Kamis, 26 Oktober 2017

KAJIAN TENTANG KHILAFAH TIDAK PENTING?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kaum Aswaja Sekular tidak pernah berhenti dalam melakukan pembodohan terhadap umat dan penghadangan terhadap dakwah kepada syariah dan khilafah. Kali ini saya bongkar kebodohan dan pembodohan mereka. Mereka melakukan penggembosan terhadap dakwah dengan perkataan mereka bahwa, menurut al-Imam Hujjatul Islam al-Ghazali, kajian tentang khilafah itu tidak terlalu penting. Dalam hal ini Hujjatul Islam al-Ghazali berkata:
النظر في الإمامة أيضاً ليس من المهمات، وليس أيضاً من فن المعقولات فيها من الفقهيات، ثم إنها مثار للتعصبات والمعرض عن الخوض فيها أسلم من الخائض بل وإن أصاب، فكيف إذا أخطأ.
“Kajian tentang imamah/khilafah bukan termasuk hal yang penting. Ia juga bukan termasuk studi ilmu rasional, akan tetapi termasuk bagian dari ilmu fiqih. Kemudian masalah imamah berpotensi melahirkan sikap fanatik. Orang yang menghindar dari menyelami soal imamah lebih selamat dari pada yang menyelaminya dengan benar, dan apalagi ketika salah dalam menyelaminya”.

Jawaban Saya :

Sekarang kita bandingkan dengan pernyataan al-Ghazali sebelumnya, yaitu;
بل المهم أن ينفي الانسان الشك عن نفسه في ذات الله تعالى، على القدر الذي حقق في القطب الأول، وفي صفاته وأحكامها كما حقق في القطب الثاني، وفي أفعاله بأن يعتقد فيها الجواز دون الوجوب كما في القطب الثالث، وفي رسول الله صلى الله عليه وسلم بأن يعرف صدقه ويصدقه في كل ما جاء به كما ذكرناه في القطب الرابع، وما خرج عن هذا فغير مهم. {الاقتصاد في الاعتقاد، 1 / 70}.
“Tetapi yang penting adalah seorang manusia menyingkirkan keraguan dari dirinya tentang Zat Allah sesuai kadar yang telah ditetapkan pada poros pertama, tentang sifat-sifat-Nya serta hukum-hukumnya sebagaimana telah ditetapkan pada poros kedua, tentang af’al (perbuatan)-Nya, dengan meyakininya sebagai kewenangan, bukan kewajiban (atas Allah) sebagaimana telah ditetapkan pada poros ketiga, dan tentang Rasulullah SAW, dengan mengetahui kebenarannya serta membenarkannya pada semua perkara yang telah dibawanya, sebagaimana telah kami tuturkan pada poros keempat, dan selain itu adalah tidak penting”.

Dengan demikian, kita dapat mengetahui perkara yang dianggap penting oleh Imam Ghazali dalam kitab terkaitnya, yaitu perkara yang berhubungan dengan keyakinan terhadap Zat, Sifat dan Af’al Allah, juga dengan mengetahui kebenaran utusan-Nya serta membenarkan semua perkara yang dibawa oleh utusan-Nya. Ini berarti ‘Tahlilan’ (berdzikir la ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah) setiap saat. Berarti kajian tentang shalat, puasa, zakat, dll. juga tidak penting, sama tidak pentingnya dengan kajian tentang imamah.

Imam Ghazali dalam pernyataannya memakai kata al-Nazhru yang juga bisa diartikan dengan merenungi dan memikirkan, yang bisa dilakukan setiap saat, dan aktifitas ini hanya baik dilakukan dan dianggap penting ketika terkait dengan empat perkara di atas, yaitu terkait ketuhanan dan kerasulan. Artinya sudahkah kita mengimani Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang benar? Sudahkah kita mengimani dan mengamalkan semua yang telah dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah dari Allah? Ini yang penting direnungi dan dipikirkan setiap saat. Dan kita telah mengerti bahwa shalat, puasa, sampai menegakkan khilafah untuk menerapkan hukum-hukum Allah yang telah dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah adalah kewajiban besar yang harus kita kerjakan, karena semuanya termasuk perkara yang telah dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah dari Allah. Maka yang penting terkait shalat, puasa sampai menegakkan khilafah adalah melaksanakan atau menegakkannya dengan baik dan ikhlas, tidak perlu direnungi dan dipikirkan setiap saat.

Justru yang lebih sangat tidak penting adalah penggembosan terhadap Hizbut Tahrir yang sedang berdakwah untuk menegakkan khilafah untuk menerapkan syariat secara sempurna, tetapi kenapa kaum Aswaja Sekular terus menerus melakukannya. Apakah sudah lupa dengan pernyataan Imam Ghazali di atas? Atau makna al-Nazhru adalah benar seperti disampaikan oleh mereka, yaitu ‘kajian/mengkaji’, akan tetapi yang dimaksud bukan kajian terhadap kewajiban menegakkan khilafah dan mengangkat khalifahnya, tetapi kajian terhadap siapa khalifahnya, layak apa tidak, adil apa zhalim, sah apa tidak. Yakni kajian menyangkut pribadi khalifahnya. Jadi ini yang dapat menimbulkan sikap fanatik terhadap seseorang yang menjabat sebagai khalifah, dan dianggap berbahaya. Apalagi kalau dilakukan oleh orang-orang Syiah yang sangat fanatik kepada keturunan Sayyidina Ali RA, sehingga menganggap yang lain tidak sah. Sebagaimana kajian terhadap siapa presidennya, layak apa tidak, sah apa tidak dan adil apa zhalim, dilakukan pada masa orde baru yang diktator, ini sangat berbahaya dan berisiko, karena dapat mengusik ketenangan dan kewibawaan presiden, dan membuat marah orang-orang yang selama ini fanatik kepada presiden.

Dan bandingkan lagi denan pernyataan Imam Ghazali setelahnya:
النظر فيه يدور على ثلاثة أطراف: الطرف الأول: في بيان وجوب نصب الإمام. ولا ينبغي أن تظن أن وجوب ذلك مأخوذ من العقل، فإنا بينا أن الوجوب يؤخذ من الشرع..... ، ولكنا نقيم البرهان القطعي الشرعي على وجوبه ولسنا نكتفي بما فيه من إجماع الأمة، بل ننبه على مستند الإجماع ونقول: نظام أمر الدين مقصود لصاحب الشرع عليه السلام قطعاً، وهذه مقدمة قطعية لا يتصور النزاع فيها، ونضيف إليها مقدمة أخرى وهو أنه لا يحصل نظام الدين إلا بإمام مطاع فيحصل من المقدمتين صحة الدعوى وهو وجوب نصب الإمام. {الاقتصاد في الاعتقاد: 75}.
“Kajian tentang imamah itu berkisar menjadi tiga kelompok: Kelompok pertama dalam menjelaskan kewajiban mengangkat imam (khalifah). Tadak layak anda berasumsi bahwa kewajiban itu diambil dari akal. Sesungguhnya kami telah menjelaskan bahwa kewajiban itu diambil dari syara’ (agama/Islam)..., akan tetapi kami akan menegakkan bukti syara’  yang pasti atas kewajiban itu, dan kami tidak mencukupkan diri dengan kewajibannya dari ijmak umat Islam, tetapi kami akan memperingatkan terhadap sandaran ijmak itu. Kami berkata: “Pengaturan perkara agama itu dikehendaki oleh pemilik syara’ SAW secara pasti, ini adalah premis yang pasti yang tidak terbayangkan ada perselisihan padanya. Dan kami menambahkan kepadanya premis yang lain, yaitu; Sesungguhnya pengaturan agama tidak akan berhasil kecuali dengan seorang imam yang ditaati. Lalu dari dua premis itu terjadilah kebenaran dakwa berupa  kewajiban mengangkat imam”.     

Dari pernyataan ini, saya dapat menyimpulkan bahwa dalam pandangan Imam Ghazali mengangkat khalifah adalah kewajiban agama yang dalilnya pasti (qath’iy), bahkan termasuk dalilnya adalah Ijmak. Oleh karena itu, tidak sedikit dari Ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang memasukkan pembahasan imamah ke dalam kitab-kitab aqidah, yang di antaranya adalah kitab al-Hushun al-Hamidiyyah yang banyak dikaji di pondok-pondok pesantren, karena dalil wajibnya menegakkan khalifah adalah dalil yang qath’iy seperti dalil akidah yang harus qath’iy. 

Dan bandingkan pula dengan pernyataan Imam Ghazali setelahnya:
ولهذا قيل: الدين والسلطان توأمان، ولهذا قيل: الدين أس والسلطان حارس وما لا أس له فمهدوم وما لا حارس له فضائع.....، فبان أن السلطان ضروري في نظام الدنيا، ونظام الدنيا ضروري في نظام الدين، ونظام الدين ضروري في الفوز بسعادة الآخرة وهو مقصود الأنبياء قطعاً، فكان وجوب نصب الإمام من ضروريات الشرع الذي لا سبيل إلى تركه فاعلم ذلك. {الاقتصاد في الاعتقاد، 1 / 76}.
“Oleh karena itu, dikatakan: “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar”, dan karena itu,  dikatakan: “Agama adalah pondamen dan kekuasaan adalah penjaga. Apa saja  yang tidak memiliki pondamen akan roboh, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang….. Maka telah nyata bahwa kekuasaan itu dibutuhkan dalam pengaturan dunia, pengaturan dunia dibutuhkan dalam pengaturan agama, dan pengaturan agama dibutuhkan dalam meraih kebahagiaan akhirat sebagai tujuan para nabi secara pasti. Jadi kewajiban mengangkat imam (khalifah) adalah termasuk kebutuhan syara’ di mana tidak ada jalan untuk meninggalkannya. Maka ketahuilah hal itu!”

Dengan demikian telah nyata bahwa pencomotan pernyataan Imam Ghazali oleh mereka, untuk menyalahkan dakwah syariah dan khilafah oleh Hizbut Tahrir adalah salah sasaran, dan merupakan sikap ekstrem dan berlebih-lebihan yang keterlaluan. Justru pernyataan al-Ghazali secara lengkap telah menghantam mereka yang selama ini sangat elergi terhadap perjuangan menegakkan khilafah.

KAJIAN TENTANG KHILAFAH ITU TIDAK PENTING, KARENA YANG PENTING ITU MENEGAKKAN KHILAFAH

KAJIAN TENTANG DEMOKRASI DAN MENEGAKKAN DEMOKRASI SANGAT TIDAK PENTING, KARENA DEMOKRASI ITU SISTEM KUFUR, TAPI KENAPA MEREKA SANGAT GETOL MELAKUKANNYA?!

Wallahu a'lam

Selasa, 17 Oktober 2017

DUA MACAM HUBBUL WATHAN

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Hubbul wathan (cinta tanah air) itu bukan wathaniyyah (nasionalisme).
Fakta hubbul wathan itu bersifat pribadi-pribadi karena termasuk indikasi naluri bertahan (gharizatul baqaa') dimana setiap insan memilikinya, seperti cinta kepada rumah, kendaraan dan milik kita yang lainnya, termasuk cinta kepada diri kita sendiri, dan setiap insan juga punya wathan (tanah air) sendiri-sendiri yang dicintainya.

Sedang fakta wathaniyyah itu bersifat bersama dan persatuan diantara banyak suku dan golongan, bahkan diantara banyak penghuni pulau-pulau. Wathaniyyah itu terkait erat dengan kondisi berbangsa dan bernegara, bukan dalam kondisi ber-agama, karena tanpa wathaniyyah pun ber-agama lebih mudah dan ukhuwwah dieniyyah diantara ummat Islam di seluruh dunia lebih kokoh. Maka hakekat wathaniyyah adalah berdirinya puluhan negara nasional yang memiliki penguasa, sistem serta kepentingannya sendiri-sendiri.

Perlu di pahami, bahwa wathan adalah tempat kita dilahirkan, dan kampung halaman tujuan kita ketika mudik, seperti Mekah sebagai wathan Rasulullah SAW yang dicintainya. Adapun wathaniyyah adalah negara nasional kita yang di dalamnya terdapat puluhan, ratusan sampai ribuan wathan, maka cinta Rasulullah SAW kepada Madinah itu bukan hubbul wathan dan bukan pula wathaniyyah, tetapi hubbu daaril hijrah wal ahlihi (cinta negara tempat hijrah / negara Islam dan keluarganya), karena saat itu kaum muslimiin hanya memiliki satu negara. Sedang wathaniyyah itu ketika kaum Muslim telah memiliki banyak negara yang memiliki penguasa dan sistem sendiri-sendiri. Karena itu, negara mereka disebut sebagai negara nasional, dan sikap berlebihan membela negara nasionalnya, tidak negara nasional yang lainnya, maka itulah wathaniyyah.

Kembali ke hubbul wathan

Hubbul wathan itu terbagi dua; hubbul wathan minal iman dan hubbul wathan minal kufri.
Pembagian ini berangkat dari bagaimana cara kita menyikapi hubbul wathan atau bagaimana cara kita berbuat untuk hubbul wathan. Pembagian ini juga berdasar rasio kebalikan yang berlaku sebagai hukum alam atau sebagai qadha dan qadar-Nya, ada iman ada kufur, juga ada minal iman ada minal kufri, dan seterusnya.

Pertama, hubbul wathan minal iman, yakni cinta tanah air yang termasuk bagian dari iman.
Yaitu sikap serta perbuatan kita karenanya harus meneladani sikap serta perbuatan Rasulullah SAW ketika beliau mencintai Mekah sebagai wathannya. Setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah, beliau mulai berdakwah dan berjuang di wathannya, Mekah. Beliau tidak menjumpai kekufuran, kesyirikan, kezaliman atau kefasikan di sana, kecuali beliau membencinya karena Allah,  serta berdakwah dan bejuang untuk menggantikannya dengan keimanan, keikhlasan, keadilan dan kesalehan dengan tanpa paksaan dan tanpa kekerasan.

Begitu pula cinta kita kepada tanah air harus dibuktikan dengan benci kita kepada segala hal dan segala sesuatu yang merusak dan merugikan tanah air, benci karena Allah. Yaitu dengan berdakwah dan berjuang untuk mengusir dan melenyapkan penjajahan, kekufuran, kesyirikan, kezaliman, kefasikan dari tanah air, juga dengan tanpa paksaan dan tanpa kekerasan. Kemudian dengan menerapkan sistem Islam yang rahmatan lil'alamin, sistem yang menebar keadilan, sistem yang datang dari Allah Robbul 'aalamiin, sistem nubuwwah atas tanah air, seperti Mekah pasca futuhat, atau sistem khilafah rasyidah seperti pasca wafatnya beliau Nabi saw.

Kedua, hubbul wathan minal kufri, yakni cinta tanah air yang termasuk bagian dari kufur.
Yaitu sikap serta perbuatan kita yang seperti sikap serta perbuatan Abu Jahal, Abu Lahab dll. dari para penentang dan penghalang dakwah dan perjuangan Rasulullah SAW., baik di Mekah maupun di Madinah. Abu Jahal, Abu Lahab dll. tidak bisa dikatakan bahwa mereka tidak mencintai Mekah sebagai wathannya hanya karena sikap dan perbuatannya yang menentang dakwah. Sesungguhnya dua kelompok yang saling bersaing, berhadapan dan berebut pengaruh, yakni kelompok pengemban dakwah dan kelompok penghalang dakwah, semuanya itu sama-sama cinta tanah air. Sedang yang membedakan antara keduanya hanyalah sikap serta perbuatannya demi cinta tanah air.

Begitu pula mereka yang mengklaim paling cinta tanah air, bahkan yang punya lagu HUBBUL WATHAN MINAL IMAN.  Sikap serta perbuatannya justru membiarkan bahkan mendukung penjajahan, kekufuran, kesyirikan, kezaliman, kefasikan dan kerusakan atas tanah air. Mereka menolak dan menghalangi dakwah Islam Kaffah, yakni dakwah kepada syariah dan khilafah, sistem Khilafah Rasyidah yang datang dari Allah SWT. Klaim hubbul wathan minal iman mereka telah batal dengan sendirinya, yakni dengan sikap serta perbuatan mereka yang justru meneladani kelompok Abu Jahal dan Abu Lahab ...

Wallahu a'lam bishshawwab

Rabu, 11 Oktober 2017

JANGAN NUNGGU BISA BACA KITAB KUNING

Menjadi Pejuang Syari'ah dan Khilafah Bersama Hizbut Tahrir Tidak Perlu Nunggu Sampai Bisa Membaca Kitab Kuning...

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

"MEMBACA KITAB KUNING SAJA GAK BISA, KOK MAU MENDIRIKAN KHILAFAH?!".

Itu kata mereka, kaum Aswaja Sekular, ditujukan kepada syabab Hizbut Tahrir yang katanya tidak bisa baca kitab kuning.

PADAHAL :
Untuk Menjadi Pejuang Syari'ah dan Khilafah Bersama Hizbut Tahrir Tidak Perlu Nunggu Sampai Bisa Membaca Kitab Kuning, yakni Kitab Arab Gundul / Tanpa Harakat, Meskipun Sekarang Sudah Banyak Yang Putih. Karena :

1- Tidak ada dalil, baik naqli maupun aqli, bahwa semua yang berdakwah kepada syariah dan khilafah itu harus bisa membaca kitab kuning terlebih dahulu, tetapi adanya sejumlah syabab tertentu saja yang bisa baca kitab kuning sudah cukup.

2- Setelah bergabung dengan Hizbut Tahrir, justru kita akan dilatih membaca kitab kuning, karena halqah murakkazah Hizbut Tahrir mengharuskan pakai kitab kuning, maksudnya kitab Arab gundul, karena kitab-kitab Hizbut Tahrir itu putih-putih.

3- Fakta menunjukkan, bahwa pada setiap kelompok, jama'ah, organisasi atau partai tidak semua anggota dan warganya bisa baca kitab kuning. Dan pada oganisasi Aswaja Sekular Hizbut Tahlil malah mayoritas warganya juga tidak bisa baca kitab kuning dan masih diharuskan berjuang menegakkan "Negara Tahlil", maksudnya negara demokrasi yang membolehkan tahlilan dan sejenisnya, tapi melarang menerapkan sistem yang memancar dari tahlilan, bahkan bendera tahlilnya saja harus dibakar.

JUSTRU SEBALIKNYA :

BUAT APA BISA BACA KITAB KUNING KALAU MASIH MENOLAK DAKWAH ISLAM KAFFAH, DAKWAH SYARIAH DAN KHILAFAH?!

Dengan dalih akal-akalan gaya Muktazilah gaya barunya, "Saya tidak menolak Islam Kaffah, saya tidak menolak syariah dan khilafah, tapi saya menolak Hizbut Tahrir yang sesat dan menyesatkannya, bla bla bla".

Saya beritahu, ketika Anda bergabung dengan Hizbut Tahrir, maka tidak akan diajari membaca kitab KIFAAYATUL AKHYAAR dan sejenisnya, meskipun secara pribadi dianjurkan membaca kitab-kitab para ulama mujtahid dan muqollidnya, untuk memperkaya dan mempertajam tsaqafah Islam, karena membaca kitab-kitab Hizbut Tahrir saja dijamin gak habis-habis, dan karena kitab-kitab Hizbut Tahrir itu sudah lebih dari cukup sebagai bekal untuk berdakwah kepada syariah dan khilafah.

SERUAN :

Wahai kaum Aswaja Sejati, wahai kaum Aswaja Sekular, kalau Kalian ahli dalam membaca kitab kuning, maka bacalah dengan seksama kitab-kitab Hizbut Tahrir, jangan cuma mengutip potongan-potongan nya saja dari kitab-kitab atau buku ulama suu', masyayikhul fitan, kiai-ustadz fattan, dan doktor-profesor keblinger. Dan jangan cuma merujuk kepada qiila wa qaala, dikatakan begini dan kata dia begitu yang penuh dusta dan fitnah terhadap Hizbut Tahrir.

DAFTAR KITAB HIZBUT TAHRIR 

Inilah daftar kitab karya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, baik yang ditabanni oleh Hizbut Tahrir maupun tidak ditabanni :

01. Nizham al-Islam (sistem Islam)
02. Al-Takattul al-Hizbi (pembentukan partai politik)
03. Mafahimu Hizb al-Tahrir (konsepsi Hizbut Tahrir)
04. Al-Nizham al-Iqtishad fi al-Islam (sistem ekonomi Islam)
05. Al-Nizham al-Ijtima’iy fi al-Islam (sistem pergaulan Islam)
06. Nizham al-Hukmi fi al-Islam (sistem pemerintahan Islam)
07. Al-Dustur (undang-undang dasar)
08. Muqaddimah al-Dustur (pengantar undang-undang dasar)
09. Al-Daulah al-Islamiyyah (negara Islam)
10. Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, tsalatsata ajza’in (kepribadian Islam, tiga juz, juz ke 3 adalah kitab ushul fiqh yang luar biasa lengkap dan sistemiknya)
11. Mafahim Siyasiyyah li Hizb al-Tahrir (konsepsi politik Hizbut Tahrir)
12. Nazharat siyasiyyah (pandangan politik)
13. Nidaun Haar (panggilan hangat)
14. Al-Khilafah (khilafah)
15. Al-Tafkir (proses berpikir)
16. Al-Kurrasah (buku catatan)
17. Sur’atul Badihah (secepat kilat)
18. Nuqthatul Inthilaq (titik permulaan)
19. Dukhulul Mujtama’ (memasuki masyarakat)
20. Inqazhu Falesthin (menyelamatkan Palestina)
21. Risalatu ‘Arab (risalah Arab)
22. Tasalluhu Mishra ( mempersenjatai Mesir)
23. Al-Ittifaqiyat al-Tsunaiyyah al-Mishriyyah al-Suriyyah wa al-Yamaniyyah
24. Hallu Qadhiyyati Falesthina ‘ala Thariqati al-Amriqiyyah wa al-Inkiliziyyah
25. Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla (politik ekonomi ideal)
26. Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah (bantahan terhadap sosialisme marxisme)
27. Kaifa Hudhimat al-Khilafah (bagaimana khilafah dihancurkan)
28. Nizham al-‘Uqubat (sistem persanksian)
29. Ahkam al-Bayyinat (hukum pembuktian)
30. Ahkam al-Shalat (hukum-hukum shalat)
31. Naqdh al-Qanun al-Madani (bantahan terhadap undang-undang sipil)
32. Al-Fikru al-Islami (pemikiran Islam), dll.

Dan untuk mempermudah penyebarannya kitab Kaifa Hudhimat al-Khilafah, Nizham al-‘Uqubat, Ahkam al-Bayyinat, Ahkam al-Shalat, al-Fikru al-Islami Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla, Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah, dan Naqdhu al-Qanun al-Madani, ditulis atas nama syabab Hizbut Tahrir. 

Dan masih ada ribuan nasyrah pemikiran, politik dan ekonomi yang telah ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani RH. 

(Lihat: Muhammad Muhsin Radhi, Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamati Daulati al-Khilafati al-Islamiyyati, dgn pengawasan Prof. Dok. Walid Ghafuri al-Badri, hal. 28, Wizarah al-Ta’lim al-Ali wa al-Bahtsi al-Ilmi al-Jami’ah al-Islamiyyah / Kulliyyah Ushuluddin, Oktober 2006).

Wallahu a'lam bishshawwab  

Rabu, 04 Oktober 2017

ULAMA PALING BERTANGGUNGJAWAB ATAS KERUSAKAN BANGSA-BANGSA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kerusakan bangsa-bangsa di dunia khususnya di negeri Wali Songo ini dan khususnya kaum Muslim sudah sangat nyata dipandang mata dan didengar telinga sehingga tidak dapat ditutup-tutupi oleh hoax kaum komunis dan sanggahan kaum liberal. Kerusakan itu sangat nyata di semua lini kehidupan, baik privat, publik atau negara, lantaran tidak diterapkannya hukum-hukum Allah Tuhan Yang Maha Esa Pemilik langit dan bumi seisinya terkait pengaturan kehidupan tersebut. Kaum Muslim ulul albab pengemban dakwah Islam Kaffah dengan kepekaan hati dan akalnya sangat menyadari kerusakan itu begitu pula sangat paham dengan solusi pundamental, universal, final dan rahmatan lil 'alaminnya, solusi yang bisa menjadi wasilah kepada penerapan hukum Allah itu. Solusi yang menjadi problem vital (qadhiyyah mashiriyyah), yaitu mengembalikan pemerintahan sesuai Kitabullah dan Sunnah Rasulullaah, melalui penegakkan khilafah dan mengangkat seorang khalifah yang dibai'at atas dasar Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ... Karena itu, mereka berkumpul, berjamaah, berbaris, berjalan berdakwah bersama-sama menyadarkan dan mengajak umat manusia dengan tidak memandang ras, suku, warna kulit dan agamanya kepada solusi rahmatan lil'alamin itu.

Kenapa harus khilafah?
Karena kerusakan bangsa-bangsa itu disebabkan oleh rusaknya penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah dalam kekuasaannya atau oleh rusaknya pemerintah yang tidak menerapkan hukum Allah dalam pemerintahannya. Sebagai contohnya, dalam kehidupan privat dan kehidupan umum tidak sedikit dari kaum Muslim yang tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat dll., tidak menutup aurat, berzina, meminum khamer, berjudi, merampok, membunuh, menipu, memanipulasi ukuran, takaran dan timbangan, riba, dll., juga berkembang biaknya berbagai paham, aliran dan ideologi sesat. Karena di dalam kehidupan tersebut tidak diterapkan hukum Allah terkait sistem pemerintahan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem ekonomi Islam, dan sistem persanksian Islam. Sedang khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang menjadi bagian dari hukum Allah dan sangat dibutuhkan untuk menerapkan hukum Allah secara sempurna dalam semua lini kehidupan.

Namun sayangnya dakwah dan perjuangan mereka untuk menegakkan khilafah dihadang oleh bagian dari umat Islam sendiri yang dikomando langsung oleh ulama panutannya masing-masing. Dan sepanjang sejarah ulama seperti ini selalu menjadi pendukung dan penjaga penguasa yang zalim dan fasik, baik dalam sistem pemerintahan Islam atau dalam sistem monarki dan demokrasi yang bid'ah dan kufur dengan dalih penuh ilusi seperti pengamalan akidah dan ajaran Aswaja tentang kewajiban mendengar dan taat kepada ulil amri meskipun zalim dan fasik. Sebagai dampaknya sulit bagi kaum Muslim memiliki penguasa muslim yang adil dan amanah, apalagi penguasa sebagai khalifah karena dihadang oleh pasukan ulama itu. Mereka adalah ulama suu', ulama dunia atau ulama salathin. Ulama yang telah diperdaya oleh cinta harta dunia dan pangkat kedudukan sementara tapi bisa menyebabkan duka sengsara di kemudian harinya.

Imam Ghazali dalam Al Ihyaa juz 1 benar-benar telah mengkritik ulama suu' tersebut. Bahkan ulama tersebut sebagai biang kerusakan rakyat dan penguasa. Di dalam kitab Al Ihyaa’nya, Juz 2 halaman 238, beliau berkata :
maa fasadat ...
ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء
"Tidaklah rusak rakyat kecuali sebab rusaknya penguasa, dan tidaklah rusak penguasa kecuali sebab rusaknya ulama."

Dan di dalam Al Ihyaa’ Juz 2 halaman 357 beliau berkata :
fafasaadurro'aayaa...
‎ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال
"Maka rusaknya rakyat itu disebabkan oleh rusaknya penguasa, rusaknya penguasa itu disebabkan oleh  rusaknya ulama, dan rusaknya ulama itu sebab diperdaya oleh cinta harta dan kedudukan. Dan siapa yang telah terpedaya oleh cinta dunia, maka ia tidak akan mampu mengoreksi rakyat kecil, lalu bagaimana dia mengoreksi para penguasa dan pembesar? Allah-lah Tuhan Yang dimintai pertolongan atas setiap kondisi."

INILAH TIGA KARAKTER ULAMA DUNIA (ULAMA SUU')

Pertama: Ulama dunia adalah ulama suu’ (ulama yang buruk/jahat), atau ulama salathin (ulama pro pemerintah yang fasik, zalim atau kafir).
Tentang mereka Rasulullah SAW bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ مَالَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ وَيُدَاخِلُوا الدُّنْيَا، فَإِذَا خَالَطُوا السُّلْطَانَ وَدَاخَلُوا الدُنْيَا فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوْهُمْ . أخرجه الحسن ابن سفيان والعقيلي فى الضعفاء عن أنس رضي الله عنه
“Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak berinteraksi dengan pemerintah dan tidak mencampuri urusan dunia. Lalu ketika mereka telah berinteraksi dengan pemerintah dan telah mencampuri urusan dunia, berarti mereka telah berkhianat kepada para rasul, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka”. HR al-Hasan ibnu Sufyan dan al-Uqayli dari Anas ra.

Dan Nabi SAW bersabda:
 إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُخَالِطُ السُّلْطَانَ مُخَالَطَةً كَثِيْرَةً فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَصٌّ . أخرجه الديلمي فى مسند الفردوس عن أبي هريرة رضي الله عنه
“Ketika kamu melihat ada orang alim banyak berinteraksi dengan pemerinrah, maka ketahuilah bahwa dia adalah maling (pencuri)”. HR al-Daylami dari Anas ra.
 
Terkait ulama dunia, Yahya bin Mu’adz sebagai perawi hadits diatas berkata:
يَا أَصْحَابَ الْعِلْمِ قُصُوْرُكُمْ قَيْصَرِيَّةٌ، وَبُيُوْتُكُمْ كِسْرَوِيَّةٌ، وَأَثْوَابُهُمْ ظَاهِرِيَّةٌ، وَأَخْفَافُكُمْ جَالُوْطِيَّةٌ، وَمَرَاكِبُكُمْ قَارُوْنِيَّةٌ، وَأَوَانِيُكُمْ فِرْعَوْنِيَّةٌ، وَمَآثِمُكُمْ جَاهِلِيَّةٌ، وَمَذَاهِبُكُمْ شَيْطَانِيَّةٌ، فَأَيْنَ الشَّرِيْعَةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ ؟!
“Wahai ulama, istana kalian adalah istana kaisar, rumah kalian adalah rumah kisro, pakaian kalian adalah pakaian zhahiri, sepatu (sandal) kalian adalah sepatu Jalut, kendaraan kalian adalah kendaraan Qarun, bejana kalian adalah bejana Fir’aun, dosa kalian adalah dosa jahiliah, dan madzhab kalian adalah madzhab syetan. Lalu dimanakah syariat Nabi Muhammad saw?”.
 
Kedua: Ulama dunia adalah tukang fitnah.
Tentang mereka Rasulullah SAW bersabda :
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يوشك أن يأتي على الناس زمان لا يبقى من الإسلام إلا اسمه ولا يبقى من القرآن إلا رسمه مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى علماءهم شر من تحت أديم السماء من عندهم تخرج الفتنة وفيهم تعود . رواه البيهقي في شعب الإيمان
"Hampir-hampir akan datang kepada manusia suatu zaman dimana tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Alqur'an kecuali tulisannya. Masjid-masjid mereka ramai dan megah, tetapi kosong dari petunjuk. Dan ulama mereka seburuk-buruk makhluk di bawah kolong langit. Dari (mulut-mulut) ulama-lah akan keluarnya fitnah, dan kepada ulama-lah akan kembalinya (bahaya) fitnah". (HR Imam Baihaqi, Syu'ubul Iman, 4/424, Syamilah).

Ketiga: Ulama dunia adalah ulama munafik yang sangat kentara dalam menolak dakwah kepada penerapan syariah dan khilafah. Mereka ulama dunia (seperti dagambarkan oleh Nabi SAW diatas) justru berinteraksi dengan penguasa yang fasik, zalim atau kafir yang tidak menerapkan hukum-hukum syariat Islam dalam pemerintahannya. Dan terlibat dalam pemilihan serta pengangkatan para penguasa tersebut. Ujung-ujungnya ya untuk menarik duit. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau Nabi SAW menyebut mereka sebagai maling, karena uang pemerintah itu adalah dari rakyat dan untuk rakyat, lalu para ulama dunia itu mengambilnya tanpa seizin dari rakyat.

Wallahu a'lam bishshawwab