Kamis, 18 Agustus 2016

KEKUATAN ITU

KEKUATAN BESAR YANG MENUNTUN DAN MENGARAHKANKU
(Tulisan ini tidak untuk menghina dan meremehkan siapapun)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Sobat, ada yang bertanya-tanya tentang siapa yang menuntun dan mengarahkanku, atau siapa yang ada dibelakangku, atau siapa sutradara yang mengaturku, sehingga aku dengan bebas dan terarah (dalam pandanganku) mampu menuliskan dan menyampaikan kalimat-kalimat kebenaran yang mencerahkan dan membongkar.

Seandainya saja semua guru dan ustadzku bersatu untuk menghalangiku, maka persatuan itu tidak akan bisa mencegahku dari aktifitasku itu, karena kekuatan itu lebih besar dan lebih menjanjikan balasan kebaikannya, juga lebih aku takuti sanksi keburukannya, dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, daripada mereka semuanya.

Qalbuku dipenuhi oleh cinta dan takut kepadanya yang saling berganti dan saling mengisi. Cinta kepadanya mengalahkan cinta kepada guru-guruku, ustadz-ustadzku, kedua orang tuaku, istri dan anak-anakku, dimana semuanya siap dikorbankan demi cinta kepadanya. Numun demikian, aku selalu berusaha dan berjuang untuk tetap menghormati mereka semua.

Aku selalu bertanya pada diriku, apakah aku ini munafik? Ketika aku mengetahui mereka melakukan penggembosan atau penolakan terhadap dakwah kepada penerapan syariat Islam secara total melalui penegakkan khilafah rosyidah, atau mereka beraktifitas mengokohkan sistem demokrasi yang kufur lagi syirik, atau mereka membuat-buat fitnah dan kebohongan terhadap HT/HTI, maka qalbuku membenci mereka, tapi aku berusaha dan berjuang untuk tetap hormat dan ta’zhim kepada mereka, dan usaha serta perjuanganku menjadi sia-sia, karena qalbuku tetap membenci mereka.

Kondisi inilah yang menyebabkanku sudah sekian tahun berlalu tidak berziaroh ke guru-guruku itu. Aku khawatir tergolong orang munafik, karena qalbuku membenci mereka, sedang lahirku berusaha, berjuang, dan berpura-pura hormat, ta’zhim dan loyalitas kepada mereka. Kekuatan besar itu yang selama ini menuntun dan mengarahkanku, dan yang selalu mengawasiku dari arah kanan dan kiri, dari depan dan belakang, dari atas dan bawah, bahkan dari semua sisi-sisiku. Kekuatan itu yang membuat aku senang dan takut. Siapakah kekuatan itu?

Kekuatan itu adalah Qiyadah Fikriyah (kepemimpinan ideologis) yang telah digariskan dan dirumuskan oleh pendiri Hizbut Tahrir Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh dalam kitab Nizham al-Islamnya. Qiyadah Fikriyah yang memancar dari Akidah Islam (rukun iman yang enam). Qiyadah Fikriyah yang menuntun dan mengarahkanku agar selalu cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya. Qiyadah Fikriyah yang menuntun dan mengarahkanku agar selalu taat kepada Alloh dan Rasul-Nya dan kepada semua pemimpin yang taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan agar selalu membenci musuh-musuh Alloh dan Rasul-Nya, dan musuh-musuh Islam dan kaum muslim.

Sudahkah sobat mengenal dan merasakan betapa dahsyatnya kekuatan Qiyadah Fikriyah?

(Pernah dipublikasikan di status fb abulwafa romli pada 18 Agustus 2013 pukul 14:20)

Senin, 15 Agustus 2016

PLURALISME


Bantahan Terhadap Ide Pluralisme Agama;

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Pluralisme agama adalah suatu paham yang menganggap semua agama adalah sama dan kebenaran setiap agama adalah relative [nisbiy], karena itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agama saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Secara historis paham pluralisme itu bukan berasal dari umat Islam, namun dari orang-orang Barat kristen, yang telah men. Misalnya pada tahun 1527 M. di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St. Barthalomens Day's Massacre. Pada suatu malam ditahun itu, sebanyak 10000 [sepuluh ribu] jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan yang semacam itulah yang kemudian mengilhami revisi Teologi Katolik dalam konsili Vatikan II [1962-1965 M.]. Semula diyakini; "Tidak ada keselamatan diluar Gereja". Lalu keyakinan itu diubah menjadi; "Keselamatan dan kebenaran itu bisa saja diluar Gereja", yakni diluar agama Katolik atau Protestan.

Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar dalam sejarah dan tradisi Islam, tetapi diimpor dari kaum Kristen Eropa dan Amerika Serikat. Misalnya, salah seorang dari mereka berpendapat bahwa semua agama selalu mengandung elemen kebenaran; tidak ada satupun agama yang memiiki kebenaran muthlak. Konsep ketuhanan dimuka bumi ini beragam dan tidak tunggal. Juga salah seorang dari mereka mengemukakan tentang perlunya menciptakan konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan bersama bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi. Ide pluralisme agama ini kemudian dikembangkan secara khusus dinegeri-negeri Islam termasuk di Indonesia.Fazlur Rahman adalah salah seorang tokoh pluralisme Pakistan yang menetap di AS dan menjadi guru besar di Universitas Chicago.Ia menjadi Maha Guru bagi kebanyakan tokoh pluralisme di Indonesia ketika mereka kuliah perbandingan agama di Chicago.Kemudian para anak didik Fazlur Rahman ini mempropagandakan ide pluralismenya keberbagai perguruan tinggi, bahkan sampai masuk kepondok-pondok pesantren.

Para propagandis pluralisme secara rutin mengkader generasi Islam melalui berbagai seminar, workshop, dan lokakarya, tidak hanya membahas tema pluralisme belaka, tetapi membahas tema-tema yang lain, seperti demokrasi, HAM dengan empat kebebasannya, sekularisme, kesetaraan gender dan lain-lain. Dalam pembahasan tema-tema tersebut mereka mengacu pada karya-karya teolog liberal seperti Thomas W.Arnold, Sayyid Ahmad Khan, Arkoun, Ali Abdur Raziq, Charless Kurzman, Fatimah Mernissi, Nasir Hamid Abu Zaid, Fazlur Rahman, dan lainnya. Karya-karya inilah yang mereka jadikan Kitab Suci diluar Al-Qur'an, bahkan untuk menghakimi Al-Qur'an. Para propagandis pluralisme telah berupaya mencari legitimasi Al-Qur'an terhadap pluralisme, mereka sering menggunakan ayat-ayat berikut;

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". QS Al-Baqarah [2]:62. Dan firman Allah SWT; 

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". QS Al-Maidah [5]: 69. Dan firman Allah SWT;

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu". QS Al-Hajj [22]:17.

Ayat-ayat tersebut oleh para propagandis ide pluralisme diangap mendukung pluralisme, terutama ayat 62 surat Al-Baqarah, ayat ini kerap kali dugunakan untuk menjustifikasi kesetaraan semua agama, artinya semua agama dianggap benar dan pemeluknya yang beriman dan beramal shaleh semuanya dianggap penghuni surga. Padahal penggunaan ayat ini untuk justifikasi ide pluralisme adalah tidak tepat, karena sejumlah alasan berikut;

PERTAMA ; Dilihat dari aspek sebab nuzul[turun]nya. Ayat ini merupakan jawaban terhadap Salman ra, dalam tafsir Ibnu Katsir dikemukakan bahwa ayat ini turun mengenai teman-teman Salman Al-Farisi ra. Ketika itu Salman menuturkan perihal teman-temannya kepada Nabi saw.Ia berkata; "Mereka mengerjakan shalat dan puasa, mereka beriman kepada engkau, dan mereka bersaksi behwa engkau akan diutus menjadi Nabi…".

Ketika Salman selesai memuji teman-temannya, maka Nabi saw bersabda kepadanya: "Hai Salman, mereka termasuk penghuni neraka". Sabda Nabi saw ini sangat berat bagi Salman. Lalu Allah swt menurunkan ayat tersebut. Berkenaan dengan sebab nuzul ini, Ibnu Katsir menegaskan bahwa iman orang-orang Yahudi adalah berpegang dengan kitab Taurat dan sunah nabi Musa as sampai datangnya nabi Isa as. Lalu ketika nabi Isa telah datang, maka orang-orang Yahudi yang tetap berpegang dengan Taurat dan mengikuti sunah nabi Musa as dan tidak mengikuti nabi Isa as, maka mereka adalah rusak [menjadi penghuni neraka].

Sedangkan mengenai keimanan orang-orang Nasrani adalah siapa saja diantara mereka yang berpegang dengan kitab Injil dan mengambil syariatnya nabi Isa as, maka mereka adalah termasuk orang-orang mu'min yang diterima imannya sampai datang nabi Muhammad saw. Jadi, siapa saja dari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengikuti nabi Muhammad saw dan tidak meninggalkan sunah Musa dan Isa as, juga tidak meninggalkan kitab Taurat dan Injil, maka mereka adalah orang-orang yang rusak [menjadi penghuni neraka]. Ali Ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa beliau berkata: "Lalu setelah ayat tersebut, Allah SWT menurunkan ayat berikut;

"Dan barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". QS Ali Imran [3]:85.
Perkataan Ibnu Abbas ra ini adalah informasi bahwasanya setelah nabi Muhammad  saw diutus, tidak diterima dari orang Yahudi maupun Nasrani, metode [thariqah] maupun amal, kecuali yang sesuai dengan syariat beliau saw. Sedangkan sebelum beliau diutus, maka setiap orang yang mengikuti Rasul pada masanya, dia berada diatas petunjuk, jalan yang benar, dan dia selamat.
Demikian penjelasan Ibnu Katsir mengenai tafsir ayat bersangkutan.

Dalam Hasyiyah Ash-Shawy atas tafsir Jalalain, Al-'Alamah Syaikh Ahmad Ash-Shawy Al-Maliky rh, mengenai surat Al-Baqarah ayat 62 menegaskan bahwa ayat tersebut berkenaan dengan orang-orang mu'min yang beramal shaleh yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw, seperti pendeta Buhaira, Abu Dzar Al-Ghifari, Waraqah Ibn Nawfal, Salman Al-Farisy, Qass Ibn Sa'idah dal lain-lain. Mereka beriman dengan Nabi Isa as dan mereka tidak berubah dan tidak mengganti agamanya sampai berjumpa dengan nabi Muhammad saw dan beriman dengan beliau saw. Sedangkan mereka yang beriman dengan Nabi Isa as dan berjumpa dengan Nabi Muhammad saw dan tidak beriman dengan beliau saw, maka mereka tetap abadi dineraka, karena Allah SWT berfirman; `"Dan barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". QS Ali Imran [3]:85.

Al-'Alamah Syaikh Muhammad Nawawi Banten dalam Tafsir Murahu Labid atau Tafsir Munirnya terkait surut Al-Baqarah ayat 62, menegaskan bahwa ayat tersebut berkenaan dengan orang-orang mu'min sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada masa fatrah dimana mereka beriman dengan Nabi Isa as seperti Qass Ibn Sa'idah, pendeta Buhaira, Habib An-Najar, Zaid Ibn Amer Ibn Nufail, Waraqah Ibn Nawfal, Salman Al-Farisy, Abu Dzar Al-Ghifary, utusan Raja Najasy, dan orang-orang yang menjadi penganut agama bathil, yaitu orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabi'in.

Jadi setiap orang yang beriman diantara mereka dengan diutusnya nabi Muhammad saw, yakni mereka beriman kepada Allah swt, hari kemudian, dan Muhammad saw, maka mereka mendapat pahala dari Allah swt. Begitu pula miturut para mufassir lain. Mereka semua berkesimpulan bahwa orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabi'in yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah mereka yang hidup sebelum diutusnya nabi Muhammad saw, mereka mengikuti agama nabi-nabi mereka dengan konsisten, maka mereka mendapatkan pahala dari Allah swt.

KEDUA ; Hanya Agama Islamlah Yang Benar Dan Diridhai Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya;  "Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah agama Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya". QS Ali Imran [3]:19.

Sebab nuzulnya ayat ini berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang mengklaim bahwasanya tidak ada agama yang lebi utama dari pada agama Yahudi, dan orang-orang Nasrani juga mengklaim bahwasanya tidak ada agama yang lebih utama dari ada agama Kristen. Maka Allah SWT menurunkan ayat tersebut.

Allah SWT juga berfirman;  "Dan barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi".

Dalam kitab Shafwatut Tafaasir, Syaikh Muhammad Aly Shabuni menegaskan bahwa melalui ayat ini Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti syariat Islam dan meninggalkan syariat yang lain setelah diutusnya nabi Muhammad saw, dan mereka yang mengingkarinya akan dimasukkan kedalam neraka dan mereka kekal didalamnya.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda;
والذي نفس محمد بيده لايسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولانصرني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه
"Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah mendengar mengenai aku seseorang dari umat ini, baik ia Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia mati dalam kondisi tidak mengimani agama yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk penghuni neraka". HR Imam Muslim dari Abu Hurairah ra.

Berdasarkan ayat serta hadis tersebut, nabi Muhammad saw sebagai pengemban risalah kepada seluruh umat manusia didunia ini telah menyeru kepada para raja yang beragama Kristen dan Majusi untuk memeluk agama Islam. Beliau mengirim surat kepada raja Najasi di Habasyah [Abasinea, Etiopia], Kaisar Heraclius penguasa Romawi, Kisra penguasa Persia, raja Muqauqis di Mesir, raja Harits Ghasan di Yaman, dan kepada Haudhah Hanafi, semuanya diseru agar meninggalkan agama mereka dan memeluk agama Islam. Isi surat beliau SAW kepada Heraclius, misalnya, adalah sebagai berikut;
"...فإني أدعوك بدعاية الإسلام، أسلم تسلم، يؤتك الله أجرك مرتين، فإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين...".
"… Sesungguhnya aku menyerumu untuk memeluk Islam, masuklah Islam niscaya kamu selamat, Allah memberimu pahala duakali, kalau kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa para petani [rakyatmu]…". HR Imam Bukhari.

Surat ini sesuai firman Allah SWT; "Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kalian (mau) masuk Islam?". Jika mereka masuk Islam, Sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya". QS Ali 'Imran [3] penggalan ayat 20.

KETIGA; Agama Islam Diturunkan Untuk Semua Manusia, Bahkan Untuk Jin.
Allah SWT berfirman;   "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui". QS Saba [34]: 28.
 
Dan firmannya : "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". QS Al-Anbiya [21]:107.

Dan Firman-Nya;  "Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk".

Dan Allah SWT berfirman; "Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: Telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami". QS Al-Jin [72]:1-2.

Pada sejumlah ayat diatas sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan bahwa Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul bagi seluruh manusia dan jin tanpa terkecuali. Oleh karena itu semua manusia dan jin wajib beriman kepadanya juga mengikutinya, baik mereka adalah Yahudi, Nasrani, Majusi dan yang lain. Mereka semua adalah obyek dakwah yang diseru untuk memeluk Islam dan agar meninggalkan agama-agama yang selama itu dianutnya. Sebab, jika mereka dianggap cukup dengan agamanya, maka untuk apa Rasulullah SAW bersusah payah menyeru mereka untuk memeluk Islam, dan apa faidahnya Allah SWT mengutus beliau membawa risalah Islam?

KEEMPAT ; Orang-Orang Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, dll. adalah orang-orang kafir dan musyrik. Para propagandis pluralisme telah menyejajarkan atau menyama- ratakan agama Islam dengan agama-agama lain, bahkan mereka sangat berani dan gegabah mengatakan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang muslim dan mu'min dan mendapat pahala disisi Allah SWT meskipun mereka tidak beriman kepada Muhammad SAW dan tidak mengikutinya.

Mereka menggunakan surat Al-Baqarah ayat 62, Al-Maidah ayat 69 dan Al-Hajj ayat 17 untuk menjustifikasi ide dan pendapat konyolnya. Padahal banyak sekali ayat-ayat muhkam menegaskan dengan sangat terang bahwa para pemeluk agama Yahudi, Kristen, Majusi, Budha, Hindu dll. adalah orang-orang kafir dan musyrik. Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, seperti diatas, telah memperlakukan mereka dan berinteraksi dengan mereka sebagai orang-orang kafir dan musyrik.

Diantara ayat-ayat muhkam yang menjelaskan kekafiran dan kemusyrikan mereka adalah firman Allah SWT;  "Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran)". QS Al-Bayinah [98]:1-2.

Para mufassir yang diantara mereka adalah As-'Alamah Syaikh Nawawi Banten mengemukakan bahwa yang dimaksud Ahli Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sedang yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah patung, seperti para pemeluk agama Budha, Hindu, Konghucu dll.

Dan pada ayat selanjutnya Allah SWT berfirman; "Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk". QS Al-Bayinah [98]:6.

Apalagi, seperti dalam tafsir Jalalain, kata min [yakni] dari rangkaian kata min ahlil kitaabi wal musyrikiin [yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik] adalah min bermakna penjelasan [bayan/yakni] dari kata al-ladziina kafaruu [orang-orang kafir]. Jadi konotasinya, seperti miturut Syaikh Shawiy, adalah fal ladziina kafaruu hum ahlul-kitab wal-musyrikiin [maka orang-orang kafir itu adalah ahlul kitab dan orang-orang musyrik].

Lebih-lebih Allah SWT berfirman;  "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam…". QS Al-Maidah [5] penggalan ayat 72.

Dan firman-Nya; "Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa…". QS Al-Maidah [5] penggalan ayat 73.

Dua penggalan ayat tersebut adalah berkenaan dengan orang-orang Nasrani bahwa mereka adalah orang-orang kafir.

Dan Allah SWT berfirman; "Orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu". QS Al-Baqarah [2] penggalan ayat 105.

Kata min dari kata min ahlil kitab adalah berkonotasi penjelasan [bayan/yakni], karena itu Syaikh Shawiy [seperti dalam Hasyiyah Ash-Shawiy atas tafsir Jalalain] telah menentukan makna ayat diatas sebagai berikut;
  ما يحب الذين كفروا وهم أهل الكتاب والمشركين إنزال خير من ربكم عليكم...
"Orang-orang kafir, yaitu Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik, tidak senang turunnya kebaikan dari Tuhan kalian kepada kalian…". 

Jadi konotasi Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik adalah orang-orang kafir.Ini adalah kesefakatan para mufassir. Juga ketika kita menelaah sejumlah ayat Al-Qur'an yang terkait dengan Ahlul Kitab, maka semuanya menunjukkan dengan sangat jelas bahwa mereka adalah orang-orang kafir, karena tidak memeluk agama Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW dan tidak meninggalkan agama mereka, yaitu agama Kristen dan Yahudi.

KELIMA ; Ijmak Telah Tetap Bahwa Selain Pemeluk Agama Islam Yang Telah Diturunkan Kepada Muhammad Rasulullah SAW Adalah Orang-Orang Kafir. Ijmak ini adalah ijmak seluruh umat Islam sepanjang zaman dan tidak ada khilaf didalamnya. Meskipun ada yang berpendapat bahwa Ijmak secara riil itu hanya terjadi pada masa Sahabat ra, yaitu Ijmak Sahabat, dan ada lagi yang berpendapat bahwa Ijmak tidak terbatas hanya pada masa Sahabat, tetapi bisa terjadi pada setiap masa. Akan tetapi Ijmak dalam masalah ini, baik Ijmak Sahabat maupun Ijmak selain Sahabat, telah tetap bahwa selain pemeluk agama Islam adalah orang-orang kafir.

Sebagai bukti yang tidak terbantahkan adalah kitab-kitab karya Para Ulama dari berbagai madzhab, khususnya Madzaahibul Arba'ah, terutama dalam pembahasan masalah pernikahan beda agama, jihad, jizyah, istilah kafir dzimmi, mu'ahad dan musta'man. Dan kitab-kitab tafsir berkenaan dengan ayat-ayat yang menyinggung Ahlul Kitab dan Musyrikiin. Para Ulama tersebut benar-benar telah Ijmak bahwa Ahlul Kitab adalah orang-orang kafir, apalagi orang-orang Budha, Hindu dll.

Sedangkan munculnya pendapat bahwa Ahlul Kitab adalah kaum muslim dan mu'min yang mendapat pahala disisi Allah swt dan akan masuk surga meskipun tetap pada agamanya, adalah pendapat nyeleneh produk dan rekayasa para orientalis dan misionaris kafir yang disusupkan kedalam pemikiran Islam melalui tangan-tangan mereka dari gerombolan muslim liberal.

Lima poin argument diatas sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan argument para propagandis ide pluralisme agama, dan untuk membongkar bahwa ide itu adalah ide kafir yang bertujuan untuk memurtadkan kaum muslim, terutama kaum muslim ASWAJA, dan faktanya juga telah menunjukkan bahwa mereka yang berbaris dalam barisan Islam Liberal adalah dari kelompok yang mengklaim paling ASWAJA ini.
Wallahu A'lam ...

Minggu, 14 Agustus 2016

KEMERDEKAAN HAKIKI YANG DIJANJIKAN

HANYA DENGAN KHILAFAH KITA BISA MERAIH KEMERDEKAAN HAKIKI

BismillaahirRohmaanirRohiim

Kita tahu dan paham, bahwa fakta penjajahan itu selalu numpang kepada kekuasaan, bahkan dilakukan oleh / dengan kekuasaan. Dan kita juga tahu dan paham, bahwa tujuan penjajahan adalah, 1) merampok sumber daya alam dari wilayah terjajah, 2) menguasai sumber daya manusia di wilayah terjajah, dan 3) menyebarkan / memaksakan agama penjajah terhadap penduduk wilayah terjajah (pemurtadan).

Oleh karenanya, metode yang ditempuh untuk meraih kemerdekaan hakiki adalah dengan menegakkan  kekuasaan kontra kekuasaan penjajah, bukan dengan kekuasaan yang dimiliki dan dipakai oleh penjajah. Maka ketika penjajah telah menjajah kita dengan kekuasaan sistem pemerintahan demokrsi - kapitalis - sekular, kita harus menegakkan kekuasaan dari sistem kontra sistem penjajah, yaitu sistem pemerintahan Islam, khilafah rosyidah, khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Inilah kekuasaan yang telah dijanjikan oleh Allah Swt untuk meraih kemerdekaan hakiki, kemerdekaan dari kemalangan, kesengsaraan dan kesempitan hidup di dunia, juga kemerdekaan dari jilatan api neraka yang sangat panas dan menyakitkan di akhirat kelak.

Dalam hal ini, Alloh SWT telah berjanji ;
ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻟَﻴَﺴْﺘَﺨْﻠِﻔَﻦْﻢُﻫَّ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺽِ ﻛَﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﺨْﻠَﻒَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻬِﻢْ، ﻭَﻟَﻴُﻤَﻜِّﻨَﻦَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰ ﻟَﻬُﻢْ، ﻭَﻟَﻴُﺒَﺪِّﻟَﻦّْﻢُﻫَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺧَﻮْﻓِﻬِﻢْ ﺃَﻣْﻨًﺎ، ﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻧَﻨِﻲ ﻻ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ﺑِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. QS an-Nuur [24]:

Pertama, terkait firmaan Alloh SWT :
ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻟَﻴَﺴْﺘَﺨْﻠِﻔَنهم ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺽِ ﻛَﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﺨْﻠَﻒَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻬِﻢْ ,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa”.

Term layastakhlifanna (sungguh akan menjadikan mereka berkuasa / memberikan kekuasaan kepada mereka) dan istakhlafa (telah memberikan kekuasaan) adalah pangkal (ashlun / ushul) dari bentuk negara Islam, yaitu khilafah. Karena dalam ilmu sharof kata “[la]yastakhlifa[nnahum]” dan “istakhlafa” adalah bentuk fi’il mudlari’ dan fi’il madli sudatsi (kalimat fi’il yang terdiri dari enam huruf), yang berkembang dari fi’il tsulatsi (kalimat fi’il yang terdiri dari tiga huruf) “khalafa”, dimana dari kata khalafa inilah terbentuknya kata “khilafah” dan “khalifah” yang urutan sharofnya adalah, “khalafa, yakhlufu, khilafah, wamakhlaf, fahuwa khalifah…”. Dan Alloh tidak menggunakan kata “yastawliy” dan “istawlaa” yang maknanya juga sama, yaitu berkuasa / menguasai.

Jadi Alloh berjanji akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi dengan negara khilafah dimana khalifah sebagai kepala negaranya, bukan dengan bentuk negara dan kepala negara yang lain. Oleh karenanya, terkait tafsir ayat tersebut Ibnu Katsir berkata:
ﻫﺬﺍ ﻭﻋﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺮﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺄﻧﻪ ﺳﻴﺠﻌﻞ ﺃﻣﺘﻪ ﺧﻠﻔﺎﺀ ﺍﻷﺭﺽ، ﺃﻱ : ﺃﺋﻤﺔَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺍﻟﻮﻻﺓَ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﺑﻬﻢ ﺗﺼﻠﺢ ﺍﻟﺒﻼﺩ، ﻭﺗﺨﻀﻊ ﻟﻬﻢ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ،
“Ini adalah janji Alloh kepada Rasululloh SAW bahwa Dia benar-benar akan menjadikan umatnya khalifah-khalifah di bumi, yakni para imam dan para penguasa bagi manusia, yang dengan mereka negeri-negeri menjadi baik, dan bangsa-bangsa menjadi tunduk…”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/77, Maktabah Syamilah).

Kesimpulan ini juga telah dijelaskan oleh Sunnah. Nabi SAW bersabda:
ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓُ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻠَﺎﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ...  ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻠَﺎﻓَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﺛُﻢَّ ﺳَﻜَﺖَ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ
“Di tengah kalian sedang ada kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mengangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian, … … … Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian". Kemudian beliau diam". HR Ahmad Dari Hudzaifah bin al-Yaman RA.

Dan terkait khalifah Alloh SWT berfirman:
... ﺇِﻧِّﻲ ﺟَﺎﻋِﻞٌ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔً ...
"… Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…". QS al-Baqaroh [2]: 30. Dan firman-Nya:
ﻳَﺎ ﺩَﺍﻭُﺩُ ﺇِﻧَّﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻙَ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔً ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ...
“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,…”. QS Shad [38]: 26.

Dan Nabi SAW bersabda:
ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻱ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺃﻣﻴﺮﺍً، ﻗﺎﻝ : ﺛﻢ ﺗﻜﻠﻢ ﺑﺸﻴﺊ ﻟﻢ ﺃﻓﻬﻤﻪ ﻓﺴﺄﻟﺖُ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻠﻴﻨﻲ ﻓﻘﺎﻝ : ﻗﺎﻝ : ﻛﻠﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺮﻳﺶ . ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﻟﻠﻔﻆ ﻟﻠﺘﺮﻣﻴﺬﻱ ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﺳﻤﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
"Setelahku akan ada dua belas amir (khalifah sebagai amiirul mu’miniin)", kemudian beliau membicarakan sesuatu yang tidak aku pahami, lalu aku bertanya kepada orang yang ada di sampingku, lalu ia berkata; Beliau bersabda; "Semuanya dari Quraisy".
ﻭﻓﻰ ﻟﻔﻆ ﻷﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ : ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻗﺎﺋﻤﺎً ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻛﻠﻬﻢ ﺗﺠﺘﻤﻊ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻷﻣﺔ .
Dalam lafadz Abu Daud [Nabi SAW bersabda]; "Agama ini akan selalu tegak sampai ada dua belas khalifah memimpin kalian, dimana semuanya dapat menyatukan umat".

Dan sabdanya:
ﻛﺎﻧﺖ ﺑﻨﻮ ﺇﺳﺮﺍﺋﻴﻞ ﺗﺴﻮﺳﻬﻢ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ، ﻛﻠﻤﺎ ﻫﻠﻚ ﻧﺒﻲ ﺧﻠﻔﻪ ﻧﺒﻲ، ﻭﺃﻧﻪ ﻻ ﻧﺒﻲ ﺑﻌﺪﻱ، ﻭﺳﺘﻜﻮﻥ ﺧﻠﻔﺎﺀ ﻓﺘﻜﺜﺮ ، ...
“Dahulu Bani Israel urusan politiknya selalu dipimpin oleh para nabi, dimana ketika ada nabi yang wafat, maka digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi lagi setelahku, dan akan ada banyak khalifah, …”. HR Muslim dari Abu Hurairoh ra.

Dan sabdanya:
ﺇﺫﺍ ﺑﻮﻳﻊ ﻟﺨﻠﻴﻔﺘﻴﻦ ﻓﺎﻗﺘﻠﻮﺍ ﺍﻵﺧﺮ ﻣﻨﻬﻤﺎ .
“Ketika telah dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya”. HR Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri ra.

Dan sahabat telah ijmak mengajukan Abu Bakar ash-Shiddiq setelah terjadi perselisihan diantara sahabat muhajirin dan anshar di saqifah Bani Saidah dalam pengangkatan khalifah. Sehingga sahabat anshar berkata: “Dari kami ada amir (pemimpin) dan dari kalian ada amir”. Lalu Abu Bakar, Umar dan sahabat muhajirin menolak hal itu dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya orang Arab itu tidak tunduk kecuali kepada perkampungan Quraisy ini”, dan meriwayatkan khabar tentang itu kepada mereka. Lalu mereka kembali dan taat kepada orang Quraisy. (Tafsir al-Qurthubi ayat terkait). Dan para imam madzhab juga telah sepakat akan kewajiban menegakkan khilafah sebagai bentuk negara Islam, juga kewajiban mengangkat serta membaiat khalifah sebagai kepala negaranya.

Nah, dengan tegakknya khilafah, kita telah memiliki sistem pemerintahan kontra sistem pemerintahan penjajah. Sehingga kita bisa merdeka dari sistem pemerintahan penjajah. Kita juga bisa memiliki kekuasaan kontra kekuasaan penjajah.

Kedua,  terkait firman Alloh SWT;
ﻭَﻟَﻴُﻤَﻜِّﻨَﻦَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰ ﻟَﻬُﻢْ، ﻭَﻟَﻴُﺒَﺪِّﻟَنهم ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺧَﻮْﻓِﻬِﻢْ ﺃَﻣْﻨًﺎ ،
“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa”.

Dengan demikian juga, setelah tegaknya khilafah, kita telah meraih dua kemerdekaan sekaligus :
1) kemerdekaan dari penjajahan agama, yakni pemurtadan yang dilakukan penjajah. Karena hukum-hukum yang diterapkan oleh negara khilafah terhadap masyarakatnya adalah hukum-hukum Islam, karena agama yang dimaksud adalah agama Islam. Sedang pengertian agama yang diteguhkan adalah agama yang hukum-hukumnya diterapkan secara sempurna dalam semua lini kehidupan, masyarakat dan negara. Lebih dari itu, menerapkan hukum-hukum Islam secara sempurna adalah fardlu / wajib atas kaum muslim, sama saja hukum-hukum yang penerapannya tidak membutuhkan negara atau yang membutuhkan negara. Sedang terkait hukum-hukum yang penerapannya membutuhkan negara, maka disinilah fungsi serta urgensi negara Islam. Dan 2) kemerdekaan dari rasa ketakutan akibat berlangsungnya berbagai jenis penjajahan, yaitu rasa takut akan kemalangan, kesengsaraan dan penderitaan hidup akibat keazaliman dan keserakahan penjajah, juga rasa takut yang mendalam akan azab Allah di akhirat kelak akibat pengabaian hukum-hukumNya.

DI PUNCAK KEMERDEKAAN
Di puncak kemerdekaan hakiki kaum muslimin dapat beribadah kepada Allah Swt secara sempurna. Allah Swt berfirman :
ﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻧَﻨِﻲ ﻻ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ﺑِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ،
“Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”

Jadi puncak dari kemerdekaan  adalah supaya kaum muslim dapat menyembah (beribadah kepada) Alloh SWT dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya.

Menyembah Alloh secara umum adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sama saja menyembah secara ritual, spiritual, moral, dan sosial, seperti shalat dan puasa, berdzikir dan berpikir, bershalawat dan bertilawah, menolong, bersedekah dan berzakat; maupun secara bermasyarakat dan bernegar, seperti bergaul, berpedidikan, berekonomi, berpolitik, berhukum dan bersistem. Semuanya harus mengacu pada syariat Islam dalam hal perintah dan larangan Alloh SWT.

Tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Alloh, artinya bukan hanya menyekutukan-Nya dengan berhala, patung, setan, jin, bebatuan, jimat dan keris, kuburan, malaikat, nabi dan rasul, dan orang-orang saleh yang telah mati. Akan tetapi termasuk menyekutukan (musyrik) adalah menyekutukan hukum produk hawa nafsu manusia sebagai thaghut dengan hukum Alloh SWT.
Karena mamasukkan (menyejajarkan) hukum Islam ke dalam hukum positif buatan manusia yang diselimuti hawa nafsu adalah perbuatan syirik yang dosanya kelak pada hari kiamat tidak dimaafkan, meskipun sudah ditahlili dan dihauli ratusan kali, kecuali ketika di dunianya sudah bertaubat dan sudah meninggalkan syirik itu.

Dalam hal ini Allah swt berfirman:
ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺒِﺜُﻮْﺍ، ﻟَﻪُ ﻏَﻴْﺐُ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ، ﺃَﺑْﺼِﺮْ ﺑِﻪِ ﻭَﺃَﺳْﻤِﻊْ، ﻣَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻧِﻪِ ﻣِﻦْ ﻭَﻟِﻲٍّ ﻭَﻻَ ﻳُﺸْﺮِﻙُ ﻓِﻲ ﺣُﻜْﻤِﻪِ ﺃَﺣَﺪﺍً .
Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan (hukum)”. QS al-Kahfi [18]: 26.

Dan firman-Nya:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻻَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﺇِﺛْﻤﺎً ﻋَﻈِﻴْﻤﺎً .
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. QS al-Nisa’ [4]: 48.

Dan firman-Nya:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻻَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻼَﻻً ﺑَﻌِﻴْﺪﺍً .
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. QS al-Nisa’ [4]: 117.

Dengan demikian, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah ...

DI DALAM SISTEM DEMOKRASI KAUM MUSLIMIN TIDAK AKAN PERNAH MERAIH KEMERDEKAAN HAKIKI, KARENA PENJAJAH JUSTRU MENJADIKAN DEMOKRASI SEBAGAI ALAT UNTUK MELANGGENGKAN PENJAJAHANNYA

HANYA DENGAN KHILAFAH KAUM MUSLIMIN BISA MERAIH KEMERDEKAAN YANG SESUNGGUHNYA

MARI KITA CAMPAKKAN DEMOKRASI DAN TEGAKKAN KHILAFAH!

Kamis, 11 Agustus 2016

AZAB BAGI ORANG SEKULAR

Ternyata Azab Kaum Sekular Sama Dengan Azab Kaum Munafik Dan Raja Fir'aun Beserta Keluarga Dan Tentaranya. Gak Percaya? Baca Sampai Tuntas ...

Bismillaahir Rahmaanir Rohiim
Berangkat dari melihat dan merasakan berbagai fakta kerusakan interaksi kaum muslimin dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa orang-orang sekuler kelak diakhirat akan dikembalikan kepada siksa yang amat berat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang paling bawah, karena hakekat orang-orang sekuler adalah orang - orang munafik dimana karakter kemunafikannya telah ada dan nyata melekat pada keyakinan dan perilakunya. Mereka berkeyakinan bahwa agama tidak boleh ikut campur  mengatur urusan manusia dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara.

Bagi siapa saja perilaku mereka sudah sangat jelas, yaitu selalu melakukan penggembosan terhadap para pengemban dakwah yang mukhlish-mukhlish yang tidak punya tujuan kecuali agar syariat [agama] Islam dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara, dengan demikian Allah swt ridha kepada mereka, jadi tujuan hakiki mereka hanyalah menggapai ridha-Nya. Kaum sekular selalu membuat ide dan slogan tandingan terhadap ide dan slogan para pengemban dakwah, baik secara terang-terangan maupun samar-samar, baik dilakukan sendiri atau menyuruh pihak lain. Tujuan mereka adalah menggagalkan cita-cita para pengemban dakwah, atau memperlambat terealisasinya cita-cita itu, yakni diterapkannya syariat Islam dalam semua lini kehidupan. Dalam kaitannya dengan kaum munafik Allah swt berfirman;  

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar". QS. An-Nisa [4]:145-146.  

Tingkatan neraka yang paling bawah adalah yang paling panas. Neraka itu memiliki tuju tingkatan; Pertama, yaitu yang paling atas, adalah neraka Jahannam diperuntukkan bagi orang Islam yang mengerjakan maksiat. Kedua neraka Lazha bagi orang Kristen. Ketiga neraka Huthamah bagi orang Yahudi. Keempat neraka Sa'ir bagi orang Shabiin. Kelima neraka Saqar bagi orang Majusi. Keenam neraka Jahim bagi orang Musyrik. Dan ketujuh neraka Hawiyah bagi orang munafik dan bagi Fir'aun beserta tentaranya, karena Allah swt. telah berfirman;  

"Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam siksa yang sangat berat [asyaddil 'adzaab]".QS. Al-Mu'min [40]:46. Ini sesuai dengan siksa bagi kaum sekular seperti pada ayat ;  

"Apakah kalian beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripada kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat [asyaddil 'adzaab]. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat" QS. Al-Baq|arah [2]:85.  

Jadi orang-orang sekular itu kalau mereka tidak tergolong dari kaum munafik, maka mereka tergolong pengikut Fir'aun. Inilah benang merah [hubungan] antara Ahlu Fir'aun dan demokrasi-sekular.

Siksa yang akan mereka rasakan berat sekali sesuai keyakinan dan perilaku mereka di dunia dimana mereka suka menggunting dalam lipatan dan bermacam penggembosan mereka lancarkan terhadap dakwah penerapan syariat secara total. Mereka bekerja sama dengan kaum kuffar dan musyrikiin, dan mereka menerima konpensasi berupa dolar yang cukup banyak dan menggiurkan. Siksa yang sangat berat layak mereka terima kecuali kalau mereka bertaubat secara nashuha, melakukan perbaikan, berpegang kepada agama Allah, dan ikhlas dalam beragama.l

Mereka harus bertaubat dengan meninggalkan keyakinan dan perilaku yang merugikan dirinya, Islam dan kaum muslim pengemban dakwah. Segala bentuk penggembosan harus mereka hentikan, juga aliran dolar dari kaum kuffar, setelah sebelumnya merobah keyakinannya bahwa syariat Islam sudah sangat sempurna dan mampu menjadi solusi atas berbagai problem umat manusia, bahkan problematika dunia, dan bahwa sekularisme adalah akidah produk manusia dari belahan dunia barat yang kafir dan sangat kontradiksi dengan akidah Islam.

Mereka harus melakukan perbaikan terhadap semua yang telah mereka lakukan. Mereka harus mengembalikan nama baik serta kehormatan individu, jama'ah atau partai yang pernah mereka fitnah dan mereka gembosi. Mereka harus menulis buku-buku yang pro dakwah dan pro syariat sebagai ganti dari buku-buku yang telah mereka tulis dengan penuh rekayasa, dusta, fitnah dan profokatif terhadap para pengemban dakwah.

Dan mereka harus berpegang teguh dengan tali [agama] Allah dan ikut berdakwah bersama para pengemban dakwah, sebagai ganti dari berpegang teguh mereka kepada sekularisme dan dakwah mereka kepadanya. Dan mereka harus ikhlas mengerjakan agamanya hanya karena Allah swt.  

Jadi taubat, melakukan perbaikan, berpegang teguh kepada agama Islam, dan ikhlas, semuanya wajib dilakukan oleh kaum sekular muslim agar mereka terhindar dari siksa yang sangat berat [asyaddil 'adzaab] bersama kaum munafik dan kaum Fir'aun di neraka Hawiyah. Maka ketika mereka telah melakukan semuanya, mereka baru layak menjadi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, dan layak mengklaim paling ASWAJA.