Senin, 23 September 2019

AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH ADALAH ALMUTTAQÚN

Bismilaahir Rohmaanir Rohiim

Sesungguhnya Ahlussunnah Waljama’ah sebagai Sawad A'zhom yang Firqah Nâjiyah, kelompok yang pada hari kiamat selamat, ketika melintas diatas shiroth mustaqim, tidak tergelincir ke dalam neraka Jahanam, mereka adalah Almuttaqûn, orang-orang yang bertakwa. Bukan orang-orang kafir,  zhalim dan fasiq, apalagi munafiq. Karena surga itu hanya disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, Almuttaquun, u'iddat lilmuttaqiin. Karenanya, Ahlussunnah Waljamaah yang Firqoh Naajiyyah adalah Almuttaquun.

●Definisi Taqwa :

Definisi taqwa yang sangat populer, karena biasa disampaikan oleh setiap khotib Jum'at, ialah :
امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه
Imtitsâlu awâmirillâhi wajtinâbu nawâhihi
"Melaksanakan perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya".

Dari definisi taqwa diatas, tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan melaksanakan perintah Allah, tanpa menjauhi larangan-Nya. Tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan mengejar pahala dan fadhilah, tanpa menjauhi dosa dan sia-sia. Tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan mengejar surga, tanpa menjauhi neraka. Tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan menyembah Allah, tanpa menjauhi thaghut tandingan Allah.
Taqwa yang demikian itu harus ada di dalam kehidupan, masyarakat dan negara. Taqwa ini tidak cukup hanya di dalam kehidupan privat, tanpa ada di kehidupan publik. Taqwa ini tidak cukup hanya di dalam kehidupan publik, tanpa ada di kehidupan negara. Rasululloh SAW sendiri ketika menyuruh sahabat agar bertakwa, dengan taqwa yang mencakup semua lini kehidupan.

Beliau SAW bersabda :
اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن. رواه الترمذي وقال: حديث حسن، وفي بعض النسخ: حسن صحيح
Ittaqillâha haitsumâ kunta, wa atbi'is sayyiatal hasanata tamhuhâ, wa khôliqin nâsa bi khuluqin hasanin
"Bartaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan maka menghapusnya, dan perlakukan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik". (Hadits Arba'în Nawawi ).

Maksud hadits :
1- Bertaqwalah, di zaman manapun kamu ada, di tempat manapun kamu ada, dan dalam kondisi apapun kamu ada.
2- Di zaman manapun ada keburukan, gantilah dengan kebaikan. Di tempat manapun ada keburukan, gantilah dengan kebaikan. Dan dalam kondisi apapun ada keburukan, gantilah dengan kebaikan.
3- Di zaman manapun, di tempat manapun, dan dalam kondisi apapun, perlakukan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik.
Sedang khuluq yang baik adalah Alqur'an. Aisyah ra berkata :
كان خلق رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القرآن
Kâna khuluqu rosûlillahi shollallôhu 'alaihi wasallama alqur'ana
"Khuluq Rasulullah SAW adalah Alqur'an".

Jadi Rasulullah SAW telah menyuruh agar manusia di zaman manapun, di tempat manapun dan dalam kondisi apapun diperlakukan dengan Alqur'an. Itulah hakekat taqwa harus menjadikan Alqur'an sebagai pedoman dan aturan kehidupan, masyarakat dan negara.

●Ahlussunnah Waljama’ah, dalam kehidupan privatnya, mereka menegakkan shalat dan ibadah-ibadah wajib yang lainnya, serta menjauhi riya (ingin dilihat) dan sum'ah (ingin didengar). Mereka rajin datang ke masjid, serta menjauhi masjid dhirór, yaitu masjid yang takmir (pengurus)nya mengganggu dan menyakiti tetangga-tetangga di sekitarnya, baik tetangga yang di dalam atau yang di luar masjid, dengan suara-suara bacaan Alqur'an, dzikir dan doa setelah shalat, dimana semuanya dengan suara keras yang menyengat gendang telinga dan sangat menyakiti. Mereka, Ahlussunnah Waljama’ah membaca Alqur'an, berdzikir dan berdoa dengan suara jiwa, rendah hati, suara samar, tidak berlebihan, tidak merusak suasana lingkungan yang tenang dan tentram, dan dengan ihsân, berbuat baik, baik sebelum berdzikir dan berdoa, ketika berdzikir dan berdoa, atau sesudah berdzikir dan berdoa, kepada semua yang ada di samping atau di sekitarnya.

●Dalam kehidupan bermasyarakat, Ahlussunnah Waljama’ah bermuamalah tanpa menipu, tanpa curang, dan tanpa riba. Mereka sangat menjaga anak-anak perempuan, istri dan wanita-wanita yang ada dalam kekuasaan dan tanggungjawabnya dari segala hal yang dilarang oleh Islam, seperti membuka aurat di kehidupan umum meskipun hanya sehelai rambut, berkhalwat dengan selain mahrom, bertabarruj dan semua hal yang termasuk mendekati zina. Dan mereka juga paling berhati-hati dan menjaga diri dan keluarganya dari semua pemahaman, pemikiran, tradisi dan keyakinan yang tergolong bid’ah, kufur dan syirik. Karena menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah wajib.

●Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Ahlussunnah Waljama’ah menerapkan ideologi Islam yang melahirkan sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah karena kewajibannya bukan hanya mengangkat pemimpin (nashbul Imam), tetapi juga menerapkan syariat Islam (tathbiiqusy syarii'ah) oleh pemimpin, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem uqûbat (sanksi hukum) Islam, dan sistem politik dalam dan luar negeri Islam. Dimana politik dalam negerinya adalah melaksanakan hukum-hukum Islam, seperti menegakkan hudûd, jinâyât, ta'zîr dan mukhâlafât, menjamin pelaksanaan syiar-syiar agama dan ibadah, menjaga akhlak, memberi keadilan kepada orang-orang yang terzalimi dari orang-orang yang zalim, dan menjaga batas-batas negara. Sedang politik luar negerinya adalah mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Di samping itu, Ahlussunnah Waljama’ah juga menolak dari meyakini, mendakwahkan, dan menerapkan ideologi kapitalisme serta semua yang lahir atau memancar dari padanya, seperti sistem pemerintahan demokrasi, sistem ekonomi kapitalis, sistem pendidikan sekular, sistem pergaulan liberal, HAM, liberalisme, pluralisme, sinkretisme dan isme-isme lainnya.

Mereka juga sangat menolak terhadap ideologi komunisme dan sosialisme yang melahirkan berbagai sistem, pemikiran, pemahaman dan keyakinan yang lebih rusak dan merusak dari ideologi kapitalisme sebelumnya.

●Terakhir :

Ahlussunnah Waljama’ah yang Sawad A'zhom dan yang Firqah Nâjiyah itu memiliki karakter Almuttaqûn yang disebut didalam Alqur'an maupun Assunnah. Begitu pula memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh firqah-firqah lain. Mereka memiliki Lima Pilar kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, yaitu; Ukhuwwah Islamiyyah yang mendunia, Islam Rahmatan Lil'alamin yang menaungi dunia, Islam Kaaffah yang meliputi dunia, Khilafah yang menguasai dunia, dan Dakwah Islam yang menembus belantara penjuru dunia. Ukhuwwah Islamiyyah tidak sempurna tanpa Islam Rahmatan Lil'alamin, Islam Rahmatan Lil'alamin tidak sempurna tanpa Islam Kâffah, Islam Kâffah tidak sempurna tanpa Khilafah, dan Khilafah tidak sempurna tanpa Dakwah. Maka dakwah adalah poros kehidupan Ahlussunnah Waljama’ah.

Sedang berbagai klaim Ahlussunnah Waljama’ah yang tidak memenuhi unsur-unsur diatas, apalagi yang kontradiksi dengannya, hanyalah ASWAJA TOPENG, meskipun memiliki segudang kitab akidah yang diklaim sebagai akidah Ahlussunnah Waljama’ah, dan sangat fasih berbicara akidah. Karena akidah itu tersembunyi di dalam hati hanya Allah Yang mengerti. Lalu dari lubuk hati memancarkan praktik Ukhuwwah Islamiyyah, praktik Islam Rahmatan Lil'alamin, praktik Islam Kaaffah, praktik Khilafah dan praktik Dakwah. Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].

0 komentar:

Posting Komentar