Senin, 29 Juli 2019

HIZBUT TAHRIR MEMBOLEHKAN MERABA-RABA WANITA BUKAN MAHROM ?

Bismillahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini adalah reaksi atas aksi, dan sanggahan atas fitnah murahan sehingga banyak orang yang miskin ilmu membelinya, dari seorang tokoh Aswaja Sekular, Aswaja Topeng. Kenapa harus pakai term Aswaja Sekular dan Aswaja Topeng ? Karena Aswaja Hakiki adalah Ahlussunnah Waljama’ah, yang Firqoh Najiyah, dan yang Ahli Surga. Sedang tukang fitnah sebelum dia tobat adalah ahli neraka. Apalagi dia menolak penegakkan sistem Islam khilafah yang sudah final, dengan dalih hanya menolak Hizbut Tahrir-nya, serta mendukung sepenuh hati sistem kufur demokrasi sekular dengan dalih NKRI harga matinya.

Aksi dusta dan fitnah murahannya itu sejak dulu telah meramaikan dunia maya, baik dari tulisan tangan maupun vidio ucapan lisannya. Sehingga alfaqir penulis ini sudah tidak mampu menghitung-hitungnya, sudah berapa kata dan kalimatkah yang telah tertulis dan tersebar di dunia nyata dan dunia maya, dalam membantah dan menyanggah dusta dan fitnah tokoh Aswaja ini ? Namanya tidak asing didengar telinga, sosoknya tidak samar dilihat mata, dia adalah Idrus Ramli.

Di dalam vidio yang beredar luas, Idrus Ramli sambil memberi isyarat dengan tangan serta gerakan serentak lima jarinya seperti halnya memegang-megang buah pepaya mengatakan, bahwa Hizbut Tahrir (Syaikh Taqiyyuddin) membolehkan meraba-raba wanita bukan mahrom. Katanya ada didalam kitabnya. Betul, ternyata penggalan pernyataan Syaikh Taqiyuddin ini yang telah dipelintir menjadi bahan fitnahnya :
أن لمسهن بغير شهوة ليس حراما، فمصافحتهن كذلك ليست حراما.
"Sesungguhnya menyentuh wanita bukan mahrom dengan tanpa syahwat itu tidak haram, maka berjabat tangan dengan mereka juga tidak haram".

Di bawah adalah Ibarat lengkap kitab Nizhâm Ijtima’i terkait mushofahah / berjabat tangan secara utuh :
أما بالنسبة المصافحة فإنه يجوز للرجل أن يصافح المرأة وللمرأة أن تصافح الرجل دون حائل بينهما لما ثبت في صحيح البخاري عَنْ أم عطية قالت (بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ علينا أنْ لا يشركن بالله شيأ ونهانا عن النياحة فقبضت امرأة منا يدها) فكانت البيعة بالمصافحة. ومعنى قبضت يدها ردتها بعد أن كانت مدتها للمبايعة. فكونها قبضت يدها يعني أنها كانت ستبايع بالمصافحة. ومفهوم (فقبضت امرأة منا يدها) أن غيرها لم تقبض يدها وهذا يعني أن غيرها بايع بالمصافحة.
Adapun terkait berjabat tangan, maka boleh bagi laki-laki berjabat tangan dengan perempuan, dan bagi perempuan berjabat tangan dengan laki-laki tanpa ada penghalang diantara tangan keduanya, karena telah tetap dalam Shohihil Bukhari dari Ummi Athiyah berkata : "Kami telah membaiat Nabi SAW lalu Nabi membacakan ayat kepada kami "agar mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu" dan melarang kami niyahah, maka seorang perempuan diantara kami menarik tangannya", maka baiat itu dengan berjabat tangan. Makna manarik tangannya, ialah menariknya setelah sebelumnya mengulurkannya untuk berbaiat. Kondisi ia menarik tangannya, yakni bahwa ia akan berbaiat dengan berjabat tangan. Sedang mafhum dari kalimat "maka seorang perempuan diantara kami menarik tangannya", bahwa selain dia tidak menarik tangannya, berarti bahwa selain dia telah berbaiat dengan berjabat tangan.
وأيضا فإن مفهوم قوله تعالى (أو لامستم النساء) بلفظه العام لجميع النساء من حيث أن الملاسمة تنقض الوضوء يدل اقتصار الحكم على نقض الوضوء من لمس النساء على أن لمسهن بغير شهوة ليس حراما فمصافحتهن كذلك ليست حراما. علاوة علي أن يد المرأة ليست بعورة ولا يحرم النظر إليها بغير شهوة فلا تحرم مصافحتهن. ْ
Juga, mafhum firman Allah ta'âlâ; "atau kalian telah menyentuh wanita" (QS Annisâ, 4/43 dan QS Almâidah, 5/6), dengan lafadznya yang umum mencakup semua wanita, dari sudut bahwa menyentuh wanita itu membatalkan wudhu, itu menunjukkan pembatasan hukum atas batalnya wudhu dari menyentuh wanita, atas dasar bahwa menyentuh wanita dengan tanpa syahwat itu tidak haram, maka berjabat tangan dengan wanita juga tidak haram. Lebih dari itu, tangan perempuan itu bukan aurat dan tidak haram memandangnya dengan tanpa syahwat, maka tidak haram berjabat tangan dengan wanita". (Taqiyyuddien an-Nabhani, Annizhôm Alijtimá'iy fil Islâm, hal. 57-58, cet. III, Berut, 1410 H / 1990 M).

Dari redaksi diatas setidaknya ada beberapa poin yang harus dipahami oleh orang seperti Idrus Ramli :

1. Syaikh Taqiyyuddin sedang berbicara perihal berjabat tangan dengan wanita bukan mahrom dimana hukumnya boleh dengan tanpa syahwat dengan dalil hadis Ummi Athiyah. Sedang berjabat tangan itu telapak tangan ketemu telapak tangan, bukan telapak tangan ketemu bibir, betis, atau anggota tubuh sembarangan dan asal-asalan.

2. Berjabat tangan dengan tanpa syahwat, artinya berjabat tangan yang bukan pendahulu zina dan tidak bisa menjadi pendahulu zina seperti halnya meraba-raba, memeras-meras telapak tangan, dilakukan dalam kholwat (bersepian), dengan perempuan yang disyahwati, dengan dikhayali dan dinikmati, apalagi dengan pikiran ngeres. Lalu berjabat tangan seperti apa ? Ya sekedar berjabat tangan, tanpa dikhayali dan dinikmati, seperti berjabat tangan dengan perempuan renta atau buruk muka atau ada hajat darurat medis. Tetapi intinya dengan tanpa syahwat. Karena perempuan renta dan buruk muka itu bukan batasan untuk bolehnya berjabat tangan. Karena itu, meskipun barjabat tangan hukumnya boleh dengan tanpa syahwat, para syabab dan syabah tidak melakukannya, alias meninggalkannya. Kerena batasan tanpa syahwat ini mudah diucapkan tapi sulit dipraktekkan. Apalagi bagi syabab syabah yang tegangan listriknya 220 serta tanpan dan cantik. Bisa langsung semaput tersetrum.

3. Pernyataan Syaikh Taqiyuddin berupa; على أن لمسهن بغير شهوة ليس حراما
"bahwa menyentuh wanita dengan tanpa syahwat itu tidak haram", ini terkait mafhum ayat; أو لامستم النساء "atau kalian telah menyentuh wanita", dimana lafadznya yang umum mencakup semua wanita, bukan hanya wanita sebagai istri-istri. Dan karena ayat itu hanya terkait hukum batalnya wudhu, maka Syaikh Taqiyuddin telah membatasi bahwa menyentuhnya itu dengan tanpa syahwat seperti pada poin ke 2 diatas.

4. Redaksi Alqur'an memakai kata "lâmastum ( لامستم )" dari lâmasa dengan ditambah huruf alif setelah fa' fi'ilnya, dengan terjemah "telah menyentuh". Sedang Syaikh Taqiyyuddin hanya memakai kata mashdar "lams ( لمس )" dari madhi "lamasa" juga harus diterjemah menyentuh. Karena ketika kata lams/ lamasa yang dipakai Syaikh Taqiyyuddin bisa diterjemahkan dengan "meraba-raba", maka kata lâmasa dari lâmastum yang dipakai Alqur'an bisa diterjemahkan dgn "meraba-raba dengan sangat atau saling meraba-raba" dengan faedah mubâlaghoh atau musyárokah, karena dari sisi huruf lafadznya saja lebih banyak dan lebih berat. Tetapi saya belum menemukan Alqur'an terjemah yang menerjemahkan kata lâmastumun nisáa dengan meraba-raba wanita. Meskipun ada sebagian ulama mujtahid yang menafsirinya dengan arti menyetubuhi wanita. Apalagi antara arti meraba-raba dan menyetubuhi itu jelas berbeda. Meraba-raba tidak berarti menyetubuhi, sedang menyetubuhi bisa dengan meraba-raba.

5. Tangan wanita itu bukan aurat. Ini adalah pendapat jumhur ulama mujtahid, termasuk empat imam besar madzhab (al aimmatul arba'ah). Bukan hanya Syaikh Taqiyyuddin yang berpendapat demikian. Dalilnya adalah firman Allah Swt :
(ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها). قال ابن عباس : الوجه والفكين.
"Dan janganlah mereka (mu'minat) menampakkan (tempat) perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya". (QS Annur, 24/31). Ibnu Abbas ra berkata : "Wajah dan dua telapak tangan".

Dan Syaikh Taqiyuddin rh di dalam kitab Annizhom Alijtima'i berkata :
فيتبين من هذا جواز أن ينظر كل من الرجل والمرأة من الآخر ما ليس بعورة عن عدم قصد اللذة والإشتهاء. وعورة الرجل ما بين سرته وركبته وعورة المرأة جميع بدنها ما عدا وجهها وكفيها. فرقبتها عورة وشعرها ولو شعرة واحدة عورة وجانب رأسها من أية جهة كانت عورة فكل ما عدا وجهها وكفيها عورة يجب سترها والدليل على ذلك قوله تعالى (ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها) وما ظهر منها هو الوجه والكفان...
"Dari bayan diatas, menjadi jelas kebolehan setiap satu dari laki-laki dan perempuan melihat dari yang lainnya sesuatu yang bukan aurat bukan untuk tujuan lazat dan syahwat...". (Taqiyyuddien an-Nabhani, Annizhôm Alijtimá'iy fil Islâm, hal. 45, cet. III, Berut, 1410 H / 1990 M).

Syaikh Abdulwahhab Sya'roni rh. berkata :
ومن ذلك قول مالك والشافعي وأحمد في إحدى روايتيه إن الحرة كلها عورة إلا وجهها وكفيها مع قول أبي حنيفة إنها كلها عورة إلا وجهها وكفيها وقدميها ومع الرواية الأخرى عن أحمد إلا وجهها خاصة
"Dan termasuk masalah khilafiyah adalah qoul Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya, bahwa perempuan merdeka semua tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangannya, serta riwayat lainnya dari Imam Ahmad, kecuali wajahnya saja". (Almizan Alkubro, 1/170, Maktabah Daru Ihyail Kutubil Arobiyyah Indonesia, tanpa tahun).

6. Syaikh Taqiyuddin telah menutup topik berjabat tangannya dengan ungkapan ;
علاوة علي أن يد المرأة ليست بعورة ولا يحرم النظر إليها بغير شهوة فلا تحرم مصافحتهن.
"Lebih dari itu, tangan perempuan itu bukan aurat dan tidak haram memandang kepadanya dengan tanpa syahwat, maka tidak haram berjabat tangan dengannya".

Dengan pernyataan ini, menjadi jelas, bahwa pokus pembahasan Syaikh Taqiyyuddin adalah berjabat tangan, dimana tangan perempuan itu bukan aurat, yang boleh dipandang, dan boleh disentuh dengan berjabat tangan.

Meskipun pembahasannya bisa meluas ketika dikaitkan dengan penafsiran ayat; أو لامستم النساء (atau kalian telah menyentuh wanita), tetapi dengan pernyataan diatas, Syaikh Taqiyuddin benar-benar telah membatasinya, hanya menyentuh tangan perempuan ketika berjabat tangan. Hanya itu.

Terakhir :

Sebenarnya bantahan atas fitnah Idrus Ramli itu cukup sederhana, tidak perlu panjang lebar, yaitu cukup membuktikan bahwa menyentuh atau berjabat tangan dengan perempuan yang dibolehkan oleh Syaikh Taqiyuddin itu dibatasi dengan tanpa syahwat. Sedang meraba-raba perempuan sebagaimana diisyaratkan oleh Idrus Ramli dengan jari-jari tangannya seperti memeras-meras buah pepaya, seperti dalam vidio yang sengaja disebarkan, itu terindikasi kuat dengan syahwat, dan bukan berjabat tangan.

Apalagi ketika disuguhkan kepadanya satu ayat dari surat Almaa'uun ayat 4 ini :
فويل للمصلين
Fawailul lilmusholliin
"Maka kecelakaanlah / neraka wel bagi orang-orang yang shalat",
dengan tanpa menyertakan siyaq (runtutan) ayat sebelum dan setelahnya. Pasti kacau lah!

Jadi dusta dan fitnah dari Idrus Ramli itu sangat nyata dan kasat mata.

Wallohu A'lam ...

Abulwafa Romli

0 komentar:

Posting Komentar