Kamis, 31 Oktober 2019

JANGAN MEREMEHKAN BENDERA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

BENDERA ISLAM, bendera tauhid, baik Liwa maupun Rayah, memiliki posisi sangat penting di dalam semua lini kehidupan, lebih-lebih di dalam kehidupan bernegara. Dalam kehidupan pribadi, setiap muslim wajib hukumnya mengetahui seperti apa bentuk bendera tersebut, lalu berusaha agar bisa membuat, menyimpan, mengibarkan atau membawanya sesuai kebutuhan yang dibenarkan oleh syara'. Dalam kehidupan bermasyarakat, umat Islam wajib saling memberi pengetahuan, saling menasihati, dan saling memberi wasiat terkait bendera tersebut agar selalu berkibar di tengah-tengah mereka. Sedang dalam kehidupan bernegara, negara wajib mengatur terkait bentuk bendera serta pengibarannya, dan menindak segala bentuk pelanggaran terhadapnya.

Bendera taunid, liwa & royah, itu bisa terlihat dengan jelas karena padanya tertulis kalimat tauhid "Lâ ilâha illallôh Muhammadur Rosululloh", sebagaimana bendera merah putih terlihat dengan jelas karena berwarna merah putih, atau bendera palu arit terlihat dengan jelas karena ada gambar palu aritnya. Kecuali bagi orang yang buta huruf, buta mata, atau buta hati.

Memang hakekat tauhid itu ada di dalam hati sebagaimana iman, cinta atau benci. Tetapi indikasinya bisa dilihat dan didengar oleh setiap orang yang melihat dan mendengar. Seseorang yang benar tauhid, iman dan cinta kepada Allah dan Rasulullah, jiwa raganya bergetar takjub penuh cinta ketika melihat atau mendengar nama Allah dan Rasulullah tertulis pada liwa & royah atau disebut seseorang. Sebagaimana ketika seorang lelaki yang benar mencintai perempuan, maka jiwa dan raganyanya bergetar penuh cinta dan kasmaran hanya dengan melihat pakaiannya yang pernah dipakainya, namanya tertulis di selembar kain, atau mendengar namanya disebut seseorang. 

Begitu pula dengan seseorang yang dihatinya ada kufur dan nifaq kepada Allah dan Rasulullah, maka ketika melihat liwa & royah yang padanya tertulis nama Allah dan Rasulullah, ia benci setengah mati, marah hingga wajahnya memerah, dan merampasnya hingga membakarnya. Ia berkata, "Ini bendera HTI, bukan bendera tauhid". Padahal sangat jelas tidak ada nama HTI tertulis padanya, sedang dua kalimat tauhid tertulis sangat jelas padanya. Sebagaimana seorang lelaki yang benar membenci perempuan, maka jiwa dan raganya bergetar karena marah dan benci ketika melihat pakaiannya yang pernah dipakainya, namanya tertulis di secarik kain, atau disebut oleh seseorang. 

BENDERA ISLAM ITU SANGAT PENTING

Kenapa bendera Islam, bendera tauhid, itu sangat penting? Karena :

Pertama: Masalah bendera Islam ketika berada didalam medan perang adalah masalah hidup dan mati. Artinya bendera itu harus tetap berkibar meskipun sampai berakibat terbunuhnya orang yang memegang bendera, dan mati dalam kondisi memegang bendera adalah mati terhormat, seperti pernah terjadi dalam perang Khaibar.

'an anasibni maalik ...
ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟﺮَّﺍﻳَﺔَ ﺯَﻳْﺪٌ ﻓَﺄُﺻِﻴﺐَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَﻫَﺎ ﺟَﻌْﻔَﺮٌ ﻓَﺄُﺻِﻴﺐَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَﻫَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺭَﻭَﺍﺣَﺔَ ﻓَﺄُﺻِﻴﺐَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻋَﻴْﻨَﻲْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻟَﺘَﺬْﺭِﻓَﺎﻥِ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَﻫَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴﺪِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺇِﻣْﺮَﺓٍ ﻓَﻔُﺘِﺢَ ﻟَﻪُ
Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: "Nabi SAW bersabda: "Zaid memegang Rayah (bendera) lalu ia syahid, kemudian Ja'far memegang Rayah lalu ia syahid, kemudian Abdullah bin Rawahah memegang Rayah lalu ia syahid -sesungguhnya kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata-, kemudian Khalid bin Walid memegang Rayah dari tanpa kepemimpinan, lalu karenanya mendapat kemenangan". HR Bukhari
Hadits ini juga menunjukkan, bahwa bendera (Rayah) wajib dikibarkan dalam perang dan futuhat (penaklukkan).

Kedua: Pemegang bendera Islam dalam kondisi futuhat, dakwah dan jihad, untuk menyebarkan kerahmatan dan keadilan Islam, adalah orang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

'an abi haazim ...
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﺎﺯِﻡٍ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ ﺳَﻬْﻞٌ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺍﺑْﻦَ ﺳَﻌْﺪٍ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻴْﺒَﺮَ ﻟَﺄُﻋْﻄِﻴَﻦَّ ﺍﻟﺮَّﺍﻳَﺔَ ﻏَﺪًﺍ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻳُﻔْﺘَﺢُ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻓَﺒَﺎﺕَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻟَﻴْﻠَﺘَﻬُﻢْ ﺃَﻳُّﻬُﻢْ ﻳُﻌْﻄَﻰ ﻓَﻐَﺪَﻭْﺍ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺟُﻮﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﻳْﻦَ ﻋَﻠِﻲٌّ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻳَﺸْﺘَﻜِﻲ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻓَﺒَﺼَﻖَ ﻓِﻲ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻭَﺩَﻋَﺎ ﻟَﻪُ ﻓَﺒَﺮَﺃَ ﻛَﺄَﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺑِﻪِ ﻭَﺟَﻊٌ ﻓَﺄَﻋْﻄَﺎﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃُﻗَﺎﺗِﻠُﻬُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻣِﺜْﻠَﻨَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻧْﻔُﺬْ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﺳْﻠِﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻨْﺰِﻝَ ﺑِﺴَﺎﺣَﺘِﻬِﻢْ ﺛُﻢَّ ﺍﺩْﻋُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﺃَﺧْﺒِﺮْﻫُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻮَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺄَﻥْ ﻳَﻬْﺪِﻱَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻚَ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻚَ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻚَ ﺣُﻤْﺮُ ﺍﻟﻨَّﻌَﻢِ
Dari Abi Hazim, ia berkata; "Telah memberi khabar kepadaku Sahel, yakni Ibnu Saed, ia berkata; "Pada hari perang Khaibar Nabi SAW bersabda: "Sungguh besok pagi aku akan memberikan Rayah kepada laki-laki yang akan mendapat kemenangan melalui kedua tangannya, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya". Lalu semalaman orang-orang berpikir siapakah diantara mereka yang akan diberi Rayah. Lalu pagi harinya mereka semua berharap diberi Rayah. Lalu Nabi bersabda: "Dimana Ali?". Lalu dikatakan: "Ia sedang sakit kedua matanya". Lalu Nabi meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Lalu ia sembuh, seakan-akan ia tidak terkena penyakit. Lalu Nabi memberikan Rayah kepadanya. Lalu ia berkata: "Apakah aku akan memerangi mereka sehingga mereka menjadi seperti kami". Lalu Nabi bersabda: "Berjalanlah pelan-pelan, sampai kamu singgah dihalaman rumah mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan beritahulah mereka dengan sesuatu yang wajib atas mereka, maka demi Allah, apabila Allah menunjukkan seseorang lantaran kamu, adalah lebih baik bagi kamu, dari pada kamu memiliki hewan ternak yang merah-merah". HR Bukhari
Hadits ini juga menunjukkan, bahwa Rayah dipakai dalam berdakwah kepada Islam.

Ketiga: Selain bendera Islam adalah bendera pengkhianatan, dan pada hari kiamat bendera itu akan dikibarkan oleh para pengkhianat.

'anibni 'umaro ...
ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟِﻜُﻞِّ ﻏَﺎﺩِﺭٍ ﻟِﻮَﺍﺀٌ ﻳُﻨْﺼَﺐُ ﺑِﻐَﺪْﺭَﺗِﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔ
Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: "Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda: "Pada hari kiamat, setiap pengkhianat itu memiliki Liwa (bendera) yang diangkat sesuai pengkhianatannya". HR Bukhari, dalam riwayat lain:

'an 'abdillah ...
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻜُﻞِّ ﻏَﺎﺩِﺭٍ ﻟِﻮَﺍﺀٌ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳُﻌْﺮَﻑُ ﺑِﻪِ
Dari Abdullah bin Umar ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Pada hari kiamat, setiap pengkhianat memiliki Liwa dimana ia dikenal dengannya". HR Bukhari

Tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari pada khianat kepada Allah dan Rasul-Nya SAW. Khianat kepada agama-Nya. Khianat kepada syariah-Nya. Khianat kepada hukum dan sistem-Nya. Dan khianat kepada kaum Muslim. Terlalu banyak contoh-contoh pengkhianatan itu. Pokus kita adalah pengkhianatan terhadap bendera Islam, sebagai bendera tauhid LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMAD RASULULLAH, bendera persatuan dan persaudaraan kaum muslimiin, dan bendera Daulah Khilafah. Yaitu dengan menggantinya dengan puluhan bahkan ratusan bendera negara nasional, bendera nasionalisme dan ashabiyyah. Maka terhadap bendera-bendera itulah hadits di atas bisa diterapkan.

Keempat: Imam Mahdi, pendukung dan tentaranya nanti akan mengibarkan Rayatun sûdun, bendera hitam-hitam, dan tentu bertuliskan kalimat tauhid berwarna putih-putih. Karena secara akal, sepertinya gak munkin, kalau bendera itu hanya sobekan-sobekan kain hitam, tanpa tertulis sesuatu yang mulia padanya dan tidak ada yang lebih mulia dari pada kalimat tauhid Lâ ilâha illallôh Muhammadur Rasululloh. 

Akhirnya, berhati-hatilah terhadap bendera, jangan salah mengibarkan bendera, dan jangan meremehkan bendera, karena bendera itu bisa menuntun kita ke surga atau ke neraka.
Wallahu a'lam bishshawwaab. []

Senin, 28 Oktober 2019

BERJALAN DI BAWAH LIWA NABI MUHAMMAD SAW

Bismillaahir Rahmaanir Rohiim
Wa tahta ...
... وتحت لواء محمد صلى الله عليه وسلم يوم القيامة سائرين ...
" (Ya Allah, jadikanlah kami) pada hari kiamat, berjalan di bawah LIWA Muhammad SAW ...".
Tentu sebelum datang ke telaga (alhaudh) dan sebelum masuk ke surga, sesuai urutan doa selanjutnya.
Kalimat di atas adalah penggalan dari doa sesudah shalat taraweh yang telah saya dengar sejak sebelum baligh. Lebih - lebih yang memanjatkan doa adalah bapak saya sendiri. Dulu saya belum mengerti dengan maknanya. Dan setelah mengerti maknanya, saya pun masih belum mengerti seperti apa bentuk LIWA Muhammad SAW itu. Dan baru benar - benar mengerti dari Hizbut Tahrir, tidak dari yang lainnya.
LIWA Muhammad SAW  pada hari kiamat adalah Liwaulhamdi seperti dalam hadis shahih berikut , dari Abi Said dan Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر وبيدي لواء الحمد ولا فخر وما من نبي يومئذٍ آدم فمن سواه إﻻ تحت لوائي ... رواه الترمذي و أحمد
"Aku adalah tuan anak Adam pada hari kiamat tidak ada sombong. Aku pemegang liwaulhamdi tidak ada sombong. Tidak ada seorang nabi pun pada hari itu, Adam lalu yang lainnya, kecuali di bawah liwaku ...".
Bagaimana pada hari kiamat kita bisa berjalan di bawah LIWA Muhammad SAW?
Semua balasan kebaikan di akhirat nanti hakekatnya adalah balasan dari baiknya penerapan iman dan amal di dunia ini. Dan semua balasan keburukan di akhirat nanti juga balasan dari buruknya penerapan iman dan amal di dunia ini.
Sekecil apapun amal kita di dunia ini, berupa kebaikan atau keburukan, maka di akhirat pasti mendapat balasannya, sebagaimana firman - Nya:
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ، ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره
"Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula". (QS Az Zalzalah, ayat : 7 - 8).
Surga Allah tidak diberikan kepada orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Syafaat Muhammad SAW tidak diberikan kepada orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Air Haudh Alkautsar (telaga alkautsar milik Muhammad SAW) tidak diberikan kepada orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Begitu pula dengan LIWA Muhammad SAW tidak dapat berjalan dan berbaris di bawahnya orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Karena ketika di dunia mereka lebih memilih surganya Dajjal, syafaatnya para fir'aun dan taghut, khamer dan minuman yang memabukkan lainnya, dan lebih memilih, membela dan mengibarkan bendera - benera nasionalisme dan yang lainnya, daripada LIWA Muhammad SAW.
Untuk perbandingan, Syaikh Abdulwahhab bin Ahmad bin Ali al-Anshari asy-Syafi’i al-Mishri asy-Sya’roni rh berkata:
ﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺸﻒ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻫﻨﺎ ﻻ ﻫﻨﺎﻙ، ﻓﻴﺠﻨﻲ ﻛﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺛﻤﺮﺓ ﻋﻤﻠﻪ، ﻓﻤﻦ ﺯﻝ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻫﻨﺎ ﺯﻟﺖ ﻗﺪﻣﻪ ﻫﻨﺎﻙ ﺑﻘﺪﺭ ﻣﺎ ﺯﻝ ﻫﻨﺎ .
Ahli kasyaf berkata: “Sesungguhnya berjalan di atas shiroth (jembatan yang lurus di atas neraka Jahannam) hakekatnya itu hanya di sini (dunia), tidak di sana (akhirat). Jadi setiap manusia akan memetik buah amalnya. Barang siapa yang di sini (di dunia) tergelincir dari syariat, maka di sana (di akhirat) kakinya akan tergelincir (terjatuh ke neraka Jahannam), sesuai ketergelincirannya (dari syariat) di sini (di dunia)”. (al-Mizan al-Kubro, hal. 52).
Sesungguhnya Liwa dan Rayah adalah bagian yang tak terpisahkan dari Syariat Islam yang keberadaannya benar - benar dijelaskan dalam hadits shahih. Barang siapa yang menginginkan di akhirat nanti bisa berjalan dan berbaris bersama Nabi Muhammad SAW di bawah Liwaulhamdi, maka di dunia ini, sejak detik ini, peganglah erat - erat LIWA atau RAYAH ini, angkat dan berjalan berbaris di bawahnya.
Janganlah Anda menolak, mengingkari, mencabuti dan membakar LIWA dan RAYAH, agar tidak menyesal pada hari kiamat nanti. Ingat, hari kiamat itu sudah sangat dekat!
Wallohu A’lamu Bishshawâb. []

Sabtu, 26 Oktober 2019

KHALIFAH TIDAK BISA DIPISAHKAN DARI PENERAPAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
● Sistem pemerintahan Islam, khilafah, adalah sistem yang unik berbeda dari sistem-sistem yang lainnya yang ada di dunia seperti demokrasi, teokrasi, kerajaan, republik dan komumis. Tidak ada sistem khilafah tanpa penerapan syariah Islam Kâffah, begitupun tidak akan pernah ada penerapan syariah Islam Kâffah tanpa khilafah. Karena itu, khilafah tidak akan bisa disamakan dengan sistem ruhiyyah (spiritual) Kepausan Vatikan Roma, dan tidak seperti organisasi Khilafatul Muslimiin pimpinan Ustadz Abdul Qodir Ahmad Baraja yang berpusat di Bandar Lampung. Khilafah juga tidak akan membiarkan bentuk- bentuk negara lain seperti negara nasional atau kerajaan eksis di negeri-negeri kaum muslimiin di dunia, karena justru bentuk negara selain khilafah itu yang selama ini menggantikan khilafah dan menghalangi berdirinya khilafah, maka setelah khilafah tegak nanti, negara-negara itu otomatis akan lenyap dari dunia Islam, sebagaimana lenyapnya khilafah dan penerapan syariah Islam Kâffah saat ini.
● Semua sanad khalifah baik sebagai nâibun 'anillâhi (wakil, pengganti dari Allah swt), sebagaimana pendapat Albaghowi bagi Adam dan Daud 'alaihimas salâm dan dan Azzamakhsyari bagi para nabi; nâibun 'aninnabiy saw (wakil, pengganti dari Nabi saw), sebagaimana pendapat jumhur ulama termasuk Abu Ya'la, Almawardi dan Ibnu Kholdun; khalîfatu man qoblahu (pengganti dari orang sebelumnya), sebagaimana pendapat Qolqosyandi dan Atthobari; maupun sebagai nâibun 'anil ummah (wakil, pengganti dari umat), sebagaimana pendapat Syaikh Taqiyyuddin Anabhani dan Hizbut Tahrir.
Begitu pula dengan semua definisi khilafah, baik sebagai ;
الخلافة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في تنفيذ ما آتى به من شرعة الإسلام
"Penganti dari Rasulullah saw dalam melaksanakan Syariat Islam yang telah dibawanya", sebagaimana pendapat Mushthofa Shobi Syaikhul Islam khilafah 'utsmaniyyah.
Atau sebagai ;
رياسة عامة في أمور الدين والدنيا لشخص من الأشخاص ، أو خلافة الرسول في إقامة الدين وحفظ حوزة الملة بحيث يجب اتباعه على كافة الأمة
"Kepemimpinan umum bagi seseorang dalam mengatur urusan agama dan dunia" atau "Pengganti Rasulullah SAW dalam menegakkan agama serta manjaga keutuhannya, dimana wajib diikuti oleh semua umat", sebagaimana pendapat 'Adhoduddin Al-Îjiy.
Atau sebagai ;
الإمام الأعظم القائم بخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا
"Imam Agung yang melaksanakan khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan mengatur dunia", sebagaimana pendapat ulama syafi'iyyah.
Atau sebagai ;
خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به
"Pengganti dari pemilik syariat dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama", sebagaimana pendapat Ibnu Kholdun.
Atau sebagai ;
النيابة عن النبي صلى الله عليه وسلم فى عموم مصالح المسلمين
"Pengganti dari Nabi SAW dalam umumnya masholih kaum muslimiin", sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibrahim Albaijuri.
Atau sebagai ;
رئاسة عامة للمسلمين جميعا في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم
"Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimiin di dunia, untuk menegakkan hukum - hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia", sebagaimana pendapat Syaikh Taqiyyuddin Anabhani dan Hizbut Tahrir.
(Semua sanad khalifah dan definisi khilafah diatas dikutip dari Dr. Mahmud Al Khôlidiy, Qowâ'idu Nizhômil Hukmi fil Islâm, hal. 226 - 234, Maktabah Al Muhtasib).
Semuanya itu baik khalifah dengan berbagai sanadnya maupun khilafah dengan berbagai definisinya, semuanya memiliki dua peket kewajiban yang sama, yaitu :
1. Menerapkan hukum-hukum syara' atas semua rakyat. Maka khalifah mengumpulkan zakat serta membagikannya, menegakkan hudûd, mengatur urusan manusia dengan Islam, dan mengatur sistem kehidupan Islam secara umum.
2. Mengemban dakwah Islam keluar batas-batas negara khilafah sampai ke seluruh penjuru dunia, serta menghilangkan semua hambatan dan penghalang dari depan dakwah Islam melalui jalan jihad.
Inti dari dua tugas tersebut adalah penerapan syariah Islam Kâffah, udkhulû fis silmi kâffah, atau ber-Islam kâffah. Maka tidak ada khalifah tanpa penerapan syariah Islam Kâffah, dan tidak ada penerapan syariah Islam Kâffah tanpa khalifah / khilafah. Karena keduanya saling melengkapi, saling terikat, dan tidak dapat dipisahkan. Memisahkan khalifah/ khilafah dari penerapan syariah Islam Kâffah, adalah melenyapkan eksistensi Islam Kâffah sendiri, karena khalifah/ khilafah adalah bagian dari syariah Islam Kâffah, dimana tanpa khalifah/ khilafah tidak akan ada syariah Islam Kâffah.
● DALIL-DALIL BAHWA KHALIFAH MENYATU DENGAN PENERAPAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH
Alloh swt berfirman :
وإذ قال ربك للمﻵئكة إني جاعل في الأرض خليفة
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ...". (QS Albaqoroh ayat 30).
Alloh swt berfirman :
ياداود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله إن الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بما نسوا يوم الحساب
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan perkara di antara manusia dengan haq (adil) dan janganlah kamu mengikuti (hukum produk) hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". (QS Shaad [38]:26).
Dan Rosululloh SAW pun diperintah agar memutuskan perkara diantara manusia dengan hukum Alloh swt. Alloh berfirman :
فاحكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم عما جآءك من الحق
"Maka putuskanlah perkara diantara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu". (QS Almaidah ayat 48).
Dan firman-Nya :
وان احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu". (QS Almaidah ayat 49).
Perintah Allah kepada Rasul-Nya agar berhukum dengan hukum-hukum-Nya, juga adalah perintah kepada umatnya agar mereka berhukum dengan hukum - hukum Allah swt. Dan termasuk umatnya adalah para khalifah sebagai wakil umat di sepanjang masa kekhilafahan, dimana mereka wajib memutuskan perkara diantara umat dengan hukum - hukum Allah swt.
● AQWAL ULAMA TENTANG WAJIBNYA MENEGAKKAN KHALIFAH SATU PAKET DENGAN KEWAJIBAN MENERAPKAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH
Perhatikan baik-baik aqwal ulama, diataranya adalah Imam Ibnu Hazem rh dalam kitab Almilal wal Ahwâ' wan Nihal, juz 4, hal. 87, beliau  menegaskan :
اتفق جميع أهل السنة وجميع المرجئة وجميع الشيعة وجميع الخوارج على وجوب الإمامة وأن الأمة واجب عليها الإنقياد لإمام عادل يقيم فيهم أحكام الله ويسوسهم بأحكام الشريعة التي أتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم حاشا النجدات من الخوارج فإنهم قالوا لا يلزم الناس فرض الإمامة وإنما عليهم أن يتعاطوا الحق بينهم ...{ الملل والأهواء والنحل، الجزء الرابع، ص: 87}.
“Semua Ahlussunnah, semua Murjiah, semua Syiah dan semua Khawarij telah sepakat atas wajibnya imamah (khilafah), dan bahwa umat wajib tunduk kepada imam yang adil, yang menegakkan hukum-hukum Allah pada mereka, dan yang memimpin mereka dengan hukum-hukum syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW, selain sekte Najdah dari Khawarij, karena mereka berkata, kewajiban imamah itu tidak mengikat manusia, dan manusia hanya wajib menjalankan hak di antara mereka…”.
Sayyid Husain Afandi rh dalam kitab AlHushûn AlHamîdiyyah, hal. 189-190, beliau menegaskan :
اعلم أنه يجب على المسلمين شرعا نصب إمام يقوم بإقامة الحدود وسد الثغور وتجهيز الجيوش وأخذ الصدقات وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وتزويج الصغار والصغائر الذين لا أولياء لهم وقطع المنازعات الواقعة بين العباد وقبول الشهادات القائمة على الحقوق وإقامة الجمع والأعياد ولا يتم جميع ذلك بين المسلمين إلا بإمام يرجعون إليه فى أمورهم: يدرأ المفاسد ويحفظ المصالح ويمنع مما تتسارع إليه الطباع وتتنازع عليه الأطماع يعول الناس إليه ويصدرون عن رأيه على مقتضى أمره ونهيبه. وقد أجمعت الصحابة رضي الله تعالى عنهم على نصب الإمام بعد وفاته عليه الصلاة والسلام. قال أبو بكر رضي الله تعالى عنه: لا بد لهذا الأمر من يقوم به فانظروا وهاتوا آراءهم، فقالوا من كل جانب: صدقت صدقت، ولم يقل أحد منهم لا حاجة بنا إلى إمام. ويجب طاعة الإمام على جميع الرعايا ظاهرا وباطنا فيما لا يخالف الشرع الشريف لقوله تعالى: {أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم} وهم العلماء والأمراء ولقوله عليه الصلاة والسلام: من أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصي أميري فقد عصاني. وفى صحيح البخاري عن النبي صلى الله عليه وسلم: من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن يطع الأمير فقد أطاعني وإنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به ...{الحصون الحميدية، ص: 189-190}.
“Ketahuilah bahwasanya secara syara’ wajib atas kaum muslim mengangkat imam yang menegakkan hudûd, menutup perbatasan negara, mempersiapkan tentara, mengambil zakat, mengatasi pemberontak, penyamun dan begal, mengawinkan laki-laki dan perempuan kecil yang tidak memiliki wali, memutuskan persengketaan yang terjadi di antara manusia, menerima kesaksian yang berdiri di atas hak, menegakkan shalat jum’at dan shalat hari raya, dan semuanya itu tidak akan dapat sempurna di antara kaum muslim, kecuali dengan adanya imam (khalifah) yang dibuat rujukan dalam perkara mereka, yaitu imam yang menolak bahaya, menjaga maslahat, mencegah berbagai persengketaan, tempat manusia bersandar kepadanya dan mengikuti perintah dan larangannya. Dan sahabat ra benar-benar telah ijmak atas mengangkat imam setelah Nabi saw wafat. Abu Bakar ra berkata: “Harus ada orang yang menegakkan perkara (agama) ini, maka berpikirlah dan keluarkan pendapat kalian!” Lalu dari setiap arah sahabat berkata: “Anda benar, anda benar!”, dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan, “Kami tidak membutuhkan imam!”. Dan semua rakyat wajib taat kepada imam, lahir dan batin, pada perkara yang tidak menyelahi syariat yang mulia, karena Allah berfirman: “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada Rasulullah dan kepada ulil amri di antara kalian”, dan mereka adalah para ulama dan umara, dan karena Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang taat kepada amirku, maka ia taat kepadaku, dan barang siapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku”. Dan dalam shahih al-Bukhari, Nabi saw bersabda: “Barang siapa taat kepadaku, maka ia taat kepada Allah, barang siapa maksiat kepadaku, maka ia maksiat kepada Allah, dan barang siapa taat kepada amir, maka ia taat kepadaku. Sesungguhnya imam adalah perisai yang (tentara) berperang dari belakangnya dan dibuat perlindungan…”.  
Sayyid Muhammad Amin rh dalam Ta'lîq kitab Bulûghul Marôm, beliau  menegaskan :
واتفق الأئمة الأربعة  على أن الإمامة فرض وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين، وعلى أنه لا يجوز أن يكون للمسلمين فى وقت واحد فى جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان...{بلوغ المرام، ص: 265، وانظر الميزان الكبرى فى باب حكم البغاة، ج 2، ص: 153}.
“Empat imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) telah sepakat bahwa imamah (khilafah) adalah fadhu, dan bahwa kaum muslim wajib memiliki imam yang menegakkan syiar-syiar agama, memberi keadilan kepada orang-orang yang teraniaya dari orang-orang yang menganiaya, dan bahwa kaum muslim dalam satu masa di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam, sama saja yang keduanya sepakat (rukun) atau yang keduanya berselisih…”. 
Tiga aqwal ulama diatas, InSyaaAlloh, sudah cukup jelas sehingga tidak butuh penjelasan lagi, dan sudah cukup mewakili dari semua aqwal ulama mujtahid serta ulama pengikutnya.
● DALAM SISTEM KUFUR DEMOKRASI KAUM MUSLIMIIN TIDAK AKAN BISA MENERAPKAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH
Berbeda dengan para khalifah dalam sistem khilafah yang berlomba-lomba menerapkan syariah Islam Kâffah, para pemimpin dalam sistem demokrasi justru berlomba-lomba menerapkan hukum produk hawa nafsu manusia pengkhianat hukum Allah. Mereka memutuskan perkara dengan hukum produk hawa nafsu manusia pengkhianat hukum Alloh yang bernama dewan terhormat legislatif. Para Nabi dan Rosul saja berkewajiban menerapkan hukum Alloh, juga dewan terhormat dan tertinggi dari para khalifah dan majlis ummat masih berjuang dan bersungguh-sungguh dalam menjaga kewajiban itu. Lalu dewan pengkhianat legislatif demokrasi sangat beraninya membuang hukum Alloh dan menggantinya dengan hukum produk hawa nafsunya sendiri. Apakah mereka merasa lebih terhormat dan lebih tinggi derajatnya di atas para nabi, para rosul, para khalifah dan majlis ummah ?
Fakta dari pekerjaan dewan legislatif demokrasi yang membuang hukum Alloh dan menggantinya dengan hukum produk hawa nafsunya sendiri, adalah menunjukkan bahwa mereka telah berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan-tuhan kerdil pesaing Tuhan Yang Maha Besar Pencipta kehidupan, alam semesta dan manusia, Alloh swt. Sungguh keterlaluan. Dan sama keterlaluannya, adalah orang-orang yang masih mau memilih dan mengangkat mereka menjadi wakil dan pemimpinnya dalam sistem kufur demokrasi.
● PADAHAL YANG TIDAK BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH ADALAH ORANG-ORANG KAFIR, ZALIM ATAU FASIK, TIDAK ADA YANG KEEMPATNYA
Allah swt berfirman :
ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الكافرون ، ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الظالمون ، ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الفاسقون
"Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah,  maka mereka adalah orang - orang kafir... Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang - orang zalim... Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang - orang fasik". (QS Almaidah ayat 44, 45 dan 47).
● WALHASHIL
Tidak ada khalifah tanpa penerapan syariah Islam Kâffah, karena khalifah adalah wakil Allah, wakil Nabi saw, pengganti orang sebelumnya, atau wakil ummat, dalam / untuk kewajiban menerapkan syariah Islam Kâffah, atau menerapkan hukum - hukum Allah secara sempurna. Dan tidak ada penerapan syariah Islam Kâffah tanpa khalifah, karena khalifah (tentu dengan khilafahnya) adalah metode syar'iy untuk menerapkan syariah Islam Kâffah atau menerapkan hukum - hukum Allah secara sempurna. Dan meskipun khalifah sebagai metode, tetapi keberadaannya adalah bagian dari syariah Islam Kâffah, dimana tanpa khalifah tidak sempurna syariah Islam Kâffah. Khalifah juga termasuk kedalam kaidah :
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
"Sesuatu dimana kewajiban tidak dapat sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu adalah kewajiban".
Wallohu A’lamu Bishshawâb. []

Rabu, 16 Oktober 2019

BENARKAH REZIM JOKOWI ANTI ISLAM DAN ANTI ULAMA ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Ketika para cebong pendukung rezim zalim, anti Islam dan anti ulama, mendengar dan membaca pernyataan atau statemen bahwa, "Jokowi itu pemimpin yang anti Islam dan anti ulama" atau "Rezim Jokowi itu anti Islam dan anti ulama", maka mereka ramai berkata, "Siapa yang anti Islam ? Siapa yang anti ulama ? Jakowi itu pemimpin muslim yang taat, rajin puasa Senin Kamis dan puasa Daud juga, rajin datang ke ulama, bahkan nanti wapresnya juga ratu ulama".
Untuk membedah siapa yang dimaksud pemimpin atau rezim yang anti Islam dan anti ulama, mudah-mudahan dapat dicerna dengan baik oleh otak cebong, maka harus kembali kepada pengertian Islam nya, apa itu definisi Islam yang jâmi' dan mâni', dan harus bagaimana sikap muslim terhadap Islam ?
● Definisi Islam :
Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt kepada Rasululloh saw yang memiliki tiga macam aturan :
1- Aturan yang mengatur interaksi manusia dengan Pencipta manusia, seperti urusan aqidah dan ibadah mahdhah (ibadah murni).
2- Aturan yang mengatur interaksi manusia dengan dirinya sendiri, seperti urusan etika adab akhlak yang mengatur diri manusia dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang mengatur diri manusia di dalam rumah dan di luar rumah, yang mengatur diri manusia mulai dari naik sandal jepit sampai naik pesawat merpati, yang mengatur diri manusia sejak datang ke alam dunia sampai pergi meninggalkannya, dan
3- Aturan yang mengatur interaksi manusia dengan sesama manusia, seperti bagaimana cara manusia berkeluarga, berbisnis, bermuamalah, bermasyarakat, berpolitik, berbangsa sampai bernegara.
● Sikap seorang muslim terhadap Islam :
Sedang harus bagaimana sikap seorang muslim terhadap Islam ? Maka setiap muslim harus :
1- Menerima Islam apa adanya, tidak menambah-nambahnya yang dianggap bid’ah dan ghuluw (berlebihan, keterlaluan), juga tidak mengurangi dan membuang sebagian syariahnya sebagaimana ide ideologi sekularisme. Islam yang apa adanya itu seperti pada definisi diatas, yaitu Islam yang memiliki tiga macam aturan.
2- Meyakini dan menjadikan Islam sebagai Rahmatan Lil'alamin. Yaitu dengan menerapkan syariahnya untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara di seluruh dunia. Sehingga dunia seluruhnya dapat merasakan dan menikmati keadilan, keamanan dan kenyamanan yang mamancar dari penerapan Islam. Karena yang namanya rahmat itu mengayomi, melindungi dan memberi keadilan kepada semua yang dirahmati, dengan sistem aturan yang datang dari yang merahmati.
3- Masuk kedalam dîn Islam secara keseluruhan, udkhulû fis silmi kâffah (QS 2:208). Artinya harus menerapkan syariah Islam secara total, sempurna. Karena ber-Islam kaffah, menerapkan syariah Islam secara total, adalah syarat bagi Islam Rahmatan Lil'alamin. Tanpa ber-Islam kaffah, tidak akan pernah ada/ sempurna kerahmatan Islam bagi seluruh alam, bagi seluruh dunia.Karena itu, Islam Rahmatan Lil'alamin dan Islam Kaffah, keduanya laksana dua sisi keping mata uang, keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak menerima dipisahkan, keduanya harus diterapkan secara bersama.
Berbicara diterapkan, tentu harus ada yang menerapkan. Maka disinilah kebutuhan terhadap institusi yang menerapkannya adalah keniscayaan. Yaitu institusi yang menjadi bagian dari Islam itu sendiri, yaitu Khilafah. Ya khilafah. Hanya khilafah. Karena ketika institusi itu diadopsi dari luar Islam, maka terjadilah pengurangan yang sekular serta penambahan yang bid’ah dan ghuluw terhadap Islam, dan inilah penyebab hilangnya kerahmatan dari Islam.
● Setelah kita mengerti apa itu definisi Islam yang jâmi' (lengkap) dan mâni' (kokoh), dan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap Islam, maka bisa dimengerti siapa itu pemimpin / rezim yang anti Islam. Yaitu pemimpin/ rezim yang menolak penerapan syariah Islam secara total, melalui penegakkan khilafah rosyidah, serta mempersekusi dan mengkriminalisasi para pengemban dakwahnya, termasuk mencabut BHP HTI secara zalim, tanpa melalui proses pengadilan.
● Orang-orang yang dikeluarkan dari Islam :
Lebih dari itu, Rasulullah saw sendiri telah mengeluarkan dari golongannya, orang/ kelompok yang dakwah, berperang dan matinya hanya kepada/ atas dasar/ diatas fanatisme, yakni dikeluarkan dari golongan Islam, dari golongan kaum muslimiin, yaitu melalui sabdanya :
ليس منا من دعا إلى عصبية وليس منا من قاتل على عصبية وليس منا من مات على عصبية.  رواه أبو داود عن جبير بن مطعم
Laysa minnâ man da'â ilâ 'ashobiyyatin walaysa minnâ man qótala 'alâ 'ashobiyyatin walaysa minnâ man mâta 'alâ 'ashobiyyatin. Rowâhu abû dâwud 'an jubayr bin muth'im
"Bukan golongan kami, seseorang/ kelompok yang mengajak kepada fanatisme golongan atau kesukuan. Bukan golongan kami, seseorang/ kelompok yang berperang atas dasar fanatisme golongan atau kesukuan. Dan bukan golongan kami, seseorang/ kelompok yang mati diatas fanatisme golongan atau kesukuan". HR Abu Daud dari Jubair bin Muth'im ra.
Rasulullah saw juga telah mengeluarkan seseorang/ kelompok yang meniru-niru perilaku umat non muslim, yaitu dengan sabdanya :
ليس منا من تشبه بغيرنا ولا تشبهوا باليهود ولا بالنصارى. رواه الترميذي عن ابن عمرو
Laysa minnâ man tasyabbaha bighainâ walâ tasyabbahû bilyahûdi walâ binnashôrô. Rowâhu attirmîdzi 'anibni 'amrin
"Bukan golongan kami, seseorang/ kelompok yang meniru-niru sunnah selain golongan kami. Janganlah kalian meniru-niru kaum Yahudi dan jangan pula meniru-niru kaum Nasrani". HR. Tirmidzi dari Ibnu Amru ra. Dan hadits-hadits yang lainnya.
Termasuk mereka yang mengajak kepada fanatisme golongan atau kesukuan dan mereka yang meniru-niru selain sunnah Islam dan kaum muslimiin, yang dikeluarkan dari golongan Nabi saw, dari golongan kaum muslimiin, adalah mereka yang selama ini mengajak kepada penerapan ideologi kapitalisme dan ideologi komunisme dengan semua yang lahir dari keduanya seperti sistem pemerintahan demokrasi dan komunis. Karena bahaya fanatisme kepada ideologi kapitalisme dan komunisme atas Islam dan kaum muslimiin, atas bangsa dan negara, itu diatas bahaya fanatisme kepada golongan atau kesukuan.
● Tulisan ini juga berlaku untuk pemimpin/rezim yang anti ulama, yaitu pemimpin/ rezim yang memperkusi dan mengkriminalisasi ulama, yaitu ulama yang berdakwah kepada syariah Islam Rahmatan Lil'alamin, Islam Kâffah dan khilafah. Karena ulama yang dimaksud hanyalah ulama yang mengajarkan dan mendakwahkan Islam yang apa adanya sesuai yang telah datang dari Allah lalu dari Rasulullah saw sebagaimana diatas.
Dengan tulisan ini juga, dikeluarkan dari Islam Rahmatan Lil'alamin dan Islam Kaaffah, adalah kelompok Islam Moderat, Islam Kebangsaan, Islam Nusantara, Islam Kejawen, Islam Kebatinan, Islam Hakekat, Islam Sontoloyo, dsb.
Wallohu A’lamu bish-Shawâb. [].

Jumat, 11 Oktober 2019

BODOH BERLIPAT, JAHLUN MUROKKABUN, ORANG - ORANG YANG MENYAMAKAN HTI DENGAN PKI



Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kenapa disebut bodoh berlipat ? Karena tidak tahu hakekat HTI, tidak tahu hakekat PKI, tidak tahu titik temu antara HTI dan PKI dimana dengannya keduanya harus disamakan.

● Tidak tahu kalau HTI itu berakidah dan berayariah Islam, berideologi Islam yang melahirkan sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah, sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem uqûbat ( sanksi hukum ) Islam, dan sistem politik dalam dan luar negeri Islam yang bertumpu pada futuhat yang isinya adalah dakwah dan jihad untuk menebarkan keadilan dan kerahmatan Islam. Ingat, futuhat itu tidak sama dengan penjajahan.

Sementara PKI berakidah meterialisme (almadiyah) yang menganggap meteri adalah azali dan mengingkari adanya Allah Sang Khôkiq, berideologi komunisme yang malahirkan sistem pemerintahan komunis, sistem ekonomi komunis bareng-bareng plus kapitalis, sistem pendidikan komunis yang menganggap agama adalah candu masyarakat yang merusak dan harus dibuang jauh-jauh, sistem pergaulan komunis yang bebas gaul antara laki-laki dan perempuan, bahkan untuk membuat anak bareng-bareng, sistem sanksi hukum komunis yang jauh dari keadilan Tuhan dan sesuai hawa nafsu manusia, dan sistem politik dalam dan luar negeri komunis yang standarnya hanyalah mencari manfaat dan keuntungan dunia dengan menekankan terhadap penjajahan ekonomi, tidak berbeda dengan ideologi kapitalisme yang berkarakter menjajah, tapi dengan semua bentuk penjajahan.

● Tidak tahu kalau HTI itu memakai dalil-dalil syar'iy atau hikum-hukum Allah dalam semua pemikiran ideologinya dan dalam semua yang memancar dari ideologinya. Dalil-dalil syar'iy itu adalah Alqur'an, Assunnah, Alijmak dan Alqiyas. Dalil-dalil syar'iy bagi HTI itu bukan kedok untuk meraih kekuasaan, dan bukan tipuan untuk meraih dukungan dari kaum muslimin, sebagaimana dituduhkan oleh kaum Aswaja Sekular dll. yang sok tahu.

Sementara PKI itu dalam semua pemikiran ideologinya dan dalam semua yang memancar dari ideologinya hanya memakai dalil akal-akalan hawa nafsu angkara murka manusia yang mengingkari keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Yang Ahad, Allah Alkhôliq. Maka bagi PKI hukum Allah itu tidak ada. Wong Tuhannya saja tidak ada, apalagi hukum-Nya. Menurut hemat penulis, orang-orang komunis itu bukan tidak bertuhan, tetapi salah dalam menemukan tuhan. Karena mereka justru mempertuhankan para pembesarnya sampai ada yang dijadikan patung.

● Tidak tahu kalau HTI itu tujuan politiknya adalah untuk meraih kekuasaan untuk menerapkan ideologi Islam dengan semua yang berkembang atau memancar dari padanya; untuk melanjutkan kehidupan Islam. Yakni menjadikan hukum-hukum Allah bisa diterapkan (ditathbîq) dan dilaksanakan (ditanfîdz) untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara. Jadi kehidupan kaum Muslimiin, baik pribadi, bermasyarakat maupun bernegara, semuanya diatur dengan hukum-hukum Allah, yakni dengan syariat Islam.

Sementara PKI tujuan politiknya semata-mata untuk meraih kekuasaan untuk menerapkan ideologi komunisme dengan semua yang berkembang atau memancar dari padanya. Dimana kehidupan, masyarakat dan negara semuanya diatur dengan hukum-hukum produk hawa nafsu manusia ankara murka dan jauh dari hukum-hukum Allah Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ahad, Allah Alkhôliq.

● Tidak tahu kalau metode politik meraih kekuasaan HTI itu dengan revolusi pemikiran, dengan dakwah tanpa kekerasan. Karena revolusi pemikiran itu telah ditempuh oleh Rasulullah SAW bersama sahabat. Revolusi pemikiran itu dalam mengenalkan Islam sampai kepada dakwah menegakkan daulah islamiyah yang disebut sebagai pase mekkah. Setelah daulah islamiyah tegak, baru dimulailah jihad fi sabilillah, dalam rangka menyebarkan keadilan islam, yang disebut sebagai futuhat yang isinya adalah dakwah dan jihad. Jihad itu untuk mengawal dan melindungi dakwah ketika berhadapan dengan kekuatan fisik.

HTI juga kalau teliti dari sumbernya yang orisinil milik Hizbut Tahrir, bukan dari qîla wa qôla, telah dan sedang meneladani metode dakwah Rasulullah SAW pada pase mekkah. Yaitu melakukan revolusi pemikiran, dari pemikiran yang memancar dari ideologi kapitalisme dan sosialisme komunisme, menuju pemikiran yang memancar dari ideologi Islam semata. Dakwah HTI itu tanpa memakai kekerasan pisik. Sampai khilafah benar-banar tegak. Setelah khilafah tegak nanti, masalah futuhat yang isinya dakwah kepada Islam Kaffah dan jihad fi sabîlillah untuk meninggikan agama-Nya dan untuk menebarkan keadilan Islam, sudah bukan urusan dan tugas Hizbut Tahrir lagi, tetapi sudah menjadi urusan dan tugas khalifah dalam khilafah nya.

Sementara fakta metode politik meraih kekuasaan PKI diberbagai negara komunis, adalah dengan revolusi fisik dan berdarah, dimana sebelum revolusi itu berlangsung, metode adudomba, menyebar hoax dan fitnah adalah lazim dilakukan oleh partai komunis manapun, seperti oleh PKI atau PKC. Setelah negara komunis berdiri, semua produk hukum dan undang - undang yang memancar dari agama akan dihapus dan digantikan dengan hukum dan undang - undang produk hawa nafsu manusia yang atheis, umat beragama tambah dipaksa meninggalkan agamanya, dihalangi ibadahnya, dianiaya, dizalimi, dipersekusi, dieksekusi, sampai direnggut nyawanya secara sadis, sebagaimana terjadi atas muslimiin Uighur di negara komunis Cina.

● Tidak tahu bahwa menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, baik keseluruhannya maupun sebagiannya, harus dengan titik temu yang dominan yang mencakup keseluruhannya untuk menyamakan keseluruhan atau sebagiannya untuk menyamakan sebagian. Dan titik temu itu bukan karakter alamiah dan natural. Sementara titik temu tersebut antara HTI dan PKI itu tidak ada, selain karakter yang bersifat alamiah dan natural, seperti mengumpulkan massa dalam unjukrasa atau demo. Penyamaan dengan titik temu yang alamiah dan natural itu seperti menyamakan manusia dengan monyet atau babi, karena sama punya jari lima, dua mata, satu mulut, suka pisang dll.

Terkait penyamaan HTI dengan PKI, baik secara keseluruhan maupun sebagiannya, harus dengan titik temu yang dominan dan mendasar berupa akidah dengan syariahnya, atau ideologi dengan semua yang berkembang atau memancar dari padanya, metode yang dipakai untuk menerapkan ideologi, juga tujuan dari politik meraih kekuasaan yang akan menerapkan ideologinya. Sedang teknis, sarana dan prasarananya itu tidak termasuk titik temu yang dominan dan mendasar, karena termasuk perkara alamiah dan natural. Dan semuanya itu, sebagaimana telah dijelaskan diatas, tidak ada satupun yang sama dan bisa menjadi titik temu untuk penyamaan, semuanya saling kontradiksi antara punya HTI dan punya PKI.

● Tidak tahu kalau sistem pemerintahan Islam yang ditawarkan HTI untuk kebaikan Indonesia bahkan dunia, adalah lebih baik dari semua sistem pemerintahan yang di dunia saat ini, adalah lebih baik dari sistem demokrasi dengan berbagai jenisnya dan komunis - sosialis dengan berbagai coraknya, karena khilafah itu datang dari Dzat Pemilik bumi nusantara bahkan pemilik dunia seluruhnya. Allah Tuhan yang telah menciptakan kehidupan, bumi dan manuisa, maka hanya Allah lah yang berhak mengatur dan memerintah terhadap kehidupan, bumi dan manusia, melalui khalifah sebagai wakil-Nya, khalifah sebagai kepemimpinan kaum umum bagi kaum muslimiin diseluruh dunia, untuk mengatur dan memerintah kehidupan, bumi dan manusia dengan syariat-Nya. Kalau kita yakin bahwa khilafah adalah ajaran Islam yang datang dari Allah,  maka kita yakin Indonesia dan dunia akan menjadi baik dan barokah diatur dengan khilafah. Karena hanya Allah Yang Maha tahu dengan karakter kehidupan, bumi dan manusia.

Sementara sistem pemerintahan komunis dan lainnya, hanyalah datang dari angan-angan manusia yang dikuasai oleh syahwat hawa nafsu angkara murka yang penuh dengan kepentingan duniawinya, manusia yang tidak mampu mengetur dirinya sendiri, manusia yang tidak tahu dengan semua organ tubuhnya serta rahasia kehidupan yang tersimpan didalamnya, manusia yang tidak tahu berapa jumlah bulu kumisnya apalagi dengan bulu kepalanya. Jadi untuk mengatur dirinya sendiri saja tidak mampu, bagaimana mampu mengatur bumi nusantara yang didalamnya terdapat ratusan juta manusia yang beragam kepentingannya. Jelas sampai kapanpun sistem pemerintahan selain khilafah tidak akan mampu mengatur bumi nusantara ini. Justru selain khilafah memiliki karakter merusak terhadap bumi nusantara dan manusia di dalamnya.

● Jadi orang-orang atau kelompok yang telah, sedang dan terus menyamakan HTI dengan PKI, mereka adalah orang - orang atau kelompok yang layak disematkan kepada mereka narasi bodoh berlapis, jahlun murokkabun. Karena jurang perbedaan antara HTI dan PKI sangat menganga seperti antara langit dan bumi, antara barat dan timur. Dipandang dari sisi manapun dan sampai kapanpun HTI dan PKI tidak bisa disamakan, kecuali bagi mereka yang tidak bisa membedakan antara manusia dan monyet karena sama punya satu mulut, satu hidung, dua mata, dua telinga, dan suka pisang. Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].

Rabu, 09 Oktober 2019

SYAIKH TAQIYYUDDIN MANTAN ANGGOTA PARTAI KOMUNIS ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Para pemulung sampah pemikiran itu terus berjalan mencari tempat-tempat dimana sampah-sampah itu dibuang lalu mereka mengorek-orek mencari sesuatu barang kali ada yang bisa dijadikan alat untuk menyerang seseorang atau kelompok pemilik pemikiran legal formal yang dianggap sebagai musuhnya, bahkan untuk membunuhnya sekalipun, karena untuk memiliki alat yang legal formal mereka sudah tidak berdaya kehabisan modal, dan karena dipakai untuk kejahatan sulit juga menemukan penjualnya kecuali barang palsu. Diantara mereka adalah seseorang bergelar Singa Aswaja Alkadzdzâb Idrus Ramli, ia telah dan selalu memakai alat yang dipungutnya dari tempat pembuangan sampah pemikiran, ia berkata :

"... latar belakang an-Nabhani yang terlibat dalam partai komunis marxis menyisakan satu pemikiran yang dia tuangkan kedalam partai HT yang didirikannya. Dalam beberapa bagian karyanya as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (seperti hal. 43, 71 dan 91), secara vulgar an-Nabhani mengadopsi ideologi Mu'tazilah yang tidak mempercayai qadha' dan qadar Allah swt. Rukun iman yang seharusnya ada enem, direduksinya (dikurangi) menjadi lima. Apabila ideologi komunis tidak mempercayai adanya Tuhan apalagi qadha dan qadar Tuhan, maka HTI mempercayai Tuhan tetapi tidak mempercayai qadha dan qadar yang menjadi salah satu sifat kesempurnaan Tuhan". (Majalah IJTIHAD, Onim Madrasah Miftahul Ulum Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri, edisi 28 / Th XV / Robiul Awal-Rajab / 1429 H, hal. 7).

BANTAHAN :

● Syaikh Taqiyyuddin Mantan Anggota Partai Komunis?
Terkait dengan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang dituduh sebagai mantan anggota partai komunis marxis, maka saya tidak menemukan hal ini dari kitab-kitab yang menjelaskan biografi Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani seperti kitab Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wamanhajuhu Fi Iqamati Daulatil Khilafatil Islamiyyah, karya Muhammad Muhsin Radhi yang cukup lengkap dan kitab Tarjamatusy Syaikhi Muhammad Taqiyyuddin an-Nabhani, karya al-Alamah asy-Syaikh 'Izzuddin Hisyam Ibn Abdul Karim Ibn Shalih al-Badroni al-Husaini al-Mushili.

Dan untuk membuktikan bahwa tuduhan itu dusta, justru beliau Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah menulis kitab berjudul Naqdhul Isytirokiyyatil Markisiyyah (Bantahan Terhadap Sosialisme Marxisme). Kitab ini telah di-Indonesiakan oleh syabab Hizbut Tahrir Drs. Hafid Abdurrahman MA. Setelah pembaca membaca kitab tersebut, maka pembaca akan mengetahui bahwa tuduhan diatas adalah dusta dan bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani sangat anti komunis, oleh karena itu beliau membongkar kesalahan ideologi komunis beserta sistem-sistemnya.

Ada sebuah cerita dari syabab Timur Tengah, ketika ia sedang duduk-duduk bersama Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, maka datanglah teman syabab itu. Lalu syabab itu bertanya kepada temannya; "Kapankah anda mau berjuang bersama kami?". Lalu temannya itu menjawab; "Saya baru datang dari suatu tempat dan disana saya minum khamer bersama Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, ini mulut saya masih bau khamer!". Lalu syabab itu bertanya kepada temannya; "Apakah anda bersama orang ini?". Temannya menjawab; "Tidak!". Lalu syabab itu berkata; "Ini adalah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani". Lalu temannya itu tertunduk malu.

Jadi kalau memang tuduhan itu benar, bisa saja yang mantan anggota partai komunis itu Taqiyyuddin yang lain yang namanya sama, atau orang yang ngaku-ngaku sebagai Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, atau tuduhan itu hanyalah dusta dan fitnah, karena berdusta dan memitnah itu sangat mudah bagi pendusta dan pemitnah seperti halnya Idrus Ramli, karena berdusta dan memitnah itu tidak butuh ilmu, tinggal apa yang ada di dalam otaknya yang terselimuti hawa nafsu dusta dan fitnah tinggal diucapkan atau dituliskan. Kalaupun ada rujukannya, maka kepanjangan dari rujukan yang dusta dan fitnah adalah ya dusta dan fitnah.  

● Rukun Iman Ada Lima ?

Ini adalah murni dusta dan fitnah dari Idrus Ramli. Padahal dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyyah juz I hal. 43 sebagaimana dituduhkan di atas redaksinya sebagai berikut :
هذه هي الأمور التي يجب الإيمان بها وهي خمسة أمور: الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن أيضا بالقضاء والقدر ولا يطلق الإيمان بالإسلام على الشخص ولا يعتبر مسلما إلا إذا آمن بهذه الخمسة جميعها وآمن بالقضاء والقدر...
"Ini adalah sejumlah perkara yang wajib diimani, yaitu lima perkara: Iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya dan Hari Akhir, dan juga beriman kepada Qadha dan Qadar. Dan tidak dikatakan Iman kepada Islam atas seseorang dan tidak pula ia dianggap sebagai muslim, kecuali ketika ia telah beriman kepada lima perkara ini, semuanya, dan beriman kepada Qadha dan Qadar…".

Redaksi itu sebenarnya sama dengan redaksi hadis berikut :
"... قال فأخبرني عن الإيمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره... رواه مسلم عن عمر رضي الله عنه
"…Jibril berkata: "Terangkan kepadaku tentang Iman!", Nabi saw bersabda: "Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya dan Hari Akhir, dan beriman kepada Qadar baik dan buruknya…".HR Muslim dari 'Umar ra.

Pada hadis ini Nabi saw pertama kali menuturkan lima perkara yang wajib diimani lalu menambah satu lagi dengan mengathafkan kata tu'minu kepada kata tu'minu yang pertama dengan memakai hurf 'athaf waawu. Ini sama dengan redaksi kitab Shakhshiyyah diatas. Jadi lima ditambah satu sama dengan enam. Coba dimana letak kesalahannya?

Juga di halaman yang lain Syaikh Taqiyyuddin menegaskan :
العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله و ملآئكته و كتبه و رسله واليوم الآخر و بالقضاء والقدر خيرهما شرهما من الله تعالى {الشخصية الإسلامية : ج1، ص: 29}.
"Akidah Islam ialah beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt".

Dan beliau menegaskan :
فالإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقضاء والقدر خيرهما وشرهما من الله تعالى هو العقيدة الإسلامية. والإيمان بالجنة والنار والملائكة والشياطين وما شاكل ذلك هو من العقيدة الإسلامية. والأفكار وما يتعلق بها والأخبار وما يتعلق بها من المغيبات التي لا يقع عليها الحس يعتبر من العقيدة {المرجع السابق، ص: 195}.
"Jadi beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha dan qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt adalah akidah islamiyyah. Beriman kepada surga, neraka, syetan dlsb. Adalah termasuk akidah Islam. Dan pemikiran-pemikiran dan yang terkait dengannya, dan berita-berita dan yang terkait dengannya dari sejumlah perkara ghaib yang tidak tersentuh oleh indra semuanya tergolong akidah Islam".

Jadi dalam pandangan Hizbut Tahrir dan Syaikh Taqiyyuddin sudah sangat jelas bahwa rukun iman itu ada enam, tidak  dikurangi menjadi lima. Oleh karena itu juga sudah sangat jelas bahwa Idrus Ramli adalah pendusta dan tukang fitnah. Kalaupun ada perbedaan pemikiran terkait Qadha dan Qadar itu hal biasa, karena ulama lainpun berbeda dalam hal tersebut. Yang penting intinya sama yaitu rukun iman ada enam. Sebagaimana kita punya tujuan bersama kumpul di satu titik, Gelora Bung Karno misalnya. Jalan dan kendaraan boleh berbeda, yang penting sama dalam berkumpul di satu titiknya. Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].

Senin, 07 Oktober 2019

SYAIKH TAQIYYUDDIN BODOH TIDAK LULUS STUDI DI AL AZHAR ?

Menyingkap dusta dan fitnah Singa Aswaja Alkadzdzâb Idrus Ramli terhadap Syaikh Taqiyyuddin Anabhani dan Hizbut Tahrir yang didirikannya.
Idrus Ramli berkata :

"... masa lalu an-Nabhani yang pernah tidak lulus dalam studinya di Universitas al-Azhar karena hasil ujiannya yang buruk, sangat berpengaruh terhadap pemikiran HT. Tidak jarang an-Nabhani sendiri dan petinggi-petinggi HT yang lain mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial dan keluar dari al-Qur'an dan Hadis, seperti pandangan HT yang tidak mempercayai siksa kubur, fatwa bolehnya jabatan tangan dengan wanita ajnabiyyah, fatwa bolehnya qublat al-muwada'ah (ciuman selamat tinggal) dengan wanita ajnabiyyah sehabis pertemuan semisal acara-acara seminar, pelatihan dan lain-lain".  

BANTAHAN :

● Syaikh Taqiyyuddin Bodoh Tidak Lulus Studi Di Al-Azhar?

Al-'Alamah Syiakh 'Izzuddin Hisyam Ibn Abdul Karim Ibn Shalih al-Badroni al-Husaini al-Mushili dalam risalahnya Tarjamatus Syaikh Muhammad Taqiyyuddin an-Nabhani rh menuturkan ;

"Muhammad Taqiyyuddin Ibn Ibrahim Ibn Mushthafa Ibn Ismail Ibn Yusuf an-Nabhani. Nisbatnya kepada kabilah Bani Nabhan dari Arab Baduwi di Palestina. Sedangkan ibunya adalah bintu Yusuf Ibn Ismail Ibn Yusuf an-Nabhani. Ibunya berdomisili di kabilah Bani Nabhan di desa Ijzim wilayah Haifa bagian utara Palestina. Beliau Muhammad Taqiyyuddin lahir pada tahun 1909 M. di desa Ijzim. Beliau Muhammad Taqiyyuddin tumbuh di gudang ilmu dan agama. Ayahnya Syaikh Ibrahim Ibn Mushthafa adalah mudarris (guru) ilimu-ilmu agama di kementrian pendidikan Palestina. Ibunya adalah ahli dengan perkara-perkara agama yang telah diterimanya dari ayahnya Syaikh Yusuf Ibn Ismail Ibn Yusuf an-Nabhani seorang faqih, qadhi, penyair, sastrawan, salah seorang ulama terkemuka pada era Daulah 'Utsmaniyyah. Dalam biografi Syaikh Yusuf an-Nabhani ulama berkata; "Yusuf Ibn Ismail Ibn Yusuf Ibn Hasan Ibn Muhammad an-Nabhani as-Syafi'iy Abul Mahasin, sastrawan, penyair, shufiy, termasuk qadhi terkemuka……………".

● Muhammad Muhsin Radhi dalam tesisnya Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wa Manhajuhu Fi Iqamatid Daulatil Khilafatil Islamiyyah hal. 22, 23 dan 24 menuturkan bahwa "Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dilahirkan di desa Ijzim pada tahun 1909 M atau 1910 M. Beliau tumbuh di gudang ilmu dan agama (baitu ilmin wa dinin), di mana ayahnya Syaikh Ibrahim an-Nabhani adalah Syaikh yang ahli ilmu agama dan bekerja sebagai guru ilmu-ilmu agama di kementrian pendidikan Palestina. Ibunya juga termasuk ahli dalam ilmu-limu agama yang telah diperolehnya dari ayahnya, Syaikh Yusuf an-Nabhani yang termasuk salah satu ulama terkenal pada era Daulah 'Utsmaniyyah. As-Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah menerima dasar-dasar ilmu agama dari ayah dan kakeknya secara langsung. Beliau telah menghapal Al-Qur'an di luar kepala sebelum memasuki umur 13 tahun ...". ( Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wa Manhajuhu Fi Iqamatid Daulatil Khilafatil Islamiyyah hal. 22, 23).

Terkait dengan tuduhan bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani tidak lulus dalam studinya di Universitas al-Azhar karena hasil ujiannya yang buruk, Muhammad Muhsin Radhi berkata :
نال الشيخ تقي الدين النبهاني عدة شهادات، هي شهادة الغرباء من الثانوية الأزهرية، ودبلوم في اللغة العربية وآدابها من كلية دار العلوم في القاهرة، وحصل من المعهد العالي للقضاء الشرعي التابع للأزهر على إجازة في القضاء، وتخرج من الأزهر عام 1932 م حاصلا على الشهادة العالمية في الشريعة
"Syaikh Taqiyyuddin Anabhani memperoleh banyak ijazah, yaitu :
1- Ijazah Alghuroba' dari Tsanawiyah Al Azhar,
2- Ijazah diploma bahasa dan sastra Arab dari pakultas Dârul 'Ulûm Cairo,
3- Ijazah di bidang peradilan agama dari Ma'had Aly untuk peradilan agama cabang Al Azhar, dan 4- Dan  beliau lulus dari Al Azhar tahun 1932 M dan mendapat ijazah alamiyyah di bidang syariah".
(Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wa Manhajuhu Fi Iqamatid Daulatil Khilafatil Islamiyyah hal. 24).

Demikian juga, As-Syaikh Fathi Muhammad Salim penulis buku al-Istidlal biz-Zhanni fil Aqidah menuturkan bahwa "Al-'Allamah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh. telah lahir dari gudang ilmu (baitul ilmi). Kakeknya as-Syaikh Yusuf an-Nabhani adalah ulama besar di era Khilafah 'Utsmaniyyah. Beliau, al-'Allamah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah mendapatkan pendidikan agama Islam dari sebuah keluarga yang islami. Kemudian beliau berpindah ke al-Azhar dan belajar di sana, dan beliau telah memperoleh 4 ijazah :

1- Ijazah al-Ghuraba' dari tsanawiyah al-Azhar
2- ijazah diploma bahasa dan sastra Arab dari pakultas Dârul 'Ulûm Cairo
3- Ijazah di Bidang Peradilan
4- Ijazah al'Alamiyyah (saat ini setara dengan ijazah doktor).

Beliau kemudian kembali ke Palestina dan aktif dalam tugas di bidang pendidikan. Setelah itu, beralih ketugas di bidang peradilan dan aktif  di Mahkamah Tinggi di sana".  

Belakangan juga telah populer, bahwa Universitas Al Azhar telah mempublikasikan memorial terkait daftar tokoh-tokoh berpengaruh dari Al Azhar, dan diantaranya adalah Syaikh Taqiyyuddin Anabhani rh serta kakeknya Syaikh Yusuf Anabhani rh.

● Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani Mengeluarkan Fatwa Yang Keluar Dari Al-Qur'an Dan Hadis?

Subhanallah! Ini adalah tuduhan yang sangat konyol yang menunjukkan betapa bodohnya sipenuduh dengan kitab-kitab Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, baik yang telah diadopsi oleh Hizbut Tahrir atau yang tidak diadopsi. Karena kitab-kitab itu semuanya dipenuhi dengan dalil-dalil syar'iy, baik Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijmak maupun qiyas, dan dengan metode istinbath yang syar'iy, serta memuaskan akal dan menentramkan hati. Atau dia hanya berpura-pura bodoh, dengan tujuan jahat, untuk merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi terhadap Hizbut Tahrir, untuk menjauhkan umat dari Hizbut Tahrir, kemudian dari Islam Kâffah dan sistem pemerintahan Islam Khilafah. Biasanya orang yang berani dengan sengaja melakukan hal tersebut adalah orang yang telah menjadi agen Barat yang kafir, atau telah termakan oleh agen Barat. Dan indikasi kesana telah ada, yaitu setelah Idrus Ramli diajak jalan-jalan gratis ke Eropa dan Amerika otaknya berubah terhadap Hizbut Tahrir.

● Inilah daftar kitab-kitab Syaikh Taqiyyuddin Anabhani rh yang dipenuhi dalil-dalil syar'iyyah dengan metode istinbath yang syar'iy, yang harus dibaca, dikaji dan diteliti, apakah benar seperti dikatakan oleh Idrus Ramli :

1. Nizham al-Islam (sistem Islam)
2. Al-Takattul al-Hizbi (pembentukan partai politik)
3. Mafahimu Hizbal-Tahrir (konsepsi Hizbut Tahrir)
4. Al-Nizham al-Iqtishad fi al-Islam (sistem ekonomi Islam)
5. Al-Nizham al-Ijtima’iy fi al-Islam (sistem pergaulan Islam)
6. Nizham al-Hukmi fi al-Islam (sistem pemerintahan Islam)
7. Al-Dustur (undang-undang dasar)
8. Muqaddimah al-Dustur (pengantar undang-undang dasar)
9. Al-Daulah al-Islamiyyah (negara Islam)
10. Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, tsalatsata ajza’in (kepribadian Islam, tiga juz)
11. Mafahim Siyasiyyah li Hizb al-Tahrir (konsepsi politik Hizbut Tahrir)
12. Nazharat siyasiyyah (pandangan politik)
13. Nidaun Haar (seruan hangat)
14. Al-Khilafah (khilafah)
15. Al-Tafkir (metode berpikir)
16. Al-Kurrasah (buku catatan)
17. Sur’atul Badihah (secepat kilat)
18. Nuqthatul Inthilaq (titik permulaan)
19. Dukhulul Mujtama’ (terjun ke masyarakat)
20. Inqazhu Falesthin (menyelamatkan Palestina)
21. Risalatu ‘Arab (risalah Arab)
22. Tasalluhu Mishra (mempersenjatai Mesir)
23. Al-Ittifaqiyat al-Tsunaiyyah al-Mishriyyah al-Suriyyah wa al-Yamaniyyah
24. Hallu Qadhiyyati Falesthina ‘ala Thariqati al-Amriqiyyah wa al-Inkiliziyyah
25. Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla (politik ekonomi ideal)
26. Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah (bantahan terhadap sosialisme marxisme)
27. Kaifa Hudhimat al-Khilafah (bagaimana khilafah dihancurkan)
28. Nizham al-‘Uqubat (sistem persanksian)
29. Ahkam al-Bayyinat (hukum pembuktian)
30. Ahkam al-Shalat (hukum-hukum shalat)
31. Naqdh al-Qanun al-Madani (bantahan terhadap undang-undang sipil)
32. Al-Fikru al-Islami (pemikiran Islam), dll.

Dan untuk mempermudah penyebaran kitab Kaifa Hudhimat al-Khilafah, Nizham al-‘Uqubat, Ahkam al-Bayyinat, Ahkam al-Shalat, al-Fikru al-Islami Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla, Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah, dan Naqdhu al-Qanun al-Madani, ditulis atas nama syabab Hizbut Tahrir. Dan masih ada ribuan nasyrah pemikiran, politik dan ekonomi yang telah ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani RH.
(Muhammad Muhsin Radhi, Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamati Daulati al-Khilafati al-Islamiyyati, dengan pengawasan Prof. Dr. Walid Ghafuri al-Badri, hal. 28, Wizarah al-Ta’lim al-Ali wa al-Bahtsi al-Ilmi al-Jami’ah al-Islamiyyah / Kulliyyah Ushuluddin, Oktober 2006).
Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].

Sabtu, 05 Oktober 2019

BENARKAH MENGKRITIK PENGUASA DI MUKA UMUM HUKUMNYA HARAM DAN TERMASUK GHIBAH ?

Oleh : KH. Muhammad Shiddiq Al Jawi

Mengkritik penguasa di muka umum hukumnya boleh dan tidak termasuk ghibah yang dilarang dalam Islam. Dalilnya ada dua yaitu Pertama, dalil mutlak tentang mengenai kritik terhadap penguasa. Kedua, adanya dalil-dalil bahwa mengkritik penguasa yang zalim tidaklah termasuk ghibah yang diharamkan dalam Islam.

Dalil pertama, adalah dalil-dalil mutlak mengenai amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa. Misalnya sabda Nabi Saw, “Seutama-utamanya jihad adalah menyampaikan kalimat yang haq kepada penguasa (sulthan) atau pemimpin (amiir) yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dalil ini mutlak, yakni tanpa menyebut batasan tertentu mengenai cara mengkritik penguasa, apakah mengkritik secara terbuka atau tertutup. Maka boleh hukumnya mengkritik penguasa secara terbuka, berdasarkan kemutlakan dalil tersebut, sesuai dengan kaidah ushuliyah: al-ithlaq yajri ‘ala ithlaqihi maa lam yarid dalil yadullu ‘ala al-taqyiid (dalil mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan batasan/syarat). (M. Abdullah Al-Mas’ari, Muhasabah Al Hukkam, hlm.60)

Bolehnya mengkritik secara terbuka juga diperkuat dengan praktik para sahabat Nabi Saw, yang sering mengkritik para khalifah secara terbuka.
Diriwayatkan dari Ikrimah ra. khalifah Ali bin Thalib ra. telah membakar kaum zindiq, berita ini sampai kepada Ibnu Abbas ra. maka berkatalah beliau, “Kalau aku, niscaya tidak akan membakar mereka karena Nabi Saw telah bersabda, “Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah (api).” dan niscaya aku akan membunuh mereka karena sabda Nabi Saw, “Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR Bukhari no. 6524)

Hadits ini jelas menunjukkan Ibnu Abbas telah mengkritik Khalifah Ali bin Thalib secara terbuka di muka umum. (Ziyad Ghazzal, Masyu’ Qanun Wasa’il Al-I’lam Ad-Daulah Al-Islamiyah, hlm.25).

Adapun dalil kedua, adalah dalil bahwa mengkritik penguasa yang zalim tidak termasuk ghibah yang diharamkan Islam. Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin telah menjelaskan banyak hadits Nabi Saw yang membolehkan ghibah-ghibah tertentu sebagai perkecualian dari asal hukum ghibah (haram).

Misalnya, hadits dari A’isyah ra. Bahwa seorang laki-laki minta izin kepada Nabi Saw, kemudian Nabi Saw. bersabda, “Berilah izin kepada orang itu, dia adalah orang yang paling jahat di tengah-tengah keluarganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan Nabi SAW, telah melakukan ghibah, yaitu menyebut nama seseorang di hadapan umum lantaran kejahatan orang itu.

Berdasarkan dalil-dalil semacam ini, para ulama telah menjelaskan bahwa ghibah dihadapan umum kepada orang yang jahat, termasuk juga penguasa yang zalim, hukumnya boleh. Imam Ibnu Dunya meriwayatkan pendapat Ibrahim An-Nakha’i (seorang tabi’in) yang berkata, “Ada tiga perkara yang tidak dianggap ghibah oleh mereka (para sahabat), yaitu; imam yang zalim, orang yang berbuat bid’ah, dan orang fasik yang terang-terangan dengan perbuatan fasiknya.” Hasan Al-Bashri (seorang tab’in) juga berkata, “Ada tiga orang yang boleh ghibah padanya, yaitu; orang yang mengikuti hawa nafsu, orang fasik yang terang-terangan dengan kefasikannya, dan imam yang zalim.” (Ibnu Abi Dunya, Al-Shumtu wa Adabul Lisan, hlm. 337 & 343).

Memang ada ulama yang mengharamkan mengkritik pemimpin secara terbuka berdasarkan hadits Iyadh bin Ghanam, bahwa Nabi Saw. bersabda, "Barangsiapa hendak menasihati penguasa akan suatu perkara, janganlah dia menampakkan perkara itu secara terang-terangan, tapi peganglah tangan penguasa itu dan pergilah berduaan dengannya. Jika dia menerima nasihatnya, itu baik, kalau tidak, orang itu telah menunaikan kewajibannya pada penguasa itu.” (HR Ahmad, Al-Musnad, Juz III no.15369).

Namun hadits ini dha’if (lemah) sehingga tidak boleh dijadikan hujjah (dasar hukum) karena dua alasan: (1) sanadnya terputus (inqitha’), dan (2) ada periwayat hadits yang lemah, yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Ayyaasy. (M. Abdullah Al-Mas’ari, Muhasabah Al-Hukkam, hlm. 41-43). Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.