Minggu, 26 Juni 2016

BATAS MAKSIMAL KAUM MUSLIMIN KOSONG DARI KHALIFAH ADALAH 3 (TIGA) HARI

KEKUATAN DALIL YANG MENDASARI PENDAPAT HIZBUT TAHRIR: BATAS MAKSIMAL KAUM MUSLIMIN KOSONG DARI KHALIFAH ADALAH 3 (TIGA) HARI
Oleh : Ustadz Azizi Fathani

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Al-hamdu lillaah, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa rasuulillaah, wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah. Wa ba’d.

Semoga kita senantiasa dikaruniai sifat adil dan hati yang bersih. aamiin
Asalnya, kaum muslimin tidak boleh vacum dari keberadaan khalifah sama sekali, berdasarkan:

Pertama; Hadits Nabi saw, yang salah satu di antaranya adalah riwayat Muslim dalam Shahihnya:
ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻣﻦ ﺧﻠﻊ ﻳﺪﺍ ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﻟﻘﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻭﻻ ﺣﺠﺔ ﻟﻪ، ﻭﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﻋﻨﻘﻪ ﺑﻴﻌﺔ ﻣﺎﺕ ﻣﻴﺘﺔ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang berlepas tangan dari ketaatan (terhadap Khalifah) maka dia akan menjumpai Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah, dan barangsiapa yang mati sementara di atas pundaknya tidak ada bai’at maka dia mati sebagaimana kematian jahiliyah .” (HR. Muslim)

Ibn Hajar Al-Asqalani menjelaskan:
ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻤﻴﺘﺔ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻫﻲ ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﻤﻴﻢ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻛﻤﻮﺕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺿﻼﻝ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺍﻣﺎﻡ ﻣﻄﺎﻉ ﻷﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﺑﻞ ﻳﻤﻮﺕ ﻋﺎﺻﻴﺎ .
“Maksud dari “kematian jahiliyah” –yaitu dengan mim dibaca kasrah (Al-Miitah)– adalah kondisi kematian sebagaimana matinya orang jahiliyah dalam kesesatan dan tidak memiliki Imam yang ditaati , karena mereka tidak mengetahui hal itu. Yang dimaksudkan bukan mati dalam keadaan kafir, melainkan mati dalam keadaan bermaksiat.” (Ibn Hajar, Fathul Baarii, Syamilah)

Lafazh miitah jaahiliyyah (kematian jahiliyah) merupakan celaan yang menunjukkan keharaman apa-apa yang dicela dengannya, yaitu kematian yang terjadi saat tidak ada khalifah. Karena kita diperintahkan untuk lari menjauhi celaan Syaari’ , maka keberadaan seorang khalifah menjadi kewajiban yang berlaku terus-menerus di setiap saat tanpa mengenal waktu jeda.

Ke-Dua; Ijma' Sahabat, yaitu dalam menyegerakan pengangkatan Khalifah melebihi pengurusan mereka terhadap jenazah Nabi saw. Demikian pula penyegeraannya sepeninggal Abu Bakar ra. Sehingga terangkatlah khalifah baru pada hari itu juga (hari wafatnya Imam atau khalifah lama).
Kemudian dalam proses pergantian khalifah di masa berikutnya, 'Umar memerintahkan agar Ahli Syuraa bermusyawarah selama 3 hari untuk menentukan siapa khalifah setelah beliau, dan para sahabat tidak ada yang mengingkari atau menentang perintah tersebut. Sehingga dipahami telah terjadi ijma' di kalangan mereka bahwa pengangkatan khalifah boleh ditunda dengan sengaja selama 3 hari, di mana jika di sela-sela 3 hari itu belum terangkat seorang khalifah maka kaum muslimin baik yang mengusahakannya maupun yang tidak tidak ada yang berdosa.

Akan tetapi selepas itu (setelah 3 hari), kaum muslimin sudah harus memiliki khalifah, yang mana jika tidak juga terangkat seorang khalifah maka kaum muslimin berdosa secara keseluruhan, kecuali siapa-siapa yang mengusahakannya dengan aktivitas nyata (berjama’ah, aktivitas politik, terarah, terukur, dsb.).

Artinya, apabila terpilih khalifah kurang dari 3 hari, maka itu lebih utama. Apabila terpilih khalifah pada hari ke-3 (tepat sebelum datang hari ke-4), maka itu boleh. Akan tetapi, untuk sengaja menundanya lebih lama lagi (melebihi batas 3 hari), apakah itu 5 hari, seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan lebih, maka dibutuhkan dalil lain lagi yang membolehkannya.

Atau dengan kata lain, ijma' shahabat tersebut menerangkan adanya dispensasi terkait wajibnya keberadaan khalifah di setiap waktu, bahwa dalam rentang waktu tiga hari pertama sepeninggal khalifah lama, meninggalnya seorang muslim tidak terhitung sebagai kematian jahiliyah. wallaahu a'lam

Bagian "perintah 'Umar untuk syura 3 haridan tidak diingkari Sahabat" inilah sebenarnya yang digunakan Hizbut Tahrir sebagai landasan untuk pendapat batas maksimal masa vacum dari khalifah selama tiga hari.

Bukan bagian "perintah 'Umar untuk membunuh anggota syura yang menyelisihi mayoritas Ahli Syura". Karena bagian yang kedua ini sama sekali tidak menunjukkan batas waktu penundaan tersebut. Jika shahih, dia sebatas menunjukkan tegas atau seriusnya pemilihan khalifah, namun jika dha'if, dia sama sekali tidak berpengaruh terhadap pendapat Hizbut Tahrir di atas.

Jadi, yang merupakan penentu benar-tidaknya pendapat Hizbut Tahrir di atas adalah shahih-tidaknya bagian yang pertama (perintah 'Umar untuk syura 3 hari dan tidak diingkari Sahabat), bukan shahih-tidaknya bagian ke-dua (perintah 'Umar untuk membunuh anggota syura yang menyelisihi mayoritas Ahli Syura), bukan pula shahih-tidaknya bagian-bagian lainnya dari riwayat Ath-Thabari yang panjang itu.

Terlepas dari adanya kalangan yang mendha’ifkan secara mutlak riwayat Ath-Thabari yang menghimpun kedua bagian tersebut sekaligus, al-faqir katakan bahwa bagian yang menjadi landasan pendapat Hizbut Tahrir ini adalah bagian yang shahih, karena didukung oleh riwayat yang dibawakan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dengan sanad yang Hasan berikut ini:
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺍﻟﻮﺍﺳﻄﻲ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﺑﻦ ﻓﻀﺎﻟﺔ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ ﻋﻦ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ : ﻟﻤﺎ ﻃﻌﻦ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻋﻤﺮ ﻃﻌﻨﻪ ﻃﻌﻨﺘﻴﻦ ﻓﻈﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻥ ﻟﻪ ﺫﻧﺒﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻ ﻳﻌﻠﻤﻪ ﻓﺪﻋﺎ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺤﺒﻪ ﻭﻳﺪﻧﻴﻪ ﻭﻳﺴﺘﻤﻊ ﻣﻨﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻧﻌﻠﻢ ﻋﻦ ﻣﻸ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﻓﺨﺮﺝ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﺠﻌﻞ ﻻ ﻳﻤﺮ ﺑﻤﻸ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻻ ﻭﻫﻢ ﻳﺒﻜﻮﻥ ﻓﺮﺟﻊ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻣﺎ ﺃﺗﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﻣﻸ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﻻ ﻭﻫﻢ ﻳﺒﻜﻮﻥ ﻛﺄﻧﻤﺎ ﻓﻘﺪﻭﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺃﺑﻜﺎﺭ ﺃﻭﻻﺩﻫﻢ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﻦ ﻗﺘﻠﻨﻲ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﺍﻟﻤﺠﻮﺳﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ ﻗﺎﻝ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﺮﺃﻳﺖ ﺍﻟﺒﺸﺮ ﻓﻲ ﻭﺟﻬﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﺒﺘﻠﻨﻲ ﺑﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ ﻳﺤﺎﺟﻨﻲ ﺑﻘﻮﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻣﺎ ﺇﻧﻲ ﻛﻨﺖ ﻗﺪ ﻧﻬﻴﺘﻜﻢ ﺃﻥ ﺗﺠﻠﺒﻮﺍ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻮﺝ ﺃﺣﺪﺍ ﻓﻌﺼﻴﺘﻤﻮﻧﻲ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﺩﻋﻮﺍ ﻟﻲ ﺇﺧﻮﺍﻧﻲ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻋﻠﻲ ﻭﻃﻠﺤﺔ ﻭﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﻭﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻭﻗﺎﺹ ﻓﺄﺭﺳﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺛﻢ ﻭﺿﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻓﻲ ﺣﺠﺮﻱ ﻓﻠﻤﺎ ﺟﺎﺅﻭﺍ ﻗﻠﺖ ﻫﺆﻻﺀ ﻗﺪ ﺣﻀﺮﻭﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻧﻌﻢ ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻮﺟﺪﺗﻜﻢ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺴﺘﺔ ﺭﺅﻭﺱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻗﺎﺩﺗﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﺇﻻ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻘﻤﺘﻢ ﻳﺴﺘﻘﻴﻢ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺇﻥ ﻳﻜﻦ ﺍﺧﺘﻼﻑ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻜﻢ ﻓﻠﻤﺎ ﺳﻤﻌﺖ ﺫﻛﺮ ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﻭﺍﻟﺸﻘﺎﻕ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﺋﻦ ﻷﻧﻪ ﻗﻞ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺌﺎ ﺇﻻ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﺛﻢ ﻧﺰﻑ ﺍﻟﺪﻡ ﻓﻬﻤﺴﻮﺍ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﺧﺸﻴﺖ ﺃﻥ ﻳﺒﺎﻳﻌﻮﺍ ﺭﺟﻼ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻘﻠﺖ ﺇﻥ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺣﻲ ﺑﻌﺪ ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺧﻠﻴﻔﺘﺎﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺧﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﺣﻤﻠﻮﻧﻲ ﻓﺤﻤﻠﻨﺎﻩ ﻓﻘﺎﻝ ﺗﺸﺎﻭﺭﻭﺍ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺻﻬﻴﺐ ﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﻧﺸﺎﻭﺭ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻓﻘﺎﻝ ﺷﺎﻭﺭﻭﺍ ﺍﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻭﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻭﺳﺮﺍﺓ ﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﻨﺎﺩ ﺛﻢ ﺩﻋﺎ ﺑﺸﺮﺑﺔ ﻣﻦ ﻟﺒﻦ ﻓﺸﺮﺏ ﻓﺨﺮﺝ ﺑﻴﺎﺽ ﺍﻟﻠﺒﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺮﺣﻴﻦ ﻓﻌﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻵﻥ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻟﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻛﻠﻬﺎ ﻻﻓﺘﺪﻳﺖ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﻤﻄﻠﻊ ﻭﻣﺎ ﺫﺍﻙ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺃﻛﻮﻥ ﺭﺃﻳﺖ ﺇﻻ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺃﻥ ﻗﻠﺖ ﺫﻟﻚ ﻓﺠﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﺃﻟﻴﺲ ﻗﺪ ﺩﻋﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﺰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﺫ ﻳﺨﺎﻓﻮﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺳﻠﻤﺖ ﻛﺎﻥ ﺇﺳﻼﻣﻚ ﻋﺰﺍ ﻭﻇﻬﺮ ﺑﻚ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﻫﺎﺟﺮﺕ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﻜﺎﻧﺖ ﻫﺠﺮﺗﻚ ﻓﺘﺤﺎ ﺛﻢ ﻟﻢ ﺗﻐﺐ ﻋﻦ ﻣﺸﻬﺪ ﺷﻬﺪﻩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻗﺘﺎﻝ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ ﻛﺬﺍ ﻭﻳﻮﻡ ﻛﺬﺍ ﺛﻢ ﻗﺒﺾ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻋﻨﻚ ﺭﺍﺽ ﻓﻮﺍﺯﺭﺕ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﺔ ﺑﻌﺪﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻀﺮﺑﺖ ﻣﻦ ﺃﺩﺑﺮ ﺑﻤﻦ ﺃﻗﺒﻞ ﺣﺘﻰ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻃﻮﻋﺎ ﺃﻭ ﻛﺮﻫﺎ ﺛﻢ ﻗﺒﺾ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﺔ ﻭﻫﻮ ﻋﻨﻚ ﺭﺍﺽ ﺛﻢ ﻭﻟﻴﺖ ﺑﺨﻴﺮ ﻣﺎ ﻭﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺼﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺍﻷﻣﺼﺎﺭ ﻭﺟﺒﻰ ﺑﻚ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻭﻧﻔﻰ ﺑﻚ ﺍﻟﻌﺪﻭ ﻭﺃﺩﺧﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻣﻦ ﺗﻮﺳﻌﻬﻢ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﺗﻮﺳﻌﻬﻢ ﻓﻲ ﺃﺭﺯﺍﻗﻬﻢ ﺛﻢ ﺧﺘﻢ ﻟﻚ ﺑﺎﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﻓﻬﻨﻴﺌﺎ ﻟﻚ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻐﺮﻭﺭ ﻣﻦ ﺗﻐﺮﺭﻭﻧﻪ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺃﺗﺸﻬﺪ ﻟﻲ ﻳﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻧﻌﻢ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻟﻚ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﺃﻟﺼﻖ ﺧﺪﻱ ﺑﺎﻷﺭﺽ ﻳﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻓﻮﺿﻌﺘﻪ ﻣﻦ ﻓﺨﺬﻱ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻗﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺼﻖ ﺧﺪﻱ ﺑﺎﻷﺭﺽ ﻓﺘﺮﻙ ﻟﺤﻴﺘﻪ ﻭﺧﺪﻩ ﺣﺘﻰ ﻭﻗﻊ ﺑﺎﻷﺭﺽ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﻳﻠﻚ ﻭﻭﻳﻞ ﺃﻣﻚ ﻳﺎ ﻋﻤﺮ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﺛﻢ ﻗﺒﺾ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﺒﺾ ﺃﺭﺳﻠﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﺁﺗﻴﻜﻢ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻔﻌﻠﻮﺍ ﻣﺎ ﺁﻣﺮﻛﻢ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﻭﺭﺓ ﺍﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻭﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻭﺳﺮﺍﺓ ﻣﻦ ﻫﺎ ﻫﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﻨﺎﺩ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺫﻛﺮ ﻟﻪ ﻓﻌﻞ ﻋﻤﺮ ﻋﻨﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻭﺧﺸﻴﺘﻪ ﻣﻦ ﺭﺑﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺟﻤﻊ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎ ﻭﺷﻔﻘﺔ ﻭﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﺟﻤﻊ ﺇﺳﺎﺀﺓ ﻭﻏﺮﺓ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻭﺟﺪﺕ ﻓﻴﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻻ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻘﻲ ﻋﺒﺪﺍ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎ ﺇﻻ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﻣﺨﺎﻓﺔ ﻭﺷﻔﻘﺔ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻭﺟﺪﺕ ﻓﻴﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻻ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻘﻲ ﻋﺒﺪﺍ ﺇﺯﺩﺍﺩ ﺇﺳﺎﺀﺓ ﺇﻻ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﻏﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﺮﻭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺇﻻ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﺑﻦ ﻓﻀﺎﻟﺔ
Al-Haitsami dalam Majma’uz-Zawaaid berkomentar:
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﻭﺳﻂ ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ
“Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath, dan sanadnya Hasan.” (Al-Haitsami, Majma’uz Zawaaid, Syamilah)

Di dalamnya terdapat perkataan ‘Umar yang berbunyi:
ﺗﺸﺎﻭﺭﻭﺍ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺻﻬﻴﺐ
“Bermusyawarahlah kalian selama tiga hari , dan hendaknya Shuhaib yang mengimami shalat kaum muslimin.”

Sangat mirip dengan redaksi yang dibawakan oleh At-Thabari dalam Taariikh-nya:
ﻓﺈﺫﺍ ﻣﺖ ﻓﺘﺸﺎﻭﺭﻭﺍ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﻟﻴﺼﻞ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺻﻬﻴﺐ
“Jika aku mati, maka bermusyawarahlah kalian selama tiga hari , dan hendaknya Shuhaib yang mengimami shalat kaum muslimin.” (Ath-Thabari, TaariikhAth-Thabari, Syamilah)

Sekaligus ini membuktikan kesalahan siapa saja yang mengklaim bahwa perintah 'Umar yang ini adalah tambahan atau hasil dusta Abu Mikhnaf dalam Taariikh Ath-Thabari.

Juga diperkokoh oleh riwayat Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan Ibn Hibban dalam Shahih-nya dengan sanad yang Shahih berikut ini.
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺎﺩ ﻗﻄﻦ ﺑﻦ ﻧﺴﻴﺮ ﺍﻟﻐﺒﺮﻱ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺛﺎﺑﺖ ﺍﻟﺒﻨﺎﻧﻲ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺭﺍﻓﻊ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻋﺒﺪﺍ ﻟﻠﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻨﻊ ﺍﻷﺭﺣﺎﺀ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻳﺴﺘﻐﻠﻪ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻓﻠﻘﻲ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻋﻤﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻗﺪ ﺃﺛﻘﻞ ﻋﻠﻲ ﻏﻠﺘﻲ ﻓﻜﻠﻤﻪ ﻳﺨﻔﻒ ﻋﻨﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻋﻤﺮ : ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺣﺴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﻻﻙ ﻭﻣﻦ ﻧﻴﺔ ﻋﻤﺮ ﺃﻥ ﻳﻠﻘﻰ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻓﻴﻜﻠﻤﻪ ﻳﺨﻔﻒ ﻓﻐﻀﺐ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻭﻗﺎﻝ : ﻭﺳﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﻠﻬﻢ ﻋﺪﻟﻪ ﻏﻴﺮﻱ ؟ ! ﻓﺄﺿﻤﺮ ﻋﻠﻰ ﻗﺘﻠﻪ ﻓﺎﺻﻄﻨﻊ ﺧﻨﺠﺮﺍ ﻟﻪ ﺭﺃﺳﺎﻥ ﻭﺷﺤﺬﻩ ﻭﺳﻤﻪ ﺛﻢ ﺃﺗﻰ ﺑﻪ ﺍﻟﻬﺮﻣﺰﺍﻥ ﻓﻘﺎﻝ : ﻛﻴﻒ ﺗﺮﻯ ﻫﺬﺍ ؟ ﻗﺎﻝ : ﺃﺭﻯ ﺃﻧﻚ ﻻ ﺗﻀﺮﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﺪﺍ ﺇﻻ ﻗﺘﻠﺘﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﺘﺤﻴﻦ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻓﺠﺎﺀ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻐﺪﺍﺓ ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻡ ﻭﺭﺍﺀ ﻋﻤﺮ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺇﺫﺍ ﺃﻗﻴﻤﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺘﻜﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺃﻗﻴﻤﻮﺍ ﺻﻔﻮﻓﻜﻢ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺒﺮ ﻭﺟﺄﻩ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻓﻲ ﻛﺘﻔﻪ ﻭﻭﺟﺄﻩ ﻓﻲ ﺧﺎﺻﺮﺗﻪ ﻓﺴﻘﻂ ﻋﻤﺮ ﻭﻃﻌﻦ ﺑﺨﻨﺠﺮﻩ ﺛﻼﺛﺔ ﻋﺸﺮ ﺭﺟﻼ ﻓﻬﻠﻚ ﻣﻨﻬﻢ ﺳﺒﻌﺔ ﻭﺃﻓﺮﻕ ﻣﻨﻬﻢ ﺳﺘﺔ ﻭﺟﻌﻞ ﻋﻤﺮ ﻳﺬﻫﺐ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﺰﻟﻪ ﻭﺻﺎﺡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺘﻰ ﻛﺎﺩﺕ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻨﺎﺩﻯ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ : ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻗﺎﻝ : ﻭﻓﺰﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺘﻘﺪﻡ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﻓﺼﻠﻰ ﺑﻬﻢ ﺑﺄﻗﺼﺮ ﺳﻮﺭﺗﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﻀﻰ ﺻﻼﺗﻪ ﺗﻮﺟﻬﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻋﻤﺮ ﻓﺪﻋﺎ ﺑﺸﺮﺍﺏ ﻟﻴﻨﻈﺮﻣﺎ ﻗﺪﺭ ﺟﺮﺣﻪ ﻓﺄﺗﻲ ﺑﻨﺒﻴﺬ ﻓﺸﺮﺑﻪ ﻓﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺟﺮﺣﻪ ﻓﻠﻢ ﻳﺪﺭ ﺃﻧﺒﻴﺬ ﻫﻮﺃﻡ ﺩﻡ ﻓﺪﻋﺎ ﺑﻠﺒﻦ ﻓﺸﺮﺑﻪ ﻓﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺟﺮﺣﻪ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ : ﻻ ﺑﺄﺱ ﻋﻠﻴﻚ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﻳﻜﻦ ﻟﻠﻘﺘﻞ ﺑﺄﺱ ﻓﻘﺪ ﻗﺘﻠﺖ ﻓﺠﻌﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺜﻨﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ : ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻛﻨﺖ ﻭﻛﻨﺖ ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺛﻢ ﻳﻨﺼﺮﻓﻮﻥ ﻭﻳﺠﻲﺀ ﻗﻮﻡ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﻓﻴﺜﻨﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺃﻣﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ ﻭﺩﺩﺕ ﺃﻧﻲ ﺧﺮﺟﺖ ﻣﻨﻬﺎ ﻛﻔﺎﻓﺎ ﻻ ﻋﻠﻲ ﻭﻻ ﻟﻲ ﻭﺃﻥ ﺻﺤﺒﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺳﻠﻤﺖ ﻟﻲ ﻓﺘﻠﻜﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺭﺃﺳﻪ ـ ﻭﻛﺎﻥ ﺧﻠﻴﻄﻪ ﻛﺄﻧﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ـ ﻓﺘﻜﻠﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﻘﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﺗﺨﺮﺝ ﻣﻨﻬﺎ ﻛﻔﺎﻓﺎ ﻟﻘﺪ ﺻﺤﺒﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻓﺼﺤﺒﺘﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﺻﺤﺒﻪ ﺻﺎﺣﺒﻪ : ﻛﻨﺖ ﻟﻪ ﻭﻛﻨﺖ ﻟﻪ ﻭﻛﻨﺖ ﻟﻪ ﺣﺘﻰ ﻗﺒﺾ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ ﻋﻨﻚ ﺭﺍﺽ ﺛﻢ ﺻﺤﺒﺖ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺛﻢ ﻭﻟﻴﺘﻬﺎ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺃﻧﺖ ﻓﻮﻟﻴﺘﻬﺎ ﺑﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﻭﺍﻝ : ﻛﻨﺖ ﺗﻔﻌﻞ ﻭﻛﻨﺖ ﺗﻔﻌﻞ ﻓﻜﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﻳﺴﺘﺮﻳﺢ ﺇﻟﻰ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻛﺮﺭ ﻋﻠﻲ ﺣﺪﻳﺜﻚ ﻓﻜﺮﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺃﻣﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻟﻲ ﻃﻼﻉ ﺍﻷﺭﺽ ﺫﻫﺒﺎ ﻻﻓﺘﺪﻳﺖ ﺑﻪ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻣﻦ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﻤﻄﻠﻊ ﻗﺪ ﺟﻌﻠﺘﻬﺎ ﺷﻮﺭﻯ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ : ﻓﻲ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭ ﻋﻠﻲ ﻭ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻭ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﻭ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻭﻗﺎﺹ ﻭﺟﻌﻞ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻣﻌﻬﻢ ﻣﺸﻴﺮﺍ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﺃﺟﻠﻬﻢ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ . ﻗﺎﻝ ﺣﺴﻴﻦ ﺳﻠﻴﻢ ﺃﺳﺪ : ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ
Al-Haitsami mengomentari:
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ
“Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan rijalnya adalah rijal shahih .” (Al-Haitsami, Majma’ Az-Zawaaid, Syamilah)

Di dalamnya terdapat keterangan:
ﻭﺃﺟﻠﻬﻢ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ
“.. dan beliau (‘Umar bin Al-Khaththab ra.) memberi batas waktu kepada mereka (Ahli Syuraa) tiga hari , dan memerintahkan Shuhaib untuk mengimami shalat kaum muslimin.”

Sebagai perbandingan, terdapat bagian-bagian tertentu lainnya dari isi riwayat Ath-Thabari tersebut, seperti dipilihnya 6 orang anggota Syura dan perintah ‘Umar kepada Shuhaib untuk mengimami shalat kaum muslimin, yang keduanya juga tidak bisa di-dha’if -kan meski dikatakan sanad riwayat Ath-Thabari dha’if, karena bagian-bagian tersebut didukung oleh riwayat-riwayat shahih, tidak ubahnya dengan didukungnya bagian yang menjadi dasar pendapat Hizbut Tahrir oleh riwayat Ath-Thabarani, Ibn Hibban, dan Abu Ya’la barusan.

Dengan demikian, pendapat Hizbut Tahrir terkait batas maksimal dibolehkannya kaum muslimin kosong dari keberadaan khalifah adalah pendapat yang benar dan kuat, in syaa-aLlaah , karena didukung oleh riwayat-riwayat shahih. Tidak bisa gugur semata-mata hanya dengan membuktikan kelemahan sanad riwayat Ath-Thabari, karena dha’ifnya sanad tidak meniscayakan dha’ifnya suatu matan atau maknanya. Wallaahu ta’aalaa a’lam

tulisan ini mewakili individu al-faqir atas pendapat yang al-faqir adopsi
azizi walad masykur

Dipublikasikan di catatan facebooknya pada 1 Juli 2013

0 komentar:

Posting Komentar