Jumat, 30 Agustus 2019

BALDATUN THOYYIBATUN WAROBBUN GHOFÚR

Mengenal Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofûr

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Baldatun Thoyyibatun artinya Negara Yang Baik, sedang wa Robbun Ghofûr artinya Tuhan Yang Maha Pengampun.

Term Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofûr itu terdapat di dalam Alqur'an surat Saba', Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhan-mu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS Saba' [34] : 15).

Negara yang baik dan yang Tuhannya Maha Pengampun hanyalah negara yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT. Sedang negara yang diridhoi oleh Allah hanyalah negara yang diatur dengan hukum-hukum Allah, sehingga penguasa dan rakyatnya terdiri dari orang-orang yang taat kepada Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Dengan kata lain, negara yang baik adalah negara yang menerapkan sistem pemerintahan yang diridhoi Allah, yaitu sistem pemerintahan yang datang dari Allah, yakni sistem khilafah. Karena hanya sistem khilafah yang mampu menerapkan sistem-sistem yang lainnya yang datang dari Allah, seperti sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem uqubat (sanksi hukum) Islam, dan sistem politik dalam dan luar negeri yang juga Islami.

Kita juga bisa mengetahui bahwa suatu sistem pemerintahan itu diridhoi oleh Allah atau tidak melalui beberapa segmen berikut :

●Pertama, apakah suatu sistem pemerintahan itu diperintahkan oleh Allah atau tidak? Ketika sistem itu benar diperintahkan oleh Allah, maka apakah diperintahkan oleh Allah di dalam Alqur'an dan Assunnah, atau di salah satu dari keduanya? Ketika benar diperintahkan di dalam Alqur'an dan Assunnah atau salah satunya, maka apakah perintah itu secara shorih atau tidak ? Secara manthuq atau mafhum, lalu ditetapkan hukum akan kewajibannya melalui ijtihad yang syar'i.

●Kedua, ketika keberadaan suatu sistem telah ditetapkan kewajibanya melalui salah satu dari yang disebut di poin kesatu, maka sah dikatakan bahwa sistem itu diridlai Allah swt., karena termasuk yang diperintahkan oleh-Nya. Dan Allah ridla ketika perintahnya diamalkan oleh hamba-hamba-Nya, dan murka ketika larangan-Nya dilanggar oleh hamba-hamba-Nya.

●Ketiga, keberadaan dan kewajiban sistem khilafah, di samping telah diperintahkan di dalam Alqur'an dan Assunnah, juga diantara dalil syar'inya adalah Ijmak Sahabat, dan Ijmak sahabat adalah dalil terkuat, karena merekalah yang paling mengetahui dengan Alqur'an dan Assunnah, sehingga ijmaknya tidak akan pernah menyalahi Alqur'an dan Assunnah.

●Keempat, khilafah adalah sistem yang mendunia, bahkan pernah menguasai 2/3 dunia. Dengan argumen ; (a) term imamah uzhmaa atau imam a'zham yang keberadaannya tidak dapat diingkari kecuali oleh orang yang jahil dengan kitab-kitab fikih, baik klasik atau kontemporer, adalah imam bagi kaum muslimin di seluruh dunia, (b) melalui hadis imam Muslim yang menyatakan bahwa, "Ketika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah khalifah terakhir dari keduanya", Assunnah memerintahkan agar kaum muslimin di seluruh dunia hanya boleh memiliki satu khalifah dan haram memiliki dua khalifah atau lebih, dan (c) khalifah adalah kepala negara dalam sistem khilafah. Dengan demikian, khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang mendunia dan menguasai dunia.

●Kelima, sedangkan perbedaan pemilihan dan pengangkatan para khalifah pasca wafatnya Rasulullah saw., maka yang berbeda hanyalah teknis dan mekanismenya saja. Sedang metode/ thariqahnya tetap, baku, final dan tidak pernah berubah, yaitu metode baiat. Inilah yang tidak dipahami oleh kelompok Aswaja Sekular.

●Adapun dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya menegakkan sistem khilafah, baik dari Alqur'an, Assunnah, Ijmak sahabat dan qiyas syar'i, semuanya sudah dijelaskan dengan sangat rinci, baik oleh HT maupun oleh para syabab HT. Dan di bawah adalah dua dalil terkecilnya :

●Dalil pertama : Dalil dari Alqur'an.
Allah swt berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ، فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْئٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (QS An-Nisa [4]: 59).

Pada ayat di atas Allah swt telah menyuruh kaum mukmin agar melaksanakan tiga ketaatan sekaligus ; taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah dan taat kepada ulil amri (pemerintah) dari/ diantara kalian. Perintah taat kepada Allah dan Rasulullah itu secara mutlak. Sedang perintah taat kepada ulil amri, Allah telah membatasinya dengan kata “minkum”, dan kata “ulil amri” juga diathafkan (disambungkan) kepada kata “ar-rasul”. Dengan demikian, ulil amri yang wajib ditaati adalah ulil amri yang telah memiliki dua kriteria ;

1- Ulil amri yang taat kepada Allah dan Rasulullah, dimana telah ditunjukkan oleh kata “minkum”, yaitu ulil amri dari kalian yang telah taat kepada Allah dan Rasulullah.

2- Ulil amri yang pemerintahannya mengikuti pemerintahan Rasulullah saw, dimana telah ditunjukkan oleh peng-athaf-an kata “ulil amri” kepada kata “ar-Rasul”. Dengan demikian ulil amri yang memenuhi dua kriteria di atas itu hanya ada pada khalifah dengan pemerintahan khilafahnya. Dan ketika khalifah tidak ada, maka ayat itu menjadi perintah untuk mengadakannya, karena mustahil bagi Allah menyuruh kaum muslim untuk menaati sesuatu yang tidak ada.

●Dalil kedua : Dalil dari Assunnah.
Rasulullah SAW telah bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى إِخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسَنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ. رواه أحمد وأبو داود والترميذي وابن ماجه عن العرباض بن سارية رضي الله عنه.
"Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah SWT, mendengar dan taat (kepada khalifah atau amir), meskipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya, karena sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih diberi hidup, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh (meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan) kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah segala perkara (agama) yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap sesat itu di neraka". (HR Imam Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah dari Irbadl bin Sariyah ra).

Pada hadits di atas Nabi SAW telah mewajibkan (mewasiatkan) atas kaum muslim agar mendengar dan taat kepada ulil amri, meskipun yang menjadi ulil amri adalah seorang budak sahaya. Dan beliau SAW telah mengabarkan bahwa dikemudian hari akan terjadi banyak perselisihan, yaitu perselisihan dalam urusan politik, karena konteks hadits ini membicarakan urusan politik. Oleh karena itu, Nabi SAW pada sabda berikutnya telah memerintahkan agar kaum muslim berpegang teguh kepada sunnahnya juga dengan sunnah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, yaitu empat khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali rodhiyallohu 'anhum ajma'iin). Berpegang teguh kepada sunnah Nabi SAW itu secara umum dimana mencakup semua urusan kehidupan beragama. Sedang berpegang teguh kepada sunnah para khalifah yang empat itu secara khusus, yaitu dalam urusan politik, karena empat sahabat tersebut adalah para pemimpin politik, yaitu para khalifah, dalam negara khilafah. Lalu Nabi SAW melarang kaum muslim dari segala bid’ah, yaitu bid’ah yang menyalahi sunnah Nabi SAW secara umum, dan bid’ah yang menyalahi sunnah para khalifah yang empat secara khusus, yaitu bid’ah dalam urusan politik, karena seperti diatas konteks hadits ini adalah konteks politik.

●Dengan demikian, sangat jelas bahwa ajaran politik Islam (Ahlussunnah Waljama’ah) adalah ajaran politik khilafah, bukan selain khilafah, karena di samping Nabi SAW telah menyuruh berpegang teguh kepada sunnah para khalifah yang empat, juga telah melarang segala bid’ah yang menyalahi sunnah tersebut.

●Ketika suatu negeri sudah tidak lagi menerapkan hukum-hukum Allah SWT, yakni sudah tidak diterapkan di dalamnya sistem pemerintahan Islam Khilafah yang dengannya juga diterapkan sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem uqûbat ( sanksi hukum ) Islam, dan sistem politik dalam dan luar negeri, maka negeri itu sudah tidak tepat menjadi Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghofur, karena pada surat Saba' berikutnya Allah SWT berfirman :

"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asel (jenis pohon cemara) dan sedikit dari pohon Sider ( jenis pohon bidara)". (QS Saba' [34]: 16).

Dan baca ayat-ayat setelahnya.

Wallohu A’lamu Bishshawâb

Jumat, 23 Agustus 2019

PADA SYARIATNYA ADA PETOLONGANNYA

Pada penerapan syariat Islam secara sempurna ada pertolongan Allah SWT.

Kita Sangat Membutuhkan Pertolongan Allah SWT.

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Berbagai kerusakan (problematika) yang menimpa Kaum Muslim saat ini, di berbagai negeri, sudah sangat memprihatinkan. Mulai problem privat, keluarga, masyarakat, sampai problem politik, berbangsa dan bernegara. Kaum Muslim yang berpegang teguh terhadap agamanya diperlakukan layaknya binatang buas yang harus ditakuti dan diperkusi, dizalimi dan dikhianati.

Kerusakan sendiri tidak dapat terdeteksi kecuali oleh orang-orang baik (shâlihîn) yang memperbaiki (mushlihîn). Sedang orang-orang buruk (thâlihîn) yang rusak (fâsidîn) dan merusak (mufsidîn), mereka justru menikmati kerusakan.

Kerusakan itu sendiri, adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang mengatur jalannya roda kehidupan, perbuatan manusia, dan kelestarian alam semesta. Dan pelanggaran itu, adalah maksiat, mungkar, nifaq, kufur dan syirik, yang dilakukan oleh manusia yang rusak, merusak, munâfiq, kâfir dan musyrik.

Kerusakan itu meliputi; kerusakan kehidupan seperti hilangnya ketentraman, kenyamanan dan keamanan; kerusakan manusia seperti merajalelanya perampokan, pencurian, perjudian, penipuan, perzinaan, kezaliman, pengkhianatan dll.; dan kerusakan alam semesta seperti pencemaran udara dan lingkungan, penggundulan hutan dll.

Ketika kerusakan itu dikarenakan maksiat, mungkar, nifak, kufur dan syirik kepada Allah Tuhan yang telah menciptakan kehidupan, manusia dan alam semesta, yaitu dengan meninggalkan hukum-hukum (syariah)-Nya terkait pengaturan semuanya, maka tidak akan pernah ada solusi komprehensif untuk memperbaiki kerusakan itu, selain kembali kepada penerapan hukum-hukum-Nya.

Lebih dari itu, pada hukum-hukum-Nya ada pertolongan-Nya kepada Kaum Mukmin yang menolong agama-Nya.
ياأيهاالذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم
Yâ ayyuhal ladzîna âmanû in tanshurûllôha yanshurkum wa yutsabbit aqdâmakum

"Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan  menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian". (QS Muhammad [47]: 7).

Menolong Allah itu bukan menolong Dzat-Nya, karena Dzat-Nya tidak butuh pertolongan, tetapi menolong agama-Nya, yaitu dengan mendakwahkan dan menerapkan syariah-Nya dalam kehidupan, masyarakat dan negara.

Ketika syariah Islam dijadikan solusi untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi di dalam kehidupan, masyarakat dan negara, maka Allah akan menurunkan pertolongan-Nya atas kehidupan, masyarakat dan negara.

Maka terapkan syariah-Nya untuk mengatur perekonomian, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan perekonomian. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur pergaulan diantara manusia (muslim dan non muslim, laki-laki dan perempuan), maka pertolongan Allah turun seiring dengan pengaturan pergaulan. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur pendidikan (formal dan non formal), maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan pendidikan. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur sanksi hukuman (hudûd, jinâyât, ta'zîr dan mukhâlafât), maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan sanksi hukuman. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur pemerintahan, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan pemerintahan. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur politik dalam dan luar negeri, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan politik dalam dan luar negeri. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur bangsa dan negara, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan bangsa dan negara.

Juga ketika ideologi Islam diterapkan, maka menjadi kekalahan dan kehancuran bagi ideologi-ideologi yang lainnya. Karena pada penerapan ideologi Islam ada pertolongan-Nya untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu, keberhasilan para khalifah amîrul mukminîn dalam mengatur jalannya politik pemerintahan, berbangsa dan bernegara, tidak semata-mata karena lemah lembutnya seperti Abu Bakar ra, karena tegas dan gagahnya seperti Umar Ibnul Khththab ra, karena dermawannya seperti Ustman bin Affan ra, karena kependekarannya seperti Ali bin Abi Thalib ra dst, tetapi karena mereka mampu menerapkan syariah-Nya untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara di dalam bingkai Daulah Khilafah Rosyidah Mahdiyyah, Khilafah 'alâ minhâjin nubuwwah.

Karena itu juga, khilafah adalah wadah dan medan, dimana para khalifah saling berlomba untuk menjadi pemenang dalam menerapkan syariah-Nya. Siapa saja khalifah yang paling mampu menerapkan syariah-Nya, maka dialah yang paling sukses dalam memimpin dan mengatur pemerintahannya dan paling memuaskan qulûb masyarakatnya.

Berbeda dari khilafah, adalah sistem demokrasi dengan bermacam sifatnya, dimana para pemimpin negara dalam sistem demokrasi saling berlomba untuk membuang hukum-hukum Alloh, untuk membuang syariah-Nya, seraya menggantinya dengan hukum-hukum produk manusia dewan terhotmat di habitatnya, tapi terlaknat di alam ketuhanan dan kenabian. Dilihat dari akidahnya, yaitu sekularisme, dari ideologinya, yaitu kapitalisme, dan dari sifatnya, yaitu liberalisme, tidak ada tempat bagi syariah-Nya untuk diterapkan di dalam demokrasi. Karena demokrasi mendorong manusia untuk membuang, bahkan mengingkari hukum-hukum Alloh SWT. Lebih parah lagi, adalah sistem komunis dengan akidahnya materialisme, dengan ideologinya komunisme - sosialisme, dan dengan sifatnya yang bebas anti Tuhan dan anti agama, maka perbedaannya dari khilafah sangat menganga lebar dan dalam. Jurang yang tidak ada jembatan untuk menyeberanginya.

Sistem demokrasi dan komunis yang diterapkan di negeri-negeri Muslim, adalah pangkal dari kerusakan kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Karena itu, campakkan demokrasi dan komunis, dan masukkan keduanya pada keranjang sampah peradaban. []

Kamis, 22 Agustus 2019

TUKANG FITNAH ITU AHLI NERAKA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Dewasa ini, mungkin sudah jamannya, pendusta dan tukang fitnah diklaim dan dijuluki sebagai singa Aswaja, hanya karena pintar nulis dan bicara. Padahal dalam tulisan dan bicaranya terselip sejuta dusta dan fitnah. Para pendukungnya pun tidak menyadari bahwa dusta dan fitnahnya itu bisa mengeluarkannya dari golongan Ahlussunnah Waljama’ah sebagai Firqah Najiyah yang ahli surga. Karena dusta dan fitnahnya itu telah memasukannya ke golongan ahli neraka. Berarti ia bukan Ahlussunnah Waljama’ah.

Perhatikan firman Allah SWT :
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
"Sesungguhnya orang-orang yang telah memitnah orang-orang beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar". (QS Al-Burûj ayat 10).

Abu Hayyan al-Andalusi [654-745 H/1256-1344 M] berkata :
والظاهر أن { الذين فتنوا } عام في كل من ابتلى المؤمنين والمؤمنات بتعذيب أو أذى ، وأن لهم عذابين : عذاباً لكفرهم ، وعذاباً لفتنتهم
“Yang jelas bahwa ayat, “orang-orang yang telah memitnah”, adalah umum mengenai setiap orang yang telah memitnah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dengan menyiksa atau menyakiti, dan bahwa mereka mendapat dua azab, azab karena kekufuran mereka, dan azab karena fitnah mereka".

Waqaala Azzamakhsyari ...
وقال الزمخشري : يجوز أن يريد بالذين فتنوا أصحاب الأخدود خاصة ، وبالذين آمنوا المطروحين في الأخدود ، ومعنى فتنوهم : عذبوهم بالنار وأحرقوهم ، { فلهم } في الآخرة { عذاب جهنم } بكفرهم ، { ولهم عذاب الحريق } : وهي نار أخرى عظيمة تتسع كما يتسع الحريق ، أو لهم عذاب جهنم في الآخرة ، ولهم عذاب الحريق في الدنيا لما روى أن النار انقلبت عليهم فأحرقتهم ، انتهى
Dan Imam Zamakhsyari berkata: “Boleh, bahwa yang dikehendaki oleh Alloh dengan orang-orang yang telah memitnah, adalah orang-orang yang memiliki lobang-lobang api secara khusus, dan yang dikehendaki dengan orang-orang yang beriman, adalah orang-orang yang dilemparkan ke dalam lobang-lobang itu, dan makna memitnah mereka adalah menyiksa dan membakar mereka dengan api. “maka bagi mereka” di akhirat “azab Jahanam”, sebab kekufuran mereka, “dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar". Yaitu api besar lain yang meluas, sebagaimana meluasnya api yang membakar. Atau mereka mendapat azab Jahannam di akhirat, dan azab yang membakar di dunia, sebagaimana diriwayatkan bahwa api itu berbalik membakar mereka.”

Wayanbaghi ...
وينبغي أن لا يجوز هذا الذي جوّزه ، لأن في الآية { ثم لم يتوبوا } ، وأولئك المحرقون لم ينقل لنا أن أحداً منهم تاب ، بل الظاهر أنهم لم يلعنوا إلا وهم قد ماتوا على الكفر . وقال ابن عطية : { ثم لم يتوبوا } يقوي أن الآيات في قريش ، لأن هذا اللفظ في قريش أحكم منه في أولئك الذين قد علموا أنهم ماتوا على كفرهم . وأما قريش فكان فيهم وقت نزول الآية من تاب وآمن ، انتهى . تفسير البحر المحيط - (ج 10 / ص 459)،  أبو حيان محمد بن يوسف بن علي بن يوسف بن حيّان
“Seyogyanya sesuatu yang telah dibolehkan oleh Imam Zamakhsyari itu tidak dibolehkan, karena pada ayat ada kalimat, “kemudian mereka tidak bertaubat”, dan mereka yang membakar itu tidak dikutip kepada kami, bahwa ada seorang dari mereka yang telah bertaubat. Tetapi yang jelas, bahwa mereka tidak dilaknat, kecuali karena mereka mati dalam kondisi kafir. Dan Ibnu Athiyah berkata; “kemudian mereka tidak bertaubat”, kuat kemungkinan ayat tersebut turun mengenai orang Quraisy, karena kata ini lebih kokoh mengenai orang Quraisy daripada mengenai mereka yang telah diketahui mati dalam kondisi kafir. Adapun orang Quraisy, maka ketika ayat turun, ada orang yang taubat dan beriman.” (Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan, Tafsir al-Bahr al-Muhith, 10/459).

TABAYYUN ADALAH SOLUSI AGAR TIDAK IKUT-IKUTAN MENJADI TUKANG FITNAH

Kebanyakan mereka yang ikut menjadi tukang fitnah itu karena tidak mau bertabayyun kepada pihak-pihak yang difitnah, mereka langsung percaya dan berbaik sangka saja kepada situkang fitnah.

Padahal Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". (QS Al-Hujurat ayat 6).

Dan Rasulullah SAW pun bersabda :
التبين من الله والعجلة من الشيطان . أخرجه الطبري
"Berklarifikasi itu dari Allah, sedang tergesa-gesa itu dari setan".

Jangan ngaku Ahlussunnah Waljama'ah kalau masih menjadi tukang fitnah! []

TUKANG FITNAH ITU BUKAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Peringatan Keras Kepada Para Pendusta Dan Tukang Fitnah Dengan Melemparkan Tuduhan Jahat Lagi Keji Terhadap Hizbut Tahrir Dan Para Syababnya. Seperti Hizbut Tahrir Mengingkari Qodar, Takdir, Qodho-Qodar, Azab Kubur, Membolehkan Neraba-Raba Dan Mencium Wanita Bukan Mahrom, Hizbut Tahrir Didanai Oleh Negara Kafir Inggris, Dan Seterusnya.

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kita telah meyakini, bahwa Ahlussunnah Waljama’ah ala Rasulillah SAW dan sahabatnya adalah Firqah Nâjiyah (kelompok yang selamat dari neraka), dimana mengenai mereka, Muhammad bin Abdul Karîm bin Abu Bakar Ahmad Asysyahrastani dalam kitabnya, Almilal Wannihal, menuturkan :

Akhbaro Annabiyyu ...
أَخْبَرَ النَّبِى عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : سَتَفْتَرِقُ أُمِّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً ، اَلنَّاجِيَةُ مِنْهَا وَاحِدَةٌ ، وَاْلبَاقُوْنَ هَلْكَى . قِيْلَ : وَمَنْ اَلنَّاجِيَةُ ؟ قَالَ : أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَمَاعَةِ . قِيْلَ : وَمَا أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَمَاعَةِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ اْليَوْمَ وَأَصْحَابِي.
“Nabi SAW mengabarkan bahwa umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu diantaranya adalah golongan yang selamat, sedang yang lainnya golongan yang celaka”. Ditanyakan: “Siapakah golongan yang selamat itu?”. Nabi bersabda: “Ahlussunnah Waljama’ah”. Ditanyakan: “Siapakah Ahlussunnah Waljamaah itu?”. Nabi bersabda: “(Orang-orang yang berpegang teguh terhadap) apa yang saat ini aku dan para sahabatku berada di atasnya”. (Muhammad bin Abdul Karim bin Abu Bakar Ahmad Asysyahrastani, Almilal Wannihal, 1/11, Darul Ma’rifah Beirut, 1404 H, tahqiq Muhammad Sayyid Kailani).

Sedangkan berbohong dan memitnah itu dapat menjerumuskan seorang muslim ke neraka, kecuali ketika telah bertaubat secara nashuha sebelum matinya. Oleh karena itu, siapa saja diantara kaum muslim yang berperilaku seperti itu, menjadi pendusta (alkadzdzâb) dan tukang fitnah (Alfattân) secara otomatis, dengan sendirinya, ia telah keluar dari golongan Ahlussunnah Waljama’ah, meskipun ia telah mengklaim seribu kali sebagai golongan Ahlussunnah Waljama’ah.

Terkait perilaku berdusta dan memitnah, Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang yang pendusta". (QS An-Nahel [18] ayat 105).

Ketika menafsiri ayat di atas, Imam Suyuthi berkata :
وأخرج الخرائطي في مساوئ الأخلاق وابن عساكر في تاريخه ، عن عبد الله بن جراد أنه سأل النبي صلى الله عليه وسلم : « هل يزني المؤمن؟ قال : قد يكون ذلك . قال : هل يسرق المؤمن؟ قال : قد يكون ذلك . قال : هل يكذب المؤمن؟ قال : لا . ثم أتبعها نبي الله صلى الله عليه وسلم : إنما يفتري الكذب الذين لا يؤمنون .
“Dan Alkhoroithi dalam kitab Masawiul Akhlaq dan Ibnu Asakir dalam kitab Tarikhnya telah mengeluarkan hadits dari Abdulloh bin Jarod, bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi SAW : “Apakah orang mu’min berzina?”, Nabi bersabda : “Bisa saja ia begitu”. Ia bertanya : “Apakah orang mu’min mencuri?”, Nabi bersabda : “Bisa saja ia begitu”. Dan ia bertanya : “Apakah orang mu’min berdusta?”, Nabi bersabda: “Tidak”. Kemudian Nabi SAW membacakan ayat: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah”.

Waakhroja ...
وأخرج الخطيب في تاريخه ، عن عبد الله بن جراد قال : قال أبو الدرداء « يا رسول الله ، هل يكذب المؤمن؟ قال : لا يؤمن بالله ولا باليوم الآخر من إذا حدث كذب » .
“Dan Alkhothib dalam kitab Tarikhnya telah mengeluarkan dari Abdulloh bin Jarod, ia berkata : “Abu Darda’ berkata : “Wahai Rasululloh, apakah orang mu’min berdusta?”, Nabi bersabda: “Tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, orang yang ketika berbicara, ia berdusta”. (Tafsir al-Durr al-Mantsur, 6/172).

Dari ayat Alqur'an dan dua hadits diatas diketahui bahwa orang mukmin itu tidak berdusta. Berarti ketika ada seseorang yang berdusta sudah menjadi kebiasaannya, maka dapat dipastikan bahwa ia bukan orang mukmin yang sesungguhnya. Dan ketika ia bukan orang mukmin yang sesungguhnya, maka ia juga bukan Ahlussunnah Waljama’ah, karena Ahlussunnah Waljama’ah adalah orang-orang mu'min, bukan tukang dusta dan tukang fitnah.

Dan firman-Nya :
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata". QS Al-Ahzab [35] ayat 58.

Imam Ibnu Katsir berkata :
“Firman Alloh : "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat”. Yakni, mereka menisbatkan kepada orang-orang mukmin dan mukminat suatu perkara yang mereka bebas dari padanya, mereka tidak mengamalkan dan tidak pula mengerjakannya. “maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata". Ini adalah kebohongan yang nyata, yaitu menceritakan atau memindah dari orang-orang mu’min dan mu’minat suatu perkara yang mereka tidak mengerjakannya, dengan tujuan mencela dan merendahkan mereka. Kebanyakan orang yang masuk ke dalam ancaman ini adalah orang-orang kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian golongan Rafidhah (Syi’ah ekstrim) yang merendahkan dan mencela sahabat dengan perkara yang Alloh telah membebaskan mereka dari padanya, dan menyifati sahabat dengan kebalikan sifat yang Alloh telah memberi khabar tentang mereka. Karena Alloh SWT telah memberi khabar, bahwa Dia benar-benar ridha dan memuji sahabat Muhajirin dan Anshar. Sedangkan orang-orang bodoh dan dungu itu mencaci-maki dan merendahkan mereka, dan menyebutkan perkara yang tidak ada, dan mereka tidak pernah mengerjakannya selamanya. Maka orang-orang bodoh dan dungu itu, pada dasarnya, adalah orang-orang yang terbalik hatinya, mereka mencela orang-orang yang terpuji, dan memuji orang-orang yang tercela”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/480-481).

Jadi perilaku di atas, yakni menyakiti orang-orang mu'min dan mukminat, dengan berdusta dan memitnah terhadap mereka, adalah perilaku orang-orang kafir dan Rafidhah (Syi’ah ekstrim), bukan perilaku Ahlussunnah Waljama’ah.

TUKANG FITNAH ITU AHLI NERAKA

Kalau Anda gak percaya bahwa tukang fitnah itu ahli neraka, maka perhatikan firman Allah SWT :
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
"Sesungguhnya orang-orang yang telah memitnah orang-orang beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar". (Al-Buruj ayat 10).

Kalau tukang fitnah itu ahli neraka, berarti bukan Ahlussunnah Waljama’ah Firqoh Najiyah yang ahli surga.

Maka jangan mengaku Ahlussunnah Waljama'ah kalau masih suka berdusta dan memitnah! []

HUZBUT TAHRIR MEMBOLEHKAN BERCIUMAN DENGAN AJNABIYAH ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Di vidio yang beredar luas, Idrus Ramli Alkadzdzaab Alfattaan secara vulgar mengatakan bahwa Huzbut Tahrir membolehkan (laki-laki) berciuman dengan ajnabiyyah (perempuan bukan mahrom). Sebenarnya fitnah ini sudah lama dan terus diulang-ulang oleh Idrus Ramli di berbagai tempat dan di berbagai forum dan menunjukkan bahwasanya belum ada tanda-tanda taubat darinya. Rekam jejak fitnahnya juga ada di sini :

Idrus Ramli mengatakan :

"Keempat, masa lalu an-Nabhani yang pernah tidak lulus dalam studinya di Universitas al-Azhar karena hasil ujiannya yang buruk, sangat berpengaruh terhadap pemikiran HT. Tidak jarang an-Nabhani sendiri dan petinggi-petinggi HT yang lain mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial dan keluar dari al-Qur'an dan Hadis, seperti... ... fatwa bolehnya jabatan tangan dengan wanita ajnabiyyah, fatwa bolehnya qublat al-muwada'ah [ciuman selamat tinggal] dengan wanita ajnabiyyah sehabis pertemuan semisal acara-acara seminar, pelatihan dan lain-lain".
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 28 tahun XV, Rabiul Awal-Rajab 1429, hal.7).

Bantahan saya (Abulwafa Romli) :

Hizbut Tahrir Membolehkan Berciuman Dengan Ajnabiyah ?

Masalah ini telah berulang-ulang dituduhkan kepada Hizbut Tahrir oleh berbagai pihak baik individu maupun organisasi, sebagaimana telah dituduhkan kepadanya oleh HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) dalam materi turbanya, dan saya telah membantahnya dalam buku Nasihat Terbuka Untuk HIMASAL Sebagai Bantahan Atas Materi Turba HIMASAL.
Tuduhan miring di atas adalah copy paste dari kitab Al-Gharoh Al-Imaniyyah tulisan Abdullah Harori (atau kitab yang lainnya).

Padahal dalam hal pergaulan, Hizbut Tahrir telah memiliki kitab An-Nizham Al-Ijtima'iy Fil Islam (sistem pergaulan dalam Islam) yang sudah ada sebelum tuduhan itu muncul, dan dalam kitab tersebut Syaikh Taqiyyuddin benar-benar telah menegaskan :
ﻭﻫﺬﺍ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ، ﻓﻘﺒﻠﺔ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻻﻣﺮﺃﺓ ﺃﺟﻨﺒﻴﺔ ﻳﺮﻳﺪﻫﺎ ﻭﻗﺒﻠﺔ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻟﺮﺟﻞ ﺃﺟﻨﺒﻲ ﺗﺮﻳﺪﻩ ﻫﻲ ﻗﺒﻠﺔ ﻣﺤﺮﻣﺔ، ﻷﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻭﻣﻦ ﺷﺄﻥ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻋﺎﺩﺓ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻬﻮﺓ، ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﺗﻮﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻷﻥ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻟﻤﺎﻋﺰٍ ﻟﻤﺎ ﺟﺎﺀﻩ ﻃﺎﻟﺒﺎ ﻣﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﻄﻬﺮﻩ ﻷﻧﻪ ﺯﻧﻰ : ﻟﻌﻠﻚ ﻗﺒﻠﺖَ ... ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻫﻲ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻭﻷﻥ ﺍﻵﻳﺎﺕ ﻭﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺤﺮﻡ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺗﺸﻤﻞ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﻘﺪﻣﺎﺗﻪ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻤﺴﺎً، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺷﺄﻧﻪ ﺃﻧﻪ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﺮﺍﻭﺩﻫﺎ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻬﺎ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﻘﺒﻠﻬﺎ ﺑﺸﻐﻒ ﺃﻭ ﺷﻬﻮﺓ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﺸﺪﻫﺎ ﺇﻟﻴﻪ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﻌﺎﻧﻘﻬﺎ، ﺃﻭ ﻣﺎ ﺷﺎﻛﻞ ﺫﻟﻚ، ﻛﻤﺎ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺑﻌﺾ ﻣﻦ ﻻ ﺧﻼﻕ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺒﺎﺏ ﻭﺍﻟﺸﺎﺑﺎﺕ، ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺤﺮﻣﺔ ﺣﺘﻰ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻠﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻗﺎﺩﻡ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ، ﻷﻥ ﻣﻦ ﺷﺄﻥ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺸﺒﺎﺏ ﻭﺍﻟﺸﺎﺑﺎﺕ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ . ( ﺍﻟﻨﻈﺎﻡ ﺍﻹﺟﺘﻤﺎﻋﻲّ ﻓﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ , ﺹ 58 ).
"Ini (tentang hukum bolehnya bersalaman dengan ajnabiyyah dengan tanpa syahwat dan tanpa takut fitnah) berbeda dengan berciuman (berkecupan). Maka menciuamnya laki-laki kepada perempuan asing yang dikehendakinya dan menciumnya perempuan kepada laki-laki asing yang dikehendakinya adalah ciuman yang diharamkan, karena termasuk pendahuluan (pemanasan) zina. Sedang kondisi ciuman seperti ini termasuk pendahuluan zina hanyalah menurut kebiasaan saja, meskipun ciuman itu dengan tanpa syahwat, meskipun tidak mendatangkan kepada zina dan meskipun tidak terjadi zina (maka tetap haram). Karena sabda Rasulullah saw kepada Ma'iz ketika ia datang kepada beliau meminta agar beliau membersihkannya karena ia telah berzina: "Barangkali kamu hanya mencium….", itu menunjukan bahwa ciuman seperti ini adalah termasuk pendahuluan zina, dan karena sejumlah ayat dan hadis yang mengharamkan zina itu mencakup pengharaman semua pendahuluannya meskipun hanya rabaan ketika keadaannya termasuk pendahuluan zina, seperti laki-laki menghendaki perempuan, atau merayu tubuhnya, atau menciumnya dengan penuh cinta dan syahwat, atau menariknya kepadanya, atau memeluknya, atau hal-hal yang sejenis denganya, sebagai mana terjadi di antara sebagian manusia yang tidak memiliki bagian dari agama sedikitpun, dari para pemuda dan pemudi. Maka ciuman ini adalah diharamkan, sehingga meskipun untuk menyambut orang yang datang dari perjalanan, karena kondisi berciuman seperti ini di antara para pemuda dan pemudi itu termasuk pendahuluan zina".

Jadi hukum yang telah ditabanni oleh Hizbut Tahrir terkait berciuman tersebut di atas itu sudah sangat jelas dan tidak perlu dimasalahkan lagi. Sedangkan selebaran (nasyrah) tertanggal sekian dan tahun sekian yang telah ditulis oleh Abdullah Harori dalam kitab Al-Gharoh itu mengandung tiga kemungkinan :

Pertama; dikeluarkan oleh pihak yang tidak suka dengan kehadiran Hizbut Tahrir dengan mengatasnamakan Hizbut Tahrir. Ini tidak sulit, karena dapat dilakukan oleh siapa saja.

Kedua; selebaran itu sebenarnya tidak ada, tetapi hanya rekayasa dan dusta dari Abdullah Harori, karena dia telah terbukti suka merekayasa dan berdusta, sehingga baik sangka kepada Hizbut Tahrir itu harus didahulukan dari pada baik sangka kepada orang yang telah terbukti suka merekayasa dan berdusta.

Dan ketiga; benar dari Hizbut Tahrir atau oknum Hizbut Tahrir, tetapi telah dirujuk kembali, karena ibarat atau takbir di atas benar-benar telah menunjukkan hal ini. Ini bukan hal yang baru dalam sejarah umat Islam. Imam Syafi'iy sendiri telah memiliki dua qaul (pendapat), yaitu qaul qadim (pendapat lama) dan qaul jadid (pendapat baru), dan Syaikh Abul Hasan al-Asy'ariy yang disebut sebagai Imam Ulama Ahlussunnah Waljamaah juga dulunya Mu'tazilah lalu bertaubat menjadi Ahlussunnah, bahkan para sahabat dulunya adalah orang-orang kafir dan musyrik. Dan kemungkinan ketiga ini sampai sekarang tidak dapat dibuktikan, karena tidak ada arsipnya. Sedang yang kata Idrus Ramli (dalam tulisannya pada tempat lain seperti buku Hizbut Tahrir dalam sorotan) sebagai naskah asli dari Hizbut Tahrir, hanyalah kopy paste dari kopy paste, bukan naskah asli. Dan yang harus membuktikan adalah orang yang menuduh, bukan yang tertuduh. Maka tidak ada jalan lain selain percaya kepada Hizbut Tahrir, karena telah mempunyai bukti yang sangat kuat dan akurat seperti redaksi kitab Nidzamul Ijtima' diatas, padahal seharusnya seharusnya Hizbut Tahrir cukup bersumpah saja.

Dalam hal ini Rasulullah SAW benar-benar telah bersabda;
ﻟﻜﻦ ﺍﻟﺒﻴﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺪﻋﻲ ﻭﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻧﻜﺮ . ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ .
"Sesungguhnya pihak yang mendakwa itu harus mendatangkan bukti, sedang pihak yang (didakwa dan) menginkari cukup bersumpah". Hadis hasan riwayat Baihaqi dll. dari Ibnu Abbas ra.

Dan beliau SAW benar-benar telah bersabda:
ﺩَﻉْ ﻣَﺎ ﻳُﺮِﻳْﺒُﻚَ ﺇﻟﻰ ﻣَﺎ ﻻﻳﺮﻳﺒﻚ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲّ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ.
"Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan untuk sesuatu yang tidak meragukan". HR Tirmidzi dan Nasai dari Hasan Ibn Aly ra.

Dan kaidah fiqhiyyah juga berkata:
ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﺑﺎﻟﺸﻚ
"Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan oleh keraguan".

Jadi dusta dan fitnah Idrus Ramli terhadap Hizbut Tahrir, bahwa Hizbut Tahrir membolehkan berciuman dengan ajnabiyah adalah dusta dan fitnah yang sangat forno, konyol dan bodoh. Karena sebodoh-bodohnya ulama tidak akan berani berfatwa dengan bolehnya berciuman dengan ajnabiyah.
Wallahu A'lam... []

Jumat, 16 Agustus 2019

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani Mendorong Berfatwa Tanpa Ilmu?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Pada dusta dan fitnahnya kali ini, Idrus Ramli sebagaimana halnya Syaikh al-Fattan Abdullah Al-Harari al-Ahbasy dalam kitab al-Gharah-nya melemparkan dusta dan fitnah terhadap Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, bahwa beliau telah mendorong kaum muslim, terutama para aktivis Hizbut Tahrir, untuk berfatwa tanpa ilmu, hanya dengan landasan petikan potongan pernyataan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab al-Tafkir-nya sebagai berikut:
و(إن الإنسان) متى أصبح قادراً على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهداً، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس وميسر لجميع الناس، ولا سيما بعد أن أصبح بين يدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي.
“(Sesungguhnya seseorang) apabila telah mampu melakukan ber-istinbath, maka ia sudah menjadi mujtahid. Oleh karena itu sesungguhnya istinbath atau ijtihad itu mungkin dilakukan oleh semua orang dan mudah dicapai oleh siapa saja yang menginginkan lebih-lebih sesudah buku-buku bahasa Arab dan buku-buku syariat Islam telah tersedia di hadapan banyak orang dewasa ini”.

Setelah memberi kesimpulannya, Idrus Ramli berkata: “Pernyataan tersebut sangat berpotensi membuka pintu fatwa dengan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui syarat-syarat ijtihad serta sangat berpotensi menimbulkan kekacauan dalam urusan agama dengan banyaknya orang-orang yang berfatwa tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan agama yang memadai.”

Selanjutnya Idrus Ramli mengutarakan syarat-syarat ijtihad. Seakan-akan hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Padahal Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya juga telah mengutarakan syarat-syarat ijtihad dengan sangat lengkap dan mendetil daripada yang disampaikan oleh Idrus Ramli, seperti dijelaskan dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyyah juz 1 dan 3, dll. Lebih ekstrem lagi Idrus Ramli berkata:

“Seorang alim bisa dikatagorikan sebagai mujtahid apabila telah diakui oleh para ulama dan telah memenuhi syarat-syarat berijtihad. Sementara tidak seorangpun dari kalangan ulama yang mengakui Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah memenuhi syarat-syarat ijtihad sebagai mujtahid atau bahkan hanya mendekati saja derajat seorang mujtahid tidak ada yang mengakui. Sehingga ketika keilmuan seseorang tidak diakui oleh para ulama, maka keilmuannya sama dengan tidak ada. Dan ini berarti Syaikh al-Nabhani bukanlah seorang mujtahid atau mendekatinya”.  (Lihat; Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 111-116).

BANTAHAN SAYA :

Bantahan ini akan terbagi menjadi dua bagian :

● Pertama, Idrus Ramli seperti biasanya hanya mengutif sebagian dari pernyataan Syaikh Taqiyyuddin lalu sebagian itu dengan hawa nafsunya yang dipenuhi kebencian terhadap Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir digoreng dan dikasih bumbu-bumbu penyedap sesuai selera dusta dan fitnahnya, sehingga hasil matangnya sangat ekstrem dan berlebihan lalu dilemparkan kepada Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir. Seakan-akan itulah pendapat dan kesesatan Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir. Padahal redaksi pernyataan Syaikh Taqiyyuddin sebelumnya dan dalam bagian lain sangat kontradiksi dengan hasil gorengan Idrus Ramli tersebut. Jadi inilah gaya seorang pendusta, tukang fitnah dan provokator sejati yang selalu memakai topeng Aswaja untuk menutupi wajah buruknya. Karena pernyataan Syaikh Taqiyyuddin yang utuh dan lengkap dan yang mencakup pernyataan sebelum dan sesudahnya adalah sebagai berikut:
أما التفكير لاستنباط الحكم الشرعي فإنه لا يكفي فيه مجرد القراءة حتى يستنبط، وإنما يحتاج إلى معرفة بالأمور الثلاثة، وهي الألفاظ والتراكيب، والأفكار الشرعية، والواقع للفكر أي للحكم، معرفة تمكنه من الاستنباط لا مجرد معرفته. فلا بد أن يكون عالماً باللغة العربية من نحو وصرف وبلاغة الخ، وأن يكون عالماً بالتفسير والحديث وأصول الفقه، ..... ومتى أصبح قادراً على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهداً، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس وميسر لجميع الناس، ولا سيما بعد أن أصبح بين يدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي، ووقائع الحياة ميسرة لجميع الناس يمكن الرجوع إليها والاستعانة بها للاستنباط. ولذلك فإن معرفة الأحكام الشرعية وإن كانت ميسورة لكل فرد، فإن استنباط الحكم الشرعي كذلك ميسور لكل فرد، وإن كان يحتاج إلى معرفة أكثر، أي إلى معلومات سابقة أكثر وأوسع
“Adapun berpikir untuk menggali hukum syariat maka tidak cukup dengan hanya membaca sehingga ia bisa menggali hukum, akan tetapi membutuhkan pengetahuan terhadap tiga perkara, yaitu; lafadz dan susunan lafadz, pemikiran syariat, dan fakta pemikiran atau hukum, dengan kadar pengetahuan yang memungkinkannya untuk penggalian hukum, bukan sekedar pengetahuan. Karenanya dia harus alim dengan bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, balaghah dll, dan dia harus alim tentang tafsir, hadits dan ushul fiqih, … dan ketika dia telah mampu melakukan istinbath, maka dia bisa menjadi mujtahid. Oleh karena itu istinbath atau ijtihad itu dimungkinkan bagi semua orang dan dimudahkan bagi semua orang, lebih-lebih sesudah buku-buku bahasa Arab dan buku-buku syariat Islam telah tersedia di hadapan banyak orang, dewasa ini, dan realita kehidupan dimudahkan bagi semua orang untuk dirujuk dan dibuat bantuan untuk istinbath. Oleh karena itu, pengetahuan tentang hukum-hukum syariat meskipun dimudahkan bagi setiap individu, maka penggalian hukum syariat juga dimudahkan bagi setiap individu, meskipun dia masih butuh kepada pengetahuan yang lebih, yakni butuh kepada informasi terdahulu yang lebih banyak dan lebih luas …”  (Al-Tafkir, hal. 130-131, Maktabah Syamilah).

Dengan membaca serta memahami pernyataan di atas, dan kitab al-Tafkir secara keseluruhan, dapat diketahui bahwa yang dilakukan oleh Syaikh Taqiyyuddin dalam kitab al-Tafkir-nya adalah melatih berpikir positif, terutama terkait penggalian hukum syariat, agar tidak terjatuh kepada prilaku berfikir negatif yang selama ini banyak diperankan oleh kaum liberal, baik kaum liberal bercelana dan berdasi maupun kaum liberal bersarung dan berjubah yang salah satunya adalah Idrus Ramli yang selalu berfikir negatif terhadap perjuangan penerapan syariat Islam secara total melalui penegakkan daulah khilafah rasyidah, dengan dalih akal-akalan anti kepada Hizbut Tahrir-nya, bukan kepada khilafahnya. Justru orang seperti Idrus Ramli seharusnya mengaji kitab al-Tafkir dan yang lainnya dengan bimbingan syabab Hizbut Tahrir agar berfikirnya menjadi positif. Dan di atas juga Syaikh Taqiyyuddin telah menyatakan bahwa untuk menjadi mujtahid itu harus alim dengan bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, balaghah dll, harus alim tentang tafsir, hadits dan ushul fiqih, dan harus alim dengan fakta yang menjadi manathul hukmi. Jadi melakukan penggalian hukum itu harus dengan ilmu, juga berfatwa harus dengan ilmu.

Sedang pernyataan Syaikh Taqiyyuddin “Oleh karena itu istinbath atau ijtihad itu dimungkinkan bagi semua orang dan dimudahkan bagi semua orang”, artinya bagi semua orang yang mau mempelajari syarat-syaratnya dan memiliki kesempatan, karena Syaikh Taqiyyuddin juga menjelaskan syarat-syaratnya, bukan setiap orang secara mutlak. Ini adalah pernyataan orang yang berfikir positif dan baik sangka kepada Allah dan kaum muslim. Dikatakan positif karena lawan dari kata dimungkinkan adalah dimustahilkan, dan lawan dari kata dimudahkan adalah disulitkan. Sekarang bagaimana kalau Syaikh Taqiyyuddin barkata; “Oleh karena itu istinbath atau ijtihad itu dimustahilkan bagi semua orang dan disulitkan bagi semua orang”, artinya tidak ada seorangpun yang bisa istinbath atau ijtihad, maka justru pernyataan seperti inilah yang seharusnya dipermasalahkan, karena termasuk buruk sangka kepada Allah dan kaum muslimien, juga tidak rasional dan tidak pula realistis. Dikatakan buruk sangka kepada Allah, karena semua orang itu makhluk bagi Allah, otak dan hatinya juga telah diciptakan oleh Allah, bukan oleh tuhan yang lain. Kalau Allah mampu menciptakan orang seperti Imam Syafi’iy pada kurun salaf dengan otak serta hatinya yang cemerlang dan khusyuk, maka sekarang juga Allah mampu menciptakan orang seperti Imam Syafi’iy, bahkan yang lebih baik dan lebih alim dari Imam Syafi’iy, karena bagi Allah semuanya adalah mungkin dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Apalagi agama Islam ini adalah milik Allah, dan Allah telah berjanji untuk menjaganya, yaitu dengan menjaga al-Qur’an (al-Dzikr). Maka sangat rasional kalau Allah pada setiap masa menciptakan, di antara hamba-hamba-Nya, seseorang yang akal dan hatinya cemerlang dan khusyuk, sehingga bisa untuk istinbath dan ijtihad, karena hal itu untuk menjaga kesempurnaan agama-Nya yang sanggup menjawab semua problem dan peristiwa sepanjang zaman.

● Kedua, terkait pernyataan Idrus Ramli ;
“Seorang alim bisa dikatagorikan sebagai mujtahid apabila telah diakui oleh para ulama dan telah memenuhi syarat-syarat berijtihad. Sementara tidak seorangpun dari kalangan ulama yang mengakui Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah memenuhi syarat-syarat ijtihad sebagai mujtahid atau bahkan hanya mendekati saja derajat seorang mujtahid tidak ada yang mengakui. Sehingga ketika keilmuan seseorang tidak diakui oleh para ulama, maka keilmuannya sama dengan tidak ada. Dan ini berarti Syaikh al-Nabhani bukanlah seorang mujtahid atau mendekatinya”.

Idrus Ramli, sebagaimana Abdullah Harari dalam kitab al-Gharah-nya, dalam pernyataannya sama sekali tidak menjelaskan kriteria ulama yang pengakuan atau kesaksiannya terhadap seseorang sehingga bisa disebut sebagai mujtahid dapat diterima, juga berapa jumlah ulama tersebut. Sedang yang dapat ditangkap dari pernyataan itu hanyalah buruk sangka dan kebencian yang berlebihan terhadap Syaikh Taqiyyuddin. Kalau yang dimaksud oleh Idrus Ramli adalah para ulama seperti al-Hafizh al-Dzahabi serta para ulama sebelum dan sesudahnya yang telah wafat sebelum lahirnya Syaikh Taqiyyuddin, maka betapa bodohnya Idrus Ramli, karena bagaimana mungkin para ulama yang telah wafat bersaksi bahwa Syaikh Taqiyyuddin adalah Mujtahid. Kalau yang dimaksud adalah para ulama salathin seperti Abdullah al-Harari al-Ahbasy dan sesamanya atau seperti ‘ulama wahabi’, maka juga sangat keliru, karena aktivitas Syaikh Taqiyyuddin yang selalu mengkritik dan mengkoreksi pemerintahan (salathin) yang zalim itu menjadi pemicu bagi kemarahan mereka, sehingga mereka berani membayar para ulama salathin untuk menjatuhkan kewibawaan serta merusak nama baik Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya, maka mengharap pengakuan dan kesaksian atas kemujtahidan Syaikh Taqiyyuddin dari mereka itu sangat sulit seperti pengakuan dari Idrus Ramli sendiri. 

Kalau yang dimaksud adalah para ulama yang saleh yang semasa dengan Syaikh Taqiyyuddin, maka Idrus Ramli juga sangat keliru, karena di antara mereka tidak sedikit yang belum membaca kitab-kitab Syaikh Taqiyyuddin yang sangat cemerlang dan penuh dengan solusi kebangkitan dan kejayaan Islam dan kaum muslimien, dan tidak sedikit pula yang telah termakan oleh fitnah terhadap Syaikh Taqiyyuddin dari ulama salathin. Dan kalau yang dimaksud adalah para ulama saleh yang belum termakan fitnah yang semasa dengan Syaikh Taqiyyuddin dan yang setelahnya, maka Idrus Ramli juga sangat keliru, karena tidak sedikit aktivis Hizbut Tahrir dari berbagai belahan dunia yang jumlahnya ribuan adalah para ulama yang saleh dan mukhlish, dan mereka telah mengakui dan menyaksikan bahwa Syaikh Taqiyyuddin adalah mujtahid, bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa beliau adalah mujtahid muthlaq, bahkan sebagai mujaddid (pembaharu). Di antara pengakuan dan kesaksian mereka adalah sebagai berikut :

Muhammad Muhsin Radhi dalam tesisnya menyatakan :
“Derajat keilmuan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dapat dilihat dari sejumlah karya ilmiahnya yang tidak sedikit yang mencakup semua tuntutan kehidupan (pribadi, masyarakat dan negara) yang dibutuhkan oleh umat untuk mencapai kebangkitan serta mengembalikan derajat hakikinya (sebagai sebaik-baik umat) di antara umat-umat yang lain. Sungguh pada semua karya ilmiahnya telah nampak pembaharuan (tajdid) dalam lapangan pemikiran, fiqih dan politik. Oleh karena itu, produk pemikirannya adalah usaha terdepan dari seorang pemikir muslim pada masa ini. Sehingga beliau adalah pemimpin bagi para pemimpin pemikiran dan politik pada abad 20 ini, sehingga setelah itu tidak asing lagi kami menemukan orang-orang yang menjadikan Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani berada di barisan para ulama mujtahid dan mujaddid.

Ustadz Ghanim Abduh sebagai syabab qudama terkemuka Hizbut Tahrir menuturkan, bahwa Sayyid Quthub RH dalam kesempatan ilmiahnya pernah menyanjung Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani dan membantah seseorang yang melempar tuduhan miring terhadap beliau. Dan di antara pernyataan Sayyid Quthub adalah: “Sesungguhnya Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani ini dengan karya-karya ilmiahnya telah sampai ke derajat para ulama terdahulu kami”. Dan Prof. Dok. Muhammad bin Abdullah al-Mas’ari telah menyifati Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani seraya berkata: “Beliau adalah mujaddid abad 20, panutan ulama dunia, seorang alim yang berjihad, imam rabbani (orang yang telah mencapai derajat makrifat), Abu Ibrahim Taqiyyuddin al-Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir), yang telah meletakkan batu pondamen bagi pemikiran Islam kontemporer yang tinggi, dan bagi pergerakan yang ikhlas dan sadar, semoga Allah meninggikan derajatnya bersama anbiya’, shiddiqin, syuhada’ dan ulama shalihin”.  (Muhammad Muhsin Radhi, Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamati Daulati al-Khilafati al-Islamiyyati, dengan pengawasan Prof. Dok. Walid Ghafuri al-Badri, hal. 33, Wizarah al-Ta’lim al-Ali wa al-Bahtsi al-Ilmi al-Jami’ah al-Islamiyyah / Kulliyyah Ushuluddin, Oktober 2006).

Di bawah adalah karya-karya ilmiah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang sangat cemerlang:
1. Nizham al-Islam (sistem Islam)
2. Al-Takattul al-Hizbi (pembentukan partai politik)
3. Mafahimu Hizbal-Tahrir (konsepsi Hizbut Tahrir)
4. Al-Nizham al-Iqtishad fi al-Islam (sistem ekonomi Islam)
5. Al-Nizham al-Ijtima’iy fi al-Islam (sistem pergaulan Islam)
6. Nizham al-Hukmi fi al-Islam (sistem pemerintahan Islam)
7. Al-Dustur (undang-undang dasar)
8. Muqaddimah al-Dustur (pengantar undang-undang dasar)
9. Al-Daulah al-Islamiyyah (negara Islam)
10. Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, tsalatsata ajza’in (kepribadian Islam, tiga juz)
11. Mafahim Siyasiyyah li Hizb al-Tahrir (konsepsi politik Hizbut Tahrir)
12. Nazharat siyasiyyah (pandangan politik)
13. Nidaun Haar (seruan hangat)
14. Al-Khilafah (khilafah)
15. Al-Tafkir (metode berpikir)
16. Al-Kurrasah (buku catatan)
17. Sur’atul Badihah (secepat kilat)
18. Nuqthatul Inthilaq (titik permulaan)
19. Dukhulul Mujtama’ (terjun ke masyarakat)
20. Inqazhu Falesthin (menyelamatkan Palestina)
21. Risalatu ‘Arab (risalah Arab)
22. Tasalluhu Mishra (mempersenjatai Mesir)
23. Al-Ittifaqiyat al-Tsunaiyyah al-Mishriyyah al-Suriyyah wa al-Yamaniyyah
24. Hallu Qadhiyyati Falesthina ‘ala Thariqati al-Amriqiyyah wa al-Inkiliziyyah
25. Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla (politik ekonomi ideal)
26. Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah (bantahan terhadap sosialisme marxisme)
27. Kaifa Hudhimat al-Khilafah (bagaimana khilafah dihancurkan)
28. Nizham al-‘Uqubat (sistem persanksian)
29. Ahkam al-Bayyinat (hukum pembuktian)
30. Ahkam al-Shalat (hukum-hukum shalat)
31. Naqdh al-Qanun al-Madani (bantahan terhadap undang-undang sipil)
32. Al-Fikru al-Islami (pemikiran Islam), dll.

Dan untuk mempermudah penyebaran kitab Kaifa Hudhimat al-Khilafah, Nizham al-‘Uqubat, Ahkam al-Bayyinat, Ahkam al-Shalat, al-Fikru al-Islami Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla, Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah, dan Naqdhu al-Qanun al-Madani, ditulis atas nama syabab Hizbut Tahrir. Dan masih ada ribuan nasyrah pemikiran, politik dan ekonomi yang telah ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani RH.  (Ibid, hal. 28).

Kalau kita mau jujur dan obyektif, dengan mengkaji semua kitab di atas dan yang lainnya sebagai karya ilmiah Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, sudah cukup untuk menjadi saksi dan bukti konkrit, bahwa beliau benar-benar seorang mujtahid dan mujaddid, karena semuanya langsung digali dari sumber syari’at Islam melalui dalil-dalil yang telah disepakati oleh semua ulama Ahlussunnah Waljama’ah ala Rasulullah SAW, yaitu al-Qur’an, al-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas al-Syar’iy, dan berdasarkan pemahaman terhadap fakta dan realita yang sangat mendalam. Dan kalau kita mau jujur, obyektif dan tidak fanatik, kalau setandar mujtahid muthlaq adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad, maka karya-karya ilmiah yang dimiliki Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani itu melebihi dari karya-karya ilmiah salah satu dari empat imam besar tersebut, karena banyak karya ilmiah Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani yang baru dan belum ada yang mendahului. Kalau ada yang berkata bahwa ushul fiqih Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani itu perkembangan dari ushul fiqih Imam Syafi’iy atau diambil dari padanya, berarti Syaikh Taqiyyuddin bukan mujtahid muthlaq, maka jawabnya bagaimana dengan Imam Ahmad sebagai murid dari Imam Syafi’iy dan ushul fiqihnya juga diambil dari karya Imam Syafi’iy, kenapa Imam Ahmad dinamai mujtahid muthlaq? Dan Imam Syafi’iy juga murid dari Imam Malik dan ushul fiqihnya juga sama dengan ushul fiqihnya, hanya saja Imam Malik belum menulis ushul fiqihnya, dan Imam Syafi’iy adalah orang pertama yang menulis (dawwana) ushul fiqih para imam terdahulunya, maka kenapa juga Imam Syafi’iy dinamai mujtahid muthlaq?

Jadi daripada kita berdosa karena buruk sangka kepada Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, lebih baik kita meraih pahala dengan baik sangka kepada beliau, karena baik sangka kepada sesama muslim adalah tradisi dan karakter Ahlussunnah Waljama’ah, sedang baik sangka kepada orang kafir adalah tradisi dan karakter kaum liberal yang munafik. Kerena kita semua akan bertanggung jawab dihadapan Allah, sebagaimana Syaikh Taqiyyuddin juga akan bertanggung jawab dihadapan-Nya. Dan kita semua berharap bisa datang kepada Allah dengan hati yang selamat (bi qalbin salim). Wallahu A'lamu bishshawâb. [].

Selasa, 06 Agustus 2019

MENGHADANG ISLAMOFOBIA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Sesungguhnya ketakutan serta kebencian terhadap agama Islam, Islamofobia (Islamophobia) dan orang-orang Muslim itu sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW menjadi Rasulullah (utusan Allah), dan Nabi beserta para sahabatnya bisa menghadapinya dengan baik, dengan bimbingan Wahyu, baik Alqur'an maupun Assunnah. Nah, sekarang juga kita bisa menghadapinya dengan bimbingan Wahyu berupa Alqur'an dan Assunnah. Kita ittiba' serta meneladani Rasulullah SAW.

DEFINISI ISLAMOFOBIA

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Pada tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim," dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama. Langkah-langkah telah diambil untuk peresmian istilah ini dalam bulan Januari 2001 di "Stockholm International Forum on Combating Intolerance". Di sana Islamofobia dikenal sebagai bentuk intoleransi seperti Xenofobia dan Antisemitisme . (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Islamofobia).

PENYEBAB ISLAMOFOBIA

Pengertian Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim," tentu memiliki beberapa sebabnya, diantaranya :

Pertama, kebencian dan permusuhan mendalam sebagai karakter orang-orang kafir, musyrik bahkan munafiq.

Allah SWT di dalam Al-Qur'an telah sangat jelas menjelaskan karakter orang kafir.
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Albaqoroh, 2/ 217).

Di dalam surat Albaqoroh Allah juga berfirman:
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Albaqoroh, 2/120).

Dua ayat diatas berlaku umum terkait karakter orang-orang kafir di setiap tempat dan setiap masa. Mereka akan berupaya terus menerus dari generasi ke generasi untuk menjerumuskan umat Islam kepada kekafiran, dan berbagai cara akan mereka lakukan.

Pada masa Rasulullah SAW bagaimana orang-orang kafir bersatu padu memusuhi dan memerangi dakwah Nabi Muhammad SAW. Ketika di kota Mekkah, orang-orang musyrik memusuhi Islam dan kaum Muslim. Juga setelah Nabi SAW hijrah ke  Madinah (Yatsrib) bertambah lagi kelompok yang memusuhi Islam dan kaum Muslim, yaitu kaum Yahudi Madinah.

Dan mereka semua bersatu padu memerangi Rasulullah SAW pada perang Ahzab yang lebih dikenal dengan perang Khondaq. Kabilah-kabilah musyrikin Quraiys bersatu mengepung kota Madinah. Sedang kaum Yahudi Madinah mencoba membantu pasukan Ahzab secara diam-diam.

Itulah karakter orang-orang kafir dan musyrik yang disebutkan di dalam Al-Quran dan dialami langsung oleh Rasulullah SAW dan sahabat - sahabatnya.

Begitu juga dengan kaum munafiqun, mereka bekerjasama dengan kaum kafir dan musyrik, untuk membenci serta menghalangi dakwah kepada syariah Islam, sebagaimana juga dialami oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Allah SWT berfirman :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kalian tunduk kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasulullah", niscaya kamu lihat orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu". (QS Annisâ, 4/61).

Dan firman-Nya :
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang munkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasiq". (QS Attaubah, 9/67).

Dua ayat diatas sudah cukup untuk membongkar karakter kaum munafiq dalam membenci dan menghalangi dakwah kepada Islam Kaffah melalui penegakkan syariah dan khilafah, berbagai dalih mereka ungkapkan dan berbagai cara mereka lakukan.

Kedua, salah paham / paham yang salah terhadap Islam dan orang-orang Muslim, sehingga membenci nya.

Salah paham / paham yang salah kepada Islam sehingga melahirkan sikap fobia terhadap Islam, karena mereka telah mengkaji dan mempelajari Islam bukan dari sumber utamanya, Alqur'an dan Assunnah, tetapi dari para pembencinya, dari orang-orang kafir, musyrik dan munafiq, sehingga Islam dicitrakan sebagai agama yang buruk, tidak sesuai dengan fitrah, akal dan tabiat manusia, bahkan Islam dicitrakan sebagai agama teroris dan barbar.

Salah paham / paham yang salah terhadap orang-orang Muslim, karena sejak runtuhnya daulah khilafah utsmaniyyah pada 3 Maret 1824, kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam sebagai ideologi yang menerapkan sejumlah sistem (aturan); sistem pemerintahan Islam (termasuk bentuk pemerintahan Islam yaitu khilafah), sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem uqûbat (sanksi hukum) Islam dan sistem politik dalam dan luar negeri nagara Islam khilafah.

Selanjutnya kaum Muslim dipaksa untuk tunduk dan mengikuti berbagai sistem yang nota bene kontradiksi dengan Islam, seperti sistem pemerintahan demokrasi dan komunis. Lalu oleh sistem itu mereka dibebaskan dengan sebebas-bebasnya melakukan apa saja dari kemaksiatan dan kemunkaran asalkan tidak mengganggu kebebasan orang lain, dan asalkan tidak mengganggu jalannya roda pemerintahan yang sedang diterapkan.

Dengan demikian, kaum Muslim terperosok jatuh kedalam lembah keterpurukan dan dekadensi moral yang sangat dalam, dan mayoritas mereka sudah tidak mengenal adab dan akhlak yang lahir dan memancar dari akidah Islam. Mereka layaknya sekumpulan binatang didalam rimba belantara yang saling menerkam dan memangsa. Pakaian wanita muslimat pun dalam kehidupan umum hanya melekat dibagian tubuh tertentu sesuai selera dan syahwat kebebasan. Lebih baik dan lebih indah bulu-bulu binatang yang melekat dikulitnya daripada pakaian muslimat merdeka berpenampilan budak-budak sahaya dari batas-batas auratnya.

Maka karena itulah, orang-orang di luar Islam memandang kaum Muslim dengan pandangan hina dan rendah. Karena telah terjauh dari keagungan dan kemuliaan syariat Islam yang dipeluknya.

SOLUSI MENGHADANG ISLAMOFOBIA

Tidak ada solusi untuk menghadang dan menghadapi Islamofobia, selain dakwah kepada Islam serta amar makruf dan nahi mungkar. Dakwah kepada Islam adalah menyampaikan Islam yang apa adanya, yang tidak dikurangi dan ditambahi, sesuai yang telah datang dan dibawa oleh baginda Rasulullah SAW. Karena Islam yang apa adanya itulah yang didalamnya ada keagungan, kemuliaan dan keindahan yang membuat mata dan hati umat non muslim terbelalak dan terpesona.

Amar makruf dan nahi munkar pun mampu menjadikan Islam dan kaum Muslim disegani dan dihormati baik oleh lawan maupun kawan. Syariat, akhlak dan adab Islam pun terjaga tanpa ada yang disia-siakan.

Dalam hal dakwah dan amar-makruf dan nahi-munkar, Allah SWT berfirman :
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan[1], menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung". (QS Ali Imron, 3/104).

[1] Alkhoir (kebajikan), yakni Islam dan syariat-syariat-Nya yang telah disyariatkannya kepada hamba-hamba-Nya. (Tafsir Aththobari).

Mengenai dasar-dasar dakwah, Allah SWT berfirman :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu[1] dengan hikmah[2] dan pelajaran yang baik[3] dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS Annahel, 16/125).

[1] yakni kepada syariat Tuhan-mu yang telah disyariatkannya untuk makhluk-Nya, yaitu agama Islam.
[2] yakni wahyu Allah yang diwahyukannya kepadamu dan kitab-Nya yang telah diturunkannya kepadamu.
[3] yakni pelajaran yang baik yang Allah telah menjadikannya sebagai hujjah atas mereka didalam kitab Alqur’an-Nya. (Tafsir Aththobari)

PERLUNYA DAKWAH PENEGAKKAN KHILAFAH

Dakwah kepada penegakkan khilafah rosyidah adalah solusi tuntas untuk menghadang, menghadapi dan menghentikan laju Islamofobia. Karena dengan tegaknya khilafah rosyidah bisa terwujud tiga perkara ;

Pertama, Islam Rahmatan Lil'alamin, dimana Allah SWT berfirman :
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS Al Anbiya [21]: 107).

Kedua, Persaudaraan Islam, dimana Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat". (QS Alhujurat [49]: 10).

Ketiga, Ber-Islam Kaffah, dimana Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian". (QS Albaqoroh [2]: 208).

Sedangkan kaedah syara' menegaskan demikian :
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
"Apa saja perkara dimana suatu kewajiban tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka perkara itu adalah wajib"

Faktanya, baik Islam Rahmatan lil'alamin, Ukhuwwah Islamiyyah, maupun Ber-Islam Kaffah, semuanya tidak bisa sempurna tanpa penegakkan Khilafah terlebih dahulu.

Dengan demikian Islam Akan menjadi agama yang dicintai dan digandrungi oleh seluruh umat manusia dan tidak akan ada lagi manusia yang mengidap virus Islamofobia, selain segelintir manusia pengecualian yang sedikit. Wallohu A'lam.