Kamis, 31 Maret 2016

ILMU TAUHID ITU APA?

MAKSUD DARI ILMU TAUHID

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Imam Syafi'i RA berkata: "Siapa saja yang menyelami ilmu kalam, maka seakan-akan ia memasuki lautan ketika ombak besar". Lalu dikatakan kepada beliau, "Wahai Aba Abdillah, dia itu menyelami ilmu tauhid". Lalu beliau berkata, "Aku telah bertanya kepada Imam Malik mengenai tauhid, lalu beliau berkata, "Tauhid adalah perkara dimana seorang laki-laki memeluk Islam dengannya, dan menjaga darah dan hartanya dengannya. Yaitu perkataan seorang laki-laki, "Asyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rosulullah/ aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah".
(Almiizaan Alkubro', 1/60, Maktabah Daaru Ihyaail Kutubil Arobiyyah Indonesia).

Ketika yang dikehendaki dgn tauhid adalah sebagaimana yg dikatakan oleh Imam Syafi'i dari Imam Malik gurunya, maka bendera tauhid adalah bendera yang bertuliskan, "laa ilaaha illallah, muhammadur rosulullah" dengan tanpa tambahan pedang atau tulisan yg lainnya. Bendera Islam yg berkibar sejak masa Rosulullah Saw dan para sahabatnya. Dan sekarang bendera tauhid ini dikibarkan oleh Hizbut Tahrir dan lainnya. Bendera tauhid juga adalah bendera khilafah. Bendera Ahlussunnah Waljama'ah. Sebagaimana khilafah adalah negara tauhid dan negara bagi Ahlussunnah Waljama'ah.

Dengan demikian, siapa saja yang menolak dan membenci khilafah serta bendera tauhidnya, maka ke-Ahlussunnah-annya patut dipertanyakan.

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!!!

PEMIMPIN BURUK YANG WAJIB DITAATI

BATASAN PEMIMPIN BURUK YANG WAJIB DIDENGAR DAN DITAATI

Hamba Allah bertanya kepada saya:

Assalaamua'alaikum.wr.wb.

afwan ust. Bagaimana penjelasan ust. Tentang hadits2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻌْﺪِﻱْ ﺃَﺋِﻤَّﺔٌ، ﻻَﻳَﻬْﺘَﺪُﻭْﻥَ ﺑِﻬُﺪَﺍﻱَ، ﻭَﻻَ ﻳَﺴْﺘَﻨُّﻮْﻥَ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲْ، ﻭَﺳَﻴَﻘُﻮْﻡُ ﻓِﻴْﻬِﻢْ ﺭِﺟَﺎﻝٌ، ﻗُﻠُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﻗُﻠُﻮْﺏُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴْﻦِ ﻓِﻲْ ﺟُﺜْﻤَﺎﻥِ ﺇِﻧْﺲٍ . ﻗَﺎﻝَ ‏) ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔُ ‏( : ﻗُﻠْﺖُ : ﻛَﻴْﻒَ
ﺃَﺻْﻨَﻊُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻥْ ﺃَﺩْﺭَﻛْﺖُ ﺫَﻟِﻚَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺗَﺴْﻤَﻊُ ﻭَﺗُﻄِﻴْﻊُ ﻟِﻸَﻣِﻴْﺮِ، ﻭَﺇِﻥْ ﺿُﺮِﺏَ ﻇَﻬْﺮُﻙَ ﻭَﺃُﺧِﺬَ ﻣَﺎﻟُﻚَ، ﻓَﺎﺳْﻤَﻊْ ﻭَﺃَﻃِﻊْ !
“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/ penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang- orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapati/ menjumpainya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah dan taatilah (perintahnya).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al Yaman, 3/1476, no. 1847).

Ada kata dlm hadits, penguasa yg tdk mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah, apakah tdk bisa dibawa kepengertian penguasa sekrg yg tdk mengikuti ajaran Rasul? Mhn penjelasannya, syukron

Jawaban saya :

Wassalamu'alaikum wr wb ...
Perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah dan taatilah (perintahnya)". "Maka dengarkanlah dan taatilah perintahnya".

Padahal dalam banyak hadis beliau Nabi Saw tlh melarang taat kpd makhluk dlm maksiat kpd
Allah. Nabi Saw bersabda: "Tidak ada (wajib) taat kepada orang yang tidak taat kepada Allah". (HR Ahmad dari Anas ra).

"Tidak ada (wajib) taat kepada seseorang dalam maksiat kepada Allah. Taat itu hanya dalam kebaikan (syariah)". (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai dari Ali ra).

"Tidak ada (wajib) taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Alkhaliq (Allah Sang Pencipta)". (HR Ahmad dan Hakim dari Imron dan Hakam bin Amer Alghifari ra).

Itu semua artinya bhw para penguasa yang wajib mendengar dan taat kepadanya masih
memerintah dgn hukum/ sistem Islam, yaitu khilafah. Sedang keburukan dan kezalimannya hanya bersifat pribadi. Sebab kalau tdk, maka Nabi Saw tdk akan memerintahkan mendengar dan taat kepada mereka.

Adapun skrg para penguasa sdh tdk lagi memerintah dgn hukum/sistem Islam. Maka kewajiban
kita adalah mengangkat dan membaiat penguasa yang memerintah dengan hukum/ sistem
Islam, yaitu khalifah dalam sistem khilafah. Bukan presiden dalam sistem demokrasi, dan bukan pula raja dlm sistem monarki. Dan dalil-dalil wajibnya mengangkat dan membaiat khalifah telah banyak dijelaskan di tempat lain.
Wallahu a'lam ...

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!!!

MAQASHID SYARIAH TIDAK AKAN TERWUJUD DALAM DEMOKRASI

MAQASHID SYARI'AH HANYA BISA TERWUJUD DI DALAM DAULAH KHILAFAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Tulisan ini sengaja saya hadiahkan kepada para pejuang demokrasi yang tanpa ragu dan malu mengklaim bahwa maqashid syariah bisa terwujud didalam sistem pemerintahan demokrasi yg katanya berkeadilan dan menyejahterakan. Atau terbentuknya demokrasi berdasarkan prinsip maqashid syariah. Padahal sejatinya klaim mereka hanyalah sekedar klaim tanpa memiliki hujjah dan tanpa fakta/ realita sebagai pendukungnya.

LIMA MACAM MAQASHID SYARIAH

Setidaknya ada lima rumusan tentang Maqashid Syari'ah yang hanya bisa terwujud dalam sistem pemerintahan khilafah. Dan sulit (bahkan mustahil) terwujud dalam sistem demokrasi:

1. Melindungi agama (hifzhud dien). Bisa terwujud dgn menerapkan uqubat terhadap orang murtad dgn dipenggal lehernya, penghina Nabi Saw dan Alqur'an dgn dibunuh, dan penyebar aliran sesat seperti Ahmadiyah juga dgn dibunuh. Dimana semuanya setelah disuruh taubat dan kembali kpd (ajaran) agama yg benar.

2. Melindungi jiwa dan keselamatan fisik. Yaitu dgn menerapkan uqubat berupa qishash seperti pembunuh tanpa haq harus dibunuh atau dikenai diyat 100 ekor unta, dan uqubat jinayat seperti memotong jari dgn mepotong jari atau dikenai diat 10 ekor unta.

3. Melindungi kelangsungan keturunan. Yaitu dgn menerapkan uqubat berupa rajam terhadap pezina muhshan, dan jilid/ dera 100 x terhadap pezina ghairu muhshan, dan uqubat berupa qishash, diat atau takzir terhadap pelaku aborsi dan pembatasan kelahiran (KB).

4. Melindungi akal/ pikiran. Yaitu dgn menerapkan uqubat berupa jilid 80x atau takzir sampai hukum mati terhadap peminum khamer dan sejenisnya, dan para pengedarnya.
5. Melindungi harta benda. Yaitu dgn menerapkan uqubat berupa potong tangan atau takzir sampai hukum mati terhadap pencuri dan koruptor.

Semua jenis uqubat di atas diterangkan secara perinci dalam kitab Nizhamul Uqubat karya Syaikh Taqiyyuddin Annabhani dan kitab2 fikih karya ulama mujtahid lainnya. Maka lihatlah ke sana.

Dari penjelasan singkat di atas, dapat kita pahami bahwa maqashid syariah sangat sulit bahkan mustahil dapat terealisasi/ terwujud di dalam sistem demokrasi yang kafir bin syirik. Karena demokrasi tidak menerapkan sistem uqubat Islam seperti di atas.

Alih-alih menerapkan sistem uqubat, demokrasi justru menolak dan menghalangi bahkan menggugat penerapan sistem uqubat Islam. Oleh karna itu, siapa saja yg mau mewujudkan maqashid syariah di dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka hendaklah ia turut serta dalam perjuangan menegakkan khilafah rosyidah.

SAATNYA CAMPAKKAN DEMOKRASI DAN TEGAKKAN KHILAFAH!

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

DEMOKRASI, SEKALI KUFUR TETAP KUFUR

DENGAN BERBAGAI MACAMNYA DEMOKRASI TETAP KUFUR DAN SYIRIK

Pertanyaan :

Laode Asfin Al Butony

Assalamu'alaikum wr. Wb.
Ustadz adagyang berkata bahwa beda demokrasi di Indonesia dengan demokrasi di Amerika.. dengan alasan demokrasi di Indonesia landasannya Pancasila.. sedangkan Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam (mungkingyang dimasksud nilai-nilainyagyang tidak bertentangan dengan syariat Islam seperti alinea 1 sampai 5 ).. Bagaimana ustadz menanggapi hal ini?
semoga Allah Swt senantiasa memberi RahmatNya kepada anda dan keluarga.. Aamiin...

Jawaban :

Wa'alaikumussalam Wr. Wb. Aamiin.

Dengan berbagai macamnya demokrasi tetap kufur dan syirik. Karena ;

1. Setidaknya ada enam macam demokrasi yang diklaim pernah ada di dunia, demokrasi barat, demokrasi borjuis, demokrasi ekonomi, demokrasi timur, demokrasi rakyat dan demokrasi pancasila. (penjelsan satu persatunya lihat di kamus internasional populer, penerbit Karya Anda Surabaya, ataugyang lainnya, kecuali demokrasi Pancasila).

2. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berlandaskan falsafah Pancasila, adalah demokrasi yang sesuai dengan masyarakat Indonesia. Demokrasi Pancasila adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa, yang ber-Persatuan Indonesia dan ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, serta mewujudkan keadilan sosial badi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi masyarakat yang berdemokrasi Pancasila adalah sebenarnya masyarakat yang Sosialis-Religious. Berbeda dengan sosialis ajaran Marx - Lenin, yang hanya mengejar kebutuhan materi belaka, tetapi anti pada agama, anti ketuhanan. (ibid).

3. Fakta demokrasi. Demokrasi biasa disebut dengan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kalimat ini terlihat indah, tetapi mengandung (menyembunyikan) keburukan yang telah sampai kepada derajat kufur dan syirik. Karena menyembunyikan hukum yang dipraktekkan oleh pemerintah. Apakah dari hukum Allah, ataukah dari hukum thaghut (jahiliyah)? Karena tidak akan pernah ada pemerintahan tanpa hukum yang dipraktekkannya. Dan jenis hukum tersebut telah diketahui dari pilar demokrasi berupa kedaulatan di tangan rakyat. Artinya rakyatlah yang memegang kekuasaan dan menetapkan hukum sesuai selera atau pilihannya. Padahal dalam pandangan Islam hak menentukan dan menetapkan hukum itu milik Allah swt. Adapun ketika ada penerapan hukum Allah yang diterapkan dalam demokrasi, maka hukum itu hanyalah pilihan ketika dipilih, bukan kewajiban yang wajib diterapkan.

4. Terkait Pancasila yang diklaim dari Islam dan tidak bertentangan dengan Islam. Ketika kita menerima dengan klaim ini karena memang didukung dengan sejumlah ayat Alqur'an dari sila ke 1 sampai sila ke 5, maka pertanyaannya, apakah boleh menerapkan semua ayat Alqur'an selain yang dipakai untuk dalil Pancasila? Apakah boleh menerapkan syariat Islam secara total? Karena keimanan kita bukan hanya kepada ayat "qul huwallahu ahad" dalil sila pertama dan seterusnya, tetapi kita wajib mengimani seluruh ayat Alqur'an. Mengimani sebagian ayat serta mengingkari sebagian yang lainnya adalah kufur/ murtad.

5. Terkait Demokrasi Pancasila. Dengan memahami fakta Pancasila yang diklaim dari Islam atau tidak berlawanan dengan Islam, kalau kita taslim, dan dengan memahami fakta demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya, maka kita paham bahwa hakekat Demokrasi Pancasila adalah sekularisasi Pancasila, yakni menjadikan Pancasila untuk menolak penerapan syariah Islam secara total. Dan pada akhirnya Pancasila menjadi sekular dan berlawanan dengan Islam. Dan pada akhirnya pula, negara Indonesia berdiri di atas asas sekular. Inilah jawaban kenapa liberalisme, kapitalisme, sosialisme, demokrasi, HAM, pluralisme, singkretisme, dll. bebas masuk dan mengatur kehidupan, masyarakat dan negara Indonesia. Nah kalau demikian yang salah itu demokrasinya atau Pancasilanya? Dan yang menjadi asas negara ini akidah sekularisme atau Pancasila?

Dari beberapa poin penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa asas Pancasila itu sangat rapuh sehingga begitu mudah bagi penjajah memasukkan demokrasi-sekular kedalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara dengan asas Pancasilanya, bahkan asas sekularisme lebih dominan (dari asas Pancasila). Jadi kesaktian Pancasila hanya sekedar slogan yang dipertahankan.

Dan dari pemaparan di atas pula, menjadi nyata bahwa demokrasi dengan berbagai macamnya tetaplah demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya, dan demokrasi tetaplah demokrasi yang kufur dan syirik. Dan Pancasila yang saktipun telah dikalahkn oleh demokrasi dengan akidah sekularismenya.

Oleh karenanya, siapa sajagyang fanatik degn Pancasila dan ingin menghidupkan dan menerapkan Pancasila, maka tinggalkan demokrasi, bunuh dan kubur demokrasi, dan tegakkan khilafah. Karena khilafah itu bagian dari Islam dan tidak berlawanan dengan Islam, juga Pancasila diklaim bagian dari Islam dan tidak berlawanan dengan Islam. Maka Khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam pasti akan menerapkan Pancasila dan syariat Islam yang lainnya secara sempurna. Karena hukum-hukum Islam itu satu sama lainnya saling mengokohkan, tidak saling bertabrakan. 

Wallahu a'lam ...

SAATNYA TINGGALKAN DEMOKRASI DAN TEGAKKAN KHILAFAH!

#DemokrasiWarisanPenjajah #DemokrasiSistemKufur #KhilafahAjaranIslam #KhilafahAjaranAhlussunnah #KhilafahAjaranAswaja #ReturnTheKhilafah

Sabtu, 26 Maret 2016

MEWUJUDKAN ISLAM RAHMATAN LIL'ALAMIN

Syariah dan Khilafah : Mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin

(hizbut-tahrir.or.id) ‘Selamatkan Bangsa Melalui Gerakan Rahmatan Lil Alamin‘, demikian tema utama saat Harlah NU ke-82 di Stadion Gelora Bung Karno, Ahad (3/2). Acara yang dipadati oleh warga NU ini memang menjadikan Islam rahmatan  lil Alamin sebagai tema penting  Harlah NU.Tentu saja kita sepakat dengan itu. Memang benar Islam merupakan rahmatan lil alamin, rahmat bagi semua. Namun, kita juga khawatir kalau Islam rahmatan lil alamin hanya sekedar retorika politik  yang tidak terwujud dalam kenyataannya. Karena itu penting bagi kita untuk menjawab bagaimana cara mewujudkan Islam sehingga benar-benar menjadi rahmat bagi semua.

Syekh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Asy Syakhsiyah al Islamiyah jilid III (halaman 365), menjelaskan seluruh syariat Islam yang datang merupakan rahmat bagi hamba-Nya. Lebih lanjut beliau menjelaskan rahmat tersebut merupakan natiijah (hasil) dari penerapan syariah Islam. Karena itu, rahmatan  lil alamin bukanlah illat yang menjadi perkara yang memunculkan hukum. Hal senada terdapat  dalam tafsir Fathul Qadiir menjelaskan maksud  firman Allah SWT : Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS al Anbiya : 107) adalah tidaklah Kami mengutus Engkau wahai Muhammad dengan syariah dan hukum kecuali menjadi rahmat bagi seluruh manusia.  

Dengan demikian Islam sebagai rahmatan  lil alaminakan terwujud dengan penerapan syariah Islam, bukan yang lain. Penerapan syariah Islam yang dimaksud tentu saja harus totalitas (menyeluruh) bukan sepotong-sepotong. Agar syariah Islam bisa terwujud secara totalitas, negara menjadi institusi penting. Dalam konteks inilah keberadaan Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh menjadi penting. Tanpa negara, tanpa Khilafah yang secara formal menerapkan syariah Islam, Islam sebagai rahmatan lil  ‘alamin tidak akan terwujud.

Para ulama dan cendekiawan Islam yang salih memahami bahwa Khilafah adalah kewajiban mendasar di antara kewajiban-kewajiban agung dalam agama Islam. Kewajiban ini bahkan merupakan kewajiban terbesar (al-fardh al-akbar) karena merupakan tumpuan bagi pelaksanaan seluruh kewajiban lain. Sebab, banyak hukum yang tidak bisa tegak tanpa adanya Khilafah seperti hukum-hukum yang terkait dengan sistem ekonomi, pendidikan, sosial, peradilan, keamanan, politik dan militer (termasuk di dalamnya jihad dan perjanjian dengan negara-negara asing), dll.

Oleh karena itu, kelalaian kaum Muslim dalam melaksanakan kewajiban menegakkan Khilafah ini termasuk ke dalam salah satu dosa besar (kabâ’ir al-itsm). Berkaitan dengan hal ini, Imam Ahmad, melalui riwayat dari Muhammad bin Auf bin Safyan al-Hamashi, mengatakan, “Fitnah akan terjadi manakala tidak ada Imam/Khalifah yang melaksanakan urusan orang banyak.”(Abu Ya’la al-Farra’,Al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm. 19).Ibn Taimiyah, juga menyatakan, “Upaya menjadikan kepemimpinan (Khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk ber-taqarrub kepada Allah Swt. adalah sebuah kewajiban.” (Ibn Taimiyah,As-Siyâsah asy-Syar‘iyyah, hlm. 161).

Adalah keliru memahami Islam rahmatan  lil alamin bisa terwujud tanpa Khilafah. Sama kelirunya, menganggap penerapan syariah Islam oleh negara secara formal sebagai ancaman. Justru tanpa negara bagaimana mungkin syariah Islam secara menyeluruh (bukan hanya aspek ritual, moral, dan individual) bisa terwujud.

Islam rahmatan  lil ‘alamin bukanlah Islam yang mereduksi syariah Islam hanya aspek individual. Bukan pula Islam yang memilih tunduk kepada Barat dengan mereduksi jihad dalam pengertian qital (perang) menjadi hanya perang melawan hawa nafsu. Sebab jihad dalam pengertian qital (perang) adalah kewajiban syariah. Bukan pula Islam yang diam saja ketika Barat menjajah kaum muslim dengan Ideologi Kapitalismenya. Sebab, syariah Islam mewajibkan umat Islam untuk menerapkan hanya syariah Islam dan bukan ideologi musuh-musuh Islam.

Singkatnya, Islam rahmatan  lil alamin akan terwujud dengan penerapan syariah Islam oleh Daulah Khilafah Islam (farid wadjdi)

Kamis, 24 Maret 2016

MENOLAK KHILAFAH DENGAN DALIL HADIS HUDZAEFAH

SALAH FATAL MENOLAK KHILAFAH DENGAN DALIL HADIS HUDZAEFAH BIN YAMAN!

Bukan Aswaja Sekular kalau tdk selalu nyleneh, ngawur dan menyesatkan.

Hadis dimaksud adalah;
ﻋﻦ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﻤﺎﻥ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮْﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ، ﻭَﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ، ﻣَﺨَﺎﻓَﺔَ ﺃَﻥْ ﻳُﺪْﺭِﻛَﻨِﻲ . ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ، ﺇِﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻓِﻲ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٍ ﻭَﺷَﺮٍّ ، ﻓَﺠَﺂﺀَﻧَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ، ﻓَﻬَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮٍّ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻭَﻫَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ ، ﻭَﻓِﻴْﻪِ ﺩُﺧَﻦٌ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻭَﻣَﺎ ﺩُﺧَﻨُﻪُ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﻮْﻡٌ ﻳَﻬْﺪُﻭْﻥَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻫَﺪْﻳِﻲ ، ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺗُﻨْﻜِﺮُ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﻬَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮٍّ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ ، ﺩُﻋَﺎﺓٌ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻣَﻦْ ﺃَﺟَﺎﺑَﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻗَﺬَﻓُﻮْﻩُ ﻓِﻴْﻬَﺎ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻِﻔْﻬُﻢْ ﻟَﻨَﺎ . ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﺟِﻠْﺪَﺗِﻨَﺎ ﻭَﻳَﺘَﻜَﻠَّﻤُﻮْﻥَ ﺑِﺄَﻟْﺴِﻨَﺘِﻨَﺎ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧِﻲ ﺇِﻥْ ﺃَﺩْﺭَﻛَﻨِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺗَﻠْﺰَﻡُ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺇِﻣَﺎﻣَﻬُﻢْ . ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻭَﻻَ ﺇِﻣَﺎﻡٌ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺎﻋْﺘَﺰِﻝْ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻔِﺮَﻕَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥْ ﺗَﻌَﺾَّ ﺑِﺄَﺻْﻞِ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺪْﺭِﻛَﻚَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ! ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ .
"Hudzaifah bin Yaman ra berkata: “Orang-orang sama bertanya kepada Rasulullah saw tentang
kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir menjumpaiku. Aku
brkata: "Ya Rasulullah, dulu kami hidup dlm kejahiliahan dan keburukan, lalu Allah memberikan kebaikan kepada kami, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?". Beliau bersabda: "Ya !". Aku berkata: "Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?". Beliau bersabda: "Ya, tetapi ada dakhonnya". Aku berkata: "Apa dakhonnya?". Beliau menjawab: "Kaum yang memberi petunjuk, tdk dengan petunjukku, kamu mengenal mrk dan mengingkarinya!". Aku bertanya: "Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?". Beliau bersabda: "Ya, yaitu orang-orang yang
menyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa saja orang yang menerima seruan mereka, maka mrk
melemparkannya ke Jahannam!". Aku berkata: "Tunjukilah kami karakter mereka". Lalu beliau bersabda: "Kulit mereka sama dengan kulit kita, dan mereka juga berbicara dgn bahasa kita!". Aku berkata: "Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku ketika keburukan itu menjumpaiku?". Beliau bersabda: "Kamu harus mengikuti Jama’ah kaum Muslim serta Imam mereka!". Aku bertanya: "Lalu apabila mereka tdk memiliki Jama’ah dan tdk pula memiliki Imam?". Beliau
bersabda: "Tinggalkanlah semua firqoh-firqoh (kelompok2 yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam) itu, meskipun kamu harus menggigit (memakan) akar pohon, sampai ajal menjemputmu dan kamu tetap seperti itu!". HR Bukhari [7084] dan Muslim [4890].

Para aktivis Aswaja Sekular menyatakan, bahwa ketika Hudzaifah bertanya; "Lalu apabila mereka
tdk memiliki Jama’ah dan tdk pula memiliki Imam?". Maka Nabi Saw hanya bersabda: "Tinggalkanlah semua firqoh-firqoh itu, meskipun kamu harus menggigit akar pohon, sampai ajal menjemputmu dan kamu tetap seperti itu!", dan Nabi tdk bersabda; "Tegakkan khilafah!"

JAWABAN:

(1) Hadis di atas hanyalah dalil untuk menjauhi semua firqah yg menyeru kepada neraka Jahannam.

(2) Hadis di atas bukan dalil untuk menolak penegakkan khilafah. Krn Nabi juga tdk bersabda, "Tinggalkanlah semua firqoh-firqoh itu, dan janganlah kamu menegakkan khilafah!"

(3) Sedang dalil-dalil wajibnya menegakkan khilafah itu diambil dari Alqur'an, Assunnah, Ijmak sahabat dan Qiyas Syar'i dan dgn pencerahan kesepakatan serta pernyataan Ulama Mujtahidien.
Oleh karenanya, setiap dalil harus diposisikan pada tempatnya, dalil shalat untk shalat, dalil puasa untk puasa, dalil zakat untk zakat dan seterusnya. Bukan dalil puasa untk shalat atau sebaliknya.

(4) Firqah-Firqah yg menyeru kepada neraka Jahannam yg harus dijauhi adalah firqah-firqah ahli bid'ah, baik bid'ah dlm ibadah murmi atau dlm ibadah politik, bermasyarakat dan bernegara, sprt aliran-aliran sesat dan partai-partai sekular atau partai-partai Islam pro dan pejuang demokrasi sistem kufur bin syirik, yg nenolak dan mengingkari penerapan hukum-hukum Allah secara sempurna dalam wadah khilafah rosyidah sebagai kewajiban Ahlussunnah Waljama'ah Firqah Najiyah Ahli Surga. Padahal justru kaum Aswaja (asli warisan jawa) Sekular lah pendukung dan pengikut firqah2 tersebut.

(5) Lebih jauh lagi, Nabi Saw juga tdk pernah bersabda;

"TEGAKKAN SISTEM DEMOKRASI, TEGAKKAN SISTEM KERAJAAN!, DIRIKANLAH PONDOK PESANTREN, ORGANISASI, MASJID, KOPERASI ATAU BMT"

Wallahu a'lam...

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

IMAM MAHDI YANG AKAN MENEGAKKAN KHILAFAH?!

BETULKAH IMAM MAHDI YANG AKAN MENEGAKKAN KHILAFAH?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Oknum dari kaum Aswaja sekular semi Syi'ah Itsnaa 'Asyariyah (Syi'ah Dua Belas Imam dan yg ke dua belas adalah Imam Mahdi yang ghaib dan selalu ditunggu kemunculannya) mengatakan, bahwa kita tidak perlu capai-capai berjuang menegakkan khilafah karena Imam Mahdi lah yg akan menegakkannya, kita tinggal menunggu kedatangannya saja...

Pandangan tersebut jelas salah, bahkan salah fatal, karena;

(1) Menegakkan khilafah itu bukan kewajiban pribadi Imam Mahdi, tetapi kewajiban kolektif kaum Muslim di seluruh dunia (lihat tautan sebelumnya). Konotasinya, a) Imam Mahdi tidak akan mampu menegakkan khilafah sendirian, b) sejak runtuhnya khilafah hingga kini kaum muslim di seluruh dunia wajib bersama-sama berjuang menegakkan khilafah, dan tidak perlu menunggu Imam Mahdi, dan c) ketika tdk ada khilafah seperti saat ini seluruh kaum muslim berdosa, kecuali yg telah/sedang berjuang untuk menegakkannya dan yang terkena udzur syar'i. Hingga detik ini daulah khilafah belum berdiri, kecuali khilafah organisasi, senetron, dan ...

(2) Dalam hadis disebutkan bahwa Imam Mahdi adalah khalifah dan laki-laki yg dibai'at oleh kaum Muslim sedang ia tdk menyukainya, tdk disebutkan bahwa ia yg menegakkan khilafah sendirian.

(3) Imam Mahdi tidak diturunkan dari langit, bukan manusia super sakti, dan bukan Imam Syiah ke dua belas yg ghaib di suatu tempat, sehingga dgn kemunculannya seluruh manusia dan seluruh negara di dunia akan tunduk dan menurut kepada komando dan perintahnya.

(4) Rosulullah Saw saja beserta para sahabat pilihan harus berjuang dan menghadapi bermacam rintangan dan tantangan, juga ujian dan cobaan, tdk semudah membalikkan telapak tangan dalam menegakkan, mempertahankan dan mengembangkan daulah di Madinah. Inilah hukum kausalitas (sunnatullah) yg juga berlaku bagi Imam Mahdi dan para pejuang khilafah. Bahkan bisa saja ketika Imam Mahdi menjadi khalifah, kaum Aswaja sekular masih ngotot mempertahankan NKRI Final dan Pancasila final...

(5) Imam Mahdi lahir setelah berdirinya Khilafah dan setelah adanya khalifah, bukan sebelumnya.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺍﺧْﺘِﻼَﻑٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻣَﻮْﺕِ ﺧَﻠِﻴْﻔَﺔٍ ﻓَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﺭَﺟُﻞٌ ...
“Akan terjadi perselisihan ketika wafatnya seorang Khalifah. Lalu seorang laki-laki dari Bani Hasyim (Imam Mahdi) keluar dari Madinah ke Makkah. Lalu orang-orang mendatanginya, lalu merek membai'atnya di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim, sedangkan ia sendiri tidak menyukainya. Lalu tentara dari Syam diberangkatkan untuk menyerang mereka, tetapi ketika tentara itu sampai di daerah al Baida’, maka tentara itu ditelan bumi. Lalu mereka (Imam Mahdi dan pengikutnya) mendapat dukungan dari golongan penduduk Irak dan para wali abdal dari Syam, dan seorang laki-laki dari Syam yg paman-pamannya dari suku Kalb marah-marah, lalu kaki-laki itu mengirimkan tentara kepada mereka (Imam Mahdi dan pengikutnya), lalu tentara itu dihancurkan oleh Allah, dan pada hari Kalb itu mereka mendapat kekalahan telak, dan orang yang rugi adalah orang yg tdk mendapatkan jarahan Kalb. Dan ia (Imam Mahdi) mengeluarkan harta karun yg melimpah dan membagi-bagikannya, dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia dengan sarung pedangnya. Ia hidup seperti itu selama tujuh atau enam tahun". (HR Aththabroni, Almu'jam Alkabier, juz 17, hal. 207, Syamilah).

Hadits di atas, dengan
jelas menyatakan akan ada Khalifah (Imam Mahdi) setelah wafatnya Khalifah sebelumnya. Seperti yang dinyatakan dalam lafadz hadis:
ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺍﺧْﺘِﻼَﻑٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻣَﻮْﺕِ ﺧَﻠِﻴْﻔَﺔٍ ﻓَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﺭَﺟُﻞٌ ...
“Akan terjadi perselisihan ketik wafatnya seorang Khalifah, lalu seorang laki-laki keluar...”

Dengan demikian, pandangan yang menyatakan, bahwa Imam Mahdi lah yang akan menegakkan Khilafah Rasyidah jelas merupakan pandangan yang lemah. Demikian juga pandangan yang
menyatakan, bahwa tidak perlu berjuang untuk menegakkan Khilafah, karena tugas itu akan diemban oleh Imam Mahdi, sehingga kaum Muslim sekarang tinggal menunggu kedatangannya, adalah juga pandangan yang salah fatal dan tidak berdasar.

Jadi jelas sekali, bahwa Imam Mahdi bukan orang pertama yang akan mendirikan Khilafah, dan dia bukanlah Khalifah yang pertama dalam Khilafah Rosyidah yang insya Allah akan segera berdiri tidak lama lagi.
Wallahu a'lam...

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

BELUM IMKAN APA BELUM MAU?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Ketika diajak berjuang menegakkan khilafah, ketika disodori dalil-dalil terkait kewajiban itu, dan ketika disampaikan berbagai pernyataan ulama tentang kewajiban tersebut, maka oknum-oknum dari kaum liberal Aswaja sekular semi Syi'ah Itsnaa 'Asyariyyah masih saja menolak dgn dalih murahannya, "Bahwa kewajiban menegakkan khilafah itu ketika kaum muslim sudah imkan (bisa dan mungkin) dan sudah mampu menegakkannya, dan sekarang faktanya masih belum imkan dan belum mampu, dimana Allah Swt tidak membebani kaum muslimien dgn sesuatu yg tidak imkan juga tidak mampu. Berarti menegakkan khilafah masih belum wajib".

SALAH FATAL LAGI

Pernyataan di atas jelas salah fatal, karena:

(1) Dalil-dalil dan berbagai pernyataan ulama terkait kewajiban menegakkan khilafah itu semuanya tdk dibatasi dengan term "ketika sudah imkan dan sudah mampu". Karena ketika Allah dan Rosul-Nya telah menyuruh (mewajibkan) kepada kaum muslim agar menegakkan khilafah, sahabat telah ijmak, juga ulama mujtahidien telah sepakat akan kewajibannya, ini artinya bahwa kaum muslimien sudah imkan dan sudah mampu untuk menegakkan khilafah, karena Allah dan Rosul-Nya tdk akan membebani kewajiban kepada kaum muslimien sesuatu yg tdk imkan dan tdk mampu dikerjakan oleh mereka secara kolektif.

(2) Tidak membedakan antara menegakkan khilafah dan berjuang (berdakwah) untuk menegakkan khilafah. Menegakkan khilafah sekarang ini dan saat ini memang betul masih belum imkan, tapi bukan tidak imkan, mustahil, dam tidak mampu. Dan berjuang untk menegakkan khilafah, maka sudah imkan sejak lama, sejak kaum muslimien tdk memiliki khilafah.

(3) Tidak mengerti kenapa menegakkan khilafah sampai saat ini masih belum imkan? karena kaum muslimien masih belum mau diajak menegakkannya. Jangankan menegakkan khilafah, makan, minum dan mandi saja tidak akan pernah bisa imkan, ketika mereka masih belum mau diajak makan, minum dan mandi. Jadi masalahnya ada pada term "TIDAK MAU", bukan tdk imkan, apalagi tidak sanggup.

(4) Tidak memahami, kenapa kaum muslimien masih belum mau diajak berjuang bersama menegakkan khilafah? Karena mereka masih tersesatkan oleh ideologi kapitalisme dan komunisme/ sosialisme dengan seperangkat ide, pemikiran, pemahaman dan sistem yg memancar dan berkembang dari kedua ideologi itu, dimana kaum liberal dan Aswaja sekular masih sangat getol dan gigih mendakwahkan dan mempropagandakannya, serta menolak penegakkan khilafah dgn berbagai dalih dan hujat murahan dan menyesatkan.

(5) Menegakkan khilafah yg kewajiban kolektif itu tdk sama dengan berdiri shalat yg kewajiban pribadi. Dalam menegakkan khilafah tidak ada kata "TIDAK IMKAN DAN TIDAK MAMPU", karena harus dikerjakan oleh seluruh kaum muslim di seluruh dunia sesuai dgn kemampuan kondisinya masing-masing. Adapun shalat dengan berdiri, maka bagi yg mampu berdiri saja. Dan bagi yg tdk mampu berdiri, maka shalat dgn duduk. Dan mustahil ketika seluruh kaum muslim di seluruh dunia tdk mampu shalat dgn berdiri.

Juga mustahil ketika seluruh kaum muslim di seluruh dunia tdk imkan dan tdk mampu menegakkan shalat. Sama mustahilnya ketika seluruh kaum muslim di seluruh dunia tdk imkan dan tdk mampu menegakkan khilafah.

Jadi persamaan menegakkan khilafah itu seperti menegakkan shalat. Dan persamaan kondisi masing-masing individu kaum muslim dalam menegakkan khilafah itu seperti kondisi masing-masing individu kaum muslim dalam menegakkan shalat.
Wallohu a'lam

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

KITA HARUS MENJADI AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH

Bismillaahir R8hmaanir Rohiim

Beda di antara menjadi Ahlussunnah Waljama'ah dan menjadi pengikut Ahlussunnah Waljama'ah. Menjadi Ahlussunnah Waljama'ah, yg diikuti adalah Sunnah Rosul saw dan Sunnah Sahabat2nya.

Dalam hal ini Rosul saw bersabda: "Kamu harus berpegang teguh (mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan) kepada Sunnahku dan Sunnah khulafa' rosyidien (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan yg lainnya), gigitlah sunnah itu dgn gigi2 geraham...". (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Irbadl bin Sariyah).

Dan Wali Quthub Syaikh Abdul Qadier Jailani qaddasallohu sirrohu dlm kitabnya Alghunyah berkata: "Orang mukmin wajib mengikuti Sunnah dan Jama'ah. Sunnah adalah apa saja perkara agama yg tlh ditetapkan/diundangkan oleh Rosul saw, sedang Jama'ah adalah apa saja perkara agama yg tlh disepakati oleh sahabat2nya pada khilafah empat imam, yaitu khulafa' rosyidien mahdiyyien.

Doktrin (Ajaran) Ahlussunnah Waljama'ah itu harus sesuai dgn perkembangan zaman krn bertaqwa itu dituntut sepanjang zaman. Rosul saw bersabda: "Bertaqwalah kpd Allah di manapun kamu berada...". (HR Tirmidzi dari Abu Dzarr). Konotasi "di manapun kamu berada", adalah di zaman kapanpun, di tempat manapun, dan dalam kondisi apapun, bertaqwa adalah wajib.

Kita semua mengerti bahwa pada zaman ini tantangan dan bid'ah terbesar yg membahayakan Islam dan kaum muslimien adalah datang dari ideologi komunisme dan kapitalisme dgn seperangkat ide, pemikiran dan sistem yg memancar dan berkembang dari kedua idelogi itu. Sehingga doktrin Hizbut Tahrir yg tlh ditetapkan oleh Wali Quthub Mujtahid Muthlaq dan Mujaddid Syaikh Taqiyyuddien Annabhani adalah doktrin Ahlussunnah Waljama'ah untk zaman sekarang ini.

Dan penting untk diketahui bhw doktrin Ahlussunnah Waljama'ah itu boleh berbeda dari doktrin Ahlussunnah Waljama'ah sebelumnya, krn tantangan zamannya juga berbeda. Oleh krnnya, doktrin Ahlussunnah Waljama'ah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah itu sdh tdk berlaku untk zaman sekarang ini, krn tdk membantah bid'ah2 dari kedua ideologi di atas. Oleh krn ini juga, para pengikut Ahlussunnah Waljama'ah Asy'ariyyah di manapun selalu menjadi pendukung kedua ideologi di atas.

Inilah bedanya antara menjadi Ahlussunnah Waljama'ah dan menjadi pengikut Ahlussunnah Waljama'ah. Yg wajib adalah menjadi Ahlussunnah Waljama'ah. Sdg menjadi pengikut itu boleh2 saja, tapi wajib mengikuti Ahlussunnah Waljama'ah yg menjawab tantangan dan bid'ah yg ada pada zamannya.

Tujuannya agar tdk menyimpang dari substansi hadis, "BERTAQWALAH KEPADA ALLOH DI MANAPUN KAMU BERADA!".

Wallahu a'lam

ASWAJA HAKIKI VS ASWAJA SEKULAR

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Sobat, bagi ASWAJA HAKIKI, Alqur'an, Assunnah, Al-Ijma' dan Alqiyas adalah harga mati sebagai dalil ushul syariat Islam dlm kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara.

Akan tetapi ASWAJA SEKULAR telah mengganti empat dalil syara' di atas dgn UUD '45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI (empat pilar kebangsaan), yg menjadi harga mati. Jadi apa saja ajaran agama yg bertentangan dgn empat pilar kebangsaan harus dibuang dan ditinggalkan.

Sampai-sampai di kalangan Aswaja sekular tlh ada buku panduannya tulisan alumni lirboyo Kang Sa'id, yaitu buku ISLAM KEBANGSAAN. Dalam buku itu kalimat "Hifzhud Dien" diterjemahkan dgn "Kebebasan Beragama", Hifzhul 'Aqli dgn Kebebasan Berfikir, Hifzhul Maal dgn Kebebasan Kepemilikan, dan seterusnya.

Sehingga sy sempat berpikir, ketika kalimat Hifzhud Dien diterjemahkan dgn Kebebasan Beragama, maka kalimat Hifzhun Nasel (yg terjemahnya menjaga/ melestarikan keturunan) harus diterjemahkan dgn Kebebasan Berketurunan, kebebasan membuat anak, atau kebebasan berzina alias seks bebas.

Dan ASWAJA SEKULAR juga pasti menolak empat pilar negara khilafah.

EMPAT PILAR NEGARA KHILAFAH

1. Kedaulatan di tangan syariah (assiyaadah lisysyar'i), dgn kata lain, bahwa yg berhak mengatur manusia hanyalah syariah Islam, bukan hukum yg lain. Artinya hanya Allah Swt saja yg berhak menetapkan hukum bagi manusia (QS Al An'am ayat 57 dan Asysyuro ayat 10).

2. Kekuasaan ada di tangan ummat (assulthan lil ummah). Artinya umatlah yg berhak memilih dan mengangkat pemimpin yg dikehendakinya untuk menjalankan kekuasaan.

3. Mengangkat seorang khalifah adalah wajib atas seluruh kaum muslim. Artinya, 1) khalifah yg diangkat wajib satu orang saja, tdk boleh lebih, dan 2) hukum mengangkat khalifah adalah wajib, bukan sunnah, mubah dll.

4. Khalifah mempunyai hak khusus dalam melegislasi hukum syara' menjadi undang2 yg berlaku umum dan bersifat mengikat.

KONOTASI MEMECAH-BELAH AGAMA DAN BERBANGGA DENGANNYA (ke-02)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

KONOTASI DARI LARANGAN MEMECAH-BELAH AGAMA, ADALAH KEWAJIBAN MENERIMA SYARIAH ISLAM SECARA UTUH.
(lihat; QS Arruum [30]: 31-32; QS Al An'aam [6]: 159; QS Ali 'Imron [3]: 105; dll).

Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia untuk menjalani kehidupannya. Dengan petunjuk Islam, manusia dapat membedakan antara yang haq dan yang batil; yang baik dan yang buruk; yang terpuji dan yang tercela; yang halal dan yang haram.

Apabila dipatuhi dan dijalani, niscaya manusia akan terhindar dari kesesatan dan kecelakaan;
kesempitan hidup di dunia dan kecelakaan di akhirat (lihat QS Thaha [20]: 123-124). Mereka juga akan merasakan rahmat Islam bagi alam semesta (lihat QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Patut diingat, semua kebaikan Islam itu hanya dapat dirasakan ketika Islam diterima secara utuh dan totalitas; tidak dikurangi, ditambahi, atau diubah. Di titik ini, terlihat jelas urgensitas menjaga kemurnian Islam.

Sebagaimana kaum Muslim diperintahkan untuk memasuki Islam secara kâffah—total dan
menyeluruh—(lihat QS al-Baqarah [2]: 208), kaum Muslim juga dilarang keras melakukan tafrîq
(pemecahbelahan) terhadap agamanya. Larangan inilah yang ditegaskan oleh ayat-ayat tentang larangan memecah belah agama.

Tindakan mengurangi atau mengingkari bagian tertentu dari Islam termasuk dalam cakupan ayat-ayat itu. Karena itu, kaum Yahudi yg mengimani kerasulan Musa as. tetapi mengingkari kerasulan Isa as dan Muhammad saw. jelas termasuk di dalamnya.

Demikian pula kaum Nasrani yg menolak kerasulan Muhammad saw. Tak terkecuali orang-orang yg mengaku beriman terhadap al-Quran namun mengingkari as-Sunnah sebagai sumber hukum seperti disuarakan kelompok inkâr as-Sunnah; orang-orang yang mengakui kewajiban shalat dan menolak kewajiban membayar zakat, seperti dilakukan sekelompok orang yang akhirnya diperangi oleh Khalifah Abu Bakar ra.; juga orang-orang yang mereduksi Islam hanya sebagai ajaran ritual dan moral, sementara syariah Islam yang mengatur ekonomi, sosial, pendidikan, pemerintahan, dan sanksi-sanksi hukum ditolak dan diingkari, seperti terus dipropagadandakan oleh kaum ‘Islam Liberal’ dan semacamnya. Itu semua jelas termasuk dalam tindakan ‘mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain.’ Allah Swt. mencela mereka. Mereka disebut sebagai orang-orang kafir yang sebenar-benarnya. Allah Swt. pun mengancam mereka dengan siksaan yg menghinakan (lihat QS an-Nisa’ [4]: 150-151; QS al-Baqarah [2]: 85).

Sebagaimana disampaikan para mufassir, ayat-ayat itu juga mencakup ahlul bid’ah. Mereka
menambahkan ‘syariah’ baru ke dalam Islam. Perkara baru yang dilekatkan pada Islam itu pun kemudian dianggap menjadi bagian dari Islam, seolah agama yg tlh disempurnakan Allah Swt itu membutuhkan penambahan. Tindakan mengada-adakan yang baru itu disebut sebagai bid’ah dan seburuk-buruk perkara. Rasulullah saw. bersabda:
ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺷَﺮُّ ﺍْﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adlh petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah mengada-adakan yang baru, dan setiap bid’ah adalah sesat (HR Muslim dari Jabir bin Abdullah).

Ayat-ayat itu juga melarang umat Islam berpecah-belah ke dalam firqah-firqah sesat dan menyimpang, yang berpijak pada Islam parsial, dan tidak berpegang teguh pada Islam kâffah. Larangan ayat-ayat itu sejalan dengan larangan terhadap kaum Muslim menjadi kaum yang berpecah-belah (tafarruq) dan berselisih (ikhtilâf) dalam perkara yang amat jelas. Sebagai contoh, riba dan menikah dengan kaum musyrik yang jelas diharamkan Islam masih
diperselisihkan. Jihad, hukuman qishah dan potong tangan atas pencuri masih diperdebatkan. Padahal dalil-dalil yang mewajibkannya amat jelas. Para pelakunya diancam dengan siksa yang berat (Lihat: QS Ali Imran [3]: 105).

Semua tindakan itu, baik mengurangi bagian dari Islam, menambahkan ‘syariah’ baru ke dalam Islam, bercerai-berai dan berselisih dalam perkara yang jelas dalam Islam, serta memecah-belah agama Allah menjadi firqah-firqah sesat merupakan tindakan merusak agama. Para pelaku perusakan agama itu diancam dengan azab yang pedih. Azab itu kian berlipat jika mereka mendapat pengikut yang meniru jejak kesesatannya.

Juga terkait larangan berbangga, adalah berbangga dgn kufur, syirik, bid'ah, munkar dan maksiat; bukan berbangga dgn pertolngan, anugerah dan rahmat Allah Swt (lihat; QS Arruum [30]: 4-5, dan QS Yunus [10]: 58).

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!
Wallaahu a‘lamu bish-shawwaab.

PNS DALAM PEMERINTAHAN THAGHUT

PENGARUH ARISTOTELES DALAM ARGUMEN MENGAITKAN ANTARA HUKUM MENJADI PNS DENGAN PEMERINTAHAN THOGHUT

Di sini tidak hendak dibahas hukum menjadi PNS. Tetapi hanya membahas kesalahan argumentasi yang mengaitkan PNS dengan pemerintahan thoghut. Kesalahannya terletak pada: 1) cara berpikir; dan 2) kesimpulan. Dari sisi cara berpikir, untuk menghukumi bahwa setiap PNS adalah thoghut, merupakan cara berpikir yang menggunakan logika mantiq.

Logika adalah sebuah teknik berpikir yang dicetuskan oleh Aristoteles. Logika adalah suatu pengumpulan informasi-informasi yang satu dengan informasi yang lain untuk menghasilkan suatu kesimpulan (natijah). Masing-masing informasi ini sering disebut dengan premis. Premis yang pertama kadang-kadang disebut dengan premis mayor sedangkan premis yang kedua disebut premis minor.

Contoh: Premis pertama menyatakan bahwa pensil itu terbuat dari kayu. Premis kedua menyatakan bahwa kayu itu bisa terbakar. Jadi kesimpulannya, pensil bisa terbakar. Contoh lain: premis pertama menyatakan bahwa semua hewan akan mati. Kemudian premis kedua menyatakan bahwa anjing adalah hewan. Kesimpulannya (natijah-nya) adalah, bahwa anjing akan mati. Contoh yang lain: Amerika adalah negeri kapitalis. Penjajahan adalah metode baku negeri kapitalis untuk memperbesar negerinya. Kesimpulannya, Amerika adalah penjajah.

Sebagai salah satu cara berpikir, sah-sah saja logika digunakan. Tetapi jika digunakan sebagai asas berpikir, maka logika ini akan bersifat merusak. Logika akan menjadi sebuah asas berpikir, jika setiap pemikiran selalu didapatkan menggunakan logika. Padahal, logika itu hanyalah salah satu cara berpikir, bukan asas berpikir. Asas berpikir yang benar adalah berpikir rasional.

Berpikir rasional adalah mengambil kesimpulan berdasarkan fakta terindera, akal dan indera yang sehat, yang dikaitkan dengan informasi awal. Contoh: Gambaran ini terlihat dari penjelasan Allah kepada Malaikat, ketika mereka memprotes Allah SWT terhadap penciptaan Adam. Menurut mereka, manusia hanya akan menimbulkan kerusuhan di muka bumi. Allah kemudian membantah seraya menyatakan: “Aku Maha Tahu tentang apa yang kamu tidak tahu.” Allah pun kemudian membuktikan pernyataan-Nya:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian mengajukannya kepada Malaikat seraya berfirman: ‘Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka semuanya jika kamu benar (dengan tuduhan kamu, bahwa kamu lebih tahu).” Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, kami tidak mempunyai ilmu sedikit pun, kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Bijaksana.’ Dia berfirman: ‘Wahai Adam, sampaikanlah kepada mereka nama-nama mereka semua.’ Apabila Adam selesai menyebutkan kepada mereka nama-nama semuanya itu, Dia berfirman: ‘Bukankah Aku telah beritahukan kepada kamu, bahwa Aku Maha Tahu perkara gaib di langit dan di bumi, serta Maha Tahu apa yang kamu kemukakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (QS. Al Baqarah: 31-33).

Ayat di atas, dengan jelas membuktikan, bahwa malaikat tidak bisa membuat kesimpulan mengenai realitas (objek) yang ditunjukkan oleh Allah, sedangkan Adam dapat melakukannya setelah Adam diberi informasi oleh Allah, sedangkan malaikat tidak diberi informasi terlebih dahulu oleh Allah. Dengan demikian jelas, bahwa tidak ada satu pun manusia yang dapat mengambil kesimpulan tanpa mempunyai informasi awal. Jadi, ada empat unsur untuk terbentuknya sebuah pemikiran, yaitu (1) Akal atau otak yang sehat, (2) Indera yang sehat, (3) Objek atau fakta terindera, dan (4) Informasi awal. Inilah yang dimaksud dengan berpikir rasional. Konsep berpikir inilah yang seharusnya menjadi asas berpikir, bukannya logika.

Sebab, yang dibutuhkan dari berpikir adalah kesimpulannya, yaitu haruslah kesimpulan yang benar; bukan kesimpulan yang salah (tidak benar). Tetapi, jika logika menjadi asasnya, maka kesimpulan yang didapat tidak akan melulu benar; akan ada kemungkinan salah dalam pengambilan kesimpulan. Padahal, benar salahnya, itu tergantung premis-premis yang dibangun. Jika premisnya benar, maka kesimpulannya BISA JADI akan benar; tetapi tidak melulu benar. Bahkan premis yang benar pun tidak menjamin kesimpulannya benar.

Contoh: Alquran diturunkan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab adalah sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru adalah makhluk. Kesimpulannya, Alquran adalah makhluk. Alquran adalah makhluk? Ini kesimpulan yang salah. Padahal, premis yang digunakan untuk membangun kesimpulannya benar.

Nah, di sinilah kesalahan logika mulai terlihat. Yaitu bahwa premis yang benar, belum tentu akan menghasilkan kesimpulan yang benar. Karena itu, logika selayaknya tidak digunakan sebagai asas dalam berpikir.

Dalam konteks hukum PNS, yang terjadi adalah kesalahan pengambilan kesimpulan, sebagai akibat dari kesalahan premis yang dibangunnya. Kesimpulan yang diambil adalah “PNS itu bagian dari thoghut”. Premis pertama menyatakan bahwa pemerintah Indonesia adalah pemerintah thoghut. Premis kedua menyatakan bahwa PNS adalah orang yang bekerja di lembaga pemerintahan. Kesimpulannya, menjadi PNS adalah menjadi bagian dari thogut. Kesimpulan ini adalah kesimpulan yang salah. Sebab, realitasnya thoghut adalah orang yang berhukum dengan hukum selain hukum Allah. Sementara itu, tidak setiap PNS berhukum dengan selain hukum Allah. Ada PNS yang aktivitas atau amalnya sama sekali bukan untuk berhukum kepada thoghut.

Contoh lain adalah sebagai berikut. Anak yang mendapat ranking satu, adalah anak yang pintar. Kesimpulan ini salah. Mengapa? Sebab, bertentangan dengan fakta (realitas). Untuk menjadi rangking satu, tidak melulu harus pintar. Mencontek, kerja sama dengan teman, menyuap guru, juga bisa mengantarkan seorang anak menjadi ranking satu. Maka, yang benar adalah anak yang pintar tidak harus rangking satu. Lihatlah, betapa banyak anak-anak yang rangkingnya tidak pernah mendapat satu, ternyata juga bisa pintar dalam berbagai hal.

Contoh lainnya lagi: Pemerintahan demokrasi, bukanlah pemerintahan diktator. Kesimpulan ini salah. Mengapa? Ya, jelas saja salah. Sebab, pemerintahan sistem negara khilafah itu bukan demokrasi, tetapi juga tidak diktator. Di sisi lain, Indonesia itu mengaku sebagai negara demokrasi, tetapi jika ada pihak-pihak yang berbeda pandangan, selalu dituduh teroris atau mengancam keutuhan NKRI. Ini adalah tindakan-tindakan diktatorisme.
Ini jika kita menggunakan logika. Yaitu kesimpulan yang salah sebagai akibat dari premis-premis yang salah.

Padahal, seandainya kita mau menggunakan metode rasional dalam menghukumi PNS, tentu akan beda kesimpulan. Mengapa? Sebab, metode rasional mengharus kita untuk menyandarkan pada fakta PNS dan informasi awal (dalil syara’); bukan mengaitkan informasi satu dengan yang lain.

Oleh karena itu, untuk mengambil kesimpulan terkait dengan hukum menjadi PNS, maka caranya adalah dengan memahami fakta (realita) PNS itu sendiri, lalu kaitkan dengan dalil-dalil syara’ yang ada.

Realitanya, PNS adalah suatu hubungan muamalah. Hubungan muamalah sangat terikat dengan akad. Dalam fiqih, sebuah akad hanya akan terjadi jika memenuhi rukun-rukun akad (aqidain/dua orang yang berakad, ma’qud ‘alaih/hal yang diakadkan, dan sighat akad/redaksi akad). Oleh karena itu, membahas hukum PNS, tidak boleh meninggalkan tentang persoalan akad ini. Sebab, PNS itu sendiri hakikatnya merupakan perwujudan dari akad. Maka sungguh sangat tragis (menyedihkan) jika membahas hukum PNS kok tidak dikaitkan dengan pembahasan soal akad, tetapi malah dikaitkan dengan pemerintahan thogut (yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan PNS). Nah, di sinilah pendalaman terhadap fakta terjadi, yaitu fakta dari “PNS sebagai sebuah akad”, yang dikaitkan dengan konsep akad dalam Islam.

Pendalaman terhadap fakta akan terjadi lagi, ketika membahas hakikat PNS dari sisi amalnya (aktivitasnya). Maka di sini nanti akan dikenal ada PNS yang berstatus sebagai hakim (penguasa) dan ada PNS yang berstatus sebagai muwazhzhafin (pegawai). Demikian hal itu harus dipahami, lalu kaitkan dengan informasi awal, yaitu dalil syara’. Maka, didapatkan sebuah kesimpulan, apakah menjadi PNS itu halal atau haram. Jika halal, apakah semua PNS itu halal; dan jika haram, apakah semua PNS itu haram. Maka akan bisa dipilah dan dipilih, tidak pukul rata. Sebab, fakta yang berbeda memang harus diperlakukan dan dihukumi berbeda. Fakta yang berbeda kok dihukumi sama, itu namanya ceroboh alias ngawur. Inilah hasil dari berpikir rasional; bukannya logika (mantiq).

Namun demikian, menurut saya sendiri sebaiknya orang yang memperjuangkan syariat Islam (entah itu aktivis HT, aktivis JAT, atau yang lainnya) sebaiknya tidak menjadi PNS, sekalipun hukumnya boleh menjadi PNS.

Dulu Syaikh Taqiyuddin pernah bekerja di beberapa bagian di pemerintahan Yordania. Menjadi qadhi, sekretaris qadhi, dan pengajar. Namun setelah peristiwa yang terjadi antara beliau dengan Raja Abdullah, beliau pun mengundurkan diri dari pekerjaan beliau di pemerintahan dan berkata, "Sesungguhnya orang-orang seperti saya sebaiknya tidak bekerja untuk melaksanakan tugas apa pun dari sebuah pemerintahan.” Lihat dalam biografi Taqiyuddin An-Nabhani yang ditulis Ustadz Ihsan Samarah.

Peristiwa itu terjadi ketika Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dipanggil Raja Abdullah (Raja Yordania), dan beliau ditanya, "Apakah Anda akan menolong dan melindungi orang yg kami tolong dan lindungi, dan apakah Anda juga akan memusuhi orang kami musuhi, ya syaikh?" Maka Syaikh Taqiyuddin An Nabhani pun berkata kepada dirinya sendiri, "Jika aku lemah menyampaikan kebenaran hari ini, lalu apa yang akan aku ucapkan kepada orang-orang sesudahku nanti?"

Lalu beliau pun berdiri dan berkata kepada Raja Abdullah,
"Aku telah berjanji kepada Allah, bahwa aku akan menolong dan melindungi agama Allah dan akan memusuhi orang-orang yang memusuhi agama Allah. Dan aku sangat membenci sikap nifaq dan orang-orang munafik."

Sejak saat itu beliau menyatakan "Sesungguhnya orang-orang seperti saya sebaiknya tidak bekerja untuk melaksanakan tugas apa pun dari sebuah pemerintahan.” (kopas by Abu Sarah)

Rabu, 23 Maret 2016

INILAH DALIL DEMOKRASI

DALIL DEMOKRASI DARI ALQUR'AN

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Bagi siapa saja yg otaknya telah dicuci atau tercuci dari kotoran kegelapan ideologi kufur dan syirik kapitalisme dan komunisme, lalu dipenuhi dgn butir-butir cahaya ideologi Islam yg rohmatan lil'aalamien sehingga menjadi cemerlang, maka tdk sulit mengatakan dan membuktikan bahwa inti dari sistem demokrasi adalah menolak dan membuang hukum Allah Swt yg final, lalu menetapkan hukum manusia thaghut yg nisbi sebagai gantinya.
Oleh karenanya, ketika kita ingin mencari dan mengetahui dalil-dalil demokrasi dari Alqur'an, maka carilah ayat-ayat yang berbicara tentang berhukum dgn selain hukum yang diturunkan oleh Allah Swt.

Seperti rentetan firman Allah Swt:
ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﺄُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ .
“Dan barang siapa yg tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS Almaaidah [5]: 44).

“Dan barang siapa yg tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS Almaaidah [5]: 45).

“Dan barang siapa yg tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (QS Almaaidah [5]: 47).

DALIL KHILAFAH DARI ALQUR'AN

Sebaliknya, dalil-dalil tentang kewajiban menegakkan khilafah dari Alqur'an, adalah ayat-ayat yg memerintahkan memutuskan hukum sesuai dgn yg diturunkan Allah Swt. Karena khilafah adalah metode syar'i untuk menerapkan syariah Islam secara total.

Seperti firman Allah Swt terkait kewajiban ber-Islam kaffah:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺍﺩْﺧُﻠُﻮْﺍ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴِّﻠْﻢِ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮْﺍ ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻣُﺒِﻴْﻦٌ .
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian”. (QS Albaqarah [2]: 208).

Dan firman-Nya terkait kewajiban penguasa memutuskan perkara dgn hukum Allah Swt:
ﻓﺎﺣﻜﻢ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﻻ ﺗﺘﺒﻊ ﺃﻫﻮﺍﺀﻫﻢ ﻋﻤﺎ ﺟﺂﺀﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻖ ، ...
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu, …”.
(QS Almaaidah [5]: 48).

Dan firmanNya:
ﻭﺃﻥ ﺍﺣﻜﻢ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺗﺘﺒﻊ ﺃﻫﻮﺍﺀﻫﻢ ﻭﺍﺣﺬﺭﻫﻢ ﺃﻥ ﻳﻔﺘﻨﻮﻙ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﻣﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻚ ، ...
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilahkamu terhadap mereka,
supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…”. (QS Almaaidah [5]: 49).

Pada dua ayat diatas Allah Swt tlh;
1) menyuruh (mewajibkan) menerapkan hukum Allah Swt,
2) melarang (mengharamkan) mengikuti (menerapkan hukum produk) hawa nafsu, dan
3) melarang (mengharamkan) meninggalkan sebagian hukum Allah (apalagi sebagian besar atau seluruh hukum Allah).

Meskipun ada yg mengatakan bahwa khilafah hanyalah wasilah / wasail, tetapi keberadaannya telah dibicarakan dan diperintahkan oleh Nabi Saw dgn perintahnya agar kaum muslimin berpegang teguh kepada sunnah Alkhulafa' Arrosyidien Almahdiyyien. Sehingga khilafah adalah wasilah yg hukumnya wajib dan menjadi thariqah/metode syar'i yg haram ditinggalkan.

Lebih dari itu, setelah tiadanya khilafah, tidak pernah ada sutu sistempun yg bisa menjadi wasilah untk menerapkan syariah Islam secara total. Dan keberadaan sistem demokrasi justru terbukti menolak dan membuang syariah Islam kecuali sebagian kecil saja yg meskipun tanpa demokrasi dan khilafah bisa diterapkan dgn mudah.

SAATNYA CAMPAKKAN DEMOKRASI DAN TEGAKKAN KHILAFAH!

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

Senin, 21 Maret 2016

DALIL DEMOKRASI?

PERINTAH MUSYAWARAH DALAM ALQUR'AN ITU BUKAN DALIL DEMOKRASI

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Kaum leberal yang mengatakan, "Bahwa demokrasi adalah ajaran Islam, atau dari Islam, karena demokrasi adalah syuro / musyawarah. Sedangkan syuro / musyawarah adalah perintah Allah Swt dalam firman-Nya dalam dua ayat sebagai berikut:

Ayat Pertama:
"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yg Kami berikan kepada mereka" (TQS Asysyuura [42]: 38).

Ayat kedua:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yg bertawakkal kepada-Nya". (TQS Ali 'Imron [3]: 159).

BERDALIL DGN DUA AYAT DI ATAS UNTUK DEMOKRASI ADALAH SALAH FATAL, KARENA :

1. Musyawarah (syuro') itu bukan demokrasi, tetapi hanya sebagai cara/uslub atau ajaran dalam demokrasi. Karena fakta demokrasi adalah sistem (gabungan hukum-hukum dan cara penerapaannya untuk mengatur jalannya) pemerintahan, yang diklaim; dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebagaimana musyawarah adalah bagian dari ajaran Islam.

2. Dua ayat di atas itu hanya terkait dengan musyawarah tentang masalah keduniaan seperti setrategi perang dan teknik penerapan hukum dll., dan sama sekali tdk terkait dgn penetapan hukum, karena haq penetapan hukum hanyalah milik Allah Swt. Sdg musyawarah dlm demokrasi bersifat umum termasuk untuk menetapkan hukum, bahkan untuk menolak dan membuang hukum Allah dan menggantinya dgn hukum produk anggota dewan (yang katanya) terhormat (padahal secara syara' pengkhianat dan zalim).

3. Ayat pertama adalah menerangkan sifat-sifat kaum muslimien yg menerima seruan Allah, menegakkan shalat, bermusyawarah diantara mereka dan menafkahkan hartanya. Sebagaimana ayat sebelumnya (QS Asysyuura [42]: 37) yg menjelaskan sifat-sifat mereka yg menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan ketika marah mau memberi maaf. Sedang musyawarah dlm demokrasi bersifat dan berlaku umum diantara kaum muslim, kafir, musyrik dan atheis. Dan untuk menerjang dosa besar dan perbuatan keji, seperti pembolehan pelacuran dll.

4. Ayat kedua juga terkait akhlak dan sifat Nabi Saw yg lemah lembut kpd kaum muslimien, dan perintah Allah kepada Rosul-Nya Saw agar bermusyawarah dgn kaum muslimien dlm urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dll. Karena musyawarah adalah hak kaum muslimien diantara mereka.

5. Ayat kedua adalah dari surah Ali 'Imron yg diturunkan di Madinah (Madaniyyah), yakni perintah Allah kepada Rosulullah Saw sebagai kepala negara Daulah Nubuwwah agar bermusyawarah kpd kaum muslimien terkait hal-hal tertentu seperti di atas. Tetapi Allah Swt telah memberikan kpd beliau Nabi hak memilih pendapat, dgn firman-Nya; "Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kpd Allah".

6. Karena ayat itu berupa perintah Allah kpd Nabi Saw dalam kapasitasnya sebagai kepala negara, maka ayat itu juga berlaku untuk para khalifah setelahnya, agar mereka selalu bermusyawarah kpd kaum muslimien dlm hal-hal tertentu. Dan Allah juga telah memberikan kpd mereka hak memilih dan mentabanni pendapat dan hukum syara'.

Syaikh Taqiyyuddien Annabhani rh berkata:
"Pasal ke 2: Kepala negara (memiliki hak) mentabanni hukum-hukum syara' tertentu untuk ditetapkan menjadi UUD dan perundang-undangan lainnya. Ketika ia telah mentabanni hukum syara', maka hukum inilah satu-satunya hukum syara' yang wajib diamalkan, dan ketika itu menjadi undang-undang yg berlaku yg wajib dita'ati oleh setiap individu masyarakat secara lahir dan batin.

Para sahabat telah ijmak bahwa khalifah memiliki hak mentabanni hukum-hukum syara' tertentu, dan bahwa mengamalkan hukum-hukum yg telah ditabanni khalifah adalah wajib. Dan tidak boleh bagi orang muslim mengamalkan selain hukum-hukum yg tlh ditabanni khalifah. Sampai meskipun hukum-hukum syara' tersebut tlh digali oleh salah seorang mujtahid, krn hukum Allah pada hak seluruh kaum muslim adalah yg telah ditabanni oleh khalifah. Dan Alkhulafa' Arrosyidien Almahdiyyien beserta kaum muslimpun tlh melakukan hal yg demikian...". (lihat; Muqaddimatul Dustuur, hal. 11-12).

MAKA DIMANAKAH POSISI DEMOKRASI DARI SEMUANYA ITU?!

Saatnya campakkan demokrasi dan tegakkan khilafah!

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

BERCIUMAN DENGAN AJNABIYYAH?!

Hizbut Tahrir Membolehkan Berciuman Dengan Ajnabiyah?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Idrus Ramli mengatakan;

"Keempat, masa lalu an-Nabhani yang pernah tidak lulus dalam studinya di Universitas al-Azhar karena hasil ujiannya yang buruk, sangat berpengaruh terhadap pemikiran HT. Tidak jarang an-Nabhani sendiri dan petinggi-petinggi HT yang lain mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial dan keluar dari al-Qur'an dan Hadis, seperti... ... fatwa bolehnya jabatan tangan dengan wanita ajnabiyyah, fatwa bolehnya qublat al-muwada'ah [ciuman selamat tinggal] dengan wanita ajnabiyyah sehabis pertemuan semisal acara-acara seminar, pelatihan dan lain-lain".
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 28 tahun XV, Rabiul Awal-Rajab 1429, hal.7).

Jawaban :

Hizbut Tahrir Membolehkan Berciuman Dengan Ajnabiyah ?
Masalah ini telah berulang-ulang dituduhkan kepada Hizbut Tahrir oleh berbagai pihak baik individu maupun organisasi, sebagaimana telah dituduhkan kepadanya oleh HIMASAL [Himpunan Alumni Santri Lirboyo] dalam materi turbanya, dan saya telah membantahnya dalam buku Nasihat Terbuka Untuk HIMASAL Sebagai Bantahan Atas Materi Turba HIMASAL.
Tuduhan miring di atas adalah copy paste dari kitab Al-Gharoh Al-Imaniyyah. Padahal dalam hal pergaulan Hizbut Tahrir telah memiliki kitab An-Nizham Al-Ijtima'iy Fil Islam [sistem pergaulan dalam Islam] yang sudah ada sebelum tuduhan itu muncul, dan dalam kitab tersebut Syaikh Taqiyyuddin benar-benar telah menegaskan:

(Berikut adalah redaksi arabnya)
ﻭﻫﺬﺍ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ، ﻓﻘﺒﻠﺔ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻻﻣﺮﺃﺓ ﺃﺟﻨﺒﻴﺔ ﻳﺮﻳﺪﻫﺎ ﻭﻗﺒﻠﺔ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻟﺮﺟﻞ ﺃﺟﻨﺒﻲ ﺗﺮﻳﺪﻩ ﻫﻲ ﻗﺒﻠﺔ ﻣﺤﺮﻣﺔ، ﻷﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻭﻣﻦ ﺷﺄﻥ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻋﺎﺩﺓ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻬﻮﺓ، ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﺗﻮﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻷﻥ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻟﻤﺎﻋﺰٍ ﻟﻤﺎ ﺟﺎﺀﻩ ﻃﺎﻟﺒﺎ ﻣﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﻄﻬﺮﻩ ﻷﻧﻪ ﺯﻧﻰ : ﻟﻌﻠﻚ ﻗﺒﻠﺖَ ... ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻫﻲ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻭﻷﻥ ﺍﻵﻳﺎﺕ ﻭﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺤﺮﻡ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺗﺸﻤﻞ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﻘﺪﻣﺎﺗﻪ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻤﺴﺎً، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺷﺄﻧﻪ ﺃﻧﻪ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﺮﺍﻭﺩﻫﺎ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻬﺎ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﻘﺒﻠﻬﺎ ﺑﺸﻐﻒ ﺃﻭ ﺷﻬﻮﺓ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﺸﺪﻫﺎ ﺇﻟﻴﻪ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﻌﺎﻧﻘﻬﺎ، ﺃﻭ ﻣﺎ ﺷﺎﻛﻞ ﺫﻟﻚ، ﻛﻤﺎ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺑﻌﺾ ﻣﻦ ﻻ ﺧﻼﻕ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺒﺎﺏ ﻭﺍﻟﺸﺎﺑﺎﺕ، ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺤﺮﻣﺔ ﺣﺘﻰ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻠﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻗﺎﺩﻡ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ، ﻷﻥ ﻣﻦ ﺷﺄﻥ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺸﺒﺎﺏ ﻭﺍﻟﺸﺎﺑﺎﺕ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ .} ﺍﻟﻨﻈﺎﻡ ﺍﻹﺟﺘﻤﺎﻋﻲّ ﻓﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ , ﺹ 58: }.
"Ini [tentang hukum jawaznya bersalaman dengan ajnabiyyah dengan tanpa syahwat dan tanpa takut fitnah] berbeda dengan berciuman [kecupan]. Maka menciuamnya laki-laki kepada perempuan asing yang dikehendakinya dan menciumnya perempuan kepada laki-laki asing yang dikehendakinya adalah ciuman yang diharamkan, karena termasuk pendahuluan [pemanasan] zina. Sedangkan keadaan ciuman seperti ini termasuk pendahuluan zina adalah secara kebiasaan saja, meskipun ciuman itu dengan tanpa syahwat, meskipun tidak mendatangkan kepada zina dan meskipun tidak terjadi zina [maka tetap haram], karena sabda Rasulullah saw kepada Ma'iz ketika ia datang kepada beliau meminta agar beliau membersihkannya karena ia telah berzina: "Barangkali kamu hanya mencium….", itu menunjukan bahwa ciuman seperti ini adalah termasuk pendahuluan zina, dan karena sejumlah ayat dan hadis yang mengharamkan zina itu mencakup pengharaman semua pendahuluannya meskipun hanya rabaan ketika keadaannya termasuk pendahuluan zina, seperti laki-laki menghendaki perempuan, atau merayu tubuhnya, atau menciumnya dengan penuh cinta dan syahwat, atau menariknya kepadanya, atau memeluknya, atau hal-hal yang sejenis denganya, sebagai mana terjadi di antara sebagian orang yang tidak memiliki bagian agama sedikitpun, dari para pemuda dan pemudi. Maka ciuman ini adalah diharamkan, sehingga meskipun untuk menyambut orang yang datang dari perjalanan, karena keadaan ciuman seperti ini di antara para pemuda dan pemudi adalah termasuk pendahuluan zina".

Jadi hukum yang telah ditabanni oleh Hizbut Tahrir terkait ciuman tersebut di atas sudah sangat jelas dan tidak perlu dimasalahkan lagi. Sedangkan selebaran [nasyrah] tertanggal sekian dan tahun sekian yang telah ditulis oleh Abdullah Harori dalam kitab Al-Gharoh itu mengandung tiga kemungkinan:

Pertama; dikeluarkan oleh pihak yang tidak suka dengan kehadiran Hizbut Tahrir dengan mengatasnamakan Hizbut Tahrir. Ini tidak sulit, karena dapat dilakukan oleh siapa saja.

Kedua; selebaran itu sebenarnya tidak ada, tetapi hanya rekayasa dan dusta dari Abdullah Harori, karena dia telah terbukti suka merekayasa dan berdusta, sehingga baik sangka kepada Hizbut Tahrir itu harus didahulukan dari pada baik sangka kepada orang yang telah terbukti suka merekayasa dan berdusta.

Dan ketiga; benar dari Hizbut Tahrir atau oknum Hizbut Tahrir, tetapi telah dirujuk kembali, karena ibarat atau takbir di atas benar-benar telah menunjukkan hal ini. Ini bukan hal yang baru dalam sejarah umat Islam. Imam Syafi'iy sendiri telah memiliki dua qaul [pendapat], yaitu qaul qadim [pendapat lama] dan qaul jadid [pendapat baru], dan Syaikh Abul Hasan al-Asy'ariy yang disebut sebagai Ulama Aswaja juga dulunya Mu'tazilah lalu bertaubat menjadi Aswaja, bahkan para sahabat dulunya adalah orang-orang kafir dan musyrik. Dan kemungkinan ketiga ini sampai sekarang tidak dapat dibuktikan, karena tidak ada arsipnya. Sedang yang kata Idrus Ramli (dalam tulisannya pada tempat lain seperti buku Hizbut Tahrir dalam sorotan) sebagai naskah asli dari Hizbut Tahrir, adalah kopian dari kopian, bukan naskah asli. Dan yang harus membuktikan adalah orang yang menuduh, bukan yang tertuduh. Maka tidak ada jalan lain selain percaya kepada Hizbut Tahrir, karena telah mempunyai bukti yang sangat kuat dan akurat, padahal seharusnya cukup bersumpah.

Dalam hal ini Rasulullah saw benar-benar telah bersabda;
ﻟﻜﻦ ﺍﻟﺒﻴﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺪﻋﻲ ﻭﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻧﻜﺮ . ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ .
"Sesungguhnya pihak yang mendakwa itu harus mendatangkan bukti sedang pihak yang [didakwa dan] inkar cukup bersumpah". Hadis hasan riwayat Baihaqi dll. dari Ibnu Abbas ra.

Dan beliau saw benar-benar telah bersabda:
ﺩَﻉْ ﻣَﺎ ﻳُﺮِﻳْﺒُﻚَ ﺇﻟﻰ ﻣَﺎ ﻻﻳﺮﻳﺒﻚ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲّ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ.
"Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan untuk sesuatu yang tidak meragukan". HR Tirmidzi dan Nasai dari Hasan Ibn Aly ra.

Dan kaidah fiqhiyyah juga berkata:
ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﺑﺎﻟﺸﻚ
"Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan oleh keraguan".

Wallahu a'lam

PARA ULAMA MUJTAHID MENGKRITIK AHLI KALAM (ILMU KALAM)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Imam Malik rh berkata;
" ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﻜﻠﻤﻮﻥ ﻓﻰ ﺃﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺻﻔﺎﺗﻪ ﻭﻛﻼﻣﻪﻭﻋﻠﻤﻪ ﻭﻗﺪﺭﺗﻪ ﻻ ﻳﺴﻜﺘﻮﻥ ﻋﻤﺎ ﺳﻜﺖ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻮﻥﻟﻬﻢ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ ".
"Ahlul Bid'ah adalah orang-orang yang membicarakan nama-nama Allah, shifat-shifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya dan qudrat-Nya, mereka tidak diam dari perkara dimana para sahabat dan tabi'in sama diam darinya".

Dan Imam Malik juga berkata;
" ﻟﻌﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻤﺮﻭ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﻲ ﻓﺈﻧﻪ ﺍﺑﺘﺪﻉ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻠﻤﺎ ﻟﺘﻜﻠﻢ ﺑﻪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻮﻥ ﻛﻤﺎ ﺗﻜﻠﻤﻮﺍ ﻓﻰ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻭﺍﻟﺸﺮﺍﺋﻊ ﻭﻟﻜﻨﻪ ﺑﺎﻃﻞ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺑﺎﻃﻞ ".
"Semoga Allah melaknat 'Amer Ibn 'Ubaid [ulama mu'tazilah], karena sesungguhnya dia telah mencetuskan bid'ah-bid'ah ilmu kalam ini. Andai saja pembahasan kalam adalah ilmu, niscaya para sahabat dan tabi'in sama membicarakannya, sebagaimana mereka membicarakan hukum-hukum syari'at. Akan tetapi pembahasan kalam adalah batil yg menunjukkan kpd batil". [lihat kitab al-amru bil itba', karya Imam Suyuthi, hal 18].

Bahkan Imam Syafi'iy, Imam Malik, Imam Ahmad Ibnu Hanbal, Sufyan Tsauri dan semua ahlil hadis dari ulama salaf telah sepakat megharamkan mempelajari ilmu jadal dan ilmu kalam. Ibnu Abdul A'laa rh berkata: "Saya pernah mendengar Imam Syafi'iy ra berkata kepada Hafesh Al-Fard [tokoh kalam mu'tazilah]:
" ﻷﻥ ﻳﻠﻘﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺑﻜﻞ ﺫﻧﺐ ﻣﺎ ﺧﻼ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻠﻘﺎﻩ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻜﻼﻡ ".
"Sungguh, andaikan saja seorang hamba bertemu Allah swt [mati] dengan membawa semua dosa selain menyekutukan Allah, itu lebih baik baginya dari pada bertemu dengan-Nya dengan membawa sedikit saja ilmu kalam".

Dan Imam Syafi'iy berkata:
" ﻗﺪ ﺍﻃﻠﻌﺖ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻣﺎ ﻇﻨﻨﺘﻪ ﻗﻂ، ﻭﻷﻥ ﻳﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﺧﻴﺮ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﻼﻡ ".
"Sungguh saya telah melihat dari ahli kalam sesuatu yg tdk pernah saya sangka sebelumnya sama sekali. Dan sungguh andaikan saja seorang hamba melakukan semua yg telah dilarang Allah swt selain syirik, itu lebih baik baginya dari pada melihat [membahas] ilmu kalam".

Dan Imam Syafi'iy ra berkata;
ﻟﻮ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻣﻦ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻟﻔﺮﻭﺍ ﻣﻨﻪ ﻓﺮﺍﺭﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﺳﺪ .
"Andai saja manusia mengerti sesuatu dalam ilmu kalam, yaitu hawa nafsu, niscaya mereka lari darinya seperti lari dari serigala".

Juga Imam Syafi'iy berkata;
ﺇﺫﺍ ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻹﺳﻢ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﻓﺎﺷﻬﺪ ﺑﺄﻧﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻭﻻ ﺩﻳﻦ ﻟﻪ .
"Apabila kamu mendengar laki-laki berkata; "Isim [nama] itu adalah musamma [substansi] atau
bukan musamma", maka saksikanlah bahwa dia adalah ahli kalam, tidak ada agama baginya".

Juga Imam Syafi'iy ra berkata:
ﺣﻜﻤﻲ ﻓﻰ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺃﻥ ﻳﻀﺮﺑﻮﺍ ﺑﺎﻟﺠﺮﻳﺪ ﻭﻳﻄﺎﻑ ﺑﻬﻢ ﻓﻰ ﺍﻟﻘﺒﺎﺋﻞ ﻭ ﺍﻟﺒﺸﺎﺋﺮ ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻫﺬﺍ ﺟﺰﺍﺀ ﻣﻦ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﺧﺬ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﻼﻡ .
"Hukumku terhadap ahli kalam adalah agar mereka dipukul dengan pelepah kurma dan diarak keliling desa dan kumpulan manusia, dan dikatakan kepada mereka; Ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan Kitab dan Sunnah dan mengambil ilmu kalam".

Dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal ra berkata;
ﻻ ﻳﻔﻠﺢ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺃﺑﺪﺍ، ﻭﻻ ﺗﻜﺎﺩ ﺗﺮﻯ ﺃﺣﺪﺍ ﻧﻈﺮ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺇﻻ ﻭﻓﻰ ﻗﻠﺒﻪ ﺩﻏﻞ .
"Tidak akan beruntung ahli kalam selamanya, dan kamu tidak akan melihat seseorang yang melihat [membahas] ilmu kalam kecuali pada hatinya terdapat kerusakan".

Dan Imam Ahmad ra sangat mencela Harits Al-Mahasibiy , bahkan sampai mendiaminya, padahal Hariat Al-Mahasiby sangat zuhud dan waro', hanya karena ia menulis sebuah kitab bantahan terhadap ahli bid'ah [ahli kalam].

Imam Ahmad barkata kepada Harist Al-Mahasiby;
ﻭﻳﺤﻚ ﺃﻟﺴﺖ ﺗﺤﻜﻲ ﺑﺪﻋﺘﻬﻢ ﺃﻭﻻ ﺛﻢ ﺗﺮﺩ ﻋﻠﻴﻬﻢ ! ﺃﻟﺴﺖ ﺗﺤﻤﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺘﺼﻨﻴﻔﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﺍﻟﺘﻔﻜﺮ ﻓﻰ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ ﻓﻴﺪﻋﻮﻫﻢ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺃﻱ ﻭﺍﻟﺒﺤﺚ ! ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺯﻧﺎﺩﻗﺔ .
"Celaka kamu, bukankah kamu menceritakan bid'ah mereka pertama kali, kemudian kamu
membantahnya! Bukankah kamu mendorong manusia dengan karanganmu untuk melihat-lihat bid'ah dan memikirkan syubhat-syubhat itu, lalu mengajak manusia untuk meneliti dan berpendapat!". Imam Ahmad ra juga berkata: "Ulama kalam adalah gerombolan orang-orang zindiq".

Dan Imam Malik ra berkata;
ﺃﺭﺃﻳﺖ ﺇﻥ ﺟﺎﺀﻩ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺃﺟﺪﻝ ﻣﻨﻪ ﺃﻳﺪﻉ ﺩﻳﻨﻪ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻟﺪﻳﻦ ﺟﺪﻳﺪ؟
"Bukankah kamu mengerti, ketika datang kepadanya orang yg lebih pandai berdebat darinya, apakah ia meninggalkan agamanya setiap hari untuk agama yg baru?", yakni bahwa perkataan ahli kalam itu berbeda-beda dan bertingkat-tingkat.

Dan Imam Malik ra berkata:
ﻻ ﺗﺠﻮﺯ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻷﻫﻮﺍﺀ .
"Kesaksian ahli bid'ah dan hawa itu tidak diterima". Sebagian ashhabnya berkata dalam menakwili perkataan Imam Malik itu; "Ahli hawa yg dikehendaki oleh beliau adalah ahli kalam dari pengikut madzhab manapun".

Dan Abu Yusuf rh berkata;
ﻣﻦ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻜﻼﻡ ﺗﺰﻧﺪﻕ .
"Barang siapa mencari ilmu kalam, maka ia menjadi zindiq".

[kritik terhadap mutakallimin bisa dilihat pada kitab Al-Ihya', Kitabu Qawaa'idil Aqaa'id, karya al-Ghazali . Dan Assuyuthi, al-Amru bil-Itba' ].