Senin, 29 Juli 2019

HIZBUT TAHRIR MEMBOLEHKAN MERABA-RABA WANITA BUKAN MAHROM ?

Bismillahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini adalah reaksi atas aksi, dan sanggahan atas fitnah murahan sehingga banyak orang yang miskin ilmu membelinya, dari seorang tokoh Aswaja Sekular, Aswaja Topeng. Kenapa harus pakai term Aswaja Sekular dan Aswaja Topeng ? Karena Aswaja Hakiki adalah Ahlussunnah Waljama’ah, yang Firqoh Najiyah, dan yang Ahli Surga. Sedang tukang fitnah sebelum dia tobat adalah ahli neraka. Apalagi dia menolak penegakkan sistem Islam khilafah yang sudah final, dengan dalih hanya menolak Hizbut Tahrir-nya, serta mendukung sepenuh hati sistem kufur demokrasi sekular dengan dalih NKRI harga matinya.

Jumat, 26 Juli 2019

WAJIB MENEGAKKAN KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWWAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tidak sedikit dari orang-orang yang mengaku beriman serta mengklaim sebagai Ahlussunnah Waljama'ah (Aswaja), dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara mereka lebih memilih, mendahulukan dan menjadikan para penggagas dan pendiri republik, para penggagas dan pendiri NKRI, Pancasila dan UDD '45, sebagai Suri Teladan yang final dan mutlak wajib diikuti, serta menolak upaya, gagasan dan solusi lain dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara.

Padahal sejatinya, berdirinya NKRI serta terbentuknya Pancasila dan UUD '45, hanyalah usaha maksimal dari dan oleh mereka, bukan usaha final dan mutlak yang tidak boleh dirubah dengan yang lebih baik atau dengan yang terbaik.

Senin, 22 Juli 2019

HIZBUT TAHRIR MENGINGKARI AZAB KUBUR?

Hizbut Tahrir Mengingkari Siksa Kubur?

Idrus Ramli bedusta :
“Di antara keyakinan mendasar setiap Muslim adalah meyakini adanya siksa kubur. Hal ini seperti ditegaskan oleh al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi dalam ‘Aqidah al-Thahawiyyah berikut ini:
ﻭﻧﺆﻣﻦ ﺑﻤﻠﻚ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺍﻟﻤﻮﻛﻞ ﺑﻘﺒﺾ ﺃﺭﻭﺍﺡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ، ﻭﺑﻌﺬﺍﺏ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻟﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﻫﻼ .
“Kami beriman kepada Malaikat maut yang diserahi mencabut roh semesta alam, dan beriman kepada siksa kubur bagi orang yang berhak menerimanya”.

Berdasarkan keyakinan ini, Rasulullah SAW menganjurkan agar umatnya selalu memohon kepada Allah agar diselamatkan dari siksa kubur. Namun tidak demikian halnya dengan Hizbut Tahrir yang mengingkari adanya siksa kubur, mengingkari kebolehan tawassul dengan para nabi dan orang saleh serta peringatan maulid Nabi SAW. Pengingkaran Hizbut Tahrir terhadap adanya siksa kubur juga dijelaskan dalam buku al-Dausiyyah, kumpulan fatwa-fatwa Hizbut Tahrir ketika menjelaskan hadits yang menyebutkan tentang siksa kubur. Menurut buku tersebut, meyakini siksa kubur yang terdapat dalam hadits tersebut adalah haram, karena hadisnya berupa hadis ahad, akan tetapi boleh membenarkannya. Dalam diskusi di dunia maya, kalangan Hizbut Tahrir membela mati-matian pandangan mereka yang tidak meyakini adanya siksa kubur. Bahkan seorang tokoh Hizbut Tahrir, yaitu Syakih Umar Bakri pernah mengatakan: “Aku mendorong kalian untuk mempercayai adanya siksa kubur dan Imam Mahdi, namun barang siapa yang beriman kepada hal tersebut, maka ia berdosa.”

Kemudian sebagaimana biasanya, Idrus Ramli menyampaikan berbagai pernyataan ulama untuk mengokohkan perkataannya dan di sini terkait siksa kubur. (Lihat: Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 92-99).

BANTAHAN :

Hizbut Tahrir Mengingkari Siksa Kubur?

Na'udzu billahi min dzalik! Ini adalah dusta dan fitnah yang nyata dari orang yang punya niat buruk terhadap Hizbut Tahrir, tujuannya adalah untuk menjauhkan umat dari Hizbut Tahrir. Syaikh Taqiyyuddin, Hizbut Tahrir dan para syababnya tidak pernah mengeluarkan pendapat mengingkari siksa kubur. Kesimpulan ini saya ambil dari beberapa poin berikut :

Pertama :

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh. dalam sejumlah kitabnya hanya membicarakan persoalan akidah yang harus dibangun berdasarkan dalil yang qath'iy, baik dari al-Qur'an maupun hadis. Lalu ketika dalil akidah itu datang dari hadis, maka hadis yang qath'iy itu harus hadis mutawatir kerena berfaidah ilmu [yakin], bukan hadis ahad yang faidahnya zhanni. Coba perhatikan beberapa pernyataan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh di antaranya dalam kitab Ta'rif Hizbut Tahrir ;
ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﻫﻲ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ ﻭﻛﺘﺒﻪ ﻭﺭﺳﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻷﺧﺮ ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻘﺪﺭ ﺧﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﺷﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ . ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﺍﻟﺠﺎﺯﻡ ﺍﻟﻤﻄﺎﺑﻖ ﻟﻠﻮﺍﻗﻊ ﻋﻦ ﺩﻟﻴﻞ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻋﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﻟﻴﻞ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻷﻧﻪ ﻻ ﺟﺰﻡ ﻓﻴﻪ، ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﺟﺎﺯﻣﺎ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﺛﺒﺖ ﻋﻦ ﺩﻟﻴﻞ ﻗﻄﻌﻲ، ﻟﺬﻟﻚ ﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺩﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻗﻄﻌﻴﺎ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻇﻨﻴﺎ.
"Akidah Islamiyah ialah iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya dan hari akhir, dan iman kepada qadha dan qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt.
Sedangkan iman ialah pembenaran yang teguh, yang sesuai dengan realita, dari dalil. Lalu ketika pembenaran itu tidak dari dalil, maka tidak ada iman, karena tidak ada keteguhan padanya. Dan tidak ada pembenaran itu teguh, kecuali ketika pembenaran itu telah tetap dari dalil yang qath'iy. Oleh karena itu, dalil akidah harus qath'iy, tidak boleh zhanniy". (Ta'rif Hizb al-Tahrir, hal.27-28).
Dan pernyataannya dalam kitab as-Syakhshiyyah juz 1 hal. 29;

Dan berkata:
ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﻫﻲ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ ﻭﻛﺘﺒﻪ ﻭﺭﺳﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻭﺑﺎﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻘﺪﺭ ﺧﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﺷﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ . ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﺍﻟﺠﺎﺯﻡ ﺍﻟﻤﻄﺎﺑﻖ ﻟﻠﻮﺍﻗﻊ ﻋﻦ ﺩﻟﻴﻞ، ﻷﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻋﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﻟﻴﻞ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ . ﺇﺫ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺗﺼﺪﻳﻘﺎ ﺟﺎﺯﻣﺎ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻧﺎﺟﻤﺎ ﻋﻦ ﺩﻟﻴﻞ . ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻻ ﻳﺘﺄﺗﻰ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺠﺰﻡ، ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺗﺼﺪﻳﻘﺎ ﻓﻘﻂ ﻟﺨﺒﺮ ﻣﻦ ﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﻓﻼ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ...
"Akidah Islamiyah ialah iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya dan hari akhir, dan iman kepada qadha’ dan qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt. Sedangkan makna iman ialah pembenaran yang teguh, yang sesuai dengan realita, dari dalil, karena ketika pembenaran itu tidak dari dalil, maka tidak ada iman, karena tidak ada pembenaran yang teguh kecuali ketika lahir dari dalil. Lalu ketika pembenaran itu tidak memiliki dalil, maka tidak akan datang keteguhan padanya, maka hanya menjadi pembenaran kepada berita dari sejumlah berita, maka tidak dianggap iman……". (Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 1, hal. 29).

Dan dalam bagian lain, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh. menegaskan;
"... ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ ﺧﺒﺮ ﺍﻵﺣﺎﺩ ﺩﻟﻴﻼ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ، ﻷﻧﻪ ﻇﻨﻲ، ﻭﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻳﻘﻴﻨﻴﺔ .
"……. Oleh karena itu, tidak layak khabar ahad menjadi dalil akidah, karena berfaidah zhanni. Sedangkan akidah itu wajib bersifat yakin " (Ibid, juz 1, hal. 191, bab Khabarul Aahad Laisa Bihujjatin Fil Aqaaid).

Dan pada halaman 193 beliau menegaskan;
"..... ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺩﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻳﻘﻴﻨﻴﺎ ﺃﻱ ﺩﻟﻴﻼ ﻗﻄﻌﻴﺎ، ﻷﻥ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻗﻄﻊ ﻭﻳﻘﻴﻦ ﻭﺟﺰﻡ، ﻭﻻ ﻳﻔﻴﺪ ﺍﻟﻘﻄﻊ ﻭﺍﻟﺠﺰﻡ ﻭﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﻘﻄﻌﻲ . ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺮﺁﻧﺎ ﺃﻭ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻗﻄﻌﻲ ﺍﻟﺪﻻﻟﺔ ...".
"… Atas dasar penjelasan ini, meniscayakan bahwa dalil akidah itu harus bersifat yakin, yakni dalil yang qath'iy, karena akidah itu pasti, yakin dan teguh, dan tidak berfaidah pasti, yakin dan teguh kecuali dalil yang qath'iy. Oleh karena ini, meniscayakan bahwa dalil tersebut harus al-Qur'an atau hadis mutawatir, dengan catatan setiap satu dari keduanya itu qath'iy dilalah [yang pasti maknanya]…". (Ibid, hal. 193).

Sedang alasan Syaikh Taqiyyuddin tidak menjadikan khabar ahad sebagai dalil dalam akidah adalah sebagai berikut:
ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ ﺧﺒﺮ ﺍﻵﺣﺎﺩ ﺩﻟﻴﻼً ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻷﻧﻪ ﻇﻨﻲ، ﻭﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻳﻘﻴﻨﻴﺔ . ﻭﻗﺪ ﺫﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﻈﻦ، ﻓﻘﺎﻝ ( ﻣَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢٍ ﺇِﻻَّ ﺍﺗِّﺒَﺎﻉَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ) ﻭﻗﺎﻝ ( ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺘَّﺒِﻊُ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﺇِﻻَّ ﻇَﻨّﺎً ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻻَ ﻳُﻐْﻨِﻲ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺷَﻴْﺌﺎً ) ﻭﻗﺎﻝ ( ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻙَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻳَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ) ﻭﻗﺎﻝ ( ﺇِﻥْ ﻳَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻬْﻮَﻯ ﺍﻷَﻧْﻔُﺲُ ) ﻭﻗﺎﻝ ( ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢٍ ﺇِﻥْ ﻳَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻻَ ﻳُﻐْﻨِﻲ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺷَﻴْﺌﺎً ). ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻵﻳﺎﺕ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﺻﺮﻳﺢ ﻓﻲ ﺫﻡ ﻣﻦ ﻳﺘﺒﻊ ﺍﻟﻈﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ، ﻭﺫﻣﻬﻢ ﻭﺍﻟﺘﻨﺪﻳﺪ ﺑﻬﻢ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﻈﻦ . ﻭﺧﺒﺮ ﺍﻵﺣﺎﺩ ﻇﻨﻲ، ﻓﺎﻻﺳﺘﺪﻻﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﻟﻠﻈﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ .
“Oleh karena itu, khabar ahad tidak layak menjadi dalil dalam persoalan akidah, karena bersifat zhanni (prasangka), sedang akidah wajib bersifat yakin. Dalam al-Qur’an Allah SWT benar-benar telah mencela mengikuti prasangka (dalam akidah), Allah berfirman: “Mereka tidak memiliki ilmu dengannya kecuali mengikuti prasangka” (QS Annisâ', 4/157), dan berfirman: “Kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangka, sesungguhnya prasangka itu tidak mencukupi sedikitpun dari kebenaran” (QS Yunus, 10/36), dan berfirman: “Dan apabila kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, maka mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, mereka tidak mengikuti kecuali prasangka” (QS Al An'aam, 6/116), dan berfirman: “Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka” (QS Annajm, 53/23), dan berfirman: “Dan mereka tidak memiliki ilmu dengannya, mereka tidak mengikuti kecuali prasangka, sesungguhnya prasangka itu tidak mencukupi dari kebenaran sedikitpun” (QS Annajm, 53/28). Ayat-ayat tersebut dan yang lainnya sangat jelas dalam mencela orang yang mengikuti prasangka dalam persoalan akidah. Sedang celaan serta kecaman terhadap mereka adalah dalil atas larangan mengikuti prasangka, dan khabar ahad itu bersifat prasangka, maka istidlal dengannya atas akidah adalah mengikuti prasangka dalam persoalan akidah”. (Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 1, hal. 191, cetakan ke 6, mu’tamadah, 2003).

Kedua :

Di berbagai kitabnya, yang telah diadopsi oleh Hizbut Tahrir, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani hanya membicarakan, memahamkan dan memantapkan Akidah Islam, yaitu rukun iman yang enam, karena cita-cita besar beliau hanya satu, yaitu mendirikan partai politik Islam, untuk mendirikan Daulah Khilafah Rasyidah, untuk menerapkan syariat Islam secara total, untuk menggapai ridha Allah swt. Akidah Islam sudah lebih dari cukup untuk menjadi asas sebuah partai politik, menjadi asas Negara dll.

Dalam kitab Ta'rif Hizbut Tahrir tertulis: "Akidah Islam adalah asas Islam, dan asas sudut pandang Islam dalam kehidupan. Dan akidah Islam adalah asas Negara, asas undang-undang dasar dan undang-undang yang lain, dan asas bagi setiap perkara yang memancar darinya atau dibangun di atasnya, dari pemikiran Islam, hukum-hukum Islam dan konsepsi Islam. Maka akidah Islam adalah kepemimpinan ideologis, adalah landasan ideologis, adalah akidah politik, karena semua pemikiran, hukum, ide dan konsep yang memancar darinya atau dibangun di atasnya semuanya berhubungan dengan urusan dunia serta pengaturannya, sebagaimana berhubungan dengan urusan akhirat…". ( Ta’rif Hizb al-Tahrir, hal.28 ).

Juga akidah Islam telah mencukupi untuk menjadi ikatan di antara kaum muslim yang di antara mereka adalah para syabab Hizbut Tahrir, dan menjadi energi yang dahsat yang menggerakkan mereka beramal shaleh dan berdakwah tanpa lelah.

Rasulullah saw. sendiri ketika mendorong para sahabat untuk beramal saleh cukup dengan bersabda;
ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻓﻠﻴﻘﻞ ﺧﻴﺮﺍ ﺃﻭﻟﻴﺼﻤﺖ، ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻓﻠﻴﻜﺮﻡ ﺟﺎﺭﻩ، ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻓﻠﻴﻜﺮﻡ ﺿﻴﻔﻪ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ .
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya mengatakan kebaikan atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya memuliakan tamunya."

Al-Qur'an-pun juga demikian, coba perhatikan ayat-ayat berikut;
"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui". TQS al-Baqaroh [2]: 232.

Dan Allah SWT berfirman;
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian". TQS al-Baqaroh [2]: 264.

Dan Allah SWT berfirman;
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian". QS al-Baqaroh [2]: 126. Dan Allah SWT berfirman;
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan ar-Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". TQS an-Nisa' [4]:59. Dan ayat-ayat yang lain, yaitu Ali 'Imron: 114, An-Nisa: 162, Al-Maidah: 69, At-Taubah: 18, 19, 29, 44, 45 dan 99.

Jadi akidah Islam itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi asas sebuah partai politik, asas sebuah Negara, dan menjadi ikatan dan mesin penggerak bagi kaum muslim dan para syabab. Asalkan akidah yang benar-benar menjadi akidah, yaitu akidah yang berada di dalam dada, bukan akidah rumusan atau rumusan akidah yang tertulis pada lembaran-lembaran kitab dan tertumpuk di atas rak, karena akidah rumusan atau rumusan akidah ini tidak akan bisa menjadi ikatan dan mesin penggerak di antara kaum muslim dan para syabab, apalagi bisa membangkitkan. Dan pakta seperti ini dapat kita pahami dari memahami siroh Rasulullah saw dan para sahabatnya beserta sejumlah dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Inilah jawaban kenapa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani hanya pokus dengan menanamkan, memantapkan dan mengkristalkan akidah Islam dalam mengkader para syababnya.

Meskipun demikian Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani tidak menolak adanya rumusan akidah selain akidah Islam asalkan digali dari dalil-dalil yang qath'iy. Ini telah diisyaratkan oleh beliau dalam kitab Syakhshiyyah-nya:
ﻓﺎﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ ﻭﻛﺘﺒﻪ ﻭﺭﺳﻠﻪ ﻭﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻭﺑﺎﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻘﺪﺭ ﺧﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﺷﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ . ﻭﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻭﻣﺎ ﺷﺎﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ . ﻭﺍﻷﻓﻜﺎﺭ ﻭﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻬﺎ ﻭﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﻭﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻐﻴﺒﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﻘﻊ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻟﺤﺲ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ .
"Maka iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, dan kepada hari akhir, dan kepada qadha’ dan qadar dimana baik dan buruknya dari Allah swt. adalah akidah Islam. Dan iman kepada surga, neraka, malaikat, setan dan sejenisnya adalah akidah Islam. Dan [iman kepada] pemikiran-pemikiran dan yang terkait dengannya, berita-berita dan yang terkait dengannya dari perkara-perkara ghaib yang tidak dapat tersentuh oleh indra semuanya termasuk akidah". (Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 1, hal. 195) .

Ketiga :

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh telah mengisyaratkan terkait hadis mutawatir, yaitu hadis yang telah diriwayatkan minimal oleh lima orang sahabat, lima orang tabi'in dan lima orang tabi'it-tabi'in, dengan catatan lima orang tersebut adalah orang-orang yang ketsiqahannya tidak diragukan lagi.

Ini juga telah beliau isyaratkan dalam kitab Syakhshiyyah-nya:
ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﺃﻗﻞ ﻋﺪﺩ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﻌﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺧﻤﺴﺔ، ﻭﻗﺎﻝ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﺇﻥ ﺃﻗﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ، ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺃﻗﻠﻪ ﻋﺸﺮﻭﻥ، ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺃﻗﻠﻪ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ، ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺳﺒﻌﻮﻥ، ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﻭﺛﻼﺛﺔ ﻋﺸﺮ ... ﺍﻟﺦ .
"Telah diperselisihkan terkait bilangan minimal yang dapat menghasilkan ilmu [yakin], maka sebagian ulama berkata; "lima orang", ulama yang lain berkata; "Minimalnya adalah dua belas orang", dari mereka ada yang berkata; "Minimalnya adalah dua puluh orang", dari mereka ada yang berkata; "Minimalnya adalah empat puluh orang", dari mereka ada yang berkata; "Tujuh puluh orang", dan dari mereka ada yang berkata; "tiga ratus tiga belas",……….". (Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 3, hal 82).

Demikian juga dalam matan Jam'ul Jawami' milik as-Subukiy dengan menambah bilangan sepuluh orang. Dan dalam bagian lain, beliau memberi isyarat ;
ﺃﻥ ﺗﺤﻴﻞ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﺗﻮﺍﻃﺄﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺬﺏ . ﻭﺗﺨﺘﻠﻒ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺍﻷﺷﺨﺎﺹ ﻭﺍﻷﻣﻜﻨﺔ . ﻓﺨﻤﺴﺔ ﻣﻦ ﻣﺜﻞ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻃﺎﻟﺐ ﺗﻜﻔﻲ ﻻﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮﺍ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻻ ﺗﻜﻔﻲ . ﻭﺧﻤﺴﺔ ﻣﻦ ﺑﻠﺪﺍﻥ ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ ﻟﻢ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﺍ ﻗﺪ ﺗﻜﻔﻲ ﻻﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮﺍ، ﺇﺫ ﻟﻢ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﺍ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺄﺗﻰ ﺗﻮﺍﻃﺆﻫﻢ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺇﺧﺒﺎﺭ ﻣﺜﻠﻬﻢ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﻭﺍﺣﺪ ﻻ ﻳﻜﻔﻲ .
"Apabila adat memustahilkan kesepakatan mereka melakukan kebohongan. Adat itu berbeda-beda sesuai perbedaan orang-orang dan tempatnya. Maka lima orang yang seperti Ali Ibn Abi Thalib itu mencukupi untuk menilai khabar menjadi mutawatir, padahal kalau dari orang selain dia tidak mencukupi. Dan lima orang dari sejumlah negeri yang berbeda-beda di mana mereka tidak berkumpul itu bisa mencukupi untuk menilai khabar menjadi mutawatir, karena mereka tidak berkumpul dalam satu tempat sehingga memudahkan kesepakatan mereka, padahal penyampaian berita dari semisal mereka dalam satu negeri itu tidak mencukupi " (Ibid, juz I, hal. 332).

Dari tiga poin pernyataan di atas, saya memahami bahwa sebenarnya Syaikh Taqiyyuddin telah menyerahkan sepenuhnya kepada para syabab Hizbut Tahrir untuk menjadikan siksa kubur sebagai bagian dari akidah furû' atau bukan, dan beliau telah memberikan batas paling minimal terkait bilangan yang dapat menghasilkan yakin untuk menilai hadis sebagai hadis mutawatir, yaitu cukup lima orang dari generasi pertama, lima orang dari generasi kedua dan lima orang dari generasi ketiga, dari sanad hadis. Ini telah membuka pintu lebar-lebar untuk memasukkan siksa kubur sebagai bagian dari akidah Islam. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa beliau sebenarnya telah menjadikannya sebagai akidah Islam, tetapi beliau tidak mengungkapkannya, karena siksa kubur itu termasuk akidah cabang (furû') dari akidah Islam (ushûl), yang tidak wajib dikeluarkan melalui lisan, artinya cukup tersimpan di dalam qalbu. Sebagaimana ibadah sunnah adalah cabang dari ibadah fardhu, maka ibadah sunnah itu sunnah disembunyikan, sedang abadah fardhu sunnah ditampakkan. Dan kita juga tidak berdosa meninggalkan ibadah sunnah asalkan kita tetap membenarkannya dan tidak mengingkarinya ketika dalilnya shahih.

Begitu pula dengan siksa kubur, kita boleh tidak menjadikannya bagian dari akidah, yaitu ketika kita telah memutuskan bahwa hadis siksa kubur belum mencapai derajat mutawatir, karena kita mengambil bilangan empat puluh sanad dari genarasi pertama, empat puluh dari generasi kedua dan empat puluh dari generasi ketiga, karena jumlah minimal bilangan ini termasuk masalah khilafiyah. Namun, karena hadis siksa kubur [meskipun termasuk hadis ahad] adalah hadis yang shahih, kita wajib membenarkannya dan tidak boleh mengingkarinya. Jadi mengimani dan membenarkan adalah dua perkara yang berbeda sebagaimana perkataan Syaikh Taqiyyuddin di atas, yaitu pada poin pertama, yaitu: "Lalu ketika pembenaran itu tidak memiliki dalil [atau dalilnya zhanni], maka tidak akan datang keteguhan padanya, maka hanya menjadi pembenaran kepada berita dari sejumlah berita, maka tidak dianggap iman……"

Oleh karena itu, adalah dusta dan fitnah tuduhan bahwa Hizbut Tahrir tidak membenarkan [mempercayai] atau mengingkari siksa kubur. Karena yang sesungguhnya terjadi adalah ada oknum syabab Hizbut Tahrir yang tidak menjadikan siksa kubur sebagai akidah, karena menganggap dalilnya masih dzanni, yaitu hadis ahad, tetapi tetap membenarkannya dan tidak mengingkarinya, karena hadisnya shahih. Jadi sepengetahuan saya tidak ada satu syababpun yang tidak membenarkan, yang menolak dan yang mengingkari siksa kubur. Sekali lagi saya katakan; Semua syabab Hizbut Tahrir termasuk Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, semuanya membenarkan (mempercayai) siksa kubur, dan mereka tidak mengingkarinya, karena hadisnya shahih. Dan mengimani (menjadikan akidah) itu tidak sama dengan membenarkan (mempercayai).

Adapun Syaikh Umar Bakri yang telah disinggung oleh Idrus Ramli, maka ia tidak mewakili Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir. Dan kalaupun pernyataan Syaikh Umar Bakri itu benar, maka hanyalah pernyataan individu sebagaimana di sini saya juga menyatakan agar para syabab menjadikan Siksa Kubur sebagai akidah Islam, karena bagi saya hadisnya telah mutawatir. Juga kitab al-Dausiyyah sepengetahuan saya tidak ditabanni oleh Hizbut Tahrir, karena tidak beredar dan tidak diedarkan sebagaimana kitab-kitab mutabanat Hizbut Tahrir.

Begitu pula dengan tawasulan, maulidan, tahlilan dll dari masalah khilafiyyah, Hizbut Tahrir sama sekali tidak mentabaninya, semua adalah hak individu syabab masing-masing. Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].

Kamis, 18 Juli 2019

JAMAAH YANG WAJIB DIIKUTI (1)

Siapakah Jama'ah Yang Sawad A'zhom Yang Wajib Diikuti ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Bukan hal yang tersembunyi, ketika setiap kelompok mengklaim, bahwa merekalah Jama'ah yang sebenarnya. Jama'ah tersebut bukan sebuah organisasi dengan anggota terbanyak, juga bukan partai politik sekuler pemenang pemilu. Jama'ah tersebut adalah sebagaimana dijelaskan oleh ulama berikut ini :

Sayyid Alwi bin Abdul Qadier Asseghaf berkata:
ﻓﻼ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ : ﺇﻥ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻄﻠﻮﺏ، ﻭﺇﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﺎﺭﻗﻮﻥ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻟﻤﺬﻣﻮﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ، ﺑﻞ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻌﻜﺲ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻫﻢ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﻭﺇﻥ ﻗﻠﻮا، ﻭﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﺎﺭﻗﻮﻥ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺧﺎﻟﻔﻮﺍ، ﻓﺈﻥ ﻭﺍﻓﻘﻮﺍ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ . ﻓﺎﻧﻈﺮ ﻏﻠﻂ ﻣﻦ ﻇﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻬﻢ ﻋﺎﻟﻢ، ﻭﻫﻮ ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ، ﻻ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ، ﻓﻠﻴﺜﺒﺖ ﺍﻟﻤﻮﻓﻖ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺰﻟﺔ قدمه ﻟﺌﻼ ﻳﻀﻞ ﻋﻦ ﺳﻮﺍﺀ ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ، ﻭﻻ ﺗﻮﻓﻴﻖ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠّﻪ . ‏(ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻻﻋﺘﺼﺎﻡ ، ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻋﻠﻮﻱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ – ﺝ / 1 ﺹ 103 ).
“Tidak ada seorang (ulama) pun berkata, bahwa mengikuti jama’ah orang awam adalah yang dianjurkan (diperintah oleh Nabi SAW), dan bahwa ulama adalah yang keluar dari Jama’ah dan yang tercela dalam hadits, tetapi perkara yang benar itu sebaliknya. Sesungguhnya ulama adalah Sawad A’zhom meskipun jumlah mereka sedikit, sedang orang-orang awam adalah yang meninggalkan Jama’ah, ketika mereka menyelisihi ulama, sedang ketika mereka mengikuti ulama, maka demikianlah kewajiban atas mereka. Karenanya, perhatikan kesalahan orang yang menyangka, bahwa Jama’ah adalah kumpulan manusia, meskipun pada mereka tidak terdapat orang alim satupun. Yang demikian adalah dugaan keliru orang awam, bukan pemahaman ulama. Maka dalam perkara yang menggelincirkan ini, orang yang sukses harus mengokohkan kakinya, agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Tidak ada pertolongan selain dengan pertolongan Alloh”.

(dan pernyataan :)
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﻌﺼﻮﻡ، ﻓﻬﻮ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﻣﺎ ﻭﺍﻓﻘﻪ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﺒﺎﻋﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻐﺮﺑﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺧﺒﺮ ﺑﻬﻢ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ " : ﺑﺪﺃ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻏﺮﻳﺒًﺎ ﻭﺳﻴﻌﻮﺩ ﻏﺮﻳﺒًﺎ ﻛﻤﺎ ﺑﺪﺃ ﻓﻄﻮﺑﻰ ﻟﻠﻐﺮﺑﺎﺀ " ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ، ﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻭﺍﻟﻄﻐﺎﻡ، ﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ، ﻭﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺆﻣﺮﻭﻥ .‏ (ﻣﻮﺳﻮﻋﺔ ﺗﻮﺣﻴﺪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺒﻴﺪ - ﺝ / 4 ﺹ 299 )
“Adapun Ijma’ yang terjaga adalah Ijma’ sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikutinya, yaitu Sawad A'zhom (golongan agung) yang telah datang anjuran mengikutinya, meskipun hanya diikuti oleh orang-orang yang terasingkan (yang minoritas) dimana Nabi SAW telah mengkhabarkan tentang mereka dalam sabdanya: “Islam telah datang dalam kondisi asing dan akan kembali dalam kondisi asing sebagaimana datangnya, maka berbahagialah orang-orang yang terasingkan” (HR Muslim). Bukan perkara yang diikuti oleh orang-orang awam dan rakyat jelata, ulama kholaf dan muta’akhir yang mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya, dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkannya”.

(dan pernyataan :)
ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ، ﻭﻫﻢ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻗﻠﻴﻼ، ‏( ﺍﻟﺼﻮﺍﻋﻖ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﺔ ﺍﻟﺸﻬﺎﺑﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﺒﻪ ﺍﻟﺪﺍﺣﻀﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻴﺔ - ﺝ / 3 ﺹ 85 ).
“Maka siapa saja yang berpegang teguh terhadap agama sebagaimana sahabat Rasululloh SAW berpegang teguh kepadanya, maka merekalah Sawad A'zhom, dan merekalah Jama’ah, meskipun mereka minoritas”.
ﻭﻟﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺳﻴﻔﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﻫﻢ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﻟﻮ ﻭﺍﺣﺪﺍ . ( ﺍﻟﺼﻮﺍﻋﻖ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﺔ ﺍﻟﺸﻬﺎﺑﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﺒﻪ ﺍﻟﺪﺍﺣﻀﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻴﺔ - ﺝ / 3 ﺹ 85 ).
“Karena itu, Sufyan al-Tsauri berkata: “Yang dimaksud dengan Sawad A'zhom ialah siapa saja orang yang termasuk Ahlussunnah (yang berpegang kepada sunnah Nabi SAW) Waljama’ah (yang berpegang kepada sunnah sahabat), meskipun ia seorang diri”.

Jadi yang dikehendaki dengan term Jama'ah yang Sawad A'zhom adalah para ulama, tentu ulama mujtahid, beserta para pengikutnya, tentu yang benar-benar mengikutinya dalam berpegang teguh kepada sunnah Nabi Saw dan sunnah sahabatnya. Meskipun jumlah mereka sedikit dan mereka terasingkan, Alghurobâ.

Sedang berpegang teguh kepada sunnah Nabi Saw dan sunnah sahabatnya, adalah dengan menjadikan dien Islam sebagai solusi atas semua problematika kehidupan. Artinya Islam harus diterapkan secara sempurna dalam kehidupan, masyarakat dan negara. Dari sini diketahui bahwa penerapan Islam secara sempurna itu juga membutuhkan negara, tapi bukan sembarang negara. Negara itu yang bagian dari sunnah Nabi Saw dan sunnah para sahabatnya, yaitu Khilafah Rosyidah Mahdiyyah. Karena dengan meninggalkan Khilafah, Islam mustahil dapat diterapkan secara sempurna, karena khilafah sendiri adalah bagian dari ajaran Islam.

Dengan demikian, Jama’ah yang Sawad A'zham adalah mereka yang menerapkan Islam secara sempurna melalui penegakkan khilafah rosyidah, atau mereka yang sedang berdakwah kepada syariah dan khilafah, atau mereka yang mau diajak berjuang untuk hal tersebut, bukan mereka yang menolaknya, dan bukan mereka yang menjadi pembela dan penikmat sistem kufur demokrasi atau sistem atheis komunis.

Jadi tegaknya khilafah atau berdakwah kepada syariah dan khilafah, adalah penentu atas adanya Jama’ah yang Sawad A'zham dan yang Ghurobâ. Karena itu, tahun turunnya Hasan bin Ali dari khilafah dan menyerahkannya kepada Muawiyah disebut sebagai tahun Jama’ah. Dan karena itu juga, Jama'ah bisa berarti berkumpulnya kaum Muslim yang terdiri dari para imam mujtahid serta para pengikutnya di bawah bendera seorang khalifah.

Anda ingin menjadi bagian dari Jama'ah, Sawad A'zham dan Ghuroba ? Campakkan sistem demokrasi dan sistem komunis. Dan tegakkan sistem khilafah !

Anda ingin sukses dunia akhirat ? Terapkan syariah Islam secara kâffah dalam kehidupan, masyarakat dan negara ! []

Senin, 15 Juli 2019

PENGUASA ARAB PERSAHABATAN DENGAN Israel

Maaf, ini adalah bacaan untuk orang yang berpikir. Yang tidak mau berpikir, yang lebih banyak menggunakan rasa amarah murka, dendam dan benci dan sejenisnya dilarang keras membaca tulisan ini.
.
Kenapa? Karena bisa merusak aqidah dan tauhid anda.
.
Sekali lagi maaf, ini bukan fatwa. Ini adalah refleksi dan sikap saya pribadi dalam menulis, maka sangat dianjurkan untuk tidak membaca tulisan ini, apalagi jika iman anda sudah setinggi langit. Tulisan ini tidak akan berbasa-basi. No compromise!
.
Hidup ini sederhana, jangan buat gaduh kalau tidak ingin di buat gaduh, jangan cari-cari masalah kalau ngak ingin bermasalah, jangan menuduh bukan-bukan tanpa bukti atau fakta.
.
*Mari kita berbicara ilmiah.*
.
Pertama-tama, saya ingin bertanya kepada anda, menurut anda, apakah memperjuangkan Khilafah merupakan kesalahan? Menyesatkan? Atau bid’ah lah kata orang yang aqidahnya setinggi langit. Apakah sesat!?
.
_“Jika menegakkan khilafah suatu kesalahan dan menyesatkan, saya minta bukti dari segi Al Quran, Sunnah, Ijma dan Qiyas?”_
.
*Kedua*, saya masih bertanya, jika saya memperjuangkan khilafah adalah kesalahan dan menyesatkan, walau 4 imam madzhab mewajibkannya. Lalu bagaimana orang yang mengingkari khilafah?
.
Berkaitan dengan ini, saya lebih spesifik lagi, kenapa negara arab dan penguasa-penguasa arab menolak khilafah? Apakah karna tidak ada dalilnya? Atau karna faktor dendam dan benci!?
Saya akui…
.
Salah satu kehebatan negara Arab Saudi selama ini adalah keberhasilannya dalam menipu kaum Muslim, seakan-akan negaranya merupakan cerminan dari negara Islam yang menerapkan al-Quran dan Sunnah.
.
Keluarga Kerajaan juga menampilkan diri mereka sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka ada Makkah dan Madinah yang banyak dikunjungi oleh kaum Muslim seluruh dunia.
.
Penguasa Saudi juga terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok Islam maupun negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai “pelayan umat” dan penjaga dua masjid suci Khadim al-Haramain.
.
Akan tetapi, citra seperti itu semakin pudar mengingat sepak terjang keluarga Kerajaan selama ini, terutama persahabatannya dengan Amerika dan sekutunya yang mengorbankan kaum Muslim.
.
Arab Saudi merupakan salah satu negara di Dunia Islam yang cukup strategis, terutama karena di negara tersebut terdapat Baitullah di Makkah yang menjadi pusat ibadah haji kaum Muslim seluruh dunia.
.
Apalagi perjalanan Islam tidak bisa dilepaskan dari wilayah Arab Saudi. Sebab, di sanalah Rasulullah saw. lahir dan Islam bermula hingga menjadi peradaban besar dunia.
.
Arab Saudi juga sering menjadi rujukan dalam dunia pendidikan Islam karena di negara tersebut terdapat beberapa universitas seperti King Abdul Aziz di Jeddah dan Ummul Qura di Makkah yang menjadi tempat belajar banyak pelajar Islam dari seluruh dunia.
.
Dari negara ini, muncul Gerakan Wahabi yang banyak membawa pengaruh di Dunia Islam.
Lebih jauh, Saudi sering dianggap merupakan representasi negara Islam yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah.
.
Namun demikian, di sisi lain, Saudi juga merupakan negara yang paling banyak dikritik di Dunia Islam.
.
Sejak awal pembentukannya, negara ini dianggap memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah.
.
Sejarahnya juga penuh dengan pertumpahan darah lawan-lawan politiknya.
.
Banyak pihak juga menyoroti tindakan keras yang dilakukan oleh rezim ini terhadap pihak-pihak yang menentang kekuasaan Keluarga Saud.
.
Tidak hanya itu, Saudi juga dikecam karena menyediakan daerahnya untuk menjadi pangkalan militer AS.
.
Kehidupan keluarga kerajaan yang penuh kemewahan juga banyak menjadi sorotan.
Secara ekonomi, Saudi juga menjadi incaran negara-negara besar di dunia karena faktor kekayaan minyaknya.
.
*PENGUASA ARAB PERSAHABATAN DENGAN Israel,*
.
Oke, ini mulai nampak terang benerang, siapa sesungguhnya yang tersesat dan penghianat itu, saya atau anda?
.
_Sebagai sesama muslim, tentu anda dan saya tidak suka berbau sesatkan?_
.
Apalagi saudara itu sampai saling berkhianat. Untuk menutupi penghianatan itu.
.
_Hanya satu cara, Klaim ahlu sunnah. Klaim Salaf, klaim ini dan itu. Bolehlah, namun fakta sejarah tidak dapat di bohongi._
.
_Mengutip Perkataan David Ben Gurion._ Perdana Menteri Israel yang pertama:
*_“Seandainya saya seorang pemimpin Arab, saya tidak akan pernah menandatangani sebuah perjanjian dengan Israel._*
.
Adalah hal yang normal; kami telah merampas negara mereka. Benarlah, Tuhan menjanjikan tanah itu kepada kami, tapi bagaimana hal itu dapat menarik perhatian mereka?
.
Tuhan kami bukanlah Tuhan mereka. Telah ada Anti Semitisme, Nazi, Hitler, Auschwitz, tapi apakah itu kesalahan mereka? Mereka tidak melihat malainkan satu hal: kami telah datang dan telah mencuri tanah mereka. Kenapa mereka mau menerima itu?”
Begitu katanya. (BACA : Kutipan oleh Nahum Goldmann in Le Paraddoxe Juif. The Jewish Paradox :121)
.
Bahkan Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel menganggap penanda tanganan sebuah perjanjian dengan seorang penguasa muslim dengan Negara Israel adalah suatu pengkhianatan atas masyarakat yang mereka wakili.
.
Namun, pada hari ini para penguasa muslim itu tidak hanya puas dengan pengkhianatan yang mereka lakukan dengan menanda tangani perjanjian-perjanjian dengan Negara Israel, bahkan mereka juga bekerja untuk melakukan normalisasi hubungan antara Negara yang keberadaanya tidak sah itu dengan Negara-negara muslim dan mereka juga melawan setiap penentangan atas Negara penjajah Israel.
.
_Hal inilah yang menyebabkan mengapa Ben Gurion menganggap para penguasa muslim itu berada satu tenda dengan Israel ketika dia mengatakan bahwa para penguasa Arab adalah barisan pertama pertahanan bagi Israel, dia juga mengatakan “Para rezim muslim adalah artifisial dan mudah bagi kamu untuk menganggap remeh mereka”_
.
Apa yang dia maksud sebagai artifisial adalah bahwa para penguasa muslim itu telah dipaksakan keberadaanya atas ummat sejak dihancurkannya Khilafah Usmani pada tahun 1924. (BACA : David Ben-Gurion, Mei 1948, kepada Staf Umum. Dari Ben-Gurion, A Biography, karangan Michael Ben-Zohar, Delacorte, New York 1978)
~~~~
*Pertanyaannya adalah, mengapa penguasa arab tidak bisa lepas dari cengkraman israel dan amerika?*
*Kaitannya…*
.
Mengapa penguasa arab anti terhadap khilafah, anti pergerakan khilafah? Dan menyesatkan perjuangan khilafah?
.
Jika penguasa arab anti khilafah, klaim negara islam arab itu hanya omong kosong! Negara islam kok anti khilafah?
.
“Ada main sama yahudi dan amerika ya? “hayoo ngaku.
.
*Benarkah Saudi merupakan negara Islam?*
*Jawabannya, “Tidak sama sekali”*
.
Apa yang dilakukan oleh negara ini justru banyak yang menyimpang dari syariat Islam. Beberapa bukti antara lain:
.
Berkaitan dengan sistem pemerintahan, dalam pasal 5A Konstitusi Saudi ditulis:
.
*_“Pemerintah yang berkuasa di Kerajaan Saudi adalah Kerajaan. Dalam Sistem Kerajaan berarti kedaulatan mutlak ada di tangan raja”_*
.
Artinya Rajalah yang berhak membuat hukum. Meskipun Saudi menyatakan bahwa negaranya berdasarkan pada al-Quran dan Sunnah, dalam praktiknya, dekrit rajalah yang paling berkuasa dalam hukum.
.
*_“Sementara itu, dalam Islam, bentuk negara adalah Khilafah Islamiyah, dengan kedaulatan ada di tangan Allah SWT”_*
.
Dalam sistem kerajaan, rajalah yang juga menentukan siapa penggantinya; biasanya adalah anaknya atau dari keluarga dekat, sebagaimana tercantum dalam pasal 5C:
.
*_“Raja memilih penggantinya dan diberhentikan lewat dekrit kerajaan. Siapa pun mengetahui, siapa yang menjadi raja di Saudi haruslah orang yang sejalan dengan kebijakan AS”_*
.
*_“Sementara itu, dalam Islam, Khalifah dipilih oleh rakyat secara sukarela dan penuh keridhaan”_*
.
Dalam bidang ekonomi, dalam praktiknya, Arab Saudi menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Ini tampak nyata dari dibolehkannya riba (bunga) dalam transaksi nasional maupun internasional di negara itu.
.
Hal ini tampak dari beroperasinya banyak bank ribawi di Saudi seperti The British-Saudi Bank, American-Saudi Bank, dan Arab-National Bank. Hal ini dibenarkan berdasarkan bagian b pasal 1 undang-undang Saudi yang dikeluarkan oleh Raja (No M/5 1386 H).
.
Saudi juga menjadi penyumbang saham IMF, organisasi internasional bentuk AS yang menjadi “lintah darat ” yang menjerat Dunia Islam dengan riba.
.
Saudi adalah penanam saham no. 6 yang terbesar dalam organisasi itu. Ada bukti lain yang menunjukkan bahwa ekonomi Saudi adalah ekonomi kapitalis, yakni bahwa Saudi menjadikan tambang minyak sebagai milik individu (keluarga Kerajaan dan perusahaan asing), padahal minyak adalah milik umum (milkiyah ‘amah) yang tidak boleh diberikan kepada individu.
.
Kerajaan Saudi juga dibangun atas dasar rasialisme dan nasionalisme. Hal ini tampak dari pasal 1 Konstitusi Saudi yang tertulis:
.
*_“Kerajaan Saudi adalah Negara Islam Arab yang berdaulat_*(a sovereign Arab Islamic State).
.
Sementara itu, dalam Islam, Khilafah adalah negara Islam bagi seluruh kaum Muslim di dunia, tidak hanya khusus orang Arab. Tidak mengherankan kalau di Saudi seorang Muslim yang bukan Saudi baru bisa memiliki bisnis atau tanah di Saudi kalau memiliki partner warga Saudi.
.
Atas dasar kepentingan nasional, Raja Fahd pada 1997 mengusir ratusan ribu Muslim di luar Saudi (sebagian besar dari India, Pakistan, Mesir, dan Indonesia) dari Arab Saudi karena mereka dicap sebagai pekerja ilegal.
.
Bahkan, untuk beribadah haji saja mereka harus memiliki paspor dan visa. Sementara itu, dalam Islam, setiap Muslim boleh bekerja dan berpergian di wilayah manapun dari Daulah Khilafah Islamiyah dengan bebas. Pada saat yang sama, Saudi mengundang ratusan non-Muslim dari Eropa dan tentara Amerika untuk bekerja di Saudi dan menempati pangkalan militer di negara itu.
.
Tidak hanya itu, demi alasan keamanan keluarga Kerajaan, berdasarkan data statistik kementerian pertahanan AS, negara-negara Teluk (termasuk Saudi) sejak tahun 1990-November 1995 telah menghabiskan lebih dari 72 miliar dolar dalam kontrak kerjasama militer dengan AS. Saat ini, lebih dari 5000 personel militer AS tinggal di Saudi.
.
*MEMBERONTAK KEPADA KHILAFAH, BERSEKUTU DENGAN INGGRIS.*
.
Secara resmi, negara ini memperingati kemerdekaannya pada tanggal 23 September. Pada saat itulah, tahun 1932, Abdul Aziz yang dikenal juga dengan sebutan Ibnu Sa‘ud.
.
Memproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia “al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah” Abdul Aziz pada saat itu berhasil menyatukan dinastinya. Menguasai Riyad, Nejed, Ha-a, Asir, dan Hijaz.
.
Abdul Aziz juga berhasil mempolitisasi pemahaman Wahabi untuk mendukung kekuatan politiknya.
.
Sejak awal, Dinasti Sa‘ud secara terbuka telah mengumumkan dukungannya dan mengadopsi penuh ide Wahabi yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang kemudian dikenal dengan Gerakan Wahabi.
.
Dukungan ini kemudian menjadi kekuatan baru bagi Dinasti Sa‘ud untuk melakukan perlawanan terhadap Khilafah Islamiyah.
.
Hanya saja, keberhasilan Dinasti Sa‘ud ini tidak lepas dari bantuan Inggris. Mereka bekerjasama untuk memerangi pemerintahan Khilafah Islamiyah.
.
Sekitar tahun 1792-1810, dengan bantuan Inggris mereka berhasil menguasai beberapa wilayah di Damaskus. Hal ini membuat Khilafah Islamiyah harus mengirim pasukannya untuk memadamkan pemberontakan ini.
.
Fase pertama, pemberontakan Dinasti Saud berhasil diredam setelah pasukan Khilafah Islamiyah berhasil merebut kota ad-Diriyah.
.
Namun kemudian, beberapa tahun kemudian, Dinasti Sa‘ud, di bawah pimpinan Abdul Aziz bin Abdurrahman, berupaya membangun kembali kekuataannya.
.
Apalagi pada saat itu, Daulah Khilafah Islamiyah semakin melemah.
.
Pada tahun 1902, Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh walinya Gubernur Khilafah ar-Rasyid.
.
Pasukan Aziz terus melakukan penaklukan dan membunuh pendukung Khilafah Utsmaniyah dengan bantuan Inggris.
.
“Salah satu sahabat dekat Abdul Aziz Abdurrahman adalah Harry St. John Pilby, yang merupakan agen Inggris”
.
Philby menjuluki Abdul Aziz bin Abdurrahman sebagai “Seorang Arab yang Beruntung”, sementara Abdul Aziz menjulukinya dengan “Bintang Baru dalam Cakrawala Arab”
Philby adalah orang Inggris yang ahli Arab yang telah lama menjalin hubungan baik dengan Keluarga Sa‘ud sejak misi pertamanya ke Nejed pada tahun 1917. Pada tahun 1926, Philby tinggal di Jeddah. Dikabarkan kemudian, Philby masuk Islam dan menjadi anggota dewan penasihat pribadi Raja pada tahun 1930.
(Lihat: Goerge Lenczowsky, Timur Tengah di Tengah Kencah Dunia, hlm. 351).
.
Keterangan tambahan dari status diatas.
Di halaman2 awal, buku Kayfa hudimat al-khilafah karya Abdul Qadim Zallum (Amir HT II) dalam bab Munculnya Gerakan Wahhabi disebutkan bahwa sejak awal, Muhammad bin Saud (pendiri daulah Su’udiyah) adalah antek inggris. (sayang tidak disebutkan sumbernya!) Dan dia menjadikan gerakan Wahabi sebagai tunggangannya. Diperalat atau dimanfaatkan. Dan menjadikan pendapat2 pendirinya yakni Syaikh Muhammad bin Abdul-Wahhab sebagai legalitas atas kebijakan2nya, dan menjadikannya sebagai madzhab negaranya.
.
Syaikh Zallum tidak menjelek2an Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab walau mengkritiknya dan gerakannya.. Bahkan menyebut Syaikh Muhammad sebagai seorang Mujtahid.
.
Penyebutan Wahabi asalnya dari pemerintah Inggris. Untuk memberikan kesan buruk. Secara gerakan ini dipandang sangat mmbahayakan dan mengancam Inggris.
.
Permusuhannya terhadap Inggris luar biasa sebagaimana permusuhannya terhadap kesyirikan. Nama gerakan aslinya adalah Muwahidun yang para pengikutnya disebut ikhwan. Lahir di Nejed.
Disebut Muwahidun karena misi dakwah dan gerakannya adalah Tauhid. Yang mana di Nejed dan sebagian besar wilayah Arab, baik yang dikuasai Utsmani atau yang bukan, kesyirikan kembali meraja lela luar biasa pada waktu itu.
.
Dalam dakwahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini mengalami banyak sekali penentangan yang keras dan pengusiran. Beliau berfikir bahwa Dakwah Tauhid ini tidak akan bisa tegak tanpa adanya kekuatan dan kekuasaan. Berapa penguasa wilayah atau “sultan2 kecil” yang beliau kontak, baik itu “wali” nya utsmani atau bukan, semua menolak dengan keras dan mengusir beliau. Hingga beliau dapatkan “nushrah” dari Muhammad bin Saud penguasa Ad-Dir’iyyah yang menerima dakwahnya.
.
Kemudian bersama2 menyebarkan dan menegakkan ajaran Tauhid ini dengan dakwah dan kekuatan/kekuasaan dengan berdirinya dawlah Saudiyah.
.
Jadi model dakwah yang mirip2 ijtihad ht yakni kontak2 tokoh dan “thalabun-nushrah” justeru sudah dijalankan gerakan “Wahabi” jauh2 hari sebelumnya.
Kala itu Daulah Turki Utsmani sendiri sudah tidak bisa diharapkan karena didominasi oleh berbagai macam bid’ah dan shufiyyah sesat dan kesyirikan2 (lht di buku Bangkit Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah nya Syaikh Ash-Shalabi).
.
Wali Utsmani di Mesir yang ditugasi pemerintah pusat Utsmani untuk menumpas gerakan Muwahidun, yakni Muhammad Ali Pasha dan anaknya, Ibrahim Pasha (kebalik gak ya??) yang paling sadis dalam memerangi gerakan dan dakwah tauhid kala itu adalah antek Prancis. Sesuatu yg tdk disadari oleh pemerintah pusat di Turki.
.
Daulah Su’udiyah didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud amir Ad-Dir’iyyah pada thn 1744. Masa ini dan beberapa puluh tahun setelahnya masih lurus in syaa Alloh.
.
Kemudian menyimpang parah pada masa raja Abdul Aziz pada tahun 1922 kalau gak salah, dengan menjalin kerjasama dan menjadi antek inggris.
.
Masa itu pula para ikhwan muwahidun terpecah. Ada yang masih pro dinasti saud, ada yang kemudian keluar, mufaraqah dari dan bahkan memerangi dinasti saud yang sudah jauh menyimpang itu. (Lht. Membongkar Kekafiran Negara Saudi, Syaikh Al-Maqdisi)
.
Dan tentang bagaimana hubungan antara pemerintah Saudi dengan Amerika, ada salah satu buku terpercaya yang bisa dibaca: Wa’du Kissinger karya Syaikh DR. Safar Hawali, dosen aqidah di univ. Ummul Qura Makkah yang kemudian beliau ditangkap, dicopot dari jabatannya dan lalu diusir oleh pemerintah Saudi karena bukunya tsb. Padahal isi buku tersebut adalah fakta, peringatan kepada pemerintah dan nasehat kepada dewan ulama kibar Saudi.

arief b iskandar

Rabu, 10 Juli 2019

BENARKAH PANCASILA DAN NKRI MERUPAKAN KONSENSUS PARA PENDAHULU YANG TIDAK BOLEH DIUBAH?

Oleh : Ustadz Syamsuddin Ramadhan

Jawab:
Pertama, sesungguhnya, siapa saja yang mencermati perjalanan sejarah bangsa Indonesia, pastilah ia berkesimpulan bahwa Pancasila dan NKRI bukanlah konsensus para pendahulu yang tidak boleh diubah.  Pancasila dan NKRI dari sudut pandang apapun sah dan bisa diubah.   Pancasila dan NKRI sesungguhnya adalah “buah” dari manuver politik kelompok sekuler-demokrat untuk mendirikan negara demokrasi-sekuler dan mencegah berdirinya negara Islam di Indonesia.  Adapun statement sekelompok orang yang menyatakan bahwa Pancasila adalah konsensus luhur bangsa Indonesia, semua itu hanyalah propaganda politik dan opini belaka. 

Adapun diamnya umat Islam dan tokoh-tokoh Islam terhadap pendasaran negara dengan Pancasila, itu tidak berarti ada consensus diam (ijma` sukutiy) dari mereka untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara.  Sebab, diamnya masyarakat atas sesuatu tidak secara otomatis menunjukkan persetujuan dan penerimaan mereka terhadap sesuatu tersebut.  Bahkan sejarah menunjukkan bahwasanya Pancasila baru diterima oleh sebagian organisasi Islam dan pondok pesantren, bukan karena mereka memandang Pancasila sebagai konsensus luhur bangsa Indonesia atau karena keduanya final dan harga mati, tetapi  lebih karena paksaan dan ancaman dari rejim yang berkuasa saat itu.  Jikalau tidak ada paksaan, intimidasi, persekusi, dan ancaman niscaya mereka menolak Pancasila sebagai asas, dan NKRI sebagai sebuah bentuk pemerintahan.

Pada paparan sebelumnya telah dijelaskan sejarah perjalanan Pancasila dan NKRI yang dinamis, berubah, dan absah untuk diubah.    Realitas tersebut menggambarkan bahwasanya Pancasila dan NKRI bukanlah konsensus harga mati yang tidak bisa berubah.   Pancasila dan NKRI adalah produk politik yang terus mengalami dinamika dan perubahan.  Orang yang menyatakan bahwa Pancasila dan NKRI final dan harga mati jelas-jelas ahistoris, naïf, dan picik.

Kedua, seandainya dinyatakan bahwa Pancasila dan NKRI  adalah konsensus luhur bangsa Indonesia –meskipun faktanya tidak seperti itu--, inipun juga tidak berarti bahwa keduanya haram atau tabu untuk diubah; lebih-lebih lagi diposisikan lebih tinggi daripada Islam. 
Alasannya:

(1) kesepakatan manusia tidaklah ma’shum (terjaga dari kesalahan), kecuali kesepakatan para shahabat (Ijma’ shahabat).   Ijma’ shahabat (kesepakatan para shahabat) dijamin oleh wahyu (al-Quran dan hadits mutawatir) atas keterjagaannya dari kesalahan.   Adapun kesepakatan selain mereka –shahabat ra-- tidak dijamin kema’shumannya.  Para pendahulu kita, sebagus apapun personalitas mereka, tentu saja tidak luput dari kesalahan.  Produk kesepakatan mereka pun juga tidak ma’shum, bisa salah dan keliru; serta sama sekali tidak boleh dinyatakan final, harga mati, serta diletakkan di atas Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. 

Alasan (2), kesepakatan apapun, jika menyelisihi al-Quran dan Sunnah Nabi saw, atau memberangus sebagian atau keseluruhan ajaran Islam, atau menghalang-halangi tegaknya Islam secara sempurna; maka kesepakatan itu batal.   Kelompok Pancasilais, liberalis, sekuleris menolak dengan tegas upaya penegakkan syariah dan Khilafah dengan alasan ia akan memberangus eksistensi Pancasila dan NKRI.   Mereka juga menyatakan dakwah Islamiyyah tidaklah dilarang, dengan syarat tidak menyerukan syariah dan Khilafah.   Statement ini menunjukkan bahwa mereka tengah memposisikan Pancasila dan NKRI di atas Al-Quran dan Sunnah Nabi saw, dan dakwah disyaratkan tidak boleh mengubah Pancasila dan NKRI.   Syarat-syarat semacam ini jelas-jelas keliru dan bertentangan dengan Islam.

Di dalam riwayat-riwayat maqbul dituturkan bahwasanya setiap syarat yang bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah Nabi saw, walaupun 100 syarat, maka syarat itu batal.

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Barirah  bertanya kepada ‘Aisyah ra tentang status kitabah-nya (budak yang ingin memerdekakan dirinya dengan cara membayar kepada tuannya).  ‘Aisyah ra menjawab, “Jika kamu mau, aku akan memberikan kepada keluargamu, sedangkan walaa’ untukku”.  

Tatkala Rasulullah saw datang, ‘Aisyah menceritakan hal itu kepada beliau saw.  Beliau saw bersabda:
ابْتَاعِيهَا فَأَعْتِقِيهَا فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ, ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللهِ مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنِ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ
Belilah dia, lalu bebaskanlah dia, sesungguhnya wala’ itu milik orang yang memerdekakan”.   Kemudian, Rasulullah saw berdiri di atas mimbar, seraya bersabda, “Perhatikanlah kaum yang mensyaratkan syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah; siapa saja yang mensyaratkan satu syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah, maka tidak ada hak baginya, meskipun ia mensyaratkan seratus syarat”.[HR. Imam Bukhari]

Imam Ahmad menuturkan sebuah riwayat dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Barirah mendatangi dirinya, sedangkan pada saat itu Barirah seorang mukatabah (budak yang dibebaskan dengan cara membayar kepada tuannya), yang keluarganya telah membayarkan untuknya sebanyak 9 ‘uqiyyah.   ‘Aisyah ra berkata kepadanya, “Jika keluargamu mau, aku akan membayarnya sekali bayar, sedangkan wala` untukku”.  Barirah mendatangi keluarganya dan menceritakan hal itu kepada mereka.   Mereka menolak, kecuali mereka mensyaratkan bahwa wala` (loyalitas) tetap milik mereka.   ‘Aisyah ra mengabarkan hal itu kepada Nabi saw.  Nabi saw bersabda, “Lakukanlah”.   ‘Aisyah pun melakukan hal itu. 

Selanjutnya Nabi saw bangkit, dan berkhuthbah di hadapan manusia.  Beliau memuji Allah swt dan menyanjungNya, seraya bersabda :
مَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللهِ ، قَالَ كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ ، كِتَابُ اللهِ أَحَقُّ ، وَشَرْطُهُ أَوْثَقُ ، وَالْوَلاَءُ لِمَنْ أَعْتَقَ
“Perhatikan wahai laki-laki yang mensyaratkan syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah”.  Beliau bersabda, “Setiap syarat yang tidak terdapat di dalam Kitabullah maka ia bathil.  Kitabullah lebih benar, dan syaratnya (syarat yang didasarkan Kitabullah) lebih bisa dipercaya.  Sedangkan wala` bagi orang yang memerdekakan”. [HR. Imam Ahmad]

Imam Ahmad juga menuturkan hadits semakna dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw bersabda:
كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ مَرْدُودٌ، وَإِنْ اشْتَرَطُوا مِائَةَ مَرَّةٍ
“Setiap syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah ‘Azza wa Jalla, maka syarat itu tertolak, meskipun mereka mensyaratkan 100 kali”.[HR. Imam Ahmad]

Riwayat-riwayat ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwasanya setiap syarat yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi saw, tertolak dan batal. 

Sejak Pancasila ditasbihkan sebagai prinsip ideal dan dasar negara, maka berdirilah di atasnya negara demokrasi-sekuler yang mengatur urusan rakyat dengan aturan-aturan buatan manusia.   Jikalau di sana ada penerapan sebagian aturan agama, semacam nikah, sholat, zakat, dan lain-lain, itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa pemerintahan tersebut Islamiy atau berpihak kepada Islam.  Sama seperti kaum Muslim yang ada di Habasyah.  Kaum Muslim yang hijrah ke Habasyah diberi ijin untuk tetap memeluk agama Islam dan menunaikan kewajiban-kewajiban seorang Muslim.  Namun, tetap saja pemerintahan Najasyi adalah pemerintahan kufur.  Penerapan sebagian ajaran Islam oleh lembaga negara dan individu kaum Muslim bukan karena pemerintahannya berdasarkan Islam, tetapi karena penguasa negara kufur itu mengadopsi sebagian ajaran Islam dan memberikan ijin kepada individu-individu tersebut untuk hanya melaksanakan sebagian ajaran Islam. 

Di negeri yang berasaskan Pancasila ini, syariat Islam, khususnya syariat yang mengatur urusan-urusan negara dan publik jelas-jelas disingkirkan dan dicegah pemberlakukannya.  Di antara alasan kaum sok Pancasilais adalah bangsa Indonesia majemuk, tidak hanya umat Islam saja. Penerapan syariah dalam ranah negara dan masyarakat, masih menurut mereka, akan mengancam keragaman.   Oleh karena itu, di sepanjang lintasan sejarah Pancasila dan NKRI, siapapun yang berusaha melakukan “formalisasi” syariat Islam dalam ranah negara dan publik, acapkali dituduh anti dan membahayakan Pancasila dan NKRI.   

Bahkan, penguasa dengan alasan menjaga Pancasila dan NKRI tidak segan-segan memenjara, mengucilkan, dan memerangi orang-orang yang berusaha melakukan formalisasi Islam dalam ranah negara dan masyarakat. Semua ini semakin menegaskan bahwasanya Pancasila dan NKRI merupakan alat yang digunakan penguasa atau kelompok anti Islam untuk menghancurkan setiap upaya yang ditujukan untuk menerapkan Islam secara kaaffah.   Liciknya lagi, kelompok nasionalis-Pancasilais ini selalu berkoar-koar bahwa mereka tidak anti Islam; dan Pancasila itu tidak bertentangan dengan Islam.  Padahal, tindakan mereka jelas-jelas menunjukkan permusuhan dan kebencian mereka terhadap Islam.   Pemberlakuan sebagian ajaran Islam semacam sholat, zakat, puasa, dan ibadah-ibadah tertentu, sama sekali tidak bisa menutupi kejahatan dan keculasan mereka.  

Walhasil, tanpa disadari oleh sebagian umat Islam, Pancasila dan NKRI dijadikan sebagai “penghalang atau “pengganjal politis” atas setiap upaya penegakkan syariat dan Khilafah Islamiyyah.   Dengan kata lain, Pancasila dan NKRI adalah dinding yang sengaja dibangun kaum sekuler untuk membangun negara bangsa demokrasi-sekuler, sekaligus sebagai penghalang bagi siapa saja yang hendak menghancurkan eksistensi negara demokrasi-sekuler dan mendirikan negara Khilafah Islamiyyah.    

NKRI dan Pancasila juga diperalat untuk mencegah terjadinya persatuan umat Islam seluruh dunia di bawah naungan satu kepemimpinan tunggal, Amirul Mukminiin.  NKRI dan Pancasila juga diperalat untuk melanggengkan eksistensi penguasa-penguasa antek yang bekerja untuk kepentingan negara-negara imperialis dan korporasi-korporasi swasta tanpa mempedulikan lagi kedaulatan rakyat dan bangsanya.  
Oleh karena itu, umat Islam –khususnya ahlul quwwah-- tidak boleh tinggal diam dan berpangku tangan.  Sudah saatnya mereka berjuang dengan keras untuk melampaui penghalang-penghalang itu, lalu membangun negeri ini di atas pijakan yang shahih, yakni ‘aqidah Islamiyyah.  Lalu, menerapkan syariat Islam secara menyeluruh untuk mengatur urusan pemerintahan dan rakyat. 

Persoalan utama umat Islam sekarang ini adalah bagaimana mereka focus pada upaya menerapkan hukum Allah swt dan RasulNya secara menyeluruh dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara.  Sebab, setiap Muslim diperintahkan hidup sesuai dengan syariat Islam, dan dilarang menyimpang dari syariat Islam, meskipun hanya seujung rambut.   Persoalan umat Islam bukanlah “keterikatan dan kesetiaan mereka kepada NKRI dan Pancasila”.  Sebab, tidak ada perintah dalam al-Quran dan Sunnah yang ditujukan kepada umat Islam agar mereka setia dan membela mati-matian NKRI dan Pancasila.  

Lebih-lebih lagi, keduanya jelas-jelas tidak lahir dari al-Quran dan Sunnah Nabi saw.   Yang ada hanyalah perintah untuk membela, mentaati, dan mendakwahkan hukum Allah dan RasulNya.   Bahkan, menjadikan NKRI dan Pancasila sebagai standar diterima atau tidaknya amal perbuatan seorang Muslim, jelas-jelas hal itu mereka kesesatan yang nyata.  Begitu pula “membela NKRI dan Pancasila” sampai mati, tidaklah dihitung jihad fi sabilillah.  Bahkan, siapa saja yang mati dalam rangka membela NKRI dan Pancasila, maka ia justru memperoleh murka dan siksa Allah swt.

Benar, agenda umat Islam adalah berjuang untuk menerapkan Islam secara kaaffah dalam bingkai sistem pemerintahan Islamiy, yakni Khilafah Islamiyyah.  Pada persoalan inilah, umat Islam harus focus dan serius.  Persoalan mereka bukanlah menjaga dan mempertahankan Pancasila dan NKRI.  Pasalnya, Pancasila dan NKRI bukanlah harga mati, dan sama sekali tidak berhubungan dengan lenyap tidaknya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah swt dan RasulNya. 

Jika Pancasila dan NKRI dianggap harga mati dan berkaitan dengan rusak tidaknya keimanan seorang Muslim, lantas, bagaimana saudara-saudara kita yang ada di Amerika, Rusia, Inggris, Malaysia, Filipina, Arab Saudi, Iraq, dan negeri-negeri lain yang tidak menjadikan Pancasila dan NKRI sebagai asas dan bentuk pemerintahan negara mereka?  Apakah mereka semua kafir, dan layak dianggap sesat karena tidak menyakini Pancasila dan NKRI?

Sebaliknya, seorang Muslim, di mana pun mereka berada, apapun warna kulit dan bangsanya; jika ia berpaling dari syariat Islam, menolak dan memusuhi penerapan syariat Islam; atau berbuat tidak di atas dasar ‘aqidah Islamiyyah; atau menyakini bahwa Islam sejajar atau bahkan lebih rendah dibandingkan Pancasila dan NKRI, maka tanpa ada keraguan sedikit pun, ia telah keluar dari Islam.   Adapun seorang Muslim yang hidup tidak sejalan dengan al-Quran dan Sunnah, namun, di hatinya masih menyakini kewajiban untuk terikat dengan syariat Islam dan penyimpangan dirinya dari Islam tidak dibarengi dengan keyakinan, maka ia tidak boleh dikafirkan.  Barangkali ia termasuk kategori orang dzalim dan fasiq.

Jika ini persoalannya, lantas mengapa kita harus “khawatir  dan takut” tatkala kita hendak menjalankan kewajiban asasi kita sebagai seorang Muslim, yakni menerapkan Islam secara kaaffah dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara?  Mengapa kita merasa jengah dan minder ketika kita hendak mendirikan Daulah Islamiyyah yang akan menyempurnakan penerapan syariat Islam secara kaaffah? Mengapa kita harus bersembunyi di balik jargon-jargon abu-abu semacam “NKRI Bersyariah, “Kita Tetap Setia Kepada NKRI dan Pancasila”, dan jargon-jargon hipokrit lain, yang justru menghalang-halangi tegaknya syariah dan Khilafah?

Wahai para jenderal dan prajurit Muslim yang gagah berani, sungguh, jika Anda menolong agama Allah, dengan cara membantu dan mendukung perjuangan menegakkan syariat dan Khilafah, niscaya Allah swt akan melimpahkan ridlo dan pahalaNya kepada Anda sekalian.  Sebaliknya, jika Anda berpangku tangan, berpaling, bahkan memusuhi perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah, niscaya Anda akan mendapatkan kesukaran hidup di dunia dan akherat. (Gus syams)

Kamis, 04 Juli 2019

KHILAFAH MENYEMPURNAKAN IBADAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Khilafah menyempurnakan ibadah, artinya dengan khilafah yang menerapkan syariah Islam secara sempurna, kaum muslim bisa beribadah kepada Allah dengan sempurna, karena ibadah itu terdiri dari ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh; ibadah mengatur urusan diri dengan Tuhannya, ibadah mengatur urusan diri sendiri, dan ibadah nengatur urusan diri dengan sesamanya, termasuk urusan diri dengan masyarakat dan negara, termasuk cara mengelola negara. Dan substansi khilafah adalah seorang khalifah yang menerapkan syariah Islam secara sempurna. Karenanya, kalimat menegakkan khilafah bisa diganti dengan menegakkan khalifah atau menegakkan hukum-hukum khalifah, seperti dalam tafsir Alqurthubi.

Senin, 01 Juli 2019

DIMENSI HALAL BI HALAL

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini adalah kesempatan saya (Abulwafa Romli) untuk menyampaikan pidato halal bi halal dimana sebelumnya hanya tersimpan didalam otak. Pada kesempatan ini juga saya tidak bicara siapa sosok yang pertama kali mencetuskan istilah halal bi halal.

Istilah halal bi halal (halal dengan halal) itu diambil dari kata Arab berupa fi’il mâdhi istahalla dan mashdar istihlâl (mengikuti wazan istaf'ala dan istif'âlan) yang berarti minta halal / minta dihalalkan. Urutan shorofnya sebagai berikut :
استحل يستحل استحلالا ومستحلا فهو مستحل وذاك مستحل استحل لا تستحل مستحل مستحل
istahalla yastahillu istihlâlan wa mustahallan fahuwa mustahillun wa dzâka mustahallun istahilla lâ tastahilla mustahallun mustahallun.