Minggu, 29 September 2019

PERIHAL BERJABAT TANGAN DENGAN AJNABIYYAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tidak sedikit dari orang-orang yang menyalahkan Hizbut Tahrir, bahkan menyesatkannya, hanya karena Hizbut Tahrir membolehkan berjabat tangan / bersalaman (mushafahah) dengan ajnabiyyah (wanita asing/ bukan mahrom). Padahal kebolehan tersebut bersyarat dengan tanpa syahwat, tidak secara mutlak. Diantara mereka yang menyalahkannya, adalah Idrus Ramli,  ia telah dan terus menyatakan :

"... masa lalu an-Nabhani yang pernah tidak lulus dalam studinya di Universitas al-Azhar karena hasil ujiannya yang buruk, sangat berpengaruh terhadap pemikiran HT. Tidak jarang an-Nabhani sendiri dan petinggi-petinggi HT yang lain mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial dan keluar dari al-Qur'an dan Hadis, seperti... fatwa bolehnya jabatan tangan dengan wanita ajnabiyyah, fatwa bolehnya qublat al-muwada'ah [ciuman selamat tinggal] dengan wanita ajnabiyyah sehabis pertemuan semisal acara-acara seminar, pelatihan dan lain-lain".
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 28 tahun XV, Rabiul Awal-Rajab 1429). 

BANTAHAN SAYA (Abulwafa Romli) :

Hizbut Tahrir Membolehkan Jabatan Tangan Dengan Ajnabiyah?

Ya benar, tetapi sebelum saya menjelaskan hujahnya, alangkah baiknya saya kemukakan pepatah  arab atau kaidah yang sangat popular, yaitu;
لسانُ الحال أفصحُ من لسان المقال
Lisaanul haal afshohu min lisaanil maqool
"Bahasa Kondisi Itu Lebih Jelas Daripada Bahasa Perkatan"

Kemudian pembaca saya ajak menengok sejumlah fakta yang telah terjadi, yang sedang dan terus terjadi, terkait berjabatan tangan dengan ajnabiyah [perempuan asing]. Beberapa tahun yang silam, ketika menjadi capres dan setelah menjadi presiden, mantan ketua PBNU KH Abdurrahman Wahid benar-benar telah berjabatan tangan dengan Megawati Sukarno Putri. Peristiwa itu hampir disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia, karena gambarnya dipasang di mana-mana, dan dipublikasikan oleh berbagai media nasional. Kemudian peristiwa tersebut juga dipraktekan oleh KH Hasyim Muzadi dengan Ibu Megawati Sukarno Putri ketika keduanya menjadi capres dan cawapres. Dan berjabatan tangan dengan ajnabiyah juga telah, sedang dan terus dipraktekkan oleh banyak ulama NU yang tidak perlu saya sebut namanya. Lalu warga NU juga ramai-ramai mempraktekkannya di mana mayoritas mereka beralasan ikut kepada kyainya.

Jadi pakta-pakta tersebut sebenarnya sudah sangat jelas menunjukkan bahwa NU sendiri membolehkan berjabatan tangan dengan ajnabiyah, tapi kenapa sejumlah ustadz dan kyai yang telah masuk kedalam setrutur NU malah ramai-ramai menyalahkan Hizbu Tahrir. Maka orang yang cerdas pasti mengerti bahwa di balik itu semua ada tujuan jahat yang tersembunyi. Bisa jadi mereka adalah kepanjangan dari Barat yang kafir yang sangat ketakutan akan berdirinya Daulah Khilafah Rasyidah, atau kepanjangan dari para penguasa termasuk dari kerajaan Arab Saudi yang juga sangat ketakutan akan berdirinya Daulah Khilafah.

Bahkan belakangan berjabatan tangan dengan ajnabiyyah juga dipraktekkan oleh para ulama timur tengah seperti oleh Syaikhul Azhar Cairo Mesir dan yang lainnya yang tidak perlu disebut satu persatunya.

HUJJAH HIZBUT TAHRIR

Inilah hujah Hizbut Tahrir dalam membolehkan jabatan tangan dengan ajnabiyah.

Pertama : Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh. dalam kitabnya an-Nizhamu al-Ijtima'iy fil Islam [yang dipenuhi dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah] menegaskan demikian :
ومما يدل على أن اليد ليست بعورة مصافحة الرسول للنساء في البيعة. عن أم عطية قالت: بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ علينا أن لا يشركن بالله شيئا ونهانا عن النياحة، فقبضت امرأة منا يدها فقالت: فلانة أسعدتني وأنا أريد أن أجزيها. فلم يقل شيئا فذهبت ثم رجعت. أخرجه البخاري. وهذا الحديث يدل على أن النساء كن يبايعن باليد، لأن هذه المرأة قبضت يدها بعد أن كانت مدتها للبيعة. فكون الحديث ينص على أن المرأة قبضت يدها حين سمعت لفظ البيعة صريح بأن البيعة كانت باليد، وأن الرسول كان يبايع النساء بيده الشريفة.
وأما ما روي عن عائشة من أنها قالت: وما مست يد رسول الله صلى الله عليه وسلم امرأة إلا امرأة يملكها. متفق عليه، فإنه رأي لعائشة وتعبير عن مبلغ علمها، وإذا قورن قول عائشة بحديث أم عطية هذا ترجح حديث أم عطية، لأنه نص عن عمل حصل أمام الرسول، ودل على عمل للرسول فهو أرجح من رأي محض لعائشة.
"Dan termasuk dalil yang menunjukkan bahwa tangan itu bukan aurat adalah jabatan tangannya Rasulullah saw kepada wanita dalam baiat. Dari Umi Athiyah ra berkata; "Kami pernah berbaiat kepada Nabi saw. lalu beliau membacakan kepada kami; "Hendaknya mereka tidak menyekutukan sesuatu kepada Allah" dan beliau melarang kami niyahah. Lalu seorang perempuan dari kami menarik tangannya lalu ia berkata; "Sipulanah telah membantu saya dan saya hendak membalasnya". Maka beliau Nabi tidak berkata sedikitpun, lalu perempuan itu pergi kemudian ia kembali". Akhrojahu Albukhori. Hadis ini menunjukkan bahwa kaum wanita pernah berbaiat dengan tangan, karena perempuan ini telah menarik tangannya setelah ia mengulurkannya untuk baiat. Maka hadits yang menjelaskan bahwa seorang perempuan telah menarik tangannya ketika ia mendengar lafadz baiat adalah sharih (jelas) bahwa baiat itu dengan tangan, dan bahwa Rasulullah saw telah membaiat kaum wanita dengan tangannya yang mulia.

Sedangkan hadis yang telah diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa ia berkata; "Tangan Rasulullah saw tidak pernah menyentuh perempuan kecuali perempuan yang dimilikinya". Muttafaqun 'alaihi. Maka itu adalah pendapat Aisyah dan ungkapan dari capaian ilmunya. Ketika perkataan Aisyah itu ditemukan dengan hadis Umi Athiayah ini, maka hadis Umi Athiyah menjadi unggul, karena menjelaskan perbuatan yang terjadi di depan Rasulullah saw dan menunjukkan perbuatan Rasulullah. Maka hadis itu lebih unggul dari pada pendapat murni Aisyah." (Annizhoom Alijtimaa'iy, hal. 73-74, cet. 4, 1424 H / 2003 M, Daarul Ummah, Berut).

Dan dalam kitab yang sama hal. 57-58 Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani menjelaskan;
أما بالنسبة للمصافحة فإنه يجوز للرجل أن يصافح المرأة وللمرأة أن يصافح الرجل دون حائل بينهما لما ثبت في صحيح البخاري عن أم عطية قالت: بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ علينا أن لا يشركن بالله شيئا ونهانا عن النياحة، فقبضت امرأة منا يدها. وكانت المبايعة بالمصافحة. ومعنى قبضت يدها ردت يدها بعد أن كانت مدتها للمبايعة. فكونها قبضت يدها يعني أنها كانت ستبايع بالمصافحة.
ومفهوم فقبضت امرأة منا يدها أن غيرها لم تقبض يدها وهذا يعني أن غيرها بايع بالمصافحة. وأيضا فإن مفهوم قوله تعالى: أو لامستم النساء. بلفظه العام لجميع النساء من حيث أن الملاسمة تنقض الوضوء يدل اقتصار الحكم على نقض الوضوء من لمس النساء على أن لمسهن بغير شهوة ليس حراما فمصافحتهن كذلك ليست حراما. علاوة على أن يد المرأة ليست بعورة ولا يحرم النظر إليها بغير شهوة فلا تحرم مصافحتها
"Adapun terkait jabatan tangan, maka boleh bagi laki-laki jabatan tangan dengan perempuan, dan bagi perempuan jabatan tangan dengan laki-laki tanpa ada tirai (pemisah) di antara keduanya, karena hadis yang tetap pada Shahih Bukhari dari Umi Athiyah berkata; "Kami pernah berbaiat kepada Nabi saw. lalu beliau membacakan kepada kami; "Hendaknya mereka tidak menyekutukan sesuatu kepada Allah" dan beliau melarang kami niyahah. Lalu seorang perempuan dari kami menarik tangannya". Dan baiat itu dengan jabat tangan. Sedangkan makna "menarik tangannya" adalah mengembalikan tangannya setelah ia mengulurkannya untuk berbaiat. Jadi keadaan ia menarik tangannya itu berarti bahwa ia telah bersiap untuk berbaiat dengan berjabat tangan.

Sedangkan mafhum "Lalu seorang perempuan dari kami menarik tangannya" adalah bahwa selain dia tidak menarik tangannya. Ini berarti bahwa selain dia telah berbaiat dengan berjabat tangan. Begitu juga mafhum firman Allah swt; "Atau kalian telah menyentuh wanita", dengan lafadznya yang umum untuk semua wanita, dari sisi bahwa bersentuhan itu membatalkan wudhu, itu menunjukan pembatasan hukum atas batalnya wadhu dari menyentuh wanita, bahwa menyentuh wanita dengan tanpa syahwat itu tidak haram, maka berjabat tangan dengan wanita dengan tanpa syahwat juga tidak haram. Apalagi tangan perempuan itu bukan aurat, dan tidak haram memandang kepadanya dengan tanpa syahwat, maka tidak haram berjabatan tangan dengannya (dengan tanpa syahwat)". (Ibidem, hal. 57-58).

Jadi alasan Hizbut Tahrir itu sama dengan alasan para kyai NU dan ulama yang lain yang ramai-ramai berjabat tangan dengan ajnabiyah, yaitu dengan alasan tanpa syahwat.

Padahal meskipun dalam pandangan Hizbut Tahrir berjabat tangan dengan ajnabiyah itu boleh, para syabab dan syabah Hizbut Tahrir tidak melakukannya di antara mereka, karena sesuatu yang mubah itu boleh ditinggalkan, artinya tidak sunah dan tidak wajib dikerjakan. Lebih-lebih ketika adanya syahwat dan takut terjadi fitnah, seperti bisa saling tergoda, apalagi di antara muda mudi yang ganteng dan cantik yang tentu tegangan syahwatnya sangat kuat, maka berjabat tangan bisa menjadi haram.

PERNYATAAN ULAMA HANAFIYYAH TERKAIT BOLEHNYA BERJABATAN TANGAN DENGAN WANITA ASING

Dan di bawah adalah pernyataan ulama hanafiyyah terkait berjabat tangan dengan ajnabiyah dengan tanpa syahwat :
فَإِنْ كَانَا شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَلَا بَأْسَ بِالْمُصَافَحَةِ لِخُرُوجِ الْمُصَافَحَةِ مِنْهُمَا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُورِثَةً لِلشَّهْوَةِ لِانْعِدَامِ الشَّهْوَةِ وَقَدْ رُوِيَ[أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَافِحُ الْعَجَائِزَ].{بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع، 10 / 489، المكتبة الشاملة}.
“Apabila keduanya adalah sudah tua renta, maka tiada halangan untuk berjabatan tangan, karena berjabatan tangan dari keduanya tidak menimbulkan syahwat karena syahwat itu sudah tiada. Dan telah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berjabatan tangan dengan perempuan-perempuan tua renta”.
وَأَمَّا إذَا كَانَتْ عَجُوزًا لَا تُشْتَهَى فَلَا بَأْسَ بِمُصَافَحَتِهَا وَمَسِّ بَدَنِهَا لِانْعِدَامِ خَوْفِ الْفِتْنَةِ وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَافِحُ الْعَجَائِزَ فَإِذَا كَانَ شَيْخًا يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَيْهَا يَحِلُّ لَهُ الْمُصَافَحَةُ.....{البحر الرائق شرح كنز الدقائق، 22 / 134، المكتبة الشاملة}.
“Adapun ketika perempuan itu sudah tua renta yang tidak disyahwati, maka tiada bahaya berjabatan tangan dengannya juga menyentuh tubuhnya, karena khawatir fitnah itu sudah tiada. Dan dari Abu Bakar RA bahwa beliau pernah bersalaman dengan perempuan-perempuan tua renta. Dan apabila laki-laki itu sudah tua yang merasa aman terhadap dirinya juga terhadap perempuan itu, maka berjabatan tangan halal baginya…..”.
فَإِنْ كَانَتْ عَجُوزًا لَا تُشْتَهَى فَلَا بَأْسَ بِمُصَافَحَتِهَا وَمَسِّ يَدِهَا وَأَنْ تَغْمِزَ رِجْلَهُ وَكَذَا إذَا كَانَ شَيْخًا يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَيْهَا وَفِي الْغِيَاثِيَّةِ وَلَا بَأْسَ أَنْ يُعَانِقَهَا مِنْ وَرَاءِ الثِّيَابِ إلَّا أَنْ تَكُونَ ثِيَابُهَا رَقِيقَةً تَصِلُ حَرَارَةُ بَدَنِهَا إلَيْهِ.....{البحر الرائق شرح كنز الدقائق، 22 / 145, المكتبة الشاملة}.
“Apabila perempuan itu sudah tua renta yang tidak disyahwati, maka tidak bahaya berjabatan tangan dengannya, menyentuh tangannya dan menginjak kakinya, begitu pula ketika laki-laki itu sudah tua renta yang merasa aman terhadap dirinya juga terhadap perempuan itu. Dalam kitab al-Ghiyatsiyyah disebutkan: “Tiada bahaya ia (laki-laki) memeluknya (perempuan) dari belakang kain, kecuali ketika kainnya (perempuan) tipis yang suhu tubuhnya ( perempuan) sampai padanya…..”.

Pada pernyataan ulama hanafiyyah di atas terdapat dua ketentuan terkait bolehnya berjabat tangan, yaitu dengan perempuan tua atau laki-laki tua dan tanpa syahwat. Padahal kalau diteliti sesuatu yang membolehkan bersalaman itu bukan dengan perempuan tuanya atau laki-laki tuanya, tetapi dengan tanpa syahwatnya, sebagaimana pernyataan Syaikh Taqiyyuddin di atas. Sedang penyebutan perempuan tua atau laki-laki tua hanyalah secara kebiasaan saja, karena pada umumnya perempuan tua atau laki-laki tua itu sudah tidak disyahwati. Apalagi pada sejumlah redaksi di atas, kata “yang tidak disyahwati” adalah sifat dari kata “perempuan tua”, juga ada redaksi “laki-laki tua yang tidak khawatir fitnah terhadap dirinya dan terhadap perempuan”. Ini berarti tidak semua perempuan tua itu tidak disyahwati, tetapi ada perempuan tua yang disyahwati dan haram bersalaman dengannya, dan ada laki-laki tua yang syahwat dan haram bersalaman dengannya. Oleh karenanya, ilat (ketentuan) haramnya bersalaman itu hanya satu, yaitu dengan syahwat, karena ilat khawatir terjadi fitnah juga karena adanya syahwat. Kesimpulan ini juga ditunjukkan oleh mafhum hadits Ummi “Athiyah, dimana Rasulullah SAW dalam baiat bersalaman dengan kaum wanita, dan di sana tidak ada penjelasan bahwa kaum wanita itu sudah tua semua.

BOLEHNYA BARJABAT TANGAN DENGAN WANITA ASING DENGAN TANPA SYAHWAT ADALAH KEHATI-HATIAN DALAM MENETAPKAN HUKUM

Justru ketetapan hukum bolehnya berjabat tangan dengan wanita asing dengan tanpa syahwat adalah kehati-hatian dalam menetapkan hukum, karena ada dalil sunnahnya, bahwa Nabi saw dan Abu Bakar ra keduanya berjabat tangan dengan perempuan-perempuan tua. Dan dalam baiat juga Nabi saw berjabat tangan dengan wanita secara mutlak, yakni tanpa dibatasi dengan perempuan tua, seperti pada hadits Umu Athiyah di atas. Sebenarnya kalau kita lebih teliti sedikit,Hizbut Tahrir itu tidak membolehkan berjabat tangan dengan ajnabiyyah, karena bolehnya berjabat tangan dengannya dan dengan syarat tanpa syahwat, adalah larangan berjabat tangan dengan ajnabiyyah secara mutlak. Sedang boleh dengan tanpa syahwat, adalah kehati-hatian dalam menetapkan hukum sebagaimana diatas, karena memang ada faktanya dari Nabi saw dan sahabat.

Sedangkan takut ada fitnah itu bukan ilat hukum, tetapi hanya ilat untuk menghindari suatu perbuatan yang hukumnya boleh dilakukan, sebagaimana berjabat tangan dengan wanita asing yang dengan tanpa syahwat. Kalau saya boleh boleh menganalogkan seperti hukjum bolehnya makan ikan asin. Tetapi kalau makan ikan asin itu dapat menyebabkan gatal-gatal karena elergi, maka kondisi ini menjadi ilat untuk menghindarinya, bukan ilat untuk mengharamkannya.

Perbedaan pendapat yang sama-sama berlandaskan dalil syar'iy dan dengan metode istinbath yang benar adalah keniscayaan, bukan kesesatan. Apalagi perbedaan pendapat itu terjadi diantara para ulama mujtahid. Wallahu A'lamu bishshowaab. [].

Senin, 23 September 2019

Ahlussunnah Waljama’ah adalah Almuttaqûn

Bismilaahir Rohmaanir Rohiim

Sesungguhnya Ahlussunnah Waljama’ah sebagai Sawad A'zhom yang Firqah Nâjiyah, kelompok yang pada hari kiamat selamat, ketika melintas diatas shiroth mustaqim, tidak tergelincir ke dalam neraka Jahanam, mereka adalah Almuttaqûn, orang-orang yang bertakwa. Bukan orang-orang kafir,  zhalim dan fasiq, apalagi munafiq. Karena surga itu hanya disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, Almuttaquun, u'iddat lilmuttaqiin. Karenanya, Ahlussunnah Waljamaah yang Firqoh Naajiyyah adalah Almuttaquun.

●Definisi Taqwa :
Definisi taqwa yang sangat populer, karena biasa disampaikan oleh setiap khotib Jum'at, ialah :
امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه
Imtitsâlu awâmirillâhi wajtinâbu nawâhihi
"Melaksanakan perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya".

Dari definisi taqwa diatas, tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan melaksanakan perintah Allah, tanpa menjauhi larangan-Nya. Tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan mengejar pahala dan fadhilah, tanpa menjauhi dosa dan sia-sia. Tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan mengejar surga, tanpa menjauhi neraka. Tidak cukup seseorang bisa bertaqwa hanya dengan menyembah Allah, tanpa menjauhi thaghut tandingan Allah.

Taqwa yang demikian itu harus ada di dalam kehidupan, masyarakat dan negara. Taqwa ini tidak cukup hanya di dalam kehidupan privat, tanpa ada di kehidupan publik. Taqwa ini tidak cukup hanya di dalam kehidupan publik, tanpa ada di kehidupan negara. Rasululloh SAW sendiri ketika menyuruh sahabat agar bertakwa, dengan taqwa yang mencakup semua lini kehidupan.

Beliau SAW bersabda :
اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن. رواه الترمذي وقال: حديث حسن، وفي بعض النسخ: حسن صحيح
Ittaqillâha haitsumâ kunta, wa atbi'is sayyiatal hasanata tamhuhâ, wa khôliqin nâsa bi khuluqin hasanin

"Bartaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan maka menghapusnya, dan perlakukan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik". (Hadits Arba'în Nawawi ).

Maksud hadits :
1- Bertaqwalah, di zaman manapun kamu ada, di tempat manapun kamu ada, dan dalam kondisi apapun kamu ada.
2- Di zaman manapun ada keburukan, gantilah dengan kebaikan. Di tempat manapun ada keburukan, gantilah dengan kebaikan. Dan dalam kondisi apapun ada keburukan, gantilah dengan kebaikan.
3- Di zaman manapun, di tempat manapun, dan dalam kondisi apapun, perlakukan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik.
Sedang khuluq yang baik adalah Alqur'an. Aisyah ra berkata :
كان خلق رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القرآن
Kâna khuluqu rosûlillahi shollallôhu 'alaihi wasallama alqur'ana
"Khuluq Rasulullah SAW adalah Alqur'an".

Jadi Rasulullah SAW telah menyuruh agar manusia di zaman manapun, di tempat manapun dan dalam kondisi apapun diperlakukan dengan Alqur'an. Itulah hakekat taqwa harus menjadikan Alqur'an sebagai pedoman dan aturan kehidupan, masyarakat dan negara.

●Ahlussunnah Waljama’ah, dalam kehidupan privatnya, mereka menegakkan shalat dan ibadah-ibadah wajib yang lainnya, serta menjauhi riya (ingin dilihat) dan sum'ah (ingin didengar). Mereka rajin datang ke masjid, serta menjauhi masjid dhirór, yaitu masjid yang takmir (pengurus)nya mengganggu dan menyakiti tetangga-tetangga di sekitarnya, baik tetangga yang di dalam atau yang di luar masjid, dengan suara-suara bacaan Alqur'an, dzikir dan doa setelah shalat, dimana semuanya dengan suara keras yang menyengat gendang telinga dan sangat menyakiti. Mereka, Ahlussunnah Waljama’ah membaca Alqur'an, berdzikir dan berdoa dengan suara jiwa, rendah hati, suara samar, tidak berlebihan, tidak merusak suasana lingkungan yang tenang dan tentram, dan dengan ihsân, berbuat baik, baik sebelum berdzikir dan berdoa, ketika berdzikir dan berdoa, atau sesudah berdzikir dan berdoa, kepada semua yang ada di samping atau di sekitarnya.

●Dalam kehidupan bermasyarakat, Ahlussunnah Waljama’ah bermuamalah tanpa menipu, tanpa curang, dan tanpa riba. Mereka sangat menjaga anak-anak perempuan, istri dan wanita-wanita yang ada dalam kekuasaan dan tanggungjawabnya dari segala hal yang dilarang oleh Islam, seperti membuka aurat di kehidupan umum meskipun hanya sehelai rambut, berkhalwat dengan selain mahrom, bertabarruj dan semua hal yang termasuk mendekati zina. Dan mereka juga paling berhati-hati dan menjaga diri dan keluarganya dari semua pemahaman, pemikiran, tradisi dan keyakinan yang tergolong bid’ah, kufur dan syirik. Karena menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah wajib.

●Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Ahlussunnah Waljama’ah menerapkan ideologi Islam yang melahirkan sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah karena kewajibannya bukan hanya mengangkat pemimpin (nashbul Imam), tetapi juga menerapkan syariat Islam (tathbiiqusy syarii'ah) oleh pemimpin, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem uqûbat (sanksi hukum) Islam, dan sistem politik dalam dan luar negeri Islam. Dimana politik dalam negerinya adalah melaksanakan hukum-hukum Islam, seperti menegakkan hudûd, jinâyât, ta'zîr dan mukhâlafât, menjamin pelaksanaan syiar-syiar agama dan ibadah, menjaga akhlak, memberi keadilan kepada orang-orang yang terzalimi dari orang-orang yang zalim, dan menjaga batas-batas negara. Sedang politik luar negerinya adalah mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Di samping itu, Ahlussunnah Waljama’ah juga menolak dari meyakini, mendakwahkan, dan menerapkan ideologi kapitalisme serta semua yang lahir atau memancar dari padanya, seperti sistem pemerintahan demokrasi, sistem ekonomi kapitalis, sistem pendidikan sekular, sistem pergaulan liberal, HAM, liberalisme, pluralisme, sinkretisme dan isme-isme lainnya.

Mereka juga sangat menolak terhadap ideologi komunisme dan sosialisme yang melahirkan berbagai sistem, pemikiran, pemahaman dan keyakinan yang lebih rusak dan merusak dari ideologi kapitalisme sebelumnya.

●Terakhir :
Ahlussunnah Waljama’ah yang Sawad A'zhom dan yang Firqah Nâjiyah itu memiliki karakter Almuttaqûn yang disebut didalam Alqur'an maupun Assunnah. Begitu pula memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh firqah-firqah lain. Mereka memiliki Lima Pilar kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, yaitu; Ukhuwwah Islamiyyah yang mendunia, Islam Rahmatan Lil'alamin yang menaungi dunia, Islam Kaaffah yang meliputi dunia, Khilafah yang menguasai dunia, dan Dakwah Islam yang menembus belantara penjuru dunia. Ukhuwwah Islamiyyah tidak sempurna tanpa Islam Rahmatan Lil'alamin, Islam Rahmatan Lil'alamin tidak sempurna tanpa Islam Kâffah, Islam Kâffah tidak sempurna tanpa Khilafah, dan Khilafah tidak sempurna tanpa Dakwah. Maka dakwah adalah poros kehidupan Ahlussunnah Waljama’ah.

Sedang berbagai klaim Ahlussunnah Waljama’ah yang tidak memenuhi unsur-unsur diatas, apalagi yang kontradiksi dengannya, hanyalah ASWAJA TOPENG, meskipun memiliki segudang kitab akidah yang diklaim sebagai akidah Ahlussunnah Waljama’ah, dan sangat fasih berbicara akidah. Karena akidah itu tersembunyi di dalam hati hanya Allah Yang mengerti. Lalu dari lubuk hati memancarkan praktik Ukhuwwah Islamiyyah, praktik Islam Rahmatan Lil'alamin, praktik Islam Kaaffah, praktik Khilafah dan praktik Dakwah. Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].

Senin, 09 September 2019

SATU KHALIFAH UNTUK KAUM MUSLIMÎN DI SELURUH DUNIA

(Maaf, Tulisan Ini Bukan Untuk Mengokohkan Khilafah Organisasi Seperti Khilafatul Muslimîn Dan Khilafah Palsu Seperti Khilafah ISIS ).

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tidak boleh ada di seluruh dunia kecuali seorang khalifah, yakni kaum muslimîn di seluruh dunia hanya boleh memiliki seorang khalifah, dan haram memiliki lebih dari seorang khalifah. Di bawah adalah dalil-dalilnya dari Assunnah :

1- Rasulullah SAW bersabda :
وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ، وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ، فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَر. رواه مسلم عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما
"Dan siapa saja yang telah membaiat seorang imam (khalifah) lalu ia telah memberikan kepada imam uluran tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia taat kepada imam selagi ia mampu. Lalu apabila datang orang lain yang merebut kekuasaannya, maka penggallah leher yang lain itu". HR Muslim dari Abdullah bin 'Amru bin 'Âsh ra.

2- Rasulullah SAW bersabda :
مَن أتاكُمْ وأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ علَى رَجُلٍ واحِدٍ، يُرِيدُ أنْ يَشُقَّ عَصاكُمْ، أوْ يُفَرِّقَ جَماعَتَكُمْ، فاقْتُلُوهُ. رواه مسلم عن عرفجة رضي الله عنه
"Siapa saja orang yang datang kepada kalian, sedang perkara kalian bersatu di atas seorang laki-laki, dia hendak memecah tongkat kalian atau memecah-belah jama'ah kalian, maka bunuhlah orang itu". HR Muslim dari Arfajah ra.

3- Rasulullah SAW bersabda :
كَانَت بَنُو إسرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبياءُ، كُلَّما هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبيٌّ، وَإنَّهُ لا نَبِيَّ بَعدي، وسَيَكُونُ بَعدي خُلَفَاءُ فَيَكثُرُونَ، قالوا: يَا رسول اللَّه، فَما تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: أَوفُوا بِبَيعَةِ الأَوَّلِ فالأَوَّلِ، ثُمَّ أَعطُوهُم حَقَّهُم، وَاسأَلُوا اللَّه الَّذِي لَكُم، فَإنَّ اللَّه سائِلُهم عمَّا استَرعاهُم . متفقٌ عليه عن أبي هريرة رضي الله عنه
"Dahulu Bani Israel urusan politiknya dipimpin oleh para nabi, ketika seorang nabi wafat maka diganti oleh nabi yang lain, dan sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku. Dan setelahku akan ada para khalifah lalu mereka berjumlah banyak". Sahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?". Beliau bersabda : "Penuhilah baiat kepada khalifah yang pertama, lalu khalifah yang pertama. Kemudian berikanlah kepada mereka haknya, dan mintalah kepada Allah hak kalian. Maka sesungguhnya Allah akan menanyai mereka terkait urusan rakyatnya yang diserahkan kepada mereka". Hadits Muttafaq 'Alaih dari Abu Hurairah ra.

4- Rasulullah SAW bersabda :
إذا بويع لخليفتين فإقتلوا الآخر منهما. رواه مسلم عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه
"Ketika telah dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah khalifah terakhir dari keduanya". HR Muslim dari Abi Said Alkhudri ra.

5- Rasulullah SAW bersabda :
إنه ستكون هنّات و هنّات فمن أراد أن يفرّق أمر هذه الامة وهي جميع فاضربوه بالسّيف كائنا من كان. رواه مسلم عن عرفجة رضي الله عنه
"Sesungguhnya akan ada banyak fitnah dan banyak fitnah, maka siapa saja yang berkehendak memecah-belah urusan ummat ini, sedang mereka bersatu, maka penggallah lehernya dengan pedang, siapapun dia orangnya". HR Muslim dari Arfajah ra.

MAKNA HADITS

Terkait makna hadits-hadits diatas, Imama Nawawi didalam Syarhu Muslim-nya berkata :
فيه الأمر بقتال من خرج على الإمام، أو أراد تفريق كلمة المسلمين، ويُنهى عن ذلك، فإن لم ينته قوتل، وإن لم يندفع شره إلا بقتله، فقتل كان هدراً، فقوله صلى الله عليه وسلم: "فاضربوه بالسيف" وفي الرواية الأخرى "فاقتلوه" معناه: إذا لم يندفع إلا بذلك
"Padanya ada perintah memerangi siapa saja orang yang memberontak terhadap imam, atau berkehendak memecah-belah kalimat (persatuan) kaum muslimîn. Ia harus dicegah dari hal itu. Lalu apabila tidak tercegah, maka ia diperangi. Dan apabila kejahatannya tidak tertolak kecuali dengan membunuhnya, maka ia dibunuh secara sia-sia (tidak ada qishosh maupun diyat). Sabda Nabi "maka penggallah lehernya dengan pedang", dalam riwayat lain "maka binuhlah ia", maknanya; apabila keburukannya tidak bisa tertolak kecuali dengan dibunuh".

PENDAPAT ULAMA TERKAIT KESATUAN KHALIFAH

●Imam Nawawi rh didalam Syarhu Muslim-nya berkata :
اتفق العلماء على أنه لا يجوز أن يعقد لخليفتين من عصر واحد سواء اتسعت دار الإسلام أم لا، وقال إمام الحرمين في كتابه الإرشاد: قال أصحابنا لا يجوز عقدها لشخصين، قال: وعندي أنه لا يجوز عقدها لاثنين في صقع واحد، وهذا مجمع عليه، قال: فإن بعد ما بين الإمامين وتخللت بينهما شسوع فللاحتمال فيه مجال، قال: وهو خارج من القواطع، وحكى المارزي هذا القول عن بعض المتأخرين من أهل الأصل وأراد به إمام الحرمين، وهو قول فاسد مخالف لما عليه السلف والخلف ولظواهر إطلاق الأحاديث. انتهى.
"Ulama telah sepakat bahwasanya tidak boleh diakad baiat kepada dua orang khalifah dari satu masa, sama saja Dârul Islam itu luas atau tidak. Imam Haramain dalam kitab Al Irsyad-nya berkata: "Ashhâb kami berkata: " Tidak boleh akad khilafah kepada dua orang". Imam Haramain berkata: "Menurutku, sesungguhnya tidak boleh akad khilafah kepada dua orang didalam satu wilayah dan ini mujmak 'alaih". Imam Haramain berkata: "Apabila jarak diantara dua imam itu jauh atau diantara keduanya terdapat jarak yang sangat jauh, maka bisa masuk kemunkinan (bolehnya akad khilafah kepada dua orang)". Imam Haramain berkata: "Tersebut itu keluar dari perkara yang pasti-pasti". Dan Almârizi menceritakan pendapat tersebut dari sebagian ulama muta’akhir dari ahli ushul dan ia menghendaki Imam Haramain. Tersebut adalah pendapat yang rusak yang menyalahi pendapat ulama salaf dan kholaf, dan karena kemutlakan zhohirnya hadits-hadits (terkait larangan akad imamah/ khilafah kepada dua orang)".

●Syaikh Abdul Wahhâb Asysya'roni Asysyâfi'iy, ulama abad 10 H, didalam kitab Almîzân Alkubrô-nya dalam bab hukmil bughôt berkata :
اتفق الأئمة على أن الإمامة فرض وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين وعلى أنه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان
"Para Imam Mujtahid telah sepakat bahwa imamah ('uzhmâ /khilafah) adalah fardhu. Bahwasanya kaum Muslimîn harus memiliki seorang imam yang menegakkan syiar-syiar agama dan memberi keadilan kepada orang-orang yang terzalimi dari orang-orang yang zalim. Dan bahwasanya tidak boleh ada atas kaum Muslimîn dalam waktu yang sama di seluruh dunia dua orang imam, tidak boleh dua imam yang bersepakat dan tidak boleh dua imam yang berselisih".

●Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrohman Addimasyqiy Al'utsmaniy Asysyâfi'iy, ulama abad 8 H, didalam kitab Rohmatul Ummah-nya dalam bab Albaghyu berkata :
اتفق الأئمة على أن الإمامة فرض وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين وعلى أنه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان
"Para Imam Mujtahid telah sepakat bahwa imamah ( 'uzhmâ/khilafah) adalah fardhu. Bahwasanya kaum Muslimîn harus memiliki seorang imam yang menegakkan syiar-syiar agama dan memberi keadilan kepada orang-orang yang terzalimi dari orang-orang yang zalim. Dan bahwasanya tidak boleh ada atas kaum Muslimîn dalam waktu yang sama di dunia dua orang imam, tidak boleh dua imam yang bersepakat dan tidak boleh dua imam yang berselisih".

●Sayyid Muhammad Amîn Katabi didalam ta'liq kitab Bulûghul Marôm dalam bab Qitâli Ahlil Baghyi berkata :
اتفق الأئمة الأربعة على أن الإمامة فرض، وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين، وعلى أنه لا يجوز أن يكون للمسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان
"Para Imam Mujtahid yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) telah sepakat bahwa imamah ('uzhmâ /khilafah) adalah fardhu. Bahwasanya kaum Muslimîn harus memiliki seorang imam yang menegakkan syiar-syiar agama dan memberi keadilan kepada orang-orang yang terzalimi dari orang-orang yang zalim. Dan bahwasanya tidak boleh ada atas kaum Muslimîn dalam waktu yang sama di seluruh dunia dua orang imam, tidak boleh dua imam yang bersepakat dan tidak boleh dua imam yang berselisih".

●Syaikh Taqiyyuddin Annabhani di dalam kitab Asysyakhshiyyah juz 2 dalam bab Wihdatul Khilafah setelah mendatangkan sejumlah hadits-hadits terkait berkata :
لا يجوز أن يكون في الدنيا إلا خليفة واحد... وإذا عقدت الخلافة لخليفتين في بلدين في وقت واحد لم تنعقد لهما لأنه لا يجوز أن يكون للمسلمين خليفتان. ولا يقال البيعة لأسبقهما لأن المسألة إقامة خليفة وليست السبق على الخلافة ولأنها حق المسلمين جميعا وليست حقا للخليفة، فلا بد أن يرجع الأمر للمسلمين مرة ثانية ليقيموا خليفة واحدا إذا أقاموا خليفتين . ولا يقال يقرع بينهما لأن الخلافة عقد والقرعة لا تدخل في العقود
"Tidak boleh ada di dunia kecuali satu khalifah ... Ketika telah diakad khilafah untuk dua khalifah di dua negeri dalam satu waktu, maka khilafah tidak sah bagi keduanya, karena tidak boleh ada dua khalifah bagi kaum Muslimîn. Tidak bisa dikatakan; "Baiat itu bagi yang lebih dahulu dari keduanya", karena problemnya adalah menegakkan khalifah, bukan kompetisi atas khilafah. Karena khilafah adalah hak bagi kaum Muslimîn semuanya, bukan hak bagi khalifah. Maka urusannya harus dikembalikan kepada kaum Muslimîn pada kali kedua, supaya mereka bisa menegakkan satu khalifah, ketika mereka telah menegakkan dua khalifah. Dan tidak bisa dikatakan; "Diundi diantara keduanya", karena khilafah adalah akad, sedang undian tidak masuk ke dalam akad".

Walhasil :

Ternyata para ulama mujtahid telah sepakat, satu kata dan satu nada, bahwa kaum Muslimîn di seluruh dunia hanya boleh memiliki satu khalifah. Dengan demikian, khalifah itu bukan raja, bukan perdana menteri, dan bukan presiden. Karena ketika khalifah itu presiden, maka harus ada puluhan presiden di dunia yang harus dibunuh. Karena sejumlah hadits tentang kesatuan khalifah di atas sampai saat ini belum dinasakh dan tidak akan bisa dinasakh dimana semuanya sudah final final final dan berlaku sampai Alqur'an diangkat, sampai agama Islam diangkat, sampai ilmu diangkat, yakni sampai menjelang kiamat kubrô. Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].

*BENARKAH NABI MUHAMMAD SAW MEWARISKAN SISTEM PEMERINTAHAN DEMOKRASI?*

_Oleh Wahyudi al Maroky_
_(Dir. Pamong Institute)_

Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menetapkan dan mewariskan sistem pemerintahan yang spesifik untuk kaum Muslim. Jika begitu maka kaum Muslim boleh memilih berbagai alternatif sistem pemerintahan yang ada semisal demokrasi, otokrasi, theokrasi, dan lain-lain.

Ada pula yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad SAW itu menerapkan sistem demokrasi. Sehingga kaum muslim mestinya menerapkan demokrasi. Benarkah demikian?

Pada tahun 622M nabi SAW membuat kontrak sosial dengan masyarakat Madinah yang kemudian populer dengan sebutan *”konstitusi madinah” atau ”piagam madinah”.*
Ini merupakan tonggak sejarah baru peradaban manusia dengan model negara baru dan bentuk sistem pemerintahan baru yang spesifik.
Bahkan sangat berbeda dengan sistem pemerintahan yang ada pada zaman itu.

Sebagaimana kita ketahui,  kala itu sudah ada berbagai bentuk negara dan sistem pemerintahan seperti sistem Demokrasi, otokrasi, theokrasi, dll.
Yang sangat populer kala itu adalah sistem otokrasi atau kerajaan dan kekaisaran. Selain itu juga sudah ada sistem demokrasi yang lebih dulu lahir jauh sebelum Nabi SAW lahir.

Sistem Demokrasi lahir di Athena-Yunani tahun 507SM sementara nabi SAW  lahir 571M. Jadi ada selisih lebih seribu tahun.
Jika saja demokrasi itu sistem terbaik, tentu Nabi SAW akan menerapkannya dan mewajibkan kepada para sahabat untuk memakainya.

Namun fakta sejarah mencatat berbeda.
Ketika nabi SAW wafat, apakah sistem pemerintahan yang diwariskan kepada para sahabat? Apakah sistem kerajaan (otokrasi) sehingga dicatat sejarah bahwa pemimpin yang menggantikan nabi SAW dalam memimpin pemerintahan disebut sebagai Raja? Misal Khalifah Abu Bakar disebut Raja Abu Bakar?

Ataukah justru sistem pemerintahan yang diwariskan adalah demokrasi sehingga para pemimpin pengganti setelah Nabi SAW wafat itu disebut Presiden? Misal, khalifah Umar disebut Presiden Umar? Atau nama lain semisal Kaisar Umar? 

Sejarah telah mencatat dengan jelas dan tegas dengan sebutan para Khalifah. Bukan Presiden, bukan Raja, bukan Kaisar, bukan yang dipertuan Agung, dll. Sehingga Anggapan bahwa Nabi SAW tidak menetapkan dan mewariskan sistem pemerintahan spesifik atas kaum Muslim adalah anggapan yang jelas-jelas keliru.

Demikian pula, aggapan bahwa Nabi SAW telah mewariskan sistem Pemerintahan Demokrasi adalah juga tidak tepat. Namun yang sesungguhnya terjadi justru Nabi SAW mewariskan sistem pemerintahan Khilafah dengan pemimpinnya yang disebut Khalifah. Itulah yang menjadi fakta sejarah tak terbantahkan.

Dengan menelusuri Sejarah maka kita menemukan  catatan sebagai berikut:
*Pertama*, Nabi SAW jelas-jelas telah menetapkan dan mempraktekkan sistem tertentu yang unik dan spesifik untuk mengatur urusan kaum Muslim.
Demikian pula para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, mereka mempraktekkan dan melestarikan sistem pemerintahan yang dicontohkan Nabi SAW.  Walaupun saat itu sudah dikenal sistem monarchi, kekaisaran,  theokrasi, dan demokrasi (Yunani), namun  mereka tidak mengadopsi sistem-sistem pemerintahan tersebut. 

Nabi saw mempraktekkan dan menetapkan sistem pemerintahan tertentu bagi kaum Muslim, yang sepeninggal beliau saw dikenal dengan nama sistem Khilafah. 
Seandainya Nabi SAW memberi pilihan, untuk membolehkan memakai sistem pemerintahan yang ada kala itu, mungkin para shahabat dan dua kurun terbaik berikutnya akan mengadopsi sistem kerajaan, demokrasi, maupun teokrasi. 

*Kedua,* Nabi SAW telah menetapkan Khilafah sebagai sistem terbaik yang wajib diterapkan kaum Muslim; di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi SAW bersabda:
_... "Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para Nabi.  Setiap kali seorang Nabi meninggal, digantikan oleh Nabi yang lain.  Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak khalifah." Para shahabat bertanya, "Apakah yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Penuhilah bai'at yang pertama, dan yang pertama itu saja."  Berikanlah kepada mereka haknya karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka terhadap rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka."[HR. Imam Muslim]._

Hadits di atas menunjukkan: (1) Nabi saw menyerahkan pengaturan urusan kaum Muslim kepada para Khalifah setelah wafatnya beliau SAW; bukan kepada raja, presiden, atau kaisar.
(2) Dalam sistem Khilafah, tidak boleh ada dua orang khalifah.  Jika seorang Khalifah dibai’at setelah sebelumnya dibai’at seorang Khalifah yang lain, maka bai’at yang pertama sah dan wajib dipenuhi,  sedangkan bai’at yang kedua batal (bathil) dan haram dipenuhi.

*Ketiga,* sistem pemerintahan yang diajarkan Rasulullah SAW berbeda jauh dengan sistem pemerintahan lain, baik ditinjau dari: (1) sisi asas, (2) aturan yang digunakan untuk memerintah, (3) mekanisme pemerintahan, dan (4) struktur maupun aparatus negara. 

Dari sisi asas, Khilafah Islamiyah adalah negara yang tegak di atas ’aqidah Islamiyah.  Adapun sistem pemerintahan lain, seperti demokrasi, kerajaan, kekaisaran, dan federasi, semuanya tidak didasarkan pada aqidah islam.

Dari sisi aturan yang digunakan untuk memerintah adalah hukum islam atau syariah islam. Sedangkan dari sisi mekanisme pemerintahan, kepala negara (Khalifah, Amirul Mukminin, atau Imam) diangkat melalui bai’at.  Khalifah tidak bertanggungjawab kepada majelis umat.  Oleh karena itu, khalifah tidak bisa diberhentikan oleh majelis umat.  Pihak yang berwenang mengganti atau memakzulkan khalifah adalah Mahkamah (Qadli Madzalim). 

Dari catatan sejarah tersebut nampak bahwa Nabi SAW menerapkan sistem pemerintahan yang unik dan berbeda dari sistem pemerintahan yang ada. Sistem pemerintahan yang diwariskan nabi SAW kepada para sahabat adalah sistem Khilafah.
Tabiik...

NB : Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-04, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Minggu, 08 September 2019

Hadits 12 Khalifah Menunjukkan Sebelum Imam Mahdi Sudah Ada Khalifah

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Hadits yang menyatakan akan datangnya dua belas khalifah itu menunjukkan bahwa sebelum Imam Mahdi sudah ada khalifah. Berarti Imam Mahdi juga bukan orang pertama yang menegakkan khilafah. Hadits dimaksud ialah :
ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮِ ﺑْﻦِ ﺳَﻤُﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮَ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘَﻀِﻲ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤْﻀِﻲَ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔً ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﺮَﻳْﺶٍ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ
Dari Jabir bin Samuroh berkata: “Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya perkara agama ini tidak akan selesai sehingga berlalu pada mereka (kaum muslimin) dua belas khalifah yang semuanya dari Quraisy”. HR Muslim.

Imam Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa’nya berkata:
ﻭﻗﻴﻞ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﺛﻨﻲ ﻋﺸﺮ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺪﺓ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺘﻮﺍﻝ ﺃﻳﺎﻣﻬﻢ ﻭﻳﺆﻳﺪ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﺪﺩ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺨﻠﺪ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﻬﻠﻚ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻛﻠﻬﻢ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﻬﺪﻯ ﻭﺩﻳﻦ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﻨﻬﻢ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﺎﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﻮﻟﻪ " ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻬﺮﺝ " ﺃﻱ ﺍﻟﻔﺘﻦ ﺍﻟﻤﺆﺫﻧﺔ ﺑﻘﻴﺎﻡ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﺍﻧﺘﻬﻰ .
“Dikatakan; bahwa yang dikehendaki adalah wujudnya dua belas khalifah pada semua masa Islam sampai hari kiamat, mereka semua mempraktekkan hak, meskipun masa mereka tidak berturut-turut. Pendapat ini dikokohkan oleh hadis yang dikeluarkan Musaddad dalam ‘Musnad Kabir’-nya, dari Abul Khald, sesungguhnya beliau berkata: “Umat ini tidak akan rusak sehingga dari mereka ada dua belas khalifah yang semuanya mempraktekkan petunjuk dan agama yang hak, dari mereka ada dua laki-laki dari ahli bait (keturunan) Muhammad SAW.” Atas dasar ini, maka yang dikehendaki dengan perkataan, “kemudian akan ada kekacauan”, adalah fitnah-fitnah yang memberi tahukan akan datangnya kiamat, yaitu keluarnya Dajjal dan seterusnya.”

Jadi datangnya dua belas khalifah pada hadits di atas itu merata pada semua masa Islam sampai menjelang datangnya hari kiamat. Lalu kalau kita taslim kepada pendapat mereka yang mengatakan, bahwa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah itu hanya jatuh pada Umar bin Abdul Aziz, berarti khilafah Imam Mahdi itu bukan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Padahal dalam banyak hadits dijelaskan bahwa Imam Mahdi itu datang sebagai khalifah. Apakah mungkin kalau khilafahnya Imam Mahdi itu khilafah ‘ala minhajil muluk, seperti khilafahnya Muawiyah? Padahal mereka (dengan memakai pendapat sebagian ulama) telah memasukkan Umar bin Abdul Aziz ke dalam khilafah ala minhajin nubuwwah. Apakah mereka meyakini bahwa keadilan dan derajat Imam Mahdi itu berada di bawah Umar bin Abdul Aziz, sehingga Imam Mahdi tidak layak mendapat khilafah nubuwwah?

Apalagi kalau kita memperhatikan pernyataan Imam Suyuthi:
ﻗﻠﺖ : ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﻘﺪ ﻭﺟﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺛﻨﻲ ﻋﺸﺮ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻫﺆﻻﺀ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻀﻢ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺍﻟﻤﻬﺘﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺳﻴﻴﻦ ﻷﻧﻪ ﻓﻴﻬﻢ ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻓﻲ ﺑﻨﻲ ﺃﻣﻴﺔ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮ ﻟﻤﺎ ﺃﻭﺗﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺪﻝ ﻭﺑﻘﻰ ﺍﻻﺛﻨﺎﻥ ﺍﻟﻤﻨﺘﻈﺮﺍﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺍﻟﻤﻬﺪﻱ ﻷﻧﻪ ﻣﻦ ﺁﻝ ﺑﻴﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
“Saya (Imam Suyuthi) berkata: Atas dasar pendapat ini, dari dua belas khalifah telah ada para khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Hasan, Muawiyah, Ibnu Zubair, Umar bin Abdul Aziz, mereka adalah delapan khalifah. Dan dapat dikumpulkan kepada mereka, al-Muhtadi dari para khalifah Bani Abbas (khilafah abbasyiyyah), karena pada mereka ia seperti Umar bin Abdul Aziz pada Bani Umayah. Begitu pula at-Thahir, karena keadilannya. Dan masih tersisa dua khalifah yang dinanti-nantikan, salah satunya adalah Imam Mahdi, karena beliau termasuk keturunan Muhammad SAW”. (Imam Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, juz 1, hal. 83, Maktabah Syamilah).

Dari pernyataan Imam Suyuthi yang telah memasukkan Umar bin Abdul Aziz dan Imam Mahdi ke dalam dua belas khalifah, ternyata masih kurang satu khalifah lagi. Maka pertanyaannya, apakah tidak mungkin yang satu khalifah itu adalah khalifah sebelum Imam Mahdi, karena suatu hadits telah dijelaskan bahwa sebelum Imam Mahdi sudah ada khalifah. Apalagi kalau Muawiyah dicabut dari jajaran dua belas khalifah (seperti asumsi mereka yang tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah), maka masih tersisa dua khalifah lagi. Wallahu A'lamu bishshawâb. [].

Sabtu, 07 September 2019

BETULKAH IMAM MAHDI YANG AKAN MENEGAKKAN KHILAFAH PERTAMA KALI ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Oknum dari kaum Aswaja sekular semi Syi'ah Itsnaa 'Asyariyah (Syi'ah Dua Belas Imam dan yang ke dua belas adalah Imam Mahdi yang ghaib dan selalu ditunggu kemunculannya) mengatakan, "bahwa kita tidak perlu capai-capai berjuang menegakkan khilafah karena Imam Mahdi lah yang akan menegakkannya, kita tinggal menunggu kedatangannya saja".

Pandangan tersebut jelas salah, bahkan salah fatal, karena :

●Pertama, menegakkan khilafah itu bukan kewajiban pribadi Imam Mahdi, tetapi kewajiban kolektif kaum Muslim di seluruh dunia. Konotasinya; a) Imam Mahdi tidak akan mampu menegakkan khilafah sendirian, b) sejak runtuhnya khilafah hingga kini kaum muslim di seluruh dunia wajib bersama-sama berjuang menegakkan khilafah, dan tidak perlu menunggu Imam Mahdi, dan c) ketika tidak ada khilafah seperti saat ini seluruh kaum muslim berdosa, kecuali yang telah/sedang berjuang untuk menegakkannya dan yang terkena udzur syar'i. Hingga detik ini daulah khilafah belum berdiri, kecuali khilafah organisasi, khilafah senetron, dan khilafah palsu.

●Kedua, dalam hadis disebutkan bahwa Imam Mahdi adalah khalifah dan laki-laki yang dibai'at oleh kaum Muslim sedang ia tidak menyukainya, tidak disebutkan bahwa ia yang menegakkan khilafah sendirian.

●Ketiga, Imam Mahdi tidak diturunkan dari langit, bukan manusia super sakti, dan bukan Imam Syiah ke dua belas yang ghaib di suatu tempat, sehingga dengan kemunculannya seluruh manusia dan seluruh negara di dunia akan tunduk dan menurut kepada komando dan perintahnya.

● Keempat, Rosulullah SAW saja beserta para sahabat pilihan harus berjuang dan menghadapi bermacam rintangan dan tantangan, juga ujian dan cobaan, tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam menegakkan, mempertahankan, melestarikan dan memperluas daulah nubuwwah di Madinah dan selanjutnya daulah khilafah rosyidah mahdiyyah. Inilah hukum kausalitas (sunnatullah) yang juga berlaku bagi Imam Mahdi dan para pejuang khilafah. Bahkan bisa saja ketika Imam Mahdi menjadi khalifah, kaum Aswaja sekular semi Syi'ah Itsnaa 'Asyariyyah masih ngotot mempertahankan NKRI harga mati dan Pancasila finalnya, lalu Imam Mahdi memeranginya.

●Kelima, Imam Mahdi lahir setelah berdirinya Khilafah dan setelah adanya khalifah, bukan sebelumnya.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺍﺧْﺘِﻼَﻑٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻣَﻮْﺕِ ﺧَﻠِﻴْﻔَﺔٍ ﻓَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﺭَﺟُﻞٌ ...
“Akan terjadi perselisihan ketika wafatnya seorang Khalifah. Lalu seorang laki-laki dari Bani Hasyim (Imam Mahdi) keluar dari Madinah ke Makkah. Lalu orang-orang mendatanginya, lalu mereka membai'atnya di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim, sedangkan ia sendiri tidak menyukainya. Lalu tentara dari Syam diberangkatkan untuk menyerang mereka, tetapi ketika tentara itu sampai di daerah al Baida’, maka tentara itu ditelan bumi. Lalu mereka (Imam Mahdi dan pengikutnya) mendapat dukungan dari golongan penduduk Irak dan para wali abdal dari Syam, dan seorang laki-laki dari Syam yang paman-pamannya dari suku Kalb marah-marah, lalu laki-laki itu mengirimkan tentara kepada mereka (Imam Mahdi dan pengikutnya), lalu tentara itu dihancurkan oleh Allah, dan pada hari Kalb itu mereka mendapat kekalahan telak, dan orang yang rugi adalah orang yang tidak mendapatkan jarahan Kalb. Dan ia (Imam Mahdi) mengeluarkan harta karun yang melimpah dan membagi-bagikannya, dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia dengan sarung pedangnya. Imam Mahdi hidup seperti itu selama tujuh atau enam tahun". (HR Aththabroni, Almu'jam Alkabier, juz 17, hal. 207, Syamilah).

Hadits di atas, dengan jelas menyatakan akan ada Khalifah (Imam Mahdi) setelah wafatnya Khalifah sebelumnya. Seperti yang dinyatakan dalam lafadz hadis :
ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺍﺧْﺘِﻼَﻑٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻣَﻮْﺕِ ﺧَﻠِﻴْﻔَﺔٍ ﻓَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﺭَﺟُﻞٌ ...
“Akan terjadi perselisihan ketik wafatnya seorang Khalifah, lalu seorang laki-laki keluar...”

Dengan demikian, pandangan yang menyatakan, bahwa hanya Imam Mahdi lah yang akan menegakkan Khilafah Rasyidah jelas merupakan pandangan yang lemah. Demikian juga pandangan yang menyatakan, bahwa tidak perlu berjuang untuk menegakkan Khilafah, karena tugas itu akan diemban oleh Imam Mahdi, sehingga kaum Muslim sekarang tinggal menunggu kedatangannya saja, adalah juga pandangan yang salah fatal dan tidak berdasar.

Jadi jelas sekali, bahwa Imam Mahdi itu bukan orang pertama yang akan mendirikan Khilafah, dan dia bukanlah Khalifah yang pertama dalam Khilafah Rosyidah yang insya Allah akan segera berdiri tidak lama lagi. Wallahu A'lamu bishshawâb. [].

HIZBUT TAHRIR MENEBARKAN PERPECAHAN ATAS NAMA KHILAFAH ?

Hizbut Tahrir Akan Menebarkan Perpecahan, Kebencian, Kerapuhan Akidah dan Dekadensi Moral atas nama Khilafah?

15 tahun silam Idrus Ramli (dan orang-orang yang seideologi dengannya) berkata :

"Dari beberapa pandangan HT yang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an dan Hadis di atas, kiranya kaum muslimin perlu berpikir jernih dengan hati nurani yang paling dalam, hal-hal yang tersembunyi di belakang jargon khilafah dan tegaknya syariat Islam. Tentu kita akan menolak khilafah dan syariat Islam model HT yang akan menebarkan perpecahan, kebencian, kerapuhan akidah dan dekadensi moral atas nama khilafah dan agama".

(dikutip dari Majalah Ijtihad, edisi 28, Rabiul Awal-Rajab 1429 H, hal. 7, Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan Jatim).

Bantahan alfaqîr (Abulwafa Romli) :

Hizbut Tahrir Akan Menebarkan Perpecahan, Kebencian, Kerapuhan Akidah Dan Dekadensi Moral Atas Nama Khilafah?

Paling tidak ada tiga kebodohan sipenuduh terkait tuduhan miringnya terhadap Hizbut Tahrir :

Pertama : Tidak memahami fikroh dan thariqah Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwahnya, dan tidak membaca keseluruhan kitab-kitab Hizbut Tahrir yang dalil-dalilnya sangat kuat, dengan istinbath yang tepat dan akurat, dan dengan redaksi yang sederhana dan mudah dipaham.

Kedua : Tidak memahami fakta sebab-sebab perpecahan, kebencian, kerapuhan akidah dan dekadensi moral. Padahal sebab-sebab tersebut adalah akibat diterapkannya ideologi kapitalisme yang lahir dari akidah sekularisme yang telah melahirkan sistem demokrasi dan kebebasan ala HAM dll. dan ideologi komunisme yang lahir dari akidah materialisme dengan seperangkat sistem dan pemikirannya.

Ketiga : Tidak memahami pakta serta realita ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya berdakwah di Mekah, dimana kondisi Mekah memanas. Berbagai rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi telah menjadi senjata kaum kuffar Quraisy untuk meggagalkan dakwah Rasulullah SAW. sampai-sampai Beliau dituduh sebagai tukang sihir dan orang gila. Tidak berhenti sampai di situ, kaum kufar menyiksa dan membunuh para sahabat. Sampai pahitnya hidup akibat pemboikotanpun pernah dirasakan oleh Beliau beserta para sahabatnya. Pada akhirnya nyawa Beliau menjadi terancam, dan peristiwa ini telah menuntun beliau berhijrah ke Yatsrib.

Kondisi Mekah saat itu benar-banar memanas dan terjadi perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Anggota keluarga yang telah menerima dakwah Rasulullah SAW dan memeluk Islam dibenci, dimusui, dicaci-maki, bahkan diasingkan oleh keluarga besarnya. Dan telah terjadi kondisi saling mencurigai dan saling memata-matai di antara anggota masyarakat. Semua itu terjadi setelah Rasulullah SAW mulai mendakwahkan Islam di sana, dan kondisi tersebut terus berlangsung selama 13 tahun.

Kondisi tersebut terjadi bukan karena dakwahnya Beliau Nabi SAW, tetapi hanya karena penolakan terhadap dakwah. Mereka yang menolak dakwah membuat rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi terhadap para pengemban dakwah, yaitu Rasulullah saw beserta para sahabatnya. Pada gilirannya kondisi Mekah memanas akibat terjadinya berbagai benturan akidah, keyakinan, pemikiran, pemahaman dan kepentingan di antara para pengemban dakwah dan mereka yang menolak dakwah.

Kondisi tersebut juga terjadi di berbagai negeri di mana Hizbut Tahrir telah memulai dakwahnya di sana. Maka sebagaimana di Mekah, kondisi itu tidak disebabkan oleh dakwah Hizbu Tahrir, tetapi disebabkan oleh rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi dari orang-orang yang menolak terhadap dakwah Hizbut Tahrir.

Juga kerapuhan akidah dan dekadensi moral yang terjadi di berbagai belahan dunia, semuanya disebabkan oleh diterapkannya ideologi komunisme dan kapitalisme dengan sejumlah ide, pemikiran dan sistem sesatnya, seperti sistem komunis, demokrasi, HAM, pluralisme, sinkretisme dan seambrek isme-isme yang lainnya.

Jusru Hizbut Tahrir datang dalam rangka membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada kedua ideologi tersebut menuju penghambaan kepada Allah SWT semata, yaitu dengan meyakini, mempraktekkan dan mendakwahkan syariat-Nya, yakni syariat agama Islam, secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong, apalagi dipotong-potong menjadi beberapa bagian, lalu syariat yang sesuai dengan sistem demokrasi dan kebebasan HAM dipraktekkan dan yang tidak sesuai harus ditinggalkan dan dibuang.

Alfaqîr sendiri telah merasakan, mendengar dan melihat dengan hati, pendengaran dan penglihatan alfaqîr sendiri, betapa kuatnya akidah yang tertanam di dalam dada para syabab dan syabah Hizbut Tahrir. Hal ini terdeteksi dari pengamalan serta perjuangan mereka terhadap syariat Islam. Dan betapa  tingginya etika dan moral mereka. Hal ini juga terdeteksi dari keseharian mereka, baik ketika mereka bertemu dan berkumpul maupun ketika mereka berpisah, di mana sesuatu yang menjadi masalah utama serta ikatan mereka hanyalah Islam dan akidah Islam. Ketika alfaqîr baru masuk kedalam komunitas mereka, betapa alfaqîr merasakan berada di tengah-tengah komunitas orang-orang shaleh dan hamba-hamba Allah yang mempersembahkan jiwa dan raganya untuk meninggikan kalimat-Nya. Alfaqîr tidak merasakan kondisi seperti itu sebelumnya.

Apalagi ketika alfaqîr menyaksikan ratusan sampai ribuan Liwa (Liwaul Hamdi; bendera putih bertuliskan dua kalimat tauhid Laa ilaha illallaoh Muhammadur Rasululloh berwarna hitam) dan Rayah (Royatul 'Uqab; bendera hitam bertuliskan dua kalimat tauhid berwarna putih) berkibar, juga alfaqîr tidak melihat pemandangan itu sebelumnya. Sampai-sampai di bulan Ramadhan alfaqîr bermimpi mengaji kepada Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan bermimpi melihat khilafah berdiri dengan kibaran Liwa dan Royah menyelimuti dunia. Maka alfaqîr selalu berdoa kepadaNya agar alfaqîr tidak mati sebelum menyaksikan berdirinya khilafah ala minhajin nubuwwah…

Jadi Hizbut Tahrir sesuai namanya (partai pembebasan) itu datang untuk membebaskan (memerdekakan) negeri-negeri kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk negeri kita ini, dari segala jenis penjajahan, baik penjajahan fisik maupun penjajahan non fisik. Karena itu, kewajiban kita sebagai kaum Aawaja, adalah mengenali siapa lawan dan siapa kawan, siapa pecundang dan siapa pahlawan, siapa antek penjajah dan siapa lawan penjajah. Ketika salah mendeteksi diantara keduanya, maka akan salah menentukan jalannya. Seharusnya kita berjalan ke surga eh malah ke neraka. Inilah fitnah Dajjal mampu membalik penglihatan manusia, yang surga terlihat neraka dan yang neraka terlihat surga. Wallahu A'lamu bishshawâb. [].

Jumat, 06 September 2019

DISINTEGRASI: HARAM DAN BERBAHAYA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Disintegrasi Indonesia bukan lagi sebuah wacana dan isapan jempol belaka. Ini sebuah kenyataan yang harus disikapi dan diantisipasi. Aceh dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)-nya pernah melancarkan gerakan bersenjata selama bertahun-tahun untuk tujuan tersebut. Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) boleh jadi terus bergerak untuk mewujudkan tujuannya. Bahkan Timor Timur, melalui referendum, berhasil lepas dari Indonesia sejak tahun 1999. Kini, Papua kembali bergolak. Sebagian warganya menginginkan kemerdekaan. Belakangan mereka melancarkan aksi unjuk rasa di berbagai kesempatan menuntut referendum demi memisahkan diri dari Indonesia.

Alhasil, benih-benih distintegrasi di negeri ini seperti 'bara dalam sekam'. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kilatan api yang tidak dapat dipadamkan.
  
Disintegrasi Haram

Kaum kafir penjajah akan terus berusaha menghancurkan kesatuan suatu negara. Salah satunya adalah melalui upaya pecah-belah (disintegrasi).

Sebelum disintegrasi terjadi, kaum kafir penjajah biasanya senantiasa menanamkan pemahaman baru dalam rangka brain washing (cuci otak) terhadap nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat. Pemikiran-pemikiran yang menonjol dalam hal ini adalah nasionalisme, patriotisme, kedaerahan, dan kesukuan. Penanaman pemikiran itu, misalnya kepada masyarakat Papua, dikatakan akan lebih baik berdiri sendiri karena secara fisik dan sejarah sangat berbeda dengan saudara-saudaranya di wilayah lain di Indonesia. Kepada rakyat Timor Timur dulu ditanamkan semangat membebaskan diri dan pemahaman bahwa integrasi Timtim dengan Indonesia merupakan rekayasa Indonesia. Lalu kepada rakyat Indonesia ditanamkan pemikiran yang menekankan pentingnya Timtim dilepas dari Indonesia karena hanya menjadi 'duri dalam daging' dan terus membebani Indonesia karena Timtim propinsi yang miskin.

Proses serupa pernah dilakukan Barat ketika ingin memecah-belah Daulah Khilafah Ustmaniyah yang berpusat di Turki. Akhir abad 19 Barat penjajah mengagitasi pemuda Turki dengan mempropagandakan bahwa Turki memikul beban berat bangsa-bangsa yang bukan bangsa Turki. Turki harus membebaskan diri dari bangsa-bangsa yang bukan Turki. Sebaliknya, slogan-slogan nasionalisme Arab juga disebarkan ke kalangan pemuda Arab, seperti: "Turki adalah negara penjajah", "Kinilah saatnya bagi bangsa Arab untuk membebaskan diri dari penjajahan Turki", dll. Untuk tujuan itu kemudian orang-orang Arab membuat partai politik sendiri. Pemecahbelahan pun terjadi. Daulah Khilafah Islamiyah akhirnya hancur berkeping-keping. Terpecah-menjadi puluhan negara hingga kini.

Selanjutnya, secara politik Barat akan langsung melakukan intervensi. Saat Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus melancarkan berbagai serangan kendati secara sporadis, upaya menumpas pemberontakan tersebut terus disorot oleh Barat dan dianggap melanggar HAM. Akhirnya, konflik tak kunjung usai. Bahkan beberapa tahun lalu, dua anggota Kongres AS, Eni Fa'aua'a Hunkin Faleomavaega asal Samoa dan Donald Milford Payne asal Newark, New Jersey, berhasil menggolkan RUU mengenai Papua Barat yang isinya mempertanyakan keabsahan proses masuknya Papua ke Indonesia. Ini membuktikan bahwa pihak asing seperti AS memiliki kepentingan dengan Papua.

Adanya indikasi campur tangan asing untuk membantu kelompok separatisme Papua sudah tampak paling tidak sejak kehadiran Sekretaris I Kedubes Amerika pada Kongres Papua serta kehadiran utusan Australia, Inggris dan negara-negara asing lainnya yang menghadiri kongres itu. Kongres Rakyat Papua pernah berlangsung tanggal 29 Mei-4 Juni 2000. Kongres menggugat penyatuan Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dilakukan Pemerintah Belanda, Indonesia dan PBB pada masa Presiden Soekarno. Menurut Kongres, bangsa Papua telah berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara sejak 1 Desember 1961. Selanjutnya Kongres meminta dukungan internasional untuk kemerdekaan Papua (Kompas, 05/06/2000).

Keberhasilan kafir penjajah memecah-belah Indonesia yang paling nyata adalah lepasnya Timtim. Begitu Timor Timur merdeka, wilayah itu langsung jatuh ke tangan Australia, satelit AS di kawasan Asia Pasifik. Hal yang sama bisa terjadi atas Papua.

Karena itu jelas, disintegrasi adalah salah satu jalan yang memungkinkan kafir penjajah untuk menguasai kita. Hal ini haram berdasarkan firman Allah SWT:
وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً
Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada kaum kafir untuk memusnahkan kaum Mukmin (QS an-Nisa [4]: 141).

Disintegrasi Berbahaya

Salah satu upaya untuk melemahkan dan menguasai Indonesia adalah dengan strategi  pecah-belah dan disintegrasi. Dulu umat Islam bersatu dalam satu negara besar dan kuat, yakni Daulah Khilafah Islam. Namun, sejak Barat berhasil meruntuhkan Khilafah pada tahun 1924, wilayahnya kemudian dipecah-belah. Sejak itu hingga kini Dunia Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara. Bahkan negara yang kecil-kecil itu dipecah-belah juga dengan disintegrasi.  Indonesia pun kini sedang diarahkan menuju proses disintegrasi tersebut. Tujuannya agar negeri Muslim terbesar ini semakin remuk dan hancur berkeping-keping. Jelas ini adalah kondisi yang amat berbahaya bagi negeri ini.

Belakangan ini bendera Bintang Kejora sering dikibarkan di Papua. Sejak awal, pengibaran Bintang Kejora ini telah dilarang oleh Pemerintah Indonesia. Larangan itu mengakibatkan meletusnya pemberontakan bersenjata pertama di Manokwari (26 Juli 1965) yang dimotori oleh Mandatjan dan Awom bersaudara dengan dukungan politikus senior John Ariks. Penyerangan terhadap kompleks TNI di Manokwari yang dilanjutkan dengan menjalarnya pemberontakan bersenjata ke seluruh wilayah Kepala Burung itulah yang dinyatakan sebagai hari lahirnya Organisasi Perjuangan Menuju Kemerdekaan Papua Barat. Organisasi ini oleh Pemerintah Indonesia dan Aparat Keamanan sering disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM). Demikianlah sampai hari ini pengibaran Bintang Kejora masih terjadi di berbagai tempat di Papua.

Kini tuntutan untuk melepaskan Papua dari Indonesia mencuat kembali.  Peristiwa ini tampak tidak dapat dilepaskan dari upaya pihak asing, khususnya AS, yang membantu separatisme dan disintegrasi jika menguntungkan mereka. 

Selalu Waspada

Karena itu seluruh komponen bangsa, khususnya umat Islam di negeri ini, harus selalu waspada terhadap makar pihak asing yang ingin memecah-belah negeri kita. Hendaknya kita bersatu menghadapi makar mereka sekaligus berjuang mempertahankan kesatuan negeri kita.  Kita harus sadar, disintegrasi hanya akan semakin memperlemah negeri Muslim terbesar ini. Kelemahan itulah yang diinginkan oleh kafir penjajah. 

Karena itu pula para elit politik, khususnya kepada para jenderal dan prajurit Muslim serta para polisi Muslim, hendaknya bangkit dengan kekuatan yang ada untuk tak ragu menjaga setiap jengkal negeri kita agar tidak lepas dari tangan kekuasaan kita. Janganlah negeri ini diserahkan kepada musuh-musuh kita, yakni konspirasi kafir internasional dan antek-anteknya yang telah nyata-nyata akan memisahkan sebagian negeri kita dari kesatuan wilayah negeri kita. Alih-alih memecah-belah, sejatinya negeri-negeri Muslim disatukan.  Karena itu hendaklah kita selalu berupaya sekuat tenaga menjaga perbatasan negeri kita dengan niatan yang ikhlas karena Allah, niscaya kita akan jaya, sebagaimana Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung (TQS Ali Imran [3]: 200).

Hendaklah semua komponen kaum Muslim, baik sipil maupun militer, tidak memberikan kesempatan kepada penguasa seperti dulu mereka telah melepaskan Timor Timur dari negeri kita. Ingatlah, segala keputusan dan sikap perbuatan kita hari ini akan berdampak di masa depan, di dunia maupun di akhirat kelak. Telah tampak di mata kita, tangan-tangan asing dan keterpecahbelahan umat.  Semua itu akibat kita tidak berpegang teguh pada tali Allah SWT yang kokoh, yaitu Islam.

Janganlah kita membiarkan diri kita semakin tercabik-cabik. Jagalah keutuhan kita. Pertahankan kesatuan yang masih ada. Berjuanglah terus untuk menyatukan seluruh negeri-negeri kaum Muslim!  Allahu akbar! []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah atas kalian saat dulu kalian saling bermusuhan, lalu Allah menyatukan kalbu-kalbu  kalian. Dengan nikmat itu kalian menjadi bersaudara. (Ingat pula) saat kalian ada di tepi jurang neraka. Lalu Allah menyelamatkan kalian. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya agar kalian mendapatkan petunjuk. (TQS Ali Imran [3]: 103).

—*—

Sumber:
Buletin Kaffah No. 105 (06 Muharram 1441 H/06 September 2019 M)

Download File PDF:
http://bit.ly/kaffah105