Senin, 25 Februari 2019

HAKEKAT FIRQAH MU'TAZILAH (2)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kalau dalam perihal hutang menghutang ada ungkapan, "Gali lubang tutup lubang", tapi dalam hal dusta mendusta bisa dibuatkan ungkapan, "Buat Dusta Tutup Dusta" atau "Buat Bohong Tutup Bohong". Ya itulah ungkapan yang sangat tepat ditujukan kepada raja dusta, ratu bohong, alias pendusta dan pembohong, alkadzdzáb atau almuftariy dalam bahasa Arabnya.

Kiai Idrus Ramli (selanjutnya disebut IR), untuk menutup dusta dan bohongnya terhadap Syaikh Taqiyyuddin/ HTI, yaitu terkait rukun iman HTI ada lima / HTI mengingkari Qodar, ia terus memproduksi dusta dan bohong untuk menutup dusta dan bohong yang terdahulu dibuat, yang diantaranya dengan perkataannya :

Minggu, 24 Februari 2019

JANGAN MEMUSUHI KHILAFAH DAN PARA PEJUANGNYA

Berhati-Hatilah Wahai Musuh Islam dan Ulama !

Anda bisa saja memusuhi HTI. Anda bisa saja memusuhi para aktivis HTI. Anda bisa saja memusuhi orang-orang yang berapiliasi kepada HTI. Anda bisa saja memusuhi ummat yang berjuang menegakkan khilafah bersama HTI.

Akan tetapi, berhati-hatilah, jika Anda sampai memusuhi wali Allah, maka Anda berhadapan langsung dengan Allah, dan Allah benar-benar akan memerangi siapa saja orang yang memusuhi wali-Nya.

Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman :
من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب
Man 'âdâ liy waliyyan fa qod âdzantuhû bil harbi
"Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya". (Hadits Arba'în Nawawi).

Karena di antara barisan para pengemban dakwah kepada syariah dan khilafah adalah wali-wali Allah dari golongan Ulul Albâb yang ketika berdoa maka diijabah oleh Allah.

Berhati-hatilah, jika Anda sampai memusuhi khilafah yang didakwahkan oleh HTI, maka Anda berhadapan langsung dengan Allah, karena khilafah adalah proyek Allâh untuk menerapkan syariah-Nya, karena khilafah adalah ajaran agama-Nya, karena syariah-Nya tidak bisa sempurna tanpa khilafah.

Karena, andaikan Islam itu 100 dan khilafah adalah 1 dari 100, maka Islam tidak bisa sempurna tanpa khilafah, sebagaimana 100 tidak bisa sempurna tanpa 1. Lalu bagaimana ketika 1 berada di depan 100, maka ketika 1 dibuang, yang tersisa hanyalah 00.

Berhati-hatilah, Anda bisa saja setuju dengan khilafah, Anda membenarkan bahwa khilafah ajaran Islam. Sedang Anda memalsukan khilafah. Anda berkata; "khilafah itu bukan sistem pemerintahan, khilafah itu ciptaan ulama, khilafah itu kepemimpinan dalam sistem apa saja, sehingga khalifah itu pemimpin dalam sistem pemerintahan apa saja, bahkan presiden seperti Jokowi juga bisa disebut khalifah, malah presiden Amrik juga khalifah ...".

Dengan perkataan tersebut, Anda telah memalsukan khilafah dan khalifah. Anda telah berani memalsukan ajaran Islam. Coba kembalikan pemalsuan itu kepada diri Anda. Bagaiman kalau ada seseorang yang memalsukan jati diri Anda,  bahwa Anda preman jalanan, padahal Anda dosen; bahwa Anda tidak tamat SD, padahal Anda profesor; bahwa Anda lelaki mandul, padahal anak Anda sepuluh; bahwa Anda pengemis jalanan, padahal Anda hartawan, dst. Tentu hati Anda tersakiti. Padahal pemalsuan itu hanya terkait pribadi Anda. Lalu bagaimana dengan pemalsuan terkait agama Islam, terkait sistem yang menentukan baik buruknya umat manusia? Bagaimana Anda memalsukan sistem yang berfungsi untuk menerapkan syariah-Nya dengan sistem yang berfungsi untuk membuang syariah-Nya ?!

Dan dengan pemalsuan itu, Anda telah mengambil peran sebagai Thaghut musuh Allah yang berhadapan langsung dengan Allah. Dengan khilafah yang asli, Allah mengeluarkan manusia wali-wal-Nya dari kegelapan zhulumât jahiliah kepada cahaya Islam. Sedang Anda yang berperan Thaghut dengan khilafah palsu mengeluarkan manusia wali-wali Anda dari cahaya Islam menuju kegelapan zhulumât jahiliah.

Abad khilafah telah datang menumbangkan setiap penghalang di depannya dari sisa-sisa Mulkan Jabriyyah. Maka tentukan diri Anda, berada dibarisan pengemban dakwahnya yang pasti dimuliakan oleh Allah, atau dibarisan para penghalangnya yang pasti dihinakan oleh Allah. Dengan khilafah, Allah memuliakan Islam dan ahlinya, serta menghinakan kufur dan ahlinya.

#HaramPilihPemimpinDzalim
#HaramPilihPemimpinAntiIslam
#HaramPilihPemimpinIngkarJanji
#HaramPilihPemimpinAntekAsingAseng

#HTILanjutkanPerjuangan
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah

Rabu, 20 Februari 2019

HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (1)

Bismillâhir Rohmânir Rohîm

Di antara tuduhan miring yang dialamatkan kepada HTI (HT), adalah tuduhan yang dilemparkan oleh kelompok Salafiyyah Wahhabiyyah yang berkolaborasi dengan kelompok Aswaja Sekular, bahwa HTI itu Muktazilah Jadîdah/ Qodariyyah (nama lain dari Muktazilah). Karena menurut mereka, HTI itu menolak/ mengingkari qodar, dan rukun Imannya hanya ada lima.

Bahkan Kiai Idrus Ramli yang diklaim sebagai Singa Aswaja terus mengulang-ulang di berbagai forum dan berbagai tempat, dari dunia nyata sampai dunia maya, bahwa HTI itu Muktazilah.

Rabu, 13 Februari 2019

HAKEKAT KHAWARIJ

Biamillaahir Rohmaanir Rohiim

KELOMPOK SALAFI-WAHABI KONTRA PENEGAKKAN KHILAFAH ROSYIDAH SELALU MENUDUH HIZBUT TAHRIR KHAWARIJ

Kelompok Salafi-Wahabi kontra (bukan yang pro) dakwah menuju penegakkan khilafah rosyidah terus menuduh bahwa Hizbut Tahrir adalah Khawarij (dan seambrek tuduhan yg lainnya). Anehnya tuduhan ini di-aamiini oleh kelompok yang selama ini paling berseberangan dgn kelompok Salafi-Wahabi dari kaum Aswaja-sekular. Rupanya semboyan tentara ada benarnya, bahwa musuhnya musuh adalah teman, dan temannya musuh adalah musuh.

Tuduhan tersebut salah alamat karena :

1- Termasuk doktrin Khawarij adalah bahwa hamba menjadi kafir hanya karena berbuat dosa besar, suka mengkafirkan (dengan pengkafiran secara khusus seperti mengkafirkan Ali, Thalhah, Zubair dan Aisyah) dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah secara syar'iy.

2- Hizbut Tahrir tidak pernah berpendapat bahwa hamba menjadi kafir hanya karena melakukan dosa besar, tidak pernah mengkafirkan sahabat Nabi saw atau mengkafirkan orang muslim secara khusus tanpa burhan/bukti yang nyata bahwa ia telah kafir, dan Hizbut Tahrir tidak pernah memberontak terhadap pemerintahan yang sah secara syar'iy, bahkan terhadap pemerintahan yang tidak sah secara syar'iy sekalipun.

3- Hizbut Tahrir di manapun hanya melakukan aktifitas dakwah (mengajak) kepada penegakkan khilafah rosyidah, bukan memberontak terhadap pemerintahan yang sah. Sekarang tanyakan saja kepada pemerintah, kepada TNI dan kepada POLRI, apakah Hizbut Tahrir telah memberontak atau menjadi bughat? Sedang perlawanan terhadap pemerintah syi'ah yang terjadi di Suriyah/Syam itu bukan oleh Hizbut Tahrir dan tidak mengatas namakan Hizbut Tahrir, tetapi oleh rakyat yang sebagiannya telah menerima dan mendukung dakwah menegakkan khilafah rosyidah di sana.

4- Apalagi stigma bahwa Hizbut Tahrir adalah khawarij karena memberontak terhadap pemerintahan yang sah secara syar'iy itu telah batal dengan sendirinya, karena di samping tidak ada bukti Hizbut Tahrir memberontak, juga pemerintahan demokrasi-sekular dll yang ada saat ini tidak layak disebut sebagai pemerintahan yang sah secara syar'i, tetapi hanya sah secara demokrasi sebagai sistem kufur.

5- Memberontak kepada pemerintahan yang sah secara syar'i, hakekatnya adalah memberontak dengan arti menolak dan mengingkari terhadap hukum syara' (hukum-hukum Alloh) untuk diterapkan dalam kehidupan, masyarakat dan negara. Karena pemerintahan itu bisa dianggap sah secara syar'i ketika telah menerapkan hukum-hukum syara' dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya, artinya pemerintahan tersebut telah ber-islam kaaffah.

6- Fakta serta realitanya membuktikan, bahwa pemerintahan kita saat ini tidak menerapkan hukum-hukum syara' dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya, artinya tidak ber-Islam kaaffah. Tidak berhenti sampai di situ, tetapi pemerintahan kita justru menerapkan hukum-hukum kufur yang sebagian besarnya adalah warisan kolonial Belanda. Fakta hukum-hukum fikih di berbagai kitab-kitab fikih muktabaroh bagi NU dan MD, dll. menegaskan bahwa menolak dan mengingkari satu hukum syara' yang mujmak 'alaih seperti hukum potong tangan pencuri, rajam atau jilid bagi pezina, dll, adalah dapat menyebabkan seorang muslim menjadi murtad. Sedang pemerintahan kita saat ini diatur oleh orang-orang muslim yang menolak dan mengingkari hukum-hukum tersebut.

Dengan sejumlah alasan di atas, kita dapat mengetahui, bahwa yang layak dicap sebagai khowarij adalah mereka yang selama ini menolak dan mengingkari kewajiban menerapkan hukum-hukum Alloh melalui penegakkan khilafah rosyidah. Karena kesatuan/akumulasi dari syariah dan khilafah inilah yang dinamakan Islam kaaffah, isinya Islam dan wadahnya Islam. Jadi tidak ada Islam kaaffah tanpa khilafah. Begitu pula dengan bughat, maka hakekatnya adalah memberotak terhadap hukum-hukum Alloh swt.

HAKEKAT KHAWARIJ

Ternyata yang layak dijuluki kelompok Khawarij dan Bughat, adalah kelompok yang menolak, mengingkari, memitnah dan mempersekusi para pengemban dakwah kepada penegakkan Islam Kâffah melalui penegakkan daulah khilafah rosyidah mahdiyyah. Karena hakekat Khawarij dan Bughat adalah menolak dan memberontak terhadap pemerintahan Islam (khilafah) yang menerapkan syariah Islam secara total.

Dengan demikian, memberontak kepada pemerintah yang tidak sah secara syar'iy, atau kepada pemerintahan yang menerapkan selain sistem Islam, atau kepada pemerintahan yang tidak menerapkan hukum-hukum Alloh, atau kepada pemerintahan yang menerapkan hukum-hukum kufur dan syirik, seperti menerapkan sistem demokrasi dan komunis, maka memberontak terhadap pemerintahan tersebut untuk menjadikan / menggabungkannya kepada daulah khilafah tidak bisa dinamai khawarij atau bughat. Karena kondisi tersebut akan dilakukan oleh Imam Mahdi, dan Imam Mahdi itu bukan bagian dari kelompok Khawatir atau Bughat.

Perhatikan haadits terkait Imam Mahdi yang akan memerangi Kalian :
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻳﻘﺘﺘﻞ ﻋﻨﺪ ﻛﻨﺰﻛﻢ ﺛﻼﺛﺔ ﻛﻠﻬﻢ ﺍﺑﻦ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺛﻢ ﻻ ﻳﺼﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺛﻢ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺮﺍﻳﺎﺕ ﺍﻟﺴﻮﺩ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻓﻴﻘﺘﺘﻠﻮﻧﻜﻢ ﻗﺘﻼ ﻟﻢ ﻳﻘﺘﻠﻪ ﻗﻮﻡ ." ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺷﻴﺌﺎ ﻻ ﺃﺣﻔﻈﻪ ﻓﻘﺎﻝ : " ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻩ ﻓﺒﺎﻳﻌﻮﻩ ﻭﻟﻮ ﺣﺒﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻠﺞ ﻓﺈﻧﻪ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻬﺪﻱ ." ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻋﻦ ﺛﻮﺑﺎﻥ ﻭ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ، ﻭ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﺑﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﻋﻦ ﺧﺎﻟﺪ ﺍﻟﺤﺬﺍﺀ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﻼﺑﺔ .
Rasulullah SAW bersabda: “Akan berperang di samping simpanan harta kalian tiga orang di mana semuanya adalah anak khalifah, kemudian harta itu tidak dimiliki oleh salah seorang dari mereka. Kemudian muncul panji-panji hitam dari Timur, lalu mereka memerangi kalian dengan perang yang tidak pernah dilakukan oleh suatu kaum”. Kemudian Nabi menuturkan sesuatu yang aku tidak menghapalnya, lalu Nabi bersabda: “Apabila kalian melihatnya (Imam Mahdi), maka berbaiatlah kepadanya walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah al-Mahdi”.

Jadi kalian yang akan diperangi oleh Imam Mahdi, adalah kalian kaum Muslim yang masih berpegang teguh kepada pemerintahan yang tidak menerapkan sistem pemerintahan Islam, khilafah, karena Imam Mahdi ketika itu adalah seorang khalifah.

Wallohu A’lamu bi ash-Shawwab

Selasa, 12 Februari 2019

Pada Syariah-Nya ada Petolongan-Nya

Kita Sangat Membutuhkan Pertolongan Allah SWT

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Berbagai kerusakan (problematika) yang menimpa Kaum Muslim saat ini, di berbagai negeri, sudah sangat memprihatinkan. Mulai problem privat, keluarga, masyarakat, sampai problem politik, berbangsa dan bernegara. Kaum Muslim yang berpegang teguh terhadap agamanya diperlakukan layaknya binatang buas yang harus ditakuti dan diperkusi, dizalimi dan dikhianati.

Kerusakan sendiri tidak dapat terdeteksi kecuali oleh orang-orang baik (shâlihîn) yang memperbaiki (mushlihîn). Sedang orang-orang buruk (thâlihîn) yang rusak (fâsidîn) dan merusak (mufsidîn), mereka justru menikmati kerusakan.

Kerusakan itu sendiri, adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang mengatur jalannya roda kehidupan, perbuatan manusia, dan kelestarian alam semesta. Dan pelanggaran itu, adalah maksiat, mungkar, nifaq, kufur dan syirik, yang dilakukan oleh manusia yang rusak, merusak, munâfiq, kâfir dan musyrik.

Kerusakan itu meliputi; kerusakan kehidupan seperti hilangnya ketentraman, kenyamanan dan keamanan; kerusakan manusia seperti merajalelanya perampokan, pencurian, perjudian, penipuan, perzinaan, kezaliman, pengkhianatan dll.; dan kerusakan alam semesta seperti pencemaran udara dan lingkungan, penggundulan hutan dll.

Ketika kerusakan itu dikarenakan maksiat, mungkar, nifak, kufur dan syirik kepada Allah Tuhan yang telah menciptakan kehidupan, manusia dan alam semesta, yaitu dengan meninggalkan hukum-hukum (syariah)-Nya terkait pengaturan semuanya, maka tidak akan pernah ada solusi komprehensif untuk memperbaiki kerusakan itu, selain kembali kepada penerapan hukum-hukum-Nya.

Lebih dari itu, pada hukum-hukum-Nya ada pertolongan-Nya kepada Kaum Mukmin yang menolong agama-Nya.
ياأيهاالذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم
"Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan  menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian". (QS Muhammad [47]: 7).

Menolong Allah itu bukan menolong Dzat-Nya, karena Dzat-Nya tidak butuh pertolongan, tetapi menolong agama-Nya, yaitu dengan mendakwahkan dan menerapkan syariah-Nya dalam kehidupan, masyarakat dan negara.

Ketika syariah Islam dijadikan solusi untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi di dalam kehidupan, masyarakat dan negara, maka Allah akan menurunkan pertolongan-Nya atas kehidupan, masyarakat dan negara.

Maka terapkan syariah-Nya untuk mengatur perekonomian, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan perekonomian. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur pergaulan diantara manusia (muslim dan non muslim, laki-laki dan perempuan), maka pertolongan Allah turun seiring dengan pengaturan pergaulan. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur pendidikan (formal dan non formal), maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan pendidikan. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur sanksi hukuman (hudûd, jinâyât, ta'zîr dan mukhâlafât), maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan sanksi hukuman. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur pemerintahan, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan pemerintahan. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur politik dalam dan luar negeri, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan politik dalam dan luar negeri. Terapkan syariah-Nya untuk mengatur bangsa dan negara, maka pertolongan-Nya turun seiring dengan pengaturan bangsa dan negara.

Juga ketika ideologi Islam diterapkan, maka menjadi kekalahan dan kehancuran bagi ideologi-ideologi yang lainnya. Karena pada penerapan ideologi Islam ada pertolongan-Nya untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu, keberhasilan para khalifah amîrul mukminîn dalam mengatur jalannya politik pemerintahan, berbangsa dan bernegara, tidak semata-mata karena lemah lembutnya seperti Abu Bakar ra, karena tegas dan gagahnya seperti Umar Ibnul Khththab ra, karena dermawannya seperti Ustman bin Affan ra, karena kependekarannya seperti Ali bin Abi Thalib ra dst, tetapi karena mereka mampu menerapkan syariah-Nya untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara di dalam bingkai Daulah Khilafah Rosyidah Mahdiyyah, Khilafah 'alâ minhâjin nubuwwah.

Karena itu juga, khilafah adalah wadah dan medan, dimana para khalifah saling berlomba untuk menjadi pemenang dalam menerapkan syariah-Nya. Siapa saja khalifah yang paling mampu menerapkan syariah-Nya, maka dialah yang paling sukses dalam memimpin dan mengatur pemerintahannya dan paling memuaskan qulûb masyarakatnya.

Berbeda dari khilafah, adalah sistem demokrasi dengan bermacam sifatnya, dimana para pemimpin negara dalam sistem demokrasi saling berlomba untuk membuang hukum-hukum Alloh, untuk membuang syariah-Nya, seraya menggantinya dengan hukum-hukum produk manusia dewan terhotmat di habitatnya, tapi terlaknat di alam ketuhanan dan kenabian. Dilihat dari akidahnya, yaitu sekularisme, dari ideologinya, yaitu kapitalisme, dan dari sifatnya, yaitu liberalisme, tidak ada tempat bagi syariah-Nya untuk diterapkan di dalam demokrasi. Karena demokrasi mendorong manusia untuk membuang, bahkan mengingkari hukum-hukum Alloh SWT. Lebih parah lagi, adalah sistem komunis dengan akidahnya materialisme, dengan ideologinya komunisme - sosialisme, dan dengan sifatnya yang bebas anti Tuhan dan anti agama, maka perbedaannya dari khilafah sangat menganga lebar dan dalam. Jurang yang tidak ada jembatan untuk menyeberanginya.

Sistem demokrasi dan komunis yang diterapkan di negeri-negeri Muslim, adalah pangkal dari kerusakan kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Karena itu, campakkan demokrasi dan komunis, dan masukkan keduanya pada keranjang sampah peradaban.

#DemokrasiWarisanPenjajah
#DemokrasiSistemKufur
#KomunisWarisanPenjajah
#KomunisSistemKufur
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah

#JgnPilihPemimpinAntiIslam
#JgnPilihPembohongRakyat
#JgnPilihPemimpinDzalim
#JgnPilihPemimpinGagal

Kamis, 07 Februari 2019

DARI ADZAN SAMPAI IQOMAH

Oleh : Abulwafa Romli

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini tidak untuk menjelaskan semua hal terkait adzan dan iqomah, dan hal-hal diantara keduanya, tetapi hanya sedikit terkait dengan hal-hal yang lumrah terjadi di tengah kaum Muslim dan perlu diluruskan.

Sesungguhnya lafad7z adzan itu sudah sangat populer yaitu :
الله اكبر الله اكبر، الله اكبر الله اكبر، اشهد ان لا اله الاالله اشهد ان لا الا الله، اشهد ان محمداً رسول الله اشهد ان محمداً رسول الله، حي على الصلاة حي على الصلاة، حي على الفلاح حي على الفلاح، الله اكبر الله اكبر، لا اله الا الله .
Dan sunnah membaca tatswiib pada adzan shubuh, yaitu setelah selesai dari حي على الفلاح  membaca :
الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم .
"Sholat lebih baik dari tidur, sholat lebih baik dari tidur".

Tidak ada tambahan tasbih, hauqolah, sholawat atau doa sebelum adzan. Dari semua riwayat, adzan itu hanya diawali dengan takbir seperti di atas. Semua tambahan tersebut tergolong bid'ah yang harus dijauhi.

Muadzdzin yang yang melakukan tambahan-tambahan tersebut disamping ia termasuk ahli bid'ah yang berdosa, juga termasuk orang yang sombong, ia merasa lebih pintar dan lebih hebat dari muadzdzin Rosulullah SAW, yaitu sahabat Bilal dan Ibnu Ummi Maktum, dan muadzdzin salafus sholeh yang lain, dimana mereka tidak berani membuat tambahan-tambanan sebelum takbir adzan.

Dan amal muadzdzin yang seperti itu tertolak.

Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :   من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد. رواه مسلم
"Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalan itu tertolak". HR Muslim.

Dan dia tidak mendapat kesaksian baik dari setiap makhluk yang mendengar suaranya.

Dari Abi Said Al Khudri ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : لا يسمع مدى صوت المؤذن جن ولا انس ولا شيء الا شهد له يوم القيامة. رواه البخارى
"Tidak mendengar panjang suaranya muadzdzin, jin, manusia dan sesuatu, kecuali bersaksi untuknya pada hari kiamat ". HR Bukhori.

Kesaksian baik (lahuu) pada hadits diatas adalah untuk muazdzin yang tidak melakukan bid'ah, karena tidak ada kesaksian baik bagi amal yang telah ditolak. Kesaksiannya berbalik dari baik baginya (lahuu) menjadi buruk atasnya ('alaihi).

Sepuluh tahun nyantri di Pon Pes Lirboyo Kediri, saya tidak pernah sekalipun mendengar lafadz tambahan sebelum takbir adzan, juga di pondok pesantren besar lainnya. Perhatikan juga adzan di semua saluran televisi, semuanya diawali dengan takbir, tidak ada tasbih, hauqolah, sholawat atau doa sebelumnya.

Ada muadzdzin yang menyanggah, "bahwa semua tambahan sebelum adzan itu ada dalilnya". Betul. Ada dalilnya. Tetapi menggabungkannya dengan adzan itu tidak ada dalilnya, kecuali doa setelah adzan. Kalau alasannya ada dalilnya, ya baca Alfâtihah saja atau ayat Kursi, kan ada dalilnya. Jadi masalahnya bukan ada dalilnya, tetapi terletak pada penggabungannya dengan adzan, itu tidak ada dalilnya.

Ada lagi yang menyanggah, "Sahabat Bilal muadzdzin Rasulullah SAW pernah membaca sholawat sebelum adzan". Betul. Itu pada adzan terakhir Bilal ketika mau wafat dan adzannya pun tidak selesai. Karena Bilal sangat rindu kepada Rasulullah SAW dan seakan-akan melihatnya. Bacaan sholawat itu sepontanitas, bukan rutinitas. Dan muadzdzin setelah Bilal wafat juga tidak baca sholawat. Saya tidak menemukan dalilnya. Jadi kalau ikut adzan terakhir Bilal dengan baca sholawat dulu, ya sekalian ikut semuanya. Adzannya setengah saja. Lalu njungkel mati-matian, kalau tidak mati beneran.

Dalam adzan sunnah tartil dan dengan suara keras meskipun pakai speaker karena muadzdzin Rasulullah SAW adzan dari tempat yang tinggi. Sedang dalam iqomah sunnah dengan cepat dan dengan suara yang lebih rendah dari suara adzan, karena muadzdzin Rasulullah SAW iqomah dari tempat yang lebih rendah dari tempat adzan.

Dalam hal ini Imam Nawawi rh berkata :
ويستحب ترتيل الاذان ورفع الصوت به، ويستحب ادراج الاقامة(1) ويكون صوتها اخفض من الاذان .
(1) اي الاسراع بها، اذ اصل الادراج الذي، ثم استعير لادخال بعض الكلمات في بعض، لما صح من الامر به، وفارقت الاذان بانه للغاابين والترتيب فيه ابلغ، وهي للحاضرين فالادراج فيها اشبه. (الاذكار النووية، ص: 29، دار الفكر).
"Disunnahkan adzan dengan tartil dan suara keras, dan disunnahkan iqomah dengan idroj / cepat(1) dan suaranya lebih rendah dari suara adzan.
(1) yakni iqomah dengan cepat, karena asal kata al idroj adalah attoyyu (melempit), kemudian dipinjam untuk memasukkan sebagian kalimah kepada sebagian yang lain, karena ada hadits shohih yang menyuruh dengannya.
Saya memisahkan adzan (dengan suara keras / pakai speaker) karena untuk (memanggil) orang-orang yang ghaib (di luar masjid) dan tartil lebih sempurna. Sedang iqomah untuk orang-orang yang hadir (di dalam masjid), maka mempercepat (dan dengan suara lebih rendah dari suara adzan) itu lebih serasi". (Al-Adzkaar An Nawawiyyah, hal. 29, Daarul Fikri).

Setelah adzan sunnah membaca doa ba'da adzan yang telah populer, baik muadzdzin atau orang yang mendengar adzan. Juga sunnah sholat sunnah qobliyah, membaca Al-qur'an, berdoa dan berdzikir, seperti membaca tasbih, tahmid (pujian), sholawat 'alan Nabi SAW dll., dimana semuanya tidak boleh dengan suara keras, apalagi pakai speaker, karena semuanya harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah di dalam Alqur'an terkait berdzikir dan berdoa (lihat Alqur'an surat Al A'roof [7] ayat 54, 55, 56 dan 205).                                                                              

MUHIMMAH :

1- Adzan diawali dengan lafadz takbir.

2- Tidak ada tambahan - tambahan tasbih, hauqolah, sholawat atau doa sebelum takbir adzan.

3- Adzan disunnahkan dengan suara keras dan pakai speaker, karena ditujukan untuk memanggil orang - orang yang ada di luar masjid.

4- Setelah adzan disunnahkan sholat qobliyyah, bersholawat, berdoa dan berdzikir, dimana semuanya cukup di dalam dada atau dengan suara lirih / duunal jahri minal qouli (lihat QS Al A'roof ayat 205), agar tidak mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang lain, baik yang ada di dalam masjid maupun di luar masjid.

5- Iqomah sunnah dengan cepat dan dengan suara lebih rendah dari suara adzan, artinya iqomah tidak boleh pakai speaker seperti halnya adzan, karena iqomah ditujukan untuk orang-orang yang sudah ada di dalam masjid.

Sedangkan ketika masjidnya besar dan penuh jamaah sehingga suara iqomah atau suara Imam tidak dapat didengar oleh semua jamaah, maka masjid harus memiliki speaker dalam ruangan.

Jadilah muadzdzin yang bertakwa, yaitu muadzdzin yang melaksanakan perintah Allâh SWT seraya menjauhi larangan-Nya.

Wallohu a'lam bish showaab.

TANPA IKUT HTI KITA BISA MASUK SURGA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Ada sebagian tokoh Aswaja Sekular dan ustadz Aswaja Wahhabi berkata kepada murid-muridnya : "Tanpa ikut HTI dan tanpa memperjuangkan khilafah kita bisa masuk surga kok. Kita shalat, puasa, haji, membaca Alqur'an dan Alhadits, bershalawat kepada Nabi SAW, mengaji dan mengajar ilmu, dll., dengan itu semua kita bisa masuk surga ... ".

Jawaban Saya (Abulwafa Romli) :

Cukup saya kemukakan satu hadits saja, dimana Rasulullah SAW bersabda :
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : أرأيت إذا صليت المكتوبات ، وصمت رمضان ، وأحللت الحلال ، وحرمت الحرام ، ولم أزد على ذلك شيئا ، أأدخل الجنة ؟ قال : نعم رواه مسلم .
Dari Jabir bin Abdullah RA (berkata), Bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, ia berkata : "Apa pendapat Tuan, ketika aku telah mengerjakan shalat maktubat, telah berpuasa Ramadhan, telah menghalalkan yang halal, dan telah mengharamkan yang haram, dimana saya tidak menambahkan atasnya sesuatu, apakah saya akan masuk surga?". Rasul berkata : "Ya". (HR Muslim, Arba'iin Nawawy).

Pada hadits tersebut seorang lelaki hanya memiliki empat amalan, dua amalan lahir dan dua amalan batin, shalat fardhu dan puasa fardhu, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Dua amalan lahirnya lebih sedikit dari yang disampaikan tokoh Aswaja dan ustadz wahhabi di atas. Meskipun demikian seorang lelaki itu akan masuk surga meskipun tidak ikut HTI atau tidak ikut memperjuangkan khilafah. Hebat kan? Inilah kerahmatan Islam. Semua itu benar. Tidak salah ...

Tetapi tunggu dulu. Jangan senang dulu. Karena masih ada pertanyaan :
Pembatasan amalan itu apakah ketika Islam kaffah telah diterapkan oleh negara atau tidak diterapkan?
Pembatasan amalan itu apakah ketika khilafah telah tegak atau khilafah telah roboh dan belum berdiri? Dan apakah masuk surga langsung atau mampir dulu di neraka?

Ketika kita meneliti hadits diatas, maka telah datang di Madinah, karena puasa Ramadhan itu difardhukan pada tahun kedua hijriyyah, dan ketika itu Islam Kaffah telah diterapkan oleh daulah nubuwwah sebagai cikal bakal daulah khilafah rasyidah mahdiyyah. Dan ketika itu tidak ada kewajiban menegakkan khilafah. Karena itu, sah dan cukup pembatasan amalan yang dilakukan oleh seorang laki-laki. Tentu ketika tidak ada panggilan untuk berjihad yang fardhu 'ain, karena ketika itu juga sahabat yang sengaja tidak ikut serta berjihad tanpa udzur maka tergolong berdosa besar. Ingat kisah Ka'ab serta dua orang temannya yang tertinggal dari jihad dan didiami oleh Nabi SAW serta para sahabat dalam waktu yang cukup lama?!

Kalaupun sekarang pembatasan amalan dengan shalat fardhu dan puasa Ramadhan itu dianggap sah dan cukup, maka problemnya tidak berhenti di situ, tetapi masih ada syarat yang menyertainya, yaitu menjadikan halal haram sebagai standar amal perbuatannya, dimana pada hadits diatas disebut menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram (meskipun ia tidak mengerjakan dan tidak meninggalkannya), seperti pada hadits diatas.

Term halal yang harus dihalalkan itu mencakup wajib/fardhu, mustahhab/sunnah, dan mubah. Sedangkan hukum menegakkan khilafah adalah wajib. Maka khilafah termasuk perkara halal yang harus dihalalkan, yakni diyakini kewajibannya.

Oleh karenanya, ketika seseorang telah membatasi amalan dengan shalat maktubat dan puasa Ramadhan, maka ia wajib meyakini dan manyatakan bahwa khilafah adalah wajib, dan berdoa sesuai keyakinannya, Ya Allah, tolonglah mereka yang berjuang untuk menegakkan kewajiban ini, dan ampunilah hamba yang lemah ini yang tidak ikut serta bersama mereka ...

Bukan hanya kewajiban menegakkan khilafah yang harus ia yakini kewajibannya, tetapi juga semua yang terkait dengan khilafah, mulai dari ideologi Islam (yang mencakup fikroh serta thariqah Islam), sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem persanksian Islam (mencakup hudûd, jinâyât, ta'zir dan mukhâlafât) dan sistem politik luar dan dalam negeri Islam. Semua itu harus diyakini kewajibannya dan diperjuangkan penerapannya sesuai kemampuan dan kesanggupannya, meskipun hanya berdoa ...

Sedang term haram yang harus diharamkan itu mencakup haram dan makruh, karena makruh juga termasuk yang dilarang oleh Asy Syâri' dengan larangan yang tidak tegas. Maka ia juga harus mengharamkan segala perkara yang diharamkan, termasuk bentuk sistem pemerintahan yang kontradiksi dengan khilafah, yakni meyakini keharamannya, seperti demokrasi dan komunis sistem kufur dan syirik.

Ia harus meyakini dan menyatakan, bahwa demokrasi sistem kufur yang haram meyakini, mempraktekkan dan mendakwahkannya, juga dengan sistem komunis.

Tidak berhenti pada demokrasi dan komunis saja, tetapi semua yang terkait erat dengan demokrasi dan komunis, seperti akidah sekularisme dan materialisme, ideologi kapitalisme dan komunisme - sosialisme, berikut semua ide, pemikiran dan pemahaman yang memancar dan bercabang dari keduanya, seperti liberalisme, pluralisme, sinkretisme, dst.

Tidak malah melakukan penggembosan terhadap dakwah kepada syariah dan khilafah. Dan tidak malah melakukan dukungan terhadap penerapan sistem demokrasi dan sistem komunis.

Bagaimana Anda bisa masuk surga, ketika akidah dan syariahnya condong kepada sekularisme demokrasi dan materialisme komunis - sosialis ? Meskipun Anda rajin shalat dan puasa !

Bagaimana Anda bisa masuk surga,  ketika standar amal perbuatan nya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara itu bukan halal haram ? Meskipun Anda rajin shalat dan puasa !

#DemokrasiWarisanPenjajah #DemokrasiSistemKufur #KhilafahAjaranIslam #KhilafahAjaranAhlussunnah #KhilafahAjaranAswaja #ReturnTheKhilafah

Selasa, 05 Februari 2019

WANITA AHLI NERAKA

Membedah Pakaian Wanita

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Wanita Dipaksa Menjadi Ahli Neraka

Ketika (ideologi) Islam tidak diterapkan dalam kehidupan, masyarakat dan negara seperti terjadi saat ini, maka kehidupan pun tidak berarti kosong dari aturan, tetapi diatur dengan ideologi kapitalisme atau komunisme yang menjauhkan umat Islam, terutama muslimatnya, dari aturan (syariah) Islam.

Dulu ketika (ideologi) Islam ditetapkan dalam kehidupan, bukan hanya muslimat yang menutup aurat dan memakai jilbab dan kerudung, tetapi wanita non Islam pun ikut menutup aurat dan memakai jilbab dan kerudung. Sebagaimana sekarang wanita-wanita muslimat tanpa malu-malu menanggalkan jilbab dan kerudungnya dan membuka bagian-bagian auratnya di kehidupan umum, karena terpengaruh dan mengikuti wanita non Islam.

Padahal posisi aurat wanita muslimat itu berada di antara surga dan neraka. Surga ketika menutupnya sesuai aturan syariah dan neraka ketika membukanya dengan melanggar aturan syariah. Sehingga wanita-wanita ahli neraka itu bisa diketahui dengan mudah. Bahkan wanita-wanita itu pun bisa menarik para suaminya ke neraka juga. Karena dengan membiarkan istrinya membuka aurat di kehidupan umum, suami menjadi dayyûts yang diharamkan masuk surga.

Kalau Anda tidak percaya, baca sampai selesai tulisan ini :
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : " صنفان من أهل النار لم أرهما بعد : رجال معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ، ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات على رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة ، لا يدخلن الجنة ولا يجد ريحها ، وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا " رواه أحمد ومسلم في الصحيح .
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah bersabda : "Ada dua kelompok ahli neraka dimana Aku belum melihatnya. (kelompok pertama) Kaum laki-laki yang selalu membawa cambuk seperti ekor sapi, dimana mereka memukuli manusia dengannya. Dan (kelompok kedua) kaum wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang lenggak lenggok dan memikat, rambut kepalanya seperti punuk unta yang condong. Wanita-wanita itu tidak masuk surga dan tidak mencium bau surga. Sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian". HR Ahmad dan Muslim.

Hadits tersebut memberitakan dua kelompok manusia yang belum dilihat oleh Nabi SAW, mereka akan muncul setelah berlalunya zaman Nabi SAW, dan tempat mereka kelak di neraka karena kemaksiatannya. Dan munculnya dua kelompok tersebut termasuk tanda-tanda kecil hari Kiamat.

Fokus pada kelompok kedua, yaitu wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang lenggak lenggok memikat, dan yang kepalanya seperti punuk unta yang condong.

Imam Nawawi menjelaskan hadits diatas : "Adapun wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, maksudnya adalah wanita yang membuka sesuatu (aurat) dari tubuhnya untuk menampakkan kecantikannya, maka hakekatnya mereka berpakaian tapi telanjang. Ada yang mengatakan, bahwa mereka mengenakan pakaian yang tipis yang memperlihatkan bagian dalamnya, maka itulah arti wanita yang berpakaian tapi telanjang.

Adapun wanita yang lenggak lenggok memikat, maka dikatakan, yaitu wanita yang menyimpang dari taat kepada Allah SWT, dan meninggalkan perkara yang wajib atasnya seperti menjaga kemaluan dll, dan yang mengajarkan kepada yang lainnya seperti perbuatannya.
Dikatakan, yaitu wanita yang berjalan lenggak lenggok sambil memiringkan pundaknya dengan sombong. Dan dikatakan, yaitu wanita yang condong kepada laki-laki dan menyondongkan kepada laki-laki sesuatu yang ditampakkannya, yakni perhiasan dan lainnya.

Adapun wanita yang kepalanya seperti punuk unta, ialah wanita yang membesarkan kepalanya dengan kerudung, serban atau yang lainnya dari sesuatu yang dilipat pada kepala sehingga menyerupai punuk unta. Inilah tafsir yang populer. Dan Almaziriy berkata, boleh diartikan, bahwa wanita tersebut mendekati laki-laki, tidak menundukkan pandangannya dari laki-laki, dan tidak menundukkan kepalanya ...". (Syarhun Nawawy ala Shohih Muslim, 17/191, dengan meringkas).

Laki-laki Wajib Menjaga Keluarganya dari Neraka

Keluarga laki-laki yang wajib dijaga dari neraka itu termasuk ayah-ibu, adik-kakak, dan anak-istri. Pokus kita adalah istrinya wajib dijaga jangan sampai masuk neraka.

Perhatikan baik-baik firman Alloh SWT terkait kewajiban atas laki-laki beriman agar menjaga diri dan keluarganya dari neraka :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS at-Tahrîm [66] : 6).

Menjaga keluarga perempuan, ibu, istri, anak perempuan dll yang berada di dalam kekuasaannya dari neraka, diantaranya adalah dengan memerintahkan kepada mereka agar menurup aurat dan berkerudung (QS Annûr [24] : 31), dan berjilbab (QS Al Ahzâb [33] : 59), ketika mereka berada di kehidupan umum, yaitu kehidupan di luar rumahnya.

Laki-laki yang membiarkan keluarga wanitanya membuka aurat dan berpakaian tidak syar'iy itu tergolong dayuts yang diharamkan masuk surga.

Sekarang perhatikan sabda Rasulullah SAW terkait dayyûts;

1. Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
ثلاثة قد حرم الله تبارك وتعالى عليهم الجنة: مدمن الخمر، والعاق، والديوث الذي يقر في أهله الخبث 
"Ada tiga kelompok orang yang Allah tabâroka wata'âlaa benar-benar mengharamkan surga atas mereka; orang yang selalu minum khomer (miras), orang yang menyakiti orang tuanya, dan dayyûts, yaitu laki-laki yang membiarkan keburukan (terkait aurat wanita) terjadi pada keluarganya".

2. Dan Imam Thobroni meriwayatkan hadits dari Amar bin Yasar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
ثلاثة لا يدخلون الجنة أبدًا: الديوث، والرجُلَة من النساء، والمدمن الخمر، قالوا: يا رسول الله: أما المدمن الخمر فقد عرفناه، فما الديوث؟ قال: الذي لا يبالي من دخل على أهله، قلنا: فما الرجُلَة؟ قال: التي تتشبه بالرجال 
"Ada tiga kelompok manusia yang tidak masuk surga selamanya; dayyûts, lelaki dari wanita, dan orang yang selalu minum khomer". Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, adapun orang yang selalu minum khomer maka kami benar-benar mengerti, lalu siapakah dayyûts itu?", Arrosûl bersabda, "Laki-laki yang tidak peduli terhadap orang yang masuk kepada keluarga perempuannya". Kami berkata, "Lalu siapkah lelaki dari wanita itu?", Arrosûl bersabda, "Perempuan yang menyerupai laki-laki".

Pada hadits Imam Ahmad, dayyûts mencakup setiap laki-laki yang membiarkan keburukan terjadi pada keluarga perempuan yang berada dalam kekuasaannya, seperti istri, anak perempuan, saudara perempuan dan lainnya. Sama saja keburukan itu berupa zina atau sarana menuju zina, seperti membuka aurat di depan lelaki asing, berkhalwat dengannya, memakai wewangian ketika keluar rumah dan sesamanya, dari perkara yang membangkitkan fitnah dan merangsang perzinaan.

Sedang kekhususan hadits Imam Thobroni itu bisa masuk kepada keumuman hadits Imam Ahmad.

Tetakhir
Istri-istri solehah yang mencintai suaminya dan bercita-cita membangun hubungan keluarga sukses dunia akherat, mereka akan selalu menutup auratnya, berkerudung dan berjilbab, ketika mereka berada di dalam kehidupan umum, yaitu kehidupan di luar rumahnya, agar auratnya tidak terlihat oleh laki-laki asing atau bukan mahrom baginya. Auratnya adalah seluruh tubuhnya selain muka dan kedua telapak tangannya. Bagi mereka, terbukanya aurat kepala di depan laki-laki asing, itu sama dengan terbukanya aurat sekitar pantatnya, sama dosa dan menjadi penyebab ahli nerakanya.

Begitu pula dengan suami soleh yang mencintai keluarganya dan bercita-cita membangun keluarga besar dari dunia sampai akhirat. Ia akan selalu menjaga Keluarganya dari hal-hal yang menyebabkan mereka masuk neraka, terutama terkait aurat mereka. Dan ia tidak akan mau tertarik ke neraka lantaran membiarkan keluarganya berpakaian ala kadarnya sebatas menutup aurat vitalnya.

Kemudian bagi suami yang tidak mampu atau kesulitan menjaga dan membina Keluarganya agar berpakaian syar'iy, menutup aurat, berkerudung dan berjilbab, maka wajib menyuruh atau melibatkan mereka agar bergabung dengan muslimat yang benar-benar paham dan mampu berpakaian syar'iy. Dan muslimat HTI dimanapun siap dan mampu mendidik dan membinanya, tanpa minta bayaran sepeser pun.

Inilah anugerah dunia akherat yang tidak ternilai yang tidak sedikit muslim-muslim munafiq tidak menyadarinya, bahkan menolak, mengingkari dan memitnahnya.

Wallohu a'lam bish showaab