Rabu, 25 Desember 2019

DASAR NEGARA INDONESIA BUKAN PANCASILA

Dimana tertulisnya didalam *Undang Undangnya* yang _mengatakan Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila.._
*Cari diseluruh kitab Undang Undang Negara, kalo ada kalimat yang  menyebutkan Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila.* Tidak ada.

Ini Jawaban mengejutkan dari _Dr. Eggy Sudjana, SH, M.Si_

*_Banyak Yang Tak Tahu, Ternyata Dasar Negara Indonesia Bukan Pancasila Tapi Allah SWT_*

*Sejarah*

Banyak Yang Tak Tahu, Ternyata *Dasar Negara Indonesia Bukan Pancasila Tapi Allah.* Apa yang disampaikan oleh Dr Eggi Sudjana SH MSi dalam talkshow di TV swasta malam itu sangat mengejutkan banyak pihak. Beliau menyebutkan bahwa jika dicermati, ternyata justru negara Indonesia ini *secara hukum bukanlah berdasarkan Pancasila.* Sebaliknya, di dalam UUD 45 malah ditegaskan bahwa *dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.*

Dan sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, *Tuhan yang dimaksud tidak lain adalah Allah subhanahu wata'ala.* Sehingga secara hukum *jelas sekali bahwa dasar negara kita ini sebenarnya adalah Islam.*

Pernyataan itu muncul saat berdebat dengan _Abdul Muqsith_ yang mewakili kalangan AKK-BB. Saat itu Abdul Muqsith _menyatakan bahwa Indonesia bukan negara Islam, bukan berdasarkan Al Qura'n dan Al Hadits, namun berdasarkan Pancasila dan UUD 45._

Mungkin Abdul Muqsith _ingin menegaskan bahwa Ahmadiyah boleh saja melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, toh negara kita kan bukan negara Islam, bukan berdasarkan Quran dan Hadits._

Tetapi tiba-tiba *Mas Eggi balik bertanya tentang siapa yang bilang bahwa dasar negara kita ini Pancasila? Mana dasar hukumnya kita mengatakan itu?*

Abdul Muqsith cukup bingung diserang dengan pertanyaan seperti itu. Rupanya dia tidak siap ketika diminta untuk menyebutkan dasar ungkapan bahwa negara kita ini berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Ketika itulah mas Eggi *langsung menyebutkan bahwa yang adalah UUD 45 menyebutkan tentang dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Pancasila.* Sebagaimana yang *disebutkan dalam UUD 45 pasal 29 ayat 1.*

Jika dipikir-pikir, ada *benarnya juga apa yang dikatakan oleh Eggi Sujana itu.* *_Mana teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila._* Kita yang awam ini agak kaget juga mendengar jawaban Eggi.

Entahlah apa ada ahli hukum lain yang bisa menjawabnya. Yang jelas si *_Abdul Muasith itu hanya bisa diam saja, tanpa bisa menjawab apa yang ditegaskan oleh Eggi Sujana._*

Dan rasanya *_kita memang tidak atau belum menemukan teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila._*

Diskusi itu menjadi menarik, lantaran *_kita baru saja tersadar bahwa dasar negara kita menurut UUD 45 ternyata bukan Pancasila sebagaimana yang sering kita hafal selama ini sejak SD.*_ Pasal 29 UUD 45 ayat 1 memang menyebutkan begini:

*_1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa_*

Lalu *_siapakah Tuhan yang dimaksud dalam pasal tersebut, jawabannya menurut Eggi adalah Allah SWT._* Karena di *_pembukaan UUD 45 memang telah disebutkan secara tegas tentang kemerdekaan Indonesia yang merupakan berkat rahmat Allah SWT._*

Dalam argumentasi mas Eggi, *_yang namanya batang tubuh dengan pembukaan tidak boleh terpisah-pisah atau berlawanan._* Jika dalam batang tubuh yaitu pasal 29 ayat 1 disebutkan bahwa negara Indonesia berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka *Tuhan itu bukan sekedar Maha Esa, juga bukan berarti tuhannya semua agama. Namun tuhannnya umat Islam, yaitu Allah SW

Hal itu lantaran secara tegas Pembukaan UUD 45 menyebutkan lafadz Allah SWT. Dan hal itu *tidak boleh ditafsirkan menjadi segala macam Tuhan,* bukan asal Tuhan dan bukan tuhan-tuhan buat agama lain. *Tuhan Yang Maha Esa di pasal 29 ayat 1 itu harus dipahami oleh rakyat Indonesia sebagai Allah SWT, bukan Yesus, bukan Bunda Maria, bukan Sidharta Gautama, bukan dewa atau pun tuhan-tuhan dalam nama yang lain.*

Terlepas apakah nanti ada ahli hukum tata negara yang bisa membantah pemikiran Eggi Sujana itu, yang pasti Abdul Muqsith tidak bisa menjawabnya. Dan pandangan bahwa negara kita ini bukan negara Islam serta tidak berdasarkan Quran dan Sunah, secara jujur harus kita akui harus dikoreksi kembali.

Sebab jika kita lihat latar belakang *semangat dan juga sejarah terbentuknya UUD 45 oleh para pendiri negeri ini, nuansa Islam sangat kental.* Bahkan ada opsi yang cukup lama untuk menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara Islam yang formal.
*Bahkan awalnya, sila pertama dari Pancasila itu masih ada tambahan 7 kata, yaitu: dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya.*

Namun *lewat tipu muslihat dan kebohongan para penguasa,* dan tentunya melewati perdebatan yang sangat panjang, *7 kata itu harus dihapuskan.* Sekedar memperhatikan kepentingan kalangan Kristen yang merasa keberatan dan main ancam mau memisahkan diri dari NKRI.

*Padahal 7 kata itu sama sekali tidak mengusik kepentingan agama dan ibadah mereka.* Toh Indonesia ini memang mayoritas muslim, namun betapa lucunya tingkah mereka, tatkala pihak mayoritas mau menetapkan hukum di dalam lingkungan mereka sendiri lewat Pancasila, *kok bisa-bisanya orang-orang di luar agama Islam pakai acara protes segala.* Padahal apa urusannya mereka dengan 7 kata itu.

Jika dipikir lebih mendalam, betapa *tidak etisnya kalangan Kristen saat awal kita mendirikan negara,* di mana mereka sudah ikut campur urusan agama lain, yang mayoritas pula. Sampai mereka berani nekat mau memisahkan diri sambil berdusta bahwa Indonesia bagian timur akan segera memisahkan diri kalau 7 kata itu tidak dihapus.

*Akhirnya dengan legowo para ulama dan pendiri negara ini menghapus 7 kata itu,* demi persatuan dan kesatuan. *Tapi apa lacur, air susu dibalas air tuba. Alih-alih bisa duduk rukun dan akur, kalangan Ekstrem Kristen yang didukung kalangan sekuler itu tidak pernah berhenti ingin menyingkirkan Islam dari negara ini.*

Dan semangat penyingkiran Islam dari negara *semakin menjadi-jadi dengan adanya penekanan asas tunggal di zaman Soeharto. Semua ormas apalagi orsospol wajib berasas Pancasila.*

Sesuatu yang di dalam UUD 45 tidak pernah disebut-sebut. Malah yang disebut justru negara ini berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan Tuhan yang dimaksud itu adalah Allah SWT sesuai dengan yang tercantum di dalam Pembukaan UUD 45.

Jadi sangat tepat jika kalangan sekuler harus sibuk membuka-buka kembali literatur untuk cari-cari argumen yang sekiranya bisa membuat Islam jauh dari negara ini.

Namanya perjuangan, pasti mereka akan terus mencari dan mencari argumen-argumen yang sekiranya bisa dijadikan bahan untuk dijadikan alibi untuk menjauhkan Islam dari negara. Sebab mereka memang sangat alergi dengan Islam. Seolah-olah ajaran Islam itu harus diberantas, atau merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai.

*Kita harus mengakui bahwa kalangan sekuler anti Islam itu di negeri ini sangat banyak. Dalam kepala mereka, mungkin lebih baik negara ini menjadi komunis dari pada jadi negara Islam.*

_Wallahu A'lam. (Ahmad Sarwat, Lc)._

BENDERA (KALIMAT) TAUHID DALAM PERSPEKTIF KETATANEGARAAN

Oleh : Prof. Dr. Suteki, SH.,M.Hum

A. PENGANTAR

Sangat menarik apa yang dikatakan oleh George Herbert Mead ketika membahas sebuah teori kominukasi, yakni teori interaksionalis simbolik. Ia menjelaskan bahwa manusia termotivasi untuk bertindak berdasarkan pemaknaan yang mereka berikan kepada orang lain, benda, dan kejadian. Dapat dikatakan bahwa manusia bertindak berdasarkan pemaknaan atas SIMBOL tertentu yang disepakati.
Pemaknaan atas simbol ini diciptakan melalui bahasa yang digunakan oleh manusia ketika berkomunikasi dengan pihak lain yakni dalam konteks komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal dan komunikasi intrapersonal atau self-talk atau dalam ranah pemikiran pribadi mereka.

Bahasa sebagai alat komunikasi memungkinkan manusia mengembangkan sense of self dan untuk berinteraksi dengan pihak lain dalam suatu masyarakat. Interaksi dengan pihak lain itu dilakukan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Dengan demikian, ada beberapa unsur pokok dalam komunikasi tersebut yaitu meaning (makna), language (bahasa) dan thought (pemikiran) yang pada akhirnya akan mendorong pada pembentukan persepsi, sikap hingga perilaku seseorang.

Salah satu simbol yang memilki makna khusus bagi pemiliknya adalah PANJI-PANJI. PANJI adalah bendera yang dibuat untuk menunjukkan kedudukan dan kebesaran suatu jabatan atau organisasi. Ada komunitas yang membuat dan mengagungkan suatu panji, ada pula komunitas yang tidak terlalu peduli dengan panji-panji itu. Sepanjang peradaban dunia terbukti banyak peradaban suatu bangsa itu memiliki panji tertentu sebagai simbol keberadaan dan persatuan bangsa itu bahkan sudah dimiliki pada saat suatu komunitas belum menjadi negara bangsa modern, yakni ketika komunitas itu berupa kerajaan. Dalam torehan sejarah pemerintahan di nusantara kita mengenal Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan, Ternate, Tidore, Kerajaan Aceh, Kerajaan Cirebon. Kerajaan Yogjakarta, semuanya memiliki panji kerajaan berupa bendera bertuliskan kalimat tauhid.

Pada zaman yang mendekati modern, menjelang kemerdekaan Indonesia beberapa organisasi politik juga memiliki panji organisasi berupa bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Misalnya Laskar Hizbullah (cikal bakal TNI) dan Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Samanhudi juga menggunakan lambang yang memuat kalimat tauhid di dalamnya.

Semenjak masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, umat Islam sudah mempunyai bendera. Dalam bahasa Arab, bendera sebut dengan liwa’ atau alwiyah (dalam bentuk jamak). Istilah liwa’ sering ditemui dalam beberapa riwayat hadis tentang peperangan. Jadi, istilah liwa’ sering digandengkan pemakaiannya dengan rayah (panji perang). Istilah liwa’ atau disebut juga dengan al-alam (bendera) dan rayah mempunyai fungsi berbeda. Dalam beberapa riwayat disebutkan, rayah yang dipakai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih. (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).

Rayah dan liwa’ sama-sama bertuliskan La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam. Rayah dan liwa’ juga mempunyai fungsi yang berbeda. Rayah merupakan panji yang dipakai pemimpin atau panglima perang. Rayah menjadi penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakkan seluruh pasukan. Jadi, hanya para komandan (sekuadron, detasemen, dan satuan-satuan pasukan lain) yang memakai rayah.
Selain itu, fungsi liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Liwa’ dalam perperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir radi allahu anhu yang mengatakan, Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah). (HR Ibnu Majah).

B. URGENSI PANJI TAUHID BAGI SUATU KOMUNITAS

Bendera bagi suatu bangsa merupakan sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan suatu komunitas, organisasi, hingga negera bangsa tertentu. Bendera merupakan manifestasi kebudayaan yang berakar pada sejarah perjuangan bangsa, kesatuan dalam keragaman budaya, dan kesamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa.

Sebagai sebuah simbol, makas seringkali bendera itu sebagai lambang harga diri. Menghinanya, menistakannya sama saja dengan menistakan harga diri pemilik bendera tersebut. Setelah masa-masa ekspansi dari daulah Islam berakhir (dengan runtuhnya kekhalifahan Utsmani 3 Maret 1924), simbol-simbol menyerupai rayah dan liwa’ kembali muncul. Banyak kelompok dan ormas yang menggunakan simbol tersebut sebagai lambang organisasinya. Namun, apakah hal ini diperkenankan?

Secara yuridis sebenarnya tidak ada larangan bagi satu kelompok untuk memakai simbol rayah dan liwa’. Namun dari sisi moral agama, jika tujuannya untuk menipu atau mengecoh umat Islam, tentu itu jelas haram. Bahkan ada yang mensinyalir, kelompok-
kelompok ekstremis, seperti Islamic State of Irak and Suriah (ISIS), menggunakan rayah dan liwa’ untuk menipu umat Islam. Hal itu dibuktikan dengan perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan slogan yang mereka usung. Penggunaan rayah dan liwa’ hanya sekadar propaganda untuk menarik simpati umat Islam. Demikian juga tentang fungsi rayah dan liwa’ sebagai bendera umat Islam. Menurut Ali Mustafa, tidak ada dalil kuat yang bisa mengklaim begitu saja bahwa liwa’ merupakan bendera umat Islam. Menurutnya, Islam bukan bendera, melainkan keyakinan. Keberadaan rayah dan liwa’ pada zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam hanya sebagai tanda. Benarkah pendapat itu?

Kita simak sejarah perang Nabi, bagamana pengorbanan Mush’ab bin Umair dalam mempertahankan bendera perang?
Dalam Perang Uhud, Mush'ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian ia membentuk barisan tentara dengan dirinya sendiri.Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush'ab hingga putus, sementara Mush'ab meneriakkan, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul. Maka Mush'ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush'ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul."  Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!" Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, "Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah." Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, "Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!"

C. BENDERA (KALIMAT) TAUHID DALAM SEJARAH KETATANEGARAAN DI NUSANTARA

1. Penggunaan Bendera Tauhid Sebagai PANJI KERAJAAN ISLAM
Ada banyak bukti yang secara historis membuktikan bahwa Panji berupa bendera tauhid bukanlah barang yang asing bagi masyarakat Indonesia. Pemakaian itu terjadi baik pada masa kerajaan dahulu hingga zaman menjelang dan sesudah kemerdekaan. Berikut ini adalah beberapa bukti tersebut:

(1) Konon, lambang kerajaan Samudra Pasai ini dirancang oleh Sultan Zainal Abidin yang kemudian disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahasi. Hanya saja, pada setiap bagiannya dari kepala, sayap, hingga kaki dipenuhi tulisan-tulisan arab. Tulisan tersebut berisikan kalimat basmallah dan kalimat tauhid.

(2) Kesultanan Cirebon juga memiliki bendera dengan kalimat tauhid di dalamnya. Bendera Macan Ali namanya. Pada bendera kasultanan Cirebon tersebut mempuat sejumlah kalimat seperti basmalah, surat Al Ikhlas, hingga kaimat tauhid yang membentuk seperti macan.

(3) Sementara kesultanan Tidore juga memiliki bendera dengan kalimat tauhid di dalamnya. Bendera kasultanan Tidore pada 1890 tersebut berwarna kuning dengan tulisan kalimat tauhid di bagian atas berwarna merah.

(4) Hal yang sama juga digunakan di kesultanan Inderapura di Sumatra Barat. Pada lambang kesultanan ini juga memuat kalimat tauhid di dalamnya. Kesultanan ini mempunyai lambang lingkaran bertuliskan kalimat syahadat yang diapit oleh dua singa dan naga pada tiap sisinya. Selain itu mempunyai mahkota bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad. Kesultanan yang berada di pesisir selatan Sumatra Barat itu telah berdiri pada 1347.

(5) Bendera dengan kalimat tauhid juga dimiliki oleh laskar Hizbullah yang kemudian membentuk TNI. Tak hanya dalam bentuk bendera, pada atribut laskar hizbullah lainnya seperti emblem atau pin juga menyertakan kalimat tauhid.

(6) Foto bendera dengan kalimat tersebut misalnya menjadi salah satu bendera yang dipakai Kesultanan Aceh. Pemakaian kalimat tauhid menandakan betapa pentingnya kalimat tauhid dalam sejarah bangsa kita. Heroism dalam perlawanan jihad fi sabilillah rakyat Aceh tentu bagian penting dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.

(7) Tak hanya laskar Hizbullah, Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Samanhudi juga menggunakan lambang yang memuat kalimat tauhid di dalamnya. Pada lambang organisasi yang dibentuk 1905 itu membuat kalimat tauhid pada bagian bulan sabitnya.

2. UU Bendera, Bahasa dan Lambang Negara No. 24 Tahun 2009.

Bila kita telusuri dalam sistem peraturan perundang-undangan, kita menemukan beberapa ketentuan yang terkait secara tidak langsung bahwa dari sisi ketatanegaraan RI adanya suatu PANJI yang dimiliki oleh organisasi tertentu telah mendapat legitimasi, yakni dampat berdampingan dengan BENDERA MERAH PUTIH dengan beberapa ketentuan sebagai berikut:

Pasal 21
(1) Dalam hal Bendera Negara dipasang bersama dengan bendera atau panji organisasi, Bendera Negara ditempatkan dengan ketentuan:
a. apabila ada sebuah bendera atau panji organisasi, Bendera Negara dipasang di sebelah kanan;
b. apabila ada dua atau lebih bendera atau panji organisasi dipasang dalam satu baris,Bendera Negara ditempatkan di depan baris bendera atau panji organisasi di posisi tengah;
c. apabila Bendera Negara dibawa dengan tiang bersama dengan bendera atau panji organisasi dalam pawai atau defile, Bendera Negara dibawa di depan rombongan; dan
d. Bendera Negara tidak dipasang bersilang dengan bendera atau panji organisasi.

(2) Bendera Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat lebih besar dan dipasang lebihtinggi daripada bendera atau panji organisasi.

Larangan terkait terhadap perlakuan terhadap bendera dijelaskan dalam Pasal 57 di UU Nomor 24 Tahun 2009 dari huruf a sampai d. Berikut ini bunyi dari pasal:

Pasal 57
Setiap orang dilarang:
a. mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara;
b. menggunakan Lambang Negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk, warna, dan perbandingan ukuran;
c. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara; dan
d. menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Pasal 66
Setiap orang yang merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.

3. UU Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) No. 16 Tahun 2017.

Terkait dengan bendera untuk ormas, di UU No. 16 Tahun 2017 ditemukan beberapa ketentuan sebagai berikut:

Pasal 59
(1) Ormas dilarang:
a. menggunakan nama, lambang, bendera, atau atribut yang sama dengan nama, lambang, bendera, atau atribut lembaga pemerintahan;
b. menggunakan dengan tanpa izin nama, lambang, bendera negara lain atau lembaga/ badan internasional menjadi nama, lambang, atau bendera Ormas; dan/atau
c. menggunakan nama, lambang, bendera, atau tanda gambar yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama, lambang, bendera, atau tanda gambar Ormas lain atau partai politik.
(2) Ormas dilarang:
a. menerima dari atau memberikan kepada pihak manapun sumbangan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan / atau
b. mengumpulkan dana untuk partai politik.

(3) Ormas dilarang:

a. melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan;
b. melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia;
c. melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; dan/atau
d. melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4) Ormas dilarang:
a. menggunakan nama, lambang, bendera, atau simbol organisasi yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama, lambang, bendera, atau simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang;
b. melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan/atau
c. menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila.

Revisi ayat di pasal 59 ini berpengaruh pada sanksi yang dikenakan terhadap ormas yang melanggar.

4. UU Organisasi Politik (Orpol): UU No. 2 Tahun 2008

BAB XVI

LARANGAN

Pasal 40
(1) Partai Politik dilarang menggunakan nama, lambang, atau tanda gambar yang sama dengan:
1. bendera atau lambang negara Republik Indonesia;
2. lambang lembaga negara atau lambang Pemerintah;
3. nama, bendera, lambang negara lain atau lembaga/badan internasional;
4. nama, bendera, simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang;
5. nama atau gambar seseorang; atau
6. yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama, lambang, atau tanda gambar Partai Politik lain.

(2) Partai Politik dilarang:
1. melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan;
2. atau melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(3) Partai Politik dilarang:
1. menerima dari atau memberikan kepada pihak asing sumbangan dalam bentuk apa pun yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;

2. menerima sumbangan berupa uang, barang, ataupun jasa dari pihak mana pun tanpa mencantumkan identitas yang jelas;
3. menerima sumbangan dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha melebihi batas yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;
4. meminta atau menerima dana dari badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan badan usaha milik desa atau dengan sebutan lainnya;atau
5. menggunakan fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sebagai sumber pendanaan Partai Politik.

D. BENDERA (KALIMAT) TAUHID SEBAGAI SIMBOL PERSATUAN UMAT

Suatu komunitas apalagi suatu bangsa memiliki cara untuk menunjukkan bahwa mereka, para anggotanya berhimpun menjadi satu dan memiliki persamaan pendapat (ijtima’ kalimatihim) dan juga persatuan hati mereka (ittihadi qulubihim). Tanda untuk semua itu adalah PANJI dalam bentuk BENDERA. Inilah makna tersembunyi dari balik suatu bendera.

Insiden pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di Garut mulai menimbulkan riak-riak di masyarakat. Atas hal itu, berbagai tokoh dan ormas Islam meminta umat Islam Indonesia menahan diri dari tindakan-tindakan yang justru bisa memecah persatuan. MUI (Majelis Ulama Indonesia) memohon kepada seluruh pihak untuk dapat menahan diri, tidak terpancing, dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu agar ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan di kalangan umat serta bangsa tetap terjaga dan terpelihara. (Pelaksana Tugas Ketua Umum MUI Zainut Tauhid saat menyampaikan konferensi pers di kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (23/10/18)).

Kepolisian melansir, insiden pembakaran bendera tersebut terjadi saat perayaan Hari Santri Nasional di Alun-Alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, pada Senin (22/10/18) pagi. Sejumlah anggota Barisan Serbaguna Anshor Nahdlatul Ulama (Banser NU) melakukan pembakaran dengan dalih bendera hitam bertuliskan Lailahailallah Muhammadur Rasulullah dalam kaligrafi Arab tersebut merupakan bendera ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dibubarkan pemerintah tahun lalu.

MUI mendorong dan mengimbau seluruh pihak untuk menyerahkan masalah ini kepada aparat hukum. Selain itu, MUI meminta kepada pihak kepolisian untuk bertindak cepat, adil, dan profesional. Para pimpinan ormas Islam, para ulama, kiai, ustaz, dan ajengan juga diminta ikut membantu mendinginkan suasana dan menciptakan kondisi yang lebih kondusif sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Syahdan Polisi mengamankan tiga orang terkait kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut. Polisi menyelidiki ada-tidaknya dugaan tindak pidana terkait peristiwa. F dan M, pembakar bendera berkalimat tauhid yang disebut polisi bendera HTI telah disidang. Keduanya dikenai tindak pidana ringan (Tipiring). Majelis hakim menjatuhkan hukuman 10 hari penjara dan denda Rp 2 ribu. Meski menyayangkan vonis 10 hari kepada F dan M, umat Islam tetap menghormati putusan tersebut. Umat Islam taat hukum kalau pengadilan sudah memutuskan kami terima. Oleh karena TIPIRING tidak ada peluang untuk mengangkat kembali secara hukum kita lakukan secara hukum.

Terkait polemik bendera, perlu disebutkan bahwa kini tak ada larangan dari pemerintah jika ada pihak yang mengibarkan bendera berkalimat tauhid. Yang tidak boleh jika bendera ada logo Hizbut Tahrir Indonesia--ormas yang sudah dibubarkan oleh pemerintah. Bagaimana kita akan menggunakan dan memaknai bendera tauhid, sangat tergantung dengan literasi yang telah kita kuasai. Umat Islam Indonesia merupakan komunitas yang berpotensi untuk memperbaiki dan menyokong peradaban yang hendak dibangkitkan kembali untuk rahmatan lil ‘alamiin. Cepat atau lambat!

Baru-baru ini polemik tentang bendera tauhid mencuat kembali menyusul adanya taruna Akmil yang diduga terpapar radikalisme atau terlibat dengan organisasi yang oleh pemerintah dinilai radikal, yakni HTI. Adalah seorang taruna akmil yang bernama Enzo Zenz Allie yang sempat menggegerkan jagat para punggawa NKRI hingga rakyat biasa di negeri +62 ini. Hal ini diduga terjadi sebagai akibat adanya perasaan alergi terhadap bendera tauhid yang nota bene nya adalah bendera umat Islam.

Sebagaimana kita ketahui, ormas HTI yang dinilai radikal oleh pemerintah telah dicabut badan hukumnya pada tahun 2017. Dalam kegiatannya, HTI menggunakan simbol organisasi yg mirip dengan bendera tauhid dg tambahan tulisan Hizbut Tahrir Indonesia. Ternyata penyematan radikal itu tdk hanya pada organisasinya tetapi juga pada simbol yg digunakan tersebut. Meskipun ada bendera tauhid tanpa tulisan HTI, "panji" itu oleh sebagian orang yg "minim" literasi tetap dianggap simbol yg radikal. Bahkan orang yang menyandangnya dikatakan terpapar radikalisme sehingga dipersekusi dengan berbagai dalih dan cara.

Pertanyaannya adalah apakah dengan menyandang bendera Tauhid ini lalu seseorang akan dikatakan TERPAPAR RADIKALISME atau setidaknya dia patut dipersoalkan karena terkait dengan radikalisme atau organisasi radikal? Atas dasar ini ada pihak yang menilai bahwa TNI telah kecolongan karena menerima Enzo Zenz Allie sbg taruna Akmil karena Enzo dituduh terpapar radikalisme dgn bukti postingan di FB ketika menyandang bendera tauhid. Hal ini akhirnya menimbulkan polemik menyusul pernyataan Prof Mahfud terkait dengan masukknya Enzo Zenz Allie yang dituduh terpapar radikalisme diterima sbg taruna Akmil. Namun, pada akhirnya Prof Mahfud membantah tuduhan bahwa mempersoalkan bendera tauhid terkait dengan radikalisme atau organisasi radikal.

Prof Mahfud MD merasa yakin tidak pernah mempermasalahkan Bendera Tauhid. Bahkan barang siapa yang bisa membuktikan bahwa beliau mempermasalahkan Bendera Tauhid terkait dengan Radikalisme dan organisasi radikal akan diberi hadiah 10 Juta Rupiah.

Pawarta tentang sayembara ini setidaknya dimuat pada Inisiatifnews. Tantangan Mahfud MD ini disampaikan setelah sejumlah portal berita online memberitakan pernyataannya soal Enzo Zens Allie. Jika saya berdalih pada pendapat Prof Mahfud, seharusnya dengan Saya menyandang Bendera Tauhid tersebut TIDAK BOLEH DIKATAKAN bahwa PROF SUTEKI telah terbukti TERPAPAR RADIKALISME. Begitu kan logika berpikir yang benar?

E. PENUTUP

Islam tidak akan menjadi Rahmatan lil 'alamiin jika umat Islam sendiri alergi bahkan menolak terhadap ajaran Islam dan simbol-simbol, termasuk di dalamnya adalah BENDERA TAUHID. Bukti bahwa kita tidak alergi dan menolak ajaran serta simbol agama tidak perlu membuka sayembara dengan taruhan hadiah uang sejumlah tertentu melainkan cukup dengan menjalankan ajarannya serta berani mengunakan panji-panjinya tanpa rasa takut dan khawatir.

Tabik...!
Semarang, 15 Agustus 2019
Katana Suteki

APA ITU KHILAFAH ?

Oleh : Nasrudin Joha

Ya, hari ini mungkin banyak yang sudah tidak asing dengan istilah Khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menerapkan syariat Islam dan mengemban misi dakwah Islam ke seluruh penjuru alam.

Ingat ! Khilafah ya? Bukan Khilafiyah, Khofifah, bukan pula khazanah.

Khilafah akhir-akhir ini menjadi satu istilah yang menghebohkan. Sebagiannya menganggap ancaman serius. Wajar saja, ketika Khilafah tegak memang hukum syariat yang diterapkan akan menjadi ancaman serius para penjajah kafir dan antek-anteknya.

*Pertama
Khilafah akan menjadi ancaman serius bagi Freeport, Newmont, Chevron, Conoco, Philips, Bumi Resources, Toba Energy, dan seluruh perusahaan tambang lainnya, baik asing maupun domestik. Kenapa? Karena begitu Khilafah tegak, sistem Islam ditegakkan, maka semua harta milik umum yang masuk kategori "Milkiyatul Ammah" seperti tambang, hutan, laut, harta-harta yang pada asalnya tidak boleh dimiliki oleh individu, semuanya akan diambil alih oleh Negara Khilafah.

Otomatis, berdasarkan syariah untuk mengambil alih tambang tersebut tidak dibutuhkan skema divestasi, tidak butuh kompromi untuk menghentikan kontrak karya, semua tambang secara sekaligus, serta merta dan seketika diambil alih kepemilikannya oleh negara Khilafah, tanpa kompensasi.

Khilafah hanya mempertimbangkan untuk menilai (aprasial) berapa investasi alat dan teknologi yang telah dibenamkan pada pertambangan, itupun bisa dikompensasikan dengan nilai penambangan yang selama ini sudah dilakukan. Jika tidak bersedia, perusahaan penambang dipersilakan angkat Kaki dan membawa seluruh alat dan mesin tambangnya.

*Kedua
Khilafah akan menjadi ancaman serius industri perbankan, baik bank umum maupun bank swasta. Keharaman riba, telah menjadi dasar bagi negara Khilafah untuk menghilangkan riba dan melarang transaksi ribawi di daulah Khilafah.

Semua gedung perkantoran jawatan perbankan negara, ditutup dan dialih fungsikan menjadi struktur Baitul Mal. Baitul Mal adalah sistem perbendaharaan keuangan Khilafah yang akan melayani kebutuhan anggaran negara dan pelayanannya kepada umat.

Beberapa fasilitas non ribawi yang ada pada perbankan diadopsi oleh Baitul Mal sebaga bentuk pelayanan negara kepada umat. Jadi, masih ada fasilitas menabung, transfer, kirim uang, tarik uang, dan yang semisalnya. Sementara seluruh konpensasi, baik karena menabung atau mengajukan kredit, berupa bunga-bunga perbankan dihapuskan.

Terbayang siapa ysng paling dirugikan ? Ya, sindikat perbankan yang dikuasai para bankir Yahudi.

*Ketiga
Khilafah akan menjadi ancaman serius bagi kapitalisme global dan sosialisme internasional. Sebab, Khilafah hanya akan menerapkan hukum Quran Sunnah, yang meniscayakan proteksi negara dari serangan pemikiran, budaya, sistem hukum dan politik dari asing yang memasuki negara Khilafah.

Ini ancaman serius bagi kapitalisme global. Mereka akan kehilangan akses sumber daya, pasar, dan kader-kader untuk melanggengkan penjajahan. Yang dimaksud kader ini adalah jongos kekuasaan, bisa yang ada di pemerintahan maupun di bidang lainnya.

*Keempat
ancaman serius bagi penguasa antek. Sebab, tanpa demokrasi sekuler yang diwariskan penjajah niscaya penguasa antek ini tidak mungkin duduk di kursi kekuasaan. Mereka hanya mampu berkuasa dengan persetujuan tuannya para kafir penjajah, atas manipulasi sistem demokrasi ysng diterapkan di negeri ini.

Jadi para penguasa antek yang saat ini menjalankan misi penjajahan asing aseng, adalah pihak yang sangat terancam atas tegaknya Khilafah.

Sementara empat poin saja pihak yang saya sebutkan terancam. Lantas, siapa saja sebenarnya pihak yang paling diuntungkan dengan tegaknya Khilafah ?

Pertama, seluruh umat akan diuntungkan karena semua harta kekayaan umat ysng masuk kategori milik umum seperti tambang, hutan, dan yang semisalnya dikelola oleh Khilafah. Kekayaan ysng super besar ini dijadikan modal bagi Khilafah untuk melayani kepentingan umat.

Pelayanan Khilafah juga tidak khusus diberikan kepada warga negara yang bergaya Islam, tetapi juga kepada ahludz dzimah (non muslim). Semua warga negara Khilafah, baik muslim maupun non muslim mendapat layanan dari Khilafah. Yang non muslim ikut Happy.

Tiga layanan utama yang akan diberikan Khilafah kepada warga negaranya tanpa memandang status agama, yang wajib diselenggarakan Khilafah yakni :
1. sandang pangan papan,
2. pendidikan dan Kesehatan.
3. Keamanan.

Keamanan yang ditanggung negara, menjadikan engkoh dan encik tidak perlu lagi sewa satpam untuk mengamankan dagangannya. Khilafah lah yang akan memberi pengamanan, perlindungan, pengayoman kepada seluruh warga negaranya.

Dengan harta Milkiyatul amanah, rakyat tidak perlu dipungut pajak. Bahkan, negara Khilafah mengharamkan pajak bagi setiap warga negaranya. Bayangkan, kita tidak perlu ribet lagi SPT pajak. Bisnisnya juga lebih untung, karena tidak ada yang memalak.

Kedua, seluruh kaum muslimin akan diuntungkan dengan adanya ridlo dan berkah ekonomi. Karena riba dihilangkan oleh negara Khilafah, seluruh muamalat (transaksi) ekonomi dibangun berdasarkan akad sy'ari. Akan bermunculan syairkah-syirkah Islami balik mudlorobah, Inan, abdan, dan yang semisalnya.

Dengan taatnya negara dan rakyat pada hukum Allah, maka Bumi dan langit akan mengeluarkan perbendaharaan harta yang melimpah. Sungguh, akan benar-benar terjadi semua orang tercukupi kebutuhannya, sehingga sampai-sampai kelak orang kesulitan untuk menyalurkan harta zakat.

Ketiga, seluruh rakyat dan umat benar-benar akan menjadi hamba yang taat sempurna. Bayangkan, bagaimana jika seluruh rakyat diperintah taat dengan teladan seorang Khalifah yang taat.  Seluruh kaum muslimin merasa Qonaah dalam ibadah, karena urusan kehidupannya selain telah diupayakan secara pribadi, negara Khilafah juga hadir untuk mencukupi.

Hari ini, umat terbelenggu kesyirikan. Negara diam. Umat terhimpit kelaparan, negara diam. Umat menderita sakit, negara diam.

Negara Khilafah, prinsipnya benar-benar akan memakmurkan bumi dan membebaskan penduduk bumi dari penghambaan kepada selain Allah SWT dan hanya menghamba, menyembah kepada Allah semata.

Jadi tergambar, betapa Khilafah itu bukanlah visi politik sesaat yang ecek-ecek. Jadi wajar, membutuhkan waktu dan kesabaran, juga wajar mendapat penentangan dan hambatan. [].

*MENGIBARKAN BENDERA TAUHID, BUKAN PERBUATAN MELANGGAR HUKUM*

Oleh, *Chandra Purna Irawan, S.H.,M.H.* _*(Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI dan sekjen LBH PELITA UMAT)*_

_"Di media sosial, beredar foto siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) mengibarkan bendera bertuliskan tauhid di sekolah. Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, melakukan investigasi"_

Sumber: http://detik.id/6Bsb6F

Menanggapi hal tersebut diatas saya akan memberikan pendapat hukum (legal opini) sebagai berikut:

Pertama, bahwa tidak ada putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan atau produk hukum lainnya yang melarang mencetak, mengedarkan dan mengibarkan bendera tauhid berlafadz kan "laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah ";

Kedua, bahwa tindakan mencetak, mengedarkan dan mengibarkan bendera tauhid berlafadz kan "laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah" bukan perbuatan melanggar hukum dan/atau tidak ada delik pidana atas hal tersebut;

Ketiga, bahwa terkait tindakan Menag atas dasar apa dan untuk apa melakukan investigasi terhadap siswa yang mengibarkan bendera tauhid? dan/atau patut diduga ada motif dan kepentingan politik tertentu? Hal ini lah yang harus diklarifikasi oleh Menag agar tindakan Menang tidak dinilai oleh masyarakat sebagai anti Islam dan tidak merugikan simbol Islam;

Keempat, bahwa semestinya Menag melindungi dan menjamin ajaran, dakwah Islam dan simbol-simbol Islam dari upaya potensi dugaan kriminalisasi;

Kelima, bahwa bagi setiap orang yang berusaha melakukan tindakan perampasan dan penyitaan terhadap Bendera Tauhid milik orang lain tanpa hak, maka terancam pidana 9 (sembilan) tahun penjara sebagaimana pasal 368 KUHP dan termasuk tindakan persekusi terhadap orang yang mengibarkan bendera tauhid adalah perbuatan melanggar hukum;

Keenam, bahwa bagi masyarakat yang dipanggil dan/atau diperiksa terkait pengibaran bendera tauhid, masyarakat tidak perlu takut karena *mengibarkan bendera tauhid BUKAN PERBUATAN PIDANA.*

Demikian pernyataan saya sampaikan.

Wallahu alam bishawab

IG/Telegram @chandrapurnairawan

HIDUP DI BUMI MILIK ALLAH, WAJIB TUNDUK DENGAN HUKUM ALLAH

HIDUP DI BUMI MILIK ALLAH, WAJIB TUNDUK DENGAN HUKUM ALLAH 

Oleh : KH.  Rokhmat S.  Labib

Inilah di antara kesadaran yang wajib kita miliki. Bahwa kerajaan langit dan  bumi adalah milik Allah Swt. Dialah yang menciptakan kita dan menempatkan kita tinggal di bumi milik-Nya. Lalu atas dasar kita berani membangkang kepada-Nya, menolak syariah-Nya, dan mencampakkan hukum-Nya?

Namun sayangnya, sikap pembangkangan inilah yang justru ditampakkan oleh sebagian manusia. Lebih aneh lagi, itu juga dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt dan rasul-Nya.

Coba perhatikan firman Allah Swt:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS al-Maidah [5]: 38).

Ayat ini dengan tegas menyampaikan ketentuan sanksi hukum kepada pelaku pencurian. Bahwa hukuman kepada mereka adalah potong tangan.

Ini diperkuat dan diperjelas dengan Hadits. Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
« تُقْطَعُ الْيَدُ فِى رُبُعِ دِينَارٍ فَصَاعِدًا »
Tangan pencuri dipotong karena mencuri seperempat dinar (atau sesuatu yang senilai) (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw juga mempraktikkan ketentuan sanksi ini. Dalam Hadits riwayat Imam Muslim diceritakan ada seorang wanita dari Bani Makhzum yang mencuri. Lalu mereka berkata,  "Siapakah yang berani meminta grasi kepada Rasulullah saw untuknya?" Mereka menjawab, 'Tiada yang berani meminta grasi kepada Rasulullah saw kecuali Usamah ibnu Zaid.”, orang kesayangan Rasulullah Saw." Kemudian wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah Saw., lalu Usamah berbicara kepada Rasulullah Saw., meminta grasi untuk wanita itu. Maka Wajah rasulullah berubah memerah. Lalu bersabda : Apakah kamu berani meminta grasi menyangkut suatu hukuman had yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. ? Maka Usamah ibnu Zaid berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampun kepada Allah untukku." Kemudian pada sore harinya Rasulullah Saw. berdiri dan berkhot¬bah. Pada mulanya beliau membuka khotbahnya dengan pujian kepada Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda:
« أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا »
Amma Ba'du. Sesungguhnya telah binasa orang-orang (umat-umat) sebelum kalian hanyalah karena bilamana ada seseorang yang terhormat dari kalangan mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Dan bilamana ada seorang yang lemah (orang kecil) dari kalangan mereka mencuri, maka mereka menegakkan hukuman had terhadapnya. Dan sesungguhnya aku sekarang, demi Tuhan Yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan¬nya, seandainya Fatimah binti Muhammad (yakni putrinya) mencuri, niscaya aku potong tangannya. Kemudian wanita yang telah mencuri itu diperintahkan untuk dijatuhi hukuman, lalu tangannya dipotong. Siti Aisyah mengatakan bahwa sesudah itu wanita tersebut melakukan tobatnya dengan baik dan menikah; lalu dia datang dan melaporkan mengenai kemiskinan yang dialaminya kepada Rasulullah Saw.

Tidak ada perbedaan pendapat tentang wajibnya memotong tangan pencuri,

Setelah menjelaskan tentang menjelaskan ketentuan sanksi hukum bagi pelaku pencurian, kemudian dalam selanjutnya Allah Swt berfriman:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS al-Maidah [5]: 40).

Ayat ini seolah menegaskan, itulah hukum Allah Swt yang wajib diberlakukan oleh manusia di muka bumi. Tidak boleh ditolak, apalagi diingkari dan dicampakkan. Sebab, Dialah Sang Pemilik kerajaan langit dan bumi. Dialah Pemilik otoritas satu-satunya dalam membuat hukum, dan sudah selayaknya seluruh penduduk di kerajaan-Nya, termasuk manusia yang tinggal di bumi milik-Nya, wajib tunduk dan patuh.

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Dialah Sang Pemilik semuanya itu; menjadi Penguasa dan penentu hukum di dalamnya, tidak ada seorang pun yang dapat menentang hukum-Nya, dan Dialah yang Maha Melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya.”

Syekh Abdurrahman al-Sa’di juga berkata, “Hal itu karena Alalh Swt adalah Pemilik kerajaan langit dan bumi. Dia berkuasa melakukan apa pun di dalamnya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya: menentukan takdir dan menetapkan hukum-hukum syar’i, mengampuni dan mengazab sesuai dengan hikmah, rahmat, dan ampunan-Nya yang luas.”

Jelaslah. Tak ada alasan menolak bagi manusia untuk menolak hukum dan syariah-Nya. Selama kita tinggal di bumi-Nya, wajib bagi kita tunduk dan patuh kepada hukum-Nya. WaL-lah a’lam bi al-shawab.

JANGAN TAKUT MENDAKWAHKAN KHILAFAH

JANGAN TAKUT MENDAKWAHKAN KHILAFAH, DIJAMIN OLEH HUKUM & KONSTITUSI.

Oleh, *Chandra Purna Irawan,SH.,MH* _*(Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI & Sekertaris Jenderal LBH PELITA UMAT)*_

"Wiranto menegaskan anggota HTI tidak boleh menyebarkan paham khilafah atau ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Wiranto menegaskan larangan ini juga berlaku bagi ormas lainnya."

Sumber: http://detik.id/Vn0MRP

Menanggapi hal tersebut diatas saya akan memberikan pendapat hukum (legal opini) sebagai berikut:

Pertama, bahwa ajaran Islam Khilafah tidak pernah dinyatakan sebagai paham terlarang baik dalam surat keputusan tata usaha negara, putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan atau produk hukum lainnya sebagaimana paham komunisme, marxisme/leninisme dan atheisme, yang merupakan ajaran PKI melalui TAP MPRS NO. XXV/1966. Artinya, sebagai ajaran Islam Khilafah tetap sah dan legal untuk didakwahkan ditengah-tengah umat. Mendakwahkan ajaran Islam Khilafah termasuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan agama Islam, dimana hal ini dijamin konstitusi.

Kedua, bahwa mengutip pendapat Prof. Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa kegiatan yang dihentikan oleh SK Menteri dan Putusan Pengadilan TUN adalah kegiatan HTI sebagai lembaga (kegiatan Perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia), bukan penghentian kegiatan dakwah individu anggota dan/atau pengurus HTI. (Senin, 4/6/2018: http://detik.id/67AYOw).

Ketiga, bahwa Islam adalah agama yang diakui dan konstitusi memberikan jaminan untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya berdasarkan Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Oleh karena itu siapapun yang menyudutkan ajaran Islam, termasuk Khilafah maka menurut saya dapat dikategorikan tindak pidana penistaan agama.

Keempat, bahwa khilafah itu ajaran Islam dan milik umat Islam, bukan ajaran individu dan/atau ormas tertentu. Karenanya umat Islam wajib membela ajaran agamanya apabila dikriminalisasi.

Kelima, bahwa saya menyeru kepada segenap umat Islam tidak perlu takut untuk terus mendakwahkan ajaran Islam termasuk syariah dan khilafah.

Wallahualambishawab

IG/Telegram @chandrapurnairawan

HTI Tidak Dibubarkan dan Khilafah Bukan Ajaran Terlarang

*LBH Pelita Umat: HTI Tidak Dibubarkan dan Khilafah Bukan Ajaran Terlarang*

Mediaumat.news - Meski berulang dijelaskan, masih saja ada yang menyatakan bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan dan Khilafah dianggap sebagai ajaran terlarang.

“Penulis telah mengurai argumentasi hukum secara gamblang bahwa HTI tidak dibubarkan, bukan ormas terlarang dan tidak ada satupun amar putusan pengadilan yang menyatakan khilafah sebagai ajaran terlarang,” ujar Ketua LBH Pelita Umat Ahmad Khozinudin dalam rilis yang diterima Mediaumat.news, Senin (15/10/2018).

Ahmad menjelaskan konstruksi kesimpulan hukum ini dibangun berdasarkan beberapa argumen. Pertama, tidak ada satu pun amar putusan pengadilan baik di tingkat pertama (PTUN Jakarta) atau di tingkat Banding (PTTUN) yang memuat redaksi HTI dibubarkan, HTI ormas terlarang, atau bahkan ajaran khilafah disebut sebagai paham terlarang.

Kedua, putusan hukum yang diberlakukan terhadap HTI adalah putusan administrasi berdasarkan beshicking yang dikeluarkan oleh pejabat TUN. Selayaknya putusan administasi, putusan TUN dibatasi pada substansi perintah ataupun pernyataan yang sifatnya administrasi.

“Penegasan tentang dibubarkannya suatu ormas atau menyatakannya sebagai organisasi terlarang, adalah serangkaian tindakan mencabut hak konstitusional warga negara yang telah dijamin konstitusi. Tindakan ini, bukan dan tidak termasuk kewenangan peradilan administrasi, tetapi menjadi substansi perkara yang menjadi wewenang peradilan umum.” Jelasnya.

Ketiga, dalam UU ormas asli maupun pasca perubahan melalui Perppu Ormas No. 2 tahun 2017, pengaturan jenis dan klasifikasi ormas diberi kebebasan memilih untuk menjadi ormas berbadan hukum atau tidak berbadan hukum.

Ormas yang berbadan hukum baik berbentuk perkumpulan atau yayasan berada di bawah naungan Kemenkumham. Sedangkan ormas yang tidak berbadan hukum, baik terdaftar maupun tidak terdaftar berada di bawah naungan Kemendagri.

Karena itu, pencabutan SK Badan Hukum Perkumpulan (BHP)  HTI tidak otomatis mencabut hak konstitusi HTI untuk tetap eksis dan melaksanakan aktivitas berkumpul, berserikat dan menyatakan pendapat, sebagai sebuah ormas yang tidak berbadan hukum (karena BHP telah dicabut). Hanya saja, HTI memang kehilangan hak administrasi berupa keseluruhan hak dan wewenang terkait status ormas berbadan hukum perkumpulan.

Keempat, khilafah adalah ajaran Islam. Ketika negara melarang ajaran Islam, sama saja negara telah melanggar konstitusi berupa kebebasan beragama serta beribadat sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianut. Berdakwah dan menyampaikan ajaran Islam khilafah, adalah bagian dari ibadat penting umat Islam sebagai, termasuk dakwah amar makruf nahi munkar.

“Lagipula, hingga saat ini tidak ada satu pun amar putusan juga produk hukum lain di luar putusan pengadilan administrasi yang menyebut khilafah sebagai paham atau ajaran terlarang. Khilafah adalah bagian dari Islam, sah dan legal untuk terus didiskusikan sebagai bagian dari penunaian kewajiban dakwah Islam,” pungkasnya.[] Joko Prasetyo

LINK:
https://mediaumat.news/lbh-pelita-umat-hti-tidak-dibubarkan-dan-khilafah-bukan-ajaran-terlarang/

*Raih amal kebaikan dengan membagi tautan berikut:*
Web: https://mediaumat.news
FB: https://www.facebook.com/Tabloid.MU/
Twitter: https://twitter.com/MediaUmat
Instagram: https://www.instagram.com/mediaumat.news/
Youtube: http://bit.ly/YTMediaumat

Selasa, 17 Desember 2019

MAKNA HADIST SETIAP 100 TAHUN AKAN MUNCUL MUJADID (PEMBARU)

MAKNA HADIST SETIAP 100 TAHUN AKAN MUNCUL MUJADID (PEMBARU)

Ditanyakan kepada Syaikh al-Ushul 'Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah.

Ada sebuah hadis dari Rasulullah saw.
«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
"Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka." (HR Abu Dawud)

Pertanyaannya adalah: apa makna hadits tersebut? Apakah kata “man“ di dalam hadits tersebut memberi makna bahwa mujadid itu bisa seorang individu ataukah berupa jamaah? Dan apakah mungkin membatasi mereka pada abad ke-7 H?

***

Hadis tersebut adalah hadis sahih dan dari sana bisa muncul beberapa pertanyaan:

- Dari tahun mana dimulai abad itu? Apakah dari kelahiran Rasul saw, atau dari tahun beliau diutus, atau dari hijrah, atau dari wafat beliau saw?
- Apakah “ra’s kulli mi`ah“ berarti awal setiap seratus tahun (awal setiap satu abad), atau sepanjang tiap satu abad, atau pada akhir tiap satu abad?
- Apakah kata “man“ berarti satu orang, atau berarti jamaah yang memperbarui untuk manusia agama mereka?
- Apakah ada riwayat yang memiliki sudut pandang shahih tentang hitungan orang-orang mujadid selama abad-abad lalu?
- Apakah mungkin kita mengetahui pada abad ke empat belas yang berakhir pada 30 Dzul Hijjah 1399, siapakah mujadid untuk masyarakat yang memperbaharui agama mereka?

Saya akan mencoba menjawabnya dengan taufik yang diberikan Allah kepada saya.

PERTAMA

Dari tahun berapa dimulai seratus tahun itu?

Al-Munawi di Muqaddimah Fath al-Qadir mengatakan: “diperselisihkan tentang ra’s al-mi`ah apakah dinilai dari kelahiran Nabi saw, tahun beliau diutus, hijrah atau tahun beliau wafat …” Yang rajih menurutku bahwa penilaian tersebut adalah dari hijrah. Hijrah itu adalah peristiwa yang dengannya Islam dan kaum Muslimin menjadi mulia dengan tegaknya daulahnya. Karena itu ketika Umar mengumpulkan para sahabat untuk bersepakat atas awal kalender, mereka bersandar pada hijrah. Imam ath-Thabari mengeluarkan di Târîkh-nya, ia berkata:
“حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الدَّرَاوَرْدِيُّ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، يَقُولُ: جَمَعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ النَّاسَ، فَسَأَلَهُمْ، فَقَالَ: من أي يوم نكتب؟ فقال علي: من يوم هاجر رسول الله صلى الله عليه وسلم، وَتَرَكَ أَرْضَ الشِّرْكِ، فَفَعَلَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hamad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ad-Darawardi dari Utsman bin Ubaidullah bin Abi Rafi’, ia berkata: aku mendegar Sa’id bin al-Musayyib berkata: Umar bin al-Khaththab mengumpulkan orang-orang dan menanyai mereka. Umar berkata: dari hari apa kita tulis?” maka Ali berkata: “dari hari Rasulullah saw hijrah dan beliau meninggalkan bumi kesyirikan”. Maka Umar ra. melakukannya.

Abu Ja’far (ath-Thabari) berkata: mereka –para sahabat- menilai tahun hijriyah pertama dari Muharram tahun itu, yakni dua bulan beberapa hari sebelum Rasulullah saw datang ke Madinah karena Rasulullah saw datang di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal.”

Atas dasar itu, saya merajihkan untuk menghitung tahun-tahun ratusan (abad) berawal dari tahun hijrah yang dijadikan sandaran para sahabat ridhwanullah ‘alayhim.

KEDUA,

Sedangkan ra’s al-mi`ah yang rajih adalah akhirnya (setiap akhir abad). Yakni bahwa mujadid itu ada pada akhir abad; yaitu seorang yang ‘alim, terkenal, bertakwa dan bersih. Dan wafatnya pada akhir abad tersebut dan bukan pada pertengahan atau sepanjang abad tersebut.

Adapun kenapa saya merajihkan hal itu, dikarenakan sebab-sebab berikut:

Ditetapkan dengan riwayat-riwayat shahih bahwa mereka menilai Umar bin Abdul ‘Aziz pada penghujung 100 tahun pertama. Beliau wafat pada tahun 101 H, dan usianya 40 tahun. Dan mereka menilai asy-Syafii pada penghujung 100 tahun kedua dan beliau wafat pada tahun 204 H dan usia beliau 54 tahun.

Dan jika diambil penafsiran “ra’s kulli mi`ah sanah” itu selain ini, yakni ditafsirkan awal abad, maka Umar bin Abdul Aziz bukan mujadid abad pertama, sebab beliau dilahirkan tahun 61 H. Begitu pula asy-Syafi'i bukan mujadid abad kedua sebab beliau dilahirkan tahun 150 H. Ini makna ra’s kulli mi`ah sanah” yang dinyatakan di dalam hadits tersebut, berarti akhir abad dan bukan awalnya.

Maka mujadid itu dilahirkan sepanjang abad itu kemudian menjadi seorang yang ‘alim terkenal dan mujadid pada akhir abad itu dan diwafatkan pada akhir abad itu.

Sedangkan dalil bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah mujadid seratus tahun pertama dan asy-Syafi'i adalah mujadid seratus tahun kedua adalah apa yang sudah terkenal di tengah para ulama dan para imam umat ini.

Az-Zuhri, Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya diantara para imam terdahulu dan yang belakangan, mereka telah sepakat bahwa mujadid abad pertama adalah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah dan pada akhir abad kedua adalah imam asy-Syafi'i rahimahullah.

Umar bin Abdul Aziz diwafatkan pada tahun 101 dan usianya 40 tahun dan masa khilafah beliau selama dua setengah tahun. Dan asy-Syafi'i diwafatkan pada tahun 204 dan usia beliau 54 tahun.

Al-Hafizh Ibn Hajar di at-Tawâliy at-Ta`sîs mengatakan, Abu Bakar al-Bazar berkata, aku mendengar Abdul Malik bin Abdul Humaid al-Maymuni berkata: aku bersama Ahmad bin Hanbal lalu berlangsung mengingat asy-Syafi'i lalu aku lihat Ahmad mengangkatnya dan berkata: diriwayatkan dari Nabi saw beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُقَيِّضُ فِي رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ
"Sesungguhnya Allah membatasi pada penghujung setiap seratus tahun orang yang mengajarkan masyarakat agama mereka."

Ahmad berkata, Umar bin Abdul Aziz pada penghujung abad pertama dan saya berharap asy-Syafi'i pada abad yang lain (kedua).

Dan dari jalur Abu Sa’id al-Firyabi, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata:
إِنَّ اللَّهَ يُقَيِّضُ لِلنَّاسِ فِي كُلِّ رَأْسِ مِائَةٍ مَنْ يُعَلِّمُ الناس السنن وينفي عن النبي الْكَذِبَ فَنَظَرْنَا فَإِذَا فِي رَأْسِ الْمِائَةِ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَفِي رَأْسِ الْمِائَتَيْنِ الشَّافِعِيُّ
"Sesungguhnya Allah membatasi untuk masyarakat pada setiap penghujung seratus tahun orang yang mengajarkan masyarakat sunan dan menafikan kedustaan dari Nabi. Dan kami melihat pada penghujung seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz dan pada penghujung seratus tahun kedua adalah asy-Syafi'i."

Ibn ‘Adi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ali bin al-Husain berkata: Aku mendengar ashhabuna mereka mengatakan, pada seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun kedua Muhammad bin Idris asy-Syafii.

Al-Hakim telah mengeluarkan di Mustadrak-nya dari Abu al-Walid, ia berkata: Aku ada di majelis Abu al-‘Abbas bin Syuraih ketika seorang syaikh (orang tua) berdiri kepadanya memujinya lalu aku mendengar ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir al-Khawlani, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahbin, telah memberitahukan kepada kami Sa’id bin Abi Ayyub dari Syarahil bin Yazid dari Abu ‘Alqamah, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
"Sesungguhnya Allah mengutus pada penghujung setiap seratus tahun orang yang memperbaharui agamanya."

Maka bergembiralah wahai al-Qadhi, sesungguhnya Allah mengutus pada penghujung seratus tahun pertama Umar bin Abdul Aziz, dan Allah mengutus pada penghujung seratus tahun kedua Muhammad bin Idris asy-Syafii …

Al-Hafizh Ibn hajar mengatakan, ini mengindikasikan bahwa hadits itu masyhur pada masa itu.

Mungkin dikatakan bahwa ra’s asy-syay`i secara bahasa artinya awalnya. Lalu bagaimana kita merajihkan bahwa ra’s kulli mi`ah sanah adalah akhirnya dan bukan awalnya?

Jawabnya adalah bahwa ra’s asy-syay`i seperti di dalam bahasa adalah awal sesuatu itu dan demikin juga akhirnya. Ia berkata di Tâj al-‘Arûs: ra’s asy-syay`i adalah ujungnya dan dikatakan akhirnya. Ibn Manzhur berkata di Lisân al-‘Arab: kharaja adh-dhabb murâ`isan: biawak itu keluar dari lubangnya dengan kepala lebih dahulu dan ada kalanya dengan ekornya lebih dahulu. Yakni keluar dengan awal atau akhirnya.

Atas dasar itu ra’s asy-syay`i seperti yang dinyatakan di dalam bahasa, bermakna awalnya, dan bermakna ujungnya baik awalnya atau akhirnya. Dan kita perlu qarinah yang merajihkan makna yang dimaksud di dalam hadits untuk kata ra’s al-mi`ah apakah awalnya ataukah akhirnya.

Dan qarinah-qarinah ini ada di dalam riwayat-riwayat terdahulu yang menilai Umar bin Abdul Aziz adalah mujadid seratus tahun pertama dan beliau diwafatkan pada tahun 101 dan penilaian bahwa asy-Syaifi adalah mujadid seratus tahun kedua dan beliau diwafatkan pada tahun 204. Semua itu merajihkan bahwa makna di dalam hadits tersebut adalah akhir seratus dan bukan awalnya.

Berdasarkan atas semua yang terdahulu itu maka saya merajihkan bahwa makna ra’s kulli mi`ah sanah yang dinyatakan di dalam hadits tersebut adalah akhir setiap seratus tahun.

KETIGA,

Adapun apakah kata “man” berarti satu orang atau jamaah, maka hadits tersebut diriwayatkan “diutus untuk umat ini …orang yang memperbaharui agama umat”.

Seandainya kata “man” menunjukkan pada jamak niscaya fi’ilnya jamak, yakni “man yujaddidûna, akan tetapi fi’il disitu dinyatakan mufrad “yujaddidu”.

Meski bahwa dalalah “man” disitu ada makna jamak juga hingga meskipun setelahnya fi’il mufrad. Namun saya merajihkan bahwa “man” itu disini untuk mufrad dengan qarinah fi’ilnya yaitu yujaddidu.

Dan saya katakan, saya rajihkan, sebab dalalah disini dengan mufrad bukanlah qath’iy hingga meski fi’il setelahnya adalah mufrad. Karena itu, ada orang yang menafsirkan “man” dengan dalalah jamaah dan mereka menghitung riwayat mereka adalah jamaah ulama pada setiap seratus tahun. Akan tetapi, itu adalah pendapat yang lebih lemah seperti yang telah kami sebutkan barusan.

Atas dasar itu, maka yang rajih menurut saya bahwa kata “man” menunjukkan satu orang, yakni bahwa mujadid pada hadits tersebut adalah satu orang ‘alim lagi bertakwa dan bersih.

KEEMPAT,

Adapun hitungan nama-nama para mujadid pada abad-abad lalu, maka ada riwayat-riwayat tentang hal itu dan yang paling terkenal adalah syair as-Suyuthi di mana ia menghitung untuk sembilan abad dan ia memohon kepada Allah agar menjadi mujadid yang kesembilan. Saya nukilkan sebagian syair itu:
“فَكَانَ عِنْدَ الْمِائَةِ الْأُولَى عُمَرْ خَلِيفَةُ الْعَدْلِ بِإِجْمَاعٍ وَقَرْ…
وَالشَّافِعِيُّ كَانَ عِنْدَ الثَّانِيَةِ لِمَا لَهُ مِنَ الْعُلُومِ السَّامِيَةِ…
وَالْخَامِسُ الْحَبْرُ هُوَ الْغَزَالِي وَعَدّهُ مَا فِيهِ مِنْ جِدَالِ…
وَالسَّابِعُ الرَّاقِي إلى المراقي بن دَقِيقِ الْعِيدِ بِاتِّفَاقِ…
وَهَذِهِ تَاسِعَةُ الْمِئِينَ قَدْ أَتَتْ وَلَا يُخْلَفُ مَا الْهَادِي وَعَدْ وَقَدْ رَجَوْتُ أَنَّنِي الْمُجَدِّدُ فِيهَا فَفَضْلُ اللَّهِ لَيْسَ يُجْحَدُ…
"Pada abad pertama Umar bin Abdul Azis yang adil, menurut ijmak yang kokoh …

Dan asy-Syafii pada abad kedua karena ia memiliki ilmu yang tinggi …

Dan kelima adalah al-Habru, dia adalah al-Ghazali dan penghitungan dia di dalamnya ada perdebatan …

Dan ketujuh adalah yang menanjak ke tempat tinggi Ibn Daqiq al-‘Aid menurut kesepakatan …

Dan abad kesembilan ini sudah datang dan tidak ditinggalkan al-hadi yang telah dihitung dan aku sungguh berharap bahwa aku menjadi mujadid di dalamnya dan karunia Allah tidak bisa diperbaharui …"

Ada pendapat-pendapat lain yang terus berlangsung setelah itu.

KELIMA,

Apakah mungkin kita mengetahui pada abad ke-14 yang berakhir pada 30 Dzul Hijjah 1399 H, adakah mujadid yang muncul?

Sangat menarik perhatian saya, apa yang masyhur pada para ulama yang kredibel bahwa penghujung tahun adalah akhirnya. Umar bin Abdul Aziz dilahirkan pada tahun 61 H dan diwafatkan penghujung abad pertama pada tahun 101 H. Asy-Syafii dilahirkan pada tahun 150 H dan diwafatkan pada penghujung abad ke-2 tahun 204 H …

Artinya masing-masing dari keduanya dilahirkan di pertengahan abad dan menjadi terkenal pada akhir abad dan diwafatkan pada akhir abad.

Seperti yang saya katakan, saya merajihkan penafsiran ini dikarenakan sudah terkenal di antara para ulama yang kredibel bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah mujadid pada penghujung abad pertama, dan asy-Syafii adalah mujadid pada penghujung abad kedua.

Berdasarkan hal itu maka saya merajihkan bahwa al-‘Allamah asy-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah adalah mujadid pada penghujung abad ke-14. Beliau dilahirkan pada tahun 1332 H dan menjadi terkenal pada akhir abad ke-14 ini, khususnya ketika beliau mendirikan Hizbut Tahrir pada Jumaduts Tsaniyah tahun 1372 H dan beliau diwafatkan pada tahun 1398 H.

Dakwah beliau kepada kaum Muslimin kepada qadhiyah mashiriyah (agenda utama hidup mati), melanjutkan kehidupan islami dengan tegaknya Khilafah Rasyidah, memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan umat, kesungguhan dan keseriusan mereka, hingga Khilafah hari ini menjadi tuntutan umum milik kaum Muslimin.

Maka semoga Allah merahmati Abu Ibrahim (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani), dan semoga Allah SWT merahmati saudara beliau Abu Yusuf (Syaikh Abdul Qadim Zallum) setelahnya; dan menghimpunkan kedua beliau bersama para nabi, ash-shidiqun, syuhada dan orang-orang shalih dan mereka adalah sebaik-baik teman.

Ini yang saya rajihkan. Wallah a’lam bi ash-shawâb wa huwa subhânahu ‘indahu husnu al-ma`âb.

@agustrisa

MAKNA HADITS HUDZAIFAH TERKAIT FASE KEPEMIMPINAN UMMAT ISLAM

Biamillaahir Rohmaanir Rohiim

Hadits dimaksud adalah :
ﻋﻦ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔُ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ، ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ‏« ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓُ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻼَﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜﺎً ﻋَﺎﺿًّﺎ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜﺎً ﺟَﺒْﺮِﻳَّﺔً ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻼَﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﻧُﺒُﻮَّﺓٍ ‏» . ﺛُﻢَّ ﺳَﻜَﺖَ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ
Dari Hudzaifah ra berkata: “Rasulullah Saw bersabda: “Sedang ada (daulah) nubuwwah pada kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengangkatnya ketika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah, maka tetap ada selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengangkatnya ketika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang menggigit, maka tetap ada selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengangkatnya ketika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang sewenang-wenang, maka tetap ada selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengangkatnya ketika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah”. Kemudian Rasulullah diam”. HR Ahmad.

Alhaitsamy berkata: “HR Ahmad, Albazar dan Aththabrony dalam Al-awsath, dan Rijalnya adalah Tsiqat”. (Aly bin Abu Bakar Alhaitsamy, Majma’uz Zawaaid wa Mamba’ul Fawaaid, Daar arroyaan litturaats, Daar alkitaabil ‘Araabi, Alqahiroh, berut, 1403 H, 5/189).

Hadits ini menjelaskan, bahwa daulah Islam akan datang silih berganti mulai dari yang adil dan yang zalim, kekuasaan yang menggigit dan yang sewenang-wenang, dan bahwa khilafah ‘alaa minhajinn nubuwwah pasti akan datang.

Hadits ini termasuk dalil-dalil nubuwwah dan membenarkan nubuwwah Nabi SAW. Dan bahwa (daulah) nubuwwahnya benar-benar telah terjadi. Kemudian khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah dengan Alkhulafaa’ Arrosyidiinnya yang dimulai dari Abu Bakar ra dan diakhiri dengan Aly ra. Kemudian kepemimpinan Bani Umayyah dengan sistem waritsnya sebagai Mulkan ‘Aadldlan (kekuasaan yang menggigit). Sampai berakhirnya kepemimpinan Bani ‘Utsman (daulah utsmaniyyah) pada tahun 1924 M, dimana mereka semua lebih baik dan lebih bersih daripada sistem pemerintahan republik setelahnya sebagai awal dari Mulkan Jabriyyah (kekuasaan yang sewenang-wenang), yang tanpa dipilih oleh ummat, yang banyak melakukan revolusi guna mengantarkan kepada pemerintahan tanpa pendapat ummat, dengan merampas kehendak rakyat. Itulah para penguasa diktator yang dimulai dari Musthafa kemal Attatruk di Turki, dan terus bertambah di setiap negeri muslim hingga saat ini, dimana kami sedang merasakan dosa-dosanya serta dendam kesumatnya terhadap Islam dan kaum muslimiin.

Pada hadits diatas Rasulullah SAW telah membagi sejarah ummat Islam menjadi LIMA fase kepemimpinan, sebagai berikut:

PERTAMA :
Fase kepemimpinan nubuwwah. Ini telah terjadi semasa hidupnya Nabi SAW. Lalu diangkatnya fase nubuwwah dengan wafatnya Nabi SAW. Fase nubuwwah ini telah berjalan selama dua puluh tiga tahun; tiga belas tahun di Mekah sebagai fase dakwah, pengkaderan dan berinteraksi dengan ummat, termasuk thalabun nushroh; dan sepuluh tahun di Medinah sebagai pase penegakkan daulah nubuwwah dan penerapan sistem-sistem Islam dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Dan fase penyebaran dien Islam ke berbagai penjuru dunia dengan dakwah dan jihad fii sabîlillah SWT.

KEDUA :
Fase khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah. Yaitu fase kepemimpinan Alkhulafaa’ Arrosyidiin. Fase ini dimulai dari dibai’atnya Abu Bakar ra sebagai khalifah, sampai terbunuhnya khalifah Aly ra. Dan para ulama memasukkan masa kepemimpinan Hasan bin Aly ra cucu Rasulullah SAW ke dalam fase ini. Dan fase ini berjalan selama tiga puluh tahun, sebagaimana ditegaskan oleh hadits shahih, bahwa khilafah adalah tiga puluh tahun kemudian setelahnya adalah (kekuasaan seperti) kerajaan.

KETIGA :
Fase Mulkan ‘Aadldlan (kekuasaan yang menggigit). Fase ini terbagi menjadi tiga pendapat sebagai berikut :

1- Pemerintahan yang mengandung kezaliman, meskipun derajat kezalimannya saling berbeda dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang lainnya. Fase ini bermula setelah kepemimpinan Hasan bin Aly ra, dan masuk kedalamnya adalah kepemimpinan Bani Umayyah, Bani Abbas, Mamalik, Bani ‘Utsman di Turki, dll, sehingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah pada awal abad 20 M. Pemerintahan ini mencakup setiap daulah yang silih berganti diatas dunia Islam dengan semua tahapan sejarahnya selama masa tersebut. Dan dikecualikan daripadanya, adalah pemerintahan yang khalifahnya menyerupai Alkhulafaa’ Arrosyidiin, seperti khalifah Abdullah bin Zubair dan Umar bin Abdul Aziz. Maka keduanya terhitung dari para khalifah yang mengurusi urusan ummat di atas manhaj nubuwwah.
(Dr. Sa’ed Abdullah ‘Asyur dan Dr. Nasim Syahdah Yasin, al-khilafah al-Islamiyyah wa imkaniyyatu ‘audatihaa qabla zhuhuri almahdy as, hal. 15).

2- Mulkan ‘Aadldlan/ ‘aadluudl yang terdapat pada hadits adalah kerajaan yang yang pemiliknya berpegang teguh dengannya. Ia disifati dengan ‘aadludl (menggigit) dari kata ‘adldla (menggigit) yang dalam lughat berarti “menahan sesuatu dengan gigi/ al imsak ‘alasysyai-i bil asnaan” (Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al Lughah, 4/48), sebagai jenis penggambaran tanda (kekuasaan yang seperti) kerajaan yang diberi nama ‘aadludl. Pemiliknya, baik perorangan maupun keluarga, berpegang teguh dengan kerajaannya karena kesalehannya, dan menjadikannya sebagai haq bagi dirinya tanpa memberikannya kepada orang lain. Sedang menyifati kerajaan dengan kata ‘adludl, tidak berarti, bahwa raja-rajanya adalah orang-orang yang zalim terhadap rakyatnya dalam mempraktekkan bab-bab hukum pemeritantahan. Tetapi yang dimaksud oleh hadits adalah bahwa para pemilik kerajaan itu berpegang teguh kepada kerajaannya, sebagai haq yang murni baginya.
(Jawwad Bahr an-Nasysyah, al-Mahdiy Masbuuqun bi Dawlah Islamiyyah, hal. 75).

3- Saya berpendapat, bahwa Mulkan ‘Aadldlan (kerajaan yang menggigit), artinya adalah kerajaan dimana raja-rajanya (terlepas dari adil atau zalimnya, dan terlepas dari berhasil atau tidaknya), masih berusaha berpegang teguh kepada sistem khilafah sebagai sunnah Alkhulafaa’ Arrosyidiin Almahdiyyiin. Meskipun dipandang telah terjadi penyimpangan dari khilafah rosyidah dengan menjadikan khilafah kepada ahli waritsnya. Tetapi tetap memberlakukan bai’at sebagai metode pengangkatan khalifahnya. Dan Mulkan ‘Aadldlan ini diambil dari kata ‘Adldluu ‘alaihaa binnawaajid (gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham) yang terdapat dalam hadits;
ﻓﻌﻠﻴﻜﻢ ﺑﺴﻨﺘﻲ ﻭﺳﻨﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ ﺍﻟﻤﻬﺪﻳﻴﻦ، ﻋﻀّﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺑﺎﻟﻨﻮﺍﺟﺪ، ﻭﺇﻳﺎﻛﻢ ﻭﻣﺤﺪﺛﺎﺕ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﺈﻥ ﻛﻞ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ، ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ .
“Maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Alkhulafaa’ Arrosyidiin Almadiyyiin (para khalifah yang cerdas dan adil), gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. HR Ahmad dan Hakim.

Dan dengan pengertian seperti ini, maka awal dari mulkan ‘aadldlan adalah kepemimpinan Muawiyah ra dari khilafah umawiyah, sedang akhirnya adalah kepemimpinan sultan Abdul Majid II dari khilafah ‘utsmaniyyah Turki yang berakhir pada 3 Maret 1924.

Kiranya pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama yang menyatakan masuknya kezaliman dalam pemerintahannya, dan yang memasukkan khilafah Abdullah bin Zubair dan Umar bin Abdul Aziz kedalam khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah. Sedang khalifah sebelum dan setelah Umar bin Abdul Azizi atau Abdullah itu tergolong mulkan ‘adldlan. Padahal kepemimpinan itu bisa disebut sebagai khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah, ketika didalamnya minimal ada dua orang khalifah yang rosyid dan mahdi (yang cerdas dan adil) secara berurut, karena secara bahasa khalifah adalah pengganti orang sebelumnya. Apalagi memasukkan khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah ditengah-tengah mulkan ‘aadldlan jelas menyalahi nash hadits yang menyatakan bahwa khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah itu hanya jatuh pada fase kedua dan kelima setelah fase mulkan ‘aadldlan dan mulkan jabriyyah.

Juga lebih baik dari pendapat kedua yang menafikan kezaliman dari pemerintahan. Padahal sejarah telah mencatat terdapatnya sejumlah kezaliman dari para penguasa yang tergolong sebagai mulkan ‘aadldlan tersebut, dan justru karena kezaliman ini pula pemerintahannya dinamai mulkan ‘aadldlan.

KEEMPAT :
Fase Mulkan Jabriyyah (kekuasaan yang sewenang-wenang). Ketika Mulkan ‘Aadldlan itu berarti pemerintahan yang masih menggigit (berpegang teguh) kepada sistem khilafah, dengan arti masih memakai sistem khilafah dan tidak membuangnya, maka Mulkan Jabriyyah adalah pemerintahan yang sudah tidak menggigit sistem khilafah, artinya sudah tidak lagi memakai sistem khilafah. Oleh karenanya fase Mulkan Jabriyyah itu bermula sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah sampai saat ini. Fase ini memasukkan setiap sistem pemerintahan yang berdiri diatas dunia Islam, seperti kerajaan, keamiran, demokrasi, republik, dll.
Dan dengan pemaknaan Mulkan ‘Aadldlan dan Mulkan Jabriyyah seperti diatas, maka menjadi jelas dan mudah, juga rasional dan realistis, memahami dan memetakan maksud dari hadits Hudzaifah ini.

KELIMA :
Fase khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah. Karena fase ini belum terjadi, sehingga kita belum pernah berada di dalamnya, maka cara termudah dan teraman untuk mendekatkan kepada gambaran dari khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah yang akan datang, adalah dengan memahami fakta khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah yang telah terjadi, yaitu pasca wafatnya Rasulullah SAW sebagai pemilik daulah nubuwwah. Fakta yang dimaksud ialah bahwa khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah adalah :

1- Daulah Islam yang sempurna, artinya sebagai institusi politik yang telah memiliki wilayah dan seperangkat sistem (hukum), juga aparatur pemerintahan penegak sistem yang memadai dan handal.

2- Daulah yang telah memiliki empat orang khalifah yang rosyid dan mahdi (termasuk Hasan bin Aly sebagai khalifah kelima miturut para ulama).

3-Daulah yang telah menerapkan hukum-hukum Islam secara sempurna. Artinya telah menerapkan; 1) sistem pemerintahan Islam, termasuk bentuk pemerintahan Islam, 2) sistem ekonomi Islam, 3) sistem pergaulan Islam, 4) sistem pendidikan Islam, 5) sistem persanksian Islam yang mencakup hudud, jinayat, takzir dan mukhalafat, dan 6) menerapkan politik dalam dan luar negeri Islam.

4- Daulah yang telah menyebarkan Islam keseluruh dunia dengan dakwah dan jihad, dan inilah juga yang disebut sebagai politik luar negeri daulah Islam.

Dengan memahami empat fakta tersebut, kita dapat mengira-ngira dan menggambarkan akan wajud khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah yang akan datang. Kita juga dapat mengerti bahwa saat ini khilafah nubuwwah itu masih belum berdiri, apalagi tegak.

UMAR BIN ABDUL AZIZ & KHIKAFAH 'ALÂ MINHÂJIN NUBUWWAH

Tidaklah tepat menerapkan fase ke lima (Khilafah 'alâ minhâjin nubuwwah) ini kepada ‘Umar bin Abdul Aziz, karena sebelumnya tidak ada kekuasaan (yang seperti kerajaan) yang menggigit dan kekuasaan yang sewenang-wenang dengan bentuk yang sempurna, dan karena setelahnya ada kekuasaan yang menggigit dan kekuasaan yang sewenang-wenang yang datang kepada ummat. (Mustaqbalul Islam fii Dlauilkitaabi wassunnah, Jaami’atul Qur’anil kariim, Republik Sudan, Isyraaf Dr. Ahmad Aly Al Imam, hal. 319).

Sedangkan perkataan Habib bin Salim selaku perawi hadits dalam Musnad Imam Ahmad (40/65, Syamilah 2):
ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺒِﻴﺐٌ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﺎﻡَ ﻋُﻤَﺮُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺑْﻦُ ﺍﻟﻨُّﻌْﻤَﺎﻥِ ﺑْﻦِ ﺑَﺸِﻴﺮٍ ﻓِﻰ ﺻَﺤَﺎﺑَﺘِﻪِ ﻓَﻜَﺘَﺒْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺑِﻬِﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﺃُﺫَﻛِّﺮُﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻟَﻪُ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﺭْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺃَﻣِﻴﺮُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﻋُﻤَﺮَ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﺍﻟْﻌَﺎﺽِّ ﻭَﺍﻟْﺠَﺒْﺮِﻳَّﺔِ ﻓَﺄُﺩْﺧِﻞَ ﻛِﺘَﺎﺑِﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِ ﻓَﺴُﺮَّ ﺑِﻪِ ﻭَﺃَﻋْﺠَﺒَﻪُ .
Habib berkata: “Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedang Yazid bin Nu’man bin Basyir adalah sahabatnya, maka saya menulis hadits ini kepada Yazid untuk mengingatkannya. Lalu saya berkata kepada Yazid: “Saya berharap bahwa amirul mu’miniin -yakni Umar-, adalah setelah mulkan ‘aadldlan dan mulkan jabriyyah”. Lalu tulisan itu dimasukkan kepada Umar bin Abdul Aziz, lalu beliau senang dengannya dan takjub”.

Perkataan Habib ini hanyalah harapan, bukan kepastian dan bukan dalil, yang disampaikan kepada Yazid, tidak kepada Umar. Sedang Umar hanya senang dan takjub dengan Hadits yang ditulis oleh Habib, bukan senang kepada harapan Habib. Dan Habib tidak menulis harapannya itu, tetapi hanya menulis haditsnya saja.

Dan untuk mewujudkan fase ini butuh aktifitas dan pengorbanan di jalan Allah SWT, menyebarkan ilmu dan mengikuti Alqur’an, Assunnah dan manhaj salaf yang shaleh, karena akhir umat ini tidak akan bisa menjadi baik, kecuali dengan sesuatu dimana awal umat ini menjadi baik dengannya.

Lebih dari itu, karena khilafah adalah institusi politik warisan Nabi SAW, maka dalam perjuangan untuk menegakkannya wajib terikat dengan thariqah politik Rasulullah SAW dalam menegakkan daulah, yaitu melalui tiga fase dakwah di Mekah; 1) pengkaderan, 2) interaksi dengan ummat, termasuk thalabun nushroh, dan 3) menerima dan meraih kekuasaan dari ummat. Dan semua itu dilakukan dengan tanpa kekerasan fisik, dan tanpa kudeta.

PENTING :
Term khilafah, mulkan ‘aadldlan dan mulkan jabriyah pada hadits Hudzaifah diatas, semuanya adalah secara lughawi (bahasa) yang disebut sebagai haqiqah lughawiyyah, bukan secara ishthilahi, karena Rasulullah SAW dan para sahabat ketika itu belum memakai ishthilah sebagai haqiqah ‘urfiyyah atau haqiqah syar’iyyah. Sehingga para sahabat ketika itu memanggil khalifah Umar bin Khththab dengan sebutan, “Yaa khalifatu khalifati Rasulillah saw/ wahai khalifah khalifah Rasulullah SAW”, yang secara lughawi berarti, “Wahai pengganti dari pengganti Rasulullah SAW”. Karena khalifah secara lughawi adalah pengganti orang sebelumnya dalam menjalankan kekuasaan yang mengikuti manhaj nubuwwah. Sedang Muawiyah ra dan para penguasa setelahnya, maka meskipun secara istilah disebut sebagai khalifah, tetapi secara lughawi mereka adalah para penguasa yang seperti raja, tetapi terbatas dalam hal saling mewariskan kekuasaan dan kezaliman yang bersifat pribadinya saja. Sedangkan sistemnya tetap sistem khilafah. Dan karena itu, secara lughawi, mereka dinamai mulkan ‘aadldlan.
Wallahu A'lamu bishshowâb.

Sabtu, 14 Desember 2019

BOLEHKAH PUJIAN PAKAI PENGERAS SUARA?

Sesungguhnya fakta pujian yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum Muslim awam setelah adzan dan dengan pengeras suara atau sepeaker, itu tidak terlepas dari doa dan dzikir, meskipun dengan redaksi sholawatan karena fakta sholawat adalah berdoa kepada Allah agar melimpahkan rahmat ta'zimNya kepada Rasulullah Muhammad SAW. Karena itu, dalam pujian harus mengikuti aturan dari Allah SWT dan Rasulullah SAW terkait berdoa dan berdzikir :

ATURAN DALAM BERDOA DAN BERZIKIR

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini tidak hanya fokus membahas aturan berdoa dan berdzikir, tetapi juga membahas setiap aktifitas ritual keagamaan yang di dalamnya terdapat doa-doa dan dzikir-dzikir, seperti tahlilan, yasinan, diba’an, sholawatan, istighotsahan, pujian setelah azan (sedang azan sunahnya harus dikeraskan, juga takbir dua hari raya), rotiban, dll. Sama saja berdoa dan berdzikir dan ritual keagamaan itu dilakukan di luar masjid atau di dalam masjid, bahkan di dalam masjid lebih utama.

Berdoa kepada Alloh SWT  itu wajib mengikuti petunjuk dan aturan dari Alloh SWT juga petunjuk dan aturan dari Rosululloh SAW, bagaimana dan seperti apa kita berdoa kepada-Nya, agar doa kita dikabulkan dan diijabah. Perhatikan firman Alloh SWT sebagai petunjuk dan aturan dalam berdoa kepada-Nya :

Ud'uu robbakum ...
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ . وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ    الْمُحْسِنِين
َ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Alloh) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan diterima). Sesungguhnya rahmat Alloh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al A’rof [7]: 55-56).

Pada dua ayat di atas, Alloh SWT telah memberi petunjuk kepada kita, yaitu TUJUH aturan dalam berdoa kepada-Nya, yaitu (agar kita berdoa dengan) :

Pertama; Tadhorru’an / berendah diri, tidak dengan sombong kepada-Nya dan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan menolak haq dan meremehkan para pembawa dan penyeru haq.

Kedua; Khufyatan / bersuara lembut, samar dan kalem, tidak dengan suara kasar dan keras, apalagi pakai sepeaker yang membuat bising dan gaduh.

Wa qoola ...
وقال الحسن البصري : لقد أدركنا أقوامًا ما كان على الأرض من عمل يقدرون أن يعملوه في السر، فيكون علانية أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء، وما يُسمع لهم صوت، إن كان إلا همسا بينهم وبين ربهم، وذلك أن الله تعالى يقول: { ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ } وذلك أن الله ذكر عبدًا صالحا رَضِي فعله فقال: { إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا } .
Hasan Bashri berkata: “Sungguh kami telah menjumpai banyak kaum, dimana tidak ada amalan di atas bumi yang mereka mampu mengerjakannya secara rahasia. Maka amalan itu dikerjakan secara terang-terangan selamanya. Sungguh dulu kaum muslim itu bersungguh-sungguh dalam berdoa dan suara mereka tidak terdengar, kecuali sekedar bisikan diantara mereka dan Tuhan mereka. Hal tersebut karena Alloh SWT berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Dan hal itu karena Alloh telah menyebut hamba yang sholeh yang Alloh ridho dengan perbuatannya. Alloh berfirman: “Yaitu tatkala ia (Zakaria) berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”. (QS Maryam [19]: 3). (Ibnul Mubarok, al Zuhd, hal. 45, dan Tafsir Thobari, 5/514).

Ketiga; ‘Adamul I’tidaa’ / tidak melampaui batas/ berlebihan, baik terhadap yang dimintanya atau cara memintanya. Melampaui batas terhadap yang dimintanya seperti minta kepada Alloh agar menghidupkannya sampai hari kiamat, minta dihilangkan dari lapar dan haus, minta bisa bernafas di dalam air dll. Sedang melampaui batas terhadap cara memintanya seperti meminta dengan mengeraskan suara atau pakai sepeaker.

Wa qoola ...
وقال عبد الملك بن عبد العزيز بن جُرَيْج : يكره رفع الصوت والنداء والصياحُ في الدعاء، ويؤمر بالتضرع والاستكانة .
“Berkata Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij : “Dibenci (Alloh) mengeraskan suara, memanggil dengan suara tinggi dan menjerit dalam berdoa, dan diperintah (Alloh) berdoa dengan merendahkan diri dan suara yang tenang/kalem”. (Tafsir Thobari, 5/207).

Dan perhatikan petunjuk berdoa dari Rosululloh SAW:
عن أبي موسى الأشعري قال: رفع الناس أصواتهم بالدعاء، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أيها الناس، ارْبَعُوا على أنفسكم؛ فإنكم لا تدعون أصمَّ ولا غائبًا، إن الذي تدعونه سميع قريب
Dari Abu Musa Asy’ari ra, beliau berkata: “Dulu orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdoa. Lalu Rosululloh saw bersabda: “Wahai manusia, kasihanilah diri kamu, karena kamu tidak sedang berdoa kepada tuhan yang tuli dan tidak pula berdoa kepada tuhan yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kamu berdoa kepada-Nya itu Maha Mendengar dan Yang Dekat”. (HR Bukhori [2992] dan Muslim [2704]).

Keempat; ‘Adamul Ifsaad fil ardhi / tidak membuat kerusakan di muka bumi. Membuat kerusakan di muka bumi dalam berdoa ialah seperti berdoa dengan suara keras lagi kasar, seperti dengan memakai pengeras suara atau sepeaker, sehingga membuat bising, gaduh dan mengganggu juga menzalimi orang-orang di sekitarnya atau tetangganya.

Kelima; Khaufan / rasa takut tidak akan diterima doanya, atau takut kepada murka dan azab-Nya, karena ia telah berbuat maksiat dan munkar lalu ia berdoa kepada-Nya, atau berdoa sambil mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang-orang di sekitarnya. 

Keenam; Thoma’an / harapan akan diterima doanya, atau penuh harap kepada anugerah dan rahmat-Nya karena ia telah mengerjakan berbagai ketaatan kepada-Nya.

Ketujuh; Ihsaan / berbuat baik, baik sebelum berdoa seperti bertawasul dengan amal saleh seperti sedekah, ketika berdoa seperti berdoa dengan yang baik dan tidak mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang-orang di sekitarnya, dan setelah berdoa seperti tsiqoh dan yakin dianya diijabah serta tidak terburu-buru dengan mengatakan bahwa Alkah tidak mengijabah doanya; berbuat baik kepada diri sendiri atau kepada orang-orang di sekitarnya atau tetangganya.

Lalu bagaimana kita berdzikir kepada Alloh SWT?

Berdzikir dan berdoa pada umumnya selalu dilakukan secara bersamaan, dan pada keduanya nama-nama Alloh juga disebut-sebut, maka keduanya wajib mengikuti petunjuk dari Alloh SWT dan dari Rosululloh SAW. Perhatikan petunjuk berdzikir dari firman-Nya :

Wadzkur ...
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ  تَضَرُّعًا وَخِيفَة وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (QS Al A’rof [7]: 205).

Sedang kalimat “dan dengan tidak mengeraskan suara / wa dunal jahri minal qauli”, maka Imam Qurthubi berkata :
(وَدُونَ الْجَهْرِ) أَيْ دُونَ الرَّفْعِ فِي الْقَوْلِ. أَيْ أَسْمِعْ نَفْسَكَ، كَمَا قَالَ:" وَابْتَغِ بَيْنَ ذلِكَ سَبِيلًا " أَيْ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْمُخَافَتَةِ. وَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ مَمْنُوعٌ .
“(Wa dunal jahri), yakni dengan tidak mengeraskan suara, yakni dengarkanlah kepada dirimu saja, sebagaimana Dia berfirman : “dan carilah jalan tengah diantara kedua itu” (QS Al Isroo [17]; 110), yakni diantara mengeraskan suara dan merendahkannya. (firman) ini menunjukkan bahwa mengeraskan suara dengan dzikir itu terlarang”. (Tafsir Al Qurthubi, 7/355).

Terkait penggalan ayat pada ibarot Al Qurthubi diatas, lengkapnya sebagai berikut :
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخافِتْ بِها وَابْتَغِ بَيْنَ ذلِكَ سَبِيلاً 
“Katakanlah: “Serulah Alloh atau serulah Arrohman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik. Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya itu”. (QS Al Isroo [17]; 110).

Maksudnya, janganlah membaca ayat-ayat Alqur’an dalam sholat terlalu keras atau terlalu rendah, tetapi cukuplah sekedar dapat  didengar oleh makmum.

Penutup:
Perlu diingat, bahwa kita berdzikir dan berdoa kepada Alloh Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Kita berdzikir dan berdoa kepada Alloh, bukan kepada selain Alloh dari tuhan-tuhan sesembahan orang-orang musyrik, bukan kepada tuhan yang tuli dan buta, dan bukan kepada tuhan yang jauh dan ghaib. Ingat, kita berdoa dan berdzikir kepada Alloh!

Karena itu, kita harus berdoa dan berdzikir sesuai perintah dan larangan Alloh. Alloh telah memerintahkan agar kita berdzikir dan berdoa dengan tadhorru’an (berendah diri), khufyatan (suara lembut), khoufan (takut), thoma’an (penuh harap) dan ihsan (berbuat baik). Dan Alloh telah melarang berdzikir dan berdoa dengan i’tidaa’ (melampaui batas / berlebihan), ifsaad (membuat kerusakan), jahar (suara keras) dan mukhofatah (suara terlalu rendah).

Kita juga harus memahami, kita ber-amal karena Alloh atau karena manusia, kita bermunajat dengan Alloh atau dengan manusia, agar kita tidak terjatuh ke dalam syirik kecil yaitu riya, karena sudah jelas bahwa ber-amal dengan syirik itu justru mendapat dosa dan jauh dari pahala. Maka ketika amal itu berupa doa dan dzikir, pasti tertolak dan sia-sia, bahkan mendapatkan dosa. Apalagi ketika doa dan dzikir itu mengandung kerusakan dan kezaliman terkait dengan haq adami atau hak sesama manusia. Na’uudzu billaah tsumma na’uudzu billaah ...

JADI PUJIAN DENGAN SUARA KERAS, DENGAN PENGERAS SUARA, DENGAN SEPEAKER, APAPUN BENTUK PUJIANNYA, SEMUANYA MENABRAK DAN MELANGGAR ATURAN ALLAH DAN RASULULLAH, DAN BISA MENGGANGGU, MENYAKITI DAN MENZALIMI ORANG-ORANG DI SEKITARNYA, MAKA KEHARAMANNYA TIDAK DIRAGUKAN LAGI.

Wallohu a’lam bish showaab.