Rabu, 28 Februari 2018

TIGA MACAM ULAMA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Berikut adalah pembagian fakta ulama di dalam kehidupan, masyarakat dan negara:
Al'ulamaa' ...
العلماء ثلاثة أقسام : عالم ملة وعالم دولة وعالم أمة.
أما عالم الملة : فهو الذي ينشر دين الإسلام ويفتي بدين الإسلام عن علم وﻻ يبالي بما دل عليه الشرع أوافق أهواء الناس أم لم يوافق.
وأما عالم الدولة : فهو الذي ينظر ماذا تريد الدولة فيفي بما تريد الدولة ولو كان في ذلك تحريف كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم.
وأما عالم الأمة : فهو الذي ينظر ماذا يرضى الناس إذا رأى الناس على شيء أفتى بما يرضيهم ثم يحاول أن يحرف نصوص الكتاب و السنة من أجل موافقة أهواء الناس. نسأل الله أن يجعلنا من علماء الملة العاملين بها.
( شرح رياض الصالحين،  4 / 307-308 ).
"Ulama itu ada tiga bagian; ulama agama, ulama negara (pemerintah) dan ulama umat (masyarakat);

Pertama: Ulama agama ialah ulama yang menyebarkan agama Islam dan berfatwa dengan agama Islam. Dia tidak peduli dengan apa yang telah ditunjukkan oleh syara', apakah sesuai dengan hawa nafsu manusia atau tidak sesuai.

Kedua: Ulama negara ialah ulama yang memperhatikan apa yang dikehendaki oleh negara. Lalu ia berfatwa sesuai kehendak negara. Meskipun pada fatwanya itu merubah Kitabulloh dan Sunnah Rasulullah SAW.

Ketiga: Ulama umat ialah ulama yang memperhatikan apa yang menyenangkan umat, dimana ketika umat melihat sesuatu, maka ia berfatwa dengan sesuatu yang menyenangkan umat. Kemudian ia berusaha merubah nash-nash Alkitab dan Assunnah agar sesuai hawa nafsu manusia.

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita dari golongan ulama agama yang mengamalkan agama". (Aamiin).

( Syaikh 'Utsaimin rh, Syarah Riyaadhush Shoolihiin, 4 / 307 - 308 ).

Ulama bagian pertama adalah ulama akhirat. Sedang ulama bagian kedua dan ketiga adalah ulama suu', ulama salathin atau ulama dunia.

Mungkin ada yang berkata, "Abulwafa Romli kok suka menukil dari perkataan atau kitab ulama Wahhabi". Saya telah belajar dan berhasil, untuk mengambil dan menerima haq dari siapapun datangnya, karena hakekatnya haq itu kan punya Alloh SWT. Dan untuk menolak bathil dari siapapun datangnya. Saya telah berhasil menghilangkan 'ashobiyyah dari dalam dadaku, dan melemparkannya dari kepalaku.

Sabtu, 24 Februari 2018

ISLAM BUKAN SEBATAS RUKUN ISLAM DAN RUKUN IMAN

ISLAM BUKAN SEBATAS RUKUN ISLAM DAN RUKUN IMAN
Oleh: Rokhmat S. Labib

Ada yang menarik dalam sidang gugatan HTI terhadap Kemenkumhan di PTUN pada hari Kamis 22/2 lalu. Dalam sidang yang menghadirkan Prof. Dr. KH Didin Hafidzuddin sebagai Ahli itu, pihak pemerintah mengajukan banyak pertanyaan.

Di antaranya adalah pertanyaan tentang khilafah. “Apakah khilafah termasuk dalam rukun Iman atau rukun Islam?” Dijawab oleh Prof Didin, “Tidak.” Kemudian bertanya lagi, “Jika demikian, mengapa khilafah disebut sebagai ajaran Islam?” Prof kembali menjawab, “Kan banyak kewajiban dalam Islam yang tidak termasuk dalam rukun Islam. Misalnya, kewajiban menutup aurat.” Alhamdulilah, Prof Didin mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang ringkas, singkat, dan tepat.

Yang justru mengherankan adalah mengapa pertanyaan seperti itu bisa muncul.

Menjadi lebih aneh ketika pertanyaan itu merupakan respon terhadap penjelasan Prof Didin sebelumnya tentang kriteria sebuah kelompok dapat dikatagorikan menyimpang. Di antara cirinya adalah orang atau kelompok yang menambahkan rukun Iman dan rukun Islam. Sementara HTI tidak ciri-ciri tersebut.

Lantas pihak pemerintah menanyakan pun perihal tersebut. Ketika HTI mengatakan bahwa khilafah adalah ajaran Islam, padahal tidak termasuk dalam rukun Islam dan rukun Iman, bukankah itu berarti menambah rukun Iman atau rukun Islam?

Dengan pertanyaan itu seolah mereka ingin mengatakan bahwa HTI pun bisa dikatagorikan sebagai kelompok menyimpang karena menambahkan rukun Iman yang enam dan rukun Islam yang Islam dengan ajaran khilafah.

Sebegitu awamkah mereka terhadap Islam, sehingga memahami bahwa ajaran Islam hanya sebatas rukun Islam dan rukun Islam?

Patut dicatat bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Semua perkara dijelaskan kedudukan hukumnya. Sehingga untuk mengatur kehidupan ini tak memerlukan sistem lainnya. Allah Swt berfirman:
أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا
Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu dengan terperinci?  (QS al-An’am [6]: 114).

Menjelaskan ayat ini, Syihabuddin al-Alusi berkata, “Di dalamnya terdapat penjelasan tentang yang haq dan yang batil, yang halal dan yang haram, serta berbagai hukum lainnya sehingga tidak ada satu pun perkara agama yang rancu dan samar. Maka kebutuhan apa pun sesudah itu merujuk kepada hukum tersebut.”

Dalam akhlak, Islam memerintahkan amanah, memenuhi janji, bersikap adil, berbakti kepada orang tua, menolong orang yang membutuhkan, dan lain-lain , sebaliknya melarang berkata dusta, berbuat khianat, ingkar janji, berbuat dzalim, dan lain-lain.

Sementara dalam soal makanan dan minuman, Islam memerintahkan umatnya untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang dihalakan sekaligus menjauhi yang diharamkan, seperti bangkai, darah, babi, khamr, binatang buas yang bertaring, dan lain-lain.

Sedangkan dalam pakaian, Islam juga telah menetapkan batas aurat bagi pria dan wanita untuk ditutup. Juga memberikan beberapa ketentuan khusus tentang pakaian, seperti diharamkannya laki-laki mengenakan emas dan sutra, serta wajibnya wanita mengenakan jilbab dan kerudung.

Dalam soal pergaulan pria wanita, Islam mensyariatkan pernikahan dan memberikan pengaturan kehidupan keluarga, sekaligus mengharamkan zina, bergaul bebas, hubungan sejenis, dan semacamnya.

Dalam pengaturan harta, Islam membolehkan jual-beli, sewa-menyewa, syirkah, bertani,berburu, dan lain-lain. Sebaliknya Islam mengharamkan riba, judi, korupsi, menipu, dan lain-lain dalam mendapatkan harta.

Islam juga memerintahkan dakwah, melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menerapkan syariah dalam kehidupan, dan berjihad, sekaligus memberikan ancaman keras bagi siapa pun yang meninggalkannya.

Dalam memberantas kriminalitas, Islam juga menetapkan hukuman yang wajib diterapkan bagi pelaku kriminal. Sebagai contoh, Islam menetapkan hukuman cambuk 100 kali atau rajam bai pelaku zina, potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pelaku pembunuhan  dilakukan dengan sengaja, dan lain-lain.

Semua perkara itu adalah ajaran Islam. Sebagian dijelaskan dalam al-Quran, sebagian lainyya di dalam al-Sunnah. Ada pula diambil dari Ijma’ Sahabat dan Qiyas Syar’i. Penjelasan tentang berbagai perkara itu dapat dijumpai dalam kitab-kitab fiqh dan berbagai kitab lainnya.

Begitulah Islam. Tidak hanya sebatas rukun iman dan rukun Islam.

Maka sungguh aneh jika ada orang Muslim yang menolak khilafah sebagai ajaran Islam hanya karena tidak termasuk dalam rukun Iman dan rukun Islam.

Jika demikian, betapa banyak ajaran Islam yang harus ditolak dan dibuang, bahkan dianggap menyimpang hanya karena tidak ada dalam rukun Iman dan rukun Islam.

Tentang khilafah, amat banyak dalil yang mewajibkannya sehingga tidak ada perbedaan di antara para ulama tentangnya. Para ulama sepakat bahwa khilafah adalah wajib. Kewajiban tersebut berdasarkan syara’, dan bukan berdasarkan akal.

Saya tidak perlu mengulang-ulang penjelasan tersebut. Cukup saya kutipkan penjelasan Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim tentang hal ini. Beliau berkata:

Wa ajma'uu ...
وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِب عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْب خَلِيفَة وَوُجُوبه بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ ، وَأَمَّا مَا حُكِيَ عَنْ الْأَصَمّ أَنَّهُ قَالَ : لَا يَجِب ، وَعَنْ غَيْره أَنَّهُ يَجِب بِالْعَقْلِ لَا بِالشَّرْعِ فَبَاطِلَانِ
Dan mereka (kaum Muslimin) sepakat bahwa wajib atas kaum Muslimin untuk mengangkat seorang khalifah. Kewajiban tersebut berdasarkan syara’, dan bukan berdasarkan akal. Adapun apa yang diriwayatkan dari al-Ashamm yang berkata, “Tidak wajib,”  dan dari lainnya yang mengatakan bahwa itu adalah kewajiban berdasarkan akal, maka kedua pendapat tersebut adalah batil (al-Imam al-Nawawi, Syar-h Muslim ‘alâ al-Nawâwi. Vol. 6/291).

Inilah penjelasan ulama mu’tabar tentang khilafah. Penjelasan serupa juga dinyatakan oleh para ulama mu’tabar lainnya, seperti Imam al-Qurthubi, Imam ‘Ala’uddin al-Kasani, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam al-Jazairi, Imam al-Mawardi, Imam Ibnu Hazm, dan lain-lain.

Walhasil, tidak ada seorang pun ulama mu’tabar yang menolak wajibnya khilafah, apalagi menentangnya.

Jika demikian, siapakah sesungguhnya yang bermasalah:

Apakah kelompok yang menerima dan mendakwahkan ajaran Islam secara utuh atau pihak yang membatasi Islam hanya sekadar rukun Islam dan rukun Iman serta menghalangi ajaran Islam lainnnya didakwahkan?

Semoga kita diberikan petunjuk Allah Swt untuk bisa menjawabnya dengan benar.

WaL-lah a’lam bi al-shawab.[]

Selasa, 20 Februari 2018

HTI PENGAMAL PANCASILA SEJATI

*HTI PENGAMAL PANCASILA SEJATI​​*

_Oleh : ​KH. Dr. Ir. Achmad Nawawi, MA
(MUI Depok)​_
​Selama bergaul dg syabab Hizbut Tahrir, saya tidak menemukan bhw HTI anti Pancasila atau tuduhan2 miring lainnya.​

​Analisa ringan saya ttg ide yg ditawarkan HTI dg Pancasila sbb:​
​1. Pada sila pertama dr Pancasila jelas terlihat bhw HTI memiliki komitmen kuat utk mempertahankan kalimat tauhid. Pada sila pertama ini ditunjukkan bhw kalimat ​"Ketuhanan Yang Maha Esa"​ adalah kalimat Tauhid, yakni​ لاإله إلا الله.
​2. Pada sila ke-2 kemanusiaan yang adil dan beradab, HTI selalu menunjukkan keadilan, bahkan menuntuk keadilan di semua sektor kehidupan sbg masukan kpd penyelenggara negara. Tujuannya adalah agar negeri ini (Indonesia) menjadi bangsa yg menjadi yg terdepan dlm menegakkan keadilan hukum, ekonomi, pendidikan, dll. Begitu juga HTI menginginkan agar bangsa kita sbg bangsa yg terdepan dalam adab (berakhlak mulia). Dan ini juga (beradab) telah dimainkan oleh para syabab HTI. Mereka para pemuda gerakan Islam yg memuliakan dan melayani ulama, para tokoh, mengedepankan tata krama sopan santun dan berdialog utk kemajuan. Hal ini saya secara pribadi merasakan kehangatan persaudaraan tsb. Inilah yg membuat HTI dicintai alim ulama (para kyai, habaib, ustadz) dan para tokoh.​

​3. Pada sila ke-3, saya tidak pernah mendengar dr para aktifis HTI mempermasalahkan persatuan di negeri ini. HTI sangat anti perpecahan, apalagi sampai NKRI dipecah menjadi bbrp koloni negara2 bagian kekuatan asing, spt lahirnya Papua merdeka dll. Yg terbaca justru HTI menginginkan mnjadi kuat dlm persatuan, shg tidak menutup kemungkinan negara/bangsa lain tanpa paksaan akan bergabung dg negeri kita utk melawan penjajahan di atas dunia sbg yg termaktub dlm amanah pembukaan UUD 1945.​
​4. Pada sila ke-4 malah semakin terlihat jika HTI cinta pd kepemimpinan yg hikmah dg azas musyawarah (lihat ali Imron ayat 159). Boleh saya sampaikan disini bhw tertera dlm teks pancasila tidak ada pernyataan bhw negara Indonesia dlm mempertahankan kepemimpinan menggunakan sistem demokrasi ala Barat yg liberal, yg pemilihan langsung oleh rakyat. Yang ada justeru dg PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN, yg dlm Islam ditunjuk melalui lembaga AHLU AL-HALLI WA AL-AQDI. Sy melihat bhw pembentukan MPR mrpkan representasi lembaga AHLU AL-HAALLI tsb, meskipun utk sekarang semakin menghilang peranan dan fungsinya karena adanya amandemen dari UUD 1945.​
​5. Pada sila ke-5 saya malah semakin melihat bhw HTI ingin menjadikan Indonesia mnjd negara terkuat di dunia dg mewujudkan keadilan sosial. Hal ini terbaca dg seringnya HTI menyuarakan adanya perampokan SDA Indonesia yg super kaya dan makmur, bahkan bisa dikatakan sbg surganya dunia. Dan ini oleh HTI tidak boleh dikuasai fihak asing. Jadi dlm hal ini HTI meminta pemerintah utk mengevaluasi ulang kerjasama dg pihak asing, spt dg freeport dllnya.​

Jika ​usulan HTI ini​ dijadikan rujukan para penyelenggara negara, ​​maka kemakmuran dan kenyamaan rakyat dlm arti luas akan semakin terasa. Yang merasakan bahagia tinggal di Indonesia tidak hanya pd kelompok tertentu, seperi tidak hanya umat Islam, tapi juga semua umat beragama.​​

Inilah yg disebut ​BALDAH THOYIBAH WA ROBBUN GHOFUR...​ Dan ini akan mewujudkan ​RAHMATAN LIL ALAMIN.​

Dishare dari media dakwah WA group

Via FB,Irawan An- Naufa

*​#KamibersamaHTI​*

Jumat, 16 Februari 2018

ATURAN DALAM BERDOA DAN BERZIKIR

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini tidak hanya fokus membahas aturan berdoa dan berdzikir, tetapi juga membahas setiap aktifitas ritual keagamaan yang di dalamnya terdapat doa-doa dan dzikir-dzikir, seperti tahlilan, yasinan, diba’an, sholawatan, istighotsahan, pujian setelah azan (sedang azan sunahnya harus dikeraskan, juga takbir dua hari raya), rotiban, dll. Sama saja berdoa dan berdzikir dan ritual keagamaan itu dilakukan di luar masjid atau di dalam masjid, bahkan di dalam masjid lebih utama.

Berdoa kepada Alloh SWT  itu wajib mengikuti petunjuk dan aturan dari Alloh SWT juga petunjuk dan aturan dari Rosululloh SAW, bagaimana dan seperti apa kita berdoa kepada-Nya, agar doa kita dikabulkan dan diijabah. Perhatikan firman Alloh SWT sebagai petunjuk dan aturan dalam berdoa kepada-Nya :

Ud'uu robbakum ...
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ . وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ    الْمُحْسِنِين
َ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Alloh) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan diterima). Sesungguhnya rahmat Alloh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al A’rof [7]: 55-56).

Pada dua ayat di atas, Alloh SWT telah memberi petunjuk kepada kita, yaitu TUJUH aturan dalam berdoa kepada-Nya, yaitu (agar kita berdoa dengan) :

Pertama; Tadhorru’an / berendah diri, tidak dengan sombong kepada-Nya dan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan menolak haq dan meremehkan para pembawa dan penyeru haq.

Kedua; Khufyatan / bersuara lembut, samar dan kalem, tidak dengan suara kasar dan keras, apalagi pakai sepeaker yang membuat bising dan gaduh.

Wa qoola ...
وقال الحسن البصري : لقد أدركنا أقوامًا ما كان على الأرض من عمل يقدرون أن يعملوه في السر، فيكون علانية أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء، وما يُسمع لهم صوت، إن كان إلا همسا بينهم وبين ربهم، وذلك أن الله تعالى يقول: { ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ } وذلك أن الله ذكر عبدًا صالحا رَضِي فعله فقال: { إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا } .
Hasan Bashri berkata: “Sungguh kami telah menjumpai banyak kaum, dimana tidak ada amalan di atas bumi yang mereka mampu mengerjakannya secara rahasia. Maka amalan itu dikerjakan secara terang-terangan selamanya. Sungguh dulu kaum muslim itu bersungguh-sungguh dalam berdoa dan suara mereka tidak terdengar, kecuali sekedar bisikan diantara mereka dan Tuhan mereka. Hal tersebut karena Alloh SWT berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Dan hal itu karena Alloh telah menyebut hamba yang sholeh yang Alloh ridho dengan perbuatannya. Alloh berfirman: “Yaitu tatkala ia (Zakaria) berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”. (QS Maryam [19]: 3). (Ibnul Mubarok, al Zuhd, hal. 45, dan Tafsir Thobari, 5/514).

Ketiga; ‘Adamul I’tidaa’ / tidak melampaui batas/ berlebihan, baik terhadap yang dimintanya atau cara memintanya. Melampaui batas terhadap yang dimintanya seperti minta kepada Alloh agar menghidupkannya sampai hari kiamat, minta dihilangkan dari lapar dan haus, minta bisa bernafas di dalam air dll. Sedang melampaui batas terhadap cara memintanya seperti meminta dengan mengeraskan suara atau pakai sepeaker.

Wa qoola ...
وقال عبد الملك بن عبد العزيز بن جُرَيْج : يكره رفع الصوت والنداء والصياحُ في الدعاء، ويؤمر بالتضرع والاستكانة .
“Berkata Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij : “Dibenci (Alloh) mengeraskan suara, memanggil dengan suara tinggi dan menjerit dalam berdoa, dan diperintah (Alloh) berdoa dengan merendahkan diri dan suara yang tenang/kalem”. (Tafsir Thobari, 5/207).

Dan perhatikan petunjuk berdoa dari Rosululloh SAW:
عن أبي موسى الأشعري قال: رفع الناس أصواتهم بالدعاء، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أيها الناس، ارْبَعُوا على أنفسكم؛ فإنكم لا تدعون أصمَّ ولا غائبًا، إن الذي تدعونه سميع قريب
Dari Abu Musa Asy’ari ra, beliau berkata: “Dulu orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdoa. Lalu Rosululloh saw bersabda: “Wahai manusia, kasihanilah diri kamu, karena kamu tidak sedang berdoa kepada tuhan yang tuli dan tidak pula berdoa kepada tuhan yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kamu berdoa kepada-Nya itu Maha Mendengar dan Yang Dekat”. (HR Bukhori [2992] dan Muslim [2704]).

Keempat; ‘Adamul Ifsaad fil ardhi / tidak membuat kerusakan di muka bumi. Membuat kerusakan di muka bumi dalam berdoa ialah seperti berdoa dengan suara keras lagi kasar, seperti dengan memakai pengeras suara atau sepeaker, sehingga membuat bising, gaduh dan mengganggu juga menzalimi orang-orang di sekitarnya atau tetangganya.

Kelima; Khaufan / rasa takut tidak akan diterima doanya, atau takut kepada murka dan azab-Nya, karena ia telah berbuat maksiat dan munkar lalu ia berdoa kepada-Nya, atau berdoa sambil mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang-orang di sekitarnya. 

Keenam; Thoma’an / harapan akan diterima doanya, atau penuh harap kepada anugerah dan rahmat-Nya karena ia telah mengerjakan berbagai ketaatan kepada-Nya.

Ketujuh; Ihsaan / berbuat baik, baik sebelum berdoa seperti bertawasul dengan amal saleh seperti sedekah, ketika berdoa seperti berdoa dengan yang baik dan tidak mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang-orang di sekitarnya, dan setelah berdoa seperti tsiqoh dan yakin dianya diijabah serta tidak terburu-buru dengan mengatakan bahwa Alkah tidak mengijabah doanya; berbuat baik kepada diri sendiri atau kepada orang-orang di sekitarnya atau tetangganya.

Lalu bagaimana kita berdzikir kepada Alloh SWT?

Berdzikir dan berdoa pada umumnya selalu dilakukan secara bersamaan, dan pada keduanya nama-nama Alloh juga disebut-sebut, maka keduanya wajib mengikuti petunjuk dari Alloh SWT dan dari Rosululloh SAW. Perhatikan petunjuk berdzikir dari firman-Nya :

Wadzkur ...
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ  تَضَرُّعًا وَخِيفَة وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (QS Al A’rof [7]: 205).

Sedang kalimat “dan dengan tidak mengeraskan suara / wa dunal jahri minal qauli”, maka Imam Qurthubi berkata :
(وَدُونَ الْجَهْرِ) أَيْ دُونَ الرَّفْعِ فِي الْقَوْلِ. أَيْ أَسْمِعْ نَفْسَكَ، كَمَا قَالَ:" وَابْتَغِ بَيْنَ ذلِكَ سَبِيلًا " أَيْ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْمُخَافَتَةِ. وَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ مَمْنُوعٌ .
“(Wa dunal jahri), yakni dengan tidak mengeraskan suara, yakni dengarkanlah kepada dirimu saja, sebagaimana Dia berfirman : “dan carilah jalan tengah diantara kedua itu” (QS Al Isroo [17]; 110), yakni diantara mengeraskan suara dan merendahkannya. (firman) ini menunjukkan bahwa mengeraskan suara dengan dzikir itu terlarang”. (Tafsir Al Qurthubi, 7/355).

Terkait penggalan ayat pada ibarot Al Qurthubi diatas, lengkapnya sebagai berikut :
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخافِتْ بِها وَابْتَغِ بَيْنَ ذلِكَ سَبِيلاً 
“Katakanlah: “Serulah Alloh atau serulah Arrohman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik. Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya itu”. (QS Al Isroo [17]; 110).

Maksudnya, janganlah membaca ayat-ayat Alqur’an dalam sholat terlalu keras atau terlalu rendah, tetapi cukuplah sekedar dapat  didengar oleh makmum.

Penutup:
Perlu diingat, bahwa kita berdzikir dan berdoa kepada Alloh Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Kita berdzikir dan berdoa kepada Alloh, bukan kepada selain Alloh dari tuhan-tuhan sesembahan orang-orang musyrik, bukan kepada tuhan yang tuli dan buta, dan bukan kepada tuhan yang jauh dan ghaib. Ingat, kita berdoa dan berdzikir kepada Alloh!

Karena itu, kita harus berdoa dan berdzikir sesuai perintah dan larangan Alloh. Alloh telah memerintahkan agar kita berdzikir dan berdoa dengan tadhorru’an (berendah diri), khufyatan (suara lembut), khoufan (takut), thoma’an (penuh harap) dan ihsan (berbuat baik). Dan Alloh telah melarang berdzikir dan berdoa dengan i’tidaa’ (melampaui batas / berlebihan), ifsaad (membuat kerusakan), jahar (suara keras) dan mukhofatah (suara terlalu rendah).

Kita juga harus memahami, kita ber-amal karena Alloh atau karena manusia, kita bermunajat dengan Alloh atau dengan manusia, agar kita tidak terjatuh ke dalam syirik kecil yaitu riya, karena sudah jelas bahwa ber-amal dengan syirik itu justru mendapat dosa dan jauh dari pahala. Maka ketika amal itu berupa doa dan dzikir, pasti tertolak dan sia-sia, bahkan mendapatkan dosa. Apalagi ketika doa dan dzikir itu mengandung kerusakan dan kezaliman terkait dengan haq adami atau hak sesama manusia. Na’uudzu billaah tsumma na’uudzu billaah ...

Wallohu a’lam bish showaab.