Senin, 26 Desember 2016

JANGAN SALAH MENDEFINISIKAN ULAMA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tidak sedikit dari saudara-saudara kita yang mencampur aduk antara definisi ulama dan sifat-sifat ulama. Ketika mereka ditanya, siapakah ulama, maka mereka menjawab, ulama adalah orang yang takut kepada Allah. Padahal takut kepada Allah adalah salah satu dari sifat- sifat ulama, bukan definisi ulama. Akhirnya tidak jauh beda dari orang buta yang ditanya tentang gajah ...

DEFINISI ULAMA:
 
Al-‘ulama’ ( العلماء) secara bahasa ialah bentuk jamak (plural) taksir (yang telah berubah dari huruf asalnya) dari kata al-‘aliim (العليم), yaitu orang yang memiliki ilmu atau yang maha mengerti, seperti kata al-kariim ( الكريم) menjadi al-kuroma’ ( الكرماء) dan al-amiin ( الأمين) menjadi al-umana’ ( الأمناء). Adapun kata al-‘aalim ( العالم), maka bentuk jamak taksirnya menjadi al-’allaam ( العلام), sedang bentuk jamak mudzakarnya (yang menunjukkan arti laki-laki) ialah al-‘aalimuun ( العالمون). Al-‘ulama’ adalah mereka yang memiliki ilmu agama secara khusus, atau mereka yang memiliki ilmu ketuhanan secara khusus. Sedangkan al-‘aalimuun adalah mereka yang memiliki ilmu agama dan ilmu dunia secara umum.
 
Ulama itu hanya terdiri dari tiga kelompok pakar:
Pertama;  al-Muhaddits (pakar hadits), yaitu orang yang mengerti kondisi perawi hadits kuat atau lemahnya, hadits yang diriwayatkan shahih atau tidaknya, dan lain-lain, dari perkara yang berhubungan dengan ilmu hadits.
 
Kedua:  al-Mufassir (pakar tafsir), yaitu orang yang mengerti makna setiap ayat dan tujuan ayat dari hukum-hukum syariat dan lain-lain, dari perkara yang berhubungan dengan ilmu tafsir.
 
Ketiga;  al-Faqiih (pakar fikih), yaitu orang yang mengerti hukum-hukum syariat dari nash dan istinbathnya. Sedang yang dikehendaki disini adalah orang yang menghasilkan sebagian fikih untuk memahami fikih yang lainnya.

Maka tidak termasuk ulama adalah pakar nahwu dan sharof, pakar bahasa dan teologi (ilmu kalam), tetapi mereka hanyalah aalimuun, yaitu orang-orang yang mengerti ilmu nahwu, sharof, bahasa dan teologi. (lihat kitab Fathul Mu’in, bab washiat kepada ulama).

SIFAT-SIFAT ULAMA:

Sifat - sifat ulama adalah perkara yang membedakan antara ulama akhirat (ulama shalihiin/ ulama yang baik) dan ulama dunia (ulama suu' / ulama yang buruk). Ketika ulama memiliki sifat-sifat yang baik, maka mereka itu ulama akhirat yang baik. Tetapi ketika mereka memiliki sifat-sifat yang buruk, maka mereka itu ulama dunia yang buruk. Sifat - sifat ulama itu bisa terlihat dari aktivitas-aktivitas nya, baik yang baik maupun yang buruk.

SIFAT-SIFAT ULAMA AKHIRAT:

Pertama, lentera dunia, khalifah para nabi, pewaris Nabi SAW dan pewaris para nabi. Mengenai mereka, Rasulullah saw bersabda:
 اَلْ عُلَمَاءُ مَصَابِيْحُ الْأَرْضِ وَخُلَفَاءُ الْأَنْبِيَاءِ وَوَرَثَتِي وَوَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ .
“Ulama adalah lentera dunia, penerus (khalifah) para nabi, pewarisku dan pewaris para nabi”. HR Ibnu Ady didalam kitab al-Kaamil dari Aly ra. Dan sabdanya:
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ تُحِبُّهُمْ أَهْلُ السَّمَاءِ وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمُ الْحِيْتَانُ فِى الْبَحْرِ إِذَا مَاتُوْا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ .
“Ulama adalah pewaris para nabi, mereka dicintai penduduk langit, dan ketika mereka mati dimintakan ampulan oleh ikan-ikan di laut sampai hari kiamat”. HR Ibnu al-Najjar dari Anas ra.

Kedua, kepercayaan Allah dan umat Nabi SAW. Nabi SAW bersabda:
 اَلْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ .
“Ulama adalah kepercayaan Allah swt atas makhluk-Nya”. HR al-Qadlabi dan Ibnu Asakir dari Anas ra. Dan sabdanya:
 اَلْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ أُمَّتِي .
“Ulama adalah kepercayaan umatku”. HR al-Daylami dalam kitab Musnad

Ketiga:  Ulama adalah ahlulhalli wal'aqdi diantara umat, dan mereka adalah ulil amri yang wajib ditaati. Dalam hal ini Allah swt berfirman:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Taatlah kamu kepada Allah, taatlah kamu kepada al-Rasul dan ulil amri diantara kamu”. QS an-Nisa ayat 59.
 
Imam Mujahid berkata: “Ulil amri adalah ulama dan fuqaha”.
 
Keempat:  Ulama adalah para pemimpin (imam) agama. Sedangkan kepemimpinan dalam agama adalah keutamaan besar, kemuliaan dan kedudukan yang tinggi. Dalam hal ini Allah swt berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. QS al-Sajadah[32]: 24.
 
Kelima:  Ulama adalah ahlu dzikir, sedang dzikir itu harus dengan ilmu. Dalam hal ini Allah swt berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. QS al-Nahel[16]: 43.
 
Keenam:  Ulama adalah orang-orang utama diantara manusia. Dalam hal ini Allah swt berfirman:
 يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ...
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”. QS al-Mujaadilah[58]: 11.
 
Ketujuh;  Ulama adalah yang paling takut kepada Allah. Dalam hal ini Allah swt berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ...
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama”. QS Fathir[35]: 28.
 
Kedelapan;  Ulama adalah saksi Allah dimana Allah telah menyaksikan keesaan-Nya kepada mereka, dan telah menggandengkan kesaksian mereka dengan kesaksian-Nya dan kesaksian malaikat-Nya. Dalam hal ini Allah swt berfirman:
 شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ.
 “Allah bersaksi bahwasannya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyaksikan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS Ali Imron[3]: 18.

Kesembilan: Pengemban dakwah kepada penerapan syariah secara total melalui penegakkan khilafah rasyidah mahdiyyah. Sifat pengemban dakwah ini adalah konsekuensi dari delapan sifat diatas nya. Dalil-dalil wajibnya berdakwah, menerapkan syariah Islam secara total,  dan penegakan khilafah semuanya sudah sangat jelas sehingga tidak perlu saya sampaikan di sini. 
 
SIFAT-SIFAT ULAMA DUNIA:

Pertama: Ulama dunia adalah ulama suu’ (ulama yang buruk), atau ulama salathin (ulama pro pemerintah yang fasik, zalim atau kafir). Tentang mereka Rasulullah saw bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ مَالَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ وَيُدَاخِلُوا الدُّنْيَا، فَإِذَا خَالَطُوا السُّلْطَانَ وَدَاخَلُوا الدُنْيَا فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوْهُمْ . أخرجه الحسن ابن سفيان والعقيلي فى الضعفاء عن أنس رضي الله عنه
“Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak berinteraksi dengan pemerintah dan tidak mencampuri urusan dunia. Lalu ketika mereka telah berinteraksi dengan pemerintah dan telah mencampuri urusan dunia, berarti mereka telah berkhianat kepada para rasul, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka”. HR al-Hasan ibnu Sufyan dan al-Uqayli dari Anas ra.

Dan Nabi saw bersabda:
 إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُخَالِطُ السُّلْطَانَ مُخَالَطَةً كَثِيْرَةً فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَصٌّ . أخرجه الديلمي فى مسند الفردوس عن أبي هريرة رضي الله عنه
“Ketika kamu melihat ada orang alim banyak berinteraksi dengan pemerinrah, maka ketahuilah bahwa dia adalah maling (pencuri)”. HR al-Daylami dari Anas ra.
 
Terkait ulama dunia, Yahya bin Mu’adz sebagai perawi hadits diatas berkata:
يَا أَصْحَابَ الْعِلْمِ قُصُوْرُكُمْ قَيْصَرِيَّةٌ، وَبُيُوْتُكُمْ كِسْرَوِيَّةٌ، وَأَثْوَابُهُمْ ظَاهِرِيَّةٌ، وَأَخْفَافُكُمْ جَالُوْطِيَّةٌ، وَمَرَاكِبُكُمْ قَارُوْنِيَّةٌ، وَأَوَانِيُكُمْ فِرْعَوْنِيَّةٌ، وَمَآثِمُكُمْ جَاهِلِيَّةٌ، وَمَذَاهِبُكُمْ شَيْطَانِيَّةٌ، فَأَيْنَ الشَّرِيْعَةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ ؟!
“Wahai ulama, istana kalian adalah istana kaisar, rumah kalian adalah rumah kisro, pakaian kalian adalah pakaian zhahiri, sepatu (sandal) kalian adalah sepatu Jalut, kendaraan kalian adalah kendaraan Qarun, bejana kalian adalah bejana Fir’aun, dosa kalian adalah dosa jahiliah, dan madzhab kalian adalah madzhab syetan. Lalu dimanakah syariat Nabi Muhammad saw?”.
 
Kedua: Ulama dunia adalah tukang fitnah. Tentang mereka Rasulullah saw bersabda :
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يوشك أن يأتي على الناس زمان لا يبقى من الإسلام إلا اسمه ولا يبقى من القرآن إلا رسمه مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى علماءهم شر من تحت أديم السماء من عندهم تخرج الفتنة وفيهم تعود . رواه البيهقي في شعب الإيمان
"Hampir-hampir akan datang kepada manusia suatu zaman dimana tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Alqur'an kecuali tulisannya. Masjid-masjid mereka ramai dan megah, tetapi kosong dari petunjuk. Dan ulama mereka seburuk-buruk makhluk di bawah kolong langit. Dari (mulut-mulut) ulama-lah akan keluarnya fitnah, dan kepada ulama-lah akan kembalinya (bahaya) fitnah". (HR Imam Baihaqi, Syu'ubul Iman, 4/424, Syamilah).

Ketiga: Ulama dunia adalah ulama munafik yang sangat kentara dalam menolak dakwah kepada penerapan syariah dan khilafah.
Mereka ulama dunia (seperti dagambarkan oleh Nabi saw diatas) justru berinteraksi dengan penguasa yang fasik, zalim atau kafir, karena tidak menerapkan hukum-hukum syariat Islam dalam pemerintahannya. Dan terlibat dalam pemilihan serta pengangkatan para penguasa tersebut. Ujung-ujungnya ya untuk menarik duit. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau Nabi saw menyebut mereka sebagai maling, karena uang pemerintah itu adalah dari rakyat atau uang rakyat, lalu para ulama dunia itu mengambilnya tanpa seizin dari rakyat.
 
Lebih parah lagi, sebagian ulama dunia justru bekerjasama dengan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kaum muslim dalam menghalangi dakwah menuju penerapan Islam secara total melalui penegakkan khilafah rasyidah mahdiyyah. Mereka menjadi agen-agen Barat yang kafir dalam menolak tegaknya syariat Islam dengan berbagai cara, dan dalam mendakwahkan akidah kafir seperti sekularisme, syariat kafir seperti demokrasi, dan akhlak kafir seperti HAM, pluralisme, sinkretisme dll. juga dengan berbagai cara. Bahkan akhir-akhir ini mereka telah berani mengganti dalil-dalil syariat yang telah disepakati oleh semua ulama ASWAJA, yaitu al-Qur’an, al-Hadits, al-Ijmak dan al-Qiyas, diganti dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Jadi empat dalil syariat diganti dengan empat pilar kebangsaan. Keterlaluan. Ujung-ujungnya juga ya demi menarik uang haram dengan cara haram.

Wallahu a'lam bishshawwaab
Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!
 

Selasa, 20 Desember 2016

SANKSI ISLAM ATAS ORANG MUNAFIK

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺁﻣَﻨَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺑِﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ‏. ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺪَﻋُﻮﻥَ ﺇِﻻ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ ‏.
"Dan di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Meraka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar". (QS Albaqoroh ayat 8-9).

SEJAK KAPAN ADA ORANG MUNAFIK?
Sifat-sifat kaum munafik itu baru turun di dalam surat-surat madaniyyah, karena di Mekah itu belum ada orang munafik, tetapi kebalikan munafik, yaitu sahabat yang menampakkan kufur karena terpaksa, padahal batinnya penuh iman. Kemudian ketika Rasulullah Saw telah hijrah ke Madinah, maka di sana ada kaum Anshar dari Aus dan Khazraj mantan-mantan penyembah berhala pada masa jahiliyah di atas thariqah kaum musyrik Arab. Di sana juga ada kaum Yahudi dari Ahli Kitab di atas thariqah para pendahulunya. Kaum Yahudi terdiri dari tiga kabilah; Bani Qainuqa sekutu Khazraj, Bani Nadlir, dan Bani Quraizhah sekutu Aus.
Ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, dan telah masuk Islam orang yang masuk Islam dari kaum Anshar dari kabilah Aus dan Khazraj, dan dari kaum Yahudi hanya Abdullah bin Salam yang masuk Islam. Maka ketika itu juga belum ada orang munafik, karena kaum Muslimin belum memiliki kekuatan yang ditakuti. Bahkan Rasulullah Saw berdamai dengan kaum Yahudi dan kabilah-kabilah dari perkampungan Arab sekitar Madinah.

Ketika terjadi perang Badar Kubro' dan Allah telah menampakkan kalimatNya dan meninggikan Islam dan ahlinya, maka berkata Abdullah bin Ubay bin Salul –yang dulunya adalah pemimpin Madinah, dari Khazraj, dan sebagai sayyid dari dua kelompok Aus dan Khazraj, dimana mereka benar-benar akan menjadikan dia raja atas mereka. Lalu datang Islam kepada mereka dan meraka memeluk Islam dan meninggalkan dia, maka dia menyimpan dendam kepada Islam dan ahlinya--, ketika terjadi perang Badar, ia berkata: "Sesuatu yang ditunggu benar-benar telah datang". Lalu ia menampakkan ke-Islamannya dan masuk Islam bersamanya banyak orang yang ada di atas thariqah dan jalannya, dan banyak yang lainnya dari Ahli Kitab.

Maka sejak itulah mulai ada orang-orang munafik dari penduduk Madinah dan sekitarnya dari orang-orang badui. Adapun sahabat Muhajirin, maka tidak ada seorangpun yang munafik, karena tidak ada seorangpun dari mereka yang hijrah karena terpaksa, tetapi mereka hijrah dengan meninggalkan hartanya, anaknya dan tanahnya, hanya karena cinta kepada apa yang di sisi Allah di dalam desa akhirat.

KENAPA RASULULLAH SAW TIDAK MEMBUNUH ORANG MUNAFIK?

Imam Qurthubi dan mufassir yang lainnya telah ditanya mengenai hikmah menahannya Rasulullah Saw dari membunuh kaum munafik padahal beliau mengerti satu persatunya, lalu mereka menuturkan sejumlah jawabannya, di antaranya:

Pertama: Hadits yang tetap di dalam Shahih Bukhari – Muslim, bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada Umar ra : "Aku tidak suka apabila orang Arab berkata-kata, bahwa Muhammad membunuhi sahabatnya". Yakni khawatir terjadi perubahan pada kebanyakan orang Arab dari masuk Islam dan mereka tidak mengerti hikmah membunuh orang-orang munafik. Mereka hanya mengerti bahwa pembunuhan itu hanya terjadi karena kekufuran. Mereka hanya mengambil sesuatu yang nampak bagi mereka. Mereka akan berkata: "Sesungguhnya Muhammad membunuh sahabatnya".
Imam Qurthubi berkata: "Ini adalah pendapat ulama kita dan ulama yang lainnya, sebagaimana para muallaf diberi bagian zakat. Padahal Rasulullah saw mengerti bahwa keyakinan mereka masih buruk". Dan Ibnu Athiyah berkata: "Ini adalah thariqah ashhab Imam Malik, sebagaimana ditegaskan oleh Muhammad bin Jahem, Qadli Ismail, Abhuri dan Ibnu Majisyun.

Kedua: Pendapat Imam Malik rh, Rasulullah Saw tidak membunuh kaum munafik itu hanya karena untuk menjelaskan kepada umatnya, bahwa hakim itu tidak boleh memutuskan berdasarkan ilmu (pengetahuan)nya sendiri.
Imam Qurthubi berkata: "Semua ulama telah sepakat, bahwa qadli itu tidak boleh membunuh berdasarkan ilmu (pengetahuan)nya sendiri. Meskipun mereka berselisih dalam hokum-hukum yang lain".

Ketiga: Pendapat Imam Syafi'i rh, bahwa Rasulullah Saw mencegah dari membunuh kaum munafik, selagi mereka menampakkan ke-Islamannya, padahal beliau mengerti kemunafikannya, karena Islam yang ditampakkan oleh mereka itu memangkas apa saja sesuatu sebelum Islam.

Ini dikokohkan dengan sabda Rasulullah Saw di dalam hadits yang disepakati keshahihannya di dalam shahih Bukhari - Muslim dan lainnya
" ﺃﻣﺮﺕ ﺃﻥ ﺃﻗﺎﺗﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﻮﻟﻮﺍ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺈﺫﺍ ﻗﺎﻟﻮﻫﺎ ﻋﺼﻤﻮﺍ ﻣﻨﻲ ﺩﻣﺎﺀﻫﻢ ﻭﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﺇﻻ ﺑﺤﻘﻬﺎ، ﻭﺣﺴﺎﺑﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ، ﻋﺰ ﻭﺟﻞ " . ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ ‏( 25 ‏) ﻭﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ ‏( 22 ‏) ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ .
"Aku telah diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka berkata: "Tidak ada Tuhan selain Allah". Lalu ketika mereka telah mengatakannya, maka mereka telah menjaga dariku darah mereka dan harta benda mereka kecuali dengan haknya. Dan hisab mereka itu atas Allah Azza wa Jalla".

Yakni, bahwa siapa saja yang telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH , maka berlaku atasnya hukum-hukum Islam secara lahir. Lalu apabila ia meyakininnya, maka ia memperoleh pahalanya di desa akhirat. Dan apabila ia tidak meyakininya, maka tidak bermanfaat baginya di akhirat diberlakukan hukum atasnya di dunia, dan tidak bermanfaat baginya bercampur dengan kaum mukmin.

Keempat: Perkataan sebagian ulama, bahwa Allah SWT benar-benar telah menjaga sahabat Nabi SAW, dimana Allah telah meneguhkan mereka, sehingga orang-orang munafik tidak bisa merusak mereka dan tidak pula bisa merusak agama mereka, maka tidak ada bahaya dalam membiarkan hidup orang-orang munafik. Berbeda dengan hari ini. Kami tidak merasa aman dari orang-orang zindiq, dimana mereka bisa merusak orang-orang awam dan orang-orang bodoh (maka mereka harus dibunuh).

Kelima: Perkataan sebagian ulama, bahwa Rasulullah SAW tidak membunuh orang-orang munafik itu karena takut atas keburukan mereka, ketika beliau berada di tengah-tengah mereka membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka. Adapun setelah kepergian beliau SAW, maka mereka dibunuh ketika mereka telah menampakkan kemunafikannya dan telah diketahui oleh kaum muslimin.

SANKSI ATAS ORANG MUNAFIK YANG MENJELASKAN KEMUNAFIKANNYA

Seperti di atas dikatakan:
ﻓﺄﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻓﻴﻘﺘﻠﻮﻥ ﺇﺫﺍ ﺃﻇﻬﺮﻭﺍ ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﻭﻋﻠﻤﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ...
Adapun setelah kepergian beliau SAW, maka mereka dibunuh Ketika mereka telah menampakkan kemunafikannya dan telah diketahui oleh kaum muslim.

Imam Malik rh berkata: "Orang munafik pada masa Rasulullah SAW adalah kafir zindiq pada saat ini".

Ulama benar-benar berselisih dalam membunuh kafir zindiq ketika ia telah menampakkan kekufuran, apakah ia disuruh taubat atau tidak, atau dibedakan antara ia mengajak kepada kekufuran atau tidak, atau ia telah berulang-ulang murtad atau tidak, atau adanya Islam dan rujuknya itu dari dirinya sendiri atau setelah ditampakkan terhadapnya? Terdapat banyak pendapat yang dijelaskan dan ditetapkan di dalam kitab-kitab fikih. (Semuanya disariakan dari kitab Tafsir Ibnu Katsir dan kitab Tafsir Alqurthubi terkait tafsir surat Albaqaroh ayat 8-9).

ORANG-ORANG YANG HARUS DIBUNUH

Terjemahkan Sendiri Saja
Macam-macam sanksi ta'zir
ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺎﺕ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮﻳﺔ
ﻧﻈﺎﻡ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺎﺕ - ‏( 1 / 151 ‏)
ﻭﻫﻨﺎﻙ ﺟﺮﺍﺋﻢ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻘﻮﺑﺔ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻟﻬﺎ ، ﻭﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﺍﻟﺰﺟﺮ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻻ ﺑﺎﻟﻘﺘﻞ ، ﻓﻬﺬﻩ ﻟﻼﻣﺎﻡ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻋﻘﻮﺑﺘﻬﺎ ﺍﻟﻘﺘﻞ ﻓﻤﺜﻼ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﺍﺫﺍ ﺑﻮﻳﻊ ﻻﻣﺎﻣﻴﻦ ﻓﺎﻗﺘﻠﻮ ﺍﻵﺧﺮ ﻣﻨﻬﻤﺎ ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﻨﺺ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺣﺮﺽ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺟﻤﻌﻬﻢ ﻟﺒﻴﻌﺔ ﺍﻣﺎﻡ ﺛﺎﻥ ﺑﻌﺪ ﺍﻧﻌﻘﺎﺩ ﺑﻴﻌﺔ ﺍﻻﻣﺎﻡ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﺒﺎﻳﻊ ﺍﻣﺎﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﻓﻼﻳﻨﻄﺒﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺟﺮﻣﻪ ﺭﺑﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻓﻀﻊ ﻣﻦ ﺟﺮﻡ ﻣﻦ ﺑﻮﻳﻊ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻓﺎﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻋﻘﻮﺑﺘﻪ ﺍﻟﻘﺘﻞ ، ﻭﻣﺜﻼ ﻣﻦ ﺩﻋﻰ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻘﻮﻣﻴﺔ ، ﺳﻮﺍﺀ ﺍﻛﺎﻧﺖ ﻗﻮﻣﻴﺔ ﻋﺮﺑﻴﺔ ﺍﻡ ﺗﺮﻛﻴﺔ ﺍﻡ ﻓﺎﺭﺳﻴﺔ ﺍﻡ ﺑﺮﺑﺮﻳﺔ ﺍﻡ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ، ﻭﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻣﻴﺔ ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻧﺺ ﻋﻠﻰ ﻋﻘﻮﺑﺔ ﻣﻘﺪﺭﺓ ﻟﻪ ،، ﻭﻣﻌﻠﻮﻡ ﻣﺎﻳﻨﺘﺞ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﻘﻮﻣﻴﺔ ﻣﻦ ﺗﻤﺰﻳﻖ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ ﺍﻻﺳﻼﻣﻴﺔ ، ﺑﻞ ﺗﻤﺰﻳﻖ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ، ﻛﺤﺎﻣﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻼﻣﺎﻡ ﺍﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻋﻘﻮﺑﺘﻪ ﺍﻟﻘﺘﻞ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻣﻦ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﻰ ﺍﻧﻔﺼﺎﻝ ﺍﻗﻠﻴﻢ ﻋﻦ ﺟﺴﻢ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ ﺍﻻﺳﻼﻣﻴﺔ ، ﻓﺎﻧﻪ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻳﻔﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :- ‏( ﻣﻦ ﺃﺗﺎﻛﻢ ﻭﺃﻣﺮﻛﻢ ﺟﻤﻴﻊ ﻋﻠﻰ ﺭﺟﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻥ ﻳﺸﻖ ﻋﺼﺎﻛﻢ ، ﺍﻭ ﻳﻔﺮﻕ ﺟﻤﺎﻋﺘﻜﻢ ﻓﺎﻗﺘﻠﻮﻩ ‏) ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﻭﺍﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﻣﺘﺮﻭﻙ ﻟﻼﻣﺎﻡ ﺍﻥ ﻳﻘﺘﻠﻪ ﺍﻭ ﻳﻌﺎﻗﺒﻪ ﻋﻘﻮﺑﺔ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﺘﻞ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻛﺬﻟﻚ ﺻﺮﻳﺢ ﺍﻟﻨﺺ ﻓﻴﻪ ﺍﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻼﻣﺎﻡ ﺍﻥ ﻳﺒﻠﻎ ﺑﻌﻘﻮﺑﺘﻪ ﺣﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ ، ﻭﻫﻜﺬﺍ .. ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻓﺎﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﺨﻠﻴﻔﻪ ﺍﻥ ﻳﺒﻠﻎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﺣﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ .
ﻧﻈﺎﻡ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺎﺕ - ‏( 1 / 185 ‏)
- ﻛﻞ ﺍﻋﺘﺪﺍﺀ ﻳﺴﺘﻬﺪﻑ ﺣﺮﺑﺎ ﺍﻫﻠﻴﺔ ﺍﻭ ﺍﺛﺎﺭﺓ ﻓﺘﻨﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻡ ﺑﻪ ﺑﺎﻟﺠﻠﺪ ﻭﺍﻟﺴﺠﻦ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ ﺳﻨﻮﺍﺕ ﺣﺘﻰ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺳﻨﺔ ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺍﻥ ﺗﺼﻞ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﺣﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ ﻭﺍﻟﺼﻠﺐ
ﻛﻞ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺍﻭ ﺧﻄﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺷﺄﻧﻬﺎ ﺍﻟﺘﺸﻜﻴﻚ ﻓﻲ ﺍﻻﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ، ﺍﻭ ﻓﻲ ﺻﻼﺣﻴﺔ ﻧﻈﺎﻡ ﺍﻻﺳﻼﻡ ، ﻛﻼ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﺎ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻣﺮﺗﻜﺒﻬﺎ ﺑﺎﻟﺤﺒﺲ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻴﻦ ﺣﺘﻰ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺍﻥ ﺗﺼﻞ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﺍﻟﻰ ﺣﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ .
ﻛﻞ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺍﻭ ﺧﻄﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺷﺄﻧﻬﺎ ﺍﺛﺎﺭﺓ ﺍﻟﻘﻮﻣﻴﺔ ﺍﻭ ﺍﻻﻗﻠﻴﻤﻴﺔ ﺍﻭ ﺍﻟﻮﻃﻨﻴﺔ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻣﺮﺗﻜﺒﻬﺎ ﺑﺎﻟﺴﺠﻦ ﻣﻦ ﺧﻤﺲ ﺳﻨﻮﺍﺕ ﺣﺘﻰ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺍﻥ ﺗﺼﻞ ﺍﻟﻰ ﺣﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ .
ﻧﻈﺎﻡ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺎﺕ - ‏( 1 / 186 ‏)
ﻛﻞ ﺗﻜﺘﻞ ﻳﻘﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﺳﺎﺱ ﻓﺼﻞ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ ، ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺃﺳﺎﺱ ﺍﻟﻤﺎﺩﻳﺔ ، ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺃﻱ ﺍﺳﺎﺱ ﻏﻴﺮ ﺃﺳﺎﺱ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻡ ﺑﻪ ﺃﻭ ﻳﻨﺘﺴﺐ ﺍﻟﻴﻪ ﺑﺎﻟﻘﺘﻞ ﻭﺍﻟﺼﻠﺐ .
ﻛﻞ ﺗﻜﺘﻞ ﻳﻘﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﺳﺎﺱ ﺍﻟﻮﻃﻨﻴﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻘﻮﻣﻴﺔ ﺃﻭ ﺍﻻﻗﻠﻴﻤﻴﺔ ، ﻭﻟﻮ ﺃﺗﺨﺬ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻧﻈﺎﻣﺎ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻣﺮﺗﻜﺒﻪ ﺑﺎﻟﺴﺠﻦ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﺗﺼﻞ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﺍﻟﻰ ﺣﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ ﻭﺍﻟﺼﻠﺐ .
ﻛﻞ ﺗﻜﺘﻞ ﻳﻘﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﺟﻞ ﺗﻐﻴﻴﺮ ﺍﻟﺤﻜﺎﻡ ﺃﻭ ﻧﻈﺎﻡ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺑﺎﻟﻘﻮﺓ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻣﺮﺗﻜﺒﻪ ﺑﺎﻟﺴﺠﻦ ﺣﺘﻰ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺍﻥ ﺗﺼﻞ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﺍﻟﻰ ﺣﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ .
ﻧﻈﺎﻡ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺎﺕ - ‏( 1 / 187 ‏)
ﻛﻞ ﻣﻦ ﻗﻮﻡ ﺑﺎﻟﺘﺒﺸﻴﺮ ﺑﻤﺒﺪﺃ ﻛﻔﺮ ، ﺃﻭ ﺃﻓﻜﺎﺭ ﻛﻔﺮ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﺑﺎﻟﺴﺠﻦ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻴﻦ ﺣﺘﻰ ﻋﺸﺮ ﺳﻨﻮﺍﺕ ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﻠﻢ ، ﺍﻣﺎ ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﻠﻤﺎ ﻓﺘﻄﺒﻖ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻤﺮﺗﺪ ﺃﻱ ﺍﻟﻘﺘﻞ ، ﻭﻛﻞ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻡ ﺑﺎﻟﺘﺒﺸﻴﺮ ﺑﺪﻳﻦ ﻛﻔﺮ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻧﻔﺲ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ .
ﻛﻞ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺃﻭ ﺧﻄﺎﺑﺔ ﺗﺘﻀﻤﻦ ﻃﻌﻨﺎ ﻓﻲ ﻋﻘﻴﺪﺓ ﻣﻦ ﻋﻘﺎﺋﺪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻣﺮﺗﻜﺒﻬﺎ ﺑﺎﻟﺴﺠﻦ ﻣﻦ ﺧﻤﺲ ﺳﻨﻮﺍﺕ ﺣﺘﻰ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﻠﻢ ، ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﻻﻳﻜﻔﺮ ﻗﺎﺋﻠﻪ ، ﺍﻣﺎ ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﻠﻤﺎ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﻳﻜﻔﺮ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﻳﻌﺎﻗﺐ ﻋﻘﻮﺑﺔ ﺍﺍﻟﻤﺮﺗﺪ .

Jumat, 09 Desember 2016

DENGAN KHILAFAH, KITA JEMPUT NASHRULLAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Pertolongan Allah SWT (nashrullah) kepada kaum muslimin itu terbagi menjadi dua, kepada jama'ah kaum muslimin dan kepada individu dari kaum muslimin. Sedang fokus tulisan ini adalah pertolongan Allah kepada jama'ah kaum muslimin. Dan yang saya maksud dengan jama'ah kaum muslimin adalah umat Islam, yakni kaum muslimin di seluruh dunia.

Terkait pertolongan Allah kepada jama'ah kaum muslimin, Allah SWT berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian menolong Allah, maka Dia akan menolong kalian dan akan meneguhkan kedudukan kalian" (QS Muhammad ayat 7).

Mengenai firmanNya, "apabila kalian menolong Allah, maka Dia akan menolong kalian", Aththabary berkata:
ﻭﻗﻮﻟﻪ ‏( ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ‏) ﻳﻘﻮﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺫﻛﺮﻩ : ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺻﺪّﻗﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﺇﻥ ﺗﻨﺼﺮﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻨﺼﺮﻛﻢ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﺪﺍﺋﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺑﻪ ﻭﺟﻬﺎﺩﻛﻢ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﻣﻌﻪ ﻟﺘﻜﻮﻥ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﺍﻟﻌُﻠﻴﺎ ﻳﻨﺼﺮﻛﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻳﻈﻔﺮﻛﻢ ﺑﻬﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻧﺎﺻﺮ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺃﻭﻟﻴﺎﺀﻩ . ﻛﻤﺎ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺑﺸﺮ، ﻗﺎﻝ : ﺛﻨﺎ ﻳﺰﻳﺪ، ﻗﺎﻝ : ﺛﻨﺎ ﺳﻌﻴﺪ، ﻋﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ، ﻗﻮﻟﻪ ‏( ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ‏) ﻷﻧﻪ ﺣﻖّ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻲ ﻣﻦ ﺳﺄﻟﻪ، ﻭﻳﻨﺼﺮ ﻣﻦ ﻧﺼﺮﻩ .
"Yakni Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang telah membenarkan Allah dan Rasul-Nya, apabila kalian menolong Allah dengan menolong Rasul-Nya Muhammad SAW atas musuh-musuhnya yang kafir dengannya, dan kalian memerangi mereka bersamanya supaya kalimat (agama) Allah itu yang tertinggi, maka Allah akan menolong kalian atas mereka, karena Allah adalah penolong agamaNya dan wali-waliNya. Sebagaimana telah menceritakan kepada kami Bisyer, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Qatadah, bahwasanya haq atas Allah memberi kepada siapa yang telah meminta kepadaNya dan menolong kepada siapa yang telah menolongnya. (Tafsir Aththabary, 22/160, Syamilah).

Syihabuddin Mahmud Ibn Abdullah Alhusaini Al-Alusi mengatakan:
{ ﻳﺄَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺀﺍﻣَﻨُﻮﺍْ ﺇِﻥ ﺗَﻨﺼُﺮُﻭﺍْ ﺍﻟﻠﻪ { ﺃﻱ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺗﻘﺪﻳﺮ ﻣﻀﺎﻑ ﺑﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻧﺼﺮﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ ﺗﺠﻮﺯ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ ﻓﻨﺼﺮﺗﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻧﺼﺮﺓ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﺩﻳﻨﻪ ﺇﺫ ﻫﻮ ﺟﻞ ﺷﺄﻧﻪ ﻭﻋﻼ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺻﺮ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﺍﻟﻤﻌﺎﻥ ﺍﻟﻤﻨﺼﻮﺭ } ﻳَﻨﺼُﺮْﻛُﻢُ { ﻋﻠﻰ ﺃﻋﺪﺍﺋﻜﻢ ﻭﻳﻔﺘﺢ ﻟﻜﻢ } ﻭَﻳُﺜَﺒّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ { ﻓﻲ ﻣﻮﺍﻃﻦ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻭﻣﻮﺍﻗﻔﻬﺎ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﺠﺔ ﺍﻹﺳﻼﻡ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻳﻘﻮﻳﻜﻢ ﺃﻭ ﻳﻮﻓﻘﻜﻢ ﻟﻠﺪﻭﺍﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ .
"Yakni menolong agama dan RasulNya SAW, bawa kalimat itu tidak menakdirkan mudlaf (diynullahi), tetapi bahwa menolong Allah adalah majaz nisbi, artinya menolong Allah adalah menolong agama dan RasulNya, karena Allah SWT adalahTuhan Yang Maha Penolong, sedang selain Dia adalah yang ditolong ...". (Tafsir Al-Alusy, 19/107, Syamilah).

Abu Isa Muhammad Ibn Surah Attirmidzi pemilik kitab Sunan Attirmidzi mengatakan:
ﻓﺎﻟﺬﻳﻦ ﻳﺮﺗﻜﺒﻮﻥ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻣﻤﻦ ﻳﺘﺴﻤﻮﻥ ﺑﺎﺳﻢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻴﻨﺼﺮﻧﺎ ﻣﻐﺮﻭﺭﻭﻥ ﻷﻧﻬﻢ ﻟﻴﺴﻮﺍ ﻣﻦ ﺣﺰﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻮﻋﺪﻳﻦ ﺑﻨﺼﺮﻩ ﻛﻤﺎ ﻻ ﻳﺨﻔﻰ .
"Maka orang-orang yang melakukan berbagai kemaksiatan dari orang-orang muslim, kemudian mereka berkata: "Sesungguhnya Allah akan menolong kami", mereka adalah orang-orang tertipu, karena mereka itu bukan Hizbullah yang dijanjikan dengan pertolonganNya".
ﻭﻣﻌﻨﻰ ﻧﺼﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻟﻠﻪ ، ﻧﺼﺮﻫﻢ ﻟﺪﻳﻨﻪ ﻭﻟﻜﺘﺎﺑﻪ ، ﻭﺳﻌﻴﻬﻢ ﻭﺟﻬﺎﺩﻫﻢ ، ﻓﻲ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﻫﻲ ﺍﻟﻌﻠﻴﺎ ، ﻭﺃﻥ ﺗﻘﺎﻡ ﺣﺪﻭﺩﻩ ﻓﻲ ﺃﺭﺿﻪ ، ﻭﺗﺘﻤﺜﻞ ﺃﻭﺍﻣﺮﻩ ﻭﺗﺠﺘﻨﺐ ﻧﻮﺍﻫﻴﻪ ، ﻭﻳﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
"Makna menolongnya orang-orang mukmin kepada Allah adalah menolongnya mereka kepada agama dan kitabNya, mereka berupaya dan berjihad, agar kalimatNya lah yang tertinggi, agar hududNya ditegakkan di bumiNya, perintahNya dilaksanakan dan laranganNya dijauhi, dan diputuskan perkara pada hamba-hambaNya dengan hukum yang telah diturunkan kepada RasulNya SAW." (Tafsir Adlwaul Bayan, 7/352, Syamilah).

Dari sejumlah pernyataan ulama mufassir di atas, dengan sangat mudah ditarik kesimpulan, bahwa menolong Allah yang menjadi syarat bagi pertolonganNya adalah dengan menolong agama dan RasulNya. Menolong agamaNya dengan menerapkan syariahNya secara sempurna, yakni dengan ber-Islam kaffah. Dan menolong RasulNya adalah dengan berperang / berjihad bersamanya. Kemudian ketika RasulNya SAW telah tiada seperti kondisi saat ini, maka dengan menolong para khalifahnya dengan berperang / berjihad bersama mereka. Karena Rasulullah SAW saat itu adalah sosok kepala negara Islam, karena tidak ada jihad sebelum hijrah ke Madinah yang ketika itu sebagai Daulah Nubuwwah (negara kenabian).

Sedang ber-Islam kaffah dan berjihad itu tidak akan pernah bisa sempurna sebelum berdiri tegaknya daulah khilafah penerus daulah nubuwwah. Artinya menolong Allah itu tidak akan pernah bisa sempurna kecuali dengan khilafah. Padahal kesempurnaan dalam menolong Allah adalah syarat mutlak bagi datangnya pertolongan Allah SWT.

Dengan demikian, tegaknya khilafah adalah keniscayaan untuk menjemput pertolongan Allah kepada jama'ah kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk kepada kaum muslimin di negeri Indonesia ini. Tanpa khilafah, suatu kemenangan apapun yang diklaim sebagai pertolongan Allah, hakekatnya hanyalah kemenangan semu dan kekalahan tersembunyi, bahkan bisa jadi istidroj dari Allah. Sudah banyak bukti dan fakkta di sejumlah negara, bahwa kemenangan tanpa kkhilafah adalah kekalahan yang tertunda yang dikemudian hari benar-benar menjadi kekalahan.

Ya boleh-boleh saja, bahkan wajib kita perjuangkan kepala daerah dan presiden muslim, karena Islam telah melarang kaum muslimin dipimpin oleh orang kafir dalam sistem apapun, tetapi perjuangan ini harus menjadi sebagai jumlah shughro' yang berada di dalam lingkaran jumlah kubro', seperti jumlah "zaidun abuhu qaimun". Artinya perjuangan itu tidak boleh mentok hanya sampai kepada kepala daerah dan presiden muslim, tetapi juga harus terikat dan nyambung dengan perjuangan penegakkan khilafah dan membai'at seorang khalifah untuk seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Sebagaimana terikat dan nyambungnya jumlah shugghro' dan jumlah kubro'.

Wallahu a'lam bishshawwab
Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!