Senin, 29 April 2019

MENGENAL GARIS KERAS SEJATI

Sesungguhnya kelompok yang layak distigma dengan label Garis Keras adalah kelompok yang menolak penerapan ayat-ayat Allah, yang menolak formalisasi syariat Islam, yang menolak dakwah Islam Kâffah dan khilafah, yang melanggar dan menabrak larangan Allah swt dan Rasul-Nya saw.
Allah swt telah memberi tahu siapakah kelompok garis keras itu melalui firman-Nya :

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Kemudian setelah itu (datangnya ayat-ayat Allah) hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan". (QS al-Baqarah [2]: 74).

Minggu, 21 April 2019

BOLEHKAH KITA BERBANGGA DENGAN KEMENANGAN PRABOWO ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Pertanyaan itu muncul ditengah-tengah para pejuang Islam Kaffah, Syariah dan Khilafah, dimana bagi mereka, baik Prabowo maupun Jokowi, keduanya sama-sama calon presiden dalam sistem kufur demokrasi bin ideologi kufur kapitalisme bin akidah kufur sekularisme, yang akan menerapkan hukum-hukum kufur yang jelas-jelas kontradiksi dengan hukum-hukum syariat Islam. Cuma bedanya, kubu Prabowo lebih dekat kepada kelompok muslim yang merindukan kebangkitan Islam dan kaum Muslim, melalui penerapan Islam secara sempurna dalam wadah daulah khilafah rosyidah, sedang kubu Jokowi lebih dekat kepada kelompok Muslim yang tetang-terangan menampakkan sikap sekular dan liberalnya, juga dekat kepada kelompok komunis sosialis materialis dan aliran sesat dan menyimpang lainnya.

KONOTASI MEMECAH-BELAH AGAMA DAN BERBANGGA DENGANNYA (1)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Berbangga berasal dari bahasa Arab "farihien" atau "yafroh" dari madli "fariha" dan mashdar "farhan/ farohan", berarti bisa juga berarti berbahagia dan bersenang. Tulisan ini membantah pendapat yang mengatakan, bahwa berbangga dengan menjadi bagian dari HT/ HTI adalah berbangga yang dilarang atau tercela karena menyerupai berbangganya orang-orang musyrik yang telah memecah belah agamanya.

Allah Swt berfirman:
“dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan dimana tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS Arruum [30]: 31-32).

KONOTASI MEMECAH-BELAH AGAMA DAN BERBANGGA DENGANNYA (2)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

"KONOTASI DARI LARANGAN MEMECAH-BELAH AGAMA, ADALAH KEWAJIBAN MENERIMA SYARIAH ISLAM SECARA UTUH".

Berikut adalah ayat-ayat terkait larangan memecah belah agama. Allah swt berfirman :
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
"... dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka". (QS Arruum [30]: 31-32).

Kamis, 11 April 2019

KHILAFAH SISTEM TERBAIK WAJIB DIAMBIL DAN DITERAPKAN

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Maaf kalau saya keliru, bahwa mereka yang menolak Khilafah dalil-hujjahnya hanya mentok sampai kepada "SAMPAH PERKATAAN" yang "HUWA QÔILUHÂ", bahwa Khilafah betentangan dengan kesepakatan bangsa, bahwa Khilafah betentangan dengan Pancasila, bahwa Khilafah mengkhianati kesepakatan / janji para pendahulu bangsa, dan sejenisnya.

Selanjutnya dikait-kaitkan dengan kewajiban menepati janji. Ciri-ciri munafik salah satunya adalah ingkar janji atau merusak janji para pendahulu bangsa yang bagi mereka adalah USWATUN HASANAH mengalahkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Miris memang.

Sabtu, 06 April 2019

SESAT MENYESATKAN (3)

Inilah Produk Ijtihad Kaum Liberal :

Tidak Ada Istilah Khilafah dalam Al-Qur’an

Faizin, NU Online | Ahad, 31 Maret 2019 23:55
Oleh Nadirsyah Hosen
....................................................
....................................................
Bisakah seorang menjadi Khalifah tanpa ada Khilafah? Bisa. Kenapa tidak? Bukankah kita semua sebagai anak cucu Nabi Adam adalah pewaris dan pengelola bumi? Ini khalifah dalam pengertian Qur’an, bukan dalam konteks sistem Khilafah ala HTI.

Bisakah pemimpin sekarang kita sebut sebagai Khalifah meskipun tidak ada khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bukankah Nabi Dawud menjadi Khalifah padahal beliau Raja Bani Israil? Kata kuncinya, seperti dijelaskan di atas, adalah keadilan. Sesiapa pemimpin yang adil, bisa kita anggap sebagai Khalifah seperti Nabi Dawud

Kamis, 04 April 2019

PROBLEM DAYYÛTS DAN KHILAFAH SOLUSINYA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Sebelum membicarakan perihal dayyûts sebagai laki-laki yang diharamkan masuk surga, dan penegakkan khilafah sebagai solusi tuntasnya, sangat penting mengetahui bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah menyuruh orang-orang beriman agar selalu menjaga diri dan keluarganya dari jilatan api neraka.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Attahrîm/ 66 : 6).

Rabu, 03 April 2019

SESAT MENYESATKAN (2)

Inilah Produk Ijtihad Kaum Liberal :

Tidak Ada Istilah Khilafah dalam Al-Qur’an.

Faizin, NU Online | Ahad, 31 Maret 2019 23:55

Oleh Nadirsyah Hosen

Banyak terjadi kerancuan di kalangan umat mengenai penggunaan istilah Khalifah, Khilafah, dan juga Khalifatullah fil Ardh. Perlu saya tegaskan bahwa:
... ... ...
Kedua, ayat terakhir yang menyebut istilah Khalifah itu adalah yang berkenaan dengan Nabi Dawud :

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...” (QS 38:26)

Harap diingat bahwa Nabi Dawud adalah Raja Bani Israil. Dalam ayat di atas, Nabi Dawud diperintah untuk memberi keputusan dengan adil. Inilah spirit ajaran Qur’an : keadilan. Sehingga amanah sebagai Khalifah (pemimpin) harus diwujudkan dengan prinsip keadilan. Kata adil dalam al-Qur’an disebut sebanyak 28 kali."

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Komentar Saya (Abulwafa Romli) :

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

TIDAK ADA KEADILAN DALAM SISTEM DEMOKRASI

TIDAK ADA PEMIMPIN YANG ADIL DALAM DEMOKRASI

Nadirsyah Hosen, justru Alqur'an surat Shôd ayat 26 yang Anda kutip di atas, adalah penjelasan dari Alqur'an surat Albaqoroh ayat 30 juga yang Anda kutip diatasnya, bahwa tugas dan pungsi khalifah adalah untuk menerapkan hukum Allah atas manusia secara adil, yakni memerintah manusia dengan adil, yakni dalam sistem pemerintahan yang adil juga. Sistem pemerintahan yang adil adalah yang datang dari Allah, yakni yang termasuk hukum Allah, yaitu khilafah sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits nabawi. Kita tidak perlu membahas sistem apa yang diterapkan oleh Nabi Daud karena kita bukan umatnya, tetapi memakai ayat itu sebagai dalil untuk kita umat Nabi Muhammad SAW yang harus terikat dengan syariat Islam yang dibawanya, tidak dengan syariat Nabi Daud AS. Karena ketika sistem pemerintahan itu tidak datang dari hukum Allah, tapi dari hukum Thoghut musuh Allah, maka terjadilah ketidak adilan dan kezaliman, yaitu membuang hukum Allah SWT.

Seharusnya Nadirsyah Hosen malu dan tahu diri, ketika memakai ayat-ayat tentang khalifah untuk mengokohkan sistem demokrasi yang jelas-jelas sistem kufur, dan untuk presiden yang tidak menerapkan hukum Allah SWT.

Di dalam sistem demokrasi tidak akan pernah ada, bahkan mustahil ada pemimpin pemerintahan (penguasa) yang adil, karena mereka sengaja dipilih dan diangkat untuk menerapkan hukum thaghut produk akal duit dan hawa nafsu manusia yang telah memposisikan dirinya sebagai thaghut tandingan Allah dalam menetapkan hukum. Karena siapa saja penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah SWT dalam pemerintahannya, maka mereka adalah orang-orang kafir, zalim atau fasik, dimana tiga sifat tersebut dapat menghilangkan sifat 'adalah/ adil.

Sekarang perhatikan rentetan firman Allah SWT :
ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﺄُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ .
“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS Almaaidah [5]: 44).

“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS Almaaidah [5]: 45).

“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (QS Almaaidah [5]: 47).

Dan firman-Nya terkait kewajiban ber-Islam kaffah:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺍﺩْﺧُﻠُﻮْﺍ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴِّﻠْﻢِ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮْﺍ ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻣُﺒِﻴْﻦٌ .
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian”. (QS Albaqarah [2]: 208).

Jadi setiap pemikiran dan dakwah yang kontradiksi dengan Islam kaffah adalah termasuk langkah-langkah syaitan. Sedang mengikuti langkah-langkah syaitan dapat menghilangkan sifat adil.

Dan firman-Nya terkait kewajiban penguasa memutuskan perkara dengan hukum Allah SWT :
ﻓﺎﺣﻜﻢ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﻻ ﺗﺘﺒﻊ ﺃﻫﻮﺍﺀﻫﻢ ﻋﻤﺎ ﺟﺂﺀﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻖ ، ...
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu, …”. (QS Almaaidah [5]: 48).

Dan firmanNya:
ﻭﺃﻥ ﺍﺣﻜﻢ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺗﺘﺒﻊ ﺃﻫﻮﺍﺀﻫﻢ ﻭﺍﺣﺬﺭﻫﻢ ﺃﻥ ﻳﻔﺘﻨﻮﻙ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﻣﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻚ ، ...
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…”. (QS Almaaidah [5]: 49).

Pada dua ayat diatas Allah SWT telah ; 1) menyuruh menerapkan hukum Allah, 2) melarang dari mengikuti (menerapkan hukum produk) hawa nafsu, dan 3) melarang dari meninggalkan sebagian hukum Allah (apalagi sebagian besar atau seluruh hukum Allah).

Ketika yang dikehendaki oleh Nadirsyah Hosen adalah adil sesuai peradaban barat yang kapitalis sekular demokrasi, maka tidak boleh memakai dalil-dalil Islam, tidak boleh menyentil ayat-ayat Alqur'an dan hadis-hadis Assunnah, bahkan lebih tidak boleh menyalahkan perjuangan penegakkan khilafah dengan memakai dalil-dalil Islam.

Tetapi ketika Nadirsyah Hosen masih memakai memakai dalil-dalil Islam, dan mengklaim demi Islam, maka wajib mendefinisikan adil secara Islam, yaitu adil dengan arti memutuskan perkara dengan hukum Allah Tuhan Yang Maha Adil. Dan adil seperti ini mustahil bisa diterapkan oleh presiden dalam sistem kufur demokrasi.

Wallohu A’lamu Bishshawâb
(bersambung ...)

TIGA DALIL WAJIBNYA MENEGAKKAN KHILAFAH

Biamillaahir Rohmaanir Rohiim

Di sini saya hanya akan menyampaikan tiga dalil syar’i wajibnya menegakkan khilafah, yaitu satu ayat Alqur’an dan dua hadits nabawi, sebagai berikut:

Pertama; Allah swt berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ، فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْئٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". QS An-Nisa [4]: 59.

Pada ayat di atas Allah swt telah menyuruh kaum mukmin agar melaksanakan tiga ketaatan sekaligus; taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah dan taat kepada ulil amri (pemerintah). Perintah taat kepada Allah dan Rasulullah adalah secara mutlak. Sedang perintah taat kepada ulil amri, Allah telah membatasinya dengan kata “minkum”, dan kata “ulil amri” juga diathafkan (disambungkan) kepada kata “ar-rasul”. Dengan demikian, ulil amri yang wajib ditaati adalah ulil amri yang telah memiliki dua kriteria : Pertama, ulil amri yang taat kepada Allah dan Rasulullah, dimana telah ditunjukkan oleh kata “minkum”, yaitu ulil amri dari kalian yang telah taat kepada Allah dan Rasulullah. Kedua, ulil amri yang pemerintahannya mengikuti pemerintahan Rasulullah saw, dimana telah ditunjukkan oleh peng-athaf-an kata “ulil amri” kepada kata “ar-Rasul”. Dengan demikian ulil amri yang memenuhi dua kriteria di atas itu hanya ada pada khalifah dengan pemerintahan khilafahnya. Dan ketika khalifah tidak ada, maka ayat itu menjadi perintah untuk mengadakannya, karena mustahil bagi Allah menyuruh kaum muslim untuk menaati sesuatu yang tidak ada.

Kedua : Rasulullah SAW telah bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى إِخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسَنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ. رواه أحمد وأبو داود والترميذي وابن ماجه عن العرباض بن سارية رضي الله عنه.
"Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah SWT, mendengar dan taat (kepada khalifah atau amir), meskipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya, karena sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih diberi hidup, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh (meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan) kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah segala perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap sesat itu di neraka". HR Imam Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah dari Irbadl bin Sariyah ra.

Pada hadits di atas Nabi SAW telah mewajibkan (mewasiatkan) atas kaum muslim agar mendengar dan taat kepada ulil amri, meskipun yang menjadi ulil amri adalah seorang budak sahaya. Dan beliau SAW telah mengabarkan bahwa dikemudian hari akan terjadi banyak perselisihan, yaitu perselisihan dalam urusan politik, karena konteks hadits ini membicarakan urusan politik. Oleh karena itu, Nabi SAW pada sabda berikutnya telah memerintahkan agar kaum muslim berpegang teguh kepada sunnahnya juga dengan sunnah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, yaitu empat khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Berpegang teguh kepada sunnah Nabi SAW itu secara umum dimana mencakup semua urusan kehidupan beragama. Sedang berpegang teguh kepada sunnah para khalifah yang empat itu secara khusus, yaitu dalam urusan politik, karena empat sahabat tersebut adalah para pemimpin politik, yaitu para khalifah, dalam negara khilafah. Lalu Nabi SAW melarang kaum muslim dari segala bid’ah, yaitu bid’ah yang menyalahi sunnah Nabi SAW secara umum, dan bid’ah yang menyalahi sunnah para khalifah yang empat secara khusus, yaitu bid’ah dalam urusan politik, karena seperti diatas konteks hadits ini adalah konteks politik.

Dengan demikian, sangat jelas bahwa doktrin (ajaran) politik Islam (Ahlussunnah Waljama’ah) adalah doktrin politik khilafah, bukan selain khilafah, karena di samping Nabi SAW telah menyuruh berpegang teguh kepada sunnah para khalifah yang empat, juga telah melarang segala bid’ah yang menyalahi sunnah tersebut.

Ketiga : Rasulullah SAW bersabda:
بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَناً كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ أَحَدُهُمْ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْلٍ. رواه أحمد ومسلم والترميذي عن أبي هريرة رضي الله عنه.
“Bersegeralah kalian beraktifitas untuk mengatasi fitnah-fitnah yang laksana potongan-potongan malam yang gelap gulita, dimana seorang laki-laki mukmin di pagi hari dan kafir di sore hari, mukmin di sore hari dan kafir di pagi hari. Salah seorang dari mereka menjual agamanya dengan materi dunia yang sedikit”. HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.

Nabi SAW telah menyuruh kaum muslim agar beraktifitas untuk mengatasi fitnah-fitnah yang laksana potongan-potongan malam yang gelap gulita. Fitnah yang laksana malam yang gelap gulita adalah fitnah yang menyelimuti semua sendi dan lini kehidupan, baik kehidupan keluarga, masyarakat, maupun kehidupan bernegara. Fitnah dengan kriteria seperti itu saat ini tidak ada yang lain, selain fitnah ideologi. Dan saat ini hanya ideologi kapitalismelah yang sedang menyelimuti dunia dengan kegelapgulitaannya. Karena dari ideologi kapitalisme telah memancar berbagai kebebasan yang menjadi pangkal segala fitnah terhadap umat manusia secara umum, dan terhadap umat Islam secara khusus. Ideologi kapitalisme juga telah memancarkan berbagai ide, pemikiran dan sistem, seperti HAM, demokrasi, pluralisme, singkretisme, dialog antar agama dan doa bersama lintas agama, sampai ide Islam Nusantara.

Saat ini, sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi SAW, dengan mudahnya seorang mukmin menjadi kafir hanya karena diimingi materi dunia yang sedikit. Sebut saja salah satu partai politik yang pada awalnya sangat getol memperjuangkan tegaknya syariat Islam, belum lama ini dengan beraninya dan tanpa malu-malu salah seorang pentolannya menolak syariat dan khilafah, dan diamini oleh yang lainnya. Lalu bagaimana dengan partai politik yang sejak awal sudah anti formalisasi syariat dan khilafah. Belum lagi terkait sejumlah individu dari para tokoh organisasi Islam, mereka dengan mudahnya menjadi corong-corong peradaban Barat yang kapitalis dan menolak formalisasi syariat dan khilafah, padahal organisasinya mengklaim paling Aswaja, lagi-lagi hanya karena diimingi materi dunia yang sedikit.

Oleh karena itu, aktifitas yang diperintahkan oleh Nabi SAW dan yang dibutuhkan saat ini, adalah aktifitas menegakkan ideologi Islam, yaitu menegakkan Khilafah Rasyidah Mahdiyyah yang akan menerapkan Islam secara total, karena ideologi Islam itu laksana siang yang terang benderang, dimana dalam satu riwayat Nabi SAW pernah bersabda: “Taroktukum ‘ala al-baidlaa’ allati lailuhaa kanahaarihaa” (Aku tinggalkan kalian di atas agama yang terang benderang dimana malam harinya seperti siang harinya). Jadi gelapnya ideologi kapitalisme itu harus dilawan dengan terangnya ideologi Islam. Tidak dengan aktifitas yang kecil-kecil yang laksana menyalakan lilin-lilin di malam yang gelap gulita, seperti mendirikan berbagai jam’iyyah istighatsah, amar-makruf dan nahi-munkar, dan organisasi keagamaan yang lain, karena semuanya tidak akan dapat mengalahkan fitnah ideologi kapitalisme yang sedang menyelimuti dunia.

Saya tidak menyalahkan aktifitas berbagai jam’iyyah dan organisasi lilin di atas. Akan tetapi kesalahannya adalah ketika mereka berhenti ditempatnya. Artinya aktifitas itu menjadi puncak tujuannya, sehingga tidak nyambung dengan aktifitas ideologis yang besar. Dan lebih salah lagi ketika mereka justru menolak penerapan ideologi Islam melalui penegakkan khilafah. Jadi mereka lebih senang hidup di malam yang gelap gulita dan enggan bahkan menolak hidup di siang hari yang terang benderang. Itulah letak kesalahannya.

Ringkas kata, sesungguhnya konteks (mafhum) hadis diatas adalah menyuruh kaum muslim agar beraktifitas menerapkan ideologi Islam, yaitu melalui penegakkan kembali daulah khilafah rasyidah mahdiyyah, sebagai doktrin dan institusi politik Ahlussunnah Waljama’ah.
Wallahu A'lam Bishshawâb

Selasa, 02 April 2019

SESAT MENYESATKAN (1)

Inilah Produk Ijtihad Kaum Liberal :

Tidak Ada Istilah Khilafah dalam Al-Qur’an.

Faizin, NU Online | Ahad, 31 Maret 2019 23:55

Oleh Nadirsyah Hosen

Banyak terjadi kerancuan di kalangan umat mengenai penggunaan istilah Khalifah, Khilafah, dan juga Khalifatullah fil Ardh. Perlu saya tegaskan bahwa:

1. Tidak ada istilah Khilafah dalam al-Qur’an
2. Tidak ada istilah Khalifatullah fil Ardh dalam al-Qur’an
3. Hanya dua kali al-Qur’an menggunakan istilah Khalifah, yang ditujukan untuk Nabi Adam dan Nabi Dawud.

Mari kita simak bahasan berikut ini:

Penggunaan terminologi atau istilah Khalifah itu hanya digunakan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, dalam QS 2:30: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi".
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Komentar Saya (Abulwafa Romli) :

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Bikin judulnya saja salah, "Tidak ada Istilah Khilafah dalam al-Qur’an". Orang tergolong awam saja bisa membantahnya dengan mudah, "tidak ada istilah shalat, puasa, zakat, bahkan rukun iman dan rukun islam dalam al-Qur’an". Karena didalam Alqur'an hanya ada dalil-dalilnya saja.

Begitulah karakter kaum munafiqun, salah ngaku benar dan menyalahkan yang benar, berbuat rusak ngaku berbuat baik dan merusakkan yang baik, dengan PD dan sombongnya.

Betul, di dalam Alqur'an itu tidak ada istilah (terminologi) khilafah. Karena yang ada adalah dalil khilafah, dalil kewajiban mengangkat khalifah, dan sebagai dalil kewajiban menegakkan khilafah.

Dia sama sekali tidak memahami perbedaan antara istilah (terminologi) khilafah dan dalil khilafah. Istilah itu sudah mateng, sedang dalil itu masih mentah dan harus dimasak dengan ilmu ushul fikih.

Dalil itu punya dalalah dan madlul, punya mafhum dan manthuq dan seterusnya. Orang awam pasti tidak paham dengan berbagai istilah ushul ini.

Agar orang awam paham, perlu dicontohkan seperti ini :

Getuk dan kripik dari telo (ketela/ singkong. Keduanya contoh dari istilah sesuatu yang sudah matang seperti khilafah. Dan keduanya butuh bahan baku mentah serta bahan tambahan. Nah bahan baku dan tambahan ini adalah contoh dari dalil, yaitu Alqur'an, Assunnah, Alijmak dan Alqiyas. Ketika masih mentah namanya telo serta tambahannya. Dan ketika sudah matang namanya getuk dan kripik. Jadi jelas beda nama mentah dan matangnya.

Demikian juga dengan istilah khilafah berbeda dengan dalil khilafah, dalil wajibnya mengangkat khalifah, dan dalil wajibnya menegakkan khilafah. Seperti perbedaan antara getuk dan kripik dengan telo. Getuk dan kripik itu berasal dari telo, tapi telo tidak berasal dari getuk dan kripik. Tapi antara keduanya saling terikat tidak bisa dipisahkan. Kewajiban menegakkan khilafah atau mengangkat khalifah itu berasal dari dalil. Tapi dalil tidak berasal dari kewajiban tersebut.

Jadi kewajiban menegakkan khilafah dan mengangkat khalifah, serta istilah khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam, itu harus digali dari dalil pokok yaitu Alqur'an, dalil yang ditunjukkan Alqur'an yaitu Assunnah, dan dua dalil yang ditunjukkan Alqur'an dan Assunnah yaitu Ijmak sahabat dan Qiyas syar’iy. Begitu juga dapat dipahami dari praktek para khalifah rôsyidîn sepanjang jaman dari kitab-kitab sîroh dan târikh para khalifah.

Wallohu A’lamu Bishshawâb

#RasulullahPemimpinKami
#RinduPemimpinJujurDanAdil
#RinduPemimpinCintaIslam