Selasa, 28 Juni 2016

PERBANDINGAN DEFINISI KHILAFAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kita wajib mendefinisikan khilafah dengan tepat, atau memilih definisi khilafah yang unggul, karena salah dalam mendefinisikan atau memilih definisi khilafah yang tepat dan unggul, maka akan salah dalam melangkah dan salah dalam berdakwah.

Definisi khilafah

Al-Khalidi (1980), Ali Belhaj (1991), dan Al-Baghdadi (1995) telah menghimpun berbagai definisi khilafah yang telah dirumuskan oleh para ulama, di antaranya :

(1) Al-Kamal ibn Al-Humam: Khilafah adalah otoritas (istihqaq) pengaturan umum atas kaum Muslimin (Al-Musâmirah fî Syarh al-Musâyirah, hlm. 141).

(2) Al-Qalqasyandi: Khilafah adalah kekuasaan umum (wilâyah ‘âmmah) atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, serta pemikulan tugas-tugasnya (Ma‘âtsir al-Inâfah fî Ma‘âlim al-Khilâfah, I/8).

(3) At-Taftazani: Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia sebagai pengganti Nabi saw. dalam penegakan agama, pemeliharaan hak-hak umat, yang wajib ditaati oleh seluruh umat (Lihat Al-Iji, Al-Mawâqîf, III/603; Lihat juga Rasyid Ridha, Al-Khilâfah, hlm. 10).

(4) Imam Al-Mawardi: Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm. 3).

(5) Dr. Hasan Ibrahim Hasan: Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan agama dan dunia sebagai pengganti dari Nabi saw. (Târîkh al-Islâm, I/350).

(6) Ibn Khaldun: Khilafah adalah pengembanan seluruh urusan umat sesuai dengan kehendak pandangan syariat dalam berbagai kemaslahatan mereka, baik ukhrawi maupun duniawi, yang kembali pada kemaslahatan ukhrawi (Al-Muqaddimah, hlm. 166 & 190).

(7) ‘Adhuddin al-Iji: Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyâsah ‘âmmah) dalam urusan-urusan dunia dan agama, dan lebih utama disebut sebagai pengganti Rasulullah dalam penegakan agama (I‘âdah al-Khilâfah, hlm. 32).

(8) Imam al-Juwayni: Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyâsah tâmmah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam berbagai kepentingan agama dan dunia (Ghiyâts al-Umâm, hlm. 15).

Analisis Definisi

Berbagai definisi di atas dapat bagi menjadi tiga kategori definisi, yaitu:
(1) Definisi yang lebih menekankan pada penampakan agama (al-mazhhar ad-dînî).
(2) Definisi yang lebih menekankan pada penampakan politik (al-mazhhar as-siyâsî).
(3) Definisi yang berusaha menggabungkan penampakan agama (al-mazhhar ad-dînî) dan penampakan politik (al-mazhhar as-siyâsî).

Semua definisi di atas sebenarnya lebih mendeskripsikan realitas empirik Khilafah —misalnya adanya dikotomi wilayah “urusan dunia” dan “urusan agama”— daripada sebuah definisi yang bersifat syar‘î, yang diturunkan dari nash-nash syariat.

Nash-nash syariat khususnya hadis-hadis Nabi saw., telah menggunakan istilah khalifah dan imam yang masih satu akar kata dengan kata khilafah/imamah. Imam al-Bukhari dalam Shahîh-nya telah mengumpulkan hadis-hadis tentang Khilafah dalam Kitab Al-Ahkâm. Imam Muslim dalam Shahîh-nya telah mengumpulkannya dalam Kitab Al-Imârah (Ali Belhaj, 1991: 15). Dengan demikian istilah Khilafah merupakan istilah syar'i yang definisinya harus digali dari nash.

Dengan menelaah nash-nash al-Quran dan hadis tersebut, akan kita jumpai bahwa definisi Khilafah dapat dicari rujukannya pada 2 (dua) kelompok nash, yaitu:

Kelompok Pertama, nash-nash yang menerangkan hakikat Khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia misalnya hadis berikut:
« ﺍَﻹِﻣَﺎﻡُ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺆُﻭْﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﺍﻋِﻴَﺘِﻪِ »
Imam yang (memimpin) atas manusia adalah bagaikan seorang penggembala dan dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya). (Shahîh Muslim, XII/213; Sunan Abû Dâwud, no. 2928, III/342-343; Sunan at-Tirmidzî, no. 1705, IV/308).

Ini menunjukkan bahwa Khilafah adalah sebuah kepemimpinan (ri‘âsah/qiyâdah/imârah).

Adapun yang menunjukkan bahwa Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia, misalnya adalah hadis berikut:
« ﺇِﺫﺍَ ﺑُﻮْﻳِﻊَ ﻟِﺨَﻠِﻴْﻔَﺘَﻴْﻦِ ﻓَﺎﻗْﺘُﻠُﻮْﺍ ﺍْﻷَﺧِﺮَ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ »
Jika dibaiat dua orang khalifah, bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (Shahîh Muslim, no. 1853).

Ini berarti, seluruh kaum Muslim di dunia hanya boleh dipimpin seorang khalifah saja, tak boleh lebih. Ini telah disepakati oleh empat imam mazhab: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad, rahimahumullâh (Lihat Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba‘ah, V/308; Muhammad ibn Abdurrahman ad-Dimasyqi, Rahmah al-Ummah fî Ikhtilâf al-A’immah, hlm. 208).

Kelompok kedua, nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah, yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut:

Pertama, tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. Hal ini tampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu Muslim (QS al-Baqarah [2]: 188; QS an-Nisa’ [4]: 58), mengumpulkan dan membagikan zakat (QS at-Taubah [9]: 103), menegakkan hudud (QS al-Baqarah [2]: 179), menjaga akhlak (QS al-Isra’ [17]: 32), menjamin masyarakat dapat menegakkan syiar-syiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS al-Hajj [22]:32), dan seterusnya.

Kedua, tugas khalifah mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. Hal ini tampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS al-Baqarah [2]: 216), menjaga perbatasan negara (QS al-Anfal [8]: 60), memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri, misalnya: mengadakan berbagai perjanjian perdagangan, perjanjian gencatan senjata, perjanjian bertetangga baik, dan semisalnya (QS al-Anfal [8]: 61; QS Muhammad [47]:35).

Berdasarkan dua kelompok nash inilah, dapat dirumuskan definisi Khilafah secara lebih mendalam dan lebih tepat. Intinya,
ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻫﻲ ﺭﺋﺎﺳﺔ ﻋﺎﻣﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ , ﻻﻗﺎﻣﺔ ﺍﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺍﻻﺳﻼﻣﻲ , ﻭﺣﻤﻞ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻻﺳﻼﻣﻴﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ
Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim seluruhnya di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab-kitabnya, misalnya kitab Al-Khilâfah (hlm. 1), Muqaddimah ad-Dustûr (bab Khilafah hlm. 128), dan Asy-Syakshiyyah al-Islâmiyah (Juz II, hlm. 9). Menurut beliau juga, istilah khilafah dan imamah dalam hadis-hadis sahih maknanya sama saja menurut pengertian syariat (madlûl syar‘î)

Definisi inilah yang selayaknya diambil dan diperjuangkan agar terealisasi di muka bumi. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb

HIDUP DI DUNIA INI HANYA SEBENTAR

Bismillaahir Rohmaanir  Rohiim

Nasehat dari teman yang sangat berharga bagiku. Nasehat ini juga kupersembahkan kepada teman-temanku :

Waktu Manusia Didunia Berdasarkan Al Qur'an sebagai sumber kebenaran :

1 hari akhirat = 1000 tahun.
24 jam akhirat = 1000 tahun.
3 jam akhirat = 125 tahun.
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.

Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja.

Pantaslah kita selalu diingatkan masalah WAKTU. Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka. (Taddaburi: QS.35:15, 4:170).

Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah.. (Taddaburi QS.74:7,52:48,39:10).

Demikian juga hanya satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dgn sunnahNya (Taddaburi : QS.12:53, 33:38).

"Satu Setengah Jam" sebuah perjuangan yg teramat singkat dan Allah akan mengganti dengan surga Ridha Allah (Taddaburi : QS.9:72, 98:8, 4:114).

Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti (Taddaburi : QS.59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

Allah berfirman: " Kamu tidak tinggal ( dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui" (QS.23:114)

Kematian itu pasti datangnya. Yang tak pasti ialah taubatnya. Hati-hati dalam berucap dan bergaul, sungguh yang di hitung dan ditanya ketika di alam kubur hanyalah amal kebaikan jadikanlah dirimu bermanfaat untuk orang lain..

Dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", yang artinya, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk meniti perjalanan hidup ini.......
Aamiin

NASEHAT KEPADA KAUM ASWAJA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh

9 Butir Nasihat Bagi Kaum Aswaja :

1. Kita harus memposisikan Hizbut Tahrir pada posisi sebenarnya, yaitu sebagai partai politik Islam ideologis, tidak sebagai organisasi keagamaan seperti halnya NU, Persis dan Muhammadiyyah. Dan karena Hizbut Tahrir adalah partai politik, maka wargaNU, Persis dan Muhammadiyyah bisa menjadi anggotanya, sebagaimana menjadi anggota dari partai politik yang lain.

2. Kita harus membandingkan Hizbut Tahrir sebagai partai politik dengan partai politik juga, seperti dengan PKB, PKNU, PDIP, GOLKAR, PKS dll., tidak dengan organisasi keagamaan seperti NU, Persis dan Muhammadiyyah. Dengan demikian kita akan mengerti bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam yang paling lurus dan berada di atas jalan yang lurus, dan kita akan mengerti kenapa para oknum kiai NU melarang warga NU ikut Hizbut Tahrir dan tidak melarang ikut PDIP, Golkar dll.

3. Kita tidak boleh membenturkan Hizbut Tahrir sebagai partai politik dengan NU, Persis atau Muhammadiyyah sebagai organisasi keagamaan, sebab kalau ini terjadi, maka akan terjadi kezaliman, yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, karena akan terjadi menempatkan Hizbut Tahrir di tempat organisasi, dan menempatkan organisasi di tempat partai politik.

4. Dalam mengkaji berbagai pendapat Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya, kita harus kembali kepada dalil-dalilnya yang telah disepakati oleh para ulama Aswaja (yaitu al-Qur’an, al-Sunnah, al-Ijmak dan al-Qiyas), baik naqli maupun aqli, dan kepada ushul fiqihnya, tidak kepada murni pendapatnya.

5. Kalau kita melihat sejumlah perbedaan di antara pendapat Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya dengan pendapat para ulama mujtahid yang lain, maka tidak boleh menyalahkan dan menyesatkannya selagi masih pendapat islami yang digali dari dalil-dalilnya seperti pada butir ke 4, karena kalau kita menyalahkan dan menyesatkannya hanya karena tidak sama dengan pendapat ulama yang lain, maka semua pendapat ulama yang lain juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat ulama sebelumnya. Pendapat imam Malik bin Anas salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Abu Hanifah, pendapat imam Syafi’iy juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Malik, pendapat imam Ahmad bin Hanbal juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Syafi’iy, pendapat imam Dawud al-Dhahiri juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Ahmad, dan seterusnya. Maka harus kembali kepada dalil-dalilnya, islami apa tidak, dan disepakati apa tidak. Sedang cara istinbat boleh berbeda sesuai kedalaman ilmu dan kecerdasan akalnya.

6. Kalau kita tidak bisa menarjih di antara berbagai pendapat para ulama mujtahid karena tidak menguasai al-Qur’an, tafsir dan ilmu al-Qur’annya; hadis, syarah dan ilmu hadisnya; fiqih dan ushul fiqihnya; nahwu, sharaf balaghah dan ma’aninya, maka kita harus bersikap seperti halnya Syaikh Abdul Wahab al-Sya’roni dalam kitab Mizan Kubro-nya bahwa semua pendapat ulama mujtahid itu benar dan menuntun ke surga, meskipun saling berbeda, dan meskipun yang harus kita tabanni untuk dipraktekkan hanya satu pendapat.

7. Kalau kita ingin mengerti kakekat (substansi) Ahlussunnah Waljama’ah dalam terminologi syariat, maka harus kembali kepada dalil-dalil syariatnya (seperti telah saya kemukakan pada buku Nasihat Untuk Himasal dll, juga telah menjadi catatan fb saya), tidak kembali kepada qiila wa qaala (dikatakan begini dan katanya begitu). Hal ini harus dilakukan supaya kita tidak buruk sangka kepada sesama muslim dan sesama Aswaja, dan tidak mudah ditipu dan disesatkan oleh orang-orang yang selama ini suka mengklaim Aswaja, padahal hakekatnya mereka bukan Aswaja, karena hakekat Aswaja adalah ahli surga, sedang merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi yang diperankan oleh mereka adalah perangai ahli neraka.

8. Kita harus memahami bahwa yang sedang dihadapi oleh Hizbut Tahrir adalah kekuatan ideologi kapitalisme beserta seperangkat pemikiran dan sistemnya, yaitu akidah sekularisme beserta seperangkat syariatnya, bukan organisasi seperti NU, Persis dan Muhammadiyyah. Kalau kita membenci Syi’ah, Khawarij, Jabariyyah dan Muktazilah, maka kita harus lebih membenci ideologi kapitalisme, karena ideologi inilah yang sekarang sedang mencengkeram dan merusak akidah, syariat dan moral kaum muslim. Bahkan pada hari selasa (29/11/2011) saya menyaksikan berita dari MHTV bahwa pada tahun ini (2011) Jawa Timur yang terkenal dengan negeri para kyainya telah menduduki peringkat pertama dari seluruh propinsi wilayah NKRI yang warganya terjangjit HIV/AIDS. Ini menunjukkan bahwa negeri para kyai telah menjadi negeri seks bebas. Lalu kenapa malah yang diuber-uber oleh para oknum kyai justru Hizbut Tahrir, bukan kapitalisme dengan seperangkat pemikiran dan sistemnya yang nyata-nyata menjadi penyebab dekadensi moral kaum muslim?

9. Kalau kita sebagai ulama dan kyai sudah tidak mampu mendidik umat dan santrinya agar terikat dengan syariat Islam, maka solusinya mudah, yaitu libatkan Hizbut Tahrir dalam mendidik mereka, karena telah terbukti bahwa di sana terdapat ribuan orang non muslim telah menjadi muslim, ribuan perempuan yang biasa membuka dan mempertontonkan auratnya telah menutup rapat-rapat auratnya, ribuan orang yang membenci Islam telah menjadi pejuang Islam, ribuan orang yang keblinger telah menjadi bener, dan seterusnya. Dan Hizbut Tahrir tidak akan menggeser posisi kalian, kalian tetap menjadi ulama dan kyai, bahkan posisi kalian akan lebih kokoh.

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

Minggu, 26 Juni 2016

BATAS MAKSIMAL KAUM MUSLIMIN KOSONG DARI KHALIFAH ADALAH 3 (TIGA) HARI

KEKUATAN DALIL YANG MENDASARI PENDAPAT HIZBUT TAHRIR: BATAS MAKSIMAL KAUM MUSLIMIN KOSONG DARI KHALIFAH ADALAH 3 (TIGA) HARI
Oleh : Ustadz Azizi Fathani

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Al-hamdu lillaah, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa rasuulillaah, wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah. Wa ba’d.

Semoga kita senantiasa dikaruniai sifat adil dan hati yang bersih. aamiin
Asalnya, kaum muslimin tidak boleh vacum dari keberadaan khalifah sama sekali, berdasarkan:

Pertama; Hadits Nabi saw, yang salah satu di antaranya adalah riwayat Muslim dalam Shahihnya:
ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻣﻦ ﺧﻠﻊ ﻳﺪﺍ ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﻟﻘﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻭﻻ ﺣﺠﺔ ﻟﻪ، ﻭﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﻋﻨﻘﻪ ﺑﻴﻌﺔ ﻣﺎﺕ ﻣﻴﺘﺔ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang berlepas tangan dari ketaatan (terhadap Khalifah) maka dia akan menjumpai Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah, dan barangsiapa yang mati sementara di atas pundaknya tidak ada bai’at maka dia mati sebagaimana kematian jahiliyah .” (HR. Muslim)

Ibn Hajar Al-Asqalani menjelaskan:
ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻤﻴﺘﺔ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻫﻲ ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﻤﻴﻢ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻛﻤﻮﺕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺿﻼﻝ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺍﻣﺎﻡ ﻣﻄﺎﻉ ﻷﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﺑﻞ ﻳﻤﻮﺕ ﻋﺎﺻﻴﺎ .
“Maksud dari “kematian jahiliyah” –yaitu dengan mim dibaca kasrah (Al-Miitah)– adalah kondisi kematian sebagaimana matinya orang jahiliyah dalam kesesatan dan tidak memiliki Imam yang ditaati , karena mereka tidak mengetahui hal itu. Yang dimaksudkan bukan mati dalam keadaan kafir, melainkan mati dalam keadaan bermaksiat.” (Ibn Hajar, Fathul Baarii, Syamilah)

Lafazh miitah jaahiliyyah (kematian jahiliyah) merupakan celaan yang menunjukkan keharaman apa-apa yang dicela dengannya, yaitu kematian yang terjadi saat tidak ada khalifah. Karena kita diperintahkan untuk lari menjauhi celaan Syaari’ , maka keberadaan seorang khalifah menjadi kewajiban yang berlaku terus-menerus di setiap saat tanpa mengenal waktu jeda.

Ke-Dua; Ijma' Sahabat, yaitu dalam menyegerakan pengangkatan Khalifah melebihi pengurusan mereka terhadap jenazah Nabi saw. Demikian pula penyegeraannya sepeninggal Abu Bakar ra. Sehingga terangkatlah khalifah baru pada hari itu juga (hari wafatnya Imam atau khalifah lama).
Kemudian dalam proses pergantian khalifah di masa berikutnya, 'Umar memerintahkan agar Ahli Syuraa bermusyawarah selama 3 hari untuk menentukan siapa khalifah setelah beliau, dan para sahabat tidak ada yang mengingkari atau menentang perintah tersebut. Sehingga dipahami telah terjadi ijma' di kalangan mereka bahwa pengangkatan khalifah boleh ditunda dengan sengaja selama 3 hari, di mana jika di sela-sela 3 hari itu belum terangkat seorang khalifah maka kaum muslimin baik yang mengusahakannya maupun yang tidak tidak ada yang berdosa.

Akan tetapi selepas itu (setelah 3 hari), kaum muslimin sudah harus memiliki khalifah, yang mana jika tidak juga terangkat seorang khalifah maka kaum muslimin berdosa secara keseluruhan, kecuali siapa-siapa yang mengusahakannya dengan aktivitas nyata (berjama’ah, aktivitas politik, terarah, terukur, dsb.).

Artinya, apabila terpilih khalifah kurang dari 3 hari, maka itu lebih utama. Apabila terpilih khalifah pada hari ke-3 (tepat sebelum datang hari ke-4), maka itu boleh. Akan tetapi, untuk sengaja menundanya lebih lama lagi (melebihi batas 3 hari), apakah itu 5 hari, seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan lebih, maka dibutuhkan dalil lain lagi yang membolehkannya.

Atau dengan kata lain, ijma' shahabat tersebut menerangkan adanya dispensasi terkait wajibnya keberadaan khalifah di setiap waktu, bahwa dalam rentang waktu tiga hari pertama sepeninggal khalifah lama, meninggalnya seorang muslim tidak terhitung sebagai kematian jahiliyah. wallaahu a'lam

Bagian "perintah 'Umar untuk syura 3 haridan tidak diingkari Sahabat" inilah sebenarnya yang digunakan Hizbut Tahrir sebagai landasan untuk pendapat batas maksimal masa vacum dari khalifah selama tiga hari.

Bukan bagian "perintah 'Umar untuk membunuh anggota syura yang menyelisihi mayoritas Ahli Syura". Karena bagian yang kedua ini sama sekali tidak menunjukkan batas waktu penundaan tersebut. Jika shahih, dia sebatas menunjukkan tegas atau seriusnya pemilihan khalifah, namun jika dha'if, dia sama sekali tidak berpengaruh terhadap pendapat Hizbut Tahrir di atas.

Jadi, yang merupakan penentu benar-tidaknya pendapat Hizbut Tahrir di atas adalah shahih-tidaknya bagian yang pertama (perintah 'Umar untuk syura 3 hari dan tidak diingkari Sahabat), bukan shahih-tidaknya bagian ke-dua (perintah 'Umar untuk membunuh anggota syura yang menyelisihi mayoritas Ahli Syura), bukan pula shahih-tidaknya bagian-bagian lainnya dari riwayat Ath-Thabari yang panjang itu.

Terlepas dari adanya kalangan yang mendha’ifkan secara mutlak riwayat Ath-Thabari yang menghimpun kedua bagian tersebut sekaligus, al-faqir katakan bahwa bagian yang menjadi landasan pendapat Hizbut Tahrir ini adalah bagian yang shahih, karena didukung oleh riwayat yang dibawakan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dengan sanad yang Hasan berikut ini:
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺍﻟﻮﺍﺳﻄﻲ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﺑﻦ ﻓﻀﺎﻟﺔ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ ﻋﻦ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ : ﻟﻤﺎ ﻃﻌﻦ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻋﻤﺮ ﻃﻌﻨﻪ ﻃﻌﻨﺘﻴﻦ ﻓﻈﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻥ ﻟﻪ ﺫﻧﺒﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻ ﻳﻌﻠﻤﻪ ﻓﺪﻋﺎ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺤﺒﻪ ﻭﻳﺪﻧﻴﻪ ﻭﻳﺴﺘﻤﻊ ﻣﻨﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻧﻌﻠﻢ ﻋﻦ ﻣﻸ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﻓﺨﺮﺝ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﺠﻌﻞ ﻻ ﻳﻤﺮ ﺑﻤﻸ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻻ ﻭﻫﻢ ﻳﺒﻜﻮﻥ ﻓﺮﺟﻊ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻣﺎ ﺃﺗﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﻣﻸ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﻻ ﻭﻫﻢ ﻳﺒﻜﻮﻥ ﻛﺄﻧﻤﺎ ﻓﻘﺪﻭﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺃﺑﻜﺎﺭ ﺃﻭﻻﺩﻫﻢ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﻦ ﻗﺘﻠﻨﻲ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﺍﻟﻤﺠﻮﺳﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ ﻗﺎﻝ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﺮﺃﻳﺖ ﺍﻟﺒﺸﺮ ﻓﻲ ﻭﺟﻬﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﺒﺘﻠﻨﻲ ﺑﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ ﻳﺤﺎﺟﻨﻲ ﺑﻘﻮﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻣﺎ ﺇﻧﻲ ﻛﻨﺖ ﻗﺪ ﻧﻬﻴﺘﻜﻢ ﺃﻥ ﺗﺠﻠﺒﻮﺍ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻮﺝ ﺃﺣﺪﺍ ﻓﻌﺼﻴﺘﻤﻮﻧﻲ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﺩﻋﻮﺍ ﻟﻲ ﺇﺧﻮﺍﻧﻲ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻋﻠﻲ ﻭﻃﻠﺤﺔ ﻭﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﻭﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻭﻗﺎﺹ ﻓﺄﺭﺳﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺛﻢ ﻭﺿﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻓﻲ ﺣﺠﺮﻱ ﻓﻠﻤﺎ ﺟﺎﺅﻭﺍ ﻗﻠﺖ ﻫﺆﻻﺀ ﻗﺪ ﺣﻀﺮﻭﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻧﻌﻢ ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻮﺟﺪﺗﻜﻢ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺴﺘﺔ ﺭﺅﻭﺱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻗﺎﺩﺗﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﺇﻻ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻘﻤﺘﻢ ﻳﺴﺘﻘﻴﻢ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺇﻥ ﻳﻜﻦ ﺍﺧﺘﻼﻑ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻜﻢ ﻓﻠﻤﺎ ﺳﻤﻌﺖ ﺫﻛﺮ ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﻭﺍﻟﺸﻘﺎﻕ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﺋﻦ ﻷﻧﻪ ﻗﻞ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺌﺎ ﺇﻻ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﺛﻢ ﻧﺰﻑ ﺍﻟﺪﻡ ﻓﻬﻤﺴﻮﺍ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﺧﺸﻴﺖ ﺃﻥ ﻳﺒﺎﻳﻌﻮﺍ ﺭﺟﻼ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻘﻠﺖ ﺇﻥ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺣﻲ ﺑﻌﺪ ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺧﻠﻴﻔﺘﺎﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺧﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﺣﻤﻠﻮﻧﻲ ﻓﺤﻤﻠﻨﺎﻩ ﻓﻘﺎﻝ ﺗﺸﺎﻭﺭﻭﺍ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺻﻬﻴﺐ ﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﻧﺸﺎﻭﺭ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻓﻘﺎﻝ ﺷﺎﻭﺭﻭﺍ ﺍﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻭﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻭﺳﺮﺍﺓ ﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﻨﺎﺩ ﺛﻢ ﺩﻋﺎ ﺑﺸﺮﺑﺔ ﻣﻦ ﻟﺒﻦ ﻓﺸﺮﺏ ﻓﺨﺮﺝ ﺑﻴﺎﺽ ﺍﻟﻠﺒﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺮﺣﻴﻦ ﻓﻌﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻵﻥ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻟﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻛﻠﻬﺎ ﻻﻓﺘﺪﻳﺖ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﻤﻄﻠﻊ ﻭﻣﺎ ﺫﺍﻙ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺃﻛﻮﻥ ﺭﺃﻳﺖ ﺇﻻ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺃﻥ ﻗﻠﺖ ﺫﻟﻚ ﻓﺠﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﺃﻟﻴﺲ ﻗﺪ ﺩﻋﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﺰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﺫ ﻳﺨﺎﻓﻮﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺳﻠﻤﺖ ﻛﺎﻥ ﺇﺳﻼﻣﻚ ﻋﺰﺍ ﻭﻇﻬﺮ ﺑﻚ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﻫﺎﺟﺮﺕ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﻜﺎﻧﺖ ﻫﺠﺮﺗﻚ ﻓﺘﺤﺎ ﺛﻢ ﻟﻢ ﺗﻐﺐ ﻋﻦ ﻣﺸﻬﺪ ﺷﻬﺪﻩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻗﺘﺎﻝ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ ﻛﺬﺍ ﻭﻳﻮﻡ ﻛﺬﺍ ﺛﻢ ﻗﺒﺾ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻋﻨﻚ ﺭﺍﺽ ﻓﻮﺍﺯﺭﺕ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﺔ ﺑﻌﺪﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻀﺮﺑﺖ ﻣﻦ ﺃﺩﺑﺮ ﺑﻤﻦ ﺃﻗﺒﻞ ﺣﺘﻰ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻃﻮﻋﺎ ﺃﻭ ﻛﺮﻫﺎ ﺛﻢ ﻗﺒﺾ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﺔ ﻭﻫﻮ ﻋﻨﻚ ﺭﺍﺽ ﺛﻢ ﻭﻟﻴﺖ ﺑﺨﻴﺮ ﻣﺎ ﻭﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺼﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺍﻷﻣﺼﺎﺭ ﻭﺟﺒﻰ ﺑﻚ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻭﻧﻔﻰ ﺑﻚ ﺍﻟﻌﺪﻭ ﻭﺃﺩﺧﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻣﻦ ﺗﻮﺳﻌﻬﻢ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﺗﻮﺳﻌﻬﻢ ﻓﻲ ﺃﺭﺯﺍﻗﻬﻢ ﺛﻢ ﺧﺘﻢ ﻟﻚ ﺑﺎﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﻓﻬﻨﻴﺌﺎ ﻟﻚ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻐﺮﻭﺭ ﻣﻦ ﺗﻐﺮﺭﻭﻧﻪ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺃﺗﺸﻬﺪ ﻟﻲ ﻳﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻧﻌﻢ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻟﻚ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﺃﻟﺼﻖ ﺧﺪﻱ ﺑﺎﻷﺭﺽ ﻳﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻓﻮﺿﻌﺘﻪ ﻣﻦ ﻓﺨﺬﻱ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻗﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺼﻖ ﺧﺪﻱ ﺑﺎﻷﺭﺽ ﻓﺘﺮﻙ ﻟﺤﻴﺘﻪ ﻭﺧﺪﻩ ﺣﺘﻰ ﻭﻗﻊ ﺑﺎﻷﺭﺽ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﻳﻠﻚ ﻭﻭﻳﻞ ﺃﻣﻚ ﻳﺎ ﻋﻤﺮ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﺛﻢ ﻗﺒﺾ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﺒﺾ ﺃﺭﺳﻠﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﺁﺗﻴﻜﻢ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻔﻌﻠﻮﺍ ﻣﺎ ﺁﻣﺮﻛﻢ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﻭﺭﺓ ﺍﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻭﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻭﺳﺮﺍﺓ ﻣﻦ ﻫﺎ ﻫﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﻨﺎﺩ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺫﻛﺮ ﻟﻪ ﻓﻌﻞ ﻋﻤﺮ ﻋﻨﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻭﺧﺸﻴﺘﻪ ﻣﻦ ﺭﺑﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺟﻤﻊ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎ ﻭﺷﻔﻘﺔ ﻭﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﺟﻤﻊ ﺇﺳﺎﺀﺓ ﻭﻏﺮﺓ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻭﺟﺪﺕ ﻓﻴﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻻ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻘﻲ ﻋﺒﺪﺍ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎ ﺇﻻ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﻣﺨﺎﻓﺔ ﻭﺷﻔﻘﺔ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻭﺟﺪﺕ ﻓﻴﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻻ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻘﻲ ﻋﺒﺪﺍ ﺇﺯﺩﺍﺩ ﺇﺳﺎﺀﺓ ﺇﻻ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﻏﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﺮﻭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺇﻻ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﺑﻦ ﻓﻀﺎﻟﺔ
Al-Haitsami dalam Majma’uz-Zawaaid berkomentar:
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﻭﺳﻂ ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ
“Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath, dan sanadnya Hasan.” (Al-Haitsami, Majma’uz Zawaaid, Syamilah)

Di dalamnya terdapat perkataan ‘Umar yang berbunyi:
ﺗﺸﺎﻭﺭﻭﺍ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺻﻬﻴﺐ
“Bermusyawarahlah kalian selama tiga hari , dan hendaknya Shuhaib yang mengimami shalat kaum muslimin.”

Sangat mirip dengan redaksi yang dibawakan oleh At-Thabari dalam Taariikh-nya:
ﻓﺈﺫﺍ ﻣﺖ ﻓﺘﺸﺎﻭﺭﻭﺍ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﻟﻴﺼﻞ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺻﻬﻴﺐ
“Jika aku mati, maka bermusyawarahlah kalian selama tiga hari , dan hendaknya Shuhaib yang mengimami shalat kaum muslimin.” (Ath-Thabari, TaariikhAth-Thabari, Syamilah)

Sekaligus ini membuktikan kesalahan siapa saja yang mengklaim bahwa perintah 'Umar yang ini adalah tambahan atau hasil dusta Abu Mikhnaf dalam Taariikh Ath-Thabari.

Juga diperkokoh oleh riwayat Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan Ibn Hibban dalam Shahih-nya dengan sanad yang Shahih berikut ini.
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺎﺩ ﻗﻄﻦ ﺑﻦ ﻧﺴﻴﺮ ﺍﻟﻐﺒﺮﻱ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺛﺎﺑﺖ ﺍﻟﺒﻨﺎﻧﻲ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺭﺍﻓﻊ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻋﺒﺪﺍ ﻟﻠﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻨﻊ ﺍﻷﺭﺣﺎﺀ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻳﺴﺘﻐﻠﻪ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻓﻠﻘﻲ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻋﻤﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻗﺪ ﺃﺛﻘﻞ ﻋﻠﻲ ﻏﻠﺘﻲ ﻓﻜﻠﻤﻪ ﻳﺨﻔﻒ ﻋﻨﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻋﻤﺮ : ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺣﺴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﻻﻙ ﻭﻣﻦ ﻧﻴﺔ ﻋﻤﺮ ﺃﻥ ﻳﻠﻘﻰ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻓﻴﻜﻠﻤﻪ ﻳﺨﻔﻒ ﻓﻐﻀﺐ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻭﻗﺎﻝ : ﻭﺳﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﻠﻬﻢ ﻋﺪﻟﻪ ﻏﻴﺮﻱ ؟ ! ﻓﺄﺿﻤﺮ ﻋﻠﻰ ﻗﺘﻠﻪ ﻓﺎﺻﻄﻨﻊ ﺧﻨﺠﺮﺍ ﻟﻪ ﺭﺃﺳﺎﻥ ﻭﺷﺤﺬﻩ ﻭﺳﻤﻪ ﺛﻢ ﺃﺗﻰ ﺑﻪ ﺍﻟﻬﺮﻣﺰﺍﻥ ﻓﻘﺎﻝ : ﻛﻴﻒ ﺗﺮﻯ ﻫﺬﺍ ؟ ﻗﺎﻝ : ﺃﺭﻯ ﺃﻧﻚ ﻻ ﺗﻀﺮﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﺪﺍ ﺇﻻ ﻗﺘﻠﺘﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﺘﺤﻴﻦ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻓﺠﺎﺀ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻐﺪﺍﺓ ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻡ ﻭﺭﺍﺀ ﻋﻤﺮ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺇﺫﺍ ﺃﻗﻴﻤﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺘﻜﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺃﻗﻴﻤﻮﺍ ﺻﻔﻮﻓﻜﻢ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺒﺮ ﻭﺟﺄﻩ ﺃﺑﻮ ﻟﺆﻟﺆﺓ ﻓﻲ ﻛﺘﻔﻪ ﻭﻭﺟﺄﻩ ﻓﻲ ﺧﺎﺻﺮﺗﻪ ﻓﺴﻘﻂ ﻋﻤﺮ ﻭﻃﻌﻦ ﺑﺨﻨﺠﺮﻩ ﺛﻼﺛﺔ ﻋﺸﺮ ﺭﺟﻼ ﻓﻬﻠﻚ ﻣﻨﻬﻢ ﺳﺒﻌﺔ ﻭﺃﻓﺮﻕ ﻣﻨﻬﻢ ﺳﺘﺔ ﻭﺟﻌﻞ ﻋﻤﺮ ﻳﺬﻫﺐ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﺰﻟﻪ ﻭﺻﺎﺡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺘﻰ ﻛﺎﺩﺕ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻨﺎﺩﻯ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ : ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻗﺎﻝ : ﻭﻓﺰﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺘﻘﺪﻡ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﻓﺼﻠﻰ ﺑﻬﻢ ﺑﺄﻗﺼﺮ ﺳﻮﺭﺗﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﻀﻰ ﺻﻼﺗﻪ ﺗﻮﺟﻬﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻋﻤﺮ ﻓﺪﻋﺎ ﺑﺸﺮﺍﺏ ﻟﻴﻨﻈﺮﻣﺎ ﻗﺪﺭ ﺟﺮﺣﻪ ﻓﺄﺗﻲ ﺑﻨﺒﻴﺬ ﻓﺸﺮﺑﻪ ﻓﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺟﺮﺣﻪ ﻓﻠﻢ ﻳﺪﺭ ﺃﻧﺒﻴﺬ ﻫﻮﺃﻡ ﺩﻡ ﻓﺪﻋﺎ ﺑﻠﺒﻦ ﻓﺸﺮﺑﻪ ﻓﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺟﺮﺣﻪ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ : ﻻ ﺑﺄﺱ ﻋﻠﻴﻚ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﻳﻜﻦ ﻟﻠﻘﺘﻞ ﺑﺄﺱ ﻓﻘﺪ ﻗﺘﻠﺖ ﻓﺠﻌﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺜﻨﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ : ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻛﻨﺖ ﻭﻛﻨﺖ ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺛﻢ ﻳﻨﺼﺮﻓﻮﻥ ﻭﻳﺠﻲﺀ ﻗﻮﻡ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﻓﻴﺜﻨﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺃﻣﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ ﻭﺩﺩﺕ ﺃﻧﻲ ﺧﺮﺟﺖ ﻣﻨﻬﺎ ﻛﻔﺎﻓﺎ ﻻ ﻋﻠﻲ ﻭﻻ ﻟﻲ ﻭﺃﻥ ﺻﺤﺒﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺳﻠﻤﺖ ﻟﻲ ﻓﺘﻠﻜﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺭﺃﺳﻪ ـ ﻭﻛﺎﻥ ﺧﻠﻴﻄﻪ ﻛﺄﻧﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ـ ﻓﺘﻜﻠﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﻘﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﺗﺨﺮﺝ ﻣﻨﻬﺎ ﻛﻔﺎﻓﺎ ﻟﻘﺪ ﺻﺤﺒﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻓﺼﺤﺒﺘﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﺻﺤﺒﻪ ﺻﺎﺣﺒﻪ : ﻛﻨﺖ ﻟﻪ ﻭﻛﻨﺖ ﻟﻪ ﻭﻛﻨﺖ ﻟﻪ ﺣﺘﻰ ﻗﺒﺾ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ ﻋﻨﻚ ﺭﺍﺽ ﺛﻢ ﺻﺤﺒﺖ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺛﻢ ﻭﻟﻴﺘﻬﺎ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺃﻧﺖ ﻓﻮﻟﻴﺘﻬﺎ ﺑﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﻭﺍﻝ : ﻛﻨﺖ ﺗﻔﻌﻞ ﻭﻛﻨﺖ ﺗﻔﻌﻞ ﻓﻜﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﻳﺴﺘﺮﻳﺢ ﺇﻟﻰ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻛﺮﺭ ﻋﻠﻲ ﺣﺪﻳﺜﻚ ﻓﻜﺮﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺃﻣﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻟﻲ ﻃﻼﻉ ﺍﻷﺭﺽ ﺫﻫﺒﺎ ﻻﻓﺘﺪﻳﺖ ﺑﻪ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻣﻦ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﻤﻄﻠﻊ ﻗﺪ ﺟﻌﻠﺘﻬﺎ ﺷﻮﺭﻯ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ : ﻓﻲ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭ ﻋﻠﻲ ﻭ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻭ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﻭ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻭﻗﺎﺹ ﻭﺟﻌﻞ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻣﻌﻬﻢ ﻣﺸﻴﺮﺍ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﺃﺟﻠﻬﻢ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ . ﻗﺎﻝ ﺣﺴﻴﻦ ﺳﻠﻴﻢ ﺃﺳﺪ : ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ
Al-Haitsami mengomentari:
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ
“Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan rijalnya adalah rijal shahih .” (Al-Haitsami, Majma’ Az-Zawaaid, Syamilah)

Di dalamnya terdapat keterangan:
ﻭﺃﺟﻠﻬﻢ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ
“.. dan beliau (‘Umar bin Al-Khaththab ra.) memberi batas waktu kepada mereka (Ahli Syuraa) tiga hari , dan memerintahkan Shuhaib untuk mengimami shalat kaum muslimin.”

Sebagai perbandingan, terdapat bagian-bagian tertentu lainnya dari isi riwayat Ath-Thabari tersebut, seperti dipilihnya 6 orang anggota Syura dan perintah ‘Umar kepada Shuhaib untuk mengimami shalat kaum muslimin, yang keduanya juga tidak bisa di-dha’if -kan meski dikatakan sanad riwayat Ath-Thabari dha’if, karena bagian-bagian tersebut didukung oleh riwayat-riwayat shahih, tidak ubahnya dengan didukungnya bagian yang menjadi dasar pendapat Hizbut Tahrir oleh riwayat Ath-Thabarani, Ibn Hibban, dan Abu Ya’la barusan.

Dengan demikian, pendapat Hizbut Tahrir terkait batas maksimal dibolehkannya kaum muslimin kosong dari keberadaan khalifah adalah pendapat yang benar dan kuat, in syaa-aLlaah , karena didukung oleh riwayat-riwayat shahih. Tidak bisa gugur semata-mata hanya dengan membuktikan kelemahan sanad riwayat Ath-Thabari, karena dha’ifnya sanad tidak meniscayakan dha’ifnya suatu matan atau maknanya. Wallaahu ta’aalaa a’lam

tulisan ini mewakili individu al-faqir atas pendapat yang al-faqir adopsi
azizi walad masykur

Dipublikasikan di catatan facebooknya pada 1 Juli 2013

Jumat, 24 Juni 2016

MENCARI LAILATUL QADAR

MENCARI LAILATUL QADAR

Allah SWT berfirman :
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧﺰﻟْﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ، ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﺍﻙَ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ، ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﺗَﻨﺰﻝُ ﺍﻟْﻤَﻼﺋِﻜَﺔُ ﻭَﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺃَﻣْﺮٍ، ﺳَﻼﻡٌ ﻫِﻲَ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﻄْﻠَﻊِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ .
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Allah SWT memberitakan bahwa Dia telah menurunkan al-Qur’an pada malam lailatul qadar, yaitu malam yang penuh berkah, dimana Allah SWT berfirman:
ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧﺰﻟْﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛَﺔٍ ...
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam yang penuh berkah…”. QS ad-Dukhan ayat 3. Yaitu malam lailatul qadar. Dan malam lailatul qadar itu dari bulan Ramadlan, sebagaimana Allah SWT berfirman:
ﺷَﻬْﺮُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃُﻧﺰﻝَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ } ‏[ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 185 ] .
“Bulan Ramadlan dimana diturunkan padanya al-Qur’an”. QS al-Baqaroh ayat 185.

Qaala Ibnu Abbas ...
ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻏﻴﺮﻩ : ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺟﻤﻠﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻮﺡ ﺍﻟﻤﺤﻔﻮﻅ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻌِﺰّﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ، ﺛﻢ ﻧﺰﻝ ﻣﻔﺼﻼ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻟﻮﻗﺎﺋﻊ ﻓﻲ ﺛﻼﺙ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺳﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
Ibnu Abbas RA dan lainnya berkata: “Allah telah menurunkan al-Qur’an dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izzah dari langit dunia dengan satu tahap. Kemudian Allah menurunkannya kepada Rasulullah SAW dengan bertahap sesuai tuntutan peristiwa dalam dua puluh tiga tahun”. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, 8/441, Maktabah Syamilah).

SEBAB TURUNNYA SURAT AL-QADAR

Ibnu Abi Hatim berkata: “Yunus memberi khabar kepada kami, Ibnu Wahab memberi khabar kepada kami, Musallamah bin ‘Ulayy bercerita kepadaku, dari ‘Aly bin ‘Urwah berkata: “Rasulullah SAW pada suatu hari pernah menyebut Empat laki-laki dari Bani Isroil, mereka beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun dengan tanpa maksiat kepada Allah sekejap matapun. Lalu Nabi SAW menyebut Ayub, Zakaria, Hizqil bin ‘Azuz dan Yusa’ bin Nun.” Musallamah bin ‘Ulayy berkata: “Lalu sahabat Rasulullah SAW takjub dengan kondisi mereka. Lalu Jibril datang kepadanya seraya berkata: “Wahai Muhammad, umatmu takjub terhadap ibadah mereka selama delapan puluh tahun dengan tidak maksiat kepada Allah sekejap matapun. Sesungguhnya Allah telah menurunkan sesuatu yang lebih baik dari itu. Lalu Jibril membacakan kepada Nabi SAW,
ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧﺰﻟْﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﺍﻙَ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮ
Ini lebih utama dari perkara yang enkau dan umatmu takjub kepadanya”. Musallamah bin ‘Ulayy berkata: “Lalu Rasulullah SAW serta orang-orang bersamanya bergembira”. (as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, 8/569).

Waqaala Sufyan ...
ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ : ﺑَﻠَﻐﻨﻲ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ : ﻟﻴﻠﺔُ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻟﻒ ﺷﻬﺮ . ﻗﺎﻝ : ﻋَﻤَﻠﻬﺎ، ﺻﻴﺎﻣﻬﺎ ﻭﻗﻴﺎﻣﻬﺎ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻟﻒ ﺷﻬﺮ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺮ .
Sufyan ats-Tsauri berkata: “Telah datang kepadaku dari Mujahid, ‘Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan’. Mujahid berkata: “Beramal, berpuasa dan qiyamullail pada malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan”. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/443, Maktabah Syamilah).

'An Abi Hurairah ...
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣَﻦْ ﻗﺎﻡَ ﻟﻴﻠﺔَ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎً ﻭﺍﺣﺘﺴﺎﺑﺎً ﻏُﻔِﺮَ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻣِﻦْ ﺫَﻧْﺒِﻪِ . ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ . ‏( 2 ‏) ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺮﻗﻢ ‏( 1901 ‏) ﻭﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺮﻗﻢ ‏( 760 ).
Dari Abu Hurairoh RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang beribadah di malam lailatul qadar karena iman dan mengharap ridla dan pahala-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. HR Bukhari (no.1901) dan Muslim (no.760).

KAPANKAH LAILATUL QADAR ITU?

'An Abi Hurairah ...
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫُﺮﻳﺮﺓ : ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ : " ﺇﻧﻬﺎ ﻟﻴﻠﺔُ ﺳﺎﺑﻌﺔٍ ﺃﻭْ ﺗﺎﺳﻌﺔٍ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦَ، ﻭﺇﻥ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔَ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﺃﻛﺜﺮُ ﻣِﻦْ ﻋَﺪَﺩِ ﺍﻟْﺤَﺼَﻰ .
Dari Abu Hurairoh RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda mengenati lailatul qadar: “Sesungguhnya lailatul qadar itu pada malam dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan, dan bahwa Malaikat yang berada di bumi pada malam itu lebih banyak daripada bilangan batu kecil”. Musnad ath-Thayalisi (no.2545).

'An Ibni Umar ...
ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﺃﻥ ﺭﺟﺎﻻ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏِ ﺍﻟﻨﺒﻲِّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃُﺭُﻭْﺍ ﻟﻴﻠﺔَ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤَﻨﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺴَﺒْﻊ ﺍﻷﻭَﺍﺧِﺮ، ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺃَﺭَﻯ ﺭُﺅْﻳَﺎﻛُﻢْ ﻗَﺪْ ﺗَﻮَﺍﻃَﺄَﺕْ ﻓﻲ ﺍﻟﺴَﺒْﻊِ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻓَﻤَﻦْ ﻛﺎﻥَ ﻣُﺘَﺤَﺮِّﻳَﻬَﺎ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺤَﺮَّﻫَﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ . ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ .
Dari Ibnu Umar RA, Sesungguhnya sejumlah laki-laki dari sahabat Nabi SAW bermimpi melihat lailatul qadar pada tujuh hari terakhir (dari bulan Ramadlan). Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Aku melihat mimpi kalian benar-benar jatuh pada tujuh hari terakhir, maka siapa saja yang mencarinya, hendaklah mencarinya pada tujuh hari yang terakhir”. HR Bukhari dan Muslim.

Terkait hadis ini, Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkara: “Telah diperselisihkan dalam menentukan malam lailatul qadar menjadi empat puluh pendapat yang aku terangkan dalam kitab Fathul Barri, (dimana yang lebih unggul adalah bahwa lailatul qadar itu jatuh pada tujuh hari terakhir sebagaimana hadis diatas)”. (Bulughul Marom, hal. 147).

'An Muawiyah ...
ﻋﻦ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ : ﻟﻴﻠﺔُ ﺳﺒﻊٍ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ .
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda mengenai lailatul qadar: “Malam dua puluh tujuh”. HR Abu Daud.

'An Ubadah ...
ﻋﻦ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺼﺎﻣﺖ : ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝَ : " ﻟﻴﻠﺔُ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻟﺒﻮﺍﻗﻲ، ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻣَﻬُﻦَّ ﺍﺑﺘﻐﺎﺀَ ﺣِﺴْﺒَﺘِﻬِﻦَ، ﻓﺈﻥّ ﺍﻟﻠﻪ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻣِﻦْ ﺫَﻧْﺒِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺄَﺧَّﺮَ، ﻭﻫﻲ ﻟﻴﻠﺔُ ﻭِﺗْﺮٍ : ﺗِﺴْﻊٍ ﺃﻭْ ﺳَﺒْﻊٍ، ﺃﻭْ ﺧﺎﻣِﺴَﺔٍ، ﺃﻭ ﺛﺎﻟﺜﺔٍ، ﺃﻭْ ﺁﺧِﺮُ ﻟﻴﻠﺔٍ .
Dari ‘Ubadah bin Shamit, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul qadar itu ada di sepuluh malam terakhir (dari bulan Ramadlan). Siapa saja yang beribadah di dalamnya karena mengharap ridla dan pahala-Nya, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Lailatul qadar itu dimalam ganjil, dua sembilan, dua tujuh, dua lima, atau dua tida, atau malam terakhir”.

Waqaala ...
ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﺇﻥ ﺃﻣﺎﺭﺓ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺃﻧﻬﺎ ﺻﺎﻓﻴﺔ ﺑَﻠْﺠَﺔ، ﻛﺄﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﻤﺮًﺍ ﺳﺎﻃﻌًﺎ، ﺳﺎﻛﻨﺔ ﺳﺠﻴﺔ، ﻻ ﺑﺮﺩ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﻻ ﺣﺮ، ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻜﻮﻛﺐ ﻳُﺮﻣَﻰ ﺑﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﺒﺢ . ﻭﺃﻥ ﺃﻣﺎﺭﺗﻬﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺻﺒﻴﺤﺘﻬﺎ ﺗﺨﺮﺝ ﻣﺴﺘﻮﻳﺔ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﺷﻌﺎﻉ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﻘﻤﺮ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺒﺪﺭ، ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻠﺸﻴﻄﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻌﻬﺎ ﻳﻮﻣﺌﺬ .
Dan Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya tanda-tandanya lailatul qadar itu malam yang (langitnya) bersih lagi terang, seperti ada rembulan yang bersinar, malam yang tenang lagi damai, tidak ada dingin tidak pula ada panas padanya, dan tidak ada bintang yang dilemparkan padanya hingga waktu pagi. Dan tanda-tandanya (juga), Matahari paginya keluar dengan sempurna (lurus), tidak ada sinar terang padanya seperti rembulan di malam purnama, dan ketika itu tidak halal bagi Setan untuk keluar bersamanya (Matahari)”. Musnad Ibnu Syuraih (5/324).

Imam Ghazali dan ulama shufi yang lain berkata : “Sesungguhnya lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir itu dapat diketahui dengan hari pertama dari bulan Ramadlan. Kalau awal Ramadlan itu hari Ahad atau Rabu, maka lailatul qadarnya adalah malam duapuluh sembilan; atau hari Senin, maka malam duapuluh satu; atau hari Selasa atau Jum’at, maka malam duapuluh tujuh; atau hari Kamis, maka malam duapuluh lima; atau hari Sabtu, maka malam duapuluh tiga”.

Dan Syaikh Abul Hasan berkata: “Semenjak aku mencapai usia laki-laki, maka lailatul qadar tidak pernah lepas dariku dengan kaidah (imam Ghazali) tersebut”. (Sayyid Bakri, I’aanatut Thaalibiin, 2/257).

DO’A DI MALAM LAILATUL QADAR:

'An Aisyah ...
ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖْ : ﻗﻠﺖُ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪ، ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺇِﻥْ ﻋَﻠِﻤْﺖُ ﺃَﻱُّ ﻟﻴﻠﺔٍ ﻟﻴﻠﺔُ ﺍﻟﻘﺪﺭِ ﻣَﺎ ﺃﻗﻮﻝُ ﻓﻴﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ : ﻗُﻮْﻟِﻲ : ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺇﻧﻚ ﻋَﻔُﻮٌ ﺗُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨِّﻲ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ ﻏﻴﺮ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﺘﺮﻣﻴﺬﻱ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ .
Dari ‘Aisyah RA berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, tahukah engkau apabila aku mengerti malam lailatul qadar, apa yang aku ucapkan ketika itu?”. Beliau bersabda: “Ucapkan, ” Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah Engkau Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, ampunilah aku)”.

Tentu do’a-do’a yang lain juga mustajabah, maka berdo’alah dengan yang baik-baik saja. Dan agar doa kita terkabul dan bisa melihat lailatul qadar, maka harus menjemputnya dengan makanan yang halal dan tidak kekenyangan, pikiran yang jernih dan cerdas (tidak yang liberal), dan hati yang ikhlas dan selamat.

Wallohu A'lamu bi ash-Shawaab...

Sabtu, 18 Juni 2016

INVESTASI AKHIRAT (cari donatur waqaf)

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh
Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Setiap kali saya sowan (ziarah) ke guru, kiai dan pembimbingku, KH Abdullah Kafabihi Mahrus (Gus Kafabih) Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri, Beliau selalu mengulang-ulang perkataannya: "Romli, kapan kamu mendirikan pondok pesantren?!", "Rom, kamu sudah mendirikan ponpes belum?!", dan "Cepat Rom merintis pondok pesantren!".

Sampai-sampai saya memahami dari perkataannya yang terus diulang-ulang itu, bahwa saya tidak boleh sowan kepada beliau sebelum bisa merintis atau mendirikan ponpes. Inilah satu alasan diantara alasan yang lainnya, kenapa saya lama tidak sowan ke beliau.

Dan di bulan Romadlan (2014 M), min haetsu laa ahtasibu, saya mendapat amanah tanah waqaf. Semoga berangkat dari tanah waqaf tetsebut, Allah meridlai dan memudahkan cita-cita saya untuk mendirikan ponpes dengan kurikulum perpaduan antara tsaqafah Lirboyo dan tsaqafah Annabhaniyyah, agar para alumninya nanti mampu menjawab tantantangan kehidupan kedepan dengan tidak menyimpang dari Islam, baik aqidah maupun syariahnya.... Aamien.

Ini adalah foto-foto tanah yang belum dibebaskan serta bangunan mushala waqaf "NDADAPAN" (Nahdlah Dadapan/ Kebangkitan Dusun Dadapan) 12,5x6m yang berdiri di atas tanah waqaf seluas 540m yang masih terbengkalai karena kekurangan dana. Rencananya di sekitar mushala ini akan dibangun asrama pondok pesantren. Semoga Allah memudahkannya. Mohon diaamiini; Aamiin Yaa Mujiibassaailiin!

Sedang tanah yang akan saya bebaskan luasnya 2000m dengan harga permeter Rp 50rb.
Jadi untuk pembebasan tanah saja membutuhkan Rp 100jt. Lalu berapa kebutuhan untuk pembangunan asrama, mushalla dll-nya? Saudara pasti bisa memperkirakannya berapa ...

Kami sangat mengharap kepedulian dan sumbangan dana dari saudara seiman dan seperjuangan untuk pembebasan tanah dan pembangunan ponpes yang kami cita-citakan itu ...

Siapa tahu bahwa tempat itu nanti adalah tempat yang cocok bagi saudara atau anak cucu saudara ...

Jadikanlah harta yang kita kuasai dan kita miliki benar-benar menjadi rizki kita, bukan rizki orang lain, apalagi rizki musuh kita. Karena harta yang kita kuasai dan kita miliki yang menjadi rizki kita hanyalah yang kita makan, yang kita pakai, yang kita tempati dan yang kita dahulukan. Harta yang kita dahulukan adalah harta yang kita sedekahkan, yang kita waqafkan atau yang kita jariyahkan. Harta yang kita dahulukan menunggu kita dipermulaan alam akhirat yaitu alam qubur atau alam barzah. Setelah kita meninggal, harta itu sdh ada disana menjemput dan menemani kita dialam kubur, dan terus menemani dan menuntun kita sampai masuk ke surga tempat rahmat dan ridha Alloh swt.

Harta yang kita makan, kita pakai dan kita tempati, semuanya telah terputus. Harta yang kita tinggalkan semuanya telah menjadi rizki orang lain, bahkan tidak sedikit yang menjadi rizki musuh kita. Semuanya telah terputus dan telah menjadi sia-sia dan penyesalan. Maka dahulukanlah harta yang saudara miliki dan kuasai, karena harta itulah yang menjadi rizki kita yang dilipat-gandakan yang nikmatnya tidak pernah terputus.

Saya siap menjadi sarana dan batu loncatan untuk mendahulukan harta saudara seiman dan seperjuangan, insyaa Alloh, aamiin ... ... ...

Cukup trasfer ke rekening :
BNI Syariah : 0351949196 an Bpk MOH ROMLI AW
Telpon (Whats App) : 085331937072
Jazaakumullahu khairon