Senin, 01 Juli 2019

DIMENSI HALAL BI HALAL

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini adalah kesempatan saya (Abulwafa Romli) untuk menyampaikan pidato halal bi halal dimana sebelumnya hanya tersimpan didalam otak. Pada kesempatan ini juga saya tidak bicara siapa sosok yang pertama kali mencetuskan istilah halal bi halal.

Istilah halal bi halal (halal dengan halal) itu diambil dari kata Arab berupa fi’il mâdhi istahalla dan mashdar istihlâl (mengikuti wazan istaf'ala dan istif'âlan) yang berarti minta halal / minta dihalalkan. Urutan shorofnya sebagai berikut :
استحل يستحل استحلالا ومستحلا فهو مستحل وذاك مستحل استحل لا تستحل مستحل مستحل
istahalla yastahillu istihlâlan wa mustahallan fahuwa mustahillun wa dzâka mustahallun istahilla lâ tastahilla mustahallun mustahallun.


Atau dari kata Arab berupa fi'il mâdhi tahâlla dan mashdar tahâllan (mengikuti wazan tafâ'ala dan tafâ'ulan) yang berarti saling halal / saling menghalalkan. Urutan shorof (tashrif)nya sebagai berikut :
تحال يتحال تحالا ومتحالا فهو متحال وذاك متحال تحال لا تتحال متحال متحال
tahâlla yatahâllu tahâllan wa mutahâllan fa huwa mutahâllun wa dzâka mutahâllun tahâlla lâ tatahâlla mutahâllun mutahâllun

Istilah Arab istahalla atau tahâlla diterjemahkan dengan halal bi halal itu memiliki makna yang sangat luas dan meliputi sesuai tujuan disyariatkannya ibadah shiyâm dan qiyâm di bulan Ramadhan yaitu la'allakum tattqûn supaya kalian bertaqwa.

Setidaknya ada tiga dimensi halal bi halal :

Pertama,
dimensi privat, spiritual, yaitu halal bi halal dengan arti halal makan di siang hari dengan makanan yang halal. Bulan Syawal adalah bulan berbuka, bulan membayar zakat fitrah, dan bulan ber-idul fitri. Dimensi ini meniscayakan menjauhi makanan (termasuk minuman dll.) yang diharamkan oleh syariat Islam, termasuk menjauhi semua jenis pekerjaan mencari rizki yang diharamkan seperti muamalah riba, mencuri, merampas, menipu, korupsi dll.

Kedua,
dimensi masyarakat, sosial, kultural, seperti halalnya hubungan lawan jenis (seksualitas) diantara dua sejoli dengan cara yang halal, akad nikah syar'i. Halal bi halal ini bisa menjalin serta mengikat hubungan persaudaraan diantara dua keluarga besar, bahkan diantara dua masyarakat. Karena itu, bulan Syawal juga dikenal sebagai bulan perjodohan dan bulan menumpahkan mawadah wa rahmah, berbulan madu, diantara dua sejoli yang saling kasmaran sebelumnya. Bahkan bisa menjadi bulan untuk menambah istri bagi yang sudah beristri, berpoligami.
Bulan Syawal juga menjadi momentum terbaik untuk halal bi halal dengan arti saling minta maaf dan memaafkan dan rekonsiliasi diantara dua orang, dua keluarga, dua kelompok jama'ah, dan dua masyarakat yang sebelumnya saling membelakangi dan saling bermusuhan.

Ketiga,
dimensi negara, struktural, seperti mengangkat kepala negara yang halal dengan sistem pemerintahan yang halal. Pemimpin yang halal adalah yang memenuhi syarat-syarat seorang imam a'zhom / khalifah. Sedang sistem pemerintahan yang halal adalah yang sesuai hukum-hukum Allah dan untuk menerapkan hukum-hukum Allah, yaitu sistem khilafah.

Dimensi halal bi halal ketiga ini meniscayakan menjauhi dan membuang kepala negara yang tidak memenuhi syarat-syarat sahnya imam a'zham, khalifah, serta menjauhi sistem pemerintahan kufur dan syirik seperti demokrasi dan komunis.

Dari tiga dimensi halal bi halal di atas tercermin dan terbukti tujuan shiyam dan qiyam di bulan Ramadhan. Karena taqwa adalah ungkapan yang mencakup dua sisi seperti dua sisi mata uang yang selalu terkait dan tidak bisa terpisah. Yaitu sisi melaksanakan perintah Allah dan sisi menjauhi larangan Allah, dimana keduanya harus sama-sama dikerjakan dan dijauhi dalam satu waktu dan satu kondisi secara bersama.

Menghalalkan makan harus bersamaan dengan makanan yang halal. Menghalalkan lawan jenis harus bersamaan dengan transaksi akad nikah yang halal. Menghalalkan mengangkat kepala negara (nashbul imam), imam a'zhom / khalifah harus bersamaan dengan menegakkan sistem pemerintahan yang halal, yaitu khilafah dimana dengannya kepala negara bisa menerapkan hukum-hukum Allah.

Mengamalkan satu sisi saja tanpa meninggalkan sisi yang lainnya itu tidak bisa tergolong taqwa sebagai tujuan disyariatkannya ibadah shiyam dan qiyam di siang dan malam hari bulan Ramadhan. Karenanya, halal bi halal yang tidak memenuhi tiga dimensi di atas adalah halal bi halal yang kosong dari faedah, hanya basa basi politik dan kepentingan yang mudah basi.

Wallohu A’lamu Bishshawâb

0 komentar:

Posting Komentar