Rabu, 20 Februari 2019

HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (1)

Bismillâhir Rohmânir Rohîm

Di antara tuduhan miring yang dialamatkan kepada HTI (HT), adalah tuduhan yang dilemparkan oleh kelompok Salafiyyah Wahhabiyyah yang berkolaborasi dengan kelompok Aswaja Sekular, bahwa HTI itu Muktazilah Jadîdah/ Qodariyyah (nama lain dari Muktazilah). Karena menurut mereka, HTI itu menolak/ mengingkari qodar, dan rukun Imannya hanya ada lima.

Bahkan Kiai Idrus Ramli yang diklaim sebagai Singa Aswaja terus mengulang-ulang di berbagai forum dan berbagai tempat, dari dunia nyata sampai dunia maya, bahwa HTI itu Muktazilah.

Diantaranya, Kiai IR dengan beraninya menebar kebohongan : "Dalam beberapa bagian karyanya as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (seperti hal. 43, 71 dan 91), secara vulgar an-Nabhani mengadopsi ideologi Mu'tazilah yang tidak mempercayai qadha' dan qadar Allah swt. Rukun iman yang seharusnya ada enam, direduksinya (dikurangi) menjadi lima. Apabila ideologi komunis tidak mempercayai adanya Tuhan apalagi qadha dan qadar Tuhan, maka HTI mempercayai Tuhan tetapi tidak mempercayai qadha dan qadar yang menjadi salah satu sifat kesempurnaan Tuhan". (Majalah Ijtihad, PP Sidogiri, edisi 28, hal. 7).

Pernyataan diatas adalah kebohongan yang sangat nyata dari seseorang yang diklaim sebagai tokoh Aswaja. Karena pada kitab Asy-Syakhshiyyah juz 1 hal. 43, sebagaimana dirunjukkan oleh IR diatas, redaksi lengkapnya sebagai berikut :
هذه هي الأمور التي يجب الإيمان بها وهي خمسة أمور : الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن أيضا بالقضاء والقدر ولا يطلق الإيمان بالإسلام على الشخص ولا يعتبر مسلما إلا إذا آمن بهذه الخمسة جميعها وآمن بالقضاء والقدر...
"Inilah sejumlah perkara yang wajib diimani, yaitu lima perkara: Iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, dan Hari Akhir. Dan kamu juga (wajib) beriman kepada Qodho' dan Qodar. Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Islam, dan tidak dianggap Muslim, kecuali ia beriman kepada lima perkara tersebut, semuanya, dan beriman kepada Qodho dan Qodar ...".

Sebagaimana redaksi hadits Jibril yang populer berikut:
"... قال فأخبرني عن الإيمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره...
"... Jibril berkata: "Terangkan kepadaku tentang Iman". Nabi SAW bersabda : " Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, dan Hari Akhir, dan Engkau beriman kepada Qodar baik dan buruknya dari Allah ”. HR Muslim dari Umar ra.

Pada hadits diatas, Nabi SAW menyuruh beriman (lafadz an tu'mina pertama) kepada lima perkara, lalu ditambah beriman (lafadz an tu'mina kedua) kepada satu perkara, yaitu Qodar baik dan buruknya ... Jadi 5+1=6 . Coba dimana letak kesalahan dan ke-Muktazilah-annya?!

Pada bagian lain juga Annabhani menegaskan, bahwa rukun Iman itu ada enam:
العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقضاء والقدر خيرهما وشرهما من الله تعالى.
"Akidah Islam ialah beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, Hari Akhir, dan Qodho dan Qodar baik dan buruknya dari Allah ta'ala". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal. 29). Dan di beberapa tempat lainnya.

Jadi jelas sekali, bahwa IR hanya memenggal redaksi yang utuh, hanya lima yang diambil, sedang tambahan satunya ditinggalkan. Inilah kecurangan ilmiah dan pengkhianatan akademik.

Jangankan redaksi kitab Asysyakhshiyyah produk manusia, kitab suci Alqur'an atau Hadits Nabawi pun, ketika redaksinya dipenggal, ya dapat sesat dan menyesatkan. Sebagaimana memenggal ayat,
فويل للمصلين
"Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat", dgn membuang kalimat ayat setelahnya. Memang faktanya seperti itu. IR itu sangat lihai dalam hal berbohong dan memitnah HTI. Dia layak dijuluki Syaikhul Kadzdzâb wal Fattân.

Padahal fakta sesungguhnya hanyalah perbedaan dlm mendefinisikan Qodho dan Qadar, bukan mengingkarinya sebagaimana kelompok Muktazilah Qodariyyah. Jadi beda jalan itu yang diingkari oleh orang-orang seperti IR. Sebagaimana ketika kita fokus pada satu tujuan, Gelora Bung Karno misalnya, setiap orang atau kelompok boleh memakai jalan yang dikehendakinya asalkan benar dan satu tujuan. Boleh pakai pesawat, kereta, mobil, sepeda, bahkan jalan kaki. Juga boleh lewat jalur selatan atau utara. Tetapi pada akhirnya kita berkumpul di satu titik, yaitu GBK.

Lagi pula, tidak ada batasan khusus definisi Qodho dan Qodar yang datang dari Asysyâri, baik di dalam Alqur’an maupun Assunnah. Justru Syaikh Taqiyyuddin Annabhani didalam Asysyakhshiyyahnya membuat terobosan baru untuk memperjelas problem Qodho dan Qodar. Di sana beliau membaginya dalam tiga bab, Qodho dari Islam, Qodar dari Islam, dan Qodho-Qodar dari Yunani tapi faktanya dibenarkan oleh Islam.

Orang-orang yang mengkritik hingga menyesatkan Syaikh Taqiyyuddin, mereka keliru dan salah paham dlm memahami problem tersebut. Ketika Syaikh Taqiyyuddin sdg berbicara Qodho-Qodar dari Yunani, mereka dlm mengkritiknya malah berbicara Qodho dan Qodar dari Islam, atau sebaliknya, lalu menyalahkan dan menyesatkan Syaikh Taqiyyuddin. Jadi sama sekali gak nyambung.

(bersambung ... ... ...)

0 komentar:

Posting Komentar