Rabu, 02 Mei 2018

JAMA’AH YANG WAJIB DIIKUTI (2)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Mencari Jama'ah Yang 'Alaikum Biljama'ah, Yang Wajib Diikuti Sampai Mati ...

DALIL JAMA'AH :

Dari Ibnu Umar ra berkata :
خَطَبَنَا عُمَرُ بِالْجَابِيَةِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قُمْتُ فِيكُمْ كَمَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِينَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ الرَّجُلُ وَلَا يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلَا يُسْتَشْهَدُ أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمْ الْمُؤْمِنُ. رواه الترمذي 
"Umar telah memberi khotbah kepada kami di Jabiyah. Ia berkata : "Wahai manusia, sungguh aku berdiri di tengah-tengah kalian seperti Rasulullah SAW berdiri di tengah-tengah kami. Rasulullah bersabda : "Aku wasiatkan kepada kalian, ikutilah sahabatku, lalu orang-orang berikutnya (tâbi'în), lalu orang-orang berikutnya (tâbi'it tâbi'în). Kemudian akan banyak dusta, sehingga laki-laki bersumpah padahal tidak diminta sumpahnya, laki-laki bersaksi padahal tidak diminta kesaksiannya. Ingat, tidaklah laki-laki bersepian dengan perempuan kecuali pihak ketiganya adalah setan. Kalian harus bersama Jama'ah dan jauhilah kelompok pecahan. Karena setan itu bersama satu orang, sedang dari dua orang setan lebih jauh. Siapa saja yang menginginkan tinggal di tengah-tengah surga, maka tetaplah pada Jama'ah. Dan barang siapa yang disenangkan oleh kebaikannya serta disusahkan oleh keburukannya, maka itulah orang mukmin yang sebenarnya". HR Turmudzi dan lainnya.

Diantara perkara yang menunjukkan pentingnya Jama'ah, berpegangan dengan Jama’ah, dan bahaya meninggalkan Jama’ah :

Pertama :
Hadits imam Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
من خرج من الطاعة وفارق الجماعة فمات فميتته جاهلية
"Siapa saja yang telah keluar dari taat (kpd amîrul mu'minîn/ imam a'zham/ khalifah) dan meninggalkan Jama’ah (jama'atul muslimîn), lalu ia mati, maka kematiannya adalah jahiliyyah".

Miturut Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bâriy-nya (7/13), bahwa yang dimaksud mati jahiliyah ialah mati dalam keadaan maksiat, bukan mati kafir, lantaran tidak memiliki imam yang ditaati.

Kedua :
Siapa saja yang memisahkan diri dari Jama’ah dan meninggalkan agama, maka darahnya boleh dialirkan.
عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال : قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وإني رسول الله إلا بإحدى ثلاث النفس بالنفس والثيب الزاني والمارق من الدين التارك للجماعة.» . متفق عليه
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : "Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku Rasulullah, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara, (1) (membunuh) jiwa (dibalas) dengan jiwa, (2) orang yang telah menikah masih berzina (zina muhshon), dan (3) orang yang keluar dari agama, yang meninggalkan Jama’ah". HR Bukhari Muslim.

Imam Nawawi rh berkata :
والتارك لدينه المفارق للجماعة فهو عام في كل مرتد عن الإسلام بأي ردة كانت فيجب قتله إن لم يرجع إلى الإسلام، قال العلماء ويتناول أيضا كل خارج عن الجماعة ببدعة أو بغي أوغيرهما وكذا الخوارج والله أعلم" . ( شرح النووي على مسلم: 11/ 165 ).
"Term orang yang meninggalkan agama yang memisahkan diri dari Jama’ah, itu umum mengenai setiap orang murtad dari Islam dengan kondisi murtad bagaimana pun, maka ia wajib dibunuh ketika tidak kembali kepada Islam. Ulama berkata, juga mencakup setiap orang yang keluar dari Jama’ah dengan bid'ah, bughot dan lainnya, juga kaum khawarij. Wallohu A’lamu".

SIAPAKAH JAMA'AH ITU ?

Ulama berselisih dalam menentukan siapa Jama’ah yang dimaksud dalam sejumlah hadits. Imam Abu Ishaq Asysyâthibi dalam kitab Al I'tishômnya (1/478) telah mendatangkan lima pendapat :

Pertama :
Jama'ah yang dimaksud adalah Sawad A’zhom dari kaum Muslim. Inilah pendapat Abu Ghôlib, bahwa Sawad A'zhom adalah firqoh Najiyah. Masuk dalam pendapat ini para mujtahid, para ulama serta para pengikutnya. Setiap muslim yang keluar dari Jama'ah mereka adalah orang-orang yang syadzdz (menyendiri) yang diburi dan kuasai setan. Dan masuk pada golongan mereka, adalah semua ahli bid'ah, karena menyelisihi umat Islam sebelumnya, mereka tidak masuk ke dalam Sawad A'zhom dengan kondisi bagaimanapun.

Kedua :
Jama'ah itu adalah Jama'ah para imam dan ulama mujtahid. Siapa saja yang keluar dari pendapat mereka, maka ia mati dalam kondisi jahiliyah, karena Jama’ah Allah adalah para ulama dimana Allah telah menjadikan mereka sebagai hujjah atas umat manusia.

Ketiga :
Jama'ah itu adalah Jama'ah para sahabat secara khusus.

Keempat :
Jama'ah itu adalah Jama'ah ahli Islam, kaum Muslim, dimana ketika mereka telah bersepakat (berijmak) atas suatu perkara, maka wajib atas ahli agama-agama yang lain mengikutinya. Mereka adalah golongan yang Allah telah menjamin kepada Nabi-Nya SAW untuk tidak mengumpulkannya di atas kesesatan.

Kelima :
Pendapat yang dipilih oleh Imam Thobari, bahwa Jama’ah itu adalah Jama'atul Muslimîn ketika mereka telah berkumpul di dalam kepemimpinan seorang amîr (amîrul mu'minîn/ imam a'zham / khalifah).

Rasulullah SAW telah menyuruh dengan menetapi amîr Jama'ah serta melarang dari meninggalkan umat Islam ketika mereka telah bersepakat mengangkat seorang amir atas mereka, karena memisahkan diri dari mereka itu tidak lebih dari salah satu dua kondisi;
(1) Adakalanya karena mengingkari umat dalam ta'at kepada amirnya, mencela amirnya dengan tanpa sebab yang dibenarkan, dalam perjalanannya yang disukai rakyat, tetapi hanya dengan takwil membuat-buat bid’ah seperti golongan Harubiyyah.
2) Adakalanya menuntut kepemimpinan dari amir Jama'ah yang telah sah dibai'at. Ini adalah merusak dan membatalkan janji setelah wajib dipenuhi (karena baiat adalah janji).

Semua pendapat diatas bertemu dan berkisar pada dua titik, yaitu al Ittiba' (mengikuti Sunnah Nabi SAW dan Sunnah sahabat) dan katagori Ahlussunnah (pengikut Sunnah Nabi dan Sunnah sauabatnya). Abu Ishaq berkata : "Lima pendapat tersebut berkisar diatas katagori Ahlussunah dan al Ittibâ', karena merekalah yang dikehendaki oleh sejumlah hadits yang menuturkan Jama’ah. Wallohu A’lamu.

Kesimpulannya :
Sesungguhnya Jama'ah itu kembali kepada kondisi berkumpul bersatu dibawah kepemimpinan seorang imam yang sesuai Kitab Alqur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Karena berkumpul bersatu diatas dasar selain Kitab dan Sunnah adalah keluar dari makna Jama'ah yang disebut dalam semua hadits Jama’ah, seperti golongan Khawaarij dan sesamanya. (Sathibi, Al I'tishôm, 1/480).

Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Ibnu Jarîr Aththobari rh. Setelah menuturkan sejumlah pendapat terkait makna Jama'ah, Imam Thobari berkata : "Yang tepat ialah, bahwa yang dikehendaki dari hadits adalah menetapi Jama'ah yang taat kepada seorang amir dimana mereka telah sepakat mengangkat (dan membaiat)nya. Siapa saja yang merusak baiatnya, maka ia keluar dari Jama’ah". (Tuhfatul Ahwadzy, 6/321).

TAHUN JAMA'AH

Tahun Jama’ah ini termasuk fakta yang menjadi objek Tahqîqul Manâth dan sebagai dalil pendukung atas pendapat bahwa yang dikehendaki dengan Jama’ah yang dibicarakan banyak hadits adalah Jama'atul Muslimîn yang bersatu di bawah kepemimpinan seorang amir (amîrul mu'minîn / imam a'zham / khalifah dalam sistem khilafah).

Tahun Jama’ah ialah tahun 41 H / 661 M. dimana Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra berhenti dari memerangi Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam sejak masa Umar bin Khoththob. Muawiyah menolak membaiat Ali bin Abi Thalib khalifah Alkhulafâ Arrôsyidîn keempat, dengan argumen bahwa Ali tidak menjatuhkan sangsi atas para pembunuh Utsman bin Affan khalifah Alkhulafâ Arrôsyidîn ketiga.

Dan dengan turun tahtanya Hasan, urusan pemerintahan berpindah ke Muawiyah dan sejak itu Muawiyah sah menjadi Khalifah bagi kaum Muslimîn. Dan berdirilah daulah Bani Umayyah yang dinisbatkan kepada Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Daulah Bani Umayyah berkuasa selama 90 tahun (41-132 H / 661-750 M). Dan ibu kota pemerintahan pun dipindah dari Madinah Rasulullah SAW di Hijaz ke Damaskus di Syam. (Disarikan dari kitab Târîkhul Khulafâ' karya Assuyuthi).

PENUTUP :

Dari rangkaian pembahasan di atas, sangat jelas, bahwa yang dikehendaki dengan Jama’ah yang wajib ditaati, yang 'alaikum biljama'ah, adalah Jama'ah kaum Muslimîn yang bersatu dan berkumpul di bawah kepemimpinan seorang amir sebagai amîrul mu'minîn / imam a'zham / khalifah, tentu dalam sistem khilafah. Bukan jama'ah-jama'ah yang lain seperti jama'ah organisasi, partai politik, sosial, yasinan, tahlilan, rotiban dan sejenisnya. Bukan jama'ah warga khilafah palsu, khilafah organisasi. Dan bukan jama'ah sholat berjama'ah.

Kesimpulan makna Jama'ah sebagai Jama'atul Muslimîn yang bersatu di bawah kepemimpinan seorang amîrul mu'minîn, inilah yang terpilih, karena bisa memasukkan semua pendapat ulama diatas dari kesatu sampai keempat. Karena didalam Jama'atul Muslimîn ada sahabat, ada para imam mujtahid beserta para muqollid dan muttabiknya sebagai Sawad A'zhom, ada para imam hadits serta para muhaddits yang lainnya, ada para imam shufiyyah yang lurus, ada para mujahid yang gagah berani, dan ada yang lainnya dari orang-orang alim dan shaleh yang mengamalkan ilmunya.

Ketika Jama'ah yang dimaksud oleh hadits tidak ada seperti saat ini, karena tidak adanya amir sebagai amîrul mu'minîn / imam a'zham / khalifah dalam sistem khilafah,  maka kewajiban kaum Muslim adalah menetapi Jama'ah yang sedang berusaha, berjuang dan berdakwah untuk mewujudkan Jama'atul Muslimîn dan untuk menegakkan sistem khilafah, serta wajib taat kepada amirnya. Karena kewajiban taat kepada amir itu mencakup kewajiban mengangkat amir ketika tiadanya, atau kewajiban bernaung di bawah sistem khilafah itu mencakup kewajiban menegakkan khilafah ketika tiadanya. Dan sepengetahuan serta dengan keyakinan alfaqîr penulis, Jama’ah tersebut adalah Hizbut Tahrir yang metode dakwahnya tidak menyimpang dari metode dakwah Rasulullah SAW pada pase Makkah sehingga berhasil menegakkan daulah Islam di Madinah yang kemudian berganti nama menjadi Khilafah Rosyidah Mahdiyyah, Khilafah 'alâ Minhâjin Nubuwwah . Wallohu A’lamu Bishshawâb []