Kamis, 24 November 2016

WAJIB TAAT KEPADA ULAMA

Bismillaahir Rahmaanir Rohiim

Melalui kasus Ahok Allah SWT benar-benar telah menampakkan antara kaum mukmin dan kaum munafik, antara ulama dan juhala, antara ulama akhirat dan ulama dunia, antara ulama suu' dan ulama shaleh,  antara yang benar-benar ulama dan yang setengah ulama. Begitu pula Allah SWT telah menampakkan antara umat Islam yang taat kepada ulama dan yang taat kepada juhala, juga umat Islam yang taat kepada yang benar-benar ulama dan yang taat kepada yang setengah ulama. Ulama akhirat dan ulama shaleh diketahui dari perjuangannya untuk akhirat dan baik, ulama dunia dan ulama suu' diketahui dari perjuangannya untuk dunia dan buruk.  Ulama yang benar-benar ulama diketahui dari perjuangannya yang kaffah sampai khilafah tidak setengah-setengah,  dan ulama yang setengah ulama diketahui dari perjuangannya yang tidak kaffah mentok sampai gubernur dan presiden muslim dan setengah-setengah.

Akan tetapi meskipun peringkat Ulama akhirat dan shaleh itu berbeda, taat kepada Ulama akhirat dan shaleh adalah WAJIB dan harga mati. Dalilnya apa? Ini dalilnya :

Allah SWT berfirman :
ياأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alqur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar - benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS Annisa' ayat 59).

Gak perlu saya sampaikan asbabun nuzulnya, terlalu panjang, juga tidak perlu saya sampaikan tafsir taat kepada Alloh dan kepada Rasululloh SAW. Kita pokus kepada tafsir ulil amri saja.

Ibnu Katsir rh berkata: "Ali Ibn Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, bahwa ulil amri di antara kamu itu berarti ahli fikih dan agama. Juga Mujahid, Atho, Hasan Bashri dan Abu Aliyah, mereka semua berkata, bahwa ulil amri di antara kamu itu berarti ulama. Yang jelas bahwa ayat tersebut mengenai semua ulil amri di antara kamu dari umaro dan ulama, seperti terdahulu. Allah ta'alaa benar-benar berfirman :
لولا ينهاهم الربانيون والأحبار عن قولهم الأثم وأكلهم السحت
"Mengapa orang - orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?..." (QS Almaidah ayat 63). Dan Allah ta'alaa berfirman :
فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
"... Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui", (QS Annahel ayat 43). Dan dalam hadits shahih almuttafaq 'alaih, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bersabda :
من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصا الله، و من أطاع أميري فقد أطاعني،  ومن عصا أميري فقد عصاني. متفق عليه.
"Siapa saja yang taat kepadaku maka ia benar-benar taat kepada Alloh, siapa saja yang maksiat kepadaku maka ia benar-benar maksiat kepada Allah, siapa saja yang taat kepada amirku maka ia benar-benar taat kepadaku, dan siapa saja yang maksiat kepada amirku maka ia benar-benar maksiat kepadaku".

Sejumlah ayat diatas adalah perintah taat kepada ulama dan umaro. Oleh karenanya, Alloh SWT berfirman: taatilah Allah, yakni  ikutilah kitab-Nya, dan taatilah Rasul, yakni ambillah sunnahnya, dan ulil amri di antara kamu, yakni pada sesuatu yang menyuruh kamu dengannya dari taat kepada Alloh, bukan dalam maksiat kepada Allah, karena tidak ada taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah, seperti dalam hadis shahih, "in namath tha'atu fil ma'ruf / taat itu hanya pada sesuatu yang baik", dan Hadis,  "laa tha'ata fii ma'shiyatillahi / tidak ada taat dalam maksiat kepada Allah". (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir terkait QS Annisa' ayat 59).

Jadi arti ulil amri di antara kamu adalah umaro dan ulama. Karakter umaro dan ulama ini telah menyatu pada diri Alkhulafaa Arrosyidiin Almahdiyyiin / para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, juga para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk setelahnya.

Berbeda dengan kondisi dimana kaum muslimin hidup di dalam sistem demokrasi, dimana karakter ulama telah terpisah dari karakter umaro, sehingga sulit, bahkan mustahil ada umaro yang ulama. Oleh karena tidak adanya umaro yang ulama, maka kaum muslimin hanya wajib taat kepada ulama saja, tidak kepada umaro. Tentu ulama akhirat yang shalihiin. Ini dalam rangka mengamalkan QS Annisa' ayat 59 diatas. Wallahu a'lam bishshawwaab.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Aamiin. Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

Rabu, 16 November 2016

PENAMPAKAN KAUM MUNAFIK

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kaum munafik benar-benar nampak.
Melalui kasus Ahok dengan pelecehan terhadap QS al-Maidah ayat 51-nya, Allah SWT benar-benar telah menunjukkan kepada umat Islam jatidiri setiap orang; siapa yang termasuk Muslim yang benar dan siapa yang termasuk golongan munafik. Sehingga penampakan kaum munafik bisa dilihat oleh khalayak kaum muslimin di berbagai tempat dan media. Mengalahkan penampakan hantu pocong, kuntilanak, gondoruwo dll.

Allah SWT berfirman:
﴿ وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَا كَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ﴾
"Kalau Kami menghendaki, niscaya Kami menunjukkan mereka (kaum munafik) kepada kamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dari tanda-tanda mereka dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka" (QS Muhammad [47]: 30).

Saat menafsirkan ayat di atas, Imam ath-Thabari menjelaskan, “Sungguh kamu akan mengetahui mereka dari tanda-tanda nifak yang tampak dari mereka dalam konteks ucapan dan perbuatan lahiriah mereka.”

Senin, 14 November 2016

ASY'ARIYYAH dan MATURIDIYYAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
 
Asya'irah (kelompok pengikut Abul Hasan Asy'ariy) adalah firqah (kelompok) yang dinisbatkan kepada Abulhasan Al-Asy'ariy rh.

Asy'ariy sendiri telah menempuh tiga pase perjalanan -seperti penuturan Ibnu Katsir (didalam Albidayah Wannihayah-nya), Zubaidiy (didalam Al-Ittihaf Syarah Ihyaanya),  dan lain-lain- :

Pertama, pase mu'tazilah
Kedua, pase menjadi pengikut Ibnu Kilab, dan
Ketiga, pase menjadi pengikut Ahlussunnah dimana Imam Ahmad sebagai penghulu mereka.

Asy'ariy telah menjelaskan pase terakhir ini pada tiga kitabnya yang sangat popular; 1) Risalah Ilaa Ahli Tsighar, 2) Maqaalaatul Islamiyyiin, dan 3) Al-Ibaanah.

Barang siapa yang mengikuti Asy'ariy pada pase terakhir ini, maka ia sesuai dengan Ahlussunnah dalam mayoritas pandangannya. Dan barang siapa yang tetap mengikuti Asy'ariy dalam pase kedua sebelumnya, maka ia telah menyelisihi Asy'ariy sendiri dan menyelisihi Alussunnah dalam banyak pandangannya.

Kalau anda ingin mengetahuinya secara mendetailnya, maka silahkan merujuk kitab-kitab berikut :

1-Aqiidatul Imami Abil Hasan Asy'ariy, karya Doktor Umar Sulaiman Al-Asyqar.
2-Manhaju Ahlis Sunnah Waa Manhajul Asyaa'irah, karya Khalid Ibnu Abdul Lathif Nur.
3-Manhajul Asyaa'irah Fil Aqiidah, karya Doktor Safar Ibnu Abdurrahman Al-Hawaliy.  

Sedangkan Maturidiyyah adalah firqah kalamiyah yang dinisbatkan kepada Abu Manshur Al-Maturidiy [w.333 H]. Mereka memiliki usul yang didalamnya menyelisihi Ahlussunnah.

Perbedaan mereka dengan Asya'irah hanya terbatas pada beberapa masalah saja dimana sebagian Ulama telah mengkalkulasinya menjadi 13 masalah, dan perbedaan yang lainnya hanyalah bersifat lafdziy.

(Lihat : Dr. Abdullah Faqih, Fatawaa Syabakah Islamiyyah, Maktabah Syamilah).

Selasa, 08 November 2016

MENJADI AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH

AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH  

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Allahumma shalli 'alaa Muhammadin wa aali Muhammadin wa shahbihi wa sallim

Ahlussunnah Waljama’ah artinya adalah orang-orang yang berpegang teguh (mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan) terhadap sunnah Nabi Saw dan sunnah para sahabatnya.

Miturut al-Jurjani dalam kitab at-Ta’rifat-nya; Ahlussunnah Waljama‘ah adalah Ahlulhaqq, yaitu orang-orang yang meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan haq yang dihasilkan melalui berbagai hujjah dan burhan dari Allah swt. Ahlussunnah Waljama’ah  adalah  lawan dari Ahlul-ahwa` (pangikut hawa nafsu), yaitu mereka (ahlul kiblat / orang Islam) yang keyakinanya berbeda dengan keyakinan Ahlussunnah, seperti kelompok  Jabariyyah, Qadariyyah, Rawaafidl (syi'ah ekstrem), Khawaarij, Mu’athilah dan Musyabbihah, dimana setiap kelompok dari padanya terpecah menjadi 12 kelompok, maka jumlahnya menjadi 72 kelompok.  

Perkataan Aljurjani ini sesuai dengan kondisi zaman saat itu. Sedang untuk kondisi zaman kekinian, Ahlul-ahwa' walbida' (pengikut hawa nafsu dan bid'ah) adalah umat Islam (ahlul qiblat) yang keyakinan, amaliyah dan perjuangannya mengikuti / terhadap idiologi komunisme (termasuk sosialisme) dan ideologi kapitalisme, berikut seperangkat ide, pemikiran, sistem dan hukum yang memancar dari keduanya, seperti sekularisme, liberalisme, libertinisme, pluralisme, singkretisme, demokrasi, HAM, dialog antar agama, doa bersama lintas agama, dll. Karena problem, penyimpangan serta tantangan  atas Islam dan kaum muslim itu dari masa kemasa dan dari generasi ke genarasi mengalami perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu doktrin/ajaran yang diyakini, dipraktekkan dan didakwahkan oleh Qadhi Taqiyyuddin An-Nabhani serta para syabab Hizbut Tahrir, adalah doktrin Ahlussunnah Waljama’ah pada masa ini dan bagi generasi ini, juga sebagai pelengkap serta penyempurna juga kritik terhadap doktrin yang telah ada, karena yang namanya manusia itu tidak ada yang sempurna, kecuali baginda Nabi Muhammad Saw. Dan fakta serta realita Salafush Shalih dan Para Imam Mujtahid juga saling mengkritik, melengkapi dan menyempurnakan, tidak saling menyesatkan.        

Kesimpulan diatas diambil dari hadis-hadis berikut;

'An Abdillah ...
عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: "اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ على إحدى وسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً"، قَالُوْا: "مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟" قَالَ: "مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي".   رواه الترمذي  فى الإيمان  في باب ما جاء فى افتراق هذه الأمة من سننه ورواه أيضا الإمام أجمد فى المسند وإسناده صحيح.          
Dari Abdullah Ibn ‘Amer Ibn  al-‘Aash; Rasulullah saw bersabda: ”Umat Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok, umat Nasrani telah terpecah menjadi 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok dimana semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok”. Shahabat bertanya; ”Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”. Beliau Nabi bersabda; ”Siapa saja orang yang berpegang teguh (meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan) dengan sunnah (doktrin, tuntunan atau metode) ku   dan (sunnah) para sahabatku”. HR at-Turmudzi dalam  kitab Iman dalam bab terpecah belahnya umat, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya, dan isnadnya shahih.

Wafii riwaayatin ...
         وفى رواية الطبراني: إِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فرقةً وستفترق أمتي علي ثلاثٍ وسبعينَ فر قةً وَاحِدَةٌ مِنْهَا نَاجِيَةٌ وَالْبَاقُوْنَ هَلاَكَى". قالوا : "وَمَا النَّاجِيَةُ يا رسولَ الله؟". قال: "أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ"، قَالُوْا: "وَمَا أهلُ السنةِ والجماعةِ؟"، قال: "مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي".         
Dalam riwayat at-Thabarani, Nabi saw bersabda; ”Yahudi telah  terpecah menjadi 71 kelompok. Nasharo telah terpecah menjadi 72 kelompok. Dan  umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, darinya hanya ada satu kelompok yang selamat, sedang yang lain  semuanya rusak”. Shabat bertanya: ”Siapakah kelompok yang selamat itu, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda: ”Ahlussunah Waljama’ah”. Mereka bertanya; ”Siapakah Ahlussunah Waljama’ah itu ?”. Beliau bersabda; ”Siapa saja orang yang berpegang teguh (meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan) dengan sunnah (doktrin, tuntunan atau metode) ku pada hari ini dan (sunnah) para sahabatku”.  Dan hadits-hadits yang lainnya yang tdk saya sebutkan disini.  

BAGAIMANA MENJADI AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH  

Menjadi Ahlussunah Waljama’ah itu harus dengan berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Saw dan Sunnah Para Sahabatnya. Nabi Saw bersabda:

Uushiikum ...
  أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى إِخْتِلَافًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فىِ النَّارِ. رواه أحمد وأبو داود والترميذي وابن ماجه.
"Aku wasiatkan kepada kalian dengan bertaqwa kepada Allah azza wajalla, mendengar dan taat (kepada khalifah / amir), meskipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya, karena sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih diberi hidup, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh (meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan) terhadap sunnahku dan sunnah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah segala perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap sesat adalah di neraka". HR Imam Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah.

Dalam hal ini Syaikh Abdul Qadir Aljailany dalam kitab Alghunyah-nya menegaskan :

Fa'alalmu'mini ...
فعلى المؤمن اتباع السنة والجماعة فالسنة ما سنه رسول الله صلى الله عليه وسلم والجماعة ما اتفق عليه أصحابه رضي الله عنهم أجمعين في خلافة الأئمة الأربعة الخلفاء الراشدين المهديين رضي الله عنهم أجمعين .
Orang mukmin harus mengikuti Sunnah dan Jama'ah. Sunnah ialah apa saja yang telah dijelaskan / ditetapkan oleh Rasulullah Saw. Dan Jama'ah ialah apa saja yang telah disepakati oleh para sahabatnya di dalam khilafah empat imam alkhulafaa' arrosyidiin almahdiyyiin rodliyallahu 'anhum ajma'iin.

Wa anlaa yukaatsira ...
وأن لا يكاثر أهل البدع ولا يدانيهم ولا يسلم عليهم لأن الإمام أحمد قال : من سلم على صاحب البدعة فقد أحبه لقوله صلى الله عليه وسلم : أفشوا السلام بينكم تحابوا. ولا يجالسهم ولا يعزيهم ولا يهنئهم في الأعياد وأوقات السرور ولا يصلي عليهم إذا ماتوا ولا يترحم عليهم إذا ذكروا بل يباينهم ويعاديهم فى الله عز وجل معتقدا محتسبا بذالك الثواب الجزيل والأجر الكثير.
Dan tidak memperbanyak ahli bid'ah, tidak mendekati mereka, tidak memberi salam kepada mereka, dimana Imam Ahmad telah berkata; "Siapa saja yang memberi salam kepada ahli bid'ah, maka ia benar-benar telah mencintainya, karena sabda Nabi Saw; "Sebarkanlah salam diantara kalian, maka kalian akan saling mencintai", tidak duduk-duduk dengan mereka, tidak takziah kepada mereka, tidak tahniah / mengucapkan selamat kepada mereka di dalam hari raya dan saat-saat bahagia, tidak menyalati mereka ketika mereka mati, dan tidak mengucapkan rahimahullah ketika mereka disebut, tetapi meninggalkan mereka dan memusuhi mereka, semata-mata karena Allah 'azza wajalla, dengan penuh yakin serta mengharap pahala yang besar dan melimpah. (Syarhul Majalisis Saniyyah filkalaami 'alal Arba'iinan Nawawiyyah, hal. 88).  

AKHIR KALAM

Jadi, menjadi Ahlussunnah Waljama'ah itu beda dengan menjadi pengikut Ahlussunnah Waljama'ah. Sejumlah hadits serta pernyataan Syaikh Abdul Qadir Jailani rh diatas menyuruh kita agar manjadi Ahlussunnah Waljama'ah, bukan menjadi pengikut Ahlussunnah Waljama'ah. Ketika kita menjadi Ahlussunnah Waljama'ah, maka kita juga layak disebut sebagai Firqah Najiyah/ kelompok yang selamat dari jatuh kedalam neraka jahannam ketika menyeberangi Shirath, Thaifah Qawwamah/ kelompok penegak haq, Thaifah Zhahirah/ kelompok yang menang, dan Ghuraba/ kelompok minoritas yang dikemudian hari menjadi Sawad A'zham/ kelompok mayoritas.

Adapun menjadi pengikut Ahlussunnah Waljama'ah itu tidak dijamin selamat dari jatuh kedalam neraka Jahannam. Karena pengikut itu ada yang mengikuti dengan ihsan/berbuat baik dan ada yang mengikuti dengan isa-ah/berbuat buruk, seperti halnya mereka yang paling mengklaim menjadi pengikut Ahlussunnah Waljama'ah yang perbuatannya adalah perbuatan ahlunnaar/ ahli neraka seperti memitnah dan menolak dakwah kepada Syariah dan Khilafah. Wallahu a'lam bishshawwaab (Abulwafa Romli).

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!