Rabu, 09 Maret 2016

NAMA-NAMA LAIN BAGI AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Konotasi ASWAJA adalah orang (siapa saja) yang meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan sunnah Nabi saw dan sunnah para sahabatnya, ini juga ditunjukkan oleh sejumlah hadis yang membicarakan nama-nama lain dari ASWAJA yang di antaranya sebagai berikut:

1- Thaifah Zhahirah (Kelompok Pembela Hak, Bukan Pembela HAM). Mengenai mereka Nabi saw bersabda:
ﻻَ ﺗَﺰَﺍﻝُ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻇَﺎﻫِﺮِﻳْﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻘُﻮْﻡَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ : ﺻﺤﻴﺢ.
"Tidak henti-hentinya kelompok dari umatku membela hak sampai datang hari Kiamat". HR Hakim. Imam Suyuthi berkata: “Hadis ini sahih”.

Dan sabdanya:
ﻻَ ﺗَﺰَﺍﻝُ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻇَﺎﻫِﺮِﻳْﻦَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺗِﻴَﻬُﻢْ ﺃَﻣْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻫُﻢْ ﻇَﺎﻫِﺮُﻭْﻥَ . ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
"Tidak henti-hentinya kelompok dari umatku membela hak sampai datang kepada mereka perkara Allah (Kiamat) sedang mereka dalam kondisi membela hak". HR Bukhari dan Muslim.

2- Thaifah Qawwamah (Kelompok Penegak Hak, Bukan Penegak HAM). Mengenai mereka Nabi saw bersabda:
ﻻَ ﺗَﺰَﺍﻝُ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻗَﻮَّﺍﻣَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻻَ ﻳَﻀُﺮُّﻫَﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺎﻟَﻔَﻬَﺎ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ : ﺻﺤﻴﺢ .
"Tidak henti-hentinya kelompok dari umatku menegakkan agama Allah, tidak membahayakan pada mereka, orang-orang yang menyalahinya". HR Ibnu Majah telah disahihkan oleh Imam Suyuhti.

3- Al-Ghuraba' (Kelompok Yang Terasingkan, Bukan Yang Mayoritas). Mengenai mereka Nabi saw bersabda:
ﺑَﺪَﺃَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻼَﻡُ ﻏَﺮِﻳْﺒﺎً ﻭَﺳَﻴَﻌُﻮْﺩُ ﻏَﺮِﻳْﺒﺎً ﻓَﻄُﻮْﺑَﻲ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
"Islam mulai datang dalam kondisi asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan". HR Muslim dari Abu Hurairah ra.

Dan hadits :
ﻭﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝَ : ﻗﺎﻝَ ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺑَﺪَﺃَ ﻏَﺮِﻳْﺒﺎً ﻭَﺳَﻴَﻌُﻮْﺩُ ﻏَﺮِﻳْﺒﺎً ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺪَﺃَ
ﻓَﻄُﻮْﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ . ﻗِﻴْﻞَ : ﻭَﻣَﻦِ ﺍﻟْﻐُﺮَﺑَﺎﺀُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺍَﻟﻨَّﺰَّﺍﻉُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﺒَﺎﺋِﻞِ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ ﻭﺍﻟﺒﺰﺍﺭ ﻭﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﻠﻔﻆ ﻟﻪ .
Dan dari Abdullah Ibn Mas'ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Islam telah memulai dalam kondisi asing dan akan kembali asing sebagaimana semula, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan". Dikatakan: "Siapakah kelompok yang terasingkan itu?". Beliau bersabda: "Para pendatang dari berbagai kabilah". HR Darimi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Bazar, Abu Ya'la dan Ahmad, sedang lafadznya milik Ahmad rh.

Dan hadits :
ﻭﻋﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﻣﻠﺤﺔ ﺍﻟﻤﺰﻧﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ ﺑَﺪَﺃَ ﻏَﺮِﻳْﺒﺎً ﻭَﻳَﺮْﺟِﻊُ ﻏَﺮِِﻳْﺒﺎً ﻓَﻄُﻮْﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳُﺼْﻠِﺤُﻮْﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﻣِﻦْ ﺳُﻨَّﺘِﻲ . ﻭﻓﻰ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ : ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻳَﺎﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﻟْﻐُﺮَﺑَﺎﺀُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺍَﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳُﺼْﻠِﺤُﻮْﻥَ ﻋِﻨْﺪَ ﻓَﺴَﺎﺩِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ . ﻭﻓﻰ ﺍﻷﻭﺳﻂ ﻭﺍﻟﺼﻐﻴﺮ : ﻳُﺼْﻠِﺤُﻮْﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﺴَﺪَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ .
Dan dari 'Amer Bin 'Auf Bin Zaid Bin Malhah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya agama Islam telah memulai dengan kondisi asing dan akan kembali menjadi asing, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan, yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan setelah (wafat) ku terhadap sunnahku yang telah dirusak oleh manusia". Dalam riwayat Thabarani dalam kitab Kabirnya: Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulallah, siapakah kelompok yang terasingkan itu?", beliau bersabda: "Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia rusak". Dalam kitabnya Ausath dan Shagiir memakai redaksi: "Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak".

Dan hadits :
ﻭﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝَ : ﻛُﻨْﺖُ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻣﺎً ﻭَﻃَﻠََﻌَﺖِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ... ﻃُﻮْﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ
ﻃُﻮْﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ . ﻗِﻴْﻞَ : ﻭَﻣَﻦِ ﺍﻟْﻐُﺮَﺑَﺎﺀُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﺎﺱٌ ﺻَﺎﻟِﺤُﻮْﻥَ ﻗﻠﻴﻞٌ ﻓِﻲ ﻧَﺎﺱٍ ﺳُﻮْﺀٍ ﻛَﺜِﻴْﺮٍ ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺼِﻴْﻬِﻢْ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﻣِﻤَﻦْ ﻳُﻄِﻴْﻌُﻬُﻢْ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ
Dan dari Abdullah Ibn 'Amer ra berkata: "Pada suatu hari aku berada di sisi Rasulullah saw sedang Matahari telah terbit lalu beliau bersabda: " … berbahagialah kelompok yang terasingkan, berbahagialah kelompok yang terasingkan". Dikatakan: "Siapakah mereka wahai Rasulallah?”, beliau bersabda: "Orang-orang shalih yang minoritas di tengah-tengah orang-orang buruk yang mayoritas, yang membangkan terhadap mereka itu lebih banyak daripada yang menurut kepada mereka". HR Ahmad dan Thabarani.

Juga terkait karakter 'Al-Ghuroba' , Nabi saw bersabda:
ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺃﺭْﺣْﺎﻡٌ ﻳَﺘَﻮَﺍﺻَﻠُﻮْﻥَ ﺑِﻬَﺎ ﻟﻠﻪِ ﻭَﻻَ ﺩُﻧْﻴﺎً ﻳَﺘَﺒَﺎﺫﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻬَﺎ ﻳَﺘَﺤَﺎﺑُّﻮْﻥَ ﺑﺮَﻭْﺡِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺻﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
"Diantara mereka tidak ada ikatan rahim (kerabat) dimana mereka saling menyambungnya karena Allah, tidak ada pula harta dunia dimana mereka saling memberikannya, mereka saling mencintai dengan rauhillahi swt", yakni dengan syariat Allah swt, yakni sesuatu yang menjadi ikatan diantara mereka hanyalah idiologi Islam, tidak ada ikatan lain, baik ikatan nasab atau kerabat, dan tidak pula ada ikatan kepentingan atau manfaat duniawi.

Nabi saw juga bersabda:
ﻫُﻢْ ﺟِﻤَﺎﻉٌ ﻣِﻦْ ﻧَﻮَﺍﺯِﻉِ ﺍﻟْﻘَﺒَﺎﺋِﻞِ ﻳَﺠْﺘَﻤِﻌُﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓَﻴَﻨْﺘَﻘَﻮْﻥَ ﺃَﻃَﺎﻳِﺐَ ﺍﻟْﻜَﻼَﻡِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻨْﺘَﻘِﻲ ﺁﻛِﻞُ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮِ ﺃَﻃَﺎﻳِﺒَﻪُ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻋﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﻋﺒﺴﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
"Mereka adalah gabungan dari para pendatang dari berbagai kabilah, mereka bergabung atas dasar dzikrullah (syariat Allah) ta’ala, lalu mereka mengambili perkataan yang baik-baik, sebagaimana pemakan buah mengambil yang baik-baiknya". HR Thabarani dari Amer Ibn Abasah ra.

Ijtimaa' 'alaa dzikrillahi (bergabung atas dasar dzikrullah) itu tidak sama dengan Ijtimaa' lidzikrillahi (bergabung untuk berdzikir kepada Allah). konotasi pertama adalah bahwa dzikrullah (syariat Allah) itu menjadi ikatan diantara mereka, baik mereka duduk-duduk bersama atau berpisah. Sedangkan yang kedua, yaitu bergabung untuk berdzikir kepada Allah itu bisa selesai dengan selesainya berdzikir.

Dan Nabi saw juga bersabda:
ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺘَﺤَﺎﺑُّﻮْﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﺷَﺘًّﻰ ﻭَﺑِﻼَﺩٍ ﺷَﺘًّﻰ ﻳَﺠْﺘَﻤِﻌُﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﺭﺩﺍﺀ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
"Mereka saling mencintai karena Allah, mereka itu gabungan dari berbagai kabilah dan dari berbagai negeri (transnasional), mereka bergabung atas dasar dzikrullah (syariat Allah) ta’ala". HR Thabarani dari Abi Darda' ra.

Hadis-hadis yang membicarakan tiga kelompok di atas sebagai nama lain dari ASWAJA, semuanya membicarakan bahwa mereka di samping meyakini dan mempraktekkan sunah Nabi saw dan sunah para sahabatnya, mereka juga memperjuangkannya. Oleh karena itu mereka juga dinamai Ahlul Hak, karena pembelaannya terhadap hak, yakni sunah Nabi saw dan para sahabatnya, seperti kata Al-Jurjani di atas. Dan oleh karena itu juga, mereka dinamakan dengan
Firqah Najiyah (Kelompok Yang Selamat). Yakni bahwa ASWAJA adalah mereka yang pada hari kiamat, ketika melintasi Jembatan Yang Lurus ( as-shirath al-mustaqim) mereka selamat ( najiyah), yakni tidak tergelincir dan terjatuh ke dalam neraka Jahanam. Bukan yang tergelincir dan terjatuh ke dalam neraka lalu diselamatkan ( manjiyah / munajjah ).

Sedangkan mereka yang pada hari kiamat ketika melewati “Jembatan Yang Lurus” tidak tergelincir dan tidak pula terjatuh ke dalam neraka itu bertingkat-tingkat sesuai kadar iman dan amalnya ketika hidup di dunia:

Nabi saw bersabda :
ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻳَﺮِﺩُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳَﺼْﺪُﺭُﻭْﻥَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺑِﺄَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﻴﺬﻱ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ .
Rasululloh SAW bersabda: “Manusia semuanya datang (ke Jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam) kemudian mereka keluar dari padanya sesuai amal perbuatan mereka”.

Dan hadits :
ﻭﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻳَﺮِﺩُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ، ﻭَﻭُﺭُﻭْﺩُﻫُﻢْ ﻗِﻴَﺎﻣُﻬُﻢْ ﺣَﻮْﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺼْﺪُﺭُﻭْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺑِﺄَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ، ﻓَﻤِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﺮُّ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟْﺒَﺮْﻕِ، ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﺮُّ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟﺮِّﻳْﺢِ، ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﺮُّ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮِ، ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﺮُّ ﻛَﺄَﺟْﻮَﺩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ، ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﺮُّ ﻛَﺄَﺟْﻮَﺩِ ﺍﻟْﺈِﺑِﻞِ، ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﺮُّ ﻛَﻌَﺪْﻭِ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ، ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻥَّ ﺁﺧِﺮَﻫُﻢْ ﻣَﺮّﺍً ﺭَﺟُﻞٌ ﻧُﻮْﺭُﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻮْﺿِﻊِ ﺇِﺑْﻬَﺎﻣَﻲ ﻗَﺪَﻣَﻴْﻪِ ﻳَﻤُﺮُّ ﻓَﻴَﺘَﻜَﻔَّﺄُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ، ﻭَﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁُ ﺩَﺣْﺾٌ ﻣُﺰِﻟَّﺔٌ، ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺣَﺴْﻚٌ ﻛَﺤَﺴْﻚِ ﺍﻟْﻘَﺘَﺎﺩِ، ﺣَﺎﻓَﺘَﺎﻩُ ﻣَﻶﺋِﻜَﺔٌ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﻛَﻼَﻟِﻴْﺐُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻳَﺨْﺘَﻄِﻔُﻮْﻥَ ﺑِﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ، ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺗَﻤَﺎﻡَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ .
Dari Abdulloh ibnu Mas’ud RA berkata: “Semua manusia sampai ke Jembatan. Mereka berdiri di sekitar neraka. Kemudian mereka keluar dari Jembatan dengan amal perbuatannya. Maka diantara mereka ada yang melintas seperti petir, ada yang melintas seperti angin, ada yang melintas seperti burung, ada yang melintas seperti kuda yang cepat, dan ada yang melintas seperti laki-laki berlari. Sehingga akhir mereka yang melintas adalah laki-laki yang cahayanya berada di tempat kedua ibu jari kakinya. Ia melintas dengan cahaya itu meniti Jembatan. Sedangkan Jembatan itu sangat licin dan menggelincirkan. Di atasnya terdapat duri seperti duri pohon kelampis. Di dua tepinya ada banyak malaikat yang membawa besi-besi dari api yang bengkok dan runcing ujungnya untuk mengaiti manusia”.

Dan hadits :
ﻭَﻓِﻲ ﺩَﻗَﺎﺋِﻖِ ﺍﻟْﺄَﺧْﺒَﺎﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻫْﺐٌ : ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳَﺪْﻋُﻮْ : ﻳَﺎﺭَﺏُّ ﺳَﻠِّﻢْ ﺳَﻠِّﻢْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ... ﻓَﻴَﺮْﻛَﺐُ ﺍﻟْﺨَﻼَﺋِﻖُ ﺍﻟْﺠَﺴْﺮَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﻛَﺐَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ، ﻭَﺍﻟْﺠُﺴُﻮْﺭُ ﺗُﻀْﻄَﺮِﺏُ ﻛَﺎﻟﺴَّﻔِﻴْﻨَﺔِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺮِّﻳْﺢِ ﺍﻟْﻌَﺎﺻِﻒِ، ﻓَﺘَﺠُﻮْﺯُ ﺍﻟْﺰُﻣْﺮَﺓُ ﺍﻟْﺄُﻭْﻟَﻰ ﻛَﺎﻟْﺒَﺮْﻕِ ﺍﻟْﺨَﺎﻃِﻒِ، ﻭَﺍﻟْﺰُﻣْﺮَﺓُ ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔُ ﻛَﺎﻟﺮِّﻳْﺢِ ﺍﻟْﻌَﺎﺻِﻒِ، ﻭَﺍﻟﺰﻣﺮﺓُ ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺜَﺔُ ﻛَﺎﻟﻄَّﻴْﺮِِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻉِ، ﻭﺍﻟﺰﻣﺮﺓُ ﺍﻟﺮَّﺍﺑِﻌَﺔُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺮَﺱِ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺩِ، ﻭﺍﻟﺰﻣﺮﺓُ ﺍﻟﺨﺎﻣِﺴَﺔُ ﻛَﺎﻟﺮَّﺟَﻞِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻉِ، ﻭﺍﻟﺰﻣﺮﺓُ ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺳَﺔُ ﻛَﺎﻟْﻤَﺎﺷِﻴَﺔِ، ﻭﺍﻟﺰﻣﺮﺓُ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻌَﺔُ ﻗَﺪْﺭَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔٍ . ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ : ﻗَﺪْﺭَ ﺷَﻬْﺮَﻳْﻦِ، ﻭَﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ : ﻗَﺪْﺭَ ﺳَﻨَّﺔٍ ﻭَﺳَﻨَّﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺛَﻼَﺙِ ﺳِﻨِّﻴْﻦَ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺯَﻣَﻦُ ﺁﺧِﺮِ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﺮُّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﻗَﺪْﺭَ ﺧَﻤْﺲٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﺳَﻨَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺳِﻨِّﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ .
Dan dalam kitab ‘Daqaiqul Ahbar’ kyai Wahab berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW berdoa: “Wahai Tuhan, Wahai Tuhan selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku …”. Lalu segenap mahluk (manusia dan jin) menaiki Jembatan sampai-sampai sebagian mereka menaiki sebagian yang lain. Sedangkan Jembatan itu bergoyang laksana perahu layar di lautan diterpa angin yang bertiup. Lalu golongan pertama dapat melintas seperti petir menyambar, golongan kedua seperti angin bertiup, golongan ketiga seperti burung yang terbang cepat, golongan keempat seperti kuda yang larinya kencang, golongan kelima seperti laki-laki yang berlari cepat, golongan keenam seperti hewan ternak berjalan, dan golongan ketujuh berjalan kira-kira sehari semalam. Sebagian ulama berkata: “Kira-kira dua bulan”. Dan sebagian yang lain berkata: “Kira-kira setahun, dua tahun, atau tiga tahun”. Sehingga masanya orang yang terakhir melintasi Jembatan adalah kira-kira dua puluh lima ribu tahun, dari tahun-tahun dunia”.

Sedangkan mereka yang tergelincir dan terjatuh ke dalam neraka Jahanam kemudian diselamatkan (dikeluarkan), maka mereka itu tidak termasuk ASWAJA, karena seperti pada hadis di atas bahwa ASWAJA adalah kelompok yang selamat ( firqah najiyah), bukan kelompok yang diselamatkan ( manjuwwah / munajjah ) setelah tercebur ke dalam neraka.

Alloh SWT berfirman:
ﻭَﺇِﻥْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺍﺭِﺩُﻫَﺎ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ ﺣَﺘْﻤًﺎ ﻣَﻘْﻀِﻴًّﺎ، ﺛُﻢَّ ﻧُﻨَﺠِّﻲ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻭَﻧَﺬَﺭُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴْﻦَ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺟِﺜِﻴًّﺎ .
“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”. QS Maryam [19]: 71-72.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata:
ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﺛُﻢَّ ﻧُﻨَﺠِّﻲ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ، ﺃَﻱْ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺮَّ ﺍﻟْﺨَﻠَﺎﺋِﻖُ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺳَﻘَﻂَ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻣَﻦْ ﺳَﻘَﻂَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺻِﻴْﻦَ ﺑِﺤَﺴْﺒِﻬِﻢْ، ﻧَﺠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴْﻦَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺑِﺤَﺴَﺐِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ، ﻓَﺠِﻮَﺍﺯُﻫُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﻭَﺳُﺮْﻋَﺘُﻬُﻢْ ﺑِﻘَﺪْﺭِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ .
“Firman Alloh SWT (Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa), yakni ketika semua makhluk telah melintas di atas neraka dan telah terjatuh kedalamnya orang-orang yang terjatuh, yakni semua orang kafir dan yang maksiat, maka Alloh ta’ala menyelamatkan orang-orang yang beriman dan bertakwa dari neraka, sesuai amal perbuatannya. Jadi melintasnya mereka di atas Jembatan dan kecepatannya itu sesuai kadar amalnya ketika di dunia .

Jadi ASWAJA adalah orang yang selamat, yakni tidak tergelincir dan terjatuh ke neraka Jahannam, ketika melintasi Jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam, dimana awalnya adalah padang mahsyar dan akhirnya adalah halaman surga. Dengan demikian hakikat ASWAJA itu tidak dapat diketahui, karena merupakan perkara ghaib yang akan terjadi setelah kiamat kelak. Akan tetapi indikasinya dapat diketahui, yaitu orang / siapa saja yang ketika hidup di dunia berada di atas Jalan Yang Lurus ( al-Shirath al-Mustaqim ), yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah ( shirathal ladziina an’amta ‘alaihim ), bukan jalannya orang Yahudi yang mendapat murka Allah ( ghairil maghdluubi), dan bukan jalannya orang Nasrani yang tersesat ( waladldlaaliin).

Dan disamakan dengan jalannya orang Yahudi dan orang Nasrani adalah jalannya orang musyrik, munafiq dan ahli bid’ah. Jalannya orang Yahudi dan orang Nasrani itu tercermin dalam ideologi kapitalisme dan ideologi komunisme dengan seperangkat ide dan sistem yang memancar dari keduanya, seperti liberalisme, libertinisme, demokrasi, HAM, pluralisme, sinkretisme, dialog antar agama, doa bersama lintas agama, sosialisme dan nasionalisme. Maka, bukan tergolong ASWAJA, orang / siapa saja yang meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan kedua ideologi di atas, meskipun ia mengklaim paling Aswaja. Sedang Jalan Yang Lurus itu tercermin dalam ideologi Islam dengan seperangkat ide dan sistem yang memancar daripadanya, dimana semuanya adalah Islami, seperti sistem pemerintahan Islam ( khilafah), sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan Islam, dan seterusnya.

Dan tidak termasuk ASWAJA, orang / siapa saja yang menolak diterapkannya syariat Islam secara sempurna (total) melalui penegakkan daulah khilafah dan mengangkat seorang khalifah bagi seluruh kaum muslim di dunia, karena hukum-hukum Islam yang terkait dengan jinayat, hudud dll. tidak dapat diterapkan tanpa khilafah dan khalifah yang sah secara syar’iy. Padahal menerapkan hukum-hukum tersebut adalah wajib/ fardlu atas kaum muslim, dimana kewajiban/ kefardluannya termasuk mujma’ ‘alaihi (disepakati oleh semua ulama ASWAJA). Ini bisa dilihat dan dimuthala’ah pada semua kitab fiqih dari semua madzhab, kecuali fiqih sampah kaum liberal yang tidak memiliki nilai sedikitpun.

Juga tidak termasuk ASWAJA, orang/ siapa saja yang merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi terhadap para pengemban dakwah menuju tegaknya daulah khilafah dan khalifah untuk menerapkan syariat Islam secara sempurna (dalam hal ini saya telah menulis tiga buku: Nasihat Untuk Himasal…, Ketika Virus Liberal Menggerogoti Pondok Pesantren… dan Membongkar Pemikiran Aswaja Topeng…), karena Allah swt berfirman:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﻔْﺘَﺮِﻱ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮْﻥَ ﺑِﺂﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭَﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﺫِﺑُﻮْﻥَ .
"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang yang pendusta". QS An-Nahel ayat 105.

Dan Nabi saw bersabda:
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﻛَﻔَﻰ ﺑِﺎﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻛِﺬْﺑﺎً ﺃَﻥْ ﻳُﺤَﺪِّﺙَ ﺑِﻜُﻞِّ ﻣَﺎ ﺳَﻤِﻊَ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ .
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda:"Sudah cukup bagi kebohongan seseorang menceritakan setiap ucapan yang telah didengarnya".

Dan Allah swt berfirman:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳُﺆْﺫُﻭْﻥَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﺍﻛْﺘَﺴَﺒُﻮْﺍ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺣْﺘَﻤَﻠُﻮْﺍ ﺑُﻬْﺘَﺎﻧًﺎ ﻭَﺇِﺛْﻤًﺎ ﻣُﺒِﻴْﻨًﺎ .
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata".QS Al-Ahzab ayat 58.

Dan firman Alloh swt :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻓَﺘَﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳَﺘُﻮْﺑُﻮْﺍ ﻓَﻠَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏُ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏُ ﺍﻟْﺤَﺮِﻳْﻖِ .
"Sesungguhnya orang-orang yang telah memitnah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar". Al-Buruj ayat 10.

Jadi mereka itu tidak termasuk ASWAJA, karena amalnya adalah amal ahli neraka, kecuali kalau mereka bertaubat dengan taubat nashuha, sebelum ajalnya datang.

0 komentar:

Posting Komentar