Kamis, 04 Juli 2019

KHILAFAH MENYEMPURNAKAN IBADAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Khilafah menyempurnakan ibadah, artinya dengan khilafah yang menerapkan syariah Islam secara sempurna, kaum muslim bisa beribadah kepada Allah dengan sempurna, karena ibadah itu terdiri dari ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh; ibadah mengatur urusan diri dengan Tuhannya, ibadah mengatur urusan diri sendiri, dan ibadah nengatur urusan diri dengan sesamanya, termasuk urusan diri dengan masyarakat dan negara, termasuk cara mengelola negara. Dan substansi khilafah adalah seorang khalifah yang menerapkan syariah Islam secara sempurna. Karenanya, kalimat menegakkan khilafah bisa diganti dengan menegakkan khalifah atau menegakkan hukum-hukum khalifah, seperti dalam tafsir Alqurthubi.

DEFINISI IBADAH
Ibadah miturut Syaikh Aly Jurjany rh dalam kitabnya At-Ta'rifat ialah :
فعل المكلف على خلاف هوى نفسه تعظيما لربه
"Perbuatan orang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya untuk mengagungkan Tuhannya".
Artinya, amal perbuatan seorang hamba itu harus terikat dengan hukum-hukum syariat yang telah diturunkan oleh Allah swt Tuhan yang diibadahi, tidak boleh ada satupun perbuatan yang terlepas dari hukum-hukumNya, atau mengikuti hukum-hukum produk hawa nafsu manusia.

Substansi ibadah miturut Al-Jurjany ialah :
الوفاء بالعهود وحفظ الحدود والرضا بالموجود والصبر عن المفقود
"Menepati janji, menjaga hudûd, ridla dengan yang ada, dan sabar dari yang tidak ada".

1. MENEPATI JANJI
Baik janji kepada Allah swt maupun janji kepada sesama manusia sebagai hamba Allah.
Janji kepada Allah swt seperti dijelaskan dalam firman-Nya :
"Bukankah Aku telah berjanji (memerintahkan) kepada kamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. inilah jalan yang lurus". (QS Yasin [36]: 60-61).

Dan dalam firman-Nya :
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu
membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah kalian itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat". (QS An-Nahel [16]: 91).

Dan dalam firman-Nya :
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad [perjanjian] itu…….". (QS Al-Maidah [5]: 1).

Dan dalam Assunnah :
وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إدْا اؤتمن خان وإدْا حدث كدْب وإدْا عاهد غدر وإدْاخاصم فجر. متفق عليه.
Dari Abdullah Ibnu Amer Ibnul 'Ash ra bahwa Rasulullah saw bersabda : "Empat karakter yang siapa saja memiliki semuanya, maka ia munafik murni, dan siapa saja memiliki satu darinya, maka ia memiliki satu karakter munafik sampai ia meninggalkannya; (1) ketika dipercaya khiyanat, (2) ketika bicara dusta, (3) ketika berjanji menyalahi, dan (4) ketika berperkara menyimpang". (Hadis Mutafaq 'Alaihi).

Janji Allah swt kepada manusia ialah seluruh perintah dan larangan-Nya yang wajib dikerjakan dan ditinggalkan oleh manusia hambaNya, seperti dalam hadis :
إن الله فرض الفرائض فلا تضيعوها وحد حدودا فلا تعتدوها وحرم أشياء فلا تنتهكوها وسكت عن أشياء فلا تبحثوها رحمة لكم غير نسيان.
"Sesungguhnya Allah swt telah memardhukan [mewajibkan] banyak kefardhuan maka kamu jangan menyia-nyiakannya, telah menetapkan hudûd maka jangan melampauinya, telah mengharamkan segala sesuatu maka jangan menerjangnya, dan telah diam dari segala sesuatu maka jangan membahasnya, karena rahmat kepada kamu bukan karena lupa". (Hadits Arba'în Nawawi).

Sedangkan janji manusia kepada Allah swt ialah seperti janji akan selalu taat, ibadah, dan taubat kepada-Nya. Sedang janji yang terjadi diantara sesama manusia itu banyak sekali contoh serta kasusnya yang telah diketahui umum. Jadi menepati janji dengan segala macamnya adalah inti dari pada ibadah kepada Allah swt.

2. MEMELIHARA HUDÛD
Ialah menjaga dan menegakkannya sesuai yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya saw. Maka siapa saja yang mengklaim sebagai hamba Allah, ia tidak boleh mengurangi dan menambahnya. Rasulullah saw bersabda; "Wa hadda hudûdan falaa ta'tadûhâ (Dan Allah telah menentukan hudûd maka kalian jangan melampoinya). Hudûd ialah jamak dari kata hadd, sebagai bagian dari Nizhâmul'uqûbat (sistem sanksi hukum), seperti had  pezina muhshon diranjam sampai mati dan bagi pezina ghoiru muhshon didera seratus kali, had pencuri sampai nishobnya 1/4 dinar dipotong tangannya, had peminum khamer didera delapan puluh kali, juga qishash pembunuh dibunuh lagi, dll, termasuk jinayat dan ta'zir dengan segala macamnya, dimana semuanya telah diterangkan oleh ulama fuqohâ dan berserakan di berbagai literatur fuqaha dari berbagai madzhab. Dan sangat mudah dicari dan dipelajari.

3. RIDHO DENGAN YANG ADA
Ialah menerima dengan ikhlash dengan semua ketentuan Allah swt dan Rasul-Nya saw., baik yang terkait dengan perintah dan larangan; hukum dan sistem yang mengatur kehidupan, masyarakat, dan negara; rizki yang banyak dan yang sedikit; mendapat nikmat dan terkena musibah; menjadi orang yang sempurna fisik dan mentalnya dan menjadi orang yang berkekurangan; punya anak perempuan dan punya anak laki-laki; dan seterusnya. Karena termasuk ridha dengan qadha dan qadar dimana baik dan buruknya dari Allah swt.

4. SABAR DARI YANG TIDAK ADA
Ialah sabar dari sesuatu yang tidak dimiliki dan dari sesuatu yang telah hilang. Syariat Islam adalah milik Allah yang telah diberikan kepada kita kaum Muslim dan telah menjadi agama kita. Dan sah bila kita berkata ; "Syariat [agama] Islam adalah milik kita". Kita ridha dengan Islam, karena Allah juga ridha Islam menjadi agama kita. Kita harus bersabar meninggalkan syariat selain Islam. Baik syariat dari langit seperti Yahudi dan Kristen maupun syariat produk hawa nafsu manusia seperti berbagai hukum dan sistem serta undang-undang yang diterapkan didalam negara demokrasi-sekular dan sosialis-komunis.

Atau kita tidak memiliki sesuatu dimana orang lain memilikinya, maka kita harus bersabar dengan tidak merampas dan mencurinya, karena bukan milik kita. Atau kita telah memilikinya lalu hilang, karena terbakar, tenggelam, dicuri, atau dirampas dan dirampok. Atas semua itu kita harus bersabar.

Ibadah dengan pengertian diatas sangat sesuai dengan firman Allah swt :
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ...  ...
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh". (QS Adz-Dzariyat [51]: 56-58).

IBADAH HANYA KEPADA ALLAH
Kita tidak boleh beribadah kepada Makhluk. Kebaikan yang kita kerjakan untuk kepentingan makhluk seperti menolong dan memberi, harus menjadi ibadah kepada Allah dengan niat lillâhi ta'âlâ. Ibadah bukan hanya berarti rukuk dan sujud, tetapi taat, tunduk, patuh dan mengikuti itu termasuk beribadah. Maka kita tidak boleh taat, tunduk, patuh dan mengikuti kepada makhluk, kecuali sesuai perintah dan larangan Allah.

Ketika Rasulullah saw membaca ayat :
اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لاإله إلا هو سبحانه عما يشركون.
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan (yang disembah) selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". (QS.At-Taubat [9]: 3).

Adi ibn Hatim ra berkata : "Sesungguhnya mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah mereka (para Rahib dan Pendeta)". Maka Nabi saw bersabda :
بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال وأحلوا لهم الحرام فاتبعوهم فذلك عبادتهم إياهم. رواه الإمام أحمد والترميذى وابن جرير من طرق عن عدي بن حاتم كما في تفسير ابن كثير.
"Ya, sesungguhnya mereka (para Rahib dan Pendeta) telah mengharamkan yang halal atas mereka (Yahudi dan Nasrani) dan menghalalkan yang haram bagi mereka, lalu mereka (Yahudi dan Nasrani) mengikuti mereka (Rahib dan Pendeta). Maka itu adalah bukti penyembahan (ibadah) mereka kepada mereka (Para Rahib dan Pendeta).

Ibadah dengan semua pengertian diatas tidak akan bisa terlaksana tanpa terlebih dahulu tegaknya khilafah rosyidah. Karena dengan tiadanya khilafah rosyidah yang menerapkan syariat Islam, kita kaum Muslim justru dipaksa dan terpaksa menjauh dari ibadah kepada Allah serta mendekat kepada ibadah kepada selain Allah. Kehidupan kita diatur dengan sistem kufur demokrasi atau sistem atheis komunis. Kita dijauhkan dari Allah dan didekatkan kepada thaghut tandingan Allah.

Wallahu A'lamu bishshawâb

0 komentar:

Posting Komentar