Kamis, 28 April 2016

QARUN DAN KEKAYAANNYA

Kisah Qarun dan Kekayaanya Yang Harus Menjadi Pelajaran Bagi Kita Semua

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa (ia anak paman Musa dan beriman dgnnya), maka ia berlaku aniaya terhadap mereka (dgn sombong dan banyaknya harta), dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kuci-kuncinya sangat berat dipikul oleh sejulah orang yang kuat-kuat (dikatakan jumlahnya 10, 40, atau 70 orang). (ingatlah) ketika kaumnya (yang beriman dari Bani Israel) berkata kepadanya; "Janganlah kamu terlalu bangga (dgn banyaknya harta); sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS Alqashash ayat 76).

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat (dgn menginfakkannya dlm ketaatan kpd Allah), dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain dgn bersedekah) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi (dgn mengerjakan berbagai maksiat). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (dgn arti Allah akan mengazab mereka)". (QS Alqashash ayat 77).

"Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku (ia adalah lebih alimnya Bani Israel dgn kitab Taurat setelah Musa dan Harun)". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanyakan kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka (karena Allah Swt telah mengerti, bahwa mereka akan masuk neraka tanpa dihisab)" (QS Alqashash ayat 78 serta Tafsir Aljalalainnya).

JANGAN TERGODA OLEH KEMEWAHAN DUNIA YANG DIMILIKI QARUN

Tema ini sy jadikan peringatan dan bahan renungan bagi kita semua, khususnya para pengemban dakwah yg kadang takjub dan tergoda oleh gemerlapnya kemewahan kehidupan dunia yg dimiliki oleh qarun-qarun kapitalis masa kini. Apalagi menjadi pengikut-pengikut setia dan pelayan-pelayan bagi mereka sehingga melupakan pahala Allah berupa surga di akhirat nanti. Perhatikan dan renungi firman Allah berikut:

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (QS Alqashash ayat 79).

Qarun keluar dalam satu iring-iringan yang lengkap dgn pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untk memperlihatkan kemegahannya kpd kaumnya. Dikisahkan bhw Qarun keluar pada hari Sabtu dgn pengikutnya yg berjumlah empat ribu, dikatakan sembilan puluh ribu, dgn berpakaian serba kuning. Di sebelah kanannya ada tiga ratus budak laki-laki, di sebelah kirinya ada tiga ratus budak perempuan yg putih-putih, mereka mengenakan perhiasan dan sutra tebal. Kuda-kuda dan keledai-keledai mereka dihias dgn sutra tebal merah. Sedang keledai Qarun berwarna kelabu agak putih dihias dgn emas dan selempang kain merah.

Orang-orang mukmin yg mahjub yg menghendaki kehidupan dunia, bisa saja mereka adalah para pengemban dakwah bersama Musa As, berkata, "Moga2 kiranya kita mempunyai seperti apa yg diberikan kpd Qarun. Sesungguhnya ia mempunyai keberuntungan yg besar". Mereka takjub dan tergoda oleh kemewahan dan kemegahan yg dimiliki Qarun.

Selanjutnya Allah Swt berfirman; "Dan berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu (kpd orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia), "Kecelakaan yg besar bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar". (QS Alqashash ayat 80).

Inilah sikap dan perasaan orang-orang yg diberi ilmu tentang pahala berupa surga yg telah dijanjikan oleh Allah Swt di akhirat nanti. Sikap dan perasaan ini sangat layak  dimiliki oleh para pengemban dakwah kpd syariah dan khilafah. Para pengemban dakwah harus memiliki sikap dan perasaan benci terhadap budak-budak dunia meskipun juga dari teman sesama pengemban dakwah sendiri, dan sikap serta perasaan suka dan cinta kpd pahala Allah berupa surga yg telah dijanjikan untuk orang-orang beriman dan beramal shaleh. Kuncinya adalah, dalam urusan kehidupan dunia, lihatlan orang2 yg berada di bawahnya agar bisa bersyukur; sedang dalam urusan ilmu dan ibadah, iman dan amal shaleh, maka harus melihat orang2 yg di atasnya agar tambah semangat.

Wallahu a'lam...

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

JURUS AMPUH MENGALAHKAN SYETAN

SETAN JUGA BISA KALAH DENGAN PEMIKIRAN

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Perhatikan sabda agung dari Yang Maha Agung :
60. Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian hai Bani Adam supaya kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.
61. Dan hendaklah kalian menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
62. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar diantara kalian. Maka apakah kalian tidak memikirkan?
(TQS Yaasiin [36] ayat 60 - 62)

"Maka apakah kalian tidak memikirkan?". Inilah pertanyaan (istifham) dari Allah Pemilik sabda agung. Dalam ilmu balaghah atau ilmu ma'aani, pertanyaan dari Allah itu bisa berarti perintah. Artinya, Allah swt telah memerintahkan kepada anak cucu Nabi Adam as agar berpikir untuk mengalahkan setan, atau berpikir agar tidak disesatkan oleh setan. Baik setan dari jenis jin atau dari jenis manusia.

Dan diantara kehebatan Hizbut Tahrir adalah terletak pada kecanggihan metode berpikirnya (bisa dipelajari dari kitab Attafkiir) dan mampu menganalisa secepat kilat (bisa dipelajari dari kitab Sur'atul Badiihah), padahal sulit dilakukan oleh orang orang di luar sana. Sehingga intel-intel Hizbut Tahrir dengan mudah mampu membaca makar intel-intel Amerika dan sekutu. Apalagi intel-intel Hizbut Tahrir di seluruh dunia bersatu padu menggali dan menyampaikan informasi dari belahan dan sudut dunia manapun. Tidak ada sombong pada kesaksian ini.

Maksudnya, syetan itu bisa kalah oleh pemikiran dari orang alim yang suka berpikir, maksudnya oleh ulama yang ideologis. 

----------------------------

Mari kita simak FAKTANYA!
Oleh : Syamsul Arifin

1. Syeikh Taqiyyudin sudah menjelaskan dalam Kitab Takatul Hizby, bahwa yang meruntuhkan Khilafah tahun 1924 adalah karena lemahnya pemahaman kaum Muslim. Dan itu …. | Pemikiran.
2. Banyak gerakkan dakwah dari gerakan bersenjata, sosial, pendidikan, ahlak, dan lainnya yang sudah mencoba menegakkan Khilafah namun gagal. Itu karena lemahnya … | Pemikiran.
3. Khilafah Utsmaniy, dikalahkan bukan karena lemahnya tentara atau kurangnya persenjataan. Tapi, karena … | Pemikiran.
4. Tentara Khilafah Utsmaniy sangat kuat dan disegani, bahkan dikatakan takkan terkalahkan, namun Khilafah jatuh karena lemahnya bahasa Arab, berhentinya kaum muslim dari aktifitas ijtihad. Dan itu … | Pemikiran.
5. Ratusan tahun Barat mencari kelemahan kaum Muslim, perang demi perang, puluhan kali perang salib, Khilafah tidak bisa dikalahkan. Namun akhirnya jatuh karena lemahnya kaum Muslim akan …. | Pemikiran.
6. Barat mengetahui bahwa cara terbaik mengalahkan Khilafah bukan dengan peperangan fisik, tapi dengan …. | Pemikiran.
7. Mereka berpikir keras untuk meruntuhkan Khilafah, ratusan tahun akhirnya ditemukan bahwa cara yang paling ampuh adalah dengan menjauhkan Alquran dari dada kaum Muslim. Dan itu … | Pemikiran.
8. Kaum Muslim dilemahkan dari sisi pemahaman tentang Islam, diberikan pemahaman Asing. Itu … | Pemikiran.
9. Oleh sebab itu, kaum Muslim sebelum dipecah-belah menjadi beberapa bagian Negara kecil seperti sekarang, mereka dicekoki pemahaman asing seperti nasionalisme. Dan itu … | Pemikiran.
10. Arab meminta lepas dari Turki Utsmaniy, Turki memerdekakan diri oleh Kamal At-Tarturk dan menjadi Negara sekuler. Itu karena … | Pemikiran.
11. Sebelumnya, didirikan sekolah Orientalis, kaum orientalis disebar ke seluruh penjuru dunia Islam dan bertujuan untuk melemahkan Kaum muslim dari segi … | Pemikiran.
12. Dari pemahaman yang rancu tentang Islam, lemahnya pemikiran akhirnya mereka mengadopsi hukum-hukum Barat. Dan itu karena lemahnya … | Pemikiran.
13. Kaum Muslim dinistakan seperti sekarang karena mereka lemah akan pemahaman yang benar tentang Islam. Dan itu juga disebabkan oleh … | Pemikiran.
14. Sulitnya (bukan mustahil) perjuangan mengembalikan Daulah Islam juga karena banyak kaum muslim yang tidak bahwa Khilafah / Daulah itu wajib ditegakkan dan meninggalkan hukum-hukum sekarang. Itu juga karena … | Pemikiran.
15. Kaum muslim dicekoki pemahaman asing dari mulai sekolah dasar dengan kurikulum liberal dan sekuler hingga mereka dibentuk menjadi apatis terhadap islam. Itu juga masalah … | Pemikiran.
16. Banyak orang Islam tapi tidak mau menerapkan hukum Islam, tidak sholat, tidak menutup aurat dan lainnya. Juga akibat dari lemahnya … | Pemikiran.
17. Barat merencanakan ini ratusan tahun dan kini bisa terlihat hasilnya. Kaum muslim terbagi 42 negara dan seakan tidak pernah bersatu dahulunya, karena mereka tidak memahami sejarah yang memang sudah diputarbalikkan oleh Barat dan antek. Itu masalah … | Pemikiran.
18. Jika Barat menghancurkan Khilafah, melemahkan pemahaman kaum Muslim, dan men-sekulerkan dan meliberlakan Kaum Muslim dengan pemikiran, bukankah solusinya juga … | Pemikiran.
19. Barat mengetahui senjata tidak akan mempan terhadap Khilafah, begitu juga senjata tidak akan mempan untuk menegakkan Khilafah. Namun yang akan menegakkan adalah … | Pemikiran.
20. Kita lihat sejarah, waktu Rosul dakwah di Makkah, saat belum menjumpai Nushroh. Apa yang beliau dakwahkan? … | Pemikiran.
21. Apa yang ditakutkan oleh kaum Quraisy terhadap Rosul dan Sahabat? Mereka tidak memiliki senjata. Tapi karena mereka membawa … | Pemikiran.
22. Quraisy memahami betul bahwa apa yang dibawa oleh Rosul dan Sahabat akan membuat mereka kalah baik dari sisi jumlah, pengaruh dan … | Pemikiran.
23. Oleh sebab itu, kaum muslim disiksa, dicaci, dihina, diburu, dibunuh oleh Quraisy. Itu bukan karena mereka membawa senjata atau melakukan perlawanan. Tapi karena … | Pemikiran.
24. Kemudian, apa yang dilakukan Mus’ab di Madinah hingga suku Aus dan Khazraj masuk Islam dan siap menjadi Nushroh untuk menyebarkan Islam, dimana ini sebelum Khilafah tegak. Apakah Mus’ab datang dengan senjata? atau… | Pemikiran.
25. Sekarang, Barat juga mengetahui, seberapapun kuatnya kelompok bersenjata, selama pemahaman tentang Islam masih lemah, maka itu sama saja. Dan itu disebabkan … | Pemikiran.
26. Berkaca dari runtuhnya Khilafah Utsmaniy, kurang apa mereka coba? Mereka memiliki tentara superpower, menjadi adidaya. Namun kalah akibat lemahnya … | Pemikiran.
27. Maka, bagi Barat, seberapapun banyak dan kuat kelompok bersenjata mengancam mereka, jika itu bukan oleh Khilafah, maka akan tetap melanggengkan hegemoni Barat di Negara-negara Islam. Afghanistan banyak klan Mujahidin namun Demokrasi masih berjalan. Itu karena masyarakat lemah akan … | Pemikiran.
28. ISIS sudah berjuang keras, namun hanya sebatas beberapa wilayah dari Iraq dan Suriah saja yang dikuasai, sistem Demokrasi masih berjalan disebagian besar wilayah Iraq dan Suriah. Ini karena … | Pemikiran.
29. Dan, yang dimaksud Amerika, Eropa dan Rusia takut dengan Hizbut Tahrir bukanlah takut dalam arti Hizb sebagai gerakan tanpa senjata. Tapi kareana … | Pemikiran.
30. Oleh sebab itu, di Amerika, Eropa dan Rusia banyak syabab yang ditangkap dan dipenjara bukan karena membawa senjata. Mereka takut dengan apa yang dibawa Hizb, yaitu … | Pemikiran.
31. Mereka sadar betul dengan apa yang dibawa Hizb akan menyatukan seluruh negeri-negeri Muslim dan Khilafah akan tegak. Ini yang mereka takutkan. Bukan Hizb sendiri tapi apa yang diemban. Itu … | Pemikiran.
32. Mereka mengetahui bahwa ideology Islam yang menyadarkan seluruh muslim bersatu. Ketika bersatu, sudah pasti Khilafah tegak. Itu … | Pemikiran.
33. Mereka mengetahui jika umat Islam sadar akan kekuatan agama dan ideology Islam akan bisa menyatukan kaum Muslim dan mampu menegakkan Khilafah. Dan itu juga … | Pemikiran.
34. Jadi, umat Islam dipecah belah oleh pemikiran maka disatukan kembali juga dengan … | Pemikiran.
35. Oleh sebab itu, jika ingin memahami fakta tentang konstalasi politik dalam dan luar negeri, harus dengan jeli dan harus dengan kecermelangan dan kejernihan … | Pemikiran.
36. Bukan dengan semangat saja, melihat darah dan senjata menjadi wah. Dan bukan begitu cara memahami alur peta politik luar negeri. Harus dengan mendalamnya pemahaman tentang fakta. Itu juga … | Pemikiran.
37. Itulah yang dikatakan sebagai politikus muslim yang ulung dan negarawan yang handal. Sebab dengan … | Pemikiran.
38. Itupula yang menyebabkan Hizbut Tahrir tidak bisa dipidanakan dengan alasan kekerasan atau sabotase dan teroris. Karena apa yang dibawah Hizb adalah … | Pemikiran.
39. Ingat, satu peluru menembus paling banyak dua kepala dengan Magnum Sniper Rifle Kaliber 7.62×51 mm NATO. Namun, dengan Dakwah memahamkan kaum muslim, satu ide, jutaan kepala bisa dirubah, itu terbukti dengan jumlah Hizb yang berkembang pesat. Itu juga … | Pemikiran.
40. Apa yang dibawa Rosul tentang Islam juga … | Pemikiran.
41. Bahkan, Dakwah adalah … | Pemikiran.
42. Jihad juga untuk menyebarkan … | Pemikiran.
43. Semua bersimpul dari … | Pemikiran.
44. Jadi, jangan hina dakwah yang mengedepankan persatuan kaum Muslim dengan tegakknya Khilafah melalui … | Pemikiran.
45. Maka, Khilafah akan tegak sebagaimana janji Rosul bahwa Khilafah yang kedua adalah sama persis seperti Khilafah yang pertama, dari mulai permulaan, perjuangan, penyebaran dan penerapan. Itu semua adalah … | Pemikiran.

-------------------

@KhilafahAjaranIslam

Anda setuju tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

HIZBUT TAHRIR SANGAT MENDEWAKAN AKAL?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Kelompok Salafi-Wahabi kontra dakwah penegakkan khilafah rosyidah dengan dukungan kaum Aswaja-sekular terus melemparkan tuduhan miring terhadap HT (Hizbut Tahrir) sebagai kelompok yang sangat mendewakan/ mengagungkan akal (tamjiedul-aqli), artinya HT lebih mengutamakan akal (akal-akalan) dari pada nash (dalil Alqur'an dan Assunnah). Dan karenanya, HT dituduh Muktazilah yang katanya sangat mendewakan akal.

Sesungguhnya mereka sama sekali tdk memahami (atau pura2 tdk paham) perbedaan antara mendewakan akal untuk membuang nash sebagai karakter Muktazilah (kalau ini benar) dan antara menggunakan akal secara maksimal untuk memahami nash sebagai karakter Ulul-Albaab (orang2 yg mempunyai akal cemerlang), dan yg ini juga menjadi karakter HT. Karena semua pendapat dan pemikiran yg ditabanni oleh HT, semuanya bersandar kpd nash-nash syara', dan tdk ada satupun yg akal-akalan membuang nash.

MENGENAL KARAKTER ULUL ALBAB

Allah swt berfirman:
"Dan orang-orang yg menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kpd Allah, bagi mrk berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkatan lalu mengikuti apa yg paling baik di antaranya. Mrk itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mrk itulah ulul albab/ orang-orang yang mempunyai akal cemerlang". (TQS 39:17-18).

Maka Ulul Albab ialah:
1- orang-orang yang menjauhi thaghut (syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah swt).
2- orang-orang yang kembali (beribadah) kepada Allah swt.
3- orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yg paling baik. Mereka mendengarkan perkataan yg baik dan yg buruk lalu berbicara dgn yg baik dan diam dari yg buruk, mendengarkan Alqur'an dan yang lainnya lalu mengikuti Alqur'an, mendengarkn Alqur'an dan hadits-hadis Rasulullah saw lalu mengikuti dan mengamalkan yang muhkam dan meninggalkn yang mutasyabih serta menyerahkn ilmunya kepada Allah swt, dan mendengarkn 'aziemah (kewajiban/yang lebih hati-hati) dan rukhshah (yg murah-murah) lalu mengikuti dan mengamalkn aziemah dan meninggalkn rukhshah. (Haasyiyah al-Shaawy).
4- dan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Sekarang mari kita buktikan siapa yg akal-akalan seperti Mukazilah dan siapa yg akalnya cemerlang sprt ulul albab, orang-orang yang lebih mengutamakan empat dalil syara (Alqur'an, Assunnah, Al-ijmak dan Alqiyas) ataukah orang-orang yang lebih mendewakan empat pilar kebangsaan (UUD 45, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika), orang-orang yang memperjuangkan tegaknya khilafah rosyidah ataukah mereka yang mendewakan demokrasi yang kufur dan kerajaan yang bid'ah, orang-orang yang berjuang untuk menegakkan huduud ataukah mereka yang membiarkan huduud dilanggar dan diterlantarkan? Dan seterusnya.

Apalagi dgn kitab at-Tafkir (bukan takfir) dan lainnya, HT selalu melatih para syabab untuk berfikir cemerlang, sebagai karakter ulul albab. Wallahu a'lam.

Rabu, 27 April 2016

MULTILEVEL PAHALA VS MULTILEVEL DOSA

Bismillahir Rohmaanir Rahiim.
Sesungguhnya, dengan tulisan ini,saya ingin memberi berita gembira kepada hamba-hamba Alloh Ahlussunnah WalJama’ah, para pengemban dakwah menuju rahmat dan ridla-Nya, melalui penerapan syariah-Nya secara sempurna, melalui penegakan Khilafah Islamiyyah sebagai institusi politik Ahlussunnah Wal Jama’ah yang asli dan hakiki, bahwa semua langkah-langkah dan bekas-bekas dakwah mereka, termasuk berbagai karya ilmiyah beserta materi fisik pendukungnya, juga tempat-tempat yang dipakai dan diwaqafkannya, semuanya ditulis oleh Alloh SWT menjadi lembaran-lembaran multilevel pahala yang terus berkembang dan berkembang sebagai tiket memasuki Jannah(surga) tempat rahmat dan ridla-Nya. Dan sebagai peringatan dan ancaman terhadap Ahlu Fir’aun wa Qarun (Afirwaqa) yang sok mengklaim Aswaja, yaitu para pejuang dan pendukung ideologi kapitalisme dan komunisme, yaitu orang-orang yang selama ini memusuhi, menghalangi dan melawan dakwah di atas, dengan langkah-langkah dan bekas-bekas amal perbuatan yang mereka kerjakan, tuliskan dan tinggalkan, lalu diikuti dan dikerjakan oleh orang-orang setelahnya, bahwa semuanya ditulis oleh Alloh SWT menjadi lembaran-lembaran multilevel dosa yangterus berkembang dan berkembang sebagai tiket memasuki Nar (neraka) tempat marah dan murka-Nya.

Yang akan saya sampaikan hanyalah sepenggal dari satu ayat surat Alqur’an yang selalu dibaca dalam berbagai ritual, termasuk berbagai ritual kematian yang selama ini terus dipraktekkan oleh kelompok yang paling mengklaim Aswaja dan paling keras dalam melawan dakwah, yaitu firman Alloh SWT berikut:
ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺤْﻴِﻲ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎ ﻗَﺪَّﻣُﻮﺍ ﻭَﺁَﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ ...
“Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan,…”. QS Yasin [36]: 12.

TAFSIR AYAT

1-Miturut Syaikh Syihabuddin MahmudIbnu Abdulloh al-Husaini al-Alusi RH:
Pertama : Firman AllohSWT, “Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati”. Yakni ,sesungguhnya kami akan menghidupkan semua orang mati,yaitu dengan membangkitkannya pada hari kiamat.

Kedua: Firman AllohSWT, “dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan”. Yakni Alloh SWTmenulis semua amal perbuatan mereka semua ketika hidup di dunia, baik yang baik-baik maupun yang buruk-buruk.

Ketiga : Firman Alloh SWT, “dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Yakni bekas-bekas yang ditinggalkan setelah mereka tiada, yaitu, 1) bekas-bekas peninggalan yang baik-baik seperti ilmu yang mereka ajarkan, kitab/buku yang mereka susun, tanah yang mereka waqafkan, bangunan di jalan Alloh yang mereka bangun, dan lain-lain dari macam-macam kebaikan. Dan 2) bekas-bekas peninggalan yang buruk-buruk seperti pembuatan undang-undang yang zalim dan aniaya, penetapan prinsip-prinsip yang buruk dan merusak diantara umat manusia, dan lain-lain dari bermacam keburukan yang telah mereka adakan dan tetapkan bagi orang-orang yang berbuat kerusakan sepeninggal mereka.

Akhroja ...
ﺃﺧﺮﺝ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ ﻋﻦ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺠﻠﻲ ﻗﺎﻝ : ‏« ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻯﺎﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺳﻦ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻓﻠﻪ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻨﺄﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌﺎً ﻭﻣﻦ ﺳﻦ ﺳﻨﺔ ﺳﻴﺌﺔ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻫﺎ ﻭﻭﺯﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻻ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻤﺸﻴﺌﺎً ﺛﻢ ﺗﻼ } ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎَ ﻗَﺪَّﻣُﻮﺍْ ﻭَﺀﺍﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ } »
Ibnu Abi Hatim mengeluarkan hadits bahwa Jarir bin Abdulloh al-Bajali berkata: “Rasululloh SAW bersabda: “Barang siapa yang menetapkan sunnah yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengerjakannya setelahnya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa menetapkan sunnah yang buruk, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya setelahnya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.Lalu beliau membaca, “dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”.

'An Anas ...
ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ : ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻄﻮ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ، ﻭﻓﺴﺮ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻵﺛﺎﺭﺑﺎﻟﺨﻄﺄ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻣﻄﻠﻘﺎً ﻟﻤﺎ ﺃﺧﺮﺝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ . ﻭﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺮ . ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ . ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻳﻮﺣﺴﻨﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﺍﻟﺨﺪﺭﻱ ﻗﺎﻝ ﻛﺎﻥ ﺑﻨﻮ ﺳﻠﻤﺔ ﻓﻲ ﻧﺎﺣﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﺄﺭﺍﺩﻭﺍ ﺃﻥ ﻳﻨﺘﻘﻠﻮﺍﺇﻟﻰ ﻗﺮﺏ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻓﺄﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : } ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺤْﻰِ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎَﻗَﺪَّﻣُﻮﺍْ ﻭَﺀﺍﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ { ﻓﺪﻋﺎﻫﻢ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻧﻪ ﻳﻜﺘﺐ ﺁﺛﺎﺭﻛﻤﺜﻢ ﺗﻼ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﺘﺮﻛﻮﺍ .
Dan dari Anas RA, bahwa ia berkata mengenai ayat tersebut: “Ini terkait langkah (ke masjid) pada hari Jum’at”. Dan sebagian ulama menafsiri kata‘al-aatsaar’ (bekas-bekas) dengan langkah-langkah menuju masjid-masjid secara mutlak, karena ada hadits yang dikeluarkan oleh Abdur Rozaaq, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir dan Tirmidzi dari Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Adalah Bani Salamah di suatu daerah dari Madinah, mereka bertujuan pindah ke dekat masjid (Nabawi). Lalu Alloh SWT menurunkan ayat, “Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Lalu Rasululloh SAW memanggil mereka dan bersabda: “Sesungguhnya aatsaar(langkah-langkah) kalian itu ditulis”, kemudian beliau membacakan ayat kepada mereka, lalu mereka mengurungkan niatnya”. (Lihat: Tafsir Ruhul Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim wa al-Sab’i al-Matsani [Tafsir al-Luusiy], juz 16,hal. 435, al-Maktabah al-Syamilah).

Miturut Imam Ibnu Katsir RH:
Terkait firman Alloh SWT, “dan bekas-bekasyang mereka tinggalkan”. Terdapat dua pendapat:

Pendapat pertama : Bekas-bekas yang mereka tinggalkan untuk orang-orang setelah mereka. Yakni, (Alloh berfirman:) Kami menulis amal perbuatan yang mereka sendiri telah mengerjakannya, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan untuk orang-orang setelah mereka, lalu kami membalas mereka atas semuanya, apabila baik maka balasannya baik, dan apabila buruk maka balasannya buruk, karena Rasululloh SAW bersabda:

Man sanna ...
" ﻣَﻦْ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ، ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﺟﺮﻫﺎﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌًﺎ، ﻭﻣَﻦْ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔﺳﻴﺌﺔ، ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻫﺎ ﻭﻭﺯﺭُ ﻣَﻦْ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌًﺎ ." ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ
“Barang siapa yang menetapkan dalam Islam sunnah yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengerjakannya setelah kepergiannya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa menetapkan dalam Islam sunnah yang buruk, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya setelah kepergiannya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”. HR Muslim[1017] dan Ibnu Abi Hatim.

Juga hadits yang lain dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasululloh SAW bersabda:
" ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ، ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ : ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ، ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ، ﺃﻭ ﺻﺪﻗﺔ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ " .
“Ketika anak Adam mati, maka amalnya terputus, kecuali tiga perkara; ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang berdoa untuknya, atau sedekah yang mengalir setelah kepergiannya”. HR Muslim [1631].

Wa qaala ...
ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﻣﺠﺎﻫﺪًﺍ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ : } ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎ ﻗَﺪَّﻣُﻮﺍ ﻭَﺁﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ { ﻗﺎﻝ : ﻣﺎﺃﻭﺭﺛﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻀﻼﻟﺔ .
Dari Sufyan al-Tsauri dari Abu Sa’id, ai berkata: “Aku mendengar Mujahid berkata mengenai firman Alloh, “dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Ia berkata: “Kesesatan yang mereka wariskan”.

Wa qaala ...
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻟَﻬِﻴﻌَﺔ، ﻋﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﺩﻳﻨﺎﺭ،ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ : } ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎ ﻗَﺪَّﻣُﻮﺍ ﻭَﺁﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ { ﻳﻌﻨﻲ : ﻣﺎﺃﺛﺮﻭﺍ . ﻳﻘﻮﻝ : ﻣﺎ ﺳﻨﻮﺍ ﻣﻦ ﺳﻨﺔ، ﻓﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻗﻮﻡ ﻣﻦ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮًﺍ ﻓﻠﻪ ﻣﺜﻸﺟﻮﺭﻫﻢ، ﻻ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﺮ ﻣَﻦْ ﻋﻤﻠﻪ ﺷﻴﺌﺎ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺷﺮًّﺍ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﻣﺜﻞ ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ، ﻭﻻﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻠﻪ ﺷﻴﺌًﺎ . ﺫﻛﺮﻫﻤﺎ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ .
Ibnu Luhaiah berkata dari ‘Atha bin Dinar dari Sa’id bin Jubair, ia berkata mengenai firman Alloh, “dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Yakni “bekas-bekas yang mereka tetapkan”. Ia berkata: “Sunnah yang mereka tetapkan, lalu dikerjakan oleh suatu kaum setelah kepergian mereka. Apabila baik maka ia mendapat seperti pahala mereka tidak mengurangi pahala mereka yang mengerjakannya sedikitpun, dan apabila buruk maka ia mendapat seperti dosa mereka dan tidak mengurangi dosa mereka yang mengerjakannya sedikitpun. Sebagaimana talah dituturkan oleh Ibnu Abi Hatim.
Pendapat pertama ini dipilih oleh al-Baghawi. (Lihat: Tafsir Ma’alimut Tanzil, karya al-Baghawi, juz 8, hal. 9).

Pendapat kedua: Konotasi atsar/aatsaar (bekas-bekas) adalah langkah-langkah mereka menuju taat atau maksiat. Ini adalah pendapat Mujahid, Hasan al-Bashri, dan Qatadah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Najih dan lainnya.

Qaala...
ﻗﺎﻝ ﻗﺘﺎﺩﺓ : ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣُﻐﻔﻼﺷﻴﺌًﺎ ﻣﻦ ﺷﺄﻧﻚ ﻳﺎ ﺑﻦ ﺁﺩﻡ، ﺃﻏﻔﻞ ﻣﺎ ﺗﻌﻔﻲ ﺍﻟﺮﻳﺎﺡ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﺛﺎﺭ، ﻭﻟﻜﻦ ﺃﺣﺼﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻨﺂﺩﻡ ﺃﺛﺮﻩ ﻭﻋﻤﻠﻪ ﻛﻠﻪ، ﺣﺘﻰ ﺃﺣﺼﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﺛﺮ ﻓﻴﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ، ﻓﻤﻨﺎﺳﺘﻄﺎﻉ ﻣﻨﻜﻢ ﺃﻥ ﻳﻜﺘﺐ ﺃﺛﺮﻩ ﻓﻲ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﻠﻴﻔﻌﻞ .
Imam Qatadah berkata: “Wahai anak Adam, seandainya Alloh SWT melupakan sesuatu dari urusanmu, maka Dia melupakan langkah-langkah yang terhapus oleh angin. Akan tetapi Dia menghitung semua langkah dan amal perbuatan anak Adam. Sehingga Dia menghitung langkah ini, baik langkah menuju taat kepada Alloh atau menuju maksiat kepada-Nya. Oleh karenanya, siapa saja diantara kalian yang mampu untuk ditulis langkahnya menuju taat kepada Alloh, maka kerjakanlah!”

Sesungguhnya telah datang sejumlah hadits terkait konotasi dari pendapat kedua ini:

Hadits Pertama:
ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ : ﺧﻠﺖ ﺍﻟﺒﻘﺎﻋﺤﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻓﺄﺭﺍﺩ ﺑﻨﻮ ﺳﻠﻤﺔ ﺃﻥ ﻳﻨﺘﻘﻠﻮﺍ ﻗﺮﺏ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻓﺒﻠﻎ ﺫﻟﻚ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻬﻌﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﻢ : " ﺇﻧﻪ ﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻧﻜﻢ ﺗﺮﻳﺪﻭﻥ ﺃﻥ ﺗﻨﺘﻘﻠﻮﺍ ﻗﺮﺏ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ." ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻧﻌﻢ، ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ، ﻗﺪ ﺃﺭﺩﻧﺎ ﺫﻟﻚ . ﻓﻘﺎﻝ : " ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﺳﻠﻤﺔ، ﺩﻳﺎﺭﻛﻢ ﺗﻜﺘﺒﺂﺛﺎﺭﻛﻢ، ﺩﻳﺎﺭﻛﻢ ﺗﻜﺘﺐ ﺁﺛﺎﺭﻛﻢ ." ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ .
Jabir bin Abdulloh berkata: “Tanah di sekitar masjid Nabawi kosong, lalu Bani Salamah bertujuan pindah ke dekat masjid. Lalu hal itu sampai kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa kamu hendak berpindah ke dekat masjid”, mereka berkata: “Benar, wahai Rasululloh, kami menghendaki itu”. Lalu beliau bersabda: “Hai Bani Salamah, tetaplah dirumah-rumah kalian maka langkah kalian ditulis, tetaplah di rumah-rumah kalian maka langkah kalian ditulis!”. HR Ahmad [al-Musnad, 3/332] dan Muslim [665]dari Jabir bin Abdulloh.

Hadits kedua:
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﺍﻟﺨﺪﺭﻱ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻧﺖ ﺑﻨﻮﺳﻠَﻤﺔ ﻓﻲ ﻧﺎﺣﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺄﺭﺍﺩﻭﺍ ﺃﻥ ﻳﻨﺘﻘﻠﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻓﻨﺰﻟﺖ : } ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺤْﻴِﻲ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎ ﻗَﺪَّﻣُﻮﺍ ﻭَﺁﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ { ﻓﻘﺎﻟﻠﻬﻢ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﺇﻥ ﺁﺛﺎﺭﻛﻢ ﺗُﻜْﺘﺐُ ." ﻓﻠﻢ ﻳﻨﺘﻘﻠﻮﺍ .
Abu Sa’id al-Khudri berkata: : “Adalah Bani Salamah di suatu daerah dari Madinah bertujuan pindah ke dekat masjid (Nabawi). Lalu Alloh SWT menurunkan ayat, “Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Lalu Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya langkah-langkah kalian ditulis”. Lalu mereka tidak jadi pindah”. HR Ibnu Abi Hatim.

Hadits ketiga:
ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﺑﻌﻴﺪﺓﻣﻨﺎﺯﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻓﺄﺭﺍﺩﻭﺍ ﺃﻥ ﻳﺘﺤﻮﻟﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻓﻨﺰﻟﺖ : } ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎﻗَﺪَّﻣُﻮﺍ ﻭَﺁﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ { ﻓﺜﺒﺘﻮﺍ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﺯﻟﻬﻢ . ﻭﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ
Ibnu Abbas RA berkata: “Adalah rumah-rumah sahabat Anshar jauh dari masjid, lalu mereka bertujuan pindah ke dekat masjid, lalu turun ayat, “dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Lalu mereka tetap di rumah-rumahnya”. HR Thabrani [al-Mu’jam al-Kabir, juz 12, hal. 8].

Hadits keempat:
ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﻗﺎﻝ : ﺗﻮﻓﻲ ﺭﺟﻠﺒﺎﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻗﺎﻝ : " ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻪ ﻣﺎﺕ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻣﻮﻟﺪﻩ ." ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻟﻢ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻮﺳﻠﻢ : " ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﺫﺍ ﺗﻮﻓﻲ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﻮﻟﺪﻩ، ﻗِﻴﺲ ﻟﻪ ﻣﻦ ﻣﻮﻟﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﻘﻄﻊ ﺃﺛﺮﻩ ﻓﻴﺎﻟﺠﻨﺔ ." ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ
Abdulloh bin Amr berkata: “Seorang laki-laki wafat di Madinah lalu Nabi SAW menshalatinya dan bersabda:“Mudah-mudahan ia wafat di luar tempat lahirnya”. Lalu seorang laki-laki di antara mereka berkata: “Kenapa, wahai Rasululloh?”. Rasululloh SAW bersabda:“Sesungguhnya seorang laki-laki ketika ia wafat di luar tempat lahirnya, maka diukur baginya dari tempat lahirnya sampai langkahnya yang terakhir (tempat) disurga”. HR Ahmad.

Wa qaala...
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺮ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﺑﻦ ﺣﻤﻴﺪ، ﺣﺪﺛﻨﺎﺃﺑﻮ ﺗُﻤَﻴْﻠَﺔَ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ، ﻋﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻗﺎﻝ : ﻣﺸﻴﺖ ﻣﻊ ﺃﻧﺲ ﻓﺄﺳﺮﻋﺖ ﺍﻟﻤﺸﻲ، ﻓﺄﺧﺬ ﺑﻴﺪﻳﻔﻤﺸﻴﻨﺎ ﺭﻭﻳﺪًﺍ، ﻓﻠﻤﺎ ﻗﻀﻴﻨﺎ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻗﺎﻝ ﺃﻧﺲ : ﻣﺸﻴﺖ ﻣﻊ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻓﺄﺳﺮﻋﺖ ﺍﻟﻤﺸﻲ،ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺃﻧﺲ، ﺃﻣﺎ ﺷَﻌَﺮْﺕَ ﺃﻥ ﺍﻵﺛﺎﺭ ﺗﻜﺘﺐ؟ ﺃﻣﺎ ﺷَﻌَﺮْﺕَ ﺃﻥ ﺍﻵﺛﺎﺭ ﺗﻜﺘﺐ؟ .
Dan Ibnu Jarir berkata: “Ibnu Hamid bercerita kepada kami, Abu Tumailah bercerita kepada kami, Hasan Bashri bercerita kepada kami, bahwa Tsabit berkata: “Aku pernah berjalan bersama Anas, lalu aku berjalan cepat, lalu Anas memegang tanganku sehingga kami berjalan pelan-pelan. Lalu setelah kami merampungkan shalat, maka Anas berkata: “Aku pernah berjalan bersama Zaid bin Tsabit, lalu aku berjalan cepat, lalu ia berkata: “Hai Anas, apakah kamu tidak mengerti kalau langkah itu ditulis?, apakah kamu tidak mengerti kalau langkah itu ditulis?”. (Tafsir al-Thabari, 22/100).

Pendapat kedua ini tidak kontradiksi dengan pendapat pertama, tetapi justru menjadi peringatan dan petunjuk bahwa pendapat pertama lebih utama dan lebih layak. Karena ketika langkah-langkah (menuju kebaikan dan keburukan) itu ditulis, maka bekas-bekas peninggalan yang mengandung kebaikan dan keburukan yang diikuti oleh orang-orang setelah mereka itu lebih utama untuk ditulis. Wallohu a’lam. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 6, hal. 565, 566, 567, 568, Maktabah Syamilah keluaran kedua). Wallohu a'lam.

MULTILEVEL PAHALA ADALAH BISNIS KAUM ASWAJA

MULTILEVEL DOSA ADALAH BISNIS KAUM AFIRWAQA

MAKA JANGAN PERCAYA, KETIKA ADA SESEORANG MENGKLAIM ASWAJA, TETAPI MELAKUKAN BISNIS MULTILEVEL DOSA, IA ADALAH PENDUSTA YANG HENDAK MENJERUMUSKAN ANDA, MAKA BERHATI-HATILAH TERHADAPNYA!

Senin, 25 April 2016

MENJAGA NKRI

NU & POLITIK KEBANGSAAN
(menjawab komentar nyleneh)

Yanto Sae
Tanggapan saya sebagai NU Kultural:

Point nomor 1:
Dalam pandangan NU, politik yang dimaksud ada dua, yaitu Politik Kekuasaan dan Politik Kebangsaan. NU tidak ikut dalam politik kekuasaan, tetapi aktif dalam politik kebangsaan, yaitu menjaga NKRI .

Point nomor 2:
Didalam demokrasi, TNI dan POLRI adalah aparat, dimana keduanya bertindak apabila ada tuntutan dari rakyat. Adalah salah jika mengatakan TNI dan Polri yang paling bertanggung jawab. Justru rakyat-lah yang paling bertanggung jawab menjaga keutuhan NKRI.
Kami yang tidak setuju dengan khilafah, masih memberi toleransi dengan pendekatan, seharusnya kalian bersyukur masih mendapat senyuman dari aparat kami di negara demokrasi.

Jika kalian merasa sok memperjuangkan khilafah, kenapa memangnya Banser tidak boleh menjaga NKRI dan Pancasila ?

Banser itu sipil, berarti rakyat juga, dan NKRI masih negara demokrasi (Darussalam), bukan darul Islam.
itu saja dulu...

Afifuddin Muhajir
Saya sangat setuju ini.
Like · Report · Today at 5:59am

Panglima Tanpa Tanding
Nasehat untuk Banser dari Nahdliyin Kultural:
KAMI DUKUNG KALIAN, JAGA TERUS NKRI DARI RONGRONGAN PARA BAJINGAN YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA, YANG SEBENARNYA MEREKA BERTINDAK ATAS DASAR KEPENTINGAN KANTONG DAN PERUT MEREKA.....!!!
Like · 2 · Reply · Report · Today at 7:23am

Yanto Sae
Tambahan komen saya tentang Khittah NU:
NU dalam ranah organisasi, tidak diperkenankan bergelut dalam kubangan politik, karena bertentangan dengan Khittah NU, yang ditegaskan dalam Muktamar di Situbondo, Jatim, pada 1984. NU dalam atmosfer jam’iyyah, ketika berada dalam ranah politik, akan lebih membawa madlarat (keburukan) dari pada maslahat (kebaikan).

Akan tetapi, dalam konteks individual, warga NU dipersilakan mempergunakan hak politiknya secara bebas. Kemerdekaan politik menjadi jaminan di tengah kehidupan sosial warga NU.
Like · Reply · Report · Yesterday at 12:16pm

JAWABAN SAYA

1. Politik kebangsaan dengan maksud menjaga NKRI ini hanya memiliki dua arti yaitu menjaga wilayah NKRI dan menjaga hukum (sistem) NKRI. Ketika NU mengklaim telah menjaga wilayah NKRI, maka kenapa NU dengan GP Ansor dan Bansernya diam saja ketika Timtim lepas dari NKRI, bahkan membiarkan OPM yang benar-benar mengancam keutuhan NKRI bebas beraktifitas unjuk rasa disejumlah tempat. Dan ketika yang dimaksud adalah menjaga hukum yang diterapkan di dalam NKRI, maka dimanakah klaim Ahlussunnah Waljama'ah NU? Karena sdh sangat jelas dan tidak dapat ditutup-tutupi dan bisa terlihat meskipun oleh orang buta, bahwa hukum yang diterapkan didalam NKRI adalah hukum jahiliyah, hukum kufur, bahkan hukum syirik, dimana sangat kontradiksi dengan hukum Islam Ahlussunnah Waljama'ah.

Dengan kenyataan diatas, sesungguhnya NU saat ini tidak memiliki peran sama sekali dengan menjaga wilayah NKRI, dan sudah keluar dari lingkaran Ahlussunnah Waljama'ah dan telah masuk kedalam lingkaran Ahlu Fir'aun wa Qarun sebagai kinayah dari demokrasi-sekular dan kapitalis-liberal.

2. TNI dan POLRI adalah alat negara yang paling berwenang menjaga keutuhan wilayah NKRI dan hukum yang diterapkan didalam NKRI. Kalau GP Ansor dan Banser merasa paling berwenang menjaga NKRI melebihi TNI dan POLRI dengan mengatas namakan rakyat, maka kelompok rakyat yang lain juga bisa melakukan hal yang sama, seperti FPI, boleh  membubarkan atau menghalangi kegiatan dari kelompok atau organisasi yang diduga mengancam keutuhan NKRI, bahkan boleh membubarkan GP Ansor dan Banser karena diduga menjadi agen penjajahan asing yang mengancam NKRI. Kok bisanya ya?

3. Sesungguhnya politik kebangsaan menjaga NKRI, faktanya adalah menjaga kemaksiatan, kemunkaran, kekufuran, kesyirikan dan kemunafikan plus pemurtadan didalam NKRI. Dan faktanya juga menolak syariah Islam diterapkan secara total didalam NKRI. Karena itu, NU dengan GP Ansor dan Bansernya sangat getol dalam menolak dakwah syariah dan khilafah oleh HTI, bahkan sangat militan dan radikal sehingga tanpa malu membubarkan kegiatan dakwah dan mencabuti simbol-simbol Islam (khilafah) hanya dengan modal  dugaan dan buruk sangka mengancam NKRI. Bukti yang lainnya juga seperti menjadi penjaga bangunan rumah ibadah non muslim yang bermasalah seperti di Bekasi, melindungi dan mengamankan tempat-tempat dan ibadah non muslim, dll.

4. Bagi Ahlussunnah Waljama'ah khilafah adalah final. Khilafahlah satu-satunya yang mampu menjaga NKRI, baik menjaga wilayahnya atau menjaga hukum Islam Ahlussunnah Waljama'ahnya. Bukan hanya menjaga wilayahnya, tetapi khilafah akan mengembalikan Timtim dan akan memperluas wilayahnya. Wilayah dan hukum yang diterapkan adalah dua sisi NKRI yang tidak boleh dipisahkan, keduanya harus sama-sama milik Allah dan dari Allah. Menerapkan hukum kufur dan syirik produk hawa nafsu manusia terhadap wilayah NKRI milik Allah adalah kekafiran, kezaliman atau kefasikan, tidak ada keempatnya. Dalil-dalil tentang kewajiban menegakkan khilafah sudah sangat banyak dan panjang dibahas dan ditulis pada tempatnya.

5. ... ... ...

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

Sabtu, 23 April 2016

JUBIR HTI MENANGGAPI SIKAP BRUTAL GP ANSOR DAN BANSER NU

JAKARTA (Panjimas.com) – Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ustadz Ismail Yusanto menanggapi sikap keras GP Ansor dan Banser NU yang menegaskan akan menyisir dan menangkap para pendukung khilafah. (Baca: Ketua Umum GP Ansor Instruksikan Tangkap Pemasang Spanduk Khilafah)

Dirinya menganggap inilah kenyataan Umat Islam yang tak bisa dipungkiri. Akibat dari sekulerisme. Sehingga Umat Islam sendiri malah menolak bagian dari syariat Islam.(Baca: Banser Rembang Siap Perangi para Pendukung Khilafah)

“Ini adalah fakta umat yang begitu rupa akibat sekularisme yang sedemikian dahsyat. Begitu lamanya kita hidup di tengah kehidupan yang tidak Islami, sampai pada perkara yang sesungguhnya itu bagian dari Islam mereka tolak. Aqidah, syariah, khilafah itu kan bagian dari ajaran Islam,” kata Ustadz Ismail Yusanto kepada Panjimas.com, Selasa (19//4/2016).

Ia menegaskan, khilafah merupakan bagian dari syariat Islam, di mana para ulama pasti membas permasalahan tersebut. Apalagi di dalam kitab tafsir maupun kitab-kitab fiqih berbagai mazhab.

Dalil Wajibnya Menegakkan Khilafah

Ustadz Ismail Yusanto mengajak siapa pun yang menolak penegakkan khilafah untuk berdialog. (Baca: Komandan Banser Instruksikan Sisir Media Publikasi Khilafah dan Tangkap para Pendukungnya)

Para ulama dengan gamblang telah membahas permasalahan tersebut, dengan mengambil dalil di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqaroh [2]: 30).

Al-Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat di atas, dalam kitab tafsirnya Al Jami’ li Ahkamil Qur’an menegaskan bahwa menegakkan khilafah itu wajib, bahkan ia mengecam orang yang menyelisihinya.
هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم ، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه ، قال : إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك ، وأن الأمة متى أقاموا حجهم وجهادهم ، وتناصفوا فيما بينهم ، وبذلوا الحق من أنفسهم ، وقسموا الغنائم والفيء والصدقات على أهلها ، وأقاموا الحدود على من وجبت عليه ، أجزأهم ذلك ، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك.
“Ayat ini adalah pangkal dalam mengangkat imam dan khalifah yang didengar dan ditaati, untuk menyatukan kalimat (Islam) dan menerapkan hukum-hukum khalifah (syariat). Dan tidak ada khilaf (perbedaan)  terkait kewajiban itu diantara umat dan tidak pula diantara para imam. Kecuali riwayat dari al-‘Asham dimana dia telah tuli dari syariat. Begitu pula setiap orang yang berkata seperti perkataannya dan mengikuti pendapat dan madzhabnya. ‘Asham berkata: “Sesungguhnya khalifah itu tidak wajib dalam agama, tetapi hanya boleh. Dan bahwa umat ketika telah menegakkan haji dan jihadnya, berbuat adil diantara mereka, menyerahkan haq dari diri mereka, membagikan harta ghanimah, fai dan shadaqoh kepada yang berhak, dan menegakkan sejumlah had terhadap orang yang harus dihad, maka hal itu telah mencukupi mereka, dan mereka tidak wajib mengangkat imam yang mengatur semua itu.”

Demikian pula mufassir lainnya, seperti Imam Al Hafidz Abul Fida’ Ismail ibn Katsir ketika menjelaskan firman Allah surah Al Baqarah ayat 30 beliau berkata:
وقد استدل القرطبي وغيره بهذه الآية على وجوب نصب الخليفة ليفصل بين الناس فيما يختلفون فيه، ويقطع تنازعهم، وينتصر لمظلومهم من ظالمهم، ويقيم الحدود، ويزجر عن تعاطي الفواحش، إلى غير ذلك من الأمور المهمة التي لا يمكن إقامتها إلا بالإمام، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.
“…Dan sungguh Al Qurthubi dan yang lain berdalil berdasarkan ayat ini atas wajibnya mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong pihak yang didzalimi dari yang mendzalimi, menegakkan had-had, dan mengenyahkan kerusakan, serta urusan-urusan penting lain yang tidak mungkin ditegakkan tersebut kecuali dengan adanya seorang imam, dan ما لايتم الواجب الا به فهو واجب ( apabila suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan suatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula)”.

Syeikh Al-Islam Al Imam Al Hafidz Abu Zakaria An Nawawi berkata:
الفصل الثاني في وجوب الإمامة وبيان طرقها لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها. قلت تولي الإمامة فرض كفاية
“…Pasal kedua tentang wajibnya imamah serta penjelasan mengenai metode (jalan untuk mewujudkannya). Adalah suatu keharusan bagi umat adanya seorang imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, membela orang yang didzalimi, menunaikan hak, dan menempatkan hak pada tempatnya. Saya nyatakan bahwa mengurusi urusan imamah itu adalah fardhu kifayah”. [Imam Al Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa An Nawawi, Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin, juz III hal 433].

Maka sangat aneh, bila ada umat Islam yang begitu alergi terhadap penegakkan khilafah di Indonesia.

Jika penegakkan khilafah dianggap sebagai ancaman dan harus dihentikan, pertanyaannya, beranikah para penentang khilafah menghapus ayat Al-Qur’an dan membuang pembahasan para ulama di dalam kitab-kitab mereka? [AW]

Jumat, 22 April 2016

MENANTI BANSER GARIS LURUS

Komandan Banser Instruksikan Sisir Media Publikasi Khilafah dan Tangkap para Pendukungnya

JAKARTA (Panjimas.com) – Komandan Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Satkornas Banser) H Alfa Isnaeni mengeluarkan instruksi untuk segenap anggotanya untuk menyisir dan mencopot setiap media publikasi yang mengampanyekan penolakan eksistensi NKRI dan Pancasila. Namun demikian, aksi pencopotan ini harus dilakukan sesuai dengan standar dan prosedur hukum yang berlaku.

Alfa juga mengingatkan anggotanya agar melakukan aksinya sesuai dengan prosedur. Untuk mencopot spanduk berisi penolakan eksistensi NKRI, Pancasila, atau berisi dukungan sistem khilafah, atau pun menebar radikalisme, Banser mesti melancarkan aksinya bersama-sama, tidak sendirian.

“Sebelum dicopot, harus difoto terlebih dulu. Catat tempat spanduk tersebut, dan catat pukul pencopotan. Spanduk yang dicopot, dilipat baik-baik dan selanjutnya serahkan kepada yang berwajib seperti Satpol PP atau kepolisian. Minta tanda terima, dan upayakan saat serah-terima difoto,” kata Alfa Isnaeni, Ahad (17/4).

Ia menenkankan pentingnya Banser berkoordinasi dengan komandan. “Laporkan tindakan secepatnya melalui sms atau whats-app. Tetap jaga kondusifitas lingkungan,” pesan Alfa.

Ia secara tegas meminta seluruh anggotanya untuk membersihkan spanduk, poster, pamflet, dan sebagainya yang mempropagandakan sistem khilafah, serta menebar paham radikalisme.

Banser, kata Alfa, harus menangkap dan mengamankan oknum yang menebar radikalisme serta menolak eksistensi NKRI, seperti diinstruksikan oleh Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas.

“Banser siap melaksanakan perintah Ketum GP Ansor. Kami telah perintahkan seluruh jajaran Banser untuk melaksanakan perintah itu,” tandas Alfa. [AW/NU Online]

TANGGAPAN SAYA :

1. Masalah NKRI dan Pancasila adalah masalah politik. Sedangkan NU itu sudah kembali ke khiththah 1926, yakni tidak berpolitik. Maka ketika ada sekelompok orang mengatasnamakan NU atau lembaga dalam NU yang melakukan aktifitas politik atau berpolitik, maka mereka secara otomatis sudah keluar dari NU atau mereka sudah bukan orang NU lagi.

2. Masalah NKRI dan Pancasila adalah masalah politik. Sedang yang paling bertanggungjawab menjaga NKRI dan Pancasila adalah TNI dan POLRI sebagai alat negara atau pemerintah. Loh, wong TNI dan POLRI-nya saja diam, bahkan mereka menebar senyum kepada para pejuang khilafah, tiba-tiba Banser sok jadi pahlawan NKRI dan Pancasila, ada apa ini?!

3. NU itu dalam masalah fiqhiyyah mengikuti salah satu dari Empat Imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i atau Imam Ahmad). Sedankan kewajiban menegakkan Khilafah itu bukan hanya pendapat salah satu Empat Imam madzhab, tatapi menjadi kesepakatan Empat Imam madzhab. Oleh karenanya, ketika ada sekelompok orang atau lembaga yang menolak dan menghalangi dakwah Syariah dan Khilafah, sesungguhnya mereka itu bukan orang NU, tetapi hanya mengatasnamakan NU, bahkan bisa tergolong menjual NU dengan harga sekian dan sekian.

4. Menebarkan paham radikalisme? Justru tindakan Banser itu kan tergolong radikalisme. Jadi masalahnya adalah radikalisme. Salah tempat kalau ditujukan kepada para pejuang khilafah. Seharusnya radikalisme itu ditujukan kepada kaum agamawan kristen yang menolak kemajuan ilmu dan teknologi. Kalau para pejuang khilafah dikatakan radikalisme hanya karena sikap radikal kepada agamanya, maka Banser tentu lebih radikalisme karena radikal kepada ideologi kapitalisme, sekulariame, demokrasi, HAM, pluralisme, sinkretisme dll, dengan dalih NKRI dan Pancasila. Dan tentu tindakan Banser yang tergolong tindakan kekerasan mencabuti simbol-simbol Islam (khilafah) adalah lebih radikalisme dari pada aktifitas para pengemban dakwah yang tanpa kekerasan.

5. ... ... ...

SAYA MENANTI BANGKITNYA BANSER GARIS LURUS, SEBAGAIMANA BANGKITNYA NU GARIS LURUS, MESKIPUN HANYA NGAKU-NGAKU GARIS LURUS ...

Tanggapan anda gimana?

WALI ALLAH ADALAH PEJUANG ISLAM KÂLFFAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Di tengah-tengah ummat yang sedang gigih berdakwah kepada syariah dan khilafah, ada saja sebagian tokoh muslim yang melakukan penggembosan terhadap dakwah, dengan melakukan pembodohan terhadap ummat, bahwa NKRI dengan dasar Pancasila-nya ini telah dijaga dan dilindungi oleh para wali Allah, tidak boleh diganti meskipun dengan khilafah. Narasi seperti itu terus dihembuskan ke tengah-tengah umat yang panatik kepada organisasi dan para tokohnya. 

Sekarang kita kupas tuntas siapakah wali Allah itu :

DEFINISI WALI

Imam Ali bin Muhammad al-Jarjani dalam al-Ta’rifat-nya berkata:

“Term waliy dengan bentuk jamak Awliyá' itu mengikuti wazan fa’îl (istilah ini terkait ilmu sharof, bagi kita yang tidak pernah mempelajarinya tentu tidak akan paham) dengan makna fâ’il, yaitu orang yang terus melakukan ketaatan dengan tanpa mencampurnya dengan maksiat, dan ini biasa disebut wali kasbiy (derajat wali hasil kerja kerasnya sendiri); atau mengikuti wazan fa’îl dengan makna maf’ûl, yaitu orang yang mendapat limpahan ihsan (pemberian kebaikan) dan ifdlal (pemberian anugerah) dari Allah swt, dan ini biasa disebut wali ladunniy (derajat wali yang lasung diberikan oleh Allah, dimana salah satu sebabnya adalah orang tuanya atau gurunya yang telah menjadi wali, yang terus berdoa kepada Allah agar anaknya atau muridnya juga menjadi wali, lalu Allah mengabulkannya). Wali seperti ini ada yang dulunya adalah ahli maksiat, lalu tiba-tiba kondisinya berubah 180 derajat, karena mendapat ihsan dan ifdlal dari Allah swt.

Wali (al-waliy) adalah al-Aarif (orang yang mengenal / makrifat) kepada Allah swt dan kepada sifat-sifat-Nya, yang kontinu dalam melaksanakan ketaatan, yang menjauhi kemaksiatan, dan yang tidak berlebihan dalam menikmati dan menyayangi lazat dan sahwat dunia”.

Arti makrifat kepada Allah ialah mengerti bahwa manusia (termasuk dirinya), alam semesta dan kehidupan, semuanya adalah makhluk (diciptakan) dan pasti ada penciptanya. Kemudian menemukan dan meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa penciptanya adalah Allah swt. Dia makrifat kepada Allah melalui proses berfikir mengenai ciptaan-Nya. Sebab mustahil manusia, alam semesta dan kehidupan yang luas dan besarnya tidak terukur dan tidak terdeteksi oleh kekuatan indra dan akal manusia, itu terjadi tanpa ada penciptanya. Padahal benda sekecil jarum saja ada penciptanya.

Makrifat kepada Allah itu bukan melihat langsung Zat (diri) Allah, baik dengan mata kepala atau dengan mata hati seperti klaim sebagian sufiyah. Karena manusia, baik muslim atau non muslim, semuanya dituntut agar beriman kepada Allah sebagai Pencipta. Sedangkan iman itu hanya terkait dengan perkara-perkara ghaib. Kita beriman kepada Allah kerena kita belum melihat Diri Allah secara langsung. Sedang al-Qur’an dan as-Sunnah keduanya telah menjelaskan bahwa Diri Allah itu bisa dilihat di akhirat saja, yaitu di surga, sebagai nikmat terbesar bagi penduduk surga. Sedang beriman kepada Allah itu wajib sampai mati.

Berarti manusia itu tidak ada yang bisa melihat Diri Allah di dunia ini, karena kalau ada yang bisa melihat Allah, maka ia sudah tidak wajib beriman lagi, karena  Allah sudah tidak ghaib lagi. Sedang klaim sebagian shufiy bahwa ia telah melihat Zat Allah dengan mata hatinya, bisa saja yang telah dilihat olehnya hanyalah Iblis yang mengaku sebagai Tuhan, mengaku sebagai Allah swt. Ini banyak dijelaskan oleh para ulama, termasuk dalam kitab manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani yang pernah didatangi Iblis yang mengaku sebagai Allah swt. Dan termasuk makrifat kepada Allah swt adalah makrifat kepada sifat-sifat-Nya.

PEMBAGIAN WALI

Wali itu terbagi menjadi dua : Wali Allah dan wali Thaghut. Dalam hal ini, Allah swt berfirman:
ﺍَﻟﻠﻪُ ﻭَﻟِﻲُّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮْﺭِ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭْﺍ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻫُﻢُ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮْﺕُ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮْﻧَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﻮْﺭِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ، ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭْﻥَ .
“Allah wali (pelindung/ penolong) bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedang orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut (syetan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. QS al-Baqaroh[2]: 257.

Allah swt telah menghabarkan kepada kita, bahwa Dia adalah Wali, yakni al-Waliy dengan wazan fa’îl bermakna fâ’il (pelindung/ penolong) bagi orang-orang yang beriman. Orang yang beriman adalah wali, yakni al-waliy, dengan wazan fa’îl bermakna maf’ûl (yang dilindungi/ yang ditolong), bagi Allah swt. Allah mengeluarkan para walinya dari kegelapan berupa kekufuran, kemusyrikan, kesesatan dan bid’ah. Para wali Allah adalah orang-orang yang dikeluarkan dari kegelapan, yakni orang-orang yang meninggalkan kegelapan. Allah memasukkan mereka kepada cahaya, cahaya iman dan Islam.
Sedang orang-orang kafir adalah menjadi wali-wali (yang dilindungi/ yang ditolong oleh) Thaghut (syetan). Thaghut adalah wali (pelindung/ penolong) bagi orang-orang kafir. Thaghut mengeluarkan para walinya dari cahaya, dan memasukkan mereka kepada kegelapan.

WALI ALLAH

Wali Allah (waliyullâh) atau wali Rahman (waliyurrohmân), adalah orang mukmin yang bertakwa. Allah swt berfirman :
ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻥَّ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻟَﺎ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮْﻥَ، ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺘَّﻘُﻮْﻥَ ...
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. QS Yunus[10]: 62-63.

Allah swt telah mengkhabarkan kepada kita, bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman yang selalu bertakwa.

Terkait ayat ini, Imam Ghazali rh dalam al-Ihya’-nya menjelaskan, bahwa iman itu memiliki empat peringkat :
1- ‘Iffah, yaitu menahan diri dari syahwat (kesenangan dunia), sedang subyeknya dinamakan afîf.
2- Waro’, yaitu menahan diri dari syahwat dan syubhat (perkara yang tidak jelas status hukumnya), sedang subyeknya dinamakan warok.
3- Taqwa, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat dan perkara yang diharamkan, sedang subyeknya dinamakan taqiy atau muttaqiy.
4- Shidqu, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat, perkara yang diharamkan dan dari perkara mubah/ halal, karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan. Dan subyeknya dinamakan shiddîq.

Dari penuturan diatas, bahwa Wali Allah adalah orang mukmin yang bertakwa, yaitu orang mukmin yang telah mencapai peringkat takwa, yakni orang mukmin yang telah menahan diri (menjauhi) dari perkara syahwat, syubhat, dan haram.

Terkait wali Allah, Rasulullah saw bersabda :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﻦْ ﻋَﺎﺩَﻯ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻴًّﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺁﺫَﻧْﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺮْﺏِ، ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻘَﺮَّﺏَ ﺇِﻟَﻲَّ ﻋَﺒْﺪِﻱ ﺑِﺸَﻴْﺊٍ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇﻟﻲّ ﻣِﻤَّﺎ ﺍﻓْﺘَﺮَﺿْﺘُﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﻋَﺒْﺪِﻱ ﻳَﺘَﻘَﺮَّﺏُ ﺇِﻟَﻲَّ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﻓِﻞِ ﺣَﺘَّﻰ ﺃُﺣِﺒَّﻪُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺘُﻪُ ﻛُﻨْﺖُ ﺳَﻤْﻌَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﺑِﻪِ ﻭَﺑَﺼَﺮَﻩُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺒْﺼُﺮُ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﺪَّﻩُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﺒْﻄِﺶُ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﺑِﻬَﺎ، ﻭَﻟَﺈِﻥْ ﺳَﺄَﻟَﻨِﻲ ﻟَﺄُﻋْﻄِﻴَﻨَّﻪُ ﻭَﻟَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻌَﺎﺫَﻧِﻲ ﻟَﺄُﻋِﻴْﺬَﻧَّﻪُ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
“Sesungguhnya Allah swt berfirman: “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada sesuatu yang talah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku tidak henti-hentinya beribadah kepada-Ku dengan yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Lalu ketika Aku mencintainya, maka aku menjadi (menjaga) pendengarannya yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia menyentuh dengannya, dan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan andaikan ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan permintaannya, dan andaikan ia berlindung dengan-Ku, niscaya Aku melindunginya”. HR Bukhari dari Abu Hurairah ra.

Pada hadis diatas, Allah swt melalui Rasul-Nya telah memberi khabar terkait karakter wali Allah, yaitu hamba Allah yang selalu melaksanakan ibadah fardlu/ wajib (termasuk kewajiban menjauhi apasaja yang diharamkan) dan ibadah sunnah (termasuk sunnah menjauhi apa saja yang makruh).

Sedangkan arti Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki hamba-Nya, adalah bahwa Allah memberi keistimewaan kepadanya, sehingga bisa mendengar dan melihat diluar kemampuan orang normal, juga bisa menyentuh dan berjalan diluar kemampuan orang normal. Inilah yang dinamakan karomah.

Atau artinya, Allah menjaga pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya dari melakukan maksiat dan munkar. Jadi para wali Allah itu adalah orang-orang yang bertakwa.

Terkait wali Allah, Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya menuturkan :

“Wali-wali Allah adalah orang-orang yang ikhlas dan yang menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim dalam menentukan halal dan haram, yang berpegang teguh dengan sunnahnya, yang tidak membuat bid’ah dan tidak pula mengajak kepada bid’ah, tidak bergabung kecuali dengan golongan Allah, Rasulullah dan sahabatnya, tidak menjadikan agama sebagai permainan dan hiburan, tidak suka mendengarkan suara syetan sehingga mengalahkan suara al-Qur’an, tidak memilih berteman dengan para pemuda kecuali untuk mencari ridla Allah, tidak memilih musik dan nyanyian sehingga mengalahkan tujuh ayat yang diulang-ulang dalam shalat. Wali Rahman itu tidak akan serupa dengan wali syetan, kecuali bagi orang yang tidak punya mata hati (bashiroh).

Bagaimana bisa, orang-orang yang berpaling dari kitab Allah dan petunjuk serta sunnah Rasul-Nya, dan menyalahi keduanya untuk mengambil yang lainnya, mereka menjadi wali-wali Allah?! Mereka benar-benar memukul-mukul dadanya (sombong seperti kingkong) ketika menyalahi petunjuk dan sunnahnya, dan mengambil selain petunjuk dan sunnahnya. Padahal Allah swt benar-benar berfirman :
ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻩُ، ﺇِﻥْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘُﻮْﻥَ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ .
“Dan tiadalah mereka itu wali-wali-Nya. Tidaklah ada wali-wali-Nya kecuali orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. QS al-Anfal [8]: 34. Jadi wali-wali Rohman adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apa saja yang dicintai oleh al-Rohman, berdakwah kepada-Nya dan memerangi siapa saja yang keluar darinya. Sedang wali-wali syetan adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apa saja yang dicintai oleh syetan, berdakwah kepadanya dan memerangi siapa saja yang keluar darinya”.

WALI THAGHUT

Wali Thaghut (syetan) adalah kebalikan dari wali Allah, yaitu orang kafir dan musyrik, atau orang muslim yang telah kehilangan karakter takwanya, yakni orang muslim yang terjerumus ke dalam kubangan syahwat, syubhat dan haram. Ia telah menerjang segala hal dan segala perkara yang terkatagori syahwat, syubhat dan haram. Dan termasuk haram adalah meninggalkan kewajiban atau kefardluan agama Islam atas kaum muslim. Lebih jelasnya, ia telah melanggar dan menolak syariat Islam. Lebih jelasnya lagi, ia telah melanggar dan menolak hukum-hukum Allah swt untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara. Ia telah menerapkan dan mendakwahkan syariat Thaghut atau hukum-hukum Thaghut. Karena diantara hukum Allah dan hukum Thaghut atau diantara Islam dan kafir, ada jurang yang lebar, laksana barat dan timur, dimana kalau kita berjalan kebarat, berarti kita menjauhi timur atau sebaliknya. Karena kehidupan bermasyarakat dan bernegara itu bisa bisa terwujud tanpa adanya hukum (sistem) yang mengatur, kehidupan itu bukan ruang kosong yang tak berpenghuni, dan bukan kehidupan orang-orang gila. Jadi ketika ada seseorang yang dianggap wali atau diwalikan tetapi telah kehilangan karakter takwanya, maka saksikanlah bahwa dia adalah wali thaghut.

Sedang perkataan yang populer di tengah-tengah kaum muslim tradisionalis yang hobi mewali-walikan orang-orang yang punya keanehan, yaitu :
ﻟَﺎ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲَّ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲُّ .
"Tidak mengerti Wali kecuali Wali", maka Imam Junaidi Al-Baghdadi, Imam Shufiyyah dan guru dari Syaikh Abbdul Qadir Jailani, terkait konotasi maqalah tersebut, beliau berkata :

ﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ : ﻭَﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ ﻋَﺮَﻑَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ }. ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ، ﺹ 10: }.
"Maknanya; Demi Allah, tidak mengerti (hakekat) Allah kecuali Allah". Jadi yang dimaksud dengan Alwaliy adalah Allah swt. 

Allah swt juga dalam Al-Qur'an telah menjelaskan dengan firman-Nya:
ﺃَﻡِ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭْﺍ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻧِﻪِ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ، ﻓَﺎﻟﻠﻪُ ﻫُﻮُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲُّ ﻭَﻫُﻮَ ﻳُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻴْﺊٍ ﻗَﺪِﻳْﺮٌ .
"Atau patutkah mereka mengambil wali-wali selain Allah? Maka Allah, Dialah Wali (Pelindung) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS asy-Syuro[42]: 9).

MENEPIS SYUBHAT

Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya juga berkata:
“Maka ketika kamu melihat seorang laki-laki yang suka mendengarkan syetan, seruan syetan dan saudara-saudara syetan, dan dia juga mengajak kepada perkara yang disukai oleh syetan seperti syirik, bid’ah dan munkar, maka ketahuilah bahwa dia itu termasuk wali syetan. 

Kemudian ketika kondisi lelaki itu masih menyulitkan kamu (wali Allah apa wali syetan), maka singkaplah dia dengan tiga perkara berikut:

Pertama: Shalat, serta cinta dan bencinya kepada sunnah dan ahli sunnah. Yakni, ketika ia menegakkan shalat, mencintai sunnah dan ahli sunnah, berarti ia wali Rohman. Dan apabila ia tidak menegakkan shalat, seperti tidak melaksanakannya dengan berjamaah dan khusuk, atau mengeluarkannya dari waktunya, atau meninggalkannya tanpa udzur yang dibenarkan oleh syara’; dan tidak mencintai sunnah dan ahlinya, tetapi ia membencinya, atau ia lebih menyukai bid’ah, khurofat, kejahiliyahan dan kesesatan, maka ia adalah wali syetan.

Kedua: Dakwahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Yakni, apabila ia mengajak ibadah kepada Allah semata dan mengikuti Rasul-Nya, maka ia adalah wali Rohman. Dan apabila ia mengajak ibadah kepada selain Allah dan mengikuti selain Rasul-Nya, maka ia adalah wali syetan.

Ketiga: Memurnikan tauhid, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya. Yakni apabila ia memurnikan tauhid dari syirik, syirik jaliy maupun syirik khafiy, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali Rohman. Tapi apabila ia berbuat syirik, tidak mengikuti Rasulullah saw dan tidak berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali syetan.

Maka timbanglah ia dengan tiga perkara diatas, dan jangan menimbangnya dengan kondisinya (yang aneh-aneh), mukasyafah dan perkara yang keluar dari kebiasaannya, meskipun ia bisa berjalan diatas air dan terbang di udara”.

Dan dalam hal ini, Ibnu al-Juwzy al-Baghdady dalam kitab Talbîsul Iblîs-nya berkata : “Laiyts bin Saed berkata :
ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻣَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪُ .
“Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan di atas air, maka aku tidak menerimanya”. 

Imam Syafi’iy rh berkata:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻴْﺚَ ﺑْﻦَ ﺳَﻌْﺪٍ ﻣَﺎ ﻗَﺼَّﺮَ، ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻭَﻃَﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯ ﻣَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪُ .
“Sesungguhnya Laiyts bin Saed itu tidak sembrono. Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan diatas air dan terbang di udara, maka aku tidak menerimanya”.

WALI-WALI ALLAH ADALAH PARA PENGEMBAN DAKWAH ISLAM KÂFFAH

Wali Allah adalah orang yang beriman yang selalu bertakwa, sedangkan takwa -sebagaimana penuturan Alghozali diatas- adalah menahan diri (meninggalkan) perkara syahwat, syubhat dan haram, atau secara umum takwa adalah melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, wali-wali Allah adalah ulama akhirat, karena takwa itu tidak akan bisa sempurna tanpa ilmu yang cukup, yakni ilmu yang mencakup seluruh perintah dan larangan Allah swt yang harus dikerjakan dan ditinggalkan. Dalam hal ini syaikh Abdul Wahab Sya’roni rh dalam kitab al-Mizan al-Kubro-nya berkata :
ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦِ ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔُ ﺍﻟْﻤُﺠْﺘَﻬِﺪُﻭْﻥَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﻓَﻤَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻪِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟِﻲٌّ ﺃَﺑَﺪًﺍ .
“Seandainya para imam mujtahid itu bukan wali-wali Allah, maka di atas bumi  tidak akan ada wali Allah selamanya”.

AKHIR KATA

Sudah sangat jelas, bahwa yang layak disebut sebagai wali-wali Allah adalah ulama akhirat, bukan ulama dunia.

Sosok wali-wali Allah yang diterima oleh mayoritas penduduk Indonesia adalah sosok Walisongo. Walisongo adalah para pembela dan penegak agama Allah swt. Mereka adalah utusan dakwah khilafah 'utsmaniyyah. Mereka adalah para pengemban dakwah Islam Kâffah. Dan mereka sampai akhir hayatnya tidak berhenti dari aktifitas dakwah menuju penerapan syariat Islam dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Berdirinya banyak kesultanan Islam di Nusantara adalah bukti sejarah yang tidak terbantahkan.

Wallahu A'lam Bishshawwab


Selasa, 19 April 2016

MENGENAL CINTA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

CINTA ITU ADA DUA
Cinta itu terbagih menjadi dua; cinta sebagai indikasi dari naluri seksual dan cinta sebagai indikasi dari eksistensi iman.

CINTA PERTAMA
Pertama; Cinta sebagai indikasi dari naluri seksual (gharizatunnauw’).
Cinta jenis ini bukan cinta hakiki yang abadi, karena terkatagori sebagai syahwat terhadap lawan jenis, seperti cintanya laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya. Oleh karenanya, cinta jenis ini bukan cinta hakiki yang abadi (cinta sejati), karena sama halnya dengan benci dan marah sebagai indikasi dari naluri hidup atau naluri mempertahankan diri (gharizatulbaqa’), dan seperti menghormat dan mengkultuskan sebagai indikasi dari naluri beragama (gharizatuttadayyun), juga seperti syahwat kepada makanan dan minuman sebagai indikasi dari kebutuhan jasmani (al-haajat al-‘udlawiyyah), dimana baik naluri maupun kebutuhan jasmani semuanya adalah potensi kehidupan manusia sebagai makhluk ter-indah.

Meskipun cinta jenis ini bukan cinta hakiki yang abadi, tetapi bisa dijadikan sarana untuk menuju cinta hakiki yang abadi. Yaitu dengan memenuhinya (melampiaskannya) sesuai tuntunan Allah swt dan Rasulullah saw, yakni sesuai syariat (agama) Islam. Jadi ketika laki-laki dan perempuan sudah saling menyintai, maka keduanya harus memenuhinya dengan menikah secara syar’iy lalu menjalani kehidupan pasutrinya sesuai syariat Islam. Maka cinta yang telah dipenuhi dengan cara syar’iy bisa menjadi cinta hakiki dan abadi, karena akan berlajut pada kehidupan akhirat yang hakiki dan abadi, yaitu kehidupan pasutri di surga nanti. Akan tetapi ketika keduanya memenuhi cintanya tidak sesuai tuntunan syariat Islam seperti dengan berzina, maka cinta itu hanyalah syahwat dan pemenuhan syahwat, yang hanya lewat dan menjadi kenangan buruk, seperti halnya makan dan minum hanya lewat, masuk sebagai barang yang suci dan keluar sebagai barang najis.

Kenangan buruk jenis ini tidak akan hilang dari ingatan, dari dunia sampai akhirat, karena pada hari kiamat kelak semua perbuatan manusia, dari yang sekecil dzarroh (atom) sampai yang terbesar sekalipun, semuanya akan diperlihatkan dan akan dipertanggungjawabkan. Meskipun setelah berzina, keduanya menikah secara syar’iy, maka tetap saja menjadi kenangan buruk, bahkan bisa menjadi presiden buruk bagi kehidupan pasutri selanjutnya, yaitu akan menjadi sarana syetan untuk membisikkan kepada keduanya. Syetan berkata kepada si perempuan: “Suamimu telah keluar rumah. Dulu kan suamimu pernah berzina dengan kamu yang dicintainya. Padahal dia belum berpengalaman. Apakah sekarang kamu yakin bahwa dia tidak berzina dengan selain kamu. Setelah dia berpengalaman?”, juga syetan berkata kepada laki-lakinya dengan perkataan yang sama. Karena mengulangi itu lebih mudah dari memulai. Dan bisikan syetan seperti itu bukan hal yang mustahil, karena memang sudah profesinya. Maka saudara dan saudariku semua berhati-hatilah dengan cinta jenis ini.

Jadi cinta jenis ini adalah laksana api yang bisa dipakai untuk hal-hal yang negatif juga bisa untuk hal-hal yang positif. Cinta jenis ini bisa mengantarkan ke neraka dan bisa pula mengantarkan ke surga, tergantung bagaimana kita memposisikannya. Manusia telah diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya, karena disamping postur tubuhnya yang indah, juga Allah telah melengkapinya dengan potensi kehidupan dimana didalamnya terdapat cinta.
Allah swt berfirman:
ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺃَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮِﻳْﻢٍ، ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَﺩْﻧَﺎﻩُ ﺃَﺳْﻔَﻞَ ﺳَﺎﻓِﻠِﻴْﻦَ، ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻓَﻠَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮٌ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﻤْﻨُﻮْﻥٍ .
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. QS at-Tiin[95]: 4-6.

Dan firman-Nya:
ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳَﺮَﻩُ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺷَﺮًّﺍ ﻳَﺮَﻩُ .
Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. QS az-Zalzalah[99]: 7-8.

CINTA KEDUA
Kedua; cinta sebagai indikasi dari eksistensi iman.
Cinta jenis ini adalah cinta hakiki (sejati) yang abadi, dan hukumnya adalah wajib (fardlu) atas kaum muslim Aswaja. Yaitu cinta seorang hamba kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Cintanya hamba kepada Allah dan Rasul-Nya itu bukan karena keduanya memiliki wajah ganteng atau tampan, kerena disamping hamba itu belum melihat wajah keduanya, juga cinta berdasar wajah ganteng dan tampan itu tergolong cinta jenis pertama, yaitu cinta syahwat sebagai indikasi dari naluri seksual. Jadi ketika seorang hamba mencintai Allah dan Rasul-Nya hanya karena ganteng dan tampan wajahnya, maka ia terjerumus kedalam cinta yang dilarang. Ketika hamba itu laki-laki, maka ia tergolong seorang hamo. Sedang kalau hamba itu perempuan yang belum bersuami, maka cintanya adalah syahwat semata, tetapi ketika ia sudah bersuami, maka disamping syahwat, juga tergolong cinta selingkuh, yakni cinta segi tiga. Ini terkait cinta kepada Rasul-Nya saja bagi orang yang telah melihatnya meskipun dalam mimpi.

Oleh karena itu, terkait cinta jenis kedua ini, al-Azhariy berkata:
ﻣَﺤَﺒَّﺔُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪِ ﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﺗَﻌْﻨِﻲ ﻃَﺎﻋَﺘَﻪُ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻭَﺍﺗِّﺒَﺎﻋَﻪُ ﺃَﻣْﺮَﻫُﻤَﺎ .
“Cintanya hamba kepada Allah dan Rasul-Nya itu berarti taatnya hamba kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengikuti perintah keduanya”.

Dan al-Badlawiy berkata:
ﺍَﻟْﻤَﺤَﺒَﺔُ ﺇِﺭَﺍﺩَﺓُ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ .
“Cinta adalah kehendak untuk taat (kepada yang dicintai)”.

Dan Ibnu Arofah berkata:
ﺍَﻟْﻤَﺤَﺒَّﺔُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏِ ﺇِﺭَﺍﺩَﺓُ ﺍﻟﺸَّﻴْﺊِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺼْﺪٍ ﻟَﻪُ .
“Cinta miturut orang Arab ialah menghendaki sesuatu dengan menuju kepadanya”.

Dan az-Zajaj berkata:
ﻭَﻣَﺤَﺒَّﺔُ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻃَﺎﻋَﺘُﻪُ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻭَﺭِﺿَﺎﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﺑِﻪِ ﻭَﺁﺗَﻰ ﺑِﻪِ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ .
“Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya ialah taatnya kepada keduanya, dan ridlanya kepada perkara yang telah diperintahkan-Nya dan telah dibawa oleh Rasul-Nya saw”.

Dengan demikian, arti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah taat dan mengikutinya, bukan yang digambarkan oleh sebagian orang yang menjurus kepada karakter kaum homo.

Dalam hal cinta hakiki yang abadi ini, Allah swt berfirman:
ﻗُﻞْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮْﻧِﻲ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ، ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻏَﻔُﻮْﺭٌ ﺭَﺣِﻴْﻢٌ .
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, QS Ali Imron[3]: 31.

Allah swt mengabarkan jika kamu mencintai-Nya, maka kamu harus mengikuti Rasul-Nya. Sedangkan Rasulullah saw diutus oleh Allah swt hanya untuk menyampaikan agama-Nya kepada makhluk-Nya, yaitu dengan menyeru kepada mereka agar beribadah kepada-Nya semata, dengan pengertian ibadah yang luas. Konotasinya, kalau kamu benar-benar mencintai Allah, maka kamu harus menerima dan melaksanakan syariat (agama)-Nya yang telah dibawa oleh Rasul-Nya saw.

Dengan demikian, cinta ini menjadi cinta hakiki yang abadi, karena dengannya cinta dan ampunan dari Allah swt dapat diraih di akhirat kelak, yaitu pahala, rahmat dan ridla-Nya di surga-Nya yang abadi, dan inilah arti cintanya Allah kepada hamba-Nya. Ayat di atas juga telah memeberikan mafhum bahwa mencintai Allah swt itu harus sejalan dengan mencintai Rasul-Nya saw, dengan arti taat dan mengikutinya.

DALIL WAJIBNYA MENCINTAI ALLAH DAN RASULNYA

Dalil-dalil wajibnya mencintai Allah swt dan Rasul-Nya saw:
Allah swt berfirman:
ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﺨِﺬُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ ﻳُﺤِﺒُّﻮْﻧَﻬُﻢْ ﻛَﺤُﺐِّ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺃَﺷَﺪُّ ﺣُﺒًّﺎ ﻟﻠﻪِ ...
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah…”. QS Al-Baqaroh[2]: 165.

Dan Allah swt berfirman:
ﻗُﻞْ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺁﺑَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻭَﺃَﺑْﻨَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻭَﺇِﺧْﻮَﺍﻧُﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﻭَﻋَﺸِﻴْﺮَﺗُﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻣْﻮَﺍﻝُ ﺍﻗْﺘَﺮَﻓْﺘُﻤُﻮْﻫَﺎ ﻭَﺗِﺠَﺎﺭَﺓٌ ﺗَﺨْﺸَﻮْﻥَ ﻛَﺴَﺎﺩَﻫَﺎ ﻭَﻣَﺴَﺎﻛِﻦُ ﺗَﺮْﺿَﻮْﻧَﻬَﺎ ﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻭَﺟِﻬَﺎﺩٍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴْﻠِﻪِ ﻓَﺘَﺮَﺑَّﺼُﻮْﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻩِ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘِﻴْﻦَ .
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, istri-istri kamu, kaum keluarga kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. QS at-Taubah[9]: 24.

Dan Rasulullah saw bersabda:
ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﻋَﺒْﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻛُﻮْﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻭَﻣَﺎﻟِﻪِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ .
“Seorang hamba tidak dinamakan beriman sampai aku lebih dicintai kepadanya daripada keluarganya, hartanya dan manusia semuanya”. HR Bukhari dan Muslim dari Anas ra.

Dan beliau saw bersabda:
ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﻦْ ﻛُﻦَّ ﻓِﻴْﻪِ ﻭَﺟَﺪَ ﺣَﻠَﺎﻭَﺓَ ﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥِ : ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﺳِﻮَﺍﻫُﻤَﺎ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺤِﺐَّ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀَ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻟﻠﻪِ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻜْﺮَﻩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻌُﻮْﺩَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺬَﻑَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ .
“Tiga karakter yang siapa saja memilikinya, maka ia menemukan manisnya iman; Hamba yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lainnya, hamba yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan hamba yang membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilemparkan ke dalam api”. HR Bukhari dan Muslim dari Anas ra.

Dan hadits berikut :
ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺳَﺄَﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺘَّﻰ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻣَﺎﺫَﺍ ﺃَﻋْﺪَﺩْﺕَ ﻟَﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﺎ ﺷَﻴْﺊَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧِّﻲ ﺃُﺣِﺐُّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺃَﻧْﺖَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ...
Sesungguhnya ada seorang laki-laki berrtanya kepada Nabi saw tentang kiamat, ia berkata: “Kapankah kiamat itu?”, beliau bersabda: “Apa yang telah kamu persiapkan untuknya?”, ia berkata: “Tidak ada sesuatupun, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya”, lalu beliau bersabda: “Kamu bersama orang yang kamu cintai”.

Dan Abdullah bin Hisyam berkata: “Kami pernah besama Nabi saw, sedang beliau memegang tangan Umar bin Khaththab, lalu Umar berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya engka lebih aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku”, lalu Nabi saw bersabda:
ﻟَﺎ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑِﻴَﺪِّﻩِ، ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻛُﻮْﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻚَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻋُﻤَﺮُ : ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺍَﻟْﺂﻥَ، ﻭَﺍﻟﻠﻪِ ﻟَﺄَﻧْﺖَ ﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻲَّ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻲ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍَﻟْﺂﻥَ ﻳَﺎ ﻋُﻤَﺮُ !
“Tidak, demi Tuhan yang diriku berada pada Tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu.” Lalu Umar berkata: “Maka sesungguhnya sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku.” Lalu Nabi saw bersabda: “Baru sekarang, wahai Umar”. HR Bukhari.

Imam Nawawi rh terkait makna cinta kepada Rasulullah saw dalam syarah muslim telah mengutif dari Abi Sulaiman al-Khaththabi riwayat:
ﻟَﺎ ﺗَﺼْﺪُﻕُ ﻓِﻲ ﺣُﺒِّﻲ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﻔْﻨِﻲَ ﻓِﻲ ﻃَﺎﻋَﺘِﻲ ﻧَﻔْﺴَﻚَ، ﻭَﺗُﺆْﺛِﺮَ ﺭِﺿَﺎﻱَ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﻮَﺍﻙَ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻴْﻪِ ﻫَﻠَﺎﻛُﻚَ .
“Kamu tidak benar dalam mencintaiku sampai kamu merusak diri kamu untuk taat kepadaku, dan memilih ridlaku atas kesenanganmu, meskipun dirimu rusak karenanya”.

AKHIR KALAM :

Sesungguhnya cinta hakiki (sejati) yang abadi adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu taat dan mengikuti Allah dan Rasul-Nya, yakni mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan syariat-Nya, yaitu syariat yang telah dibawa oleh Rasul-Nya saw.

Kaum Aswaja, para ulama Aswaja, dan para wali Aswaja, dari para sahabat, para taabi’in dan pengikut mereka sampai hari ini, bahkan sampai menjelang hari kiamat, mereka semua sangat mencintai Allah swt dan Rasul-Nya saw. Sehingga karena cintanya itu, mereka berani kehilangan segala-galanya; orang tuanya, anaknya, istrinya, saudaranya, hartanya, perniagaannya sampai rumahnya. Mereka bersabar berpisah dengan semuanya. Sampai-sampai saking cintanya kepada Allah swt dan Rasul-Nya, mereka berani mengorbankan semuanya. Bukan berarti mereka berbuat zalim terhadap diri dan keluarganya, sebagaimana sangkaan sebagian orang, tetapi mereka terzalimi oleh orang-orang yang zalim sampai kehilangan semuanya, ya hanya karena sangat menyintai Allah dan Rasul-Nya.

Wahai saudara/i ku semua, bisakah anda memberikan cintanya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya? Kalau tidak sanggup, maka janganlah menyalahkan orang-orang yang benar-benar menyintai Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu a'lam ...