Selasa, 27 November 2018

KEMULIAAN ATAUKAH KEHINAAN YANG ANDA PILIH ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Sejak runtuhnya Khilafah 'Utsmaniyyah pada 3 Maret 1924, terutama di negeri ini, para pengemban dakwah syariah dan khilafah dan para pejuang Islam Kaffah seringkali dikalahkan (dikhianati) dan dihinakan oleh kaum nasionalis dari kelompok muslim sekular yang bersekongkol dengan non muslim sebagai kepanjangan imperialisme.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena 3 Maret 1924 adalah awal dari periode Mulkan Jabriyyah (kekuasaan yang sewenang-wenang / angkara murka) yang melepaskan diri dari sistem Khilafah serta mengadopsi sistem bid’ah kerajaan dan sistem kufur demokrasi, komunis dan sosialis.

Pada periode Mulkan Jabriyyah, Alloh SWT meng-Istidroj kaum kuffar, musyrikiin dan munafiqiin dari kelompok nasionalis sekular, dengan memenangkan mereka dalam berbagai pertempuran dan pertarungan, baik fisik maupun non fisik. Mereka merasa bangga, sombong, jumawa, petantang-petengteng. Mereka tidak merasa sedang terjebak di dalam jaring-jaring istidroj yang super ruwet, kusut dan semrawut.

Tetapi periode Mulkan Jabariyyah itu sebentar lagi akan berakhir. In syaa Alloh dua tahun lagi. Karena dalam hitungan tahun hijriyyah, dua tahun lagi telah genap seratus tahun masa Mulkan Jabariyyah. Dan akan datang periode Mujaddid plus seratus tahunan, yakni Mujaddid yang bersamaan dengan dibaiatnya Khalifah atau dia sendiri Khalifah nya, yang akan mengembalikan kejayaan Islam dan Kaum Muslim. Tentu dalam sistem Khilafah 'alaa Minhajin Nubuwwah, tentu dengan plus-minusnya.

Inilah awal masa kebangkitan Islam yang sebenarnya, masa kemuliaan kaum Muslim yang sesungguhnya, masa Islam Rahmatan Lil'alamin yang selayaknya, masa Islam Kaffah yang sesuai perintahNya, dan masa Khilafah 'alaa Minhajin Nubuwwah yang dijanjikanNya.

Pada masa ini, Allah memuliakan orang-orang yang mulia serta menghinakan orang-orang yang hina. Mereka mulia dengan Islam, baik aqidahnya (idiologi Islam) maupun syariahnya (fikroh dan thoriqoh dari idiologi Islam, serta sekumpulan sistemnya, baik pemerintahan, pendidikan, pergaulan, sanksi hukuman maupun politik dalam dan luar negeri).

Dan mereka hina dengan kekufuran, baik akidahnya (idiologi kapitalisme,  komunisme dan sosialisme) maupun syariahnya (fikroh dan thoriqohnya, serta sekumpulan sistemnya seperti demokrasi, komunis dan sosialis).

Sekarang baca pelan-pelan dan perhatikan baik-baik berita langit yang bebas dari hoax terkait kemuliaan bagi orang yang mulia serta kehinaan bagi orang yang hina:
عن تميم الداري عن النبي صلى الله عليه وسلم : ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل والنهار، ولا يترك الله بيت مدر ولا وبر إلا أدخله الله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل، عزاً يعز الله به الإسلام، وذلاً يذل به الكفر. قال الألباني: رواه جماعة منهم الإمام أحمد وابن حبان والحاكم وصححه 
Dari Tamim Addaariy, dari Nabi SAW bersabda : "Kemudian urusan (agama / pemerintahan Islam) ini  pasti akan sampai ke seluruh dunia, sebagaimana sampainya siang dan malam. Alloh tidak akan membiarkan satu rumah cadas pun (rumah gedung punya orang kota), dan tidak membiarkan satu rumah bulu pun (rumahnya orang pedalaman atau kampung), kecuali Alloh memasukkan ke dalamnya agama ini, dengan kemuliaan bagi orang yang mulia atau kehinaan bagi orang yang hina, kemuliaan yang Alloh memuliakan Islam dengannya, dan kehinaan yang Alloh menghinakan kekufuran dengannya". (Al Albani berkata: HR Jama'ah diantaranya Imam Ahmad,  Ibnu Hibban dan Hakim dan Ia menshahihkannya).

Dan di dalam Musnad Imam Ahmad, Tamim Addariy berkata:
" قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمُ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ، وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ "
"Aku benar-benar mengetahui hal itu pada keluargaku, dimana mereka yang memeluk Islam mendapat kebaikan dan kemuliaan, dan mereka yang tetap pada kekufuran mendapat kehinaan, kerendahan dan ditarik pajak".

Mungkin ada yang menyanggah, itukan ketika khilafah telah tegak. Karena ada indikasi penarikan jizyahnya.

Jawaban, betul. Tetapi hal itu dari sisi penerapan hukum Islam kepada setiap orang yang masih memilih dan memeluk agama kufur. Sedang ketika khilafah belum tegak dan hukum Islam belum bisa diterapkan, mereka dihinakan oleh Allah bisa melalui lisan dan tulisan hamba-hamba-Nya, atau mereka terhina dalam penglihatan dan hati orang-orang beriman dan bertaqwa. Bisa juga Allah mempermalukan mereka di hadapan makhlukNya di dunia ini, dengan membongkar keburukan dan pengkhianatannya, dan di akhirat Allah lebih mempermalukannya di hadapan semua makhlukNya.

Apalagi ketika mereka menjadikan hamba-hamba dan wali-wali Alloh dari hamalatud dakwah syariah dan khilafah sebagai musuh bersamanya, maka Alloh sendiri yang akan memerangi mereka:
من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب
Man 'aadaa lii waliyyan fa qad aadzantuhuu bilharbi

"Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka Aku benar-benar mengumumkan perang terhadapnya". (Arba'iin Nawawi).

Pilihan ada di akal dan hati Anda. Milih menjadi orang-orang yang dimuliakan oleh Alloh dengan berada di barisan hamalatud dakwah kepada penerapan dan penegakkan syariah Islam kaffah dan khilafah, atau justru Anda milih menjadi orang yang dihinakan oleh Alloh dengan berada di barisan para penentang dakwah syariah Islam kaffah dan khilafah, dari barisan para penyeru ideologi kapitalisme, komunisme dan sosialisme. Pilihan ada pada akal dan hati Anda. Wallohu a'lam bish showaab

#DemokrasiWarisanPenjajah
#DemokrasiSistemKufur
#KhilafahAjaranIslam #KhilafahAjaranAhlussunnah #KhilafahAjaranAswaja #ReturnTheKhilafah

Kamis, 22 November 2018

WARNA SURGA

WARNA SURGA

Cerpen Fata Durry (Republika, 3 Juli 2011)

PEREMPUAN itu bernama Maria Mufida, terlahir dari keluarga religius. Ayahnya adalah anutan masyarakat di kota itu yang biasa dipanggil Gus Ramli, tetapi tamu-tamu dari kota lain biasa memanggilnya Kiai Ramli. Konon, dari cerita-cerita yang masyhur di masyarakat, Gus Ramli ini tidak mau keluar bila yang bertamu adalah pejabat pemerintah, kecuali reputasi pejabat itu baik dan memiliki track record yang baik pula. Kalau ditanyakan alasannya mengapa, Gus Ramli akan menjawab singkat, “Ane takut ketularan!” kata-katanya tegas, tapi tidak lupa tersenyum. Selain itu, Gus Ramli termasuk kiai yang wara’, dia tidak mau menerima ‘amplop’ dari pejabat. Kalaupun terpaksa disalami amplop, Gus Ramli tidak mau memakannya, paling-paling besoknya Gus Ramli menyuruh orang kepercayaannya membeli sawah di desa, setelah itu dipasrahkanlah sawah tersebut kepada penduduk miskin yang tidak punya lahan untuk menggarap sawah pemberian Gus Ramli.