Senin, 25 Februari 2019

HAKEKAT FIRQAH MU'TAZILAH (2)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kalau dalam perihal hutang menghutang ada ungkapan, "Gali lubang tutup lubang", tapi dalam hal dusta mendusta bisa dibuatkan ungkapan, "Buat Dusta Tutup Dusta" atau "Buat Bohong Tutup Bohong". Ya itulah ungkapan yang sangat tepat ditujukan kepada raja dusta, ratu bohong, alias pendusta dan pembohong, alkadzdzáb atau almuftariy dalam bahasa Arabnya.

Kiai Idrus Ramli (selanjutnya disebut IR), untuk menutup dusta dan bohongnya terhadap Syaikh Taqiyyuddin/ HTI, yaitu terkait rukun iman HTI ada lima / HTI mengingkari Qodar, ia terus memproduksi dusta dan bohong untuk menutup dusta dan bohong yang terdahulu dibuat, yang diantaranya dengan perkataannya :

"Menurut HTI, seprti dijelaskan oleh pendirinya, Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani, perbuatan manusia yang disengaja (al-af'âl al-ikhtiyâriyyah), tidak ada hubungannya dengan ketentuan Allah, dan ketentuan Allah juga tidak ada hubungannya dengannya. Pernyataan ini jelas sekali berbeda dengan keyakinan mayoritas ummat Islam, yaitu Ahlussunnah Waljama’ah, bahwa semua perbuatan manusia yang disengaja dan yang tidak disengaja, adalah ciptaan dan ketentuan Allah. Dalam hal ini, Hizbut Tahrir mengikuti manhaj Muktazilah, Syiah Imamiyyah dan Zaidiyyah ... ... ...

Misalnya kita bertanya kepada HTI, benarkah perbuatan manusia yang disengaja atau yang dikuasai adalah ciptaan dan ketentuan manusia, bukan ciptaan dan ketentuan Tuhan? Ia akan menjawab, benar". (Halaman fb MUHAMMAD IDRUS RAMLI, AKIDAH ASWAJA DAN HTI, SAMAKAH?, 03 Nov 18 pukul 18:59).

Pada dusta dan bohongnya yang kali ini, IR tidak merujukkan sumber dari kitab apa pernyataan Syaikh Taqiyyuddin dikutip. Tetapi dari indikasi sebelumnya IR sangat jago dan lihai dalam mengambil sepenggal dan membuang sepenggal. Lalu penggalan yang diambilnya digoreng. Maka kali ini juga tidak menutup kemungkinan IR melakukan hal yang serupa.

Sekarang peehatikan pernyataan Syaikh Taqiyyuddin yang utuh yang bisa dipenggal dan diambil lalu disimpulkan sesukanya oleh IR :
وللمعتزلة رأي يتلخص في أن الإنسان هو الذي يخلق أفعاله بنفسه فهو يحاسب عليها لأنه هو الذي أوجدها.
"Dan Mu'tazilah punya pendapat yang intinya, bahwa manusia sendiri lah yang menciptakan amal perbuatannya, maka manusia akan dihisab atas amal perbuatannya, karena dialah yang telah mengadakannya".
(Taqiyyuddîn Annabhani, Nizhâmul Islâm, hal. 15, cet. 6, 2001).

Pada pernyataan tersebut, Syaikh Taqiyyuddin sdg menjelaskan pendapat Mu'tazilah, tapi setelah dipenggal menjadi, "manusia sendiri lah yang menciptakan amal perbuatannya, maka manusia akan dihisab atas amal perbuatannya, karena dialah yang telah mengadakannya", lalu penggalan ini bisa saja dinisbatkan kepada Syaikh Taqiyyuddin, dan dijadikan sebagai pendapatnya. Mudah sekali.

Juga perhatikan sejumlah pernyataan Muktazilah yang sedang dijelaskan oleh Syaikh Taqiyyuddin di bagian kitab yang lain dan sangat mungkin dipenggal dan digoreng oleh IR lalu hasil gorengannya dinisbatkan kepada Syaikh Taqiyyuddin :
فقد قال المعترلة أن أفعال العباد مخلوقة لهم ومن عملهم هم لا من عمل الله... فالحركة الإختيارية مقدورة للإنسان فهو الذي يخلقها... لو لم يكن الإنسان خالق أفعاله لبطل التكليف... وهو الذي يخلق أفعال نفسه... وفحوى رأيهم أن العبد حر الإرادة في أفعاله كلها، وأنه هو الذي يخلق أفعاله ويخلق الخواص التي تحدث في الأشياء من أفعاله.
"Mu'tazilah benar-benar berkata, bhw perbuatan hamba itu diciptakan oleh hamba dan dari amal hamba, bukan dari amal Allah ... gerakan ikhtiar itu dikuasakan kpd manusia, mk manusialah yg menciptakannya ... seandainya manusia tidak menciptakan perbuatannya, mk batalah taklif ... manusialah yg menciptakan perbuatannya sendiri ... inti pendapat Mu'tazilah ialah, bhw hamba itu bebas berkehendak pada semua perbuatannya, dan hambalah yg menciptakan perbuatannya, dan menciptakan khasiat yg terjadi pada segala sesuatu dari perbuatannya".
(Asysyakhshiyyah, hal. 68, 69, 70, cet. 6, 2003). Dan di bagian kitab yang lainnya.

Pendapat Syaikh Taqiyyuddin Terkait Perbuatan Manusia, Apakah Diciptakan Oleh Manusia Sendiri, Atau Diciptakan Oleh Allah SWT ?

Untuk membantu pemahaman atas pertanyaan, terlebih dahulu saya kemukakan ringkasan pendapat (ro'yu) Syaikh Taqiyyuddin terkait Qodho' dan Qodar :

1- Qodho' yang datang dari Yunani :
فهذه الأفعال كلها التي حصلت في الدائرة التي تسيطر على الإنسان هي التي تسمى قضاء، لأن الله وحده هو الذي قضاه / قضى الفعل.
"Semua perbuatan yang terjadi pada lingkaran yang menguasai manusia, itulah yang dinamakan Qodho'. Karena hanya Allah yang telah mengqodho'nya/ menentukan perbuatan". (Nizhâmul Islâm, hal.17, cet.6, 2001; Asysyakhshiyyah, hal.94, cet.6, 2003).

2- Qodar yang datang dari Yunani :
فهذه الخاصيات المعينة التي أوجدها الله سبحانه وتعالى في الأشياء وفي الغرائز والحاجات العضوية التي في الإنسان هي التي تسمى القدر، لأن الله وحده هو الذي خلق الأشياء والغرائز والحاجات العضوية، وقدر فيها خواصها
"Khasiat tertentu yang telah diadakan oleh Alloh pada segala sesuatu, pada naluri dan kebutuhan jasmani yang ada pada diri manusia, itulah yang dinamakan Qodar. Karena hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, naluri dan kebutuhan jasmani, dan Allah telah mengqadar (menentukan) khasiat padanya". (Nizhâmul Islâm, hal.18, cet.6, 2001; Asysyakhshiyyah, hal.96, cet.6, 2003).

3- Qodho' yang datang dari Islam. Setelah mengemukakan 11 (sebelas) ayat Alqur'an terkait Qodho', Syaikh Taqiyyuddin dlm bab Qodho' berkata:
وعلى هذا فإن كلمة قضاء من الألفاظ المشتركة التي لها عدة معان منها : صنع الشيء بإحكام، وأمضى الأمر وجعل الشيء، وأمر بأمر وأتم الأمر، وحتم وجود الأمر وأبرم الأمر، وانتهى الأمر وحكم الأمر، وأمر أمرا مقطوعا به. ... ...
"Atas dasar ini, kata Qodho' termasuk kata bersama yang memiliki banyak arti, diantaranya; (dia) memproduksi sesuatu dengan menguatkan, (dia) melaksanakan perkara dan menjadikan sesuatu, (dia) memerintah dengan perkara dan menyempurnakan perkara, (dia) mengharuskan adanya perkara dan menetapkan perkara, perkara telah berakhir dan perkara telah tetap, (dia) memerintah dengan perintah yg pasti ...". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal. 85, cet. 6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

4- Qodar yang datang dari Islam.
Setelah mengemukakan sejumlah ayat Alqur'an dan hadits nabawi, Syaikh Taqiyyuddin, dlm bab Qodar, berkata :
ويتبين من هذا كله أن كلمة قدر من الألفاظ المشتركة التي لها عدة معان منها التقدير والعلم والتدبير والوقت والتهيئة، وجعل في الشيء خاصية...
"Dari ini semua menjadi jelas, bhw kata Qodar termasuk kata bersama yg memiliki banyak arti, diantaranya; ketentuan, ilmu, pengaturan, waktu, penyiapan, menjadikan khasiat pada sesuatu ...".
وعلى هذا فلكلمة القدر معان لغوية استعملها القرآن بهذه المعاني واستعملها الحديث بمعاني القرآن...
"Atas dasar ini, kata Qodar memiliki sejumlah arti bahasa dimana Alqur’an tlh memakainnya (Qodar) dgn arti-arti tersebut, dan hadits tlh memakainya dgn arti-arti yg dipakai oleh Alqur’an ...". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal.82, cet.6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

Pada empat poin diatas, sama sekali tdk ada pernyataan Syaikh Taqiyyuddin, bahwa perbuatan Ikhtiar manusia itu diciptakan oleh manusia sendiri, bukan diciptakan oleh Allah. Justru pada poin kedua menunjukkan bahwa semua yang terkait Qodar itu ciptaan Allah SWT.

Lalu Apa Pendapat Syaikh Taqiyyuddin Tekait Perbuatan Ikhtiar Manusia, Apakah Diciptakan Oleh Manusia atau Diciptakan Oleh Allah?

Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani tidak pernah berpendapat bahwa perbuatan Ikhtiar manusia itu diciptakan oleh manusia sendiri. Tetapi terdapat banyak bukti dari sejumlah perkataan Syaikh Taqiyyuddin, bahwa semua perbuatan manusia, baik yang terpaksa maupun yang dengan ikhtiarnya, semuanya diciptakan oleh Allah SWT, seperti diatas tadi. Sdg manusia hanya bisa berusaha (kasaba) dan bekerja (qôma/ qiyám) sesuai ikhtiar (pilihan)nya sendiri :

Bukti Pertama:
ولأن الله حين خلق الإنسان وخلق الخاصيات في الأشياء والغرائز والحاحات العضوية، وخلق للإنسان العقل المميز، أعطاه الإختيار بأن يقوم بالفعل أو يتركه ولم يلزمه بالفعل أو الترك...
"Sesungguhnya Allah ketika menciptakan manusia, menciptakan segala khasiat pada segala sesuatu, naluri dan kebutuhan jasmani, dan menciptakan akal yang cerdas bagi manusia, maka Allah memberi ikhtiar (pilihan) kepada manusia, untuk mengerjakan perbuatan atau meninggalkan perbuatan, dan tidak memaksa manusia dengan perbuatan atau meninggalkan perbuatan...". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal.96, cet.6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

Pada pernyataan diatas ada tiga term "menciptakan"; 1) menciptakan manusia, 2) menciptakan khasiat, 3) dan menciptakan akal cerdas. Dan diakhiri dengan term "memberikan pilihan" kepada manusia.

1) Menciptakan manusia itu berarti menciptakan semua organ tubuhnya karena termasuk segala sesuatu, seperti kaki, tangan, mata, telinga dan lisan.

2) Menciptakan khasiat itu berarti menciptakan semua perbuatan Ikhtiar manusia melalui pungsi dari organ tubuh masing-masing, seperti berjalan dgn kaki, memegang dgn tangan, mendengar dgn telinga, melihat dgn mata, dan berkata dgn lisan.

3) Menciptakan akal itu berarti menciptakan pengemudi bagi perbuatan manusia melalui organ tubuhnya masing-masing.

4) Memberikan ikhtiar kepada manusia itu berarti, bahwa manusia hanya bisa memilih antara berbuat atau tidak berbuat, antara berusaha atau tidak berusaha. Sdg semua perbuatan yang telah dipilih dan dikerjakannya, semuanya ciptaan Allah, bukan ciptaan manusia.

Bukti Kedua:
بل المسألة هي قيام العبد نفسه بفعله مختارا وعلى ذلك كان مسؤولا عما كسبه : كل نفس بما كسبت رهينة.
"Tetapi problemnya ialah seorang hamba mengerjakan sendiri perbuatannya dengan ikhtiarnya. Atas dasar itu, ia bertanggungjawab dari apa saja yang telah dikerjakannya: "Kullu nafsin bimâ kasabat rohînatun/ Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah dikerjakannya" [QS Almudassir, 74/38]).
(Taqiyyuddin Annabhani, Nizhâmul Islâm, hal. 21, cet. 6, 2001; Asysyakhshiyyah, hal. 97, cet. 6, 2003).

Pada pernyataan diatas, seorang hamba hanya bisa bekerja dan berbuat dgn ikhtiarnya, tidak dengan ciptaannya dan tidak dengan paksaan. Karena pernyataan diatas itu dikemukakan oleh Syaikh Taqiyyuddin terkait perbuatan ikhtiar manusia. Ini kan sama dengan teori "kasbu" bagi kelompok Ahlussunnah Asy'ariyyah.

Bukti Ketiga :
Syaikh Taqiyyuddin, di dalam bab Alhadyu Waddholâl dari kitab Asysyakhshiyyahnya, setelah mengemukakan dua ayat Alqur'an berikut:
قل الله يهدي للحق
Qulillâhu yahdî lilhaqqi
"Katakanlah : "Allah-lah yang menunjukan kepada kebenaran" (QS Yunus [10]: 35).
فمن اهتدى فإنما يهتدي لنفسه
Famanihtadâ fainnamâ yahtadî linafsihî
"Sebab itu, barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri". (QS Yunus [10]: 108).
فالأولى تدل على أن الله هو الذي هدى، والثانية تدل على أن الإنسان هو الذي اهتدى. وهداية الله في الآية الأولى هي خلق للهداية في نفس الإسان، أي إيجاد قابلية الهداية. والآية الثانية تدل على أن الإنسان هو الذي باشر ما خلقه الله من قابلية الهداية فاهتدى.
"Ayat pertama menunjukkan, bahwa Allah, Dia-lah yang menunjukan. Dan ayat kedua menunjukkan, bahwa manusia, dialah yang mendapat petunjuk. Hidayah Allah pada ayat pertama, ialah menciptakan hidayah pada diri manusia, yakni Allah mengadakan potensi menerima hidayah. Dan ayat kedua menunjukkan, bahwa manusia, dialah yang mengerjakan potensi menerima hidayah yang telah diciptakan oleh Allah, lalu dia mendapat petunjuk".
ولذلك يقول في آية أخرى: وهديناه النجدين. أي طريق الخير وطريق الشر، أي جعلنا فيه قابلية الهداية وتركنا له أن يباشر الإهتداء بنفسه.
"Oleh karena itu, pada ayat lain, Allah berfirman: "Dan Kami telah menunjukkan kepada-nya dua jalan" (QS Albalad [90]: 10). Yakni jalan kebaikan dan jalan keburukan. Yakni Kami jadikan pada diri manusia potensi menerima hidayah, dan Kami biarkan manusia agar mengerjakan sendiri penerimaan hidayah". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal.100-101, cet.6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

Pada bukti ketiga, jelas sekali, bahwa manusia hanya bisa mengusahakan dan mengerjakan perbuatannya, tanpa bisa menciptakannya ... ...

(bersambung ...).

0 komentar:

Posting Komentar