Kamis, 28 Desember 2017

MENGENAL UMMATAN WASATHON

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kritik tajam terhadap golongan (penganut) ide Islam Nusantara.

Ummatan wasathon itu bukan golongan penganut Islam moderat yang liberal, bukan golongan penganut Islam nusantara yang sekular, dan bukan golongan tengah di antara Islam dan Nasrani, di antara Islam dan Yahudi, di antara Islam dan Budha, di antara Islam dan Hindu atau agama musyrik yang lainnya, yang menolak dakwah penegakkan khilafah rosyidah. Karena semuanya itu adalah sikap dan sifat nifaq bagi orang-orang munafiq. Padahal ummatan wasathon adalah umat Islam yang berpegang teguh (mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan) terhadap dien Islam yang apa adanya yang tidak dikurangi dan tidak pula ditambah-tambah, yaitu Islam Kaffah yang hanya bisa tegak dengan Khilafah Rosyidah.

Pengertian ummatan wasathon harus dikembalikan kepada asalnya, yaitu Alqur’an dan tafsirnya yang benar :  Allah SWT berfirman :
 وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS Albaqoroh [2] : 143).

Terkait tafsir ummatan wasathon, Imam Ibnu Katsir berkata :
 لنجعلكم خيار الأمم، لتكونوا يوم القيامة شُهَداء على الأمم؛ لأن الجميع معترفون لكم بالفضل. والوسط هاهنا: الخيار والأجود، كما يقال: قريش أوسطُ العرب نسباً وداراً، أي: خيرها. وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم وسطا في قومه، أي: أشرفهم نسبا، ومنه الصلاة الوسطى، التي هي أفضل الصلوات، وهي العصر، كما ثبت في الصحاح وغيرها، ولما جعل الله هذه الأمة وسطاً خَصَّها بأكمل الشرائع وأقوم المناهج وأوضح المذاهب، كما قال تعالى: { هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ } [ الحج : 78]  
“Agar Kami jadikan kamu sebaik-baik umat, agar kamu pada hari kiamat menjadi saksi atas perbuatan seluruh umat, karena seluruh umat mengakui keutamaan kalian. Kata Alwasath / wasathon di sini bermakna pilihan dan terbaik, seperti dikatakan ; “Quraisy itu lebih wasathnya orang Arab, nasab dan tempat tinggalnya”, yakni sebaik-baik orang Arab. “Rasulullah SAW adalah wasathon pada kaumnya”, yakni yang termulia nasabnya. Termasuk makna sholatul wustho, yakni sholat yang paling utama, yaitu sholat ‘ashar, sebagaimana tetap dalam hadits-hadits shohih dan lainnya. Ketika Allah SWT telah menjadikan umat ini ummatan wasathon, maka Allah telah mengkhususkannya dengan syariat yang paling sempurna, manhaj yang paling kokoh, dan madzhab yang paling jelas. Sebagaimana Allah juga berfirman : “Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrohim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Alqur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia...”. (QS Alhajj [22] : 78). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/454, Syamilah).

Imam Syamsuddiin Alqurthubi (w. 671 H) di dalam kitabnya Aljaamik li Ahkaamil Qur’an / Tafsir Qurthubi berkata :
قوله تعالى : {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً} المعنى : وكما أن الكعبة وسط الأرض كذلك جعلناكم أمة وسطا ، أي جعلناكم دون الأنبياء وفوق الأمم. والوسط : العدل ، وأصل هذا أن أحمد الأشياء أوسطها. وروى الترمذي عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم في قوله تعالى : {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً} قال : "عدلا". قال : هذا حديث حسن صحيح. وفي التنزيل : {قَالَ أَوْسَطُهُمْ} [القلم : 28] أي أعدلهم وخيرهم ... ... ...  ووسط الوادي : خير موضع فيه وأكثره كلأ وماء. ولما كان الوسط مجانبا للغلو والتقصير كان محمودا ، أي هذه الأمة لم تغل غلو النصارى في أنبيائهم ، ولا قصروا تقصير اليهود في أنبيائهم. وفي الحديث : "خير الأمور أوسطها".  
“Firman Allah SWT, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan”, artinya, dan sebagaimana Ka’bah adalah tengahnya bumi, demikian pula Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang tengah (adil dan pilihan), yakni Kami jadikan kamu di bawah derajat para nabi dan di atas umat-umatnya. Makna wasath (tengah) adalah adil. Asalnya, bahwa perkara yang paling terpuji adalah tengah-tengahnya. Imam Turmudzi telah meriwayatkan dari Abi Sa’id Alkhudri dari Nabi SAW mengenai tafsir firman Allah SWT, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam) umat yang tengah (adil dan pilihan)”, beliau bersabda : “Yang adil”. Atturmudzi berkata : “Hadis hasan atau sahih”. Dan di dalam Alqur’an, “Qoola awsathuhum / barkatalah yang paling tengah diantara mereka” (Alqolam [68] : 28), yakni orang yang paling adil dan pilihan. ... ...

Tengahnya jurang itu sebaik-baik tempat dan yang lebih banyak rumput dan airnya. Ketika tengah itu jauh dari ghuluw (berlebihan) dan taqshir (sembrono / meremehkan) , maka tengah itu terpuji. Yakni umat Islam ini tidak ghuluw seperti umat Nasrani terhadap nabi-nabinya, dan tidak taqshir seperti umat Yahudi terhadap nabi-nabinya. Di dalam hadits, “Sebaik-baik perkara adalah tengah-tengahnya”. (Tafsir Qurthubi, 2/153, Syamilah).

Dari dua kitab tafsir di atas disimpulkan, bahwa makna ummatan wasathon ialah; 1) umat yang adil dan yang terbaik  (pilihan), 2) umat yang memiliki syariat yang paling sempurna, manhaj yang paling kokoh dan madzhab yang paling jelas, dan 3) umat yang tidak ghuluw (berlebihan) seperti umat Nashrani terhadap nabi-nabinya, dan tidak taqshir (sembrono) seperti umat Yahudi terhadap nabi-nabinya.

DUA KUNCI DARI AYAT TERKAIT 
(untuk mengenal ummatan wasathon) :

Kunci pertama ; ”li takuunuu syuhadaa’ ‘alannaas / agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia”. Kata syuhadaa’ adalah bentuk jamak taksir dari kata syahiid (saksi). Tentu syarat menjadi saksi itu harus adil. Ummat wasathon adalah umat terbaik karena keadilannya. Maka kebalikannya, bahwa  umat yang tidak adil itu bukan ummatan wasathon meskipun dari umat Islam sendiri. Sehingga ummatan wasathon itu umat terbaik dari umat Islam sebagai umat terbaik. Ummatan wasathon adalah umat yang adil dan dengan keadilannya mampu bersaksi dan berkata sesuai Alqur’an dan Alhadits, bahwa umat-umat non Islam seperti Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha dll. adalah orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, mereka adalah seburuk-buruk makhluk dan tempat mereka di akherat adalah neraka Jahannam (baca Alqur’an suroh Albayyinah [98]: 6), kecuali ketika mereka telah beriman dan beramal saleh dengan masuk ke dalam dien Islam dan menjadi orang-orang saleh. Dan bersaksi bahwa mereka yang kafir dan musyrik itu sampai mati mereka tetap kafir dan musyrik, mereka tidak memeluk Islam.

Ummatan wasathon juga mampu bersaksi dan berkata, bahwa selain agama Islam adalah agama kufur dan syirik, bahwa selain ideologi Islam adalah ideologi kufur dan syirik, bahwa selain sistem Islam adalah sistem kufur dan syirik, bahwa selain pemikiran Islam adalah pemikiran kufur dan syirik, bahwa selain pemahaman dan pemikiran Islam adalah pemahaman dan pemikiran kufur dan syirik, seperti agama Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha dll, seperti ideologi kapitalisme, komunisme, sosialisme, dan seperti demokrasi, HAM, liberalisme, pluralisme, singkretisme, nasionalisme, dll.

Kunci kedua ; “wa yakuunar rosuulu ‘alaikum syahiida / dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.  Rasulullah SAW menjadi saksi atas kamu (umat Islam), apakah kamu termasuk ummatan wasathon atau bukan? Apakah kamu berpegang teguh terhadap sunnahnya atau berlepas dari sunnahnya? Apakah kamu mengimani dan menerapkan ideologi Islam atau ideologi kufur dan syirik? Apakah kamu mengimani dan menerapkan sistem Islam atau sistem kufur dan syirik? Apakah kamu berpemikiran Islam atau berpemikiran kufur dan syirik? Apakah kamu berpemahaman Islam atau berpemahaman kufur dan syirik? Apakah kamu beramal soleh atau beramal buruk? Dan apakah kamu termasuk Ahisunnah Waljama’ah atau termasuk Ahli bid’ah dan hawa nafsu? Rasulullah SAW adalah saksi yang paling adil dan paling jujur. Kesaksian Rasulullah SAW terhadap umatnya, apakah termasuk ummatan wasathon atau bukan, apakah termasuk umatnya yang sesungguhnya atau umat yang ngaku-ngaku sebagai umatnya?,  sebenarnya telah dimulai sejak Beliau masih hidup di dunia ini.

Perhatikan beberapa hadits berikut :
Rasulullah SAW bersabda :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّة
“Bukan golongan kami oang yang mengajak kepada panatisme, bukan golongan kami orang yang berperang atas dasar panatisme, dan bukan golongan kami orang yang mati diatas panatisme”. (HR Abu Daud dari Jubair bin Muth’im, Aljaami’ Ashshoghir, 2 / 138, Maktabah Daaru Ihyaail Kutubil ‘Arobiyyah Indonesia).

Rasulullah SAW bersabda :
  مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ 
“Siapa saja yang meniru-niru perbuatan suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Abu Daud dari Ibnu Umar dan Thobroni dari Hudzaifah, Aljaami’ Ashshoghir, 2 / 168, Maktabah Daaru Ihyaail Kutubil ‘Arobiyyah Indonesia).

Dan dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Kaab bin ‘Ujroh : أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي
“Semoga Allah memberi perlindungan kepada kamu dari kepemimpinan sufaha (orang-orang bodoh dalam masalah agama)”. Kaab berkata : “Apa kepemimpinan sufaha itu?”, Rosul bersabda : “Para pemimpin yang ada setelahku, mereka tidak mengikuti petunjukku, dan tidak menjalankan sunnahku. Siapa saja yang membenarkan kedustaan mereka dan menolong mereka atas kezalimannya, maka mereka bukan golonganku dan aku bukan golongan mereka, dan mereka tidak datang kepadaku di telagaku. Dan siapa saja yang tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak menolong mereka atas kezalimannya, maka mereka dari golonganku dan aku dari golongan mereka, dan mereka akan datang kepadaku di telagaku”. (HR Ahmad, Musnad Ahmad, 28 / 468, Syamilah). Dan hadits-hadits serupa.

Kesimpulan dari tiga hadis di atas :
Tidak termasuk ummatan wasathon, karena keadilan mereka telah hilang sebab perbuatannya :
-Orang (muslim) yang mengajak kepada ‘ashobiyyah.
-Orang (muslim) yang berperang atas ‘ashobiyyah.
-Orang (muslim) yang mati diatas ‘ashobiyyah.
-Orang (muslim) yang meniru perbuatan suatu kaum (dari agama selain Islam).
-Pemimpin / penguasa (muslim) bodoh yang tidak mengikuti petunjuk dan tidak menjalankan sunnah Rasulullah SAW di dalam pemerintahannya.
-Pemimpin / penguasa (muslim) bodoh yang pendusta dan zalim.
-Orang (muslim) yang membenarkan kedustaan pemimpin bodoh yang suka berdusta.
-Orang (muslim) yang menolong kezaliman pemimpin bodoh yang berbuat zalim.

UMMATAN WASATHON ADALAH GOLONGAN KANAN

Ummatan wasathon adalah golongan kanan (ashhabul maimanah / ashhabul yamiin). Allah SWT di dalam Alqur’an suroh Alwaqi’ah ayat 7, 8, 9 dan 10 telah menjelaskan bahwa manusia pada hari qiamat itu hanya terbagi menjadi tiga golongan:

1- Golongan kanan (ashhabul maimanah / ashhabul yamiin). Yaitu orang-orang yang pada hari kiamat akan menerima buku catatan amal mereka dengan tangan kanan. Mereka terdiri dari segolongan besar dari orang-orang terdahulu sejak Nabi Adam AS, dan segolongan besar dari orang-orang yang kemudian dari umat Nabi Muhammad SAW.

2- Golongan kiri (ashhabul masy’amah / ashhabusy syimal / mukadzdzibun – dhollun), golongan yang mendustakan dan golongan yang sesat. Yaitu orang-orang yang pada hari kiamat akan menerima buku catatan amal mereka dengan tangan kiri. Mereka itu terdiri dari seluruh umat. Mereka adalah orang-orang kafir, musyrik, munafiq, dan fasiq, yaitu orang-orang yang mati membawa dosa besar.

3- Golongan yang paling dahulu beriman (dimulai dari Nabi Adam AS) atau golongan yang didekatkan kepada Allah (saabiquunas saabiquun / muqorrobuun). Mereka terdiri dari segolongan besar dari orang-orang terdahulu sejak Nabi Adam AS, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian, yakni dari umat Nabi Muhammad SAW.

Ternyata golongan kiri itu justru berada di nomor 2 (dua), mereka berada di tengah-tengah antara golongan kanan dan golongan sabiqun muqorrobun. Posisi ummatan wasathon tidak mungkin jatuh pada nomor 2 (dua) atau pada nomor 3 (tiga), karena ummatan wasathon adalah Ummat Muhammadiyyah, yaitu umat Nabi Muhammad SAW yang sebenarnya dan tidak diingkari oleh Nabi SAW, seperti pada hadits laysa minnaa, laysa minnaa, laysa minnaa, man tasyabbaha biqoumin, dan laysa minniy diatas. Perlu diketahui, bahwa kondisi manusia pada hari kiamat itu sesuai kondisi manusia di dunia, karena kondisi manusia pada hari kiamat adalah balasan dari kondisi manusia di dunia.

FAKTA GOLONGAN ISLAM NUSANTARA

Fakta golongan (penganut) Islam Nusantara adalah golongan Islam moderat yang liberal dan sekular, mereka golongan tengah di antara Islam dan Nasrani, di antara Islam dan Yahudi, di antara Islam dan Budha, di antara Islam dan Hindu atau agama musyrik yang lainnya. Mereka adalah golongan yang menolak Islam Kaffah, Islam yang apa adanya, Islam yang datang dari Nabi Muhammad SAW, Islam yang diamalkan oleh qurun terbaik yaitu qurun sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, Islam yang diajarkan di kitab-kitab pesantren mulai dari Fathul Qoriib, Fathul Mu’iin sampai Fathul Wahhab. Fakta golongan Islam Nusantara adalah orang-orang yang mengajak kepada ‘ashobiyyah, yang berperang atas dasar ‘ashobiyyah, yang mati diatas ‘ashobiyyah, yang meniru-niru perbuatan suatu kaum dari agama selain Islam, yang membantu atau menolong pemimpin bodoh yang suka berdusta dan zalim yang tidak mengikuti petunjuk dan tidak menjalankan sunnah Rasulullah SAW di dalam pemerintahannya. Mereka selalu berkompromi dengan para penguasa dusta dan zalim kebalikan dari golongan kanan.

Fenomena umat Islam dalam kasus Ahok mantan gubernur DKI Jakarta adalah petunjuk yang sangat kuat, bahwa golongan (penganut) Islam Nusantara adalah golongan kiri (ashhabul syimal) yang berhadapan dengan golongan kanan (ashhabul yamiin). Maka golongan Islam Nusantara itu sangat tidak tepat mengklaim sebagai Ummatan Wasathon. Wallohu A’lam ... ...

Abulwafa Romli
Pasuruan, 28 Desember 2017.

1 komentar: