Senin, 18 September 2017

HAKEKAT BUGHAT

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Hakekat bughat adalah orang - orang atau kelompok yang menolak hukum Allah SWT.

Hakekat bughat adalah orang - orang atau kelompok yang menolak penegakkan sistem khilafah.

Bughat adalah suatu kelompok yang memiliki kekuatan, yang memberontak terhadap imam kaum muslim, yang menolak taat kepada imam kaum muslim. Imam kaum muslim di sini adalah imam a'zham yaitu khalifah, bukan presiden atau imam-imam yang lainnya, apalagi imam tahlilan dan istighotsahan. Dan bagi imam boleh memerangi bughat sampai mereka kembali kepada perintah Allah swt, dan setelah mereka kembali maka imam tidak boleh memeranginya lagi.

Dalil terkait bughat adalah firman Allah Swt : "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil". (TQS 49:9).

Syaikh Ahmad Shawi al-Maliki di dalam Hasyiyah al-Alamah al-Shawi 'ala Tafsir al-Jalaalainnya berkenaan dengan firman Allah, "Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya", beliau berkata; "Yakni menolak nasihat dan menolak menerima hukum Allah". Dan terkait firman Allah, "maka damaikanlah antara keduanya dengan adil", beliau berkata; "Yakni dengan masihat dan diajak kembali kepada hukum Allah".

Dengan memperhatikan keterangan di atas, kita memahami bahwa hakekat bughat adalah memberontak terhadap hukum-hukum Allah swt. Karena pemerintah yang sah secara syara' adalah pemerintah yang dibai'at untuk menerapkan Kitabullah Alqur'an dan Sunnah Rasulullah swt di dalam pemerintahannya, dan Allah dan Rasul-Nya telah mewajibkan taat kepadanya. Oleh karenanya, memberontak dan tidak taat kepada pemerintah yang menerapkan hukum-hukum Allah hakekatnya adalah memberontak dan tidak taat kepada hukum-hukum Allah.

Sedangkan pemerintah yang dibaiat atas dasar menerapkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah hanyalah khalifah, bukan pemerintah-pemerintah yang lainnya. Dan karenanya juga, orang-orang yang menolak penegakkan khilafah dan mengangkat serta membaiat seorang khalifah, mereka hakekatnya adalah bughat, karena hukum-hukum Alloh tidak dapat diterapkan secara kaaffah tanpa adanya khalifah.

Jadi kalau memberontak terhadap khalifah atau terhadap hukum-hukum Allah yang sedang diterapkan oleh khalifah adalah tergolong karakter bughat, maka menolak terhadap penegakkan khilafah atau terhadap penerapan hukum-hukum Allah yang belum diterapkan (oleh khalifah karena belum ada khalifah), adakah karakter bughat-bughat moderen atau neo bughat.

SUDAH SANGAT JELAS, BAHWA BUGHAT-BUGHAT SAAT INI ADALAH KELOMPOK-KELOMPOK YANG MENOLOK PENEGAKKAN KHILAFAH YANG AKAN MENERAPKAN HUKUM ALLOH SECARA SEMPURNA

Wallahu a'lam.

Minggu, 17 September 2017

MEREKA YANG LAYAK DISEBUT PENGIKUT IDEOLOGI KHAWARIJ DAN MUKTAZILAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Hanya mereka yang menolak Khilafah lah yang layak mendapat stempel Muktazilah dan Khawarij, bukan para syabab Hizbut Tahrir dan lainnya yang selama ini sangat konsen berdakwah menuju tegaknya Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah rasyidah ...

Al-Ustadz Dr. Shalah al-Shawi dlm kitabnya, al-Wajiz fi Fiqh al-Imamah al-'Uzhmaa (juz 1, hal. 13, Syamilah), menyatakan:

ittafaqa ...
اتفق أهل السنة وغيرهم من سائر الفرق الإسلامية على وجوب الإمامة  ولم يخالف في ذلك إلا شذاذ من الناس، لا يخرق بمثلهم إجماع كالنجدات من الخوارج، وأبي بكر الأصم  والغوطي من المعتزلة (3).
(3) هو هشام بن عمر الغوطي الشيباني من أهل البصرة ، وإليه تنسب فرقة الهاشمية من المعتزلة (راجع: الفرق بين الفرق، ص159). ومذهبه في الإمامة وجوب نصب الإمام عند الأمن ، وعدم وجوبه عند ظهور الفتن ، وكأنه يريد بهذا إبطال إمامة علي كرم الله وجهه لكونها انعقدت في حال اشتعال الفتنة وعقب مقتل عثمان رضي الله عنه ( راجع : أصول الدين للبغدادي ص 272). * الوجيز في فقه الإمامة العظمى *  - (1 / 13)
“Ahlussunah dan semua firqah Islam telah sepakat atas wajibnya imamah, dan tidak ada yang menyalahi kesepakatan tersebut kecuali segelintir manusia yang tidak dapat merobek ijmak, seperti sekte Najdah dari Khawarij, Abu Bakar al-Asham dan al-Ghuthi dari Muktazilah”.

Abu Bakar Asham adalah Abu Bakar Abdurrohman bin Kisan bin Asham termasuk pembesar Muktazilah generasi keenam. Sebagian peneliti meriwayatkan bahwa al-Asham itu termasuk orang yang menyatakn kewajiban menegakkan khilafah, karena ia menggantungkan tidak butuhnya manusia dari imam/khalifah itu ketika hilangnya kezaliman di antara mereka (dengan tanpa adanya imam). Sedang hilangnya kezaliman di antara manusia (dengan tanpa adanya imam) adalah mustahil, maka sesuatu yang digantungkan kepada mustahil adalah mustahil. (Dr. Muhammad Raafat Utsman, Riyasah al-Daulah, hal. 64).

Dan al-Ghuthi adalah Hisyam bin Umar al-Ghuthi asy-Syaibani dari penduduk Bashrah, dan kepadanya firqah Hasyimiyah dari Muktazilah dihubungkan. (al-Farqu bainal Firoq, hal. 159). Madzhabnya tentang imamah adalah wajibnya mengangkat Imam ketika kondisinya aman, dan tidak wajibnya mengangkat imam ketika munculnya fitnah. Sepertinya ia berkehendak membatalkan keimamam Ali ra karena terjadi ketika berkecamuknya fitnah dan setelah pembunuhan Utsman ra. (al-Baghdadi, Ushul al-Dien, hal. 272).

Dari pernyataan di atas, kita mengerti bahwa yang tidak mewajibkan imamah/khilafah adalah sekte Najdah dari Khawarij, dan Abu Bakar al-Asham dan al-Ghuthi dari Muktazilah. Padahal stigma Khawarij dan Muktazilah selama ini oleh kelompok Salafi/Wahhabi kontra dakwah penegakkan khilafah yang di-aamiini oleh kelompok Aswaja-sekular, sering sekali ditempelkan kepada Hizbut Tahrir. Sungguh keterlaluan. Wallohu a'lam.

Kamis, 14 September 2017

BUKTI PBNU BERBOHONG

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Sejak awal sudah saya duga, bahwa klaim Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI) final atau Pancasila dan NKRI final oleh PBNU hanyalah dalih / alat untuk menolak dakwah penegakkan khilafah dan untuk melanggengkan penjajahan di negeri ini. Jadi klaim final dan final itu hanyalah dusta.

Ternyata foto ini menunjukkan kebohongan PBNU yang sesungguhnya. Pasalnya kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi dinilai banyak pihak telah melanggar atau betentangan dengan Pancasila dan UUD '45, juga membiarkan separatism dan merusak kebhinekaan. Seharusnya PBNU jujur dengan klaim final dan finalnya, yaitu melawan dan menentang siapa saja yang aktifitas atau kebijakannya tidak sesuai dengan yang difinalkannya, tidak malah mendukung sepenuh hati.

Ketika Allah SWT telah mengqadha' akan kebangkitan Islam dan kaum Muslim dengan berdiri tegaknya khilafah, maka Allah pasti membongkar, mempermalukan dan mengalahkan siapa saja manusia yang berusaha menghalangi dan menggagalkannya ... ... ...

KETIKA BERTARUNG ANTARA BENAR DAN BATIL, MAKA YANG MENANG PASTI YANG BENAR

Perhatikan firman-Nya :
وقل جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا
"Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap". (QS Al Israa' [17] : 81).

PERUMPAMAAN YANG BENAR DAN YANG BATIL

Allah SWT berfirman :

"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka menglirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang haq dan yang bathil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan". (QS Ar Ra'd [13]: 17).

Jadi Allah SWT mengumpamakan yang benar dan yang batil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya. Yang benar sama dengan air atau logam murni,  sedang yang batil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia. 

Selasa, 12 September 2017

DOSEN ITU BENAR

BETUL SEKALI

"Kalau gerakan khilafah ini didiamkan yang terancam bukan hanya negara,  tapi juga agama. Karena ada politisasi agama untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu". (Abdi Kurnia Djohan, Dosen Agama di Universitas Indonesia).

Yakni, negara yang terancam adalah negara penjajah dan komunis, agama yang terancam adalah agama islam nusantara dan organisasi agama islam yang punya cabang Kristen nya, karena ada politisasi agama untuk kepentingan penjajah, komunis dan kelompok sekular ...

Sedang penganut agama Yahudi, Nasrani, Hindu dan Bhuda, maka Khilafah menjamin dan melindungi mereka, dan mereka juga diuntungkan ... asalkan menjadi warga negara khilafah yg baik ...

Kamis, 07 September 2017

DUSTA TERHADAP KH HASYIM ASY'ARI & HTI

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

(HARAKATUNA) , "Beliu (Hadhratusysyaikh KH Hasyim Asy'ari) membela negara dengan menggunakan agama. Tapi tidak melawan negara menggunakan agama". (KH Hasyim Muzadi).

Lalu seorang pembebek oknum Aswaja Sekular berkata : "HTI melawan negara dengan menggunakan (dalih) agama".

Komentar saya :

Pertama : "KH Hasyim Asy'ari membela negara dengan menggunakan agama".
Ini adalah benar. Karena KH Hasyim Asy'ari adalah sosok yang tidak diragukan ke-ulama-annya. Beliau termasuk ulama akhirat, ulama shalihiin, pewaris para nabi dan cahaya dunia. Sedang antara agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Negara butuh agama juga agama butuh negara.

Kedua : "KH Hasyim Asy'ari tidak melawan negara dengan menggunakan agama".
Berarti beliau pernah melawan negara dengan tidak menggunakan agama. Ini adalah salah dan termasuk dua tuduhan bohong terhadap KH Hasyim Asy'ari;

(1) Menuduh beliau melawan negara. Padahal yang dilawannya adalah penjajah dan negara penjajah. Karena itu beliau ditetapkan sebagai pahlawan.

(2) Menuduh beliau tidak menggunakan agama dalam sebagian aktifitas politik dan  amar makruf - nahi munkarnya. Ini adalah tuduhan konyol dan penghinaan besar terhadap beliau. Menuduh beliau sosok sekular pemeluk akidah sekularisme. Padahal dengan memeluk akidah sekularisme seorang ulama akhirat berubah 180 derajat menjadi ulama dunia, ulama suu' atau ulama salathin, yakni ulama maling (lushshun).

KH Hasyim Asy'ari juga sosok ulama Ahlussunnnah Waljamaah yang diantara keyakinannya adalah bahwa setiap perkataan dan perbuatan, setiap pendengaran dan penglihatan, dan hati yang telah menimbulkan aktifitas, semuanya dicatat oleh malaikat Roqib atau Atid, dan semuanya akan diminta pertanggungan jawabnya. Sedang aktifitas politik itu tidak diam seperti patung dan batu, tapi mendengar dengan telinga, melihat dengan mata, berjalan dengan kaki, memegang dan menulis dengan tangan, berkata dengan lisan, dan meneliti - menganalisa - menduga dengan hati (dan akal).

Allah SWT berfirman :
ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر الفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,  penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya". (TQS Al Israa' [17]: 36).

Dan Allah SWT berfirman :
ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد.
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada I dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir". (TQS Qaaf [50]: 18).

Ketiga : "HTI melawan negara dengan menggunakan (dalih) agama".
Ini adalah tuduhan palsu dan fitnah terhadap HTI. HTI tidak pernah melawan negara. Aktifitas HTI hanyalah dakwah kepada Islam kaaffah dan amar makruf - nahi munkar termasuk terhadap penguasa dalam negara. Aktifitas HTI adalah mencari dan mengajukan solusi untuk negara yang masih terjajah agar bisa benar-benar merdeka dengan kemerdekaan yang sesungguhnya.

DENGAN KHILAFAH NEGERI - NEGERI KAUM MUSLIM BISA MERDEKA DENGAN KEMERDEKAAN YANG SESUNGGUHNYA.

Dalam berdakwah dan amar makruf - nahi munkar tentu harus menggunakan dalil-dalil agama karena tugas tersebut adalah tugas kewajiban agama. Adalah pelanggaran, menunaikan tugas agama tanpa menggunakan dalil-dalil agama.

HTI ITU BUKAN PARTAI / JAMA'AH SEKULAR.

WASPADA TERHADAP POLITIK BELAH BAMBU PKI!

Senin, 04 September 2017

SUDAH SANGAT JELAS

Dari foto ini sangat jelas bahwa:
1- akidah NU dan akidah HTI berbeda
2- bernegara NU dan bernegara HTI berbeda

Padahal :
1- akidah HTI adalah akidah islamiyyah yaitu rukun iman yg enam
2- dakwah bernegara HTI khilafah yg mujma' 'alaih atas kewajiban atau kefardhuannya

http://www.abulwafaromli.com/2016/09/akidah-ht-tidak-jelas.html
http://www.abulwafaromli.com/2016/10/akidah-adalah-iman.html

Maka sdh sangat jelas:
1- bhw akidah NU itu bukan akidah islamiyyah tapi akidah sekularisme
2- bhw dakwah bernegara NU bukan khilafah tapi demokrasi yang lahir dari sekularisme

Ada satu lagi, semua muslim pasti tahu, bahwa Dien Islam itu trans nasional, lalu Islam punya NU itu dari mana? Pantesan saja ada NU cabang Kristen ... ... ...

Berarti sudah jelas juga,  bahwa NU sudah jauh dari Ahlussunnah Waljama’ah Yang Firqah Najiyah ...

SEMUANYA MAFHUM DARI PERKATAAN KH HASYIM MUZADI
MAKA JANGAN SALAHKAN SAYA YA ...

Jumat, 01 September 2017

STANDAR HALAL-HARAM DALAM BERBANGSA & BERNEGARA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Standar halal-haram dalam kehidupan adalah kewajiban final bagi kaum Muslim Ahlussunnah Waljama’ah sebagai Firqah Najiyah yang Sawad A'zham ... terlebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat menentukan nasib ratusan juta masyarakat warga negara.

Standar halal-haram wajib diterapkan untuk menentukan bentuk sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pergaulan, sistem pendidikan, sistem persanksian, politik luar negeri,  asas negara, UUD dan undang-undang yang lainnya.

Terkait halal-haram, Rasulullah SAW bersabda :
عن سلمان الفارسي قال سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن السمن والجبن والفراء قال الحلال ما أحل الله في كتابه والحرام ما حرم الله في كتابه وما سكت عنه فهو مما عفا عنه . رواه ابن ماجه
Dari Salman Al Farisy, ia berkata : "Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai minyak samin, keju dan himar liar, beliau bersabda : "Halal ialah sesuatu yang telah dihalalkan oleh Alloh di dalam kitab-Nya, haram ialah sesuatu yang telah diharamkan oleh Alloh di dalam kitab-Nya, sedang sesuatu yang Allah diam darinya maka termasuk perkara yang Allah memaafkannya". HR Ibnu Majah.

Oleh karenanya, memalsukan halal-haram, yakni menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, termasuk dosa besar, karena mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Allah SWT berfirman :
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُون
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang - orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung". QS An Nahl [16]: 116.

Contoh menerapkan standar halal - haram dan berbangsa dan bernegara ialah dengan menerapkan sistem pemerintahan Islam / khilafah, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem persanksian Islam, politik luar negeri Islam / dakwah dan jihad,  asas negara Islam / akidah Islamiyah, UUD Islam dan undang-undang yang lainnya yang islami.

MEREKA BUKAN AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH

Siapa saja dan kelompok / organisasi apa saja yang telah memalsukan halal - haram maka mereka telah keluar dari golongan Ahlussunnah Waljama’ah. Perhatikan sabda-sabda berikut :َ

'an 'auf bin maalik ...
عن عوف بن مالك - رضي الله عنه - ، قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : " ستفترق أمتي على بضع وسبعين فرقة ، أعظمها فرقة قوم يقيسون الأمور برأيهم فيحرمون الحلال ويحللون الحرام ". رواه الحاكم وقال : " هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ، ولم يخرجاه .
Dari 'Auf bin Maalik RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Umatku akan terpecah menjadi lebih 70 kelompok,  dimana yang paling besar kelompoknya adalah kaum yang menganalogkan perkara agama dengan pendapatnya. Akibatnya mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram". HR Hakim. Dalam riwayat lain:

'an 'auf bin maalik ...
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " تَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى بِضْعٍ وَسَبْعِينَ ، أَعْظَمُهَا فِتْنَةً عَلَى أُمَّتِي , قَوْمٌ يَقِيسُونَ الأُمُورَ بِرَأْيِهِمْ فَيُحِلُّونَ الْحَرَامَ وَيُحَرِّمُونَ الْحَلالَ " . رواه البيهقي في المدخل إلى السنن الكبرى
Dari 'Auf bin Maalik Al Asyja'iy RA, ia berkata : "Rasulullah SAW bersabda : "Umatku akan terpecah menjadi lebih 70 kelompok,  dimana yang paling besar fitnahnya atas umatku adalah kaum yang menganalogkan perkara agama dengan pendapatnya. Akibatnya mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal". HR Baihaqi.

Ternyata pada dua hadits diatas golongan yang paling besar dan yang paling jago menebar fitnah terhadap Umat Islam adalah kaum yang menganalogkan perkara agama dengan pendapat (hawa nafsu) nya dan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Jadi merekalah pemalsu halal - haram.

Contoh memalsukan halal - haram ialah dengan menolak sistem pemerintahan Islam / khilafah, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem persanksian Islam, politik luar negeri Islam / dakwah dan jihad,  asas negara Islam / akidah Islamiyah, UUD Islam dan undang-undang yang lainnya yang islami. Lebih dari itu mereka mengatakan PANCASILA FINAL, UUD '45 FINAL, NKRI FINAL, BHINEKA TUNGGAL IKA FINAL, DEMOKRASI ISLAM, PLURALISME - SINKRETISME ISLAM, FINAL, FINAL DAN FINAL ... YANG ISLAM DITOLAK, YANG KUFUR DAN SYIRIK DIFINAL-FINALKAN ... Bukan salah Pancasila ... ...nya, tapi FINAL, FINAL, FINAL-nya itu yang salah FATAL ...

STANDAR HALAL - HARAM ITU WAJIB DAN PERLU

Meskipun amal ibadah mahdhah kita minim, ketika dalam kehidupan, berbangsa dan bernegara kita menerapkan standar halal - haram, maka kita dijamin masuk surga. Perhatikan baik-baik Rasulullah SAW bersabda :
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : أرأيت إذا صليت المكتوبات ، وصمت رمضان ، وأحللت الحلال ، وحرمت الحرام ، ولم أزد على ذلك شيئا ، أأدخل الجنة ؟ قال : نعم رواه مسلم .
Dari Jabir bin Abdullah RA (berkata), Bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, ia berkata : "Apa pendapat tuan, ketika aku telah mengerjakan shalat maktubat, telah berpuasa Ramadhan, telah menghalalkan yang halal, dan telah mengharamkan yang haram, dimana saya tidak menambahkan atasnya sesuatu, apakah saya akan masuk surga?". Rasul berkata : "Ya". (HR Muslim, Arba'iin Nawawy).

Pada hadits tersebut seorang lelaki hanya memiliki dua amalan ibadah mahdhah, yaitu shalat fardhu dan puasa fardhu tidak lebih, tapi ia menerapkan standar halal - haram, yaitu menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram di dalam kehidupannya. Rasulullah SAW menjaminnya masuk surga ...

Wallahu a'lam ...

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!