Kamis, 31 Agustus 2017

BISAKAH MENGAMALKAN PANCASILA?

BISAKAH MENERAPKAN NILAI-NILAI PANCASILA

BANGKITPOS.COM, JAKARTA - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengingatkan semua kalangan agar nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan tak hanya sekedar slogan.

Hal itu disampaikan Zulkifli Hasan dalam Saat menyampaikan pidato dalam acara temu kangen alumni dan diskusi panel Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana di Jakarta, Sabtu, demikian keterangan pers yang diterima di Jakarta.

Ketua MPR RI mengatakan Pancasila telah disepakati sebagai sebuah komitmen bersama. Untuk itu, Pancasila hendaknya menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menjalankan nilai-nilai Pancasila maka akan tumbuh kehidupan bernegara yang baik sehingga kepercayaan antara pemerintah dan rakyat akan terbentuk.

"Kepercayaan akan muncul kalau kebijakan pusat sampai daerah berlaku adil untuk semua. Kebijakan yang sebenar-benarnya memperhatikan nasib rakyat," paparnya.

Sementara itu terkait dengan kehidupan di kampus, Ketua MPR berharap universitas sebagai salah satu tempat cendekiawan bisa menyiapkan sumber daya manusia yang unggul yang mampu bersaing hingga tingkat global.

Hadir dalam acara tersebut Rektor Unkris Dr. Abdul Rivai, Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Unkris Dr. Mahmuddin Yasin serta civitas akademika Fakultas Ekonomi Unkris. [atr]

=========================================================================

KOMENTAR SAYA :

Ketika Pancasila itu diambil dari nilai-nilai Islam atau Pancasila itu islami, maka :

1. Dengan mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan Islam, nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan dengan sempurna, dan kebaikan dunia - akhirat bisa diraih, meskipun tidak ada niat dan tanpa menyebut Pancasila-nya.

2. Hanya dengan tujuan atau niat mengamalkan nilai-nilai Pancasila, maka nilai-nilai Pancasila tidak akan bisa diamalkan, karena untuk mengamalkannya butuh Iman, amal dan dakwah kepada Islam.

BUKTINYA ORANG-ORANG YANG MENGKLAIM PALING PANCASILAIS TERNYATA MEREKA YANG PALING JAUH DARI NILAI-NILAI PANCASILA.

Ketika Pancasila itu tidak diambil dari Islam atau tidak islami, maka :

1. PANCASILA TIDAK AKAN PERNAH BISA DIAMALKAN SAMPAI KAPANPUN.
Karena mayoritas kaum Muslim pasti menolaknya dan Allah Tuhan Yang Maha Esa tidak akan pernah ridha terhadap pengamalannya.

2. PANCASILA HANYA BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK MENGHALANGI IMAN, AMAL DAN DAKWAH KEPADA ISLAM KAFFAH.
Yakni dijadikan alat untuk menghalangi dakwah kepada penegakkan Khilafah Rosyidah Mahdiyyah.

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

Minggu, 27 Agustus 2017

KHILAFAH SISTEM TERBAIK WAJIB DIAMBIL

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Maaf kalau saya keliru, bahwa mereka yang menolak Khilafah dalil-hujjahnya hanya mentok sampai kepada "SAMPAH PERKATAAN" yang "HUWA QOILUHA", bahwa Khilafah betentangan dengan kesepakatan bangsa, bahwa Khilafah betentangan dengan Pancasila, bahwa Khilafah mengkhianati kesepakatan / janji para pendahulu bangsa, dan sejenisnya.

Selanjutnya dikait-kaitkan dengan kewajiban menepati janji. Ciri-ciri munafik salah satunya adalah ingkar janji atau merusak janji para pendahulu bangsa yang bagi mereka adalah USWATUN HASANAH mengalahkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Miris memang.

Apakah mereka masih belum sadar, bahwa sistem pemerintahan yang katanya telah dibangun diatas EMPAT PILAR KEBANGSAAN dan yang katanya berdasarkan Pancasila ... itu sudah tidak relevan dan sudah kedaluwarsa, karena ibarat rumah sudah tidak bisa menjadi pelindung dari isi rumah. Maling dan perampok dengan sangat mudahnya memasuki rumah itu dan menjarah semua yang ada di dalamnya. Kita butuh inovasi untuk merenovasi rumah kita dengan yang terbaik sehingga terpenuhi keamanan dan keselamatan ...

Sejatinya slogan itu telah terpatri di dalam khazanahnya dan dikumandangkan terus menerus dari pendahulu sampai penerusnya. Simak baik-baik lantunannya :

Almuhaafazhah ...
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
"MELESTARIKAN YANG LAMA YANG BAIK, DAN MENGAMBIL YANG BARU YANG LEBIH BAIK"

Terkait sistem pemerintahan, Khilafah bisa masuk kepada YANG LAMA YANG BAIK, juga bisa masuk kepada YANG BARU YANG LEBIH BAIK. Khilafah sudah ada jauh-jauh tahun sebelum NKRI ada, maka Khilafah adalah yang lama yang baik yang harus dilestarikan, dilestarikan. Kemudian setelah NKRI ada, maka Khilafah bisa mengganti NKRI yang pada awalnya dianggap baik, sehingga Khilafah menjadi yang baru yang lebih baik yang harus diambil dan diterapkan. Jadi mafhum slogan itu juga butuh diinovasi agar mudah untuk menginovasi. Mudahkan?

Mengingatkan saya, ketika pertama kali saya memasuki Pondok Pesantren Asrorul Kholil Bangkalan Madura, di papan pintu gerbangnya tertulis seperti syair ini :

Asysyaa'ir ...
الشاعر المتوكل الكناني القائل :
إنا وإن كرمت أوائلنا ... لسنا على الأحساب نتكل
نبني كما كانت أوائلنا ... تبني ونفعل مثل ما فعلوا
Sang Penyair Almutawakkil Alkinaniy berqoil:
"Sesungguhnya kami, meskipun para pendahulu kami tokoh-tokoh mulia
Sama sekali kami tidak bersandar kepada garis keturunan
Kami membangun sebagaimana para pendahulu kami
membangun dan kami berbuat seperti mereka berbuat".

INGAT DAN INGAT
Para pendahulu bagi kita kaum Muslim, kaum Mukmin, kaum Muhsin dan Ahlussunnah Waljama’ah adalah Rasulullah SAW, Para Sahabatnya, Para Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in. Merekalah Qurun terbaik yang bergelar Assalaf Ashshalih, PENDAHULU KITA YANG BAIK. Titik.

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

Sabtu, 26 Agustus 2017

DOKUMEN FOTO

Khilafah betentangan dengan Pancasila

Foto ini saya simpan baik-baik dan saya ingat baik-baik sebagai bukti bahwa ke-Islam-an Pancasila patut dipertanyakan dan dicurigai ...

Mengingat ke-Islam-an Khilafah sudah tidak perlu dipertanyakan dan dicurigai lagi. Sejak qurun Assalaf Ashshalih dalil-dalil kewajiban Khilafah dari Alqur'an, Assunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas Syar'iy sudah ditulis, dikaji, dipelajari, dikenal, dan tidak diragukan kevalidan serta keabsahannya ...

Sedangkan Pancasila dalil-dalilnya kan hanya mencocok-cocokan gitu loh...

Kalau Khilafah benar betentangan dengan Pancasila, berarti Pancasila bukan (dari) Islam
Kalau Pancasila benar betentangan dengan Khilafah,  juga berarti Pancasila bukan Islam

KARENA KE-ISLAM-AN KHILAFAH SUDAH SANGAT JELAS SEJELAS JELASNYA ...

Jadi foto ini adalah keuntungan bagi pejuang dan pendukung Khilafah plus kerugian bagi pejuang dan pendukung Pancasila Final. Senjata makan tuan.

Syukron Katsiron kepada KH. Ma'ruf Amin yang telah membuka pintu pemisah antara Khilafah dan Pancasila ...

Jumat, 25 Agustus 2017

TANPA IKUT HTI DAN MEMPERJUANGKAN KHILAFAH KITA BISA MASUK SURGA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Ada sebagian tokoh Aswaja Sekular dan ustadz Aswaja Wahhabi berkata kepada murid-muridnya : "Tanpa ikut HTI dan tanpa memperjuangkan khilafah kita bisa masuk surga kok. Kita shalat, puasa, haji, membaca Alqur'an dan Alhadits, bershalawat kepada Nabi SAW, mengaji dan mengajar ilmu, dll., dengan itu semua kita bisa masuk surga ... ".

Jawaban :

Cukup saya kemukakan satu hadits saja.
Dimana Rasulullah SAW bersabda :

'an jabir ...
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : أرأيت إذا صليت المكتوبات ، وصمت رمضان ، وأحللت الحلال ، وحرمت الحرام ، ولم أزد على ذلك شيئا ، أأدخل الجنة ؟ قال : نعم رواه مسلم .
Dari Jabir bin Abdullah RA (berkata), Bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, ia berkata : "Apa pendapat tuan, ketika aku telah mengerjakan shalat maktubat, telah berpuasa Ramadhan, telah menghalalkan yang halal, dan telah mengharamkan yang haram, dimana saya tidak menambahkan atasnya sesuatu, apakah saya akan masuk surga?". Rasul berkata : "Ya". (HR Muslim, Arba'iin Nawawy).

Pada hadits tersebut seorang lelaki hanya memiliki empat amalan, dua amalan lahir dan dua amalan batin, shalat fardhu dan puasa fardhu, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Dua amalan lahirnya lebih sedikit dari yang disampaikan tokoh Aswaja dan ustadz wahhabi di atas. Meskipun demikian seorang lelaki itu akan masuk surga meskipun tidak ikut HTI atau tidak ikut memperjuangkan khilafah. Hebat kan? Inilah kerahmatan Islam. Semua itu benar. Tidak salah ...

Tetapi tunggu dulu ... Jangan senang dulu ... Karena masih ada pertanyaan :
Pembatasan amalan itu ketika Islam kaffah telah diterapkan oleh negara atau tidak diterapkan?
Pembatasan amalan itu ketika khilafah telah tegak atau khilafah telah roboh dan belum berdiri?
Masuk surga langsung atau mampir dulu di neraka?

Ketika kita meneliti hadits diatas, maka telah datang di Madinah, karena puasa Ramadhan itu difardhukan pada tahun kedua hijriyyah, dan ketika itu Islam Kaffah telah diterapkan oleh daulah nubuwwah sebagai cikal bakal daulah khilafah rasyidah mahdiyyah. Dan ketika itu tidak ada kewajiban menegakkan khilafah. Karena itu, sah dan cukup pembatasan amalan yang dilakukan oleh seorang laki-laki. Tentu ketika tidak ada panggilan untuk berjihad yang fardhu 'ain, karena ketika itu juga sahabat yang sengaja tidak ikut serta berjihad tanpa udzur maka tergolong berdosa besar. Ingat kisah Ka'ab serta dua orang temannya yang tertinggal dari jihad yang didiami oleh Nabi SAW serta para sahabat dalam waktu yang cukup lama?!

Kalaupun sekarang pembatasan amalan dengan shalat fardhu dan puasa Ramadhan itu dianggap sah dan cukup, maka problemnya tidak berhenti di situ, tetapi masih ada syarat yang menyertainya, yaitu menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram (meskipun ia tidak mengerjakan dan tidak meninggalkannya), seperti pada hadits diatas.

Term halal itu mencakup wajib/fardhu, mustahhab/sunnah, dan mubah. Dan hukum menegakkan khilafah adalah wajib. Maka khilafah termasuk perkara halal yang harus dihalalkan, yakni diyakini kehalalannya. Oleh karenanya, ketika seseorang telah membatasi amalan dengan shalat maktubat dan puasa Ramadhan, maka ia wajib meyakini dan manyatakan bahwa khilafah adalah wajib ... dan berdoa sesuai keyakinannya, Ya Allah, tolonglah mereka yang berjuang untuk menegakkan kewajiban ini, dan ampunilah hamba yang lemah ini yang tidak ikut serta bersama mereka ...

Ia juga harus mengharamkan segala bentuk sistem pemerintahan yang kontra dengan khilafah, yakni meyakini keharamannya, seperti demokrasi sistem kufur. Ia harus meyakini dan menyatakan, bahwa DEMOKRASI SISTEM KUFUR yang haram meyakini, mempraktekkan dan mendakwahkannya ....

Tidak malah melakukan penggembosan terhadap dakwah ...
Tidak malah melakukan dukungan terhadap ....
(Lanjutkan sendiri).

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!