Rabu, 25 Mei 2016

RUKYAT GLOBAL

PENDAPAT ULAMA TERKAIT RUKYAT GLOBAL

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Yang dikehendaki dengan rukyat global di sini adalah merukyat hilal [melihat bulan sabit] tanggal satu Ramadlan atau tanggal satu Sawal, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlan, di mana rukyat tersebut dilakukan oleh sebagian dari kaum muslim di seluruh dunia dan berlaku untuk seluruh kaum muslim di seluruh dunia, tanpa mempersoalkan batas-batas Negara nasional. Maka dalam prakteknya, sebagai contohnya, kaum muslim yang berada di Negara Indonesia boleh mengikuti rukyatul hilal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim di Hijaz atau Arab Saudi atau negara lainnya, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlon. Berikut adalah pendapat para ulama terkait hal tersebut:

Wattafaquu ...
ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ‏[ ﺃﻱ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ‏] ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَﻪُ ﺇﺫﺍ ﺭﺋﻰ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻓﻰ ﺑﻠﺪﺓ ﻗﺎﺻﻴﺔ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﺋﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺻﺤﺤﻮﺍ ﺃﻧﻪ ﻳﻠﺰﻡ ﺣﻜﻤﻪ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﻘﺮﻳﺐ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺒﻌﻴﺪ . ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﺑﻤﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﺍﻟﻤﻨﺎﺯﻝ، ﺇﻻ ﻓﻰ ﻭﺟﻪ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺷﺮﻳﺢ، ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﺤﺴﺎﺏ . ‏[ ﻣﻴﻴﺰﺍﻥ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﻧﻰ، ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ، ﺹ : 18-17 ].
Empat Imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'iy dan Imam Ahmad) telah sepakat bahwa ketika bulan sabit telah terlihat di belahan dunia yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja ashhab Syafi'iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat (penduduk) negeri yang dekat, bukan (penduduk negeri) yang jauh. Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan (dalam menentukan awal dan akhir Ramadlan), kecuali miturut pendapat Ibnu Syuraih, bagi orang yang mengerti hisab.

Dzahaba ...
ﺫﻫﺐ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻻﻋﺒﺮﺓ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﻊ، ﻣﺘﻰ ﺭﺃﻯ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﺟﺐ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻼﺩ، ﻟﻘﻮﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺻﻮﻣﻮﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ ﻭﺃﻓﻄﺮﻭﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ … ﻭﻫﻮ ﺧﻄﺎﺏ ﻋﺎﻡ ﻟﺠﻤﻴﻊ ﺍﻷﻣﺔ، ﻓﻤﻦ ﺭﺁﻩ ﻣﻨﻬﻢ، ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻜﺎﻥ، ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺭﺅﻳﺔ ﻟﻬﻢ ﺟﻤﻴﻌﺎ ‏[ ﻓﻘﻪ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻠﺴﻴﺪ ﺳﺎﺑﻖ، ﺹ : 369-367 ].
Jumhur (mayoritas ulama mujtahid) berpendapat bahwasanya perbedaan mathlak itu tidak diperhitungkan. Kapan saja penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit, maka wajib puasa atas semua penduduk dunia, karena Rasulullah SAW bersabda: "Berpuasalah kalian karena melihat bulan sabit, dan berhari rayalah kalian karena melihatnya…..". Seruan Nabi itu ditujukan kepada semua umat Islam. Maka siapa saja di antara mereka telah melihat bulan sabit di tempat manapun, maka hal itu menjadi rukyat bagi mereka semua.

Fashlun : ...
ﻓﺼﻞ : ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ‏[ ﺃﻱ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ‏] ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺭﺅﻱ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻓﻰ ﺑﻠﺪ ﺭﺅﻳﺔ ﻓﺎﺷﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﺋﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺻﺤﺤﻮﺍ ﺃﻧﻪ ﻳﻠﺰﻡ ﺣﻜﻤﻪ ﺃﻫﻞ ﺑﻠﺪ ﺍﻟﻘﺮﻳﺐ، ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺒﻌﻴﺪ . ﻭﺍﻟﺒﻌﻴﺪ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺻﺤﺤﻪ ﺇﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺮﻣﻴﻦ ﻭﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﺑﻤﺴﺎﻓﺔ ﺍﻟﻘﺼﺮ، ﻭﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺭﺟﺤﻪ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﻊ ﻛﺎﻟﺤﺠﺎﺯ ﻭﺍﻟﻌﺮﺍﻕ . ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﺑﻤﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﺍﻟﻤﻨﺎﺯﻝ، ﺇﻻ ﻓﻰ ﻭﺟﻪ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺷﺮﻳﺢ ﻣﻦ ﻋﻈﻤﺎﺀ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ، ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﺤﺴﺎﺏ . ‏[ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻷﻣﺔ، ﻫﺎﻣﺶ ﻣﻴﺰﺍﻥ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ، ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ، ﻷﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺪﻣﺸﻘﻲ ﺍﻟﻌﺜﻤﺎﻧﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ].
Empat Imam madzhab telah sepakat bahwasanya ketika bulan sabit telah terlihat di negeri rukyat yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja Ashhab Syafi'iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat penduduk negeri yang dekat, bukan yang jauh. Sedang perhitungan negeri yang jauh miturut pendapat yang telah ditashih oleh Imam Haromain, Imam Ghazali dan Imam Rafi'iy adalah jarak mengqashar shalat. Sedang miturut pendapat yang telah diunggulkan oleh Imam Nawawi adalah perbedaan mathlak seperti Hijaz dan Irak. Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan, kecuali miturut pendapat Ibnu Syuraih termasuk pembesar syafi'iyyah, bagi orang yang mengerti hisab.

Wanzhur ...
ﻭﺍﻧﻈﺮ ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ ﻟﻠﺸﻮﻛﺎﻧﻲ، ﻭﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺮ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ، ﻭﺳﺒﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻟﻠﺼﻨﻌﺎﻧﻲ، ﻭﺍﻟﺮﻭﺍﺋﻊ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﺼﺒﻮﻧﻲ، ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺠﺰﻳﺮﻱ، ﻭﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻘﺮﺃﻥ ﻟﻠﻘﺮﻃﺒﻲ، ﻭﺍﻟﺪﺭ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ ﻟﻠﺤﺸﻔﺎﻛﻲ، ﻭﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻻﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ، ﻭﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﻹﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ، ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻰ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﺍﻟﺼﻮﻡ .
Dan lihat kitab Nailul Authar karya Imam Syaukani, Fathul Barri karya Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani, Subulus Salam karya Imam Shan'ani, Rowaiul Bayan karya Imam Ali Shabuni, al-Fiqh 'ala Madzahibil Arba'ah karya Imam Abdurrahman al-Jaziri, al-Jami' li Ahkamil Qur'an karya Imam Qurthubi, al-Durrul Mukhtar karya Imam Hasyfaki, Mughnil Muhtaj karya Imam Ibnu Qudamah, dan Majmu'ul Fatawa karya Imam Ibnu Taimiyah, di mana semuanya terdapat pada bab puasa.

Hadis-hadis terkait rukyat global yang dipakai oleh jumhur ulama:
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺻﻮﻣﻮﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ ﻭﺃﻓﻄﺮﻭﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ، ﻓﺈﻥ ﻏﻢ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻓﻌﺪﻭﺍ ﺛﻼﺛﻴﻦ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ . ﻭﻓﻲ ﻟﻔﻆ : ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺻﻮﻣﻮﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ ﻭﺃﻓﻄﺮﻭﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ، ﻓﺈﻥ ﻏﻢ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻓﺎﻗﺪﺭﻭﺍ ﺛﻼﺛﻴﻦ .
Dari Abu Hurairah RA berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila bulan terhalang mendung atas kalian, maka hitunglah tigapuluh". HR Bukhari, Muslim dan Nasai. Dan dalam lafadz lain. Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka perkirakanlah tigapuluh".

Wa 'an abi hurairah ...
ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻓﺼﻮﻣﻮﺍ ﻭﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻩ ﻓﺄﻓﻄﺮﻭﺍ، ﻓﺈﻥ ﻏﻢ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻓﺼﻮﻣﻮﺍ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ .
Dan dari Abu Hurairah RA: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Apabila kalian telah melihat hilal, maka berpuasalah. Dan apabila kalian telah melihat hilal, maka berbukalah. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka berpuasalah tigapuluh hari". Dan hadis-hadis lain yang senada.

Waruwiya 'an ...
ﻭﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻏﻢ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻫﻼﻝ ﺷﻮﺍﻝ، ﻓﺄﺻﺒﺤﻨﺎ ﺻﻴﺎﻣﺎ، ﻓﺠﺎﺀ ﺭﻛﺐ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ، ﻓﺸﻬﺪﻭﺍ ﻋﻨﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﺭﺃﻭﺍ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﺑﺎﻷﻣﺲ، ﻓﺄﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﻔﻄﺮﻭﺍ ﻣﻦ ﻳﻮﻣﻬﻢ، ﻭﺃﻥ ﻳﺨﺮﺟﻮﺍ ﻟﻌﻴﺪﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺪ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ .
Dan telah diriwayatkan dari Jama'ah Anshar bahwa mereka telah berkata: "Hilal bulan Sawal telah tertutup mendung atas kami, lalu pagi harinya kami berpuasa, lalu pada sore harinya datang kafilah, lalu mereka bersaksi kepada Rasulullah SAW bahwa mereka telah melihat hilal kemaren, lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar mereka berbuka pada hari itu juga, dan agar keluar untuk shalat 'idul fitri pada pagi harinya".

Dan lihat kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar al-'Asqalani pada bab shalat 'idul fitri dan 'idul adlha serta syarahnya, yaitu kitab Subulus Salam karya Imam Shan'ani.

Catatan :
Satu mathla’ = 24 farsakh / pos [fathul mu’iin]
Satu farsakh = radius 7.499,9925 m / 7,5 km [fathul qodir]
Berarti, satu mathla’ = 24 farsakh x 7.499,9925m = radius 179.999,82m
Sedangkan luas wilayah Indonesia sekitar 5.200, km.
Lalu 5.200, km : 179.999,82m = 28,888917778 [28 mathla’ lebih].
Maka Indonesia memiliki 28 mathla'.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa sistem rukyat yang dipakai oleh sebagian organisasi di Indonesia telah keluar dari sistem ikhtilaful mathali’ [perbedaan mathla’] miturut pendapat yang telah ditarjeh oleh Imam Nawawi, karena Indonesia memiliki 28 mathla', dan telah keluar dari sistem masafatul qashri [jarak mengqashar shalat] miturut pendapat yang telah ditashih oleh Imam Ghazali, Imam Haromain dan Imam Rofi’i, maka status hadits Kuraib dari Ibnu Abbas ra. yang mendasarinya tidak perlu diperdebatkan lagi karena secara substansial dan factual hadis itu sudah tidak terpakai lagi.

Hadis Kuraib;
ﻋﻦ ﻛﺮﻳﺐ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ﺃﻥ ﺃﻡ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﺑﻌﺜﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﺎﻟﺸﺎﻡ . ﻗﺎﻝ : ﻓﻘﺪﻣﺖ ﺑﺎﻟﺸﺎﻡ ﻓﻘﻀﻴﺖ ﺣﺎﺟﺘﻬﺎ ﻭﺍﺳﺘﻬﻞ ﻋﻠﻲ ﻫﻼﻝ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺃﻧﺎ ﺑﺎﻟﺸﺎﻡ . ﻓﺮﺃﻳﺖ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ، ﺛﻢ ﻗﺪﻣﺖ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺸﻬﺮ، ﻓﺴﺄﻟﻨﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ – ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻬﻼﻝ - ﻓﻘﺎﻝ : ﻣﺘﻰ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﺍﻟﻬﻼﻝ؟ ﻓﻘﻠﺖ : ﺭﺃﻳﻨﺎﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ . ﻗﺎﻝ : ﺃﻧﺖ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ؟ ﻗﻠﺖ : ﻧﻌﻢ، ﻭﺭﺁﻩ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺼﺎﻣﻮﺍ ﻭﺻﺎﻡ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ . ﻗﺎﻝ : ﻟﻜﻦ ﺭﺃﻳﻨﺎﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺴﺒﺖ ﻓﻼ ﻧﺰﺍﻝ ﻧﺼﻮﻡ ﺣﺘﻰ ﻧﻜﻤﻞ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﺃﻭ ﻧﺮﺍﻩ . ﻓﻘﻠﺖ : ﺃﻭﻻ ﻧﻜﺘﻔﻲ ﺑﺮﺅﻳﺔ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭﺻﻴﺎﻣﻪ؟ ﻗﺎﻝ : ﻻ، ﻫﻜﺬﺍ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﻭ ﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﻴﺬﻱ.
Dari Kuraib bahwa Umul Fadlal pernah mengutusnya ke Muawiyah di Syam. Kuraib berkata: "Lalu aku datang ke Syam. Lalu aku menyelesaikan hajatnya (Umul Fadlal) dan hilal Ramadlan telah terlihat dan aku berada di Syam. Maka aku telah melihat hilal pada malam Jum'at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan. Lalu Abdullah Ibnu Abbas menanyaiku, –kemudian ia menuturkan hilal- lalu beliau berkata: "Kapan kalian melihat hilal?", lalu aku berkata: "Kami telah melihatnya pada malam Jum'at". Beliau berkata: "Akan tetapi kami telah melihatnya pada malam Sabtu, maka kami terus berpuasa sampai menyempurnakan tigapuluh hari, atau kami melihatnya". Lalu aku berkata: "Apakah kami tidak cukup dengan rukyatnya Muawiyah serta puasanya?", beliau berkata: "Tidak, demikianlah Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami".

Mengenai topik Ikhtilaful Mathali’ [perbedaan mathla'], maka Syaikh Muhammad Husain Abdullah rh. telah menjelaskan alasannya sebagai berikut ;
ﺃﻣﺎ ﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﻊ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﺬﺭﻉ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻓﻬﻲ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺗﺤﻘﻴﻖ ﻣﻨﺎﻁ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﺤﺜﻪ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﻮﻥ ﻟﻠﻮﺍﻗﻊ ﺍﻟﺬﻱ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﺯﻣﻨﻬﻢ ﺣﻴﺚ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻻ ﻳﺘﻤﻜﻨﻮﻥ ﻣﻦ ﺇﺑﻼﻍ ﺭﺅﻳﺔ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺳﻜﺎﻥ ﺩﻭﻟﺔ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺍﻟﻤﺘﺮﺍﻣﻴﺔ ﺍﻷﻃﺮﺍﻑ، ﻷﻥ ﻭﺳﺎﺋﻞ ﺍﻹﻋﻼﻡ ﺍﻟﺘﻲ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺘﺎﺣﺔ ﻳﻮﻣﺌﺬ ﻛﺎﻧﺖ ﻗﺎﺻﺮﺓ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ .
Adapun perbedaan mathla' yang dijadikan alasan oleh sebagian ulama dan oleh yang lain, maka itu termasuk bab 'Tahqiqu Manathil Hukmi' (identifikasi terhadap obyek hukum) yang telah dibahas oleh fuqaha terdahulu terhadap realita yang ada saat itu, di mana kaum muslim tidak bisa menyampaikan rukyat hilal kepada semua penduduk Negara Khilafah yang wilayahnya saling berjauhan, karena sarana informasi yang ada saat itu tidak dapat menjangkau semuanya.

Wa ammal yauma ...
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻴﻮﻡ، ﻓﻮﺳﺎﺋﻞ ﺍﻹﻋﻼﻡ ﺍﻟﻤﻮﺟﻮﺩﺓ ﻗﺎﺩﺭﺓ ﻋﻠﻰ ﻧﻘﻞ ﺧﺒﺮ ﺭﺅﻳﺔ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﺇﻟﻰ ﺃﻱ ﻣﻜﺎﻥ، ﻓﻰ ﺛﻮﺍﻥ ﻣﻌﺪﻭﺩﺓ، ﻓﻴﻠﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺼﻮﻡ، ﺃﻭ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ، ﻟﻤﺠﺮﺩ ﺳﻤﺎﻋﻬﻢ ﺧﺒﺮ ﺭﺅﻳﺔ ﺍﻟﻬﻼﻝ، ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺮﻭﻩ ﻫﻢ ﻓﻰ ﺑﻠﺪﻫﻢ، ﻣﺎﺩﺍﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﺭﺁﻩ ﻣﺴﻠﻢ … ‏[ ﻣﻔﺎﻫﻢ ﺇﺳﻼﻣﻴﺔ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺣﺴﻴﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ، ﺝ، 2 ﺹ : 159 ].
Adapun sekarang, maka sarana informasi yang ada telah mampu memindahkan berita rukyat hilal ke tempat manapun dalam beberapa menit saja. Maka wajib atas kaum muslim saat ini berpuasa atau berbuka hanya dengan mendengar berita rukyat hilal meskipun mereka sendiri tidak melihatnya di negerinya, selama yang telah melihatnya adalah orang muslim.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa pendapat rukyat global yang dipraktekkan oleh Hizbut Tahrir dan kelompok lain adalah pendapat yang kuat dan realistis juga rasional. Apalagi kalau dikaitkan dengan sejumlah hadis yang melarang mendahului bulan Ramadhan atau bulan Syawal dalam berpuasa dan berbuka, yang mengharamkan puasa pada hari raya, dan yang terkait dengan puasa Tarwiyah dan Arofah yang harus bersamaan dengan jamaah haji yang membawa bekal air minum untuk pergi ke Arofah dan jamaah haji yang wukuf di Arafah, maka semakin jelaslah kekeliruan pendapat rukyat lokal atau rukyat nasional, karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat, dan tidak realistis dan tidak rasional, ibarat makanan telah kedaluwarsa.

Wallahu a'lam bish shawab.

Pernah dipubkikasikan dalam catatan facebook Abulwafa Romli pada 17 Juli 2012 pukul 8:11

Jumat, 20 Mei 2016

TUKANG FITNAH ITU BUKAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kita telah meyakini, bahwa Ahlussunnah Wal Jama’ah ala Rasululloh SAW dan sahabatnya adalah Firqah Najiyah (kelompok yang selamat dari neraka), dimana mengenai mereka, Muhammad bin Abdul Karim bin Abu Bakar Ahmad asy-Syahrastani dalam kitabnya, al-Milal wa an-Nihal, menulis:
 
Akhbaro Annabiyyu ...
أَخْبَرَ النَّبِى عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : سَتَفْتَرِقُ أُمِّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً ، اَلنَّاجِيَةُ مِنْهَا وَاحِدَةٌ ، وَاْلبَاقُوْنَ هَلْكَى . قِيْلَ : وَمَنْ اَلنَّاجِيَةُ ؟ قَالَ : أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَمَاعَةِ . قِيْلَ : وَمَا أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَمَاعَةِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ اْليَوْمَ وَأَصْحَابِي.
“Nabi saw mengabarkan bahwa umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu diantaranya adalah golongan yang selamat, sedang yang lainnya golongan yang celaka”. Ditanyakan: “Siapakah golongan yang selamat itu?”. Beliau bersabda: “Ahlussunnah Wal Jama’ah”. Ditanyakan: “Siapakah Ahlussunnah Waljamaah itu?”. Belaiau bersabda: “(Orang-orang yang berpegang teguh terhadap) apa yang saat ini aku dan para sahabatku berada di atasnya”. (Muhammad bin Abdul Karim bin Abu Bakar Ahmad asy-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal, 1/11, Dar al-Ma’rifah Beirut, 1404 H, tahqiq Muhammad Sayyid Kailani).

Sedangkan perilaku merekayasa, membohongi, memitnah dan memprovokasi itu dapat menjerumuskan seorang muslim ke neraka, kecuali ketika telah bertaubat secara nashuha sebelum matinya. Oleh karena itu, siapa saja diantara kaum muslim yang berperilaku seperti itu, secara otomatis, dengan sendirinya, ia telah keluar dari golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah, meskipun ia telah mengklaim seribu kali sebagai golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Terkait perilaku merekayasa, membohongi, memitnah dan memprovokasi, Allah swt berfirman:

Innamaa yaftariy ...
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ (105)
"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang yang pendusta". QS An-Nahel [18] ayat 105.

Ketika menafsiri ayat di atas, Imam Suyuthi berkata:
وأخرج الخرائطي في مساوئ الأخلاق وابن عساكر في تاريخه ، عن عبد الله بن جراد أنه سأل النبي صلى الله عليه وسلم : « هل يزني المؤمن؟ قال : قد يكون ذلك . قال : هل يسرق المؤمن؟ قال : قد يكون ذلك . قال : هل يكذب المؤمن؟ قال : لا . ثم أتبعها نبي الله صلى الله عليه وسلم { إنما يفتري الكذب الذين لا يؤمنون } » .
“Dan Al-Khoroithi dalam kitab Masawiul Akhlaq dan Ibnu Asakir dalam kitab Tarikhnya telah mengeluarkan hadits dari Abdulloh bin Jarod, bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi SAW: “Apakah orang mu’min berzina?”, beliau bersabda: “Bisa saja ia begitu”. Ia bertanya: “Apakah orang mu’min mencuri?”, beliau bersabda: “Bisa saja ia begitu”. Dan ia bertanya: “Apakah orang mu’min berdusta?”, beliau bersabda: “Tidak”. Kemudian Nabi SAW membacakan ayat: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah”.

Waakhroja ...
وأخرج الخطيب في تاريخه ، عن عبد الله بن جراد قال : قال أبو الدرداء « يا رسول الله ، هل يكذب المؤمن؟ قال : لا يؤمن بالله ولا باليوم الآخر من إذا حدث كذب » .
“Dan al-Khothib dalam kitab Tarikhnya telah mengeluarkan dari Abdulloh bin Jarod, ia berkata: “Abu Darda’ berkata: “Wahai Rasululloh, apakah orang mu’min berdusta?”, beliau bersabda: “Tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, orang yang ketika berbicara, ia berdusta”. (Tafsir al-Durr al-Mantsur, 6/172).

Dan firman-Nya:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata". QS Al-Ahzab [35] ayat 58.

Imam Ibnu Katsir berkata:
“Firman Alloh: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat”. Yakni, mereka menisbatkan kepada orang-orang mukmin dan mukminat suatu perkara yang mereka bebas dari padanya, mereka tidak mengamalkan dan tidak pula mengerjakannya. “maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata". Ini adalah kebohongan yang nyata, yaitu menceritakan atau memindah dari orang-orang mu’min dan mu’minat suatu perkara yang mereka tidak mengerjakannya, dengan tujuan mencela dan merendahkan mereka. Kebanyakan orang yang masuk ke dalam ancaman ini adalah orang-orang kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian golongan Rafidhah (Syi’ah ekstrim) yang merendahkan dan mencela sahabat dengan perkara yang Alloh telah membebaskan mereka dari padanya, dan menyifati sahabat dengan kebalikan sifat yang Alloh telah memberi khabar tentang mereka. Karena Alloh SWT telah memeri khabar, bahwa Dia benar-benar ridha dan memuji sahabat Muhajirin dan Anshar. Sedangkan orang-orang bodoh dan dungu itu mencaci-maki dan merendahkan mereka, dan menyebutkan perkara yang tidak ada, dan mereka tidak pernah mengerjakannya selamanya. Maka orang-orang bodoh dan dungu itu, pada dasarnya, adalah orang-orang yang terbalik hatinya, mereka mencela orang-orangyang terpuji, dan memuji orang-orang yang tercela”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/480-481).

Jadi perilaku di atas adalah perilaku orang-orang kafir dan Rafidhah (Syi’ah ekstrim), bukan perilaku Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Jangan mengaku Ahlussunnah Waljama'ah kalau masih suka memitnah

TUKANG FITNAH ITU AHLI NERAKA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Perhatikan firman Allah Swt:
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10)
"Sesungguhnya orang-orang yang telah memitnah orang-orang beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar". Al-Buruj ayat 10.

Abu Hayyan al-Andalusi [654-745 H/1256-1344 M] berkata:
والظاهر أن { الذين فتنوا } عام في كل من ابتلى المؤمنين والمؤمنات بتعذيب أو أذى ، وأن لهم عذابين : عذاباً لكفرهم ، وعذاباً لفتنتهم .
“Yang jelas bahwa ayat, “orang-orang yang telah memitnah”, adalah umum mengenai setiap orang yang telah memitnah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dengan menyiksa atau menyakiti, dan bahwa mereka mendapat dua azab, azab bagi kekufuran mereka, dan azab bagi fitnah mereka.

Waqaala Azzamakhsyari ...
وقال الزمخشري : يجوز أن يريد بالذين فتنوا أصحاب الأخدود خاصة ، وبالذين آمنوا المطروحين في الأخدود ، ومعنى فتنوهم : عذبوهم بالنار وأحرقوهم ، { فلهم } في الآخرة { عذاب جهنم } بكفرهم ، { ولهم عذاب الحريق } : وهي نار أخرى عظيمة تتسع كما يتسع الحريق ، أو لهم عذاب جهنم في الآخرة ، ولهم عذاب الحريق في الدنيا لما روى أن النار انقلبت عليهم فأحرقتهم ، انتهى .
Dan Imam Zamakhsyari berkata: “Boleh, bahwa yang dikehendaki oleh Alloh dengan orang-orang yang telah memitnah, adalah orang-orang yang memiliki lobang-lobang api secara khusus, dan yang dikehendaki dengan orang-orang yang beriman, adalah orang-orang yang dilemparkan ke dalam lobang-lobang itu, dan makna memitnah mereka adalah menyiksa dan membakar mereka dengan api. “maka bagi mereka” di akhirat “azab Jahanam”, sebab kekufuran mereka, “dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar". Yaitu api besar lain yang meluas, sebagaimana meluasnya api yang membakar. Atau mereka mendapat azab Jahannam di akhirat, dan azab yang membakar di dunia, sebagaimana diriwayatkan bahwa api itu berbalik membakar mereka.”

Wayanbaghi ...
وينبغي أن لا يجوز هذا الذي جوّزه ، لأن في الآية { ثم لم يتوبوا } ، وأولئك المحرقون لم ينقل لنا أن أحداً منهم تاب ، بل الظاهر أنهم لم يلعنوا إلا وهم قد ماتوا على الكفر . وقال ابن عطية : { ثم لم يتوبوا } يقوي أن الآيات في قريش ، لأن هذا اللفظ في قريش أحكم منه في أولئك الذين قد علموا أنهم ماتوا على كفرهم . وأما قريش فكان فيهم وقت نزول الآية من تاب وآمن ، انتهى . تفسير البحر المحيط - (ج 10 / ص 459)،  أبو حيان محمد بن يوسف بن علي بن يوسف بن حيّان.
“Seyogyanya sesuatu yang telah dibolehkan oleh Iamam Zamakhsyari itu tidak dibolehkan, karena pada ayat ada kalimat, “kemudian mereka tidak bertaubat”, dan mereka yang membakar itu tidak dikutip kepada kami, bahwa ada seorang dari mereka yang telah bertaubat. Tetapi yang jelas, bahwa mereka tidak dilaknat, kecuali karena mereka mati dalam kondisi kafir. Dan Ibnu Athiyah berkata; “kemudian mereka tidak bertaubat”, kuat kemungkinan ayat tersebut turun mengenai orang Quraisy, karena kata ini lebih kokoh mengenai orang Quraisy daripada mengenai mereka yang telah diketahui mati dalam kondisi kafir. Adapun orang Quraisy, maka ketika ayat turun, ada orang yang taubat dan beriman.” (Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan, Tafsir al-Bahr al-Muhith, 10/459).

Dan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6)
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". QS Al-Hujurat: 6.

Dan Rasulullah saw bersabda:
التبين من الله والعجلة من الشيطان . أخرجه الطبري .
"Berklarifikasi itu dari Allah, sedang tergesa-gesa itu dari setan".

Jangan ngaku Ahlussunnah Waljama'ah kalau masih menjadi tukang fitnah

Rabu, 18 Mei 2016

PBNU HARUS MEMPERJUANGKAN KHILAFAH

PBNU HARUS MEMPERJUANGKAN KHILAFAH
(Telaah atas Kitab Ahkamul Fuqoha fii Muqorroroti Muktamaroti Nahdlatil Ulamai)
Oleh: Irkham Fahmi, S.Sos.I

Sudah saatnya bagi generasi muda NU untuk memperjuangkan Islam sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh aktifis-aktifis Hizbut Tahrir. Para kyai harus membangkitkan semangat santri dan jama’ahnya agar berani menyuarakan kebenaran.

Karena, selain sebagai seorang muslim yang wajib memperjuangkan agamanya, juga untuk menunjukkan eksistensi komunitas mereka dalam beramar ma’ruf nahy munkar. Ini yang harus benar-benar diperhatikan oleh elit PBNU jika tidak ingin ditinggalkan banyak jama’ahnya.
Ali Masykur Musa, tokoh muda NU, dihadapan ratusan kyai-kyai NU pernah menyatakan bahwa, wajar saja bila saat ini HTI banyak mendapat dukungan dari umat, karena umat melihat siapa yang bergerak. (nu.online, 2011).

Apa yang dikatakan Ali tidaklah berlebihan, mengingat saat ini banyak kalangan muda NU dan para kyai yang beralih jalur perjuangan pada HTI.

Mereka yang bergabung dengan HTI bukanlah santri-santri polos sebagaimana yang dikatakan oleh Ainurrofiq (Penulis buku Membongkar Proyek Khilafah Islamiyah Ala HTI), tetapi mereka adalah orang-orang yang mempunyai kecerdasan dalam membaca fakta sosial dan mengesampingkan rasa sombong.

Dalam tulisannya, DR. Aunurrofiq seakan hendak memadamkan bara semangat kaum Nahdliyyin dalam memperjuangkan Islam. Dengan merasa dirinya sebagai wong NU tulen, ia menuduh bahwa orang-orang NU yang mau bergabung dengan garis perjuangan Hizbut Tahrir adalah orang-orang yang polos dan tidak kritis. Padahal sebaliknya, ia sendirilah yang polos dan tidak kritis.

Bagaimana mungkin ia mendikotomi antara Imamah dan Khilafah, padahal ulama-ulama salaf pun tidak pernah membedakannya. Dalam melihat fakta bobroknya sistem demokrasi pun ia seakan menutup panca inderanya. Sarjana-sarjana Muslim dunia tau betul jika sistem ini tidak akan pernah memberi jalan bagi siapapun yang hendak membumikan Hukum-hukum Allah swt.

Apa yang menimpa Partai FIS di Al-Jazair (26 Desember 1991), Masyumi di Indonesia (1959), Hamas di Palestina (2006), Ebarkan di Turki, dan terakhir Ikhwanul Muslimin di Mesir, semua itu menjadi bukti kuat atas liciknya sistem ini, walaupun berjargon suara mayoritas adalah yang sah. Semua partai di atas menang telak pada Pemilu di masanya, tetapi semuanya dianulir karena mereka hendak menerapkan konstitusi Islam. Padahal partai-partai tersebut menang berkat hasil Pemilu yang paling demokratis.

George W. Bush (mantan Presiden AS) dalam pidatonya pernah mengatakan bahwa, “Jika Kita mau melindungi Negara Kita (Amerika) dalam jangka panjang, hal terbaik yang harus dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan Demokrasi.” (Kompas, 6 November 2004).

Sudah sangat jelas bahwa demokrasi adalah sistem yang dipaksakan oleh negara-negara barat untuk menghadang laju tegaknya syari’at Islam. Tetapi kenapa masih banyak saja orang yang mengaku kaum intelektual namun lantang mempromosikan sistem ini.

Bagaimana mungkin, dengan sekuat tenaga mereka mencoba mengkritik sistem Kekhilafahan Islam yang sudah membawa peradaban besar di dunia, sementara mereka tidak berani mengungkap kebobrokan sistem demokrasi sedikitpun.

AMANAT MUKTAMAR NU

Sebagai komunitas Muslim Sunni, elit NU tidak sepatutnya ikut larut dalam hiruk-pikuk sistem Demokrasi. Islam mempunyai sistem tersendiri dalam mengembangkan peradaban manusia, yakni Khilafah Islamiyah ‘ala Minhajin Nubuwwah.

Dalam Kitab Ahkamul Fuqaha, hal.776, diamanatkan: “(PBNU harus_ pen) terus mengupayakan pengembangan studi fiqih siyasah (politik) ‘ala Ahlussunnah walJama’ah”. (Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU, tahun 1418 H / 1997).

Sayangnya apa yang dikembangkan oleh PBNU saat ini bukanlah sistem politik Islam Sunni, melainkan sistem politik ala Barat wal Yahudi, yakni demokrasi. Padahal ulama-ulama Ahlussunnah telah sepakat menyatakan tentang bahayanya sistem ini.

Syaikh Abul A’la al-Maududi, Dalam kitabnya, Al-Islam wa al-Madaniyahal-Haditsah, hal. 36, ia mengatakan; “Telah saya katakan sebelumnya bahwa pengertian Demokrasi dalam peradaban moderen adalah memberikan wewenang membuat hukum kepada mayoritas rakyat … Maka dari itu, kita menentang sistem sekuler yang nasionalistis-demokratis, baik yang ditegakkan oleh orang-orang Barat maupun Timur, Muslim maupun non-Muslim”.

Adnan ‘Ali Ridha an-Nahwi, Dalam kitabnya, Syuro Laaad-Dimuqrathiyah, hal. 103, ia menyatakan, “Dalam kehidupan dunia kebenaran (pendapat) tidaklah diukur dan ditetapkan oleh sedikit atau banyaknya jumlah orang yang sepakat. Kebenaran itu harus diukur oleh kaidah-kaidah, prinsip-prinsip dan manhaj rabbani yang diturunkan dari langit (al-Qur’an)” .

Muhammad Yusuf Musa, Dalam kitabnya, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, hal. 245, ia berkata: “Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam bukanlah sistem Demokrasi, baik dalam pengertiannya menurut kaum Yunani kuno maupun dalam pengertiannya yang moderen”.

Anwar al-Jundi, Dalam kitabnya, Sumum al-Istisyraqwa al-Musytasyriqun fi al-Ulum al-Islamiyah, hal. 96, ia mengatakan, “Pemikiran politik Islam berbeda dengan pemikiran Demokrasi Barat, di antaranya karena kedaulatan dalam sistem politik Islam bukanlah di tangan umat, seperti sistem politik Demokrasi, juga bukan di tangan kepala negara, seperti sistem kediktatoran, melainkan ada dalam penerapan syariah Islam. Dengan demikian sistem politik Islam sangat jauh berbeda dengan sistem apapun yang telah menyimpang itu”.

Syaikh Muhammad al-Ghazali, Ia mengkritisi Demokrasi dalam Kitabnya, Min Hunaa Na’lam, hal. 93, ketika beliau membantah Khalid Muhammad Khalid yang mengklaim keutamaan pemerintahan demokratis: “Adalah perkara yang hak, bahwa orang-orang yang menerapkan Demokrasi sebagai sesuatu yang ideal, hakikatnya adalah orang-orang yang lebih rendah moralnya dan lebih buruk pengaruhnya dibandingkan dengan orang-orang yang menyalahgunakan agama, pada saat mereka menerapkan hukum-hukum yang dzalim. Mari kita lihat sekilas sistem Demokrasi ketika diterapkan di negeri kita (Mesir) di tangan tuan-tuannya, dari penduduk Eropa, yang menjadi utusan Eropa atau yang menjajah kita”.

Syaikh Ali Belhaj, Dalam kitabnya, Ad-Damghahal-Zawwiyah li Nasfi ‘Aqidah ad-Dimuqrathiyah. Secara langsung ia menunjuk bahwa biang keruskan moral adalah Demokrasi, “Cukuplah saya katakan bahwa Demokrasi Barat yang bejat itu sebenarnya telah membawa benih-benih kerusakan dan kebejatan moral. Kenyataan yang ada adalah bukti yang paling jelas untu kitu.”

Syaikh Abdul Qadim Zallum, salah seorang tokoh Hizbut Tahrir. Dalam kitabnya, Ad-Dimuqrathiyah Nizham Kufr: Yahrumu Akhdzuha aw Tathbiquhaaw ad-Da’watu ilayha.
Beliau menyatakan bahwa, “Demokrasi yang dijajakan Barat yang kafir ke negeri-negeri Islam, sesungguhnya merupakan sistem kufur, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Demokrasi sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam, baik secara global maupun particular … oleh karena itu, kaum Muslimin diharamkan secara mutlak untuk mengambil, menerapkan dan menyebarluaskannya.”

Dalam tulisannya, SAID AQIL SIRADJ_pun (sebelum menerima dana dari Barat) menyatakan bahwa Kekhilafahan Islam merupakan hal yang penting bagi eksistensi kaum Muslimin. Beliau mengatakan bahwa “ Al-Imamah (sistem kepemimpinan Islam) merupakan sunnatullah yang mesti (harus) terwujud, baik secara syar’i maupun aqli.

Melalui al-Imamah (khilafah) diharapkan akan menjadi garansi bagi ajaran agama (nilai-nilai moralitas), menjamin regulasi tatanan sosial-politik serta mengatur kepentingan bersama. Karena itulah, dalam bab pertama Kitabnya Al-Mawardi mewajibkan al-Imamah berdasarkan Ijmak (kesepakatan para ulama). Ke-vacum-an suatu masyarakat dari eksistensi al-Imamah bisa jadi preseden yang buruk atas kontinuitas agama maupun kehidupan sosial masyarakat.”

Said Aqil pun secara tegas menolak apabila ada orang yang menggunakan istilah-istilah dalam Kekhilafahan Islam sebagai term bagi sistem lainnya (termasuk Republik Demokrasi).Menurutnya:

“ Dalam kurun empat belas abad itu, dunia Islam dalam satu komando Khalifah, di mana seluruh Khalifah dari trah Quraisy, Konsekuensinya, seluruh kekuasaan di luar struktur dan sistem tersebut tidak berhak memakai term Khilafah, sungguh pun memiliki power yang tidak kecil.
Kekuasaan di bawah khalifah sering disebut ‘sulthonah’,… Kekuasaan kesultanan diikuti pula oleh penguasa Muslim di kawasan Asia Tenggara kala itu; seperti kesultanan Demak, Mataram, Delhi, Tidore, Makassar, Cirebon, Malaka, Brunai dan seterusnya. …. Berbeda dengan sistem Khilafah yang memusatkan kekuasaan pada khalifah, pada sistem Republik tersebut didasari oleh kekuasaan ‘trias-politika’; eksekutif, legislatif dan yudikatif.…… Karena itu, salah besar jika Khalifah disamakan dengan Presiden.

Aunurrofiq entah tidak paham atau pura-pura tidak tau, jika Kyai Wahab Hasbullah tidak melanjutkan memperjuangkan penegakkan sistem kekhilafahan Islam dalam KKI, dikarenakan ada intervensi Wahabi yang dibonceng pemerintahan Ibnu Su’ud atas dukungan Inggris.
Saudi yang pada saat itu menjadi tuan rumah untuk memfasilitasi ulama-ulama dari berbagai dunia Islam, dalam rangka merembuk kembali sistem kekhilafahan Islam yang sudah dihancurkan Inggris, mensyaratkan kepada semua negeri yang hendak menjadi bagian dari Kekhilafahan Islam harus menganut satu madzhab, yakni “Wahabi”. Inilah yang tidak diterima oleh Mbah Wahab dan ulama-ulama Sunni lainnya, sehingga mereka lebih memilih walkout dari berlangsungnya acara.

Kegigihan Mbah Wahab dalam memperjuangkan tegaknya Khilafah justru semakin terlihat ketika beliau membentuk Komite Hijaz. Organisasi ini mencoba mengakomodir negara-negara Islam yang masih mempunyai cita-cita menegakkan sistem Khilafah di tengah-tengah kaum Muslimin,tanpa adanya monopoli madzhab Wahabi.

Hingga akhirnya, ketika kondisi dunia Islam kian makin tak terkendali (khususnya di Indonesia), karena tidak adanya Khalifah, maka dengan sangat terpaksa beliau mengesahkan kepemimpinan Soekarno sebagai presiden RI.

Itulah sebabnya mengapa Ir. Soekarno hanya dikatakan sebagai Waliyyul Amri Addhoruri biSyaukah (Penguasa pemerintahan darurat sebab kekuasaannya). Anehnya, Meski sudah sangat jelas, arti dari kalimat tersebut coba dikaburkan oleh Aunurrofiq, dengan cara membiaskan kata “Addhoruri”_nya.

Seiring dengan berjalanannya waktu, hingga kini kondisi bangsa dan dunia Islam lainnya kian semakin darurat. Darah umat Islam begitu mudah ditumpahkan oleh orang-orang kafir, banyak aturan-aturan Allah yang diabaikan oleh umatnya.

Ternyata dengan adanya Presiden saja tidak cukup bagi terwujudnya kejayaan Islam, tanpa adanya seorang Khalifah yang memimpin. Maka sudah sepatutnya bagi para ulama saat ini untuk memperjuangkan tegaknya kembali sistem Kekhilafahan Islam, karena kondisi umat kini sudah semakin darurat.

Dalil Kaidah Syariah mengenai hal ini adalah :
ﻣﺎ ﻻﻳﺘﻢ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺇﻻ ﺑﻪ ﻓﻬﻮ ﻭﺍﺟﺐ
Artinya: “Jikasuatu kewajiban tidak terlaksana secara sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya”.

Sudah diketahui bahwa terdapat kewajiban-kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan secara sempurna oleh individu, seperti kewajiban melaksanakan hudud, hukuman had bagi pelaku zina, hukuman had bagi pencuri, kewajiban jihad untuk membela umat Islam yang dianiaya, persatuan dan kesatuan umat Islam, dan sebagainya.

Kewajiban-kewajiban tersebut tak dapat dan tak mungkin dilaksanakan secara sempurna oleh individu, apalagi dalam sistem Demokrasi seperti ini, sebab kewajiban-kewajiban tersebut membutuhkan sebuah sistem kekuasaan, yang tiada lain adalah Khilafah Islamiyyah ‘ala Minhajin nubuwwah. Maka kaidah syariah di atas juga merupakan dalil bagi wajibnya membentuk sistem Kekhhilafahan Islam.

Mengenai tidak adanya orang alim (mujtahid mutlak) yang layak untuk diangkat menjadi khalifah saat ini, asumsi tersebut hanyalah sebuah anggapan yang harus dibuktikan. Mengingat dalam setiap abad Allah swt. pasti akan menurunkan seorang alim yang akan memperjuangkan ajaran-ajarannya. Di dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA, sabda Nabi Muhammad SAW:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﻟِﻬَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄُﻣَّﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺃْﺱِ ﻛُﻞِّ ﻣِﺎﺋَﺔِ ﺳَﻨَﺔٍ ﻣَﻦْ ﻳُﺠَﺪِّﺩُ ﻟَﻬَﺎ ﺩِﻳﻨَﻬَﺎ
"Sesungguhnya Allah akan menurunkan (orang) setiap permulaan 100 tahun seseorang kepada Umat yang akan (Tajdid) mengembalikan kegemilangan Agama mereka". (Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud, Hakim di dalam Mustadrak dan al-Baihaqi di dalam al-Ma'rifah).

Jika Allah tidak mempunyai scenario tersebut, maka sudah dari dulu dunia ini kiamat, semenjak wafatnya Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya. Permasalahannya adalah, saat ini masing-masing umat Islam lebih mengedepankan ego Keorganisasiannya.

Boleh jadi seorang ulama dianggap alim oleh satu kelompok, sementara di kelompok yang lain dianggap tidak, begitupun sebaliknya. Itulah sebabnya mengapa hingga kini umat Islam terus terpecah belah bagaikan buih dilautan, tanpa adanya Khalifah yang memimpin. Padahal Allah akan menjadikan mereka bersatu dalam satu sistem Islam jika saja masing-masing menyadari akan pentingnya hal tersebut.

Firman Allah swt. dalam QS. Hud:118:
‘’Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi merekasenantiasa berselisih (pendapat)’’.

Hizbut Tahrir sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan terhadap perbedaan madzhab maupun golongan. Bagi HT orang Alim dari kelompok manapun, apabila ia sudah memenuhi kriteria untuk menjadi Khalifah, maka ia berhak diangkat untuk menjadi Khalifah bagi kaum Muslimin.

Pertanyaannya, maukah kita mengesampingkan ego dan fanatisme golongan demi terwujudnya sistem Kekhilafahan Islam yang akan mempersatukan kaum Muslimin di bawah panji LAAILAAHA ILLAALLAH MUHAMMADUR RASUULULLAH ?

Sumber rujukan:
1. Deliar Noer, mengutip Utusan Nahdlatul Ulama, hal. 243
2. Al-Wa’ie,No. 104 hal. 17-18, tahun 2009.
3. Said Aqil Siradj, Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri, hlm. 66, tahun 1999.
4. Said Aqil Siradj, Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri, hlm. 10, tahun1999.
5. Abdullah Umar Sulaiman AdDumaiji, Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah,(Kairo: t.p), 1987, hlm. 49.

Selasa, 17 Mei 2016

SANKSI BAGI ORANG YANG MENOLAK HUKUM ALLOH

Umar memenggal leher orang yang menolak hukum Allah

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Allah swt berfirman; "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal merekatelah diperintah mengingkari thaghut itu, dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya". QS An- Nisa [4]: 60.

Mengenai sebab turunnya ayat ini, Ibnu Abbas ra berkata: "Ayat ini turun berkenaan dengan laki-laki muslim yang munafik bernama Bisyer. Ia berperkara dengan orang Yahudi. Lalu Yahudi itu berkata: "Mari kita pergi ke Muhammad!", dan orang munafik berkata: "Kita pergi saja ke Ka'ab Ibnu Asyraf!", yaitu orang yang disebut sebagai Thaghut. Lalu laki-laki Yahudi itu menolaknya kecuali pergi ke Rasulullah saw. Lalu Beliau Nabi saw memutuskan perkara dengan memenangkan orang Yahudi.

Dan setelah keduanya keluar dari sisi Nabi saw., maka orang munafik itu memegang tangan orang Yahudi seraya berkata: "Mari kita pergi ke 'Umar !". Lalu keduanya mendatangi Umar ra dan orang yahudi berkata: "Aku telah berperkara dengan orang ini kepada Muhammad. Lalu Muhammad memutuskan hukum dengan mengalahkannya, dan dia tidak rela dengan keputusannya. Dan dia menyangka bisa memperkarakanku kepadamu". Lalu 'Umar ra berkata kepada munafik: "Apa benar seperti itu?". Munafik menjawab: "Ya !". Umar ra berkata kepada mereka: "Tunggu sebentar sampai aku keluar kepadamu!". Lalu Umar masuk kamar mengambil pedang dan keluar menguhunusnya. Lalu Umar memenggal leher munafik sehingga tewas. Umar ra berkata: "Seperti ini aku putuskan hukum terhadap orang yang tidak menerima hukum Allah dan Rasul-Nya !". Lalu turun ayat diatas.

Dan Jibril as berkata: "Sesungguhnya Umar telah memisahkan diantara hak dan batil". Karena itu Umar ra mendapat gelar Al-Faaruuq. Orang munafik itu mengajak berperkara kepada Ka'ab Ibnu Asyraf karena mau menerima suap. Sedangkan Nabi saw. tidak menerimanya. Beliau memutuskan hukum dengan hak, dan pada saat itu hak memihak kepada orang Yahudi.

Pada ayat diatas Ka'ab Ibnu Asyraf dianggap sebagai Thaghut karena memutuskan hukum tidak sesuai dengan hukum Allah swt dan hukum Rasulnya. Dia menerima suap untuk memihak dan memenangkan pihak yang salah dan mengalahkan pihak yang benar. Demi suap, dia membatilkan yang hak dan menghakkan yang batil, juga mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.

Dari kasus diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa inti dari hukum Thaghut adalah kontradiksi dengan hukum Allah swt dan hukum Rasul-Nya, serta membuang hukum keduanya. Dari kronologi sebab turunnya ayat diatas, juga dapat diketahui bahwa orang yang meminta putusan hukum kepada Thaghut adalah orang muslim yang kemunafikannya terungkap oleh Umar ra, atau Allah swt telah menyingkap tabir dari hatinya sehingga ia mampu melihat dengan mata hatinya, atau Umar melihat indikasi munafik pada laki-laki itu, yaitu penolakan terhadap hukum Allah swt dan Rasul-Nya. Sehingga Umar berani memenggal lehernya.

Kasus pembunuhan terhadap orang yang menolak hukum Allah dan Rasul-Nya juga telah terjadi pada periode Kholifah Abu Bakar ra., yaitu terhadap orang-orang yang menolak untuk membayar zakat. Bedanya kasus pembunuhan pada periode Abu Bakar ini terjadi sepeninggal Rasulullah saw., sedangkan yang terjadi diatas ketika Beliau saw masih hidup.

Surat An-Nisa semuanya turun di Madinah. Sedangkan posisi Nabi Muhammad saw disamping sebagai Nabi dan Rasul, juga sebagai Haakim (penguasa / pemerintah) dalam Daulah Nubuwwah di Madinah dan Qaadli (dalam bahasa Indonesia berarti Hakim) yang bertugas memutuskan perkara diantara orang-orang yang berperkara, atau memutuskan hukum diantara orang-orang yang berselisih, seperti kasus munafik dan yahudi diatas. Sedangkan posisi Umar ra adalah sebagai Mu'awin Tafwidl (jabatan setingkat mentri) dan sebagai anggota Majlis Ummat (lembaga setingkat DPR / MPR).

Negara dalam mengatasi berbagai kasus perselisihan dan persengketaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat memerlukan seperangkat hukum dan sistem yang sempurna yang datang dari Zat Yang Maha Sempurna. Karena hanya dengan kriteria hukum dan sistem seperti inilah keadilan dan kedamaian di tengah- tengah masyarakat sebagai warga negara dapat terpenuhi.

Islam adalah agama yang paripurna dimana semua hukum dan sistemnya juga sudah paripurna yang tidak dapat dikurangi dan tidak pula dapat ditambahi. Hukum dan sistem Islam sudah tidak membutuhkan hukum dan sistem lain dari luar Islam.

Memasukan hukum dan sistem dari luar Islam ke dalam Islam ini sama halnya dengan menuduh Islam sebagai agama yang belum sempurna sehingga harus disempurnakan dengan hukum dan sistem dari agama lain termasuk dengan hukum dan sistem Thaghut. Keyakinan serta perilaku seperti ini adalah keyakinan serta perilaku orang munafik yang harus dipenggal lehernya.

Mengenai kesempurnaan agama Islam Allah swt berfirman; "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian". QS Al-Maaidah [5]: 3.

Dan Rasulullah saw bersabda;
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓَﺮَﺽَ ﺍﻟْﻔَﺮَﺍﺋِﺾَ ﻓَﻠَﺎ ﺗُﻀَﻴِﻌُﻮْﻫَﺎ ﻭَﺣَﺪَّ ﺣُﺪُﻭْﺩًﺍ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺪُﻭْﻫَﺎ ﻭَﺣَﺮَّﻡَ ﺃَﺷْﻴَﺎﺀَ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻨْﺘَﻬِﻜُﻮْﻫَﺎ ﻭَﺳَﻜَﺖَ ﻋَﻦْ ﺃَﺷْﻴَﺎﺀَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟَﻜُﻢْ ﻏَﻴْﺮَ ﻧِﺴْﻴَﺎﻥٍ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺒْﺤَﺜُﻮْﺍ ﻋَﻨْﻬَﺎ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻗﻄﻨﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺛﻌﻠﺒﺔ ﺍﻟﺨﺸﻨﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ
"Sesungguhnya Allah swt telah memfardhukan (mewajibkan) beberapa kefardhuan, maka kalian jangan menyia-nyiakannya. Telah menentukan beberapa ketentuan, maka kalian jangan melampoinya. Telah mengharamkan segala sesuatu, maka kalian jangan menerjangnya. Dan telah diam (tidak menjelaskan setatus hukumnya) dari segala sesuatu, karena sayang kepada kalian, tidak karena lupa, maka kalian jangan membahasnya (mencari-carinya)". HR Daroquthniy dll dari Abi Tsa'labah Al-Khusyaniy ra..

Jadi ketika ada seseorang yang mengganti, mengurangi, dan menambahi hukum dan sistem Allah dan Rasul-Nya yang telah ditentukan batas-batasnya, maka dia adalah Thaghut, seperti halnya Ka'ab Ibnu Asyraf. Sedangkan orang yang meminta penyelesaian hukum perkara kepadanya adalah penyembah dan pengikut Thaghut, seperti halnya laki-laki munafik yang kepalanya dipenggal oleh Umar ra. Karena secara harfiyah thaghut itu berasal dari kata thughyan dari fi'il maadli thaghaa yang berarti melampoi batas atau perbuatan zalim, yakni menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Tersebut adalah kritik tajam dan pedas kepada saudara-saudaraku sesama muslim yang mengklaim paling ASWAJA. Sudahkah mereka terlepas diri dari mengimani dan menyembah Thaghut? Atau justru merekalah Thaghut itu sendiri. Sesungguhnya Thaghut serta doktrin Thaghut itu sangat kontradiksi dengan ASWAJA serta doktrin ASWAJA.

Wallahu a'lamu bishshawwaab

TUGAS KHALIFAH YANG SYAR'IY

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

SESUNGGUHNYA Manusia anak Bapak Adam dan Ibu Hawa semuanya adalah Khalifah. Hanya saja mereka berkewajiban memilih dan mengangkat hanya seorang pemimpin tunggal saja yang akan menyatukan mereka semuanya. 

Ini berdasarkan firman Alloh, إني جاعل في الأرض خليفة "Innie jaa'ilun fil ardli khaliefah/Sesungguhnya Aku menjadikan di bumi khalifah". (TQS Albaqoroh ayat 30). Maka Bapak Adam adalah khalifah tunggal pertama yang memimpin istri dan anak-anaknya. Dan tentu telah memiliki wilayah kekuasaan, yaitu dunia seluruhnya.

Tugas khalifah adalah mengatur bumi yg berisi manusia sebagai anak-cucu Adam dan Hawa dgn hukum-hukum Alloh Pencipta dan Pemilik bumi seisinya ini, krn definisi khalifah untuk saat itu dan merupakan definisi perdana, adalah "wakil Alloh" untuk mengatur bumi-Nya, dan ketika itu pula belum ada hukum-hukum produk hawa nafsu manusia seperti di alam demokrasi saat ini.

Kemudian pasca Adam, definisi khalifah berkembang menjadi, "Penganti pemimpin sebelumnya", dalam mengatur bumi Alloh dgn hukum-hukum-Nya ... ... ...

Kemudian setelah dunia penuh manusia dan hampir seabad lamanya kaum muslimin tdk memiliki khalifah, maka definisinya harus beradaptasi sehingga menjadi "Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di seluruh dunia" yang memimpin mereka dgn hukum-hukum Alloh Swt.

Jadi dilihat dari definisi manapun, menerapkan hukum-hukum Alloh adalah tugas utama khalifah. Dan dlm hal ini Alloh berfirman: "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan hukum ( suatu perkara) di antara manusia dengan adil (dgn hukum Alloh) dan janganlah kamu mengikuti (hukum produk) hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". (TQS Shaad [38]:26). 

Dan Rosululloh SAW pun diperintah agar memutuskan perkara diantara manusia dgn hukum Alloh SWT. Alloh berfirman:

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dgn meninggalkan kebenaran yg telah datang kepadamu". (TQS Almaidah ayat 48).

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu". (TQS Almaidah ayat 49).

Perintah Alloh kepada Rosul-Nya agar berhukum dgn hukum-hukum-Nya, juga adalah perintah kpd umatnya. Dan termasuk umatnya adalah para khalifah sepanjang masa kekhilafahan.

DEMOKRASI MENERAPKAN HUKUM PRODUK HAWA NAFSU DEWAN LEGISLATIF

Berbeda dgn para khalifah dalam sistem khilafah, para pemimpin dlm sistem demokrasi adalah kebalikan dari para khalifah dlm sistem khilafah. Mereka memutuskan perkara dgn hukum produk hawa nafsu manusia pengkhianat hukum Alloh yg bernama dewan terhormat legislatif. Para Nabi dan Rosul saja berkewajiban menerapkan hukum Alloh, juga dewan terhormat dan tertinggi dari para khalifah masih berjuang dan bersungguh-sungguh dlm menjaga kewajiban itu, lalu dewan pengkhianat legislatif demokrasi sangat beraninya membuang hukum Alloh dan menggantinya dgn hukum hawa nafsu wudel bodongnya sendiri. Apakah mereka merasa lebih terhormat dan lebih tinggi derajatnya di atas para nabi, para rosul dan para khalifah?

Fakta dari pekerjaan dewan legislatif demokrasi yg membuang hukum Alloh dan menggantinya dgn hukum produk hawa nafsunya sendiri, adalah menunjukkan bahwa mereka telah berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan-tuhan kerdil pesaing Tuhan Yang Mahabesar Pencipta alam semesta Alloh SWT. Sungguh keterlaluan. Dan sama keterlaluannya, orang-orang yang masih mau memilih dan mengangkat mereka sebagai wakil dan pemimpinnya.

YANG TIDAK BERHUKUM DGN HUKUM ALLAH ADALAH ORANG-ORANG KAFIR, ZALIM ATAU FASIK, TIDAK ADA YANG KEEMPATNYA

Bacalah QS Almaidah ayat 44, 45 dan 47.

MASIH MAUKAH ANDA SEKALIAN DIPIMPIN OLEH ORANG-ORANG KAFIR, ZALIM ATAU FASIK?!

DEMOKRASILAH YANG TELAH MENJADIKAN MEREKA KAFIR, ZALIM DAN FASIK

Karena itu, tinggalkan demokrasi sekarang juga!

DAN BERGABUNGLAH DENGAN JUTAAN PARA PEJUANG SYARIAH DAN KHILAFAH

Anda setuju, tinggalkan jejak, dan sebarluaskan!

LAGI-LAGI PANCASILA ~ Abulwafa Romli

Senin, 16 Mei 2016

SYARIAH DAN KHILAFAH BUKAN ANCAMAN

SYARIAH DAN KHILAFAH BUKAN ANCAMAN
07 Apr 2016 in Fokus (Al Waie), Topik Utama

Sejumlah kasus terorisme, terutama di negeri ini, selalu dikaitkan dengan isu penegakan syariah dan Khilafah. Contohnya adalah beberapa kasus bom di Indonesia yang dilakukan oleh para alumnus Perang Afganistan. Ada juga isu Islamic State (IS/ISIS) di Suriah yang menampilkan “wajah” Khilafah dalam raut palsu yang menakutkan, cenderung meneror dan meresahkan masyarakat ketimbang membuat rasa nyaman dan membawa rahmat bagi semesta alam. Yang terbaru adalah peristiwa Bom Thamrin. Peristiwa ini membawa babak baru upaya teror yang terkesan kian berani dan terbuka. Semuanya makin menjustifikasi tuduhan bahwa syariah dan Khilafah adalah ancaman.

Di sisi lain, ada transendensi politik di negeri ini yang diperlihatkan oleh partai politik Islam nonparlemen, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI adalah marja’ (rujukan) dalam perjuangan penegakan syariah dan Khilafah di Indonesia. HTI tampak memiliki daya tarik tersendiri bagi umat Islam. Ribuan umat Islam pernah tumpah-ruah dalam berbagai event politik yang diselenggarakan oleh HTI. Yang paling fenomenal, HTI berhasil menyelenggarakan dua kali perhelatan akbar di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, yang notabene merupakan stadion terbesar di Asia Tenggara. Melihat jumlah massa yang hadir saat itu mencapai ratusan ribu, dengan mengusung ide penegakan syariah dan Khilafah, sangat wajar jika kemudian syariah dan Khilafah dianggap oleh sebagian pihak sebagai ancaman terhadap demokrasi. Pasalnya, dalam pandangan mereka, syariah dan Khilafah tidak kompatibel dengan realitas politik negara-bangsa dengan sistem demokrasi sebagai pilarnya.

RAHMAT, BUKAN ANCAMAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mengancam bermakna menyatakan maksud (niat, rencana) untuk melakukan sesuatu yang merugikan, menyulitkan, menyusahkan atau mencelakakan pihak lain. Bisa kita bayangkan jika pemaknaan “mengancam” ini disematkan pada gagasan penegakkan syariah dan Khilafah. Padahal penegakan syariah dan Khilafah adalah kewajiban yang diperintahkan langsung oleh Al-Khâliq al-Mudabbir di dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Bagaimana mungkin penegakan Khilafah—sebagai institusi penerap syariah secara kâffah yang bisa mendatangkan kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh umat manusia—dikatakan merugikan, menyulitkan, menyusahkan atau mencelakakan pihak lain?
Jelas ini adalah pernyataan ngawur dan mengada-ada serta menantang perintah Allah SWT.

Pertanyaannya: Siapa sebenarnya yang dirugikan dengan penegakan syariah dan Khilafah? Siapa yang menjadi sulit dan susah kehidupannya jika Islam kâffah tegak di Indonesia yang mayoritas Muslim ini? Siapa pula yang akan celaka jika hukum-hukum Allah SWT ditegakkan? Tentu mustahil jika jawabannya adalah umat Islam, bahkan non-Muslim sekalipun. Pasalnya, penerapan syariah dalam institusi Khilafah adalah rahmat bagi alam semesta. Jadi, siapa lagi yang merasa terancam kalau bukan kaum kafir Barat, pihak-pihak yang anti Islam serta kaum oportunis yang takut terusik dan kehilangan bagian keuntungan dalam sistem Kapitalisme yang rusak ini.

Tudingan bahwa syariah dan Khilafah adalah ancaman muncul seiring dengan runtuhnya sistem kufur—sekularisme, demokrasi, kapitalisme, neoimperialisme dan neoliberalisme—di tengah-tengah masyarakat. Alih-alih mampu menyejahterakan masyarakat, sistem kufur tersebut malah makin menambah keterpurukan dan kerusakan.

Bagi musuh-musuh Islam, gerakan penegakan syariah dan Khilafah ini dapat digolongkan sebagai resistansi global terhadap sistem yang ada. Namun, tuduhan ini tidak relevan jika dikaitkan dengan fakta bahwa syariah dan Khilafah belum pernah tegak di negeri ini pasca Indonesia memproklamirkan dirinya sebagai entitas bangsa yang merdeka. Lalu bentuk ancaman seperti apa yang dapat dirasakan, sementara implementasi syariahnya sendiri belum pernah ada?

Di sisi lain, sejarah justru mencatat kondisi sebaliknya. Alih-alih mengancam, penerapan syariah dan Khilafah selama kurang lebih tiga belas abad lamanya justru telah mengantarkan umat Islam dalam kehidupan yang aman, sejahtera dan penuh berkah. Sebaliknya, ancaman justru muncul dari Kapitalisme global pasca runtuhnya Khilafah sejak tahun 1924.

ISLAM RAHMATAN LIL 'ALAMIN

Bagi kaum Muslim yang hidup pasca Khilafah Islamiyah hancur di Turki tahun 1924, ide-ide Barat seperti sekularisme, demokrasi dan pluralisme telah mereka terima lebih dulu sebagai kebenaran absolut secara taken for granted. Ide-ide Barat itu lalu dijadikan standar untuk menilai dan menghakimi ajaran Islam. Jika suatu ajaran Islam cocok dengan nilai-nilai peradaban Barat, bolehlah diamalkan. Namun, jika tidak cocok, ajaran Islam itu wajib diubah, diadaptasi, dimodifikasi dan bahkan dihancurkan agar sesuai dengan nilai-nilai peradaban Barat (William Montgomery Watt, Fundamentalisme Islam dan Modernitas, 1997:147-256).

Apa yang disampaikan William Montgomery Watt sangat tepat. Dengan kasatmata kita dapat menyaksikan adanya upaya dari para pembenci Islam untuk menjauhkan makna hakiki istilah-istiah dalam Islam. Yang paling sering “dibajak” adalah istilah “Islam rahmatan lil ‘alamin” .
Islam rahmatan lil ‘alamin sejatinya bermakna bahwa dengan penerapan syariahnya secara kâffah akan lahir Islam yang membawa rahmat bagi alam semesta. Pengertiannya telah diseret ke arah paradigma liberal seperti anti kekerasan ( jihad fi sabilillah ), terbuka terhadap siapapun (inklusif), tidak memaksakan pendapat, tidak mengklaim yang paling benar, dll Sebagai contoh, dalam beberapa kesempatan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selalu mengatakan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin , yakni Islam itu toleran, cinta damai dan menolak kekerasan. Pernyataan tersebut muncul seiring dengan maraknya pengikut ISIS di Indonesia sebagai gerakan yang mengusung penegakan Khilafah dengan cara kekerasan.

Pernyataan Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai Islam anti kekerasan telah diarahkan pada pengertian implisit bahwa Islam anti jihad fi sabilillah . Pernyataan ini merupakan counter terhadap klaim aktivitas jihad fi sabilillah yang diartikulasikan oleh sebagian gerakan Islam dalam bentuk aksi pengeboman seperti kasus Bom Thamrin dan aksi-aksi sejenis. Pernyataan ini tidak lebih dari sekadar defensive apologetic ; bermaksud membela atau meluruskan makna jihad, tetapi malah mereduksi makna jihad yang sebenarnya dikenal dalam Islam namun keliru dalam implementasinya.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa (Garda Bangsa) M Hanif Dhakiri. Dia menegaskan bahwa pada dasarnya Islam adalah dien wal ummah , religion and nation (agama dan bangsa); bukan dien wal daulah , religion and state (agama dan negara). Dengan begitu, kata dia, politik Islam semestinya tidak berkepenti-ngan dengan Negara Islam, melainkan kebaikan masyarakat secara keseluruhan ( rahmatan lil ‘alamin ) yang pasti moderat, toleran, anti-kekerasan dan menolak ide negara Islam.

Pentolan Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdala, juga sering “memaksakan” pendapat-pendapatnya yang menyimpang dalam menafsirkan Islam rahmatan lil ‘alamin . Kata dia, Islam rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang tidak memaksakan pendapat, tidak saling membenci, tidak saling memusuhi dan tidak mengklaim diri yang paling benar. Menurut dia, berbeda paham tidak harus saling benci sebagaimana tindakan kepada Syiah dan aliran-aliran sesat yang menurut dia harus diakui sebagai bagian dari umat Islam.

Memang, dalam Islam kita tidak boleh memaksakan pendapat, tidak diperkenankan mengklaim diri yang paling benar, apalagi dalam perkara-perkara yang memang boleh beda ( furû’ ). Namun, jangan lupa bahwa Islam begitu tegas terhadap perkara yang memang mengharuskan kita untuk sama dalam bersikap seperti persatuan umat Islam, kewajiban penerapan syariah dan penegakkan Khilafah, dll.

Islam juga mengajarkan kepada kita untuk tidak saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain, bahkan bukan hanya pada sesama Muslim, tetapi juga non-Muslim. Namun ingat, bahwa rasa suka, rasa benci, semuanya harus dalam perspektif hukum syariah. Terhadap kemungkaran dan kemaksiatan yang ada di masyarakat maka jelas kita harus benci, tidak ridha dan berusaha mencegahnya. Demikian pula sebaliknya.

Karena itu interpretasi makna Islam rahmatan lil ‘alamin seperti di atas telah keluar dari hakikat yang sebenarnya. Pemaknaan yang keliru ini justru menampilkan Islam sebagai agama yang jauh dari kesan rahmat bagi alam semesta.

UPAYA MEMECAH-BELAH UMAT

Perjuangan penegakan syariah dan Khilafah kian mendapat tempat di hati masyarakat. Opini syariah dan Khilafah tidak hanya berkembang di wilayah perkotaan, namun juga pedesaan. Dukungan dari masyarakat yang semakin pesat ini mengakibatkan para musuh Islam kebakaran jenggot. Berbagai upaya memecah-belah umat pun terus ditebar musuh-musuh Islam untuk membendung kesatuan umat ini.

Sebagai contoh, muncullah pemetaan kaum Muslim menjadi Muslim radikal (garis keras) dan Muslim moderat. Kelompok radikal (garis keras) adalah kaum Muslim yang memperjuangkan syariah Islam. Muslim moderat adalah kaum Muslim yang menggemborkan ide kebebasan berpendapat, beragama, berperilaku maupun kebebasan kepemilikan. Muncul pula istilah lain seperti Islam struktural vs kultural, Islam formalis vs substansialis, dan istilah-istilah lain yang memecah-belah umat Islam. Kelompok Islam yang mendukung ide Barat seperti demokrasi, HAM, pluralisme disebut moderat. Adapun yang menolak disebut radikal atau fundamentalis. Yang ingin menegakkan syariah Islam secara menyeluruh lewat negara disebut formalis. Yang menolak syariah Islam dengan cukup menerima ide-ide moralitasnya saja disebut substansialis. Dengan pemetaan ini, opini buruk perjuangan syariah Islam diharapkan merasuk ke pemikiran masyarakat.

Direktur Eksekutif Global Future Institute , Hendrajit, mengatakan bahwa Barat telah memetakan kelompok Islam dengan tujuan untuk memecah-belah umat Islam. Mereka menebar strategi sarang laba-laba dengan memetakan, mengkotak-kotakan dan memecah-belah kelompok Islam serta merencanakan konflik internal di kalangan umat Islam.

Menurut Hendrajit, komunitas internasional membagi Islam menjadi empat kelompok, yaitu fundamentalis, tradisionalis, modernis dan kelompok sekular.

Pertama: Fundamentalis, yaitu kelompok masyarakat Islam yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer serta menyiapkan formalisasi penerapan syariah Islam.

Kedua: Tradisionalis, yaitu kelompok masyarakat konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan. Mereka berpegang pada substansi syariah Islam tanpa peduli formalitas diri.

Ketiga: Modernis, yaitu kelompok masyarakat Islam yang modern yang ingin mereformasi Islam sesuai dengan tuntutan zaman. Keempat: Sekularis, yaitu kelompok Islam yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan privat dan dipisah sama sekali dengan urusan negara atau politik.

Selain itu Barat juga telah menyusun cara dan strategi untuk menyudutkan kaum fundamentalis yang ingin menegakkan syariah Islam sebagai berikut:

1. Menyimpangkan tafsir al-Quran, seperti mengharamkan poligami dalam satu sisi, namun menghalalkan perkawinan sejenis di sisi lain.

2. Mengulang-ulang tayangan yang menampilkan umat Islam yang mengandung kekerasan di televisi, sedangkan kegiatan-kegiatan konstruktif tidak ditayangkan.

3. Mengeroyok dan menyerang argumen narasumber fundamentalis di media dengan format dialog 3 lawan 1.

4. Mempidana para aktivis Islam dengan tuduhan teroris.

5. Mendorong kaum tradisionalis untuk melawan kaum fundamentalis. Di kalangan kaum tradisionalis ortodoks banyak elemen pro-demokrasi yang bisa digunakan untuk meng- counter Islam fundamentalis.

6. Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimesme kaum fundamentalis.

7. Memperlebar perbedaan antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.

8. Mencegah aliansi kontradiksi kaum fundamentalis.

9. Mendorong kerjasama agar kaum tradisionalis lebih dekat dengan kaum modernis. Lalu memungkinkan kaum tradisionalis dididik untuk mempersiapkan diri agar mampu berdebat dengan kaum fundamentalis. Ini karena kaum fundamentalis secara retorika dianggap lebih unggul.

BERBAHAYA

Sungguh akan tampak bahaya dari penyimpangan makna Islam rahmatan lil ‘alamin tersebut, diantaranya:

1. Menjauhkan umat Islam dari Islam yang sesungguhnya.
Gambaran Islam sebagai agama yang sempurna menjadi lenyap ketika Islam hanya ditampilkan sebagai agama yang mengatur urusan-urusan yang berhubungan dengan ibadah ritual semata yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, sementara untuk urusan muamalah (ekonomi, pendidikan, pergaulan, pemerintahan, dll) Islam tidak tampil. Alhasil, tampaklah Islam sebagai agama yang sama sekali tidak memiliki peran sebagai problem solver terhadap problematika kehidupan yang ada di dunia. Padahal Islam mampu menyelesaikan semua problemyang ada di tengah masyarakat.

2. Memecah-belah umat Islam.
Pemetaan umat Islam menjadi radikal vs moderat, damai vs kekerasaan, global vs lokal, dll sungguh telah menyebabkan tumbuh sikap saling curiga, saling menuduh bahkan saling menyerang satu sama lain di kalangan umat Islam atas satu isu tertentu. Amar makruf nahi mungkar dari satu kelompok kepada kelompok lain dianggap sebagai sentimen gerakan, bukan lagi dianggap sebagai nasihat dan perwujudan kasih-sayang saudara sesama Muslim agar terhindar dari kemaksiatan. Perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah dianggap sebagai tidak realistis dan tak jarang dimusuhi karena dianggap menghalangi dan menghambat perjuangan kelompok lain ketimbang bersinergi.

3. Menjauhkan umat Islam dari persatuan global.
Banyak kalangan yang merindukan perwujudan persatuan umat Islam di seluruh dunia dalam rangka membangun kekuatan agar mereka tidak terus-menerus menjadi objek kezaliman Kapitalisme global. Namun, tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang justru menghindari pembahasan wadah yang akan mempersatukan umat Islam itu sendiri, yakni Khilafah Islamiyah. Padahal Khilafahlah institusi yang akan mempersatukan umat Islam, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Karena itu umat sejatinya bersatu dan menjadikan penegakan Khilafah sebagai agenda bersama. Disisi lain umat juga mesti menyadari bahwa mereka tidak boleh berselisih satu sama lain karena sesungguhnya mereka memiliki musuh bersama ( common enemy ), yakni kekufuran.

4. Mengokohkan Kapitalisme.
Penyimpangan makna Islam rahmatan lil ‘alamin juga telah menjadikan Kapitalisme kian kokoh dan seolah terus menjadi pahlawan dan penyelamat bumi. Paradigma liberal seperti moderat, inklusif, damai, terbuka, dialog antaragama, mengakomodasi budaya, dll; semuanya adalah proyek-proyek kapitalis yang bermaksud semakin menyudutkan umat Islam dan mengokohkan ideologinya.

KAPITALISME: ANCAMAN SEJATI

Tuduhan bahwa syariahdan Khilafah adalah ancaman sesungguhnya bagian dari penyesatan politik dan upaya memalingkan umat dari ancaman sebenarnya. Ideologi Kapitalisme liberal yang diusung oleh Barat inilah yang sejatinya adalah ancaman. Ancaman ini sudah kian nyata, bukan sebatas baru potensi.

Dengan ideologi Kapitalisme liberal yang dipaksakan atas negeri ini, Barat memecah-belah Indonesia. Dengan alasan HAM dan demokrasi, Timor Timur lepas dari Indonesia. Upaya yang sama juga sedang mereka lakukan terhadap Papua.

Dengan penerapan ekonomi liberal di Indonesia saat ini, kekayaan alam kita dirampok oleh negara-negara Barat. Meskipun Indonesia negeri yang kayaraya, rakyatnya hidup menderita. Semua ini dilegalkan dengan UU yang merupakan produk dari sistem politik liberal demokrasi. Lewat UU Migas, UU Kelistrikan, UU Penanaman Modal, negeri ini dirampok dan rakyat dikorbankan. Semua itu dilegalkan melalui sistem demokrasi. Lihatlah bagaimana rakusnya perusahan-perusahaan asing ini. Kontrak karya PT Freeport McMoran yang harusnya selesai 2021, lewat berbagai lobi dan tekanan politik, diperpanjang kembali hingga 2041. Padahal selama ini Pemerintah hanya memiliki 10 persen saham. Tidak hanya itu, sudah tiga tahun dividen dengan total Rp 4,5 triliun tidak dibayar oleh perusahan rakus ini.Ironisnya, melalui Direktur Jenderal Anggaran, Kemenkeu memastikan, dividen Freeport yang diproyeksikan sebesar Rp 1,5 triliun tahun lalu, tidak bisa ditagih. Begitu baiknya penguasa terhadap perusahaan asing. Bandingkan dengan sikap mereka terhadap utang pajak rakyat kecil.

Tidak hanya itu, dengan ideologi liberal yang sekarang ini diterapkan di Indonesia, generasi muda kita terancam. Indikasinya adalah meningkatnya jumlah pemakai narkoba, pelaku seks bebas dan LGBT, pelacuran, aborsi, dan kriminalitas lainnya. Semua ini akibat sistem liberal yang diterapkan di Indonesia.

Walhasil, siapa saja yang mau jujur melihat realitas ini, penerapan syariah dan Khilafah bukanlah ancaman. Syariah dan Khilafahjustru merupakan rahmat bagi alam semesta. Sebaliknya, tak terbantahkan lagi, Kapitalisme telah menjadi ancaman nyata bagi negeri ini sehingga keberadaannya harus segera diakhiri. WalLâhu ‘alam . [Agus Suryana, S.S., M.Pd.; Dosen Telkom University Bandung – Anggota DPP HTI]