Sabtu, 05 Maret 2016

MENDUDUKAN MAKNA HADITS HUDZAIFAH BIN YAMAN (terkait kebaikan dan keburukan)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Bukan orang munafik, ketika mau berhenti dari perbuatan melawan dakwah menuju penerapan syariah Islam secara sempurna melalui jalan penegakkan khilafah. Segala cara dan sarana dipakai dan digunakan untuk menggagalkan, memperlambat, atau sekedar mengganggu terhadap dakwah yang gaungnya menyamai kecepatan cahaya, bahkan mengalahkannya. Sebagai contohnya, gaung akan berdirinya khilafah di Suriyah begitu cepat sehingga hanya dalam hitungan detik mampu menyelimuti seluruh permukaan dunia, baik dunia maya maupun dunia nyata. Padahal kaum kuffar dengan bantuan kaum munafik terus berupaya dengan segala cara dan sarana yang mereka miliki untuk menangkal dan menyembunyikan gaung tersebut, bahkan untuk merubah vokal dan volumenya dari positif menjadi negatif atau dari plus menjadi minus. Diantara cara dan sarana yang dipakai oleh mereka, adalah hadits Hudzaifah yang dipakai untuk menolak dan menyalahkan kelompok pengemban dakwah kepada syariah dan khilafah, yaitu dengan membalik mafhumnya dari plus dakwah menjadi minus dakwah, atau dari pro dakwah menjadi kontra dakwah. Oleh karenanya, saya menganggap penting untuk mendudukkan makna yang sebenarnya.

Hadits dimaksud adalah:
ﻋﻦ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﻤﺎﻥ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮْﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ، ﻭَﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ، ﻣَﺨَﺎﻓَﺔَ ﺃَﻥْ ﻳُﺪْﺭِﻛَﻨِﻲ . ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ، ﺇِﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻓِﻲ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٍ ﻭَﺷَﺮٍّ ، ﻓَﺠَﺂﺀَﻧَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ، ﻓَﻬَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮٍّ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻭَﻫَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ ، ﻭَﻓِﻴْﻪِ ﺩُﺧَﻦٌ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻭَﻣَﺎ ﺩُﺧَﻨُﻪُ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﻮْﻡٌ ﻳَﻬْﺪُﻭْﻥَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻫَﺪْﻳِﻲ ، ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺗُﻨْﻜِﺮُ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﻬَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮٍّ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ ، ﺩُﻋَﺎﺓٌ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻣَﻦْ ﺃَﺟَﺎﺑَﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻗَﺬَﻓُﻮْﻩُ ﻓِﻴْﻬَﺎ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻِﻔْﻬُﻢْ ﻟَﻨَﺎ . ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﺟِﻠْﺪَﺗِﻨَﺎ ﻭَﻳَﺘَﻜَﻠَّﻤُﻮْﻥَ ﺑِﺄَﻟْﺴِﻨَﺘِﻨَﺎ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧِﻲ ﺇِﻥْ ﺃَﺩْﺭَﻛَﻨِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺗَﻠْﺰَﻡُ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺇِﻣَﺎﻣَﻬُﻢْ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻭَﻻَ ﺇِﻣَﺎﻡٌ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺎﻋْﺘَﺰِﻝْ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻔِﺮَﻕَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥْ ﺗَﻌَﺾَّ ﺑِﺄَﺻْﻞِ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺪْﺭِﻛَﻚَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ! ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ .
"Hudzaifah bin al-Yaman ra berkata: “Orang-orang sama bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir menjumpaiku. Aku berkata: "Ya Rasulullah, dulu kami hidup dalam kejahiliahan dan keburukan, lalu Allah memberikan kebaikan kepada kami, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?". Beliau bersabda: "Ya !". Aku berkata: "Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?". Beliau bersabda: "Ya, tetapi ada dakhonnya". Aku berkata: "Apa dakhonnya?". Beliau menjawab: "Kaum yang memberi petunjuk, tidak dengan petunjukku, kamu mengenal mereka dan mengingkarinya!". Aku bertanya: "Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?". Beliau bersabda: "Ya, yaitu orang-orang yang menyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa saja orang yang menerima seruan mereka, maka mereka melemparkannya ke Jahannam!". Aku berkata: "Tunjukilah kami karakter mereka". Lalu beliau bersabda: "Kulit mereka sama dengan kulit kita, dan mereka juga berbicara dengan bahasa kita!". Aku berkata: "Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku ketika keburukan itu menjumpaiku?". Beliau bersabda: "Kamu harus mengikuti Jama’ah kaum Muslim serta Imam mereka!". Aku bertanya: "Lalu apabila mereka tidak memiliki Jama’ah dan tidak pula memiliki Imam?". Beliau bersabda: "Tinggalkanlah semua firqoh-firqoh (kelompok yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam) itu, meskipun kamu harus menggigit (memakan) akar pohon, sampai ajal menjemputmu dan kamu tetap seperti itu!". HR Bukhari [7084] dan Muslim [4890].

RENTETAN KRONOLOGI HADITS

Dan untuk memudahkan pemahaman terhadap makna hadits, perlu saya kemukakan delapan rentetan kronologi serta pendapat ulama terkait maksudnya, sebagai berikut:

Pertama, Hudzaifah bin al-Yaman ra berkata: “Orang-orang sama bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir menjumpaiku”.

Kedua, Aku berkata: "Ya Rasulullah, dulu kami hidup dalam kejahiliahan dan keburukan, lalu Allah memberikan kebaikan kepada kami, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?". Beliau bersabda: "Ya !".
Maksud perkataan Hudzaifah, “dulu kami hidup dalam kejahiliahan dan keburukan”, ialah kekufuran sebelum Islam, saling membunuh dan saling merampok di antara manusia, dan mengerjakan berbagai perbuatan keji dan hina. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 20/89).
Maksud perkataan Hudzaifah, “lalu Allah memberikan kebaikan kepada kami”, yakni kebaikan iman, aman, tentram, dan menjauhi berbagai perbuatan keji dan hina. (ibid).
Maksud perkataan Hudzaifah, “apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”, yakni keburukan berupa fitnah yang terjadi setelah terbunuhnya ‘Utsman bin Affan dan seterusnya.

Ketiga, Aku berkata: "Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?". Beliau bersabda: "Ya, tetapi ada dakhonnya".
Maksud sabda Nabi SAW, "Ya, tetapi ada dakhonnya". Dakhon adalah dendam (al-hiqd), atau rusaknya hati (fasad fi al-qalb). Maksudnya, kebaikan yang datang setelah keburukan itu bukan kebaikan murni, tetapi mengandung keruh. Atau yang dimaksud dengan dakhon adalah dukhon (asap) yang berarti keruhnya kondisi. Atau dakhon berarti setiap perkara yang dibenci. Atau sesuatu yang terjadi pada masa khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz. Atau persatuan yang terjadi antara Ali dan Muawiyah. (ibid).

Keempat, Aku berkata: "Apa dakhonnya?". Beliau menjawab: "Kaum yang memberi petunjuk, tidak dengan petunjukku, kamu mengenal mereka dan mengingkarinya!".
Maksud sabda Nabi SAW, "Kaum yang memberi petunjuk, tidak dengan petunjukku”.

Dalam riwayat Abul Aswad, Nabi SAW bersabda:
" ﻳَﻜُﻮﻥ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃَﺋِﻤَّﺔ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ ﺑِﻬُﺪَﺍﻱَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﻨُّﻮﻥَ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ " .
“Setelahku akan ada para imam yang mengikuti petunjukku, tetapi tidak mengikuti sunnahku”. (ibid).

Maksud sabda Nabi SAW, “kamu mengenal mereka dan mengingkarinya!". Yakni mengenal dan mengingkari amal perbuatan mereka.

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Ummu Salamah, Nabi SAW bersabda:
" ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﻧْﻜَﺮَ ﺑَﺮِﺉَ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺮِﻩَ ﺳَﻠِﻢَ " .
“Barang siapa yang mengingkari (perbuatannya), maka ia bebas, dan barang siapa yang membenci (perbuatannya), maka ia selamat”.

Atau yang dimaksud dengan mereka adalah para khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz. Karena diantara mereka ada khalifah yang berpegang teguh dengan sunnah dan berlaku adil, dan ada khalifah yang menyeru kepada bid’ah dan berlaku zalim. (ibid).

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Kebaikan setelah keburukan, adalah perkara yang terjadi pada masa Umar bin Abdul Aziz. Sedang perkara yang dikenal dan diinkari dari mereka adalah para umara setelah Umar bin Abdul Aziz, karena diantara mereka ada amir yang menyeru kepada bid’ah atau dhalal seperti kelompok Khawarij dan yang lainnya”. (‘Umdah al-Qori Syarh Shahih al-Bukhari, 24/166).

Al-Karmani berkata: “Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan keburukan pertama adalah kejadian pada masa Utsman ra, yang dimaksud dengan kebaikan setelahnya adalah kejadian pada masa khilafah Ali ra, yang dimaksud dengan dakhon adalah kelompok Khawarij, dan yang dimaksud dengan keburukan setelahnya adalah orang-orang yang melaknat Ali ra di atas minbar-minbar”. (Umdah al-Qori, 24/194).

Kelima, Aku bertanya: "Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?". Beliau bersabda: "Ya, yaitu orang-orang yang menyeru kepada pintu-pintu Jahannam, siapa saja orang yang menerima seruan mereka, maka mereka melemparkannya ke Jahannam!".

Maksud sabda Nabi SAW, "orang-orang yang menyeru kepada pintu-pintu Jahannam". Yakni menyeru kepada selain haqq, sehingga akibatnya akan kembali ke neraka Jahanam, sebagaimana dikatakan kepada orang yang menyuruh mengerjakan perkara haram, ia berdiri di tepi Jahannam. Atau orang-orang yang menuntut kekuasaan, dari kelompok Khawarij dll. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 20/89).

Keenam, Aku berkata: "Tunjukilah kami karakter mereka". Lalu beliau bersabda: "Kulit mereka sama dengan kulit kita, dan mereka juga berbicara dengan bahasa kita!".
Maksud sabda Nabi SAW, "Kulit mereka sama dengan kulit kita, dan mereka juga berbicara dengan bahasa kita!". Yakni, mereka itu dari golongan kita, dan dari bahasa dan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka itu dari orang Arab. Yakni lahir mereka mengikuti agama kita, sedang bathin mereka menyalahi agama kita.

Dalam riwayat Abul Aswad, Nabi SAW bersabda:
" ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺭِﺟَﺎﻝ ﻗُﻠُﻮﺑﻬﻢْ ﻗُﻠُﻮﺏ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦ ﻓِﻲ ﺟُﺜْﻤَﺎﻥ ﺇِﻧْﺲ "
“Pada mereka ada laki-laki yang hatinya hati syetan, sedang tubuhnya tubuh manusia”. (ibid).

Ketujuh, Aku berkata: "Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku ketika keburukan itu menjumpaiku?". Beliau bersabda: "Kamu harus mengikuti Jama’ah kaum Muslim serta Imam mereka!".

Maksud sabda Nabi SAW, "Kamu harus mengikuti Jama’ah kaum Muslim serta Imam mereka!".

Dalam riwayat Abul Aswad ada tambahan:
" ﺗَﺴْﻤَﻊ ﻭَﺗُﻄِﻴﻊ ﻭَﺇِﻥْ ﺿَﺮَﺏَ ﻇَﻬْﺮَﻙ ﻭَﺃَﺧَﺬَ ﻣَﺎﻟَﻚ "
“Kamu mendengar dan taat, meskipun imam memukul pundakmu dan mengambil hartamu”.

Juga dalam riwayat Thabroni dari Khalid bin Subai’ ada tambahan:
" ﻓَﺈِﻥْ ﺭَﺃَﻳْﺖ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔ ﻓَﺎﻟْﺰَﻣْﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺿَﺮَﺏَ ﻇَﻬْﺮﻙ ، ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔ ﻓَﺎﻟْﻬَﺮَﺏ " .
“Apabila kamu melihat khalifah, maka ikutilah, meskipun dia memukul pundakmu. Lalu kalau tidak ada khalifah, maka larilah”.

Kedelapan, Aku bertanya: "Lalu apabila mereka tidak memiliki Jama’ah dan tidak pula memiliki Imam?". Beliau bersabda: "Tinggalkanlah semua firqoh-firqoh (kelompok yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam) itu, meskipun kamu harus menggigit (memakan) akar pohon, sampai ajal menjemputmu dan kamu tetap seperti itu!".

Maksud sabda Nabi SAW, “meskipun kamu harus menggigit (memakan) akar pohon”. Yakni meskipun meninggalkan semua firqah itu dengan menggigit akar pohon, maka kamu jangan berpaling darinya.

Dalam riwayat Ibnu Majah dari Abdurrohman bin Qurth dari Hudzaifah, Nabi SAW bersabda:
" ﻓَﻠَﺄَﻥْ ﺗَﻤُﻮﺕ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻋَﺎﺽّ ﻋَﻠَﻰ ﺟِﺬْﻝ ﺧَﻴْﺮ ﻟَﻚ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﺗَﺘَّﺒِﻊ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ "
“Sesungguhnya apabila kamu mati dalam kondisi menggigit pohon, itu lebih baik bagimu daripada mengikuti salah seorang dari mereka (para penyeru ke pintu-pintu Jahannam)”.

Ini adalah kinayah (metonimi) dari mengikuti Jama’ah kaum Muslim dan taat kepada para penguasanya, meskipun mereka melakukan maksiat.

MAKNA HADITS

Di bawah adalah berbagi pernyataan ulama mengenai makna hadits, terkait urutan kronologi hadits kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan:
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺒَﻴْﻀَﺎﻭِﻱّ : ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻚ ﺑِﺎﻟْﻌُﺰْﻟَﺔِ ﻭَﺍﻟﺼَّﺒْﺮ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﺤَﻤُّﻞ ﺷِﺪَّﺓ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥ ، ﻭَﻋَﺾّ ﺃَﺻْﻞ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮَﺓ ﻛِﻨَﺎﻳَﺔ ﻋَﻦْ ﻣُﻜَﺎﺑَﺪَﺓ ﺍﻟْﻤَﺸَﻘَّﺔ ﻛَﻘَﻮْﻟِﻬِﻢْ ﻓُﻠَﺎﻥ ﻳَﻌَﺾّ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓ ﻣِﻦْ ﺷِﺪَّﺓ ﺍﻟْﺄَﻟَﻢ ، ﺃَﻭْ ﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩ ﺍﻟﻠُّﺰُﻭﻡ ﻛَﻘَﻮْﻟِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﺍﻟْﺂﺧَﺮ " ﻋَﻀُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﺟِﺬِ " ﻭَﻳُﺆَﻳِّﺪ ﺍﻟْﺄَﻭَّﻝ ﻗَﻮْﻟﻪ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﺍﻟْﺂﺧَﺮ " ﻓَﺈِﻥْ ﻣُﺖّ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻋَﺎﺽّ ﻋَﻠَﻰ ﺟِﺬْﻝ ﺧَﻴْﺮ ﻟَﻚ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﺗَﺘَّﺒِﻊ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ "
Al-Baidhowi berkata: “Makna hadits, ketika di dunia tidak ada khalifah, maka kamu harus uzlah (meninggalkan semua kelompok yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam) dan bersabar memikul kesulitan zaman. Sedang menggigit pangkal pohon adalah kinayah dari memikul kesulitan, seperti ungkapan orang Arab, si pulan menggigit batu, ketika ia menahan sakit. Atau yang dimaksud adalah mengikuti Jama’ah kaum Muslim dan imamnya, sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadits lain, “’Adhdhuu ‘alaihaa bin nawaajidz” (gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham). Dan termasuk mengokohkan makna pertama, adalah sabda Nabi SAW dalam hadits yang lain, “Sesungguhnya apabila kamu mati dalam kondisi menggigit pohon, adalah lebih baik bagimu daripada mengikuti salah seorang dari mereka (para penyeru ke pintu-pintu Jahannam)”. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 20/89).

Dan pernyataan:
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍِﺑْﻦ ﺑَﻄَّﺎﻝ : ﻓِﻴﻪِ ﺣُﺠَّﺔ ﻟِﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﺏ ﻟُﺰُﻭﻡ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻭَﺗَﺮْﻙ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺋِﻤَّﺔ ﺍﻟْﺠَﻮْﺭ .
Ibnu Baththol berkata: “Hadits itu menjadi hujah bagi Jama’ah fuqoha atas wajibnya mengikuti Jama’ah kaum Muslim dan larangan memberontak terhadap para imam yang zalim”. (ibid).

Dan pernyataan:
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻄَّﺒَﺮِﻱُّ : ﺍُﺧْﺘُﻠِﻒَ ﻓِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻗَﻮْﻡ : ﻫُﻮَ ﻟِﻠْﻮُﺟُﻮﺏِ ﻭَﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﺍﻟﺴَّﻮَﺍﺩ ﺍﻟْﺄَﻋْﻈَﻢ ، ﺛُﻢَّ ﺳَﺎﻕَ ﻋَﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪ ﺑْﻦ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩ ﺃَﻧَّﻪُ ﻭَﺻَّﻰ ﻣَﻦْ ﺳَﺄَﻟَﻪُ ﻟَﻤَّﺎ ﻗُﺘِﻞَ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥ " ﻋَﻠَﻴْﻚ ﺑِﺎﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟِﻴَﺠْﻤَﻊَ ﺃُﻣَّﺔ ﻣُﺤَﻤَّﺪ ﻋَﻠَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔ " . ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻗَﻮْﻡ : ﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩ ﺑِﺎﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔ ﺩُﻭﻥَ ﻣَﻦْ ﺑَﻌْﺪَﻫُﻢْ ، ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻗَﻮْﻡ : ﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩ ﺑِﻬِﻢْ ﺃَﻫْﻞ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪ ﺟَﻌَﻠَﻬُﻢْ ﺣُﺠَّﺔ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﺗَﺒَﻊ ﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ .
Ath-Thobari berkata: “Terdapat perselisihan mengenai perintah mengikuti Jama’ah dan mengenai Jama’ah. Ada kelompok berkata: “Perintah itu adalah perintah wajib, sedang Jama’ahnya adalah Sawad A’zhom (golongan terbesar). Kemudian mereka mendatangkan hadits dari Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud, bahwa ia wasiat kepada orang yang menanyainya ketika terbunuhnya Utsman, “Ikutilah Jama’ah, karena Allah tidak mengumpulkan umat Muhammad atas kesesatan”. Ada kelompok lain berkata: “Yang dimaksud dengan Jama’ah adalah Jama’ah Sahabat, bukan orang-orang setelah Sahabat”. Dan ada kelompok lain berkata: “Yang dimaksud dengan Jama’ah adalah ahlul ilmi (ulama), karena Alloh menjadikan mereka sebagai hujah atas makhluk(Nya), sedangkan manusia mengikuti mereka dalam urusan agama”. (ibid).

Dan pernyataan:
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻄَّﺒَﺮِﻱُّ : ﻭَﺍﻟﺼَّﻮَﺍﺏ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺨَﺒَﺮ ﻟُﺰُﻭﻡ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻓِﻲ ﻃَﺎﻋَﺔ ﻣَﻦْ ﺍِﺟْﺘَﻤَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﺄْﻣِﻴﺮﻩ ، ﻓَﻤَﻦْ ﻧَﻜَﺚَ ﺑَﻴْﻌَﺘَﻪُ ﺧَﺮَﺝَ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﺘَﻰ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻣَﺎﻡ ﻓَﺎﻓْﺘَﺮَﻕَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﺃَﺣْﺰَﺍﺑًﺎ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﺘَّﺒِﻊ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺔ ﻭَﻳَﻌْﺘَﺰِﻝ ﺍﻟْﺠَﻤِﻴﻊ ﺇِﻥْ ﺍِﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﺫَﻟِﻚَ ﺧَﺸْﻴَﺔَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻮُﻗُﻮﻉ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺮّ .
Ath-Thobari berkata: “Yang benar, bahwa yang dimaksud oleh hadits, adalah mengikuti Jama’ah yang taat kepada orang yang mereka telah sepakat menjadikannya sebagai amir (khalifah). Dan barang siapa yang merusak bai’atnya, maka ia telah keluar dari Jama’ah”. Ath-Thobari berkata: “Pada hadits, bahwa ketika manusia tidak memiliki imam tunggal, lalu mereka terpecah-belah menjadi beberapa partai, maka janganlah mengikuti seorangpun dalam perpecahan, dan jauhilah semuanya, apabila mampu, karena takut terjerumus dalam keburukan”. (ibid).

Syiakh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:
ﻓﺈﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺻﺮﻳﺢ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻳﺄﻣﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺑﺄﻥ ﻳَﻠﺰﻡ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺇﻥ ﻳَﻠﺰﻡ ﺇﻣﺎﻣﻬﻢ ، ﻭﻳﺘﺮﻙ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺟﻬﻨﻢ . ﻓﺴﺄﻟﻪ ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﻣﺎﻡ ﻭﻻ ﻟﻬﻢ ﺟﻤﺎﻋﺔ ، ﻣﺎﺫﺍ ﻳﺼﻨﻊ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﺪﻋﺎﺓ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺟﻬﻨﻢ ، ﻓﺤﻴﻨﺌﺬ ﺃﻣﺮﻩ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﺰﻝ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺮﻕ ، ﻻ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﺰﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻻ ﺃﻥ ﻳﻘﻌﺪ ﻋﻦ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺇﻣﺎﻡ . ﻓﺄﻣْﺮﻩ ﺻﺮﻳﺢ ‏( ﻓﺎﻋﺘﺰِﻝ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﻛﻠﻬﺎ ‏) ، ﻭﺑﺎﻟَﻎ ﻓﻲ ﻭﺻﻒ ﺍﻋﺘﺰﺍﻟﻪ ﻟﺘﻠﻚ ﺍﻟﻔِﺮﻕ ﺇﻟﻰ ﺩﺭﺟﺔ ﺃﻧﻪ ﻭﻟﻮ ﺑﻠﻎ ﺍﻋﺘﺰﺍﻟﻪ ﺇﻟﻰ ﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻌﺾ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﻞ ﺷﺠﺮﺓ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﺭﻛﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻙ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻔِﺮﻕ ﺍﻟﺘﻲ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺟﻬﻨﻢ ، ﻭﻣﻌﻨﺎﻩ ﺗﻤﺴَّﻚ ﺑﺪﻳﻨﻚ ﻭﺑﺎﻟﺒﻌﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ ﺍﻟﻤﻀﻠﻴﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺟﻬﻨﻢ .
“Hadits ini sangat jelas, bahwa Rasulullah SAW menyuruh seorang Muslim agar terikat dengan Jama’ah dan imam kaum Muslim, dan meninggalkan para penyeru yang berada di pintu-pintu Jahannam. Lalu seseorang bertanya kepada Nabi SAW, ketika kaum Muslim tidak memiliki imam dan Jama’ah, apa yang ia kerjakan sehubungan dengan para penyeru yang ada di pintu-pintu Jahannam? Ketika itu, Rasulullah SAW menyuruhnya agar menjauhi semua kelompok tersebut, tidak menyuruh menjauhi kaum Muslim, dan tidak menyuruh berdiam diri dari menegakkan imam. Perintahnya itu sangat jelas, “Jauhilah semua firqah (kelompok) itu”, dan sangat kuat menyifati menjauhi kelompok-kelompok tersebut, meskipun sampai pada batas menggigit pangkal pohon sampai ajal menjemputnya dalam kondisi menjauhi kelompok-kelompok yang ada di pintu-pintu Jahannam. Arti hadits itu, “Berpeganglah dengan agamamu, dan menjauhlah dari para penyeru yang menyesatkan yang berada di pintu-pintu Jahanam!”. (Taqiyyuddin an-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 2, hal. 13-14).

MAKNA HADITS SESUAI KONDISI KEKINIAN

Kesimpulan dari rentetan empat kronologi hadits terakhir di atas, bahwasannya akan ada para penyeru ke pintu-pintu Jahannam, dimana siapa saja yang menerima seruan mereka, maka mereka akan melemparkannya ke Jahannam. Kulit mereka sama dengan kulit kita, dan mereka juga berbicara dengan bahasa kita. Dalam kondisi ini Nabi SAW memerintahkan kepada seorang Muslim agar mengikuti Jama’ah kaum Muslim serta Imamnya. Dan ketika tidak ada Jama’ah dan tidak pula ada Imamnya, maka Nabi SAW memerintahkan seorang Muslim agar meninggalkan semua firqoh (kelompok) yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam itu, meskipun ia harus menggigit (memakan) akar pohon, sampai ajal menjemputnya dalam kondisi seperti itu.

Dan dengan menelaah delapan rentetan kronologi hadits beserta pernyataan ulama terkait maksud satu persatunya, maka saya berasumsi kuat, bahwa hadits Hudzaifah ini adalah hadits terkait urusan politik, terkait sistem pemerintahan, terkait petunjuk dan sunnah Nabi SAW dalam sistem pemerintahan, dan terkait fitnah, bid’ah, dan kesesatan dalam sistem pemerintahan. Jadi para penyeru yang berada di pintu-pintu neraka Jahannam adalah para penguasa, para politikus, dan para ulama salathin atau ulama suu’ yang bekerja untuk mengokohkan sistem pemerintahan yang bid’ah, yang sesat dan yang menjadi fitnah terhadap Islam dan kaum Muslim. Yaitu sistem pemerintahan theokrasi (kerajaan) seperti Arab Saudi, komunis-sosialis-marxis dan demokrasi-kapitalis-sekular. Sedangkan hakekat sistem demokrasi Pancasila adalah gabungan dari dua sistem terakhir. Ini bisa dilihat dari lebih dominannya pemikiran sekular dan sosialis yang melindungi dan menjaga Pancasila. Para propagandis sekular dan sosialis juga saling melengkapi dalam menolak masuknya ideologi Islam ke wilayah NKRI untuk bersaing dengan ideologi Pancasila.

Asumsi ini dikokohkan oleh pernyataan ulama terkait hadits Hudzaifah sebagai berikut:
ﺃﻻ ﺗﺮﻯ ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺻﻒ ﺃﺋﻤﺔ ﺯﻣﺎﻥ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ‏« ﺩﻋﺎﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺟﻬﻨﻢ ﻣﻦ ﺃﺟﺎﺑﻬﻢ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻗﺬﻓﻮﻩ ﻓﻴﻬﺎ ‏» ﻓﻮﺻﻔﻬﻢ ﺑﺎﻟﺠﻮﺭ ﻭﺍﻟﺒﺎﻃﻞ ﻭﺍﻟﺨﻼﻑ ﻟﺴﻨﺘﻪ؛ ﻷﻧﻬﻢ ﻻ ﻳﻜﻮﻧﻮﻥ ﺩُﻋﺎﺓً ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺟﻬﻨﻢ ﺇﻻ ﻭﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺿﻼﻝ .
“Bukankah anda melihat bahwa Nabi SAW menyifati para imam firqah di zaman yang buruk, beliau bersabda: “Orang-orang yang menyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa saja orang yang menerima seruan mereka, maka mereka melemparkannya ke Jahannam". Nabi menyifati mereka dengan zalim, batil, dan menyalahi sunnahnya, karena mereka tidak akan menjadi para penyeru di pintu-pintu Jahannam, kecuali ketika mereka berada di atas kesesatan. (Syarh Ibnu Baththal, 19/39).

Nabi SAW tidak menentukan siapa para imam firqah itu dan berapa jumlahnya, di mana tempat mereka dan pada tahun berapa itu terjadi. Akan tetapi Nabi SAW hanya menjelaskan sifat yang bisa diterapkan kepada setiap imam (pemimpin) yang menyeru kaum Muslim ke pintu-pintu Jahannam, yaitu zalim, batil, meninggalkan sunnah, bid’ah dan sesat, karena sifat-sifat inilah yang bisa menjerumuskan kaum Muslim ke neraka Jahannam. Dan Nabi SAW telah menentukan dua kondisi yang menyertainya, yaitu kondisi ketika adanya Jama’ah kaum Muslim beserta Imamnya, dan kondisi ketika tiadanya Jama’ah kaum Muslim beserta Imamnya. Kondisi pertama terjadi ketika kaum Muslim masih memiliki seorang khalifah, sedang kondisi kedua adalah ketika kaum Muslim tidak lagi memiliki seorang khalifah seperti saat ini. Nabi SAW juga telah menjelaskan dua solusi terkait dua kondisi itu, yaitu mengikuti Jama’ah kaum Muslim serta imamnya, dan meninggalkan semua firqah serta imamnya yang menyeru di pintu-pintu Jahannam.

Jadi sifat, kondisi dan solusi yang telah dijelaskan oleh Nabi SAW itu bisa berlaku sepanjang zaman, selagi masih ada kaum Muslim, karena ketakwaan, amal shaleh dan akhlak setiap Muslim itu dituntut sepanjang zaman.

Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda:
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺫﺭ ﻭ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ، ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : " ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﻴﺜﻤﺎ ﻛﻨﺖ ، ﻭﺃﺗﺒﻊ ﺍﻟﺴﻴﺌﺔ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﺗﻤﺤﻬﺎ ، ﻭﺧﺎﻟﻖ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺨﻠﻖ ﺣﺴﻦ " ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ .
“Dari Abu Dzarr dan Mu’adz bin Jabal ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Takwalah kepada Alloh di manapun kamu berada, hapus dan gantilah keburukan dengan kebaikan, dan kontaklah manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik”. HR Tirmidzi dan beliau berkata: Hadits Hasan Shahih. (Syarh al-Arba’in al-Nawawi, 1/18).

Hadits di atas menuntut tiga perkara dari setiap muslim: Pertama, agar bertakwa kepada Alloh di manapun ia berada, yakni di tempat dan zaman manapun ia berada. Ini berarti ketakwaan setiap muslim dituntut sepanjang zaman. Kedua, agar menghapus keburukan dan menggantikannya dengan kebaikan. Ketiga, agar berinteraksi dengan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik.

Sedang khuluq yang baik, adalah seperti kata Aisyah ra:
ﻭَﻗَﺎﻟَﺖْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ : ﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺨَﻠَّﻖَ ﺑِﺄَﻭَﺍﻣِﺮِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺃَﻭْ ﻧَﻮَﺍﻫِﻴﻪِ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺧُﻠُﻘًﺎ .
Dan Aisyah ra berkata: “Khuluqnya Nabi SAW adalah Alqur’an. Dan siapa saja yang berkhuluq dengan perintah-perintah Alqur’an atau dengan larangan-larangannya, maka ia adalah manusia yang paling baik khuluqnya”. (Lihat: al-Muntaqa’ Syarh al-Muwatha’, 4/292).
ﻋﻦ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ : " ﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘﻪ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥ ، ﻳَﻐْﻀَﺐ ﻟِﻐَﻀَﺒِﻪِ ﻭَﻳَﺮْﺿَﻰ ﻟِﺮِﺿَﺎﻩُ " .
Dan Aisyah berkata: “Khuluqnya Nabi adalah Alqur’an, beliau marah karena marahnya Alqur’an dan senang karena senangnya Alqur’an”. HR Muslim. (Lihat: Ibnu Hajar, Fathul Bari, 10/367).

Jadi ketakwaan setiap muslim kepada Alloh itu harus dilanjutkan dengan menghapus keburukan dan menggantinya dengan kebaikan, dan menjadikan Alqur’an sebagai standar final bagi keburukan dan kebaikan, juga standar bagi interaksi dengan seluruh manusia.

Sedangkan untuk realita saat ini, maka hanya tersisa satu kondisi, yaitu kondisi ketika tidak adanya Jama’ah kaum Muslim beserta Imamnya, yakni kondisi ketika kaum Muslim tidak lagi memiliki seorang khalifah seperti saat ini. Dan satu solusi, yaitu meninggalkan semua firqah serta imamnya yang menyeru di pintu-pintu Jahannam.

Meninggalkan semua firqah serta imamnya yang menyeru di pintu-pintu Jahannam, kalimat ini adalah inti hadits Hudzaifah. Sedang inti hadits Abu Dzarr dan Mu’adz bin Jabal di atas, adalah bertakwa kepada Alloh di manapun ia berada, yakni di tempat dan zaman manapun ia berada, menghapus keburukan dan menggantikannya dengan kebaikan, dan berinteraksi dengan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik, yaitu Alqur’an. Dengan demikian, disamping setiap muslim harus meninggalkan semua firqah yang menyeru di pintu-pintu Jahannam, juga harus tetap berdakwah (berjuang) kepada penerapan syariah secara total dengan jalan menegakkan khilafah, sehingga akan terwujud kembali Jama’ah kaum muslim yang berada di bawah komando Imam Tunggal, yaitu Khalifah.

Dengan demikian, hadits Hudzaifah yang berbicara tentang pemerintahan seperti di atas, tidak bertabrakan, bahkan semakna dengan Sabda Nabi SAW dalam hadits ‘Irbadh bin Sariah berikut:
ﺃﻭﺻﻴﻜﻢ ﺑﺘﻘﻮﻯ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻭﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻟﻄﺎﻋﺔ، ﻭﺇﻥ ﺗﺄﻣﺮ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻋﺒﺪ، ﻓﺈﻧﻪ ﻣﻦ ﻳﻌﺶ ﻣﻨﻜﻢ ﻓﺴﻴﺮﻯ ﺍﺧﺘﻼﻓﺎً ﻛﺜﻴﺮﺍً . ﻓﻌﻠﻴﻜﻢ ﺑﺴﻨﺘﻲ ﻭﺳﻨﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ ﺍﻟﻤﻬﺪﻳﻴﻦ ﻋﻀﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺑﺎﻟﻨﻮﺍﺟﺬ، ﻭﺇﻳﺎﻛﻢ ﻭﻣﺤﺪﺛﺎﺕ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﺈﻥ ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ ." ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻭ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ، ﻭﻗﺎﻝ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ .
"Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah azza wajalla, mendengar dan taat (kepada imam/khalifah), meskipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya, karena siapa saja di antara kalian yang masih diberi hidup panjang, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh (meyakini, mengamalankan dan mendakwahkan) terhadap sunnahku dan sunnah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah segala perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat". HR Imam Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah, dari Irbadh bin Sariyah ra.

Hadits ini sangat jelas memerintahkan kepada kaum muslim agar mengikuti sunnah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra), yaitu sunnah dalam sistem politik Islam, sunnah dalam sistem pemerintahan Islam, yaitu sistem khilafah. Dan sangat jelas melarang mengikuti bid’ah-bid’ah, yaitu bid’ah dalam politik, dan bid’ah dalam sistem pemerintahan, yaitu setiap politik dan sistem pemerintahan selain khilafah.

AKHIR KATA:

Siapa saja yang memahami makna Hadits Hudzaifah, hadits Abu Dzarr dan Mu’adz bin Jabal, dan hadits Irbadh bin Sariyah, maka ia akan golput dari semua partai politik demokrasi-sekular dan komunis-sosialis yang ada saat ini, dimana semuanya menolak formalisasi syariah Islam untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara, karena hadits Hudzaifah menyuruh menjauhi semua firqah yang menyeru di pintu-pintu Jahannam. Dan akan bergabung dengan Hizbut Tahrir (partai pembebasan) yang berdakwah untuk menerapkan syariah Islam secara total melalui penegakkan khilafah rosyidah, karena hadits Abu Dzarr dan Mu’adz bin Jabal menyuruh untuk bertakwa, beramal saleh dan berinteraksi dengan semua manusia sesuai standar Alqur’an, dan ditempat manapun, juga di zaman kapanpun, hingga tidak ada lagi kaum muslim yang hidup di dunia (kiamat). Juga hadits Irbadh bin Sariyah menyuruh kaum muslim agar mengikuti dan berpegang teguh kepada sunnah al-Kulafa’ ar-Rosyidin al-Mahdiyyin dan menjauhi semua bid’ah, baik dalam ibadah mahdhah maupun dalam bermasyarakat, berpolitik dan bernegara.

Lebih dari itu, Syaikh al-Mula Ali al-Qari berkata:
ﺗﻠﺰﻡ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻱ ﻃﺮﻳﻘﺘﻬﻢ ﻭﺣﻀﻮﺭ ﺟﻤﻌﺘﻬﻢ ﻭﺟﻤﺎﻋﺘﻬﻢ ﻭﺇﻣﺎﻣﻬﻢ ﺃﻱ ﻭﺭﻋﺎﻳﺔ ﺇﻣﺎﻣﻬﻢ ﻭﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻬﻢ ﻭﻣﺴﺎﻋﺪﺗﻬﻢ ... ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻟﻬﻢ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻱ ﻣﺘﻔﻘﺔ ﻭﻻ ﺇﻣﺎﻡ ﺃﻱ ﺃﻣﻴﺮ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻫﻮ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﻓﻘﺪﻫﻤﺎ ﺃﻭ ﻓﻘﺪ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ... ﻓﺎﻋﺘﺰﻝ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﻛﻠﻬﺎ ﺃﻱ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ ﺍﻟﻮﺍﻗﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻑ ﺍﻟﺠﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ...
“Mengikuti Jama’ah kaum muslim”, artinya mengikuti metode (thariqah) mereka, menghadiri shalat jum’at dan jama’ah mereka. “Dan imam kaum muslim”, artinya memelihara, mengikuti dan menolong imam mereka. “Lalu apabila kaum muslim tidak memiliki Jama’ah”, yakni jama’ah yang sepakat, “dan tidak pula memiliki imam”, yakni pemimpin yang mereka berkumpul kepadanya. Dan mungkin saja kaum muslim tidak memiliki keduanya, atau tidak memiliki salah satunya. “Maka tinggalkanlah semua firqah-firqah itu”, yakni semua firqah yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus dari jalan Ahlussunnah Wal Jama’ah. (Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, 15/342).

Pernyataan Syaikh al-Mula Ali al-Qari, “atau tidak memiliki salah satunya”. Saya berasumsi, ketika kata Jama’ah di gandengkan (di-’athaf-kan) dengan kata Imam, maka yang dimaksud dengan Jama’ah adalah jama’ah yang bersatu dibawah komando Imam, bukan jama’ah-jama’ah yang lain, dan yang dimaksud dengan imam adalah khalifah, bukan imam-imam yang lain. Sehingga satu yang tidak dimiliki oleh kaum muslim hanyalah Imam, karena meskipun mereka tidak memiliki Jama’ah yang bersatu dibawah komando Imam, tetapi mereka masih memiliki Jama’ah yang berjuang untuk mewujudkan Imam, yaitu Jama’ah yang tergabung dalam Hizbut Tahrir. Maka Jama’ah inilah yang harus diikuti oleh kaum muslim. Karena substansi dari Jama’ah yang bersatu dibawah komando Imam dan Jama’ah yang berjuang untuk mewujudkan Imam, adalah sama, yaitu sama-sama Jama’ah yang bertujuan dan berjuang untuk bisa memikul bai’at di pundaknya.

Dalam hal ini, Rasululloh SAW bersabda:
ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻊَ ﻳَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔ ﻟَﻘِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻭَﻟَﺎ ﺣُﺠَّﺔ ﻟَﻪُ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻣَﺎﺕَ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻲ ﻋُﻨُﻘﻪ ﺑَﻴْﻌَﺔ ﻣَﺎﺕَ ﻣِﻴﺘَﺔ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔ
“Barang siapa yang mencabut tangan dari taat (kepada imam), maka ia bertemu Alloh (mati) dalam kondisi tidak memiliki hujah. Dan barang siapa yang mati, sedang di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati jahiliyah”. HR Muslim dari Abdulloh bin Umar.

Dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda:
ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻦْ ﺃَﻣِﻴﺮِﻩِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫَﻪُ، ﻓَﻠْﻴَﺼْﺒِﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﻴْﺲَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻳُﻔَﺎﺭِﻕُ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺷِﺒْﺮًﺍ، ﻓَﻴَﻤُﻮﺕُ ﺇِﻻ ﻣَﺎﺕَ ﻣِﻴﺘَﺔً ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔً
“Barang siapa melihat dari amirnya sesuatu yang ia benci, maka bersabarlah, karena tidak ada seorangpun yang meninggalkan Jama’ah barang sejengkal, lalu ia mati, kecuali ia mati jahiliyah”. HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra.

Dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas:
ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻦْ ﺃَﻣِﻴﺮِﻩِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻳَﻜْﺮَﻫُﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺼْﺒِﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺷِﺒْﺮًﺍ ﻓَﻤَﺎﺕَ ﻓَﻤِﻴﺘَﺔٌ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٌ .
“Barang siapa melihat dari amirnya sesuatu yang ia benci, maka bersabarlah, karena barang siapa meninggalkan Jama’ah barang sejengkal lalu ia mati, maka mati jahiliyah”.
Wallohu a’lam.

Referensi lengkap : al-Maktabah asy-Syaamilah

ORANG SHALEH DAN SHALEHAH TIDAK AKAN BERANI MENOLAK HAQQ DARI SIAPAPUN DATANGNYA, KARENA HAQQ ADALAH MILIK ALLOH DAN DARI ALLOH, UNTUK HAMBA-HAMBANYA YANG MUSLIM, MU’MIN, MUHSIN, DAN YANG SHALEH-SHALEH.

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

0 komentar:

Posting Komentar