Selasa, 28 Agustus 2018

DARI ADZAN SAMPAI IQOMAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini tidak untuk menjelaskan semua hal terkait adzan dan iqomah, dan hal-hal diantara keduanya, tetapi hanya sedikit terkait dengan hal-hal yang lumrah terjadi di tengah kaum Muslim dan perlu diluruskan.

Sesungguhnya lafadz adzan itu sudah sangat populer yaitu :
الله اكبر الله اكبر، الله اكبر الله اكبر، اشهد ان لا اله الاالله اشهد ان لا الا الله، اشهد ان محمداً رسول الله اشهد ان محمداً رسول الله، حي على الصلاة حي على الصلاة، حي على الفلاح حي على الفلاح، الله اكبر الله اكبر، لا اله الا الله .

Dan sunnah membaca tatswiib pada adzan shubuh, yaitu setelah selesai dari حي على الفلاح  membaca :

الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم .
"Sholat lebih baik dari tidur, sholat lebih baik dari tidur".

Tidak ada tambahan tasbih, hauqolah, sholawat atau doa sebelum adzan. Dari semua riwayat, adzan itu hanya diawali dengan takbir seperti di atas. Semua tambahan tersebut tergolong bid'ah yang harus dijauhi.

Muadzdzin yang yang melakukan tambahan-tambahan tersebut disamping ia termasuk ahli bid'ah yang berdosa, juga termasuk orang yang sombong, ia merasa lebih pintar dan lebih hebat dari muadzdzin Rosulullah SAW, yaitu sahabat Bilal dan Ibnu Ummi Maktum, dan muadzdzin salafus sholeh yang lain, dimana mereka tidak berani membuat tambahan-tambanan sebelum takbir adzan.

Dan amal muadzdzin yang seperti itu tertolak. 

Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :   من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد. رواه مسلم

"Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalan itu tertolak". HR Muslim.

Dan dia tidak mendapat kesaksian baik dari setiap makhluk yang mendengar suaranya. 

Dari Abi Said Al Khudri ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : لا يسمع مدى صوت المؤذن جن ولا انس ولا شيء الا شهد له يوم القيامة. رواه البخارى 

"Tidak mendengar panjang suaranya muadzdzin, jin, manusia dan sesuatu, kecuali bersaksi untuknya pada hari kiamat ". HR Bukhori. 

Kesaksian baik (lahuu) pada hadits diatas adalah untuk muazdzin yang tidak melakukan bid'ah, karena tidak ada kesaksian baik bagi amal yang telah ditolak. Kesaksiannya berbalik dari baik baginya (lahuu) menjadi buruk atasnya ('alaihi). 

Sepuluh tahun nyantri di Pon Pes Lirboyo Kediri, saya tidak pernah sekalipun mendengar lafadz tambahan sebelum takbir adzan, juga di pondok pesantren besar lainnya. Perhatikan juga adzan di semua saluran televisi, semuanya diawali dengan takbir, tidak ada tasbih, hauqolah, sholawat atau doa sebelumnya.

Dalam adzan sunnah tartil dan dengan suara keras meskipun pakai speaker karena muadzdzin Rasulullah SAW adzan dari tempat yang tinggi. Sedang dalam iqomah sunnah dengan cepat dan dengan suara yang lebih rendah dari suara adzan karena muadzdzin Rasulullah SAW iqomah dari tempat yang lebih rendah dari tempat adzan.

Dalam hal ini Imam Nawawi rh berkata :
ويستحب ترتيل الاذان ورفع الصوت به، ويستحب ادراج الاقامة(1) ويكون صوتها اخفض من الاذان .
(1) اي الاسراع بها، اذ اصل الادراج الذي، ثم استعير لادخال بعض الكلمات في بعض، لما صح من الامر به، وفارقت الاذان بانه للغاابين والترتيب فيه ابلغ، وهي للحاضرين فالادراج فيها اشبه. (الاذكار النووية، ص: 29، دار الفكر).
"Disunnahkan adzan dengan tartil dan suara keras, dan disunnahkan iqomah dengan idroj / cepat(1) dan suaranya lebih rendah dari suara adzan.
(1) yakni iqomah dengan cepat, karena asal kata al idroj adalah attoyyu (melempit), kemudian dipinjam untuk memasukkan sebagian kalimah kepada sebagian yang lain, karena ada hadits shohih yang menyuruh dengannya.
Saya memisahkan adzan (dengan suara keras / pakai speaker) karena untuk (memanggil) orang-orang yang ghaib (di luar masjid) dan tartil lebih sempurna. Sedang iqomah untuk orang-orang yang hadir (di dalam masjid), maka mempercepat (dan dengan suara lebih rendah dari suara adzan) itu lebih serasi". (Al-Adzkaar An Nawawiyyah, hal. 29, Daarul Fikri).

Setelah adzan sunnah membaca doa ba'da adzan yang telah populer, baik muadzdzin atau orang yang mendengar adzan. Juga sunnah sholat sunnah qobliyah, membaca Al-qur'an, berdoa dan berdzikir, seperti membaca tasbih, tahmid (pujian), sholawat 'alan Nabi SAW dll., dimana semuanya tidak boleh dengan suara keras, apalagi pakai speaker, karena semuanya harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah di dalam Alqur'an terkait berdzikir dan berdoa (lihat Alqur'an surat Al A'roof [7] ayat 54, 55, 56 dan 205).                                                                               

MUHIMMAH :

1- Adzan diawali dengan lafadz takbir.

2- Tidak ada tambahan - tambahan tasbih, hauqolah, sholawat atau doa sebelum takbir adzan.

3- Adzan disunnahkan dengan suara keras dan pakai speaker, karena ditujukan untuk memanggil orang - orang yang ada di luar masjid.

4- Setelah adzan disunnahkan sholat qobliyyah, bersholawat, berdoa dan berdzikir, dimana semuanya cukup di dalam dada atau dengan suara lirih / duunal jahri minal qouli (lihat QS Al A'roof ayat 205), agar tidak mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang lain, baik yang ada di dalam masjid maupun di luar masjid.

5- Iqomah sunnah dengan cepat dan dengan suara lebih rendah dari suara adzan, artinya iqomah tidak boleh pakai speaker seperti halnya adzan, karena iqomah ditujukan untuk orang-orang yang sudah ada di dalam masjid.

Sedangkan ketika masjidnya besar dan penuh jamaah sehingga suara iqomah atau suara Imam tidak dapat didengar oleh semua jamaah, maka masjid harus memiliki speaker dalam ruangan.

Wallohu a'lam bish showaab.

Rabu, 22 Agustus 2018

Twitter Baru

Lihat MRomli (@MRomli34781211): https://twitter.com/MRomli34781211?s=09

Rabu, 15 Agustus 2018

KHILAFAH MEMAKSA MANUSIA MASUK SURGA

Bismilaahir Rohmaanir Rohiim

Dalam sistem kufur demokrasi saat ini kaum Muslim, baik yang awam maupun yang ulama, sedang dipaksa dan digiring menuju pintu-pintu neraka. Sampai-sampai ada tokoh nasionalis sendiri berkata, bahwa malaikat pun ketika masuk ke dalam sistem demokrasi bisa menjadi iblis.

Bayangkan malaikat saja ketika terjun ke dalam sistem demokrasi bisa menjadi iblis yang telah terlaknat dan diputus manjadi ahli neraka secara abadi. Karena demokrasi itu mengajarkan dan memaksa kaum Muslim agar membuang syariat yang datang dari Alloh Tuhan Yang Maha Esa lalu menggantinya dengan syariat buatan manusia.

Sebagaimana iblis menolak syariat berupa sujud tunduk hormat kepada Embah Nabi Adam AS padahal Alloh sendiri, dan dilihat makrifat oleh iblis sendiri, yang telah menyuruh iblis sujud kepada Adam AS.

Dan dalam kitab-kitab fiqih kaffah seperti Fathul Qoriib, Fathul Mu'in sampai Fathul Wahhab terdapat bab Arriddah / murtad, dimana disana diterangkan bahwa siapa saja yang menolak atau mengingkari satu ayat, satu hadits shohih, satu hukum yang mujmak 'alaih, maka ia dihukumi kafir murtad yang ahli neraka, kecuali ketika ia sempat taubat sebelum yughorghir ruhnya sampai tenggorokan.

Kebalikan dari demokrasi, sistem khilafah justru mengajak, menuntun dan memaksa kaum Muslim, bahkan umat manusia, dengan ikatan dan tarikan rantai-rantai sistem uqubatnya, menuju pintu-pintu surga yang terbuka lebar lebar.

Sedikit contohnya, sholat adalah kewajiban besar, dan muslim yang berani meninggalkan sholat karena mengingkari kewajinannya, ia dianggap kafir / murtad yang sanksi akhiratnya adalah masuk neraka selamanya. Tetapi Islam punya sanksi atasnya yaitu dipenggal lehernya, dimana sebelum sanksi dijatuhkan, ia disuruh bersyahadat atau mengucapkan laa ilaaha illalloh ... Padahal dalam hadits shohih bahwa siapa saja yang sebelum mati membaca kalimat tauhid tersebut dengan ikhlas maka ia masuk surga. Demikian pula dengan penerapan sanksi rajam atas pezina muhshon, dan sanksi-sanksi yang lainnya.

Dan dalam hal ini Rosululloh SAW bersabda :
عجب ربنا من قوم يقادون الى الجنة في السلاسل (حم خ د) عن ابي هريرة (صح).
'ajiba robbunaa min qaumin yuqooduuna ilal jannati fis salaasil

"Tuhan Kami takjub kepada suatu kaum yang ditarik ke surga dengan rantai".
(HR Ahmad, Bukhori dan Abu Daud, semuanya dari Abu Hurairah RA, Assuyuti, Aljaamik Ashshoghiir).

Dan Nabi SAW bersabda :
عجبت لاقوام يساقون الى الجنة في السلاسل وهم كارهون (طب) عن ابي امامة (حل) عن ابي هريرة (ح).
'ajibtu liaqwaamin yusaaquuna ilaljannati fissalaasil wahum kaarihuun

"Aku takjub kepada sejumlah kaum, mereka ditarik ke surga dengan rantai, sedang mereka membencinya".
(HR Thobroni dari Abu Umamah dan Abu Nu'aim dalam kitab Alhilyah dari Abu Hurairah, Aljaamik Ashshoghiir).

Kata assalaasil / rantai-rantai pada hadis diatas adalah kinayah dari sistem pemerintahan yang menerapkan sistem uquubat secara sempurna yang meliputi jinayat, huduud, takzir, dan mukholafat, terhadap para pelanggar syariat.

Sekarang Anda dihadapkan kepada dua pilihan :

Khilafah sistem Islam warisan Rasululloh SAW dan para sahabatnya, yang mengajak, menggiring dan memaksa Anda dan anak cucu Anda menuju ke surga?!, 

atau

Demokrasi sistem kufur yang mangajak, menggiring dan memaksa Anda dan anak cucu Anda menuju ke neraka?!

Sabtu, 11 Agustus 2018

TUJUAN MERAIH KEPEMIMPINAN ADALAH MENERAPKAN HUKUM ALLOH SWT

Buat apa meraih kepemimpinan tanpa bisa menerapkan hukum Alloh !

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

SESUNGGUHNYA Manusia anak Bapak Adam dan Ibu Hawa semuanya adalah Khalifah. Hanya saja mereka berkewajiban memilih dan mengangkat hanya seorang pemimpin tunggal saja yang akan menerapkan hukum Alloh SWT dan menyatukan mereka semuanya. 

Ini berdasarkan firman Alloh, إني جاعل في الأرض خليفة "Innie jaa'ilun fil ardli khaliefah/Sesungguhnya Aku menjadikan di bumi khalifah". (TQS Albaqoroh ayat 30). Maka Bapak Adam adalah khalifah tunggal pertama yang memimpin istri dan anak-anaknya. Dan tentu telah memiliki wilayah kekuasaan, yaitu dunia seluruhnya.

Tugas khalifah adalah mengatur bumi yg berisi manusia sebagai anak-cucu Adam dan Hawa dgn hukum-hukum Alloh Pencipta dan Pemilik bumi seisinya ini, krn definisi khalifah untuk saat itu dan merupakan definisi perdana, adalah "wakil Alloh" untuk mengatur bumi-Nya, dan ketika itu pula belum ada hukum-hukum produk hawa nafsu manusia seperti di alam demokrasi saat ini.

Kemudian pasca Adam, definisi khalifah berkembang menjadi, "Pengganti pemimpin sebelumnya", dalam mengatur bumi Alloh dgn hukum-hukum-Nya ... ... ...

Kemudian setelah dunia penuh manusia dan hampir seabad lamanya kaum muslimin tdk memiliki khalifah, maka definisinya harus beradaptasi sehingga menjadi "Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di seluruh dunia" yang memimpin mereka dgn hukum-hukum Alloh Swt.

Jadi dilihat dari definisi manapun, menerapkan hukum-hukum Alloh adalah tugas utama khalifah. Dan dlm hal ini Alloh berfirman: "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan hukum ( suatu perkara) di antara manusia dengan adil (dgn hukum Alloh) dan janganlah kamu mengikuti (hukum produk) hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". (TQS Shaad [38]:26). 

Dan Rosululloh SAW pun diperintah agar memutuskan perkara diantara manusia dgn hukum Alloh SWT. Alloh berfirman:

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dgn meninggalkan kebenaran yg telah datang kepadamu". (TQS Almaidah ayat 48).

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu". (TQS Almaidah ayat 49).

Perintah Alloh kepada Rosul-Nya agar berhukum dgn hukum-hukum-Nya, juga adalah perintah kpd umatnya. Dan termasuk umatnya adalah para khalifah sepanjang masa kekhilafahan.

DEMOKRASI MENERAPKAN HUKUM PRODUK HAWA NAFSU DEWAN LEGISLATIF

Berbeda dgn para khalifah dalam sistem khilafah, para pemimpin dlm sistem demokrasi adalah kebalikan dari para khalifah dlm sistem khilafah. Mereka memutuskan perkara dgn hukum produk hawa nafsu manusia pengkhianat hukum Alloh yg bernama dewan terhormat legislatif. Para Nabi dan Rosul saja berkewajiban menerapkan hukum Alloh, juga dewan terhormat dan tertinggi dari para khalifah masih berjuang dan bersungguh-sungguh dlm menjaga kewajiban itu, lalu dewan pengkhianat legislatif demokrasi sangat beraninya membuang hukum Alloh dan menggantinya dgn hukum hawa nafsu wudel bodongnya sendiri. Apakah mereka merasa lebih terhormat dan lebih tinggi derajatnya di atas para nabi, para rosul dan para khalifah?

Fakta dari pekerjaan dewan legislatif demokrasi yg membuang hukum Alloh dan menggantinya dgn hukum produk hawa nafsunya sendiri, adalah menunjukkan bahwa mereka telah berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan-tuhan kerdil pesaing Tuhan Yang Mahabesar Pencipta alam semesta Alloh SWT. Sungguh keterlaluan. Dan sama keterlaluannya, orang-orang yang masih mau memilih dan mengangkat mereka sebagai wakil dan pemimpinnya.

YANG TIDAK BERHUKUM DGN HUKUM ALLAH ADALAH ORANG-ORANG KAFIR, ZALIM ATAU FASIK, TIDAK ADA YANG KEEMPATNYA

Bacalah QS Almaidah ayat 44, 45 dan 47.

MASIH MAUKAH ANDA SEKALIAN DIPIMPIN OLEH ORANG-ORANG KAFIR, ZALIM ATAU FASIK?!

DEMOKRASILAH YANG TELAH MENJADIKAN MEREKA KAFIR, ZALIM DAN FASIK

Karena itu, tinggalkan demokrasi sekarang juga!

DAN BERGABUNGLAH DENGAN JUTAAN PARA PEJUANG SYARIAH DAN KHILAFAH

Anda setuju, tinggalkan jejak, dan sebarluaskan!

ULAMA JAHAT

*Waspadalah Dengan Ulama Yang Dekat Dengan Penguasa...*

Eramuslim.com –

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rab semesta alam, shalawat beriring salam kita haturkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, sahabat, serta pengikut beliau hingga akhir zaman, Amma ba’du.

Di tengah hiruk-pikuk fitnah akhir zaman, umat islam merindukan sosok alim amil yang dapat memberikan penerangan untuk melewati kegelapan dan suramnya fitnah ini, namun sangat disayangkan, dewasa ini kita mendapatkan sosok yang disebut dengan alim atau syaikh yang tidak memberikan penerangan namun malah mengeluarkan syubhat-syubhat yang membingungkan umat, hal itu dikarenakan kedekatan mereka dengan para penguasa.

Padahal jauh-jauh hari Rasulullah mewanti-wanti umatnya akan hal ini, sebgaimana disebutkan pada hadits dan atsar berikut ini,

Wa akhroja ...
*وأخرج أحمد   في مسنده، والبيهقي بسند صحيح، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم: « من بدا جفا، ومن اتبع الصيد غفل، ومن أتى أبواب السلطان افتتن، وما ازداد أحد من السلطان قرباً، إلا ازداد من الله بعداً*
Dari Abi Hurairah radiallahu 'anhu, Rasulullah bersabda, “Siapa tinggal di pedalaman maka perangainya keras, dan siapa sibuk dengan berburu maka akan lalai, serta siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa terkena fitnah, tidak seseorang semakin dekat dengan penguasa maka akan bertambah jauh dari Allah”. (HR. Ahmad dan Baihaqi dengan sanad shahih)

Wa akhroja ...
*وأخرج ابن ماجه، عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه  وسلم: « إن أبغض القراء إلى الله تعالى الذين يزورون الأمراء*
Dari Abi Hurairah radiallahu 'anhu, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya qurra yang paling dibenci Allah ialah yang mendatangi penguasa”. (HR. Ibnu Majah)

Wa akhroja ...
*وأخرج الطبراني في « الأوسط » بسند رواته ثقات، عن ثوبان رضي الله عنه مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يا رسول الله من أهل البيت أنا؟ فسكت، ثم قال في الثالثة: « نعم ما لم تقم على باب سدة، أو تأتي أميراً فتسأله*
*قال الحافظ المنذري في « الترغيب والترهيب » المراد بالسدة هنا، باب السلطان ونحوه.*
Dari Tsauban radiallahu 'anhu berkata,” Ya Rasulullah, apakah saya termasuk ahli bait ?” Rasulullah pun diam, sampai pada ketiga kali, beliau menjawab, “Ya selama engkau tidak berdiri pada pintu penguasa, atau mendatangi penguasa dan meminta padanya”. (HR. Thabrani dalam Al Ausath)

Wa akhroja ...
*وأخرج الترمذي وصححه، والنسائي، والحاكم وصححه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سيكون بعدي أمراء، فمن دخل عليهم فصدقهم بكذبهم، وأعانهم على ظلمهم، فليس مني، ولست منه، وليس بوارد علي الحوض، ومن لم يدخل عليهم، ولم يعنهم على ظلمهم، ولم يصدقهم بكذبهم، فهو مني، وأنا منه، وهو وارد علي الحوض*
Akan ada sepeninggalan ku para penguasa, maka siapa yang mendatanginya dan membenarkan kebohongannya, menolong atas kedzalimannya, bukan golonganku, serta aku bukan golongan dia, dan tidak akan memasuki haudh, dan siapa saja yang tidak mendatanginya, tidak menolongnya atas kedzalimannya, tidak membenarkan kebohongannya, termasuk golonganku dan akan memasuki haudh. (HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Al-Hakim)

Wa akhroja ...
*وأخرج الديلمي، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يكون في آخر الزمان علماء يرغبون الناس في الآخرة ولا يرغبون، ويزهدون الناس في الدنيا ولا يزهدون، وينهون عن غشيان الأمراء ولا ينتهون*
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Akan ada pada akhir zaman ulama’ menyeru manusia untuk cinta akhirat sedangkan ia sendiri tidak mencintainya, menyeru manusia zuhud pada dunia, ia sendiri tidak berlaku zuhud”.  (HR.Dailami)

Wa akhroja ...
*وأخرج الديلمي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن الله يحب الأمراء إذا خالطوا العلماء، ويمقت العلماء إذا خالطوا الأمراء، لأن العلماء إذا خالطوا الأمراء رغبوا في الدنيا، والأمراء إذا خالطوا العلماء رغبوا في الآخرة*
Dari Umar bin Khathab, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Alah mencintai penguasa yang berinteraksi dengan ulama’. Dan membenci ulama’ yang mendekati penguasa, karena ulama’ ketika dekat dengan penguasa yang di inginkan dunia, namun jika penguasa mendekati ulama inginkan akhiratnya”. (HR. Dailami)

Dzahaba ...
*ذهب جمهور العلماء من السلف، وصلحاء الخلف إلى أن هذه الأحاديث والآثار جارية على إطلاقها سواء دعوه إلى المجيء إليهم أم لا، وسواء دعوه لمصلحة دينية أم لغيرها. قال سفيان الثوري: « إن دعوك لتقرأ عليهم: قل هو الله أحد، فلا تأتهم » رواه البيهقي*
Mayoritas ulama salaf dan orang shalih dari kalangan khalaf berpendapat bahwa hadits-hadits dan atsar diatas berlaku secara muthlaq, baik ia diundang untuk mendatanginya atau tidak, baik ia diaundang untuk kemaslahatan dunia atau selain itu. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “ jikalau penguasa mengundangmu untuk mengajari mereka qul huwallahu ahad, maka jangan engkau datangi”. (HR. Baihaqy)

Qoola ...
*قال البخاري في تاريخه: « سمعت آدم بن أبي إياس يقول: شهدت حماد بن سلمة ودعاه السلطان فقال: اذهب إلى هؤلاء! لا والله لا فعلت »*
Imam bukhari menyebutkan dalam kitab tariknya, “ aku mendengar Adam bin Abi Iyas berkata,” “ aku menyaksikan hamad bin Masalamah, ketika itu ia diundang penguasa, ”datangilah mereka,” beliau menjawab,” Demi Allah, aku tidak akan melakukannya”.

Warowaa ...
*وروى غنجار في تاريخه عن ابن منير: أن سلطان بخاري، بعث إلى محمد بن إسماعيل البخاري يقول: احمل إليّ كتاب « الجامع » و « التاريخ » لأسمع منك. فقال البخاري لرسوله: « قل له أنا لا أذل العلم، ولا آتي أبواب السلاطين فإن كانت لك حاجة إلى شيء منه، فلتحضرني في مسجدي أو في داري*
Ghinjar meriwayatkan di kitab tarikhnya, dari Ibnu Munir, “ penguasa Bukhara mengutus seseorang untuk mendatangi Imam Bukhari, seraya berkata, bawakan kepadaku kitab Al Jami (Shahih Bukhari) dan kitab Tarikh supaya aku dapat mendengar darimu, Imam Bukhari menjawab, “ katakan padanya, aku tidak akan menghinakan ilmu, dan aku tidak akan mendatangi pintu-pintu penguasa, jika ia butuh sesuatu dari kitab tersebut, suruh ia mendatangi masjid atau rumahku”.

Wa qoola ...
*وقال ابن باكويه الشيرازي في « أخبار الصوفية»: « حدثنا سلامة بن أحمد التكريني أنبأنا يعقوب ابن اسحاق، نبأنا عبيد الله بن محمد القرشي، قال: كنا مع سفيان الثوري بمكة، فجاءه كتاب من عياله من الكوفة: بلغت بنا الحاجة أنا نقلي النوى فنأكله فبكى سفيان. فقال له بعض أصحابه: يا أبا عبد الله! لو مررت إلى السلطان، صرت إلى ما تريد! فقال سفيان: « والله لا أسأل الدنيا من يملكها، فكيف أسألها من لا يملكها*
Telah bercerita Ibnu Bakawaih Asy-Syairazi dalam Akhbar Shufiyah, “ telah berkata kami Salamah bin Ahmad at-Tukrini, mengabarkan pada kami Ya’qub bin Ishaq , mengabarkan pada kami Ubaidillah bin Muhammad A-Qurasyi, ia berkata,” kami bersama Sufyan Ats-Tsauri di Makkah, tiba-tiba datang surat dari keluarganya di Kufah, yang berisi, “ kami ditimpa kesusahan ekonomi sampai kami menggoreng kulit biji-bijian kemudian memakannya, “ maka Sufyan menangis setelah membacanya, lalu sebagian sahabatnya memberi saran kepadanya, “ Wahai Abu Abdillah ! Kalau seandainya engkau mau mendatangi  penguasa, pastinya dapatkan apa yang engkau inginkan,” Imam Sufyan At-Tsauri menimpali, “Demi Allah, aku tidak meminta dunia kepada yang memilikinya (Allah), maka bagaimana mungkin aku memintanya pada yang tidak memilikinya”.

Wa qoola ...
*وقال محمد ابن مسلمة:  الذباب على العذرة، أحسن من قارئ على باب هؤلاء*
Muhammad bin Maslamah berkata, “ lalat di atas kotoran lebih baik dari ulama yang berada di pintu penguasa”.

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis satu bab tetang berinteraksi dengan penguasa, dan hukum mendekati mereka, beliau rahimahullah berkata, “ ketahuilah bahwa interaksimu terhadap penguasa dan pejabat yang dhalim, ada tiga keadaan,

keadaan pertama, adalah yang paling buruk yaitu memasuki pintu-pintu penguasa.

Yang kedua, yang bahayanya lebih sedikit, yaitu ia berusaha mendekatimu.

Yang ketiga, yang paling selamat, engkau menjauhi mereka, engkau tidak melihatnya, begitupula sebaliknya.

Adapun yang pertama, maka sangat tercela dalam syariat, dengan adanya beberapa ancaman dan peringatan sebagaimana disebutkan dalam hadits dan atsar diatas, berkata Sufyan Ats-Tsauri, “ di neraka ada suatu lembah yang tidak dihuni kecuali oleh para ulama yang mendekati pintu-pintu raja”. (kl/pm)
WAllahu 'alam...