رد قضاء المرأة شبهه بقضاء الإمامة الكبرى. 
ج. مذهب الشافعي:
- الأم للإمام الشافعي (دار المعرفة، ج4/ص197): وإذا عَقَدَ الْخَلِيفَةُ فَمَاتَ أو عُزِلَ وَاسْتُخْلِفَ غَيْرُهُ فَعَلَيْهِ أَنْ يَفِيَ لهم بِمَا عَقَدَ لهم الْخَلِيفَةُ قَبْلَهُ.
- الشرح الكبير شرح الوجيز للرافعي (دار الكتب العلمية، ج11/ص72): لا بد للأُمَّة من إمام يُحْيِي الدينَ، ويقيم السنة وينصف المظلومين من الظالمين، ويستوفي الحقوقَ، ويَضَعها مواضعها، فلا يصلح الناس فوْضَى.
- روضة الطالبين وعمدة المفتين للنووي، المكتب الإسلامي ،ج10/ص42): الفصل الثاني في وجوب الإمامة وبيان طرقها لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها. قلت: تولي الإمامة فرض كفاية فإن لم يكن من يصلح إلا واحدا تعين عليه ولزمه طلبها إن لم يبتدئوه. وقال أيضا (ج10/ص49): يجوز أن يقال للإمام الخليفة والإمام وأمير المؤمنين.
- منهاج الطالبين للنووي (دار المنهاج ص 500): فصل في شروط الإمام الأعظم وبيان طرق الإمامة.
- وتابعه كل شراح المنهاج. (كنز الراغبين، نهاية المحتاج، تحفة المحتاج، مغني المحتاج، عجالة المحتاج، قوت المحتاج، بداية المحتاج، زاد المحتاج للكوهجي، النجم الوهاج، السراج الوهاج)
ب. مذهب الحنبلي:
- الإقناع في فقه الإمام أحمد بن حنبل للحجاوي (دار المعرفة، ج4/ص292): نصب الإمام الأعظم فرض كفاية ويثبت بإجماع المسلمين عليه. 
- الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف على مذهب الإمام أحمد بن حنبل للمرداوي، (دار إحياء التراث العربي، ج10/ص234): نصب الإمام فرض كفاية. قال في الفروع فرض كفاية على الأصح. فمن ثبتت إمامته بإجماع أو بنص أو باجتهاد أو بنص من قبله عليه وبخبر متعين لها حرم قتاله.
- كشاف القناع للبهوتي (دار الفكر، ج6/ص158): نصب الإمام الأعظم  على المسلمين  فرض كفاية  لأن بالناس حاجة إلى ذلك لحماية البيضة والمذب عن الحوزة وإقامة الحدود واستيفاء الحقوق والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.
- شرح منتهى الإرادات للبهوتي، (عالم الكتاب، ج3/ص387): ونصب الإمام فرض كفاية ) لحاجة الناس لذلك لحماية البيضة والذب عن الحوزة وإقامة حدود واستيفاء الحقوق والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.
- مطالب أولى النهى للرحيباني (المكتب الإسلامي (ج6/ص263): ونصب الامام فرض كفاية  لأن بالناس حاجة لذلك لحماية البيضة والذب عن الحوزة وإقامة الحدود وابتغاء الحقوق والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، ويتجه  أنه لا يجوز تعدد الامام.

4. المفسرون:
- مفاتيح الغيب لفخر الدين الرازي (دار الكتب العلمية، ج11/ص181) في تفسير سورة المائدة الآية 38: احتج المتكلمون بهذه الآية في أنه يجب على الأمة أن ينصبوا لأنفسهم إماماً معيناً والدليل عليه أنه تعالى أوجب بهذه الآية إقامة الحد على السراق والزناة فلا بدّ من شخص يكون مخاطباً بهذا الخطاب وأجمعت الأمة على أنه ليس لآحاد الرعية إقامة الحدود على الجناة بل أجمعوا على أنه لا يجوز إقامة الحدود على الأحرار الجناة إلا للإمام فلما كان هذا التكليف تكليفاً جازماً ولا يمكن الخروج عن عهدة هذا التكليف إلا عند وجود الإمام وما لا يتأتى الواجب إلا به وكان مقدوراً للمكلف فهو واجب فلزم القطع بوجوب نصب الإمام حينئذٍ.
- تفسير النيسابوري لأبي قاسم النيسابوري (ج5/ص465): أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله {فاجلدوا} هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. 
- الجامع لأحكام القرآن للقرطبي (دار الكتب المصرية، ج1/ص264): تفسير سورة البقرة الآية 30: هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم.
- تفسير ابن كثير (دار طيبة، ج1/ص221): وقد استدل القرطبي وغيره بهذه الآية على وجوب نصب الخليفة ليفصل بين الناس فيما يختلفون فيه، ويقطع تنازعهم، وينتصر لمظلومهم من ظالمهم، ويقيم الحدود، ويزجر عن تعاطي الفواحش، إلى غير ذلك من الأمور المهمة التي لا يمكن إقامتها إلا بالإمام، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

5. المحدثون:
شرح النووي على صحيح مسلم، دار إحياء التراث، ج12/ص231):  باب وجوب الوفاء ببيعة الخليفة الأول فالأول، وقال: أجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة.

6. علماء السياسة الشرعية:
- غياث الأمم والتياث الظلم لإمام الحرمين الجويني (دار الدعوة، ص15): الإمامة رياسة تامة وزعامة عامة تتعلق بالخاصة والعامة في مهمات الدين والدنيا متضمنها حفظ الحوزة ورعاية الرعية وإقامة الدعوة بالحجة والسيف.
- الأحكام السلطانية للماوردي (دار ابن قتيبة، ص3) :الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا،  وقال أيضا: "وعقدها لمن يقوم بها واجب بالإجماع وإن شذ عنهم الأصم".
- الإمامة العظمى عند أهل السنة والجماعة لعبد الله بن عمر الدميجي، (دار طيبة ص33) وتاريخ المذاهب الإسلامية لأبي زهرة (ج1/ص21): المذاهب السياسية كلها تدور حول الخلافة، وهي الإمامة الكبرى، وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي صلى الله عليه وسلم في إدارة شؤونهم، وتسمى إمامة؛ لأن الخليفة كان يسمى إماما، ولأن طاعته واجبة.

7. الكتب العامة في الفقه:
- موسوعة الفقهية الكويتية، وزارة ا لأوقاف والشؤون الإسلامية (ج6/ص215)
- لفقه الإسلامي وأدلته لوهبة الزحيلي، دار الفكر-سورية، ج8/ص260)

8. الكتب المقررة في جامعة الأزهر الشريف: 
- رياسة الدولة في الفقه الإسلامي للأستاذ الدكتور رأقت عثمان
- نظام الحكم الإسلامي مقارنا بالنظم السياسية ا لمعاصرة للأستاذ الدكتور إبراهيم بدوي

9. من الكتب المتناثرة:
- يقول ابن تيمية في كتاب السياسة الشرعية، ومجموع الفتاوى: يجب أن يعرف أن ولاة أمر الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين إلا بها؛ فإن بني آدم لا تتم مصلحتهم إلا بالاجتماع لحاجة بعضهم إلى بعض، ولا بد لهم عند الاجتماع من الحاجة إلى رأس حتى قال النبي ﷺ: «لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم» رواه أحمد من حديث عبد الله بن عمر.
- وقال الشيخ الطاهر بن عاشور في (أصول النظام الاجتماعي في الإسلام): "فإقامة حكومة عامة وخاصة للمسلمين أصل من أصول التشريع الإسلامي ثبت ذلك بدلائل كثيرة من الكتاب والسنة بلغت مبلغ التواتر المعنوي. مما دعا الصحابة بعد وفاة النبي ﷺ إلى الإسراع بالتجمع والتفاوض لإقامة خلف عن الرسول ﷺ في رعاية الأمة الإسلامية، فأجمع المهاجرون والأنصار يوم السقيفة على إقامة أبي بكر الصديق خليفة عن رسول الله ﷺ للمسلمين. ولم يختلف المسلمون بعد ذلك في وجوب إقامة خليفة إلا شذوذا لا يُعبأ بهم من بعض الخوارج وبعض المعتزلة نقضوا الإجماع فلم تلتفت لهم الأبصار ولم تصغ لهم الأسماع. ولمكانة الخلافة في أصول الشريعة ألحقها علماء أصول الدين بمسائله، فكان من أبوابه الإمامة. قال إمام الحرمين [أبو المعالي الجويني] في الإرشاد: (الكلام في الإمامة ليس من أصول الاعتقاد، والخطر على من يزل فيه يربى على الخطر على من يجهل أصلا من أصول الدين)". انتهى قول ابن عاشور، ومعنى كلام الجويني أن الإمامية إذ جعلوا الإمامة من أصول الاعتقاد فإنها ليست منه، ولكن الخطأ في الزلل فيها يناهز الخطر في الزلل في أصول الدين لأهميتها.
-  يقول الهيثمي في الصواعق المحرقة: "اعلم أيضاً أن الصحابة رضوان الله عليهم أجمعوا على أن نصب الإمام بعد انقراض زمن النبوة واجب بل جعلوه أهم الواجبات حيث اشتغلوا به عن دفن الرسول ﷺ."
-  وقال أبو بكر الأنصاري في غاية الوصول في شرح لب الأصول: (ويجب على الناس نصب إمام) يقوم بمصالحهم كسدّ الثغور وتجهيز الجيوش وقهر المتغلبة والمتلصصة لإجماع الصحابة بعد وفاة النبي ﷺ على نصبه حتى جعلوه أهم الواجبات، وقدّموه على دفنه ﷺ ولم يزل الناس في كل عصر على ذلك.
- وقال محمد بن أحمد بن محمد بن هاشم المحلي المصري الشافعي جلال الدين المفسر الفقيه المتكلم الأصولي النحوي في كتابه شرح المحلي على جمع الجوامع: ويجبُ على النَّاسِ نَصْبُ إمامٍ يقوم بمصالحهم كسد الثغور وتجهيز الجيوش وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وغير ذلك لإجماع الصحابة بعد وفاة النبي ﷺ على نصبه حتى جعلوه أهم الواجبات وقدموه على دفنه ولم يزل الناس في كل عصر على ذلك.
-  جاء في كتاب «غاية البيان شرح زبد ابن رسلان» للفقيه الشافعي شمس الدين محمد بن أحمد الرملي الأنصاري الملقب بالشافعي الصغير (وهو من علماء القرن التاسع الهجري) ما يلي: (يجب على الناس نصب إمام يقوم بمصالحهم، كتنفيذ أحكامهم وإقامة حدودهم وسد ثغورهم وتجهيز جيوشهم وأخذ صدقاتهم إن دفعوها وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وقطع المنازعات الواقعة بين الخصوم وقسمة الغنائم وغير ذلك، لإجماع الصحابة بعد وفاته ﷺ على نصبه حتى جعلوه أهم الواجبات، وقدموه على دفنه ﷺ ولم تزل الناس في كل عصر على ذلك).
- قال د. ضياء الدين الريّس في كتابه: الإسلام والخلافة ص 348: "والإجماع كما قرروه أصل عظيم من أصول الشريعة الإسلامية وأقوى إجماع أو أعلاه مرتبة هو إجماع الصحابة رضي الله عنهم لأنهم هم الصف والرعيل الأول من المسلمين، وهم الذين لازموا الرسول ﷺ واشتركوا معه في جهاده وأعماله وسمعوا أقواله فهم الذين يعرفون أحكام وأسرار الإسلام وكان عددهم محصوراً وإجماعهم مشهوراً وهم قد أجمعوا عقب أن لحق الرسول ﷺ بالرفيق الأعلى على أنه لا بد أن يقوم من يخلفه واجتمعوا ليختاروا خليفته ولم يقل أحد منهم أبداً أنه لا حاجة للمسلمين بإمام أو خليفة فثبت بهذا إجماعهم على وجوب وجود الخلافة وهذا هو أصل الإجماع الذي تستند إليه الخلافة".
- وقال د. ضياء الدين الريس في كتابه الإسلام والخلافة ص99: "فالخلافة أهم منصب ديني وتهم المسلمين جميعاً، وقد نصت الشريعة الإسلامية على أن إقامة الخلافة فرض أساسي من فروض الدين بل هو الفرض الأعظم لأنه يتوقف عليه تنفيذ سائر الفروض"،
- وقال أيضاً في ص 341: "إن علماء الإسلام قد أجمعوا كما عرفنا فيما تقدم - على أن الخلافة أو الإمامة فرض أساسي من فروض الدين بل هو الفرض الأول أو الأهم لأنه يتوقف عليه تنفيذ سائر الفروض وتحقيق المصالح العامة للمسلمين ولذا أسموا هذا المنصب «الإمامة العظمى» في مقابل إمامة الصلاة التي سميت «الإمامة الصغرى» وهذا هو رأي أهل السنة والجماعة وهم الكثرة العظمى للمسلمين وهو إذاً رأي كبار المجتهدين: الأئمة الأربعة والعلماء أمثال الماوردي والجويني والغزالي والرازي والتفتازاني وابن خلدون وغيرهم وهم الأئمة الذين يأخذ المسلمون عنهم الدين وقد عرفنا الأدلة والبراهين التي استدلوا بها على وجوب الخلافة".
- وقال الشيخ علي بلحاج في كراسته "إعادة الخلافة من أعظم واجبات الدين": "الخلافة على منهج النبوة" كيف لا وقد قرر علماء الإسلام وأعلامه أن الخلافة فرض أساسي من فروض هذا الدين العظيم بل هو "الفرض الأكبر" الذي يتوقف عليه تنفيذ سائر الفروض، وإن الزهد في إقامة هذه الفريضة من "كبائر الإثم"، وما الضياع والتيه والخلافات والنزاعات الناشبة بين المسلمين كأفراد وبين الشعوب الإسلامية كدول إلا لتفريط المسلمين في إقامة هذه الفريضة العظيمة،"
-   قال ابن خلدون (في المقدمة): "إن نصب الإمام واجب قد عرف وجوبه في الشرع بإجماع الصحابة والتابعين؛ لأن أصحاب رسول الله ﷺ عند وفاته بادروا إلى بيعة أبي بكر رضي الله عنه وتسليم النظر إليه في أمورهم، وكذا في كل عصر من بعد ذلك ولم يترك الناس فوضى في عصر من الأعصار، واستقر ذلك إجماعا دالا على وجوب نصب الإمام". أي أن الأمة نقلت هذا الإجماع واستقر لديها كابرا عن كابر، وطبقة عن طبقة، فوجود الإجماع متواتر.
- قال الخطيب البغدادي - رحمه الله - أجمع المهاجرون والأنصار على خلافة أبي بكر قالوا له: يا خليفة رسول الله ولم يسمَّ أحد بعده خليفة، وقيل: إنه قبض النبي ﷺ عن ثلاثين ألف مسلم كُلٌ قال لأبي بكر: يا خليفة رسول الله ورضوا به من بعده رضي الله عنهم. أقول: وليست العبرة ببيعة آحاد المسلمين كلهم له، بل العبرة بإجماعهم على حرمة خلو العصر من إمام، وعلى فرضية خلافة رسول الله ﷺ، فالرسول ﷺ إذ قال: «ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية»، يفهم من هذا أن المطلوب هو وجود خليفة له في الأعناق بيعة لا أن يبايعه كل مسلم، وبالتالي فلو كان عدد المسلمين ملياراً فليس المطلوب أن يبايع المليار، بل أن يكون على المليار خليفة أخذ البيعة بالتراضي من الأمة أو ممن يمثل الأمة!.
-  وقال أبو الحسن الأشعري: أثنى الله - عز وجل - على المهاجرين والأنصار والسابقين إلى الإسلام، ونطق القرآن بمدح المهاجرين والأنصار في مواضع كثيرة وأثنى على أهل بيعة الرضوان فقال عز وجل: ﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ﴾، (سورة الفتح، الآية 18). قد أجمع هؤلاء الذين أثنى الله عليهم ومدحهم على إمامة أبي بكر الصديق رضي الله عنه وسمّوه خليفة رسول الله وبايعوه وانقادوا له وأقروا له بالفضل وكان أفضل الجماعة في جميع الخصال التي يستحق بها الإمامة من العلم والزهد وقوة الرأي وسياسة الأمة وغير ذلك.
-  وقال أبو بكر الباقلاني في معرض ذكره للإجماع على خلافة الصديق رضي الله عنه: وكان رضي الله عنه مفروض الطاعة لإجماع المسلمين على طاعته وإمامته وانقيادهم له حتى قال أمير المؤمنين علي كرم الله وجهه مجيبا لقوله رضي الله عنه لما قال: أقيلوني فلست بخيركم، فقال: لا نقيلك ولا نستقيلك قدمك رسول الله ﷺ لديننا ألا نرضاك لدنيانا يعني بذلك حين قدمه للإمامة في الصلاة مع حضوره واستنابته في إمارة الحج فأمرك علينا وكان رضي الله عنه أفضل الأمة وأرجحهم إيماناً وأكملهم فهماً وأوفرهم علماً.
-  قال الشهرستاني: (واصفا حال الصحابة حين اقتربت وفاة أبي بكر رضي الله، واختياره لعمر رضي الله عنه) "وما دار في قلبه (أي أبي بكر) ولا في قلب أحد أن يجوز خلو الأرض عن إمام، فدل ذلك كله على أن الصحابة، وهم الصدر الأول كانوا على بكرة أبيهم متفقين على أنه لا بد من إمام، فذلك الإجماع على هذا الوجه، دليل قاطع على وجوب الإمامة".

*Kesimpulan*

1. KHILAFAH adalah institusi sedangkan orang yang memimpinnya disebut KHALIFAH,
2. Hukum menegakkan Khilafah adalah WAJIB berdasarkan dalil dalam Al-Quran, As-Sunnah, dan Ijma’ Sahabat, dan 
3. Menegakkan Khilafah merupakan FARDHU KIFAYAH sebagaimana pandangan Ulama-ulama mu`tabar dari kaum muslimin, baik itu dari Ulama Lugha, Ulama Kalam, Ulama Fiqhi, Ulama Tafsir, Ulama Hadist, dan Ulama-Ulama Mutaakhirin.

*(Siswa: I'dadiyah, Madrasah Tsanawiah, dan Madrasah Aliyah DDI Mangkoso Kab. Barru Sulawesi Selatan, Indonesia, Mahasiswa: S1, S2, dan S3 Univeritas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Senin, 22 Juni 2020

JANGAT TAKUT KEWALAT KEPADA GURU YANG TUKANG FITNAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tidk sedikit dari para santri, termasuk teman-teman sy, yang tidak mau berjuang untuk menegakkan khilafah rosyidah bersama HTI, padahal mereka telah mengerti bahwa HTI adalah baik, benar dan tidak sesat. Semua itu terjadi hanya karena gurunya tidak memberi izin, karena gurunya termasuk yang memitnah HTI, dan mereka takut kewalat kepada gurunya itu.

Padahal guru (kiai atau ustadz) yang telah terbukti sebagai tukang fitnah, dengan menolak formalisasi Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah atau dengan menyalahkan dan menyesatkan jama'ah yang sedang berjuang menuju kesana seperti HTI, guru seperti ini sedikitpun tidak bisa ngewalati kepada santrinya, justru dia sendiri yang bisa kewalat oleh santrinya yang berjuang dengan ikhlas dan hanya takut kepada Alloh saja dalam perjuangannya. Karena fitnah itu pasti akan kembali kepada tukang fitnah. Rosululloh saw bersabda:

يوشك أن يأتي على الناس زمان لا يبقى من الإسلام إلا اسمه ولا يبقى من القرآن إلا رسمه مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى علماؤهم شر من تحت أديم السماء (أي ما يظهر من السماء)  من عندهم تخرج الفتنة وفيهم تعود (شعب الإيمان للإمام البيهقي ج٤ ص٤٢٣). 
"Hampir-hampir akan datang kepada manusia suatu zaman dimana tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Alqur'an kecuali tulisannya. Masjid-masjid mereka ramai dan megah, tetapi kosong dari petunjuk. Dan ulama mereka seburuk-buruk makhluk di bawah kolong langit. Dari (mulut-mulut) ulama-lah akan keluarnya fitnah, dan kepada ulama-lah akan kembalinya (bahaya) fitnah". (HR Imam Baihaqi, Syu'ubul Iman, 4/423).

Perhatikan kalimat hadis ini, "Dan ulama mereka seburuk-buruk makhluk di bawah kolong langit. Dari (mulut-mulut) ulama-lah akan keluarnya fitnah, dan kepada ulama-lah akan kembalinya (bahaya) fitnah".

Jadi bahaya fitnah itu hanya akan kembali kepada situkang fitnahnya, tidak kepada yang terfitnahnya. Justru pihak terfitnahnya yang benar dan sabar akan diangkat derajatnya oleh Alloh dan akan menjadi terkenal. Fitnah adalah kesalahan dan kejatuhan bagi pelakunya, dan ujian dan tangga untuk naik derajat bagi yang terfitnah. Dan fitnah itu laksana batu asahan yang menajamkan pisau atau belati, tetapi ia sendiri terus terkikis dan tergerus hingga tipis lalu habis. Maka alangkah buruk dan ruginya menjadi batu asahan, dan betapa baik dan beruntungnya menjadi pisau atau belati.

Kita harus yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa Yang punya agama (Islam) adalah Alloh, Yang punya surga dan neraka adalah Alloh, dan Yang memberi manfaat dan bahaya adalah Alloh. Maka kita harus menolong dan memperjuangkan agama Alloh, bukan agamanya guru, dan harus takut dan mengharap kepada neraka dan surganya Alloh, bukan neraka dan surganya guru.

Apalagi guru yang hanya menjadikan agama sebagai ladang kehidupannya yang siap ditanami dan dipaneni kapan saja dan apa saja, dan menjadikan santri sebagai barang dagangannya yang siap ditawarkan dan dijual kemana saja, terutama di musim pemilu tiba.

TAKUTLAH KEPADA ALLAH YANG PUNYA AGAMA, SURGA DAN NERAKA. JANGAN TAKUT KEPADA GURU YANG MENJUAL AGAMA, SURGA DAN NERAKA.

GURU YANG ULAMA SHOLIHIN DAN YANG MUKHLIS TIDAK AKAN MENJADI PENGHALANG BAGI PERJUANGAN MENUJU ISLAM KAFFAH MELALUI TEGAKNYA KHILAFAH ROSYIDAH.

INDONESIA PASTI KHILAFAH

Bismillaahir Rahmaanir Rohiim

Maksudnya, pada waktunya Indonesia pasti akan menjadi Darul Islam, akan menerapkan sistem pemerintahan Islam, yakni kehidupan  bermasyarakat, berbangsa dan bernegaranya akan diatur dengan/oleh khilafah. 

Indonesia lebih dulu ada, sedang khilafah ala minhajin nubuwwah kedua belum dan akan ada. Terkait Indonesia bisa menjadi tempat pertama tegaknya khilafah ala minhajin nubuwwah atau Indonesia akan difutuhat oleh khilafah ala minhajin nubuwwah, semua itu bagian dari ilmu, qudrot dan irodat Allah swt, tetapi salah satu dari keduanya adalah keniscayaan. 

Alfaqir lebih meyakini bahwa Indonesia akan difutuhat oleh khilafah ala minhajin nubuwwah lalu menjadi bagian darinya, daripada menjadi tempat pertama tegaknya. Yang jelas Indonesia pasti akan diatur dengan sistem pemerintahan Islam warisan Rasulullah saw, khilafah ala minhajin nubuwwah. 

Di bawah adalah argumen syar'inya, baik naqli maupun aqli :

• Pertama, sabda Rasulullah saw :
عن تميم الداري عن النبي صلى الله عليه وسلم : ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل والنهار، ولا يترك الله بيت مدر ولا وبر إلا أدخله الله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل، عزاً يعز الله به الإسلام، وذلاً يذل به الكفر. قال الألباني: رواه جماعة منهم الإمام أحمد وابن حبان والحاكم وصححه 
Dari Tamim Addaariy, dari Nabi SAW bersabda : "Sungguh urusan (agama / pemerintahan Islam) ini akan sampai ke seluruh dunia, sebagaimana sampainya siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan satu rumah cadas (rumah gedung punya orang kota) pun, dan tidak membiarkan satu rumah bulu (rumahnya orang pedalaman atau kampung) pun, kecuali Allah memasukkan ke dalamnya agama ini, dengan kemuliaan bagi orang yang mulia atau kehinaan bagi orang yang hina, kemuliaan yang Allah memuliakan Islam dengannya, dan kehinaan yang Allah menghinakan kekufuran dengannya". (Al Albani berkata: HR Jama'ah diantaranya Imam Ahmad,  Ibnu Hibban dan Hakim dan Ia menshahihkannya).

Catatan ; 

a) tidak ada pengecualian dari sampainya kekuasaan sistem pemerintahan Islam, khilafah keseluruh penjuru dunia, baik Indonesia maupun negara lainnya. 

b) pengertian kekuasaan khilafah itu diambil dari redaksi hadits, "dengan kemuliaan bagi orang yang mulia atau kehinaan bagi orang yang hina, kemuliaan yang Allah memuliakan Islam dengannya, dan kehinaan yang Allah menghinakan kekufuran dengannya". 

Sebagaimana dijelaskan di dalam Musnad Imam Ahmad, Tamim Addariy berkata:
" قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمُ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ، وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ "
"Aku benar-benar mengetahui hal itu pada keluargaku, dimana mereka yang memeluk Islam mendapat kebaikan dan kemuliaan, dan mereka yang tetap kafir mendapat kehinaan, kerendahan dan ditarik jizyah (pajak)".

Kita fokus pada redaksi, "dan mereka yang tetap kafir mendapat kehinaan, kerendahan dan ditarik jizyah (pajak)". Kuncinya terletak pada kata "ditarik jizyah (pajak)". Sebagaimana dalam firman Allah swt :

قاتلوا الذين لا يؤمنون بالله ولا باليوم الآخر ولا يحرمون ما حرم الله ورسوله ولا يدينون دين الحق من الذين أوتوا الكتاب حتى يؤتوا الجزية عن يد وهم صاغرون

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk". (QS At-taubah ayat 29).

Catatan: jizyah ialah pajak kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam (khilafah) dari orang-orang non muslim, sebagai imbangan bagi jaminan keamanan diri mereka. 

Jadi jelas bahwa yang akan menguasai dunia dan memasukkan agama Islam ke setiap rumah, adalah sistem pemerintahan Islam khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah, dimana Imam Mahdi adalah salah satu khalifahnya. Karena hanya khilafah lah yang secara syar'i berhak menarik jizyah hanya dari orang-orang non muslim yang menjadi warga negara. Dan jizyah itu bukan dhoribah /dhoroib yang juga diterjemahkan dengan pajak yang ditarik dari semua warga negara yang mampu. 

• Kedua, sabda Rasulullah saw terkait Imam Mahdi :
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻳﻘﺘﺘﻞ ﻋﻨﺪ ﻛﻨﺰﻛﻢ ﺛﻼﺛﺔ ﻛﻠﻬﻢ ﺍﺑﻦ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺛﻢ ﻻ ﻳﺼﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺛﻢ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺮﺍﻳﺎﺕ ﺍﻟﺴﻮﺩ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻓﻴﻘﺘﺘﻠﻮﻧﻜﻢ ﻗﺘﻼ ﻟﻢ ﻳﻘﺘﻠﻪ ﻗﻮﻡ ." ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺷﻴﺌﺎ ﻻ ﺃﺣﻔﻈﻪ ﻓﻘﺎﻝ : " ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻩ ﻓﺒﺎﻳﻌﻮﻩ ﻭﻟﻮ ﺣﺒﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻠﺞ ﻓﺈﻧﻪ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻬﺪﻱ ." ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻋﻦ ﺛﻮﺑﺎﻥ ﻭ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ، ﻭ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﺑﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﻋﻦ ﺧﺎﻟﺪ ﺍﻟﺤﺬﺍﺀ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﻼﺑﺔ .
Rasulullah SAW bersabda: “Akan berperang di samping simpanan harta kalian tiga orang di mana semuanya anak khalifah, kemudian harta itu tidak dimiliki oleh salah seorang dari mereka. Kemudian muncul panji-panji hitam dari Timur, LALU MEREKA MEMERANGI KALIAN DENGAN PERANG YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN OLEH SUATU KAUM”. Kemudian Nabi menuturkan sesuatu yang aku tidak menghapalnya, lalu Nabi bersabda: “Apabila kalian melihatnya (Imam Mahdi), maka berbaiatlah kepadanya walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah al-Mahdi”.

Imam Ibnu Katsir berkata: “Yang dikehendaki dengan harta tersebut adalah harta yang tersimpan di dalam Ka’bah di mana tiga orang dari anak khalifah berperang untuk mengambilnya. Sehingga pada akhir zaman itu keluarlah Imam Mahdi dari negeri Timur ….. Allah mengokohkan Imam Mahdi dengan manusia dari negeri Timur, mereka menolongnya, menegakkan kekuasaannya, dan mengokohkan tiang-tiangnya. Dan panji-panji mereka adalah hitam, karena panji Rasulullah SAW yang bernama Rayatul ‘Uqab adalah hitam ….. Sesungguhnya Imam Mahdi yang keberadaannya dijanjikan pada akhir zaman itu akan keluar dari negeri Timur dan akan dibaiat disisi Ka’bah sebagaimana ditunjukkan oleh banyak hadits”.(Imam Ibnu Katsir, an-Nihayah fil Fitan wa al-Malahim, juz 1, hal. 55-56).

Catatan;

a) Imam Mahdi adalah seorang khalifah yang dibaiat oleh kaum muslimin, dimana baiat adalah metode syar'i dalam pengangkatan khalifah. Imam Mahdi adalah pemimpin dalam sistem khilafah, yang menerapkan dan menjalankan hukum-hukum Allah / syariat Islam secara kaffah. Karena itu dia disebut sebagai khalifatullah, wakil Allah dalam mengatur bumi dengan hukum-hukum-Nya. Kata khalifatullah juga sebagai penguat bahwa Imam Mahdi itu benar-benar seorang khalifah, bukan raja, apalagi presiden. Dengan tidak memandang bahwa kata khalifatullah itu disabdakan oleh Rasulullah saw atau tambahan dari sanad atau rawi haditsnya. 

b) sebelum Imam Mahdi sudah ada khalifah yang tiga anaknya berperang karena berebut harta di bawah Ka'bah. Khalifah itu bukan raja kerajaan Arab Saudi, karena Nabi saw tidak pernah menyebut raja dengan sebutan khalifah, tapi sebaliknya Nabi saw menyebut khalifah dengan sebutan raja, yaitu khalifah yang telah cacat moral dan normanya, seperti halnya Muawiyah ra yang pernah bughot kepada khalifah Ali ra dan memulai mengangkat anaknya (Yazid) sebagai putra mahkota. 

c) Imam Mahdi yang datang dari Timur dan didukung pasukan panji hitam juga dari Timur akan memerangi kalian dengan sangat dahsyat, ya kalian, bukan mereka, sebagaimana dalam hadits. Kalian yang paling dekat dengan kondisi Nabi saw ketika bersabda adalah kalian umat Islam di Jazirah Arab, sekitar dan seterusnya. Yaitu umat Islam dari negeri-negeri Islam yang tidak mau menerima sistem khilafah, yang menolak dan menghalangi sistem khilafah, yang tidak mau tunduk dan bergabung dengan sistem khilafah. Setelah kalian umat Islam sudah tunduk dan bergabung dengan khilafah, maka selanjutnya Imam Mahdi akan memerangi mereka umat non muslim dari negeri kaum kuffar, sampai semuanya tunduk dan bergabung dengan khilafah. Ketika itu sudah sah dikatakan bahwa Imam Mahdi telah menguasai Dunia seluruhnya untuk menebarkan keadilan risalah Islam Rahmatan lil'Aalamiin. 

d) Imam Mahdi tidak berdiri dan berjuang sendirian, tapi berdiri dan berjuang di tengah-tengah para pejuang, sebagaimana perkataan Ibnu Katsir; "... Allah mengokohkan Imam Mahdi dengan manusia dari negeri Timur, mereka menolongnya, menegakkan kekuasaannya, dan mengokohkan tiang-tiangnya". Apalagi sebelumnya sudah berdiri khilafah dan sudah ada khalifah. Berarti sudah ada golongan yang berdakwah dan berjuang untuk menegakkan khilafah. Maka sangat keliru ketika kita meyakini kedatangan Imam Mahdi, tapi tidak mau berdakwah dan berjuang untuk menegakkan khilafah. Lebih keliru lagi ketika kita justru menjadi penghalang bagi tegaknya khilafah. Apakah kita yang seperti ini yang akan diperangi oleh Imam Mahdi?! 

e) dalam hadits ada kata "arrooyaat assuud", panji-panji  berwarna hitam. Artinya, panji-panji itu  berjumlah sangat banyak, tidak hanya dibawa oleh amirnya saja, tapi semuanya boleh/bisa membawanya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, "Dan panji-panji mereka adalah hitam, karena panji Rasulullah SAW yang bernama Rayatul ‘Uqab adalah hitam". Sedang golongan di seluruh dunia Timur yang sekarang lebih banyak mengibarkan panji-panji hitam hanyalah Hizbut Tahrir. 

• Ketiga, Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbanyak di dunia, dimana Hizbut Tahrir telah menancapkan pohon-pohon dakwahnya sejak era 80-an sehingga akar-akarnya telah membesar nan kokoh menembus bumi pertiwi. Pohon-pohon itu semakin besar dan kokoh menjulang ke langit-langit duna, sehingga bisa terlihat meskipun dari negeri timur dan negeri barat terjauh. Ketika khilafah ala minhajin nubuwwah telah tegak serta seorang khalifah telah dibaiat, maka seluruh syabab Hizbut Tahrir di seluruh dunia akan serentak menyambut dan membaiatnya. Bukan hanya itu, tapi akan berjuang dan mendesak semua negara dunia, termasuk Indonesia, agar segera bergabung dengan khilafah, daripada diperangi oleh khilafah. 

Khilafah yang baru berdiri pun tidak tinggal diam, tetapi segera mengirim delegasi ke seluruh negara-negara di dunia, dari yang terdekat hingga yang terjauh, dengan memobilisasi pasukan jihad fisabilillah, termasuk Indonesia. 

Dengan demikian, ada dua kekuatan besar yang yang mencengkeram dunia, pasukan jihad yang dikirim khilafah dari luar negerinya dan para syabab Hizbut Tahrir serta umat yang sudah rindu khilafah dari dalam negerinya. Jadi seluruh negara dunia akan ditarik oleh khilafah dari luar dan didorong oleh umat dari dalam agar bergabung dan menyatu dengan /kepada khilafah ala minhajin nubuwwah. Dan tidak ada dalil pengecualian khusus bagi Indonesia, baik naqli maupun aqli. Maka Indonesia pada waktunya pasti khilafah. Wallohu A'lam. 

Minggu, 21 Juni 2020

HIZBUT TAHRIR TELAH MENYIAPKAN KHILAFAH UNTUK IMAM MAHDI

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

• Banyak hadis yang membicarakan tentang keimaman dan kekhalifahan Imam Mahdi di akhir zaman yang tentu di dalam Imamah Kubro' atau khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam. 

Imam Mahdi itu bukan seorang nabi dan rasul yang mendapat bimbingan langsung dari wahyu. Imam Mahdi itu manusia biasa, dia termasuk keturunan Rasulullah saw, dan dia sebagaimana halnya Hasan dan Husain rodhiyallohu 'anhuma diantara para sahabat. 

Keunggulan Imam Mahdi terletak pada keterikatannya kepada wahyu baik Alqur'an maupun Assunnah, baik sunnah Nabi saw maupun sunnah Khulafa' Rosyidiin; dan keadilannya sebagai seorang khalifah, sebagai penguasa dan pemimpin politik bagi kaum muslimin di seluruh dunia. 

Tetapi sehebat apapun dan sekuat apapun Imam Mahdi, dia hanyalah seorang manusia, dia tidak mungkin berdiri berjuang sendirian, menjalankan negara khilafah sendirian, mengurusi urusan umat sendirian, tanpa ada kelompok besar yang berdakwah dan berjuang untuk menegakkan khilafah sebelumnya, tanpa ada seorang mujtahid yang telah meletakkan seperangkat sistem dan hukum ketatanegaraan khilafah sebelumnya, dan tanpa orang-orang hebat di sekelilingnya. 

Apalagi sudah ada khalifah dan khilafah sebelumnya, dan sudah ada majlis ummat atau ahlulhalli wal'aqdi yang membaiatnya disamping Ka'bah dengan bai'at in'iqod, karena susah dibayangkan ketika manusia segera ramai-ramai membaiat in'iqodnya tanpa perencanaan dan persiapan tersetruktur sebelumnya. 

Apalagi term khilafah dan khalifah dalam hadits nabawi itu haqiqoh lughawiyyah yang berarti pengganti orang / khalifah sebelumnya, karena Nabi saw itu belum memakai istilah / terminologi terkait kata khalifah dan khilafah. Ini meneguhkan bahwa sebelum Imam Mahdi itu sudah ada khalifah. 

Khalifah dan khilafah dalam hadits juga tidak bisa diartikan sebagai raja (malik). Karena dalam hadits, justru khalifah yang sudah cacad moral dan normanya, yang sudah tidak berislam kaffah 100%, oleh Nabi saw disebut sebagai raja seperti halnya Muawiyah ra hanya karena pernah menjadi bughot terhadap khalifah Ali ra, dan mewariskan kekuasaannya kepada Yazid anaknya sebagaimana halnya kerajaan. Sebaliknya, Nabi saw tidak pernah menyebut raja dengan sebutan khalifah. Ini juga meneguhkan bahwa Imam Mahdi itu benar-benar khalifah dalam khilafah. 

• Kemudian pertanyaannya, mujtahid  dan kelompok siapakah yang telah, sedang dan terus mempersiapkan dan mendakwahkan imamah / khilafah Imam Mahdi? 

Jawabannya; Syaikh Taqiyyuddin Annabhani dan Hizbut Tahrir yang didirikannya. Kenapa? Karena:

• Pertama; sepengetahuan alfaqir, selain Hizbut Tahrir, tidak ada di dunia ini kelompok bersekala global yang besar dan solid, yang punya kitab-kitab mutabannat terkait khilafah dan khalifah yang lengkap dan mendetil, dan yang punya fikroh (ideologi Islam) dan thoriqoh untuk mengaplikasikan fikroh yang jelas dan terbuka untuk umum dan bisa dikaji dipelajri dikritisi oleh siapa saja pencari kebenaran dan keadilan. 

Dan tiga kitab berikut sangat perlu untuk dikaji dan dipelajari oleh siapa saja orang yang mencari haqq; Nizhamul Hukmi fil Islam, Muqodimatud Dustur, dan Ajhizatu Daulatil Khilafati fil Hukmi wal Idaroh. Ketiga kitab tersebut cukup untuk membuktikan bahwa yang didakwahkan dan diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir adalah khilafah ala minhajin nubuwwah dimana Imam Mahdi adalah salah satu khalifahnya. 

• Kedua; dengan kebesaran, kesolidan ..., kelengkapan, kedetilan ..., kejelasan, dan keterbukaan fikroh dan thoriqohnya, Hizbut Tahrir belum mau membaiat amirnya sebagai khalifah, sebagaimana halnya organisasi Khilafatul Muslimin dengan Ustadz Abdul Qodir Ahmad Baraja-nya, IS / ISIS dengan Albaghdadi-nya, atau organisasi lainnya yang mengklaim sudah punya khalifah. Karena yang Hizbut Tahrir dakwahkan dan perjuangkan hanyalah khilafah ala minhajin nubuwwah yang Imam Mahdi salah satu khalifahnya. 

• Ketiga; adalah bagian terkecil tapi menentukan, dari fikroh Hizbut Tahrir, yaitu tentang definisi khilafah yang benar, tepat, jaamik dan maanik, yang sangat tepat untuk mendefinisikan fakta / hakekat khilafah ala minhajin nubuwwah, baik yang pertama maupun yang kedua nanti, khilafahnya Imam Mahdi. 

Dan definisi tersebut ialah:

ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻫﻲ ﺭﺋﺎﺳﺔ ﻋﺎﻣﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ , ﻻﻗﺎﻣﺔ ﺍﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺍﻻﺳﻼﻣﻲ , ﻭﺣﻤﻞ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻻﺳﻼﻣﻴﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ
"Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum agama Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia".

Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab-kitab yang ditabanni oleh Hizbut Tahrir, seperti kitab Al-Khilâfah (hlm. 1), Muqaddimah ad-Dustûr (bab Khilafah hlm. 128), dan Asy-Syakshiyyah al-Islâmiyah (Juz II, hlm. 9), dll. 

Definisi tersebut terdiri dari 3 komponen; khilafah ialah; 

(1) "kepemimpinan umum bagi kaum Muslim seluruhnya di dunia".

Kepemimpinan khalifah ala minhajin nubuwwah baik yang pertama maupun yang kedua, itu bagi kaum muslimin di seluruh dunia, sama saja dunia yang sudah menjadi darul Islam atau yang masih darul kufri tapi sudah ada kaum muslimin di dalamnya. Sebagaimana fakta Madinah ketika itu yg sudah darul Islam dan fakta Mekkah sebelum futuhat yang masih darul kufri tapi didalamnya ada orang-orang muslim yang terhalang untuk hijrah ke Madinah. Hanya saja tugas Nabi saw sebagai kepala daulah untuk menerapkan perlindungan dan keadilan Islam masih terhalang oleh kekuatan penguasa darul kufri Mekkah, tapi tidak menghangi kepemimpinan Nabi saw atas kaum muslimin di Mekkah. 

Begitu pula laqob para khalifah setelah Nabi saw sebagai amirul mu'minin, artinya pemimpin bagi kaum muslimin, tidak dibatasi dengan keberadaan kaum muslimin itu domisili di darul islam atau di darul kufri. 

Sejarah juga membuktikan, ketika seorang perempuan muslimah di Eropa dilecehkan kehormatannya oleh non muslim lalu berteriak keras memanggil khalifah Mu'tashim dan panggilan itu sampai kepada khalifah, kemudian sang khalifah meresponnya dengan membawahi pasukan tentara yang sangat panjang, perempuan itu di darul islam apa di darul kufri? Jawabnya, perempuan itu di darul kufri, tapi tidak menghalangi khalifah sebagai pemimpinnya. 

Imam Mahdi juga akan menjadi khalifah pemimpin bagi kaum muslimin di seluruh dunia. 

(2) "untuk menegakkan hukum-hukum agama Islam".

Bukan khalifah kalau tidak menegakkan syari'at Islam secara kaffah. Terutama syariat Islam terkait sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem persangsian Islam (yang mencakup hudud, jinayat, takzir dan mukhalafat), dan politik dalam dan luar negeri  Islam berupa menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. 

Dengan menegakkan hukum-hukum agama Islam, dunia pun mudah ditaklukkan, karena pada penerapan syariat-Nya secara kaffah terdapat pertolongan-Nya. Imam Mahdi pun berhasil menguasai dunia seluruhnya, tanpa ada satu institusi negara pun yang bisa menghalanginya. 

(3) "dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia".

Yakni khilafah menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Jihad diperlukan untuk mengawal dakwah ketika menghadapi penolakan. Jihad adalah opsi ketiga dan terakhir setelah dua opsi sebelumnya, masuk Islam atau menjadi kafir dzimmi dengan membayar jizyah, ditolak. Jadi dakwah yang disertai jihad tersebut adalah tugas khalifah setelah tegaknya khilafah. 

Nah, sejak era 50-an, dakwah Islam ke seluruh dunia, dakwah Islam kaffah, dakwah syariah & khilafah telah dimulai dan terus dilakukan oleh Hizbut Tahrir. Dengan dakwahnya Hizbut Tahrir mayoritas umat Islam di seluruh dunia mulai mengenali lagi sistem pemerintahan Islam yang nyaris hilang dari ingatan, khilafah 'ala minhajin nubuwwah. 

Dengan dakwah syariah & khilafah ke seluruh dunia oleh Hizbut Tahrir menjadi mudah bagi Imam Mahdi nanti melakukan futuhat ke seluruh dunia, sehingga seluruh dunia, dari timurnya sampai baratnya, dari rumah madarnya sampai rumah wabarnya, dari kotanya sampai perkampungannya, seluruhnya berada dalam genggaman khilafah Imam Mahdi. 

Tiga bukti diatas sudah cukup untuk membuktikan bahwa Hizbut Tahrir telah, sedang dan terus tanpa henti menyiapkan khilafah untuk Imam Mahdi. Wallahu A'lam... 


Kamis, 11 Juni 2020

JANGAN BINGUNG MIKIRIN ORANG NU

Karena NU itu banyak jenisnya:

1. Nurut Umum. Pokoknya yang lagi umum di masyarakat diikuti, dibenarkan dan dilegalkan, tidak memandang halal haramnya, seperti LG8T. Seperti itu tuh tipe orang-orang NU.

2. Numpang Urip. Pokoknya siapa saja, individu maupun kelompok, yang mau ngasih kehidupan pribadi dan keluarganya, ya diikuti, didukung, dijaga, dan dilestarikan, tidak memandang benar salahnya. Yang penting bisa numpang urip (hidup), seperti jaga Greja. Demikian itu karakter orang NU.

3. Nipu Umat. Berbagai cara dilakukan dalam menipu umat agar jauh dari Islam. Mulai dari tambah panjang jenggotnya tambah bodoh otaknya, sampai Nabi SAW selama di Madinah tidak pernah memakai kata KAFIR untuk menyebut warga non muslim. Mulai dari khilafah bukan ajaran Islam, sampai khilafah itu bukan sistem pemerintahan. Mulai dari Indonesia itu bukan negara Islam, ketika diajak menerapkan hudûd, sampai Indonesia ini sudah negara Islam, ketika diajak menegakkan khilafah sebagai negara Islam. Mulai dari Islam Liberal, sampai Islam Nusantara. Mulai dari membolehkan presiden KAFIR, sampai usul tidak menyebut KAFIR kepada non muslim. Seperti ini model tipu-tipu wong NU.

4. Nambah Utang. Gali lubang tutup lubang itu sudah biasa. Nambah hutang juga sudah biasa. Yang penting dibayar sendiri. Yang tidak biasa itu hutang riba ribuan triliun. Kelompoknya ikut menikmati. Sedang yang dibebani untuk bayar adalah orang lain yang akan datang dan yang belum lahir. Nah, negara ini adalah negarane wong NU, bahkan negara NU. Dari wong cilik yang hobi nambah utang, sampai wong gede seperti presiden dan bawahannya adalah wong NU. Karena mereka tidak mau berhenti dari Nambah Utang. Ngutang lagi. Ngutang lagi.

5. Nammamul Ummah. Provokator. Mereka yang hobi memecah belah persatuan kaum muslim adalah orang-orang NU. Seperti HTI dibenturkan dengan Ansor Banser, FPI dibenturkan dengan preman. Termasuk mereka yang suka membuat istilah baru untuk dibenturkan dengan istilah lama yang sudah paten dan sudah final tapi dilabeli dengan istilah baru. Seperti Islam moderat untuk dibenturkan dengan Islam Radikal, Islam Nusantara untuk dibenturkan dengan Islam Transnasional, Islam Toleran dibenturkan dengan Islam Militan. Sampai Wahhabi dibenturkan dengan Aswaja. Sampai kaum kampret dibenturkan dengan kaum cebong. Ya seperti itulah watak adu domba wong NU.

6. Nahdlotul Ulama. Kebangkitan Ulama. Kelompok yang anti penjajahan. Anti imperialisme. Anti kezaliman. Anti kekufuran. Anti kemusyrikan. Anti kemaksiatan. Anti kemungkaran. Mereka adalah kelompok Ahlussunnah Waljama’ah sebagai Firqoh Najiyah dan Sawad A'zhom. Ushul mereka adalah Alqur’an, Assunnah, Ijmak dan Qiyas. Madzhab panutan utama mereka adalah Hanafî, Mâlikî, Syafi'î, dan Hanbalî. Sistem pemerintahan yang diperjuangkan oleh mereka adalah khilafah, karena NU ini berdiri sebelum ada NKRI. Cukup. Tidak perlu kepanjangan.

Kenapa cuma ada enam jenis NU. Niru rukun iman yang enam yang semuanya baik. Mudah-mudahan NU yang ada enam itu nantinya menjadi baik semua seperti rukum iman.

Ada resep mujarab untuk menjadikan semuanya baik. Yaitu kembalikan kepada NU yang hakiki. Kembalikan kepada istilah Nahdhoh sebagai kebangkitan yang berarti irtifaul fikri, tingginya taraf berpikir. Yaitu berpikir cemerlang, berpikir ideologis, berpikir Islam Kaffah yang menjurus kepada khilafah.

Dan kembalikan kepada istilah Ulama. Yaitu Ulam yang "innamâ yakhsyaLlôha min 'ibâdihil ulamâu", Ulama akherat, bukan ulama dunia, dan bukan ulama salatin yang lushshun. Ulama yang dalam sistem pemerintahan mengikuti empat dalil syara'nya dan empat imam madzhabnya. Yaitu sistem Khilafah Rosyidah Mahdiyyah, atau Khilafah 'alaa Minhajin Nubuwwah. Titik.

Ulama yang menyebut orang-orang di luar agama Islam, dari agama manapun, dengan sebutan KAFIR, KAFIR, KAFIR, meskipun tidak dipakai untuk memanggil tetangganya yang KAFIR.

#DemokrasiWarisanPenjajah #DemokrasiSistemKufur #KhilafahAjaranIslam #KhilafahAjaranAhlussunnah #KhilafahAjaranAswaja #ReturnTheKhilafah

Rabu, 10 Juni 2020

PERBANDINGAN DEFINISI KHILAFAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kita wajib mendefinisikan khilafah dengan benar dan tepat, atau memilih definisi khilafah yang benar dan tepat, karena kalau salah dalam mendefinisikan khilafah atau salah dalam memilih definisi khilafah, maka akan salah pula dalam melangkah dan salah dalam berdakwah, juga salah dalam mengangkat dan membaiat khalifah. Bisa-bisa presiden negara Indonesia, Amerika, Cina dll. semuanya disebut khalifah dan negaranya pun disebut khilafah. Lalu apa guna dakwah siang dan malam, ketika seluruh dunia sudah khilafah dan khalifah? 

Dalam kata lain, definisi itu harus jaami' (lengkap dan mencakup) dan maani' (mencegah masuknya selain yang didefinisikan). 

Sebagaimana mendefinisikan kambing harus benar dan tepat sesuai fakta kambing. Kalau mendefinisikan kambing dengan "hewan berkaki empat, telinga dan ekor panjang, dan pemakan rumput", maka ada benarnya, tapi tidak tepat, karena hewan lainnya juga banyak yang demikian. 

• DEFINISI KHILAFAH

Dr. Mahmud Al-Khalidi (1980) dalam kitabnya, Qawa'idu Nizhamil Hukmi fil Islam, telah menghimpun sepuluh definisi khilafah yang telah dirumuskan oleh para ulama, lalu mendatangkan definisi khilafah versi Hizbut Tahrir, sebagai berikut:

Pertama, definisi Mushtofa Shobri Syaikhul Islam Daulah 'Utsmaniyah:

الخلافة عن رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تنفيذ ما آتى به من شرعة الإسلام 

"Pengganti dari Rasulullah saw dalam melaksanakan syariat Islam yang telah dibawanya". (Mauqiful 'aqli wal ilmi wal 'alim, juz 4, hal. 262).

Kedua, definisi Albaidhowi :

خلافة شخص من الأشخاص للرسول صلى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إقامة القوانين الشرعية وحفظ حوزة الملة على وجه يجب اتباعه على كافة الأمة

"Khilafahnya seseorang diantara orang-orang bagi Rasulullah saw dalam menegakkan undang-undang syariat dan menjaga wilayah / kekuasaan agama dimana wajib diikuti oleh seluruh umat ". (Hasyiyah Syarah Aththowali', hal. 228).

Ketiga, definisi Al-Kamal ibn Al-Hammam: 

هي استحقاق تصرف عام على المسلمين 

"Khilafah adalah otoritas pengaturan umum atas kaum Muslimin". (Al-Musâmarah fî Syarh al-Musâyarah, hlm. 141).

Keempat, definisi Al-Qalqasyandi: 

هي الولاية العامة على كافة الأمة

"Khilafah adalah kekuasaan umum atas seluruh umat". (Ma‘âtsir al-Inâfah fî Ma‘âlim al-Khilâfah, I/8).

Kelima, definisi 'Adhuddin Al Ijiy:

رياسة عامة في أمور الدنيا والدين لشخص من الأشخاص

"Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia bagi seseorang diantara banyak orang". Atau:

خلافة الرسول في إقامة الدين وحفظ حوزة الملة بحيث يجب اتباعه على كافة الأمة

"pengganti Rasulullah dalam menegakkan agama dan menjaga kesatuan agama, dimana wajib diikuti oleh seluruh umat". (Al-Iji, Al-Mawâqîf, III/603).

Keenam, definisi Ba'dhu Ulama Syafi'iyah:

الإمام الأعظم القائم بخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا 

"Imam Agung yang menegakkan khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan mengatur dunia". (Nihayatul Muhtaj 'ala Syarhil Minhaj, juz 7, hal. 289).

Ketujuh, definisi salah satu firqah Syiah yang keterlaluan memberikan hak kepada para imamnya sehingga mengeluarkannya dari batas-batas makhluk:

محض الحكومة وإجراء الأحكام والأوامر والنواهي وشأن من شؤون الإلهية

"Murni pemerintahan, menjalankan hukum-hukum, perintah-perintah, larangan-larangan, dan urusan dari urusan-urusan ketuhanan". (Mukhtashar Attuhfah Al itsna 'Asyariyyah, hal. 189).

Kedelapan, definisi Imam Al-Mawardi:

الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا 

"Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm. 3).

Kesembilan, definisi Ibnu Khaldun: 

حمل الكافة على مقتضى النظر الشرعي في مصالحهم الأخروية والدنيوية 

"Khilafah adalah pengembanan seluruh urusan umat sesuai dengan kehendak pandangan syariat dalam berbagai kemaslahatan mereka, baik ukhrawi maupun duniawi". Atau:

خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

"Pengganti dari pemilik syariat dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Al-Muqaddimah, hal. 159).

Kesepuluh, definisi Syaikhul Islam Ibrahim Albaijuri:

هي النيابة عن النبي صلى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عموم مصالح المسلمين 

"Pengganti dari Nabi saw dalam keumuman kemaslahatan kaum muslimin ". (Tuhfatul Murid Ala Jauharotit Tauhid, juz 2, hal. 45).

Kesimpulan :

Kesimpulan dari semua definisi diatas ialah, bahwa khilafah / khalifah adalah jabatan atau kepemimpinan tertinggi pengganti Nabi saw dalam menjaga agama Islam dan mengatur dunia dengan agama Islam, dimana wajib diikuti / ditaati oleh seluruh umat Islam. 

DEFINISI KHILAFAH VERSI HIZBUT TAHRIR 

Sebagai pengantar, Alkholidi berkata: "Yang benar, bahwa membuat definisi khilafah atau khalifah itu harus melihat pada tujuan dimana karenanya Allah swt telah mewajibkan atas kaum muslimin agar menegakkan daulah, yakni agar umat memiliki struktur pemerintahan (tujuannya ialah untuk menjaga agama Islam dan mengatur dunia dengan agama Islam, sebagaimana pada definisi -definisi di atas). 

ketika kami menajamkan penglihatan dan pengamatan, dan meneliti fakta / realita daulah islamiyyah (sejak masa Nabi saw), maka kami menemukan, bahwa daulah islamiyyah telah menjalankan dua perkara; 

Pertama, beraktivitas menerapkan hukum-hukum syara' atas seluruh rakyat. Daulah mengumpulkan zakat dan membagikannya, menegakkan hudud, mengatur urusan rakyat dengan syariat Islam, dan mengatur sistem kehidupan Islam secara umum. 

Kedua, beraktivitas mengemban dakwah Islam keluar batas-batas daulah sampai keseluruh penjuru dunia (yang bisa dijangkau), menyingkirkan semua penghalang dan rintangan dari depan dakwah Islam, melalui metode jihad fi sabilillah. 

Atas dasar itu, termasuk definisi khilafah yang paling detil dan paling mendekati kebenaran (juga yang jaami' dan maani'), ialah:

ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻫﻲ ﺭﺋﺎﺳﺔ ﻋﺎﻣﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ , ﻻﻗﺎﻣﺔ ﺍﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺍﻻﺳﻼﻣﻲ , ﻭﺣﻤﻞ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻻﺳﻼﻣﻴﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ
"Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum agama Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia".

Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab-kitab yang ditabanni oleh Hizbut Tahrir, seperti kitab Al-Khilâfah (hlm. 1), Muqaddimah ad-Dustûr (bab Khilafah hlm. 128), dan Asy-Syakshiyyah al-Islâmiyah (Juz II, hlm. 9), dll. 

Kepemimpinan umum bagi kaum muslimin, menegakkan hukum-hukum agama Islam, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia (yang terjangkau), semuanya telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad saw, maka sudah mencukupi dari penyebutan pengganti Nabi saw dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama, karena mengatur dunia dengan agama itu harus melalui dakwah Islam. 

Dengan demikian, sepuluh definisi khilafah diatas dan yang lainnya telah tercakup dalam definisi khilafah versi Hizbut Tahrir. Lebih dari itu, definisi khilafah Hizbut Tahrir menolak masuknya definisi khilafah kaum liberal yang sesat dan menyesatkan, yang tujuannya hanya menjual agama dengan duit dunia yang sedikit, dimana definisi mereka itu mencakup semua bentuk pemerintahan dan semua kepala negara yang ada di dunia, baik yang muslim maupun yang kafir dan musyrik. Wallahu A'lam.