Sabtu, 27 Februari 2016

JALAN MENUJU KHILAFAH (02)

JALAN MENUJUKHILAFAH ROSYIDAH YANG BENAR

Jalan (metode) menuju penegakkan khilafah rosyidah yang benar adalah harus berangkat dari dalil-dalil pangkal yang benar yang mencakup seluruh aktivitas Rasululloh SAW dalam perjalanannya selama 13 tahun di Mekkah sehingga beliau menegakkan Daulah Islamiyah di Medinah sebagai pondasi bangunan Khilafah Rosyidah di kemudian hari. Dalil-dalil pangkal dimaksud sebagai berikut:

Pertama; dalil pangkal untuk mendirikan partai plitik yang syr’iy yang tujuannya adalah melanjutkan kehidupan Islam melalui penegakkan khilafah rosyidah, bukan dalil cabang jihad untuk mempersiapkan peralatan jihad seperti di atas. AllohSWT berfirman:
ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻓِﻮَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. QS Ali Imron [3]: 104.

Atas dasar ayatini, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:
“Sesungguhnya berdirinya Hizbut Tahrir adalah untuk menjawab firman Alloh SWT: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”… Karena pada ayat ini Alloh SWT telah menyuruh kaum muslim agar di antara mereka ada jama’ah yang berdiri untuk menegakkan dua perkara: Pertama , dakwah kepada kebajikan, yakni kepada Islam, dan kedua, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Perintah mendirikan jama’ah itu hanya murni tuntutan. Akan tetapi terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa tuntutan itu adalah tuntutan yang tegas. Sehingga aktivitas yang telah ditentukan oleh ayat untuk dikerjakan oleh jama’ah, yakni dakwah kepada Islam dan amar ma’ruf dan nahi munkar, adalah fardlu/wajib dilaksanakan oleh kaum muslim, sebagaimana telah tetap dalam banyak ayat dan hadits yang menunjukkan hal itu, di antaranya Rasululloh SAW bersabda:
« ﻭﺍﻟﺬﻳﻨﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﺘﺄﻣﺮﻥ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﻟﺘﻨﻬﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ، ﺃﻭ ﻟﻴﻮﺷﻜﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺚ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻋﻘﺎﺑﺎًﻣﻦ ﻋﻨﺪﻩ، ﺛﻢ ﻟﺘﺪﻋﻨﻪ ﻓﻼ ﻳﺴﺘﺠﺎﺏ ﻟﻜﻢ »
“Demi Tuhan yang diriku berada pada Yad-Nya, hendaklah kalian ber-amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Alloh akan segera mengirimkan siksa dari sisi-Nya, kemudian hendaklah kalian memohon kepada-Nya, maka permohonan kalian tidak akan diterima”. HRAhmad [al-Musnad, 5/388] dan Tirmidzi [Sunan Tirmidzi, No. 2169].

Hadits ini adalah indikasi yang menunjukkan tuntutan yang tegas, dan perintah yang wajib.
Adapun keberadaan jama’ah itu harus berupa partai politik, maka datang dari sisi ayat itu menuntut kaum muslimin agar menegakkan jama’ah di antara mereka, dan dari sisi penentuan aktivitas jama’ah dengan dakwah kepada Islam dan amar-ma’ruf dan nahi-munkar. Sedangkan aktivitas amar-ma’ruf dan nahi-munkar itu mencakup menyuruh penguasa dengan ma’ruf dan mencegah mereka dari munkar. Bahkan tergolong amar-ma’ruf dan nahi-munkar yang paling utama adalah mengkoreksi penguasa dan memberi nasihat kepada mereka. Ini adalah aktivitas politik. Bahkan aktivitas politik yang paling utama. Dan termasuk aktivitas partai-partai politik yang paling menonjol. Dengan demikian, ayat tersebut menunjukkan atas kewajiban berdirinya partai plitik.

Hanya saja ayat tersebut telah membatasi agar partai politik yang ada harus berupa partai politik Islam, karena tugas yang telah ditentukan oleh ayat yang berupa dakwah kepada Islam dan amar-ma’ruf dan nahi-munkar, sesuai hukum-hukum Islam, itu tidak bisa dilaksanakan kecuali oleh jama’ah dan partai politik Islam.

Sedangkan partai politik Islam adalah partai politik yang berdiri di atas asas akidah Islam, dan mentabanni pemikiran, hukum dan solusi Islam, juga metode perjalanannya adalah metode perjalanan Rasululloh SAW”. (Lihat: Ta’rif Hizbut Tahrir, hal. 1-2).

kedua; dalil pangkal untuk meneladani dan mengikuti Rasululloh SAW dalam perjalanannya dari fase Mekkah sampai fase Medinah, sehingga beliau berhasil mendirikan Negara Islam di sana.
Dalil pangkal dimaksud adalah firmanAlloh SWT:
ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﻴَﺮْﺟُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. QS Al-Ahzab [33]: 21.

Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsir berkata:
“Ayat ini adalah pangkal besar dalam meneladani Rasululloh SAW dalam semua perkataan, perbuatan dan kondisinya. Oleh karenanya, ketika perang ahzab Alloh SWT memerintah manusia agar meneladani Nabi SAW, dalam kesabaran, ketegaran, kesungguhan dan penantiannya terhadap kelapangan dari Tuhannya SWT, perintah ini terus berlaku, sampai hari kiamat”. (Tafsir IbnuKatsir, 6/391).

Dan firman-Nya:
ﻭَﻣَﺎ ﺁَﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬُﻮﺍ
“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. QS al-Hasyr [59]: 7.

Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsir berkata:
“Firman Alloh; “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu,maka tinggalkanlah”, yakni apa saja yang diperintahkan Rasul kepada kalian,maka kerjakanlah, dan apa saja yang Rasul melarang kalian darinya, maka tinggalkanlah, karena Rasul hanya menyuruh dengan kebajikan, dan hanya melarang dari keburukan”. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/67).

SyaikhTaqiyyuddin an-Nabhani berkata:
“Metode Hizbut Tahrir: Metode perjalanan dakwah Hizbut Tahrir adalah hukum-hukum syara’ yang diambil dari metode perjalanan Rasululloh SAW dalam mengemban dakwah, karena beliau wajib diikuti, karena firman Alloh SWT: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab [33]: 21), dan firman-Nya: “Katakanlah:"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Ali Imron [3]: 31), dan firman-Nya: “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (QS al-Hasyr [59]: 7), dan banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan atas kewajiban mengikuti, meneladani dan mengambil dari Rasululloh SAW. Lebih-lebih kaum muslimin saat ini hidup di negara kufur (dar al-kufr), karena mereka berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Alloh SWT, sehingga status negara mereka menyerupai Mekkah ketika diutusnya Rasululloh SAW. Oleh karena itu, pase Mekkah wajib diteladani dalam mengemban dakwah”. (Ta’rif HizbutTahrir, hal. 13).

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:
“Dan dari mencermati sejarah/ perjalanan Rasululloh SAW di Mekkah sehingga beliau menegakkan Daulah di Medinah, maka menjadi terang bahwa beliau telah menempuh fase-fase dakwah yang menonjol, dimana pada fase-fase itu beliau melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang menonjol. Karena itu, Hizbut Tahrir mengambilnya untuk menjadi metode perjalanan dakwahnya, dan menjadi fase-fase dakwahnya. Sedang aktivitas yang wajib dikerjakan oleh Hizbu Tahrir pada fase-fase itu adalah meneladani aktivitas yang dikerjakan oleh Rasululloh SAW pada fase-fase perjalanannya.

Dan atas dasar itu semua, Hizbut Tahrir menentukan metode parjalanan dakwahnya dengan tiga fase:

Pertama; fase pengkaderan, untuk mewujudkan kelompok individu yang mengimani fikroh dan metode Hizb, untuk membentuk kelompok partai.

Kedua; fase berinteraksi dengan umat, agar umat mau mengemban Islam dan menjadikan Islam sebagai masalah utamanya, agar beraktivitas mewujudkan Islam dalam realita kehidupan (bermasyarakat dan bernegara).

Ketiga ; fase menerima kekuasaan, menerapkan Islam secara umun dan menyeluruh, dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. (Ta’rif Hizbut Tahrir, hal. 14).

Dan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:
“Meskipun perjalanan dakwah Hizbut Tahrir harusjelas, terang dan menantang, tetapi Hizbut Tahrir membatasi hanya pada aktivitas politik semata, tidak memakai aktivitas fisik (kekerasan) dalam menghadapi penguasa atau menghadapi orang-orang yang menjadi penghalang dakwahnya, karena mengikuti Rasululloh SAW yang membatasi aktivitas dakwahnya di Mekkah, dimana beliau tidak melakukan aktivitas fisik (kekerasan) sama sekali sampai hijrah ke Medinah. Dan ketika ahlu bai’at aqobah kedua meminta agar beliau memberi izin kepada mereka untuk memerangi penduduk Mina dengan pedang, maka beliau menjawab mereka: “Kami belum diperintahkan untuk itu”. Alloh SWT menuntut agar beliau bersabar terhadap siksaan, sebagaimana para rasul sebelumnya juga bersabar. Alloh berfirman kepadanya: ”Dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka”. (QS al-An’am [6]: 34). (Ta’rif Hizbut Tahrir,hal. 18).

Dan termasuk ke dalam fase dakwah kedua (fase berinteraksi dengan umat) adalah aktivitas meminta pertolongan (tholabun-nushroh) dari orang-orang yang memiliki kemampuan memberi pertolongan, dengan dua tujuan:

Pertama, untuk meminta perlindungan, sehingga Hizbut Tahrir mampu berjalan mengemban dakwah dalam keadaan aman.

Kedua, untuk sampai kepada kekuasaan, untuk menegakkan khilafah dan mengembalikan hukum sesuai yang diturunkan Alloh, dalam kehidupan, masyarakat dan negara. (Manhaj Hizbut Tahrirfit Taghyir, hal. 31).

Dan terkait aktivitas meminta pertolongan, Jubir HTI H. Ismail Yusanto menjelaskan:
“Kemenangan perjuangan Rasulullah itu tidak bisa dilepaskan dari usaha untuk meminta pertolongan (thalabun-nushrah) yang beliau lakukan pada tahun ke-8 kenabian, khususnya setelah wafatnya paman Nabi saw., Abu Thalib, dan istri tercintanya, Khadijah ra., serta semakin meningkatnya gangguan dari kaum Quraisy. Itu terjadi dipenghujung fase kedua dalam thariqah (metode) dakwah Rasulullah saw., yaitu fase interaksi dengan masyarakat (at-tafa’ul ma’a al-ummah). Thalabun-nushrah ditempuh guna mendapatkan perlindungan bagi dakwah dan jalan meraih kekuasaan (istilam al-hukmi) bagi penerapan syariah. Dalam usahanya itu, Ibnu Saad dalam kitabnya At-Thabaqat, sebagaimana ditulis Ahmad al-Mahmud dalam kitab Ad-Da’wah ila al-Islam, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendatangi tak kurang dari15 kabilah; di antaranya Kabilah Kindah, Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Kalb, Bakar bin Wail, Hamdan, dan lain-lain. Kepada setiap kabilah, Rasulullah SAW mengajak masuk Islam sebelum meminta nushrah dari mereka.

Meski berulang ditolak, Rasulullah SAW tetap saja terus meminta. Rasulullah SAW tidak berusaha mengganti dengan metode lain. Fakta ini merupakan qarinah (indikasi) yang jazim (tegas) bahwa thalabun-nushrah merupakan perintah Allah SWT, bukan inisiatif Rasulullah SAW sendiri atau sekadar tuntutan keadaan. Setelah sekian lama berusaha, pada tahun ke-12 kenabian, akhirnya Rasulullah berhasil mendapatkan nushrah dari kaum Anshar. Kaum yang telah dibina sebelumnya itu menyerahkan kekuasaan mereka di Madinah kepada Rasulullah SAW. Jadi, thalabun-nushrah adalah metode yang paling sahih dalam usaha meraih kekuasaan, karena hal ini ditunjukkan secara nyata oleh Baginda Rasulullah SAW dalam perjuangannya.
Harus diingat, thalabun-nushrah adalah aktivitas politik, bukan aktivitas militer, juga bukanlah kudeta militer. Aktivitas militer hanyalah salah satu cara (uslub)—bukan satu-satunya cara—yang bisa dilakukan oleh ahlun-nushrah. Adapun teknis peralihan kekuasaan bergantung sepenuhnya kepada ahlun-nushrah. Bisa melalui jalan damai,sebagaimana dilakukan oleh kaum Anshar saat menyerahkan kekuasaannya di Madinah kepada Rasulullah SAW, tetapi bisa juga melalui aktivitas militer. Semua bergantung kepada ahlun-nushrah.

Itu pula yang saat ini terjadi di Syria. Proses-proses thalabun-nusrah diyakini tengah berlangsung di sana. Detilnya seperti apa, tentu kita tidak tahu, karena aktivitas mencari pertolongan dilakukan secara tertutup. Namun, sejauh yang diekspos media, komitmen para pimpinan mujahidin yang potensial menjadiahlul-quwwah untuk perjuangan Islam sangatlah kuat. Hal itu terlihat darisyiar-syiar yang didengungkan, ikrar, dan bahkan sumpah yang mereka lakukan untuk tetap teguh berjuang bagi tegaknya syariah dan Khilafah di Syria, sertapenolakan mereka terhadap intervensi Barat dan ide negara demokrasi”. (IsmailYusanto, Jalan Menuju Khilafah).

BAGAIMANADENGAN JIHAD?

Terkait jihad, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata: “Ketika Hizbut Tahrir tidak memakai kekuatan fisik untuk membela dirinya atau dalam menghadapi penguasa, maka tidak ada kaitannya dengan taupik jihad, karena Jihad tetap berjalan sampai hari kiamat. Ketika musuh-musuh kafir menyerang negeri Islam, maka kaum muslimin yang menjadi penduduk negeri itu wajib menolak (melawan) mereka, dan syabab HizbutTahrir di negeri itu adalah bagian dari kaum muslimin, dimana wajib atas mereka sesuatu yang wajib atas kaum muslimin, yaitu memerangi dan menolak musuh, dengan kapasitas mereka sebagai kaum muslimin. Dan ketika ada pemimpin muslim yang berjihad untuk meninggikan kalimat (agama ) Alloh dan ia memanggil orang-orang untuk berangkat jihad, maka syabab Hizbut Tahrir sebagai kaum muslmin di negeri itu menyambut panggilan jihad itu”. (Ta’rif Hizbut Tahrir, hal. 19).

Jadi jihad adalah kewajiban syara’, sebagaimana kewajiban shalat lima waktu. Maka seorang muslim yang sudah berkewajiban shalat harus pandai dalam mengerjakan shalat. Ia tidak boleh terlalu bersemangat (ifroth) sehingga ia shalat sebelum waktunya, dan tidak boleh terlalu meremehkan (tafrith) sehingga iashalat di luar waktunya. Ia juga harus mengerti mana waktu yang utama (afdlal) dan yang sunnah untuk mengerjakan shalat, dan mana waktu yang tidak utama dan makruh, bahkan haram untuk mengerjakan shalat. Jadi shalat tepat waktu adalah wajib. Demikian juga dengan jihad, harus tepat waktu dan tepat sasaran.

BERSINERGINYA SYABAB HIZBUT TAHRIR DENGAN PARA MUJAHID ADALAH KUNCI BAGI TEGAKNYA KHILAFAH ROSYIDAH

Dari pemaparan di atas, kita dapat memahami dan meyakini bahwa bersinerginya para pengemban dakwah yang diwakili oleh syabab Hizbut Tahrir, yang tidak menyimpang dari metode dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam melalui penegakkan khilafah rosyidah, yang telah digariskan oleh pendirinya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, dengan ahlul-quwwah (ahlun-nushroh) yang diwakili oleh para mujahid yang mukhlish yang berjihad hanya karena meninggikan kalimat (agama) Alloh, adalah kunci bagi keberhasilan cita-cita kedua kelompok tersebut, yaitu berdirinya khilafah rosyidah. Oleh karenanya, hendaknya kedua kelompok tidak merendahkan, menyalahkan dan menyesatkan satu sama lainnya, dan hendaknya kedua kelompok saling memahami tugasnya masing-masing, tidak menyimpang dari garis dakwah dan jihad, dan saling bersinergi, sehingga tidak mudah diadu-domba dan dipecah-belah oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan jahat, yang diperankan oleh kedua kelompok pula, yaitu kelompok liberal (termasuk nasionalis) dan kelompok Salafi/Wahabi pro sistem kerajaan Arab Saudi, yang terdiri dari ulama salathin yang diperbudak oleh hawa nafsu dan syayathin. Wallohu a’lam…

JALAN MENUJU KHILAFAH (01)

JALAN MENUJU KHILAFAH ROSYIDAH YANG KELIRU
YAITU BERPANGKAL DARI AYAT JIHAD, TIDAK DARI AYAT POLITIK

Bismillahir Rohmaanir Rohiim
Saya menganggap perlu untuk mengankat tema ini, sebagai jawaban atas tulisan Abdul Mun’im Musthafa Halimah ‘Abu Bashir’ yang bertema “al-Thariq ila Isti’naf Hayah Islamiyyah wa Qiyami Khilafah Rosyidah ‘ala Dlaui al-Kitab wa al-Sunnah”, yang diterjemahkan dan dipublikasikan oleh (Mimbar tauhid wal jihad/Millahibrahim.wordpress.com), karena disamping ada permintaan dari saudara seperjuangan, juga pada tulisan itu sangat jelas terdapat pernyataan yang ditujukan kepada para syabab HT/HTI sebagai berikut:

“DITUJUKAN: … … Kepada para pemuda Hizbut Tahrir yang disesatkan yang mencari kebenaran seraya jauh dari ta’ashshub kepada hizbnya dan kepada arbabul hizb…!!! … … Segolongan dari mereka – yang terwakili oleh Hizbut Tahrir (HT) –tidak ada pembicaraan bagi mereka kecuali tentang Khilafah dan eksistensinya,sampai tidak pernah kosong buletin dari buletin-buletin mereka kecuali didalamnya ada penyebutan Khilafah, akan tetapi mereka pada waktu yang sama telah membatasinya dengan batasan-batasan dan mensyaratkan baginya syarat-syarat yang tidak ada dalilnya, yang intinya bahwa mereka ini sebenarnya tidak menginginkan khilafah ini bisa berdiri, dan bahwa mereka dengan syarat-syarat mereka yang rusak ini adalah batu sandungan sebenarnya di hadapan setiap proyek Islamiy yang serius yang memiliki tujuan penegakkan daulah Islamiyyah atau khilafah rasyidah di atas minhaj an nubuwwah”.

Tulisan itu dipenuhi dengan dalil-dalil wajibnya menegakkan khilafah dan mengangkat khalifah, dalil-dalil wajibnya berjama’ah danber-imarah, dan alil-dalil wajibnya berjihad berikut persiapannya, dari al-Qur’an dan as-Sunnah, juga dilengkapi dengan berbagai pernyataan ulama. Dalil-dalil tersebut tidak perlu saya utarakan satu persatunya, karena tidak ada masalah dengannya, semuanya benar adanya. Sedang yang akan saya utarakan adalah ayat Alqur’an yang menjadi pijakan dan pangkal yang salah tempat dan keliru, yang dipakai oleh penulisnya menjadi dalil pangkal bagi metode menegakkan khilafah, sehingga karena pangkalnya salah tempat, maka dalil-dalil cabang yang lainnya juga ikut salah tempat. Berikut adalah rangkuman tulisan dimaksud, dansaya jadikan sebagai:

PROBLEM
JALAN MENUJUKHILAFAH ROSYIDAH YANG KELIRU

Ringkasan Kronologi:
Ada pertanyaan: “Apajalan syar’iy yang wajib ditempuh oleh kaum muslimin untuk memulai kehidupan Islamiyyah dan penegakkan Khilafah rasyidah?”

Jawaban Abdul Mun’im Musthafa Halimah ‘Abu Bashir’: “Jawaban teringkas pada dua kalimat yang telah ditegaskan dan diperintahkan oleh syari’at, yaitu: I’dad kemudian jihad”.

Berdasarkan firman Allah SWT:
ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻨْﻘُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻦْ ﺭِﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺗُﺮْﻫِﺒُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻋَﺪُﻭَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﺪُﻭَّﻛُﻤْﻮَﺁَﺧَﺮِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻬِﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻧَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳُﻮَﻑَّ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻟَﺎﺗُﻈْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏( 60 )
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan padajalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al Anfaal: 60).

Kemudian I’dad terbagi menjadi dua: materi dan ma’nawiy (non materi).
Di antaradalil-dalil yang menunjukkan atas kewajiban I’dad juga adalah bahwa jihad tidak mungkin berjalan tanpa didahului oleh I’dad yang lazim, sedangkan suatu yang mana kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengannya maka ia adalah wajib.

Adapun I’dad kekuatan materi itu meliputi dari penggemblengan fisik seseorang sehingga ia mampu menyesuaikan dan memenuhi panggilan perang sampai kepemilikan senjata paling mutakhir dengan kepiawaian dalam menggunakannya secara baik. Dan termasuk I’dad adalah amal jama’iy, tandhim dan imarah. Rasulullah SAW bersabda: “Bila tiga orang keluar dalam safar maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang sebagai amir.” (Abu Dawud dan yang lainnya, Shahih Al Jami’ Ash Shaghir: 500).

Apabila pada musafir yang terdiri dari tiga orang saja harus ada imarah, mendengar dan taat, maka dengan amal yang memiliki tujuan melanjutkan kehidupan Islamiyyah dengan penegakkan Khilafah rasyidah, tentu lebih memerlukan jama’ah, imarah, mendengar dan taat.
Adapun I’dad Ma’nawiy (non materi): maka meliputi setiap amal yang masuk dalam pembangunan keimanan, wawasan dan akhlak, dalam rangka pembentukan dan pengadaan bibit pilihan yang mampu memikul tuntutan dan tugas agama, untuk menuju ke arah kemenangan. Dan inilah yang dilakukan Nabi SAW pada fase Mekkah sebagai fase terbaik untuk membentuk dan mencetak bibit pilihan dari para sahabatnya yang agung.

Dan termasuk I’dad ma’nawiy adalah amal yang serius yang berkesinambungan untuk merealisasikan tauhid dengan segala macam-macamnya, dan cabang-cabangnya yang sudah baku dalam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di tengah umat, terutama pada kelompok yang menerjuni tugas dakwah dan ‘amal dalam rangka nushrah dien dan meninggikan kalimatnya di muka bumi. (Disarikan dari kitab al-Thariq ila Isti’naf Hayah Islamiyyah wa Qiyami Khilafah Rosyidah ‘ala Dlaui al-Kitab wa al-Sunnah, karya Abdul Mun’im Musthafa Halimah ‘Abu Bashir’, diterjemahkan dan dipublikasikan oleh Mimbar tauhid waljihad/Millahibrahim.wordpress.com).

JAWABAN SAYA ATAS PROBLEM:

Terkait firman Alloh SWT:
ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻨْﻘُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻦْ ﺭِﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺗُﺮْﻫِﺒُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻋَﺪُﻭَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﺪُﻭَّﻛُﻤْﻮَﺁَﺧَﺮِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻬِﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻧَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳُﻮَﻑَّ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻟَﺎﺗُﻈْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏( 60 )
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan padajalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al Anfaal: 60).

Ayat 60 suroh Al-Anfal di atas sangat tidak tepat dijadikan pangkal (ashl/ushul) bagi dalil-dalil cabang atas jalan syar’iy yang wajib ditempuh oleh kaum muslimin untuk memulai kehidupan Islamiyyah dan penegakkan Khilafah rasyidah, karena taupik ayat tersebut hanya berbicara terkait persiapan peralatan perang/jihad, bukan metode memulai kehidupan Islamiyyah dan penegakkan Khilafah rasyidah.

Dalam hal ini Imam Mufassir Ibnu Katsir menegaskan:
ﺛﻢ ﺃﻣﺮ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺈﻋﺪﺍﺩ ﺁﻻﺕ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻟﻤﻘﺎﺗﻠﺘﻬﻢ ﺣﺴﺐ ﺍﻟﻄﺎﻗﺔ ﻭﺍﻹﻣﻜﺎﻥ ﻭﺍﻻﺳﺘﻄﺎﻋﺔ، ﻓﻘﺎﻝ }: ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ { ﺃﻱ : ﻣﻬﻤﺎ ﺃﻣﻜﻨﻜﻢ، } ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻨْﺮِﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ }
“Kemudian Alloh SWT memerintahkan dengan menyiapkan peralatan perang untuk memerangi mereka (kaum kuffar/musyrikin) sesuai kekuatan, kecakapan dan kemampuan. Alloh berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat”.

Dan mengenai ayat ini Imam Ahmad meriwayatkan hadits bahwa Uqbah bin Amir berkata:
ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﺒﺮ : } ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻤْﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ { ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ، ﺃﻻ ﺇﻧﺎﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ "
“Aku pernah mendengar Rasululloh SAW bersabda di atas mimbar: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”. Ingat, kekuatan itu adalah memanah. Ingat, kekuatan itu adalah memanah. Ingat, kekuatan itu adalah memanah”. (HR Ahmad [al-Musnad, 4/156], Muslim [Shahih Muslim, hadits No.1917], Abu Daud [Sunan Abu Daud, hadits No. 2514], Ibnu Majah [Sunan IbnuMajah, 13/28] dan Tirmidzi [Sunan Tirmidzi, No. 3083].

Imam Ahmad dan Ahlual-Sunan juga meriwayatkan hadits bahwa Uqbah bin Amir berkata:
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﺍﺭﻣﻮﺍ ﻭﺍﺭﻛﺒﻮﺍ، ﻭﺃﻥ ﺗﺮﻣﻮﺍ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺗﺮﻛﺒﻮﺍ "
Rasululloh SAW bersabda: “Memanahlah dan berkendaraanlah! Dan memanah itu lebih baik dari berkendaraan”. HR Ahmad [al-Musnad, 4/144]. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, 4/80).

Jadi ayat tersebut juga adalah cabang (far’u/furu’) dari ayat-ayat perang/jihad. Maka bagaimana mungkin ayat cabang bisa dijadikan pangkal bagi dalil-dalil terkait jalan syar’iy yang wajib ditempuh untuk menegakkan Khilafah rasyidah. Padahal khilafah adalah institusi politik yang harus ditegakkan melalui jalan politik yang syar’iy yang telah dicontohkan oleh Rasululloh SAW beserta para sahabatnya. Dan tentu harus melalui pendirian partai politik syar’iy terlebih dahulu.
(barsambung ...)

LIBERALISME ITU BUKAN AJARAN ASWAJA

MENGENALVIRUS LIBERAL

BismillaahirRohmaanirRohiim
Yang saya kehendaki dengan Virus Liberal adalah berbagai ide, pemikiran, pemahaman dan sistem yang memancar dari ide liberalisme (paham serba bebas). Liberalisme sendiri tidak berdiri sendiri, tetapi telah lahir dari rahim akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan kemudian dari negara), yaitu akidah produk kompromi di antara umat kristiani, di antara para pemikir (yang terdiri dari para pemeluk agama Kristen) di satu sisi dan para agamawan (yang terdiri dari para pemuka agama Kristen) di sisi yang lain, pada abad pertenghan, dan tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat Kristen di Eropa. Liberalisme juga tidak berdiri sendirian, tetapi selalu berdiri, melangkah dan berjalan bersama dengan sejumlah ide, pemikiran, pemahaman dan sistem yang semuanya telah lahir dari rahim akidah sekularisme, akidah umat kristen, seperti:

DEMOKRASI
Demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya yang membuang, menjadikan hukum Allah SWT sebatas opsi (pilihan) lalu menggantikannya dengan hukum buatan manusia, atau dengan memilih hukum buatan manusia dan mengalahkan hukum Allah SWT.

Padahal dalam banyak ayat Allah SWT berfirman;
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺷَﻲْﺀٍﻓَﺮُﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺗَﺄْﻭِﻳﻠًﺎ ‏( 59 )
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulilamri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." QS an-Nisa [4]: 59.

Dan firman-Nya;
ﻓَﻠَﺎ ﻭَﺭَﺑِّﻚَ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺤَﻜِّﻤُﻮﻙَ ﻓِﻴﻤَﺎﺷَﺠَﺮَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻟَﺎ ﻳَﺠِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺣَﺮَﺟًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻗَﻀَﻴْﺖَ ﻭَﻳُﺴَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ ‏( 65 )
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan,dan mereka menerima dengan sepenuhnya." QS an-Nisa [4]: 65.

Danfirman-Nya;
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗُﺆَﺩُّﻭﺍ ﺍﻟْﺄَﻣَﺎﻧَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻤْﺘُﻢْ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻥْ ﺗَﺤْﻜُﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْﻝِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻧِﻌِﻤَّﺎ ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢْ ﺑِﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﺑَﺼِﻴﺮًﺍ ‏( 58 )
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat." QS an-Nisa [4]: 58. Padahal tidak ada keadilan kecuali keadilan Islam.

Dan firman-Nya;
ﻭَﻣَﺎ ﺍﺧْﺘَﻠَﻔْﺘُﻢْ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺤُﻜْﻤُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺫَﻟِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺑِّﻲ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺃُﻧِﻴﺐُ
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusan hukumnya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali." QS asy-Syuro [42]: 10.

Danfirman-Nya;
ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻟَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨِﻴَﺮَﺓُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺺِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻠَﺎﻟًﺎ ﻣُﺒِﻴﻨًﺎ ‏( 36 )
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan adabagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." QS al-Ahzab [33]: 36. Dan sejumlah ayat yang lain.

HAM
HAM dengan empat kebebasannya, yaitu; kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat,kebebasan bertingkah-laku dan kebebasan kepemilikan. Padahal empat kebebasan tersebut tidak berasal dari Islam dan sangat kontradiksi dengan Islam.

Kebebasan berakidah kontradiksi dengan hadis berikut;
ﻣَﻦْ ﺑَﺪَّﻝَ ﺩِﻳْﻨَﻪُ ﻓَﺎﻗْﺘُﻠُﻮْﻩُ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ
"Barang siapa telah mengganti agamanya [murtad], maka bunuhlah". Dan hadis-hadis yang lain.

Kebebasan berpendapat kontradiksi dengan hadis berikut;
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﺧَﻴْﺮٌﺍ ﺃَﻭْ ﻟِﻴَﺴْﻜُﺖْ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﺮﻳﺢ ﻭ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ .
"Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah kebaikan atau diamlah". Dan hadis-hadis yang lain.

Kebebasan bertingkah-laku kontradiksi dengan al-Qur'an dan hadis berikut;
ﻭَﻣَﺎ ﺁَﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬُﻮﺍ
"Dan apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu,maka tinggalkanlah." QS al-Hasyer [59]: 7.
ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻴْﺘُﻜُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﺁﻣَﺮْﺗُﻜُﻢْ ﺑِﻪِ ﻓَﺄْﺗُﻮْﺍ ﻣِﻨْﻪُ ﻣَﺎﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ . ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
"Apa saja yang telah aku larang kamu darinya, maka jauhilah ia, dan apa saja yang telah aku perintahkan kamu dengannya, maka kerjakanlah ia, selagi kamu sanggup". Dan ayat dan hadis yang lain.

Dan kebebasan kepemilikan kontradiksi dengan hadis berikut;
ﺍَﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀُ ﻓِﻰ ﺛَﻠَﺎﺙٍ : ﺍَﻟْﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﻜَﻠَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺭِ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺃﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ .
"Kaum muslim itu berserikat dalam tiga perkara; air, rumput dan api". HR Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah. Danhadis yang lain.

Jadi empat kebebasan tersebut hanya dibenarkan bagi orang kafir, tidak bagi orang Islam. Oleh karena itu, HAM adalah ide kufur dan hanya untuk orang kafir.

PLURALISME-SINKRETISME
Pluralisme dan Sinkretisme, yang menganggap semua agama itu benar dan pemeluk-pemeluknya akan masuk surga asalkan beriman dan beramal shaleh sesuai agamanya, dan yang berikutnya mencampur-adukkan semua agama laksana nasi dan lauk-pauknya atau laksana es campur dalam mangkok, sebagai konsekuensi dari pluralisme.

Padahal Rasulullah SAW benar-benar telah bersabda;
« ﻭَﺍﻟَّﺬِﻯ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﺑِﻰ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻷُﻣَّﺔِ ﻳَﻬُﻮﺩِﻯٌّ ﻭَﻻَ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻰٌّ ﺛُﻢَّ ﻳَﻤُﻮﺕُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻯ ﺃُﺭْﺳِﻠْﺖُ ﺑِﻪِ ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ‏» . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ
"Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, tidaklah mendengar denganku seorangpun dari umat ini, baik orang Yahudi atau orang Nasrani, kemudian dia mati sebelum beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka". HR Muslim.

DIALOG ANTAR AGAMA - DOA BERSAMA LINTAS AGAMA
Dialogantar agama dan doa bersama lintas agama sebagai bukti penghayatan dan pengamalan dari ide pluralisme dan sinkretisme.

Padahal Allah SWT benar-benar berfirman;
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻭَﻣَﺎ ﺍﺧْﺘَﻠَﻒَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﺑَﻐْﻴًﺎﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻜْﻔُﺮْ ﺑِﺂَﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺳَﺮِﻳﻊُ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏِ ‏( 19 )
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Dan tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Dan barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." QS Ali Imron [3]: 19.

Dan firman-Nya;
ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺒْﺘَﻎِ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺩِﻳﻨًﺎ ﻓَﻠَﻦْ ﻳُﻘْﺒَﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ ‏( 85 )
"Dan barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya,dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." QS Ali Imron [3]: 85.

Dan firman-Nya;
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ‏( 1 ‏) ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ‏( 2 ‏) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ‏( 3 ‏) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌﻣَﺎ ﻋَﺒَﺪْﺗُﻢْ ‏( 4 ‏) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ‏( 5 ‏) ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨُﻜُﻢْ ﻭَﻟِﻲَ ﺩِﻳﻦِ ‏( 6 )
"Katakanlah: "Hai orang-orangkafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembahTuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamusembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." QS al-Kafirun ayat 1-6.

PANCASILA FINAL - NKRI FINAL
Sampai menjadi Pancasila Final dan NKRI Final . (Majalah NU AULA, hal 23,April 2011, Menghidupkan Ruh dan Pemikiran KH Achmad Siddiq, terutama hal 126, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2007). Kedua ide ini saya masukan ke dalam jajaran Virus Liberal karena melihat fakta para pengusungnya yang selama ini berafiliasi dan berkolaborasi dengan arang-orang liberal, bahkan mereka adalah orang-orang liberal sejati, di mana mereka adalah para propagandis peradaban barat. Mereka sangat anti dan menentang bahkan melakukan penggembosan terhadap dakwah menuju kebangkitan Islam yang hakiki melalui penegakan Daulah Khilafah Rasyidah sebagai institusi politik Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) yang selama ini sangat getol dilakukan oleh Hizbuit Tahrir. Jadi fakta sebenarnya mereka adalah kepanjangan dari tangan-tangan Barat dalam mempropagandakan ideologi kapitalisme dengan seperangkat ide dan sistemnya. Sedangkan term Pancasila Final dan NKRI Final hanya dibuat tameng untuk menangkis serangan dari kaum muslim yang anti peradaban barat, karena kalau sudah menyangkut Pancasila Final dan NKRI Final sipenyerang akan berpikir seribu kali atau akan maju mundur sebelum menyerangnya, karena kedua term itu sangat sacral.

MENJAGA NU, MENJAGA NKRI
Lalu menjadi Menjaga NU, menjaga NKRI, dan Memperkuat NU, Memperkuat NKRI .(KH A Hasyim Muzadi, majalah NU AULA, hal 34, April 2011). Kedua term ini saya masukan kedalam barisan virus liberal juga berdasarkan fakta para pengusungnya yang berafiliasi dan berkolaborasi dengan orang-orang liberal. Mereka menjadikan NU dan NKRI sebagai wasilah untuk menolak pendirian Daulah Khilafah Rasyidah. Padahal tidak ada pertentangan di antara Madzahibul Arba'ah yang diklaim sebagai madzhab NU dan Daulah Khilafah, karena semua madzhab tersebut telah sepakat atas wajibnya khilafah dan pengangkatan seorang khalifah. Juga dengan NKRI, maka harus dipandang sebagai usaha maksimal dari para pendahulu kita dalam mendirikan sebuah Negara, dan bukan batas maksimal. Karena seandainya mereka mampu, pasti Malaysia dan sekitarnya menjadi bagian dari NKRI. Sedang yang tidak boleh dilakukan dan yang bertentangan dengan semangat NKRI adalah memisahkan diri dari NKRI atau memecah NKRI menjadi dua Negara atau lebih.

Padahal Daulah Khilafah yang sedang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir justru akan mengokohkan wilayah NKRI, akan mengembalikan Timor Timur kepangkuan wilayah NKRI, bahkan akan memperluas wilayah NKRI, karena khilafah adalah sistem yang universal, bahkan akan menggabungkan Negara-negara Barat dan Timur ke pangkuan NKRI (yang menjadi negara khilafah rosyidah islamiyah). Maka ketika itu nama NKRI akan berubah menjadi Daulah Khilafah. Ini juga tidak bertentangan dengan NU, karena para tokoh NU juga telah berpandangan akan Apa Arti Sebuah Nama, Nama Itu Tidak Perlu Yang Penting Substansinya, Ismun ItuTidak Perlu Yang Penting Musammanya, seperti pandangan KH Ahmad Shidiq dll. Jadi nama itu tidak dipersoalkan, boleh NKRI dan boleh Khilafah, yang penting substansinya, yaitu kedaulatan, keamanan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Jadi yang tepat adalah term Menjaga NU, Menjaga Khilafah, dan Memperkuat NU, Memperkuat Khilafah.

TIDAK APA-APA NEGARANYA KAFIR ...
Kemudian menjadi Tidak Apa-apa Negaranya Kafir, Yang Penting Nilai-nilainya Islam. (KH A Hasyim Muzadi, majalah NU AULA, hal 36, April 2011, juga dalam ceramahnya di berbagai tempat). Saya memasukan pandangan ini ke dalam barisan virus liberal juga karena penggagasnya sangat anti dan menolak bahkan melakukan penggembosan terhadap dakwah pendirian Negara Islam, Daulah Khilafah Rasyidah,dan terhadap formalisasi syariat Islam dalam bermasyarakat dan bernegara. Apalagi gagasan itu termasuk gagasan utopis yang tidak ada faktanya sama sekali dan tidak akan dapat difaktakan sama sekali, karena mustahil ada nilai Islam diselain penerapan syariat Islam. Jadi nilai-nilai Islam itu ada ketika syariat Islam diterapkan.

Contohnya dalam keadilan, nilai keadilan Islam apa ketika ada orang mencuri barang yang telah mencapai nishab sariqah dan sanksi hukumannya hanya dipenjara beberapa minggu. Maka sama sekali tidak ada nilai Islam, sedang yang ada hanyalah nilai hukum jahiliyah. Tetapi ketika sanksi Islam diterapkan, yaitu potong tangan, maka terdapat nilai Islam, yaitu tujuan dari sanksi itu, yaitu menjadi jawabir (tebusan) dosa bagi pencuri yang telah dijatuhkan sanksi potong tangan kepadanya di akhirat kelak, dan jawazir (pencegah) bagi orang lain dari melakukan tindakan serupa. Juga dengan kasus-kasus kriminal yang lain, baik yang terkait dengan hak-hak Allah maupun dengan hak-hak adami (sesama manusia). Oleh karena itu dalam khazanah fikih Islam para ulama tidak hanya membahas bab shalat dan puasa, tetapi sampai pada pembahasan jinayat, hudud, jihad dlsb. Jadi ketika syariat Islam diformalkan dan diterapkan, maka nilai-nilai Islam dapat dirasakan dan dibuktikan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Bahkan pengusung pandangan tersebut sering sekali di berbagai ceramah dan diskusinya menyentil potongan ayat waman lam yahkum bimaa anzalallohu faulaaika humul kaafiruun (dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum sesuai yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir). Dia mengatakan bahwa man adalah orang, bukan negara. Jadi tidak apa-apa negaranya kafir asalkan orangnya Islam…….". Memang benar man itu artinya orang, tetapi harus diketahuai bahwa negara itu ditinggali dan diatur oleh orang, dan Allah telah menyuruh agar orang yang mengatur negara harus mengaturnya dengan hukum (syariat)-Nya, karena yang diatur juga orang. Dan orang yang tidak mengatur negara dengan hukum-Nya adalah orang kafir. Jadi ayat tersebut menunjukkan atas wajibnya memformalkan dan menerapkan hukum Allah dalam kehidupan bernegara.

Sampai propaganda yang terus menerus disuarakan oleh tokoh-tokoh liberal termasuk oleh tokoh-tokoh jam'iyyah yang mengklaim paling Aswaja bahwa ; " Rasulullah SAW Tidak Pernah Mendirikan Negara Islam Di Madinah ". Propaganda ini sangat keliru dan menyesatkan. Karena kalau kita menelaah hadis berikut ;

Dari Nu'man Ibn Basyir barkata; Rasulullah SAW bersabda ;
« ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓُ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻼَﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜﺎً ﻋَﺎﺿًّﺎ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜﺎًﺟَﺒْﺮِﻳَّﺔً ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻼَﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﻧُﺒُﻮَّﺓٍ ‏» . ﺛُﻢَّ ﺳَﻜَﺖَ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔُ
"Di tengah kalian sedang ada kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan zalim, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan diktator, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian". Kemudian belaiu diam". HR Ahmad dari Hudzaifah RA.

Ketika kita menelaah hadis tersebut, maka secara tektual benar bahwa pada masa Nabi SAW hanya ada nubuwah (kenabian), tidak ada negara khilafah di tengah-tengah kaum muslim, juga tidak ada pemerintahan zalim dan dictator, bahkan tidak ada negara demokrasi dan Pancasila. Kalau kita menolak negara khilafah, karena Nabi SAW tidak pernah mendirikannya, maka kita harus lebih menolak Negara Demokrasi dan Pancasila, karena tidak ada pada masa Nabi SAW, sahabat, tabi'in dan tabi'it-tabi'in, bahkan sampai tahun 1924 M., dan baru ada setelah Indonesia merdeka.

Akan tetapi ketika kita menelaah fakta yang ada pada masa Nabi SAW, dengan menelaah sunnah serta siroh Nabi SAW secara menyeluruh, maka kita menemukan fakta berdirinya Negara Islamdi Madinah. Di sana Nabi SAW telah mengangkat para wali (jabatan setingkat gubernur), para amil (jabatan setingkat bupati), para katib (skretaris), para panglima dan komandan prajurit, para qadhi (hakim), bahkan mengangkat dua mentri, yaitu Abu Bakar dan 'Umar. Jadi dengan sejumlah fakta itu, kalau bukan Negara, namanya apa?

Demikian juga pada hadis diatas, Nabi SAW telah menyebut khilafah ala minhajin nubuwah , tidak daulah khilafah. Sedangkan fakta khilafah adalah Daulah Islamiyyah (Negara Islam). Ini adalah indikasi bahwa Nabi SAW telah mendirikan sebuah daulah, yang kemudian menjadi khilafah. Kalau tidak demikian, apa makna sabda Nabi SAW berupa khilafah ala minhajin nubuwah ? Padahal kalau khilafah yang mengikuti metode kenabian adalah sebuah Negara, maka yang diikutinya juga harus sebuah Negara, karena pengikut (tabi') itu harus mengikuti yang diikuti (matbu'). Kalau tidak demikian, maka harus ada pihak yang telah berdusta, yaitu Nabi SAW atau para sahabat yang telah ber-Ijmak atas berdirinya Daulah Khilafah. Lalu ketika kita memustahilkan terjadinya kedustaan di antara dua pihak, maka kita memastikan bahwa Nabi SAW benar-benar telah mendirikan Daulah Islamiyyah di Madinah.

Juga pada hadis tersebut Nabi SAW memakai kata Nubuwwah tidak memakai kata
Risalah , padahal yang dominan saat itu adalah Muhammad sebagai Rasulullah yang lebih umum daripada Muhammad sebagai Nabiyyullah yang bersifat pribadi, lalu kata Nubuwwah diteruskan dengan kata khilafah, mulkan 'adhan, mulkan jabariyyah dan khilafah lagi. Ini adalah indikasi yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa nubuwwah pada hadis itu adalah bentuk Negara Islam, karena oleh Nabi SAW telah disejajarkan dengan bentuk Negara Islam yang lain. Jadi di samping Muhammad SAW sebagai Rasulullah yang membawa risalah Islam secara umum, juga sebagai Nabiyullah yang membawa nubuwah Islam secara khusus, yaitu dalam bentuk Negara.

Hal ini dikokohkan oleh hadis berikut;
« ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺑَﻨُﻮ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﺗَﺴُﻮﺳُﻬُﻢُ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﻛُﻠَّﻤَﺎﻫَﻠَﻚَ ﻧَﺒِﻰٌّ ﺧَﻠَﻔَﻪُ ﻧَﺒِﻰٌّ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻧَﺒِﻰَّ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﻭَﺳَﺘَﻜُﻮﻥُ ﺧُﻠَﻔَﺎﺀُ ﻓَﺘَﻜْﺜُﺮُ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻓُﻮﺍ ﺑِﺒَﻴْﻌَﺔِﺍﻷَﻭَّﻝِ ﻓَﺎﻷَﻭَّﻝِ ﻭَﺃَﻋْﻄُﻮﻫُﻢْ ﺣَﻘَّﻬُﻢْ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺳَﺎﺋِﻠُﻬُﻢْ ﻋَﻤَّﺎ ﺍﺳْﺘَﺮْﻋَﺎﻫُﻢْ ‏» . ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
"Dulu Bani Israil urusan politiknya dipimpin oleh paranabi, setiap satu nabi wafat digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku, dan akan ada para khalifah lalu mereka menjadi banyak". Sahabat berkata; "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?", beliau bersabda; "Penuhilah baiat khalifah yang pertama lalu khalifah yang pertama". HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA.

Hadis ini berbicara masalah politik para nabi Bani Israil yang silih berganti, lalu Nabi SAW berkata; "Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku", tidak berkata;"Sesungguhnya tidak ada Rasul lagi setelahku". Lalu beliau SAW berkata; "Dan akan ada para khalifah ". Ini adalah indikasi bahwa beliau Nabi SAW adalah sosok kepala daulah nubuwwah, yakni sosok nabi yang memegang jabatan politik, karena kalimat yang jatuh sebelum dan setelah kalimat "Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku " adalah kalimat yang membicarakan urusan politik.

Jadi hadis ini berhubungan dengan hadis sebelumnya di mana keduanya sama-sama membicarakan urusan politik nubuwah. Dan dari keduanya dapat ditarik kesimpulan bahwa Nabi SAW telah menegakkan Negara Islam di Madinah dan Negara itu disebut dengan daulah nubuwwah yang di kemudian hari berganti dengan nama daulah khilafah ala minhajin nubuwah (Negara Khilafah yang mengikuti metode Negara Nubuwah). Kalau daulah khilafah dipimpin oleh khalifah, maka daulah nubuwah dipimpin oleh nabi.

Pandangan ini juga dikokohkan oleh Ijmak sahabat sebagai dalil syar'iy yang paling kuat, karena ijmak sahabat itu menyingkap dalil. Artinya, para sahabat tidak akan berani ber-Ijmak untukmendirikan Negara Khilafah dan mengangkat seorang khalifah yang menggantikan kedudukan Nabi SAW dalam menjalankan roda pemerintahan Islam, kalau mereka tidak mengerti dan melihat secara langsung bentuk Negara Islam yang telah dibangun dan dipraktekkan oleh Nabi SAW di Madinah, karena mereka sangat kuat keterikatannya dengan agama Islam yang telah dibawa, disampaikan dan dipraktekkan oleh Rasulullah SAW.

Dengan demikian kita memastikan bahwa propaganda " Rasulullah SAW Tidak Pernah Mendirikan Negara Islam Di Madinah ", adalah virus liberal berkedok Aswaja.

Juga yang saya kehendaki dengan virus liberal adalah individu yang telah terkontaminasi oleh virus liberal dan dia dengan sembunyi-sembunyi atau secara rasahasia berupaya menularkan virus liberalnya kepada setiap orang atau komunitas yang dia jumpai atau dia berada di dalamnya. Biasanya individu yang telah menjadi virus liberal itu terdiri dari sosok ustadz atau gus (putra kyai), terutama yang masuk ke dalam struktur NU atau yang menjadi NU structural.

Dan dalam menyebarkan virusnya tidak secara langsung menyebarkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran liberal sebagaimana dilakukan oleh gerombolan liberal tulen seperti JIL (Jaringan Islam Liberal), tetapi dengan memakai kedok seperti kedok Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) untuk menyembunyikan ide dan pemikiranli beralnya. Sedangkan ide dan pemikiran Aswaja yang orisinil dan asli dimanipulasi dan direkayasa agar terlihat sebagai ide dan pemikiran yang kontradiksi dengan ide dan pemikiran Aswaja kedok..

Setidaknya ada tiga indikasi yang dapat dipakai untuk mendeteksi seseorang yang telah terkontaminasi oleh virus liberal atau seseorang yang telah menjadi virus liberal, yaitu :

Pertama ; suka merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi, baik melalui tulisan maupun lisan, terhadap perjuangan penerapan Islam kaffah.

Kedua; suka memuja dan menyanjung plus husnuz zhan (baik sangka) kepada segala ide, pemikiran dan sistem yang lahir dari rahim akidah sekularisme, dan kepada orang-orang yang mendakwahkannya, baik melalui tulisan maupun lisan. Dan

Ketiga ; suka mencaci, mencela dan su-uz-zhan (buruk sangka) terhadap ide, pemikiran dan sistem yang lahir dari akidah Islam seperti sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam dan sistem yang mengatur sanksi hukuman Islam, dan terhadap orang-orang yang mendakwahkannya, baik melalui tulisan maupun lisan.

INTI DARI LIBERALISME ADALAH MENOLAK HUKUM ALLOH SWT UNTUK MENGATUR KEHIDUPAN, MASYARAKAT DAN NEGARA, MELALUI PENEGAKKAN KHILAFAH ROSYIDAH

ASWAJA HAKIKI TIDAK AKAN BERANI MENOLAK PENERAPAN SYARIAH ISLAM SECARA TOTAL MELALUI PENEGAKKAN DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH, KECUALI ASWAJA TOPENG

Anda setuju tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

KEKHALIFAHAN MUAWIYAH (05)

MUAWIYAH ADALAH SATU DARI 12 KHALIFAH YANG TELAH DIKHABARKAN OLEH RASULULLOH SAW

Rasululloh SAW bersabda:
ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮِ ﺑْﻦِ ﺳَﻤُﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮَ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘَﻀِﻲ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤْﻀِﻲَ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔً ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﺮَﻳْﺶٍ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ
Dari Jabir bin Samuroh berkata: “Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya perkara agama ini tidak akan selesai sehingga berlalu pada mereka (kaum muslim /para khalifah) dua belas khalifah yang semuanya dari Quraisy”. HR Muslim .

Imam Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa’ berkata:
ﻗﻴﻞ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﺛﻨﻲ ﻋﺸﺮ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺪﺓ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺘﻮﺍﻝ ﺃﻳﺎﻣﻬﻢ ﻭﻳﺆﻳﺪ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﺪﺩ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺨﻠﺪ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﻬﻠﻚ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻛﻠﻬﻢ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﻬﺪﻯ ﻭﺩﻳﻦ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﻨﻬﻢ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﺎﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﻮﻟﻪ " ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻬﺮﺝ " ﺃﻱ ﺍﻟﻔﺘﻦ ﺍﻟﻤﺆﺫﻧﺔ ﺑﻘﻴﺎﻡ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﺍﻧﺘﻬﻰ .
“Di katakan; bahwa yang dikehendaki adalah wujudnya dua belas khalifah pada semua masa Islam sampai hari kiamat, mereka semua mempraktekkan haq, meskipun masa mereka tidak berturut-turut. Pendapat ini dikokohkan oleh hadis yang dikeluarkan Musaddad dalam ‘Musnad Kabir’-nya, dari Abul Khald, sesungguhnya beliau berkata: “Umat ini tidak akan rusak sehingga dari mereka ada dua belas khalifah yang semuanya mempraktekkan petunjuk dan agama yang hak, dari mereka ada dua laki-laki dari ahli bait (keturunan) Muhammad SAW.” Atas dasar ini, maka yang dikehendaki dengan perkataan,“kemudian akan ada kekacauan”, adalah fitnah-fitnah yang memberi tahukan akan datangnya kiamat, yaitu keluarnya Dajjal dan seterusnya.”

(dan berkata:)
ﻗﻠﺖ : ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﻘﺪ ﻭﺟﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺛﻨﻲ ﻋﺸﺮ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﻭﻋﻤﺮﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻫﺆﻻﺀ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻀﻢ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺍﻟﻤﻬﺘﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺳﻴﻴﻦ ﻷﻧﻪ ﻓﻴﻬﻢ ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻓﻲ ﺑﻨﻲ ﺃﻣﻴﺔ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮ ﻟﻤﺎ ﺃﻭﺗﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺪﻝ ﻭﺑﻘﻰ ﺍﻻﺛﻨﺎﻥ ﺍﻟﻤﻨﺘﻈﺮﺍﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺍﻟﻤﻬﺪﻱ ﻷﻧﻪ ﻣﻦ ﺁﻝ ﺑﻴﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
“Saya berkata: Atas dasar pendapat ini, dari dua belas khalifah telah ada para khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Hasan, Muawiyah, Ibnu Zubair, Umar bin Abdul Aziz, mereka adalah delapan khalifah. Dan dapat dikumpulkan kepada mereka, al-Muhtadi dari para khalifah Bani Abbas(khilafah abbasyiyyah), karena pada mereka ia seperti Umar bin Abdul Aziz pada Bani Umayah. Begitu pula at-Thahir, karena keadilannya. Dan masih tersisa dua khalifah yang dinanti-nantikan, salah satunya adalah Imam Mahdi, karena beliau termasuk keturunan Muhammad SAW”. (Imam Suyuthi,Tarikhul Khulafa’, juz 1, hal. 83, Maktabah Syamilah).

Dari lima edisi kekhalifahan Muawiyah menjadi jelas bahwa Muawiyah adalah Khalifah didalam sistem Khilafah ...

KEKHALIFAHAN MUAWIYAH (04)

Imam Ibnu Taimiyah Menetapkan Muawiyah Sebagai Khalifah

Di bawah adalah intisari dari pernyataan Imam Ibnu Taimiyah yang agak panjang yang saya pahami dari kitab Majmu’ al-Fatawa’ -nya. Imam Ibnu Taimiyah RH berkata:
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺧﻼﻓﺔ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﻳﺆﺗﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻠﻜﻪ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻟﻔﻆ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻣﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﺍﺭﺙ ﻭ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﻋﺎﻣﺎ ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﻠﻚ ، ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﺗﺼﻴﺮ ﻣﻠﻜﺎ ، ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻣﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺳﻠﻤﺔ ﻭ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﺍﺭﺙ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﻭ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﺑﻦ ﺣﻮﺷﺐ ﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﻤﻬﺎﻥ ﻋﻦ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﻣﻮﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻭ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﻛﺄﺑﻰ ﺩﺍﻭﺩ ﻭ ﻏﻴﺮﻩ ، ﻭ ﺍﻋﺘﻤﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﻰ ﺗﻘﺮﻳﺮ ﺧﻼﻓﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔﻭ ﺛﺒﺘﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻭ ﺍﺳﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺗﻮﻗﻒ ﻓﻰ ﺧﻼﻓﺔ ﻋﻠﻲ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻓﺘﺮﺍﻕ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺮﺑﻊ ﺑﻌﻠﻲ ﻓﻰ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻓﻬﻮ ﺃﺿﻞ ﻣﻦ ﺣﻤﺎﺭ ﺃﻫﻠﻪ ﻭ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﻣﻨﺎﻛﺤﺘﻪ ﻭ ﻫﻮ ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻭ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﻭ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻭ ﻫﻮ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ
Nabi SAW bersabda: “Khilafah Nubuwwah itu tiga puluh tahun, kemudian Alloh akan memberikan kerajaannya atau kerajaan kepada orang yang dikehendaki”. Sedang redaksi hadits Abu Daud dari riwayat Abdulwarits dan Awam adalah: “Akan ada khilafah tiga puluh tahun kemudian akan ada kerajaan”, “Akan ada khilafah tiga puluh tahun kemudian akan menjadi kerajaan” . Tersebut adalah hadits masyhur riwayat dari Hammad bin Salamah, Abdulwarits bin Sa’id, Awam bin Hausyab dll, dari Sa’id bin Jumhan, dari Safinah mantan budak Rasululloh SAW, dan telah diriwayatkan oleh ahlu as-Sunan sepert Abu Daud dan yang lainnya.

Imam Ahmad dan lainnya telah menjadikan hadits tersebut sebagai dalil untuk menetapkan ke-khilafah-an al-Khulafa’ ar-Rosyidien yang empat. Imam Ahmad telah menetapkan dan berdalil dengan hadits itu terhadap orang/ulama yang meragukan ke-khilafah-an Ali RA, karena berpisahnya manusia terhadap Ali RA. Sampai-sampai Imam Ahmad berkata: “Barang siapa yang tidak rela / tidak merasa puas dengan ke-khilafah-an Ali, maka ia lebih tersesat daripada himar/keledai piaraannya”, dan Imam Ahmad melarang menikahkan orang itu. Pendapat Imam Ahmad ini disepakati oleh para fuqaha, ulama ahlussunnah, ahli makrifat dan tashawuf, dan merupakan madzhab mayoritas.

(dan berkata:)
ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺨﺎﻟﻔﻬﻢ ﻓﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻭ ﻧﺤﻮﻫﻢ ﻛﺎﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﻨﻴﻦ ﻓﻰ ﺧﻼﻓﺔ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺨﻮﺍﺭﺝ ﺍﻟﻄﺎﻋﻨﻴﻦ ﻓﻰ ﺧﻼﻓﺔ ﺍﻟﺼﻬﺮﻳﻦ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻴﻴﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭ ﻋﻠﻲ ﺃﻭ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺻﺒﺔ ﺍﻟﻨﺎﻓﻴﻦ ﻟﺨﻼﻓﺔ ﻋﻠﻲ ﺃﻭ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺠﻬﺎل ﻤﻦ ﺍﻟﻤﺘﺴﻨﻨﺔ ﺍﻟﻮﺍﻗﻔﻴﻦ ﻓﻰ ﺧﻼﻓﺘﻪ ﻭﻭﻓﺎﺓ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻛﺎﻧﺖ ﻓﻰ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ ﺳﻨﺔ ﺇﺣﺪﻯ ﻋﺸﺮﺓ ﻣﻦ ﻫﺠﺮﺗﻪ ﻭ ﺇﻟﻰ ﻋﺎﻡ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻛﺎﻥ ﺇﺻﻼﺡ ﺇﺑﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺑﻴﻦ ﻓﺌﺘﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺑﻨﺰﻭﻟﻪ ﻋﻦ ﺍﻷﻣﺮ ﻋﺎﻡ ﺇﺣﺪﻯ ﻭ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻓﻰ ﺷﻬﺮ ﺟﻤﺎﺩﻯ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﺳﻤﻲ ﻋﺎﻡ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭ ﻫﻮ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻤﻠﻮﻙ
Sedang yang tidak setuju dengan pendapat mereka (Imam Ahmad dan lainnya) hanyalah sebagian ahlul-ahwa’ (pengikut hawa nafsu) dari ahli kalam dan sesamanya, seperti kelompok Rofidhah (Syi’ah ekstrem) yang mencela ke-khilafah-an tiga khalifah (Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman RA), atau kelompok Khawarij yang mencela ke-khilafah-an Abu Bakar dan Umar sebagai mertua Nabi SAW, yang mengingkari ke-khilafah-an Utsman dan Ali, atau sebagian kelompok pembangkang yang mengingkari ke-khilafah-an Ali, atau sebagian orang bodoh yang mengklaim ahlussunnah yang meragukan ke-khilafah-an Ali RA. Nabi SAW wafat pada bulan Robi’ul Awal tahun 11 H. dan sampai tahun 30 H. cucu Rasululloh SAW Hasan bin Ali mendamaikan dua kelompok kaum muslimin dengan menyerahkan khilafah kepada Muawiyah pada tahun 31, pada bulan Jumadal Ula, dan tahun itu dinamakan tahun jama’ah karena bersatunya manusia kepada Muawiyah sebagai raja pertama diantara para raja.

(dan berkata:)
ﻗﻠﺖ ﻧﺼﻮﺹ ﺍﺣﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻥ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺗﻤﺖ ﺑﻌﻠﻰ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺟﺪﺍ، ﺛﻢ ﻋﺎﺭﺽ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺫﻟﻚ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﺗﺼﻴﺮ ﻣﻠﻜﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﻓﻠﻤﺎ ﺧﺺ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺑﻌﺪﻩ ﺑﺜﻼﺛﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻛﺎﻥ ﺁﺧﺮﻫﺎ ﺍﺧﺮ ﺍﻳﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﻭﺍﻥ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻠﻜﺎ ﺩﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﺑﺨﻼﻓﺔ ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺍﻟﻘﺎﺿﻰ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﻻ ﻳﺸﻮﺑﻬﺎ ﻣﻠﻚ ﺑﻌﺪﻩ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﻭﻫﻜﺬﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺧﻼﻓﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ﻭﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻗﺪ ﺷﺎﺑﻬﺎ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﻗﺎﺩﺣﺎ ﻓﻰ ﺧﻼﻓﺘﻪ ﻛﻤﺎ ﺃﻥ ﻣﻠﻚ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﺪﺡ ﻓﻰ ﻧﺒﻮﺗﻪ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻻﻧﺒﻴﺎﺀ ﻓﻘﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ ﻓﻬﺬﺍ ﻳﻘﺘﻀﻰ ﺍﻥ ﺷﻮﺏ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺑﺎﻟﻤﻠﻚ ﺟﺎﺋﺰ ﻓﻰ ﺷﺮﻳﻌﺘﻨﺎ ﻭﺍﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻨﺎﻓﻰ ﺍﻟﻌﺪﺍﻟﺔ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺍﻟﻤﺤﻀﺔ ﺍﻓﻀﻞ ﻭﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻧﺘﺼﺮ ﻟﻤﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭﺟﻌﻠﻪ ﻣﺠﺘﻬﺪﺍ ﻓﻰ ﺍﻣﻮﺭﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﺴﺒﻪ ﺍﻟﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﺄﺣﺪ ﺍﻟﻘﻮﻟﻴﻦ ﺍﻣﺎ ﺟﻮﺍﺯ ﺷﻮﺑﻬﺎ ﺑﺎﻟﻤﻠﻚ ﺃﻭ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻠﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ... } ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ - ‏( ﺝ 35 / ﺹ 18 ‏) ... ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ - ‏( ﺝ 35 / ﺹ 28 )}.
Aku (Ibnu Taimiyah) berkata: “Teks-Teks Imam Ahmad bahwa khilafah itu sempurna dengan khalifah Ali itu banyak sekali. Kemudian Imam Qadhi ‘Iyadh membantah hal itu dengan perkataannya; kalau “Khilafah itu 30 tahun kemudian menjadi kerajaan”, maka ada yang bertanya; “Ketika Nabi telah menentukan khilafah setelahnya dengan 30tahun, maka akhirnya adalah akhir khilafahnya Ali, dan setelah itu adalah kerajaan. Ini menunjukkan bahwa kerajaan itu bukan khilafah?”. Lalu Qadhi ‘Iyadh membuat jawaban; “bahwasanya dimungkinkan, bahwa yang dikehendaki oleh Nabi adalah khilafah yang tidak tercampuri oleh kerajaan selama 30 tahun, dan seperti itulah ke-khilafah-an al-Khulafa’ yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), sedang Muawiyah benar-benar telah tercampur oleh kerajaan, dan ini tidak merusak ke-khilafah-annya, sebagaimana kerajaan Nabi Sulaiman tidakmerusak kenabiannya, meskipun para nabi selain dia adalah faqir (melarat)”.

Aku (Ibnu Taimiyah) berkata: “Ini menetapkan bahwa mencampur khilafah dengan kerajaan itu boleh dalam syariat kami, dan bahwa hal itu tidak menafikan keadilan, meskipun khilafah yang murni itu lebih utama. Dan setiap orang yang membela Muawiyah dan menjadikannya sebagai mujtahid pada perkaranya, dan tidak menisbatkannya kepada maksiat, maka hendaklah ia mengatakan salah satu dari dua pendapat; bolehnya mencampur khilafah dengan kerajaan atau tidak mencela tercampurnya khilafah dengan kerajaan”. (Lihat: Majmu’ al-Fatawa’, juz 35, hal. 17 - 28, Maktabah Syamilah Ishdar Tsani).

KESIMPULAN

Pertama : Hadits Nabi SAW bahwa khilafah ituberjalan 30 tahun, adalah khilafah nubuwah, dan sebagai dalil untuk menetapkan ke-khilafah-an al-Khulafa’ ar-Rosyidien yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), dan untuk membantah ahlul-ahwa’ (pengikut hawa nafsu) dari ahli kalam dan sesamanya, seperti kelompok Rofidhah (Syi’ah ekstrem) yang mencela ke-khilafah-an tiga khalifah (Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman RA), atau kelompok Khawarij yang mencela ke-khilafah-an Abu Bakar dan Umar sebagai mertua Nabi SAW, yang mengingkari ke-khilafah-an Utsman dan Ali, atau sebagian kelompok pembangkang yang mengingkari ke-khilafah-an Ali, atau sebagian orang bodoh yang mengklaim ahlussunnah yang meragukan ke-khilafah-an Ali RA.

Kedua: Muawiyah adalah khalifah dalam sistem khilafah, bukan raja dalam sistem kerajaan. Hanya saja sistem khilafah Muawiyah telah tercampur oleh sistem kerajaan (karena diturunkan kepada anak-cucunya). Jadi yang dibolehkan dalam syariah Islam hanyalah khilafah yang bercampur(berbau) kerajaan, bukan sistem kerajaan. Wallohu a’lam.

KEKHALIFAHAN MUAWIYAH (03)

BUKTI BAHWA MUAWIYAH ADALAH KHALIFAH DALAM SISTEM KHILAFAH, BUKAN RAJA DALAM SISTEM KERAJAAN

Imam Jalaluddien as-Suyuthi RH berkata:
“Muawiyah bin Abu Sufyan RA telah memeluk Islam bersama ayahnya pada hari penaklukkan kota Mekkah, ia hadir pada perang Hunain dan termasuk muallaf kemudian Islamnya baik sehingga menjadi salah satu penulis wahyu bagi Rasulullah SAW.
Telah diriwayatkan dari Muawiyah dari Nabi SAW seratus enam puluh tiga hadits, dan telah meriwayatkan hadits dari Muawiyah, dari kalangan sahabat adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Abu Darda’, Jarir al-Bajjali, Nu’man bin Basyir dan yang lainnya, dan dari kalangan tabi’ien adalah Ibnul Musayyab, Humaid Ibnu Abdurrahman dan yang lainnya.

Muawiyah adalah termasuk orang yang memiliki kecerdasan dan kecerdikan, dan telah datang sejumlah hadits mengenai keutamaannya, diantaranya adalah hadist:
ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ بن أﺑﻲ ﻋﻤﻴﺮﺓ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﻤﻌﺎﻭﻳﺔ " ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍجعله هاﺩﻳﺎً ﻣﻬﺪﻳﺎً " . ﺃﺧﺮﺝ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺣﺴﻨﻪ
Dari Abdurrahman bin Abu Amirah al-Shahabi, bahwa Nabi SAW pernah berdoa untuk Muawiyah: “Ya Alloh, jadikanlah ia orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk”. (Hadist dikeluarkan dan dihasankan oleh al-Tirmidzi).

(Dan hadits)
ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺮﺑﺎﺽ ﺑﻦ ﺳﺎﺭﻳﺔ : ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : " ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋﻠﻢ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭقه العذاﺏ " . ﺃﺧﺮﺝ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ
Dari Irbadl bin Sariyah (berkata): “Aku pernah mendengar Rasululloh SAW berdoa: “Ya Alloh, ajarkan kepada Muawiyah kitab dan hisab, dan jagalah ia dariazab”. (Hadits dikeluarkan Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya).

(Dan hadits)
ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺑﻨﻌﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ : ﻣﺎ ﺯﻟﺖ ﺃﻃﻤﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻣﻨﺬ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ عليه وﺳﻠﻢ : " ﻳﺎ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺇﺫﺍ ﻣﻠﻜﺖ ﻓﺄﺣﺴﻦ " . ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻴﻔﻲ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ
Dari Abdul Malik bin Umair berkata: “Muawiyah pernah berkata: “Aku selalu mengharap khilafah sejak Rasululloh SAW bersabda kepadaku: “Wahai Muawiyah, apabila kamu berkuasa, maka berbuat baiklah”.

Ketika Abu Bakar RA mengirim tentara ke Syam, maka Muawiyah berjalan bersama saudaranya yaitu Yazid bin Abu Sufyan. Lalu ketika Yazid wafat, maka Abu Bakar mengangkat Muawiyah menjadi penguasa di Damaskus, lalu ditetapkan oleh Umar kemudian oleh Utsman, dan Utsman mengumpulkan semua negeri Syam kepada Muawiyah.

Dengan demikian Muawiyah menjadi amir selama dua puluh tahun, dan menjadi khalifah selama sepuluh tahun.

Ka’bul Akhbar RH berkata: “Tidak akan ada yang bisa menguasai umat ini sebagaimana Muawiyah menguasainya”. Al-Dzahabi berkata: “Ka’bul Akhbar wafat sebelum Muawiyah menjadi khalifah. Ka’bul Akhbar benar tentang pengutipannya. Karena Muawiyah tetap menjadi khalifah selama sepuluh tahun tidak ada seorangpun di bumi yang merebut kekuasaannya, berbeda dengan orang-orang (para khalifah) setelahnya dimana mereka memiliki penentang dan sejumlah kerajaan keluar dari kekuasaannya. Muawiyah pernah keluar kepada khalifah Ali RA, dan telah mengakui khilafah, kemudian keluar kepada Hasan bin Ali RA lalu Hasan turun dari khilafah. Lalu Muawiyah memegang khilafah (menjadi khalifah) dari bulan Rabi’ul Akhir atau Jumadal Ula tahun empat puluh satu hijriyah. Lalu tahun itu disebut sebagai tahun jama’ah, karena umat bersatu atas satu khalifah, dan pada tahunitu Muawiyah mengangkat Marwan bin Hakam menjadi wali (gubernur) di Medinah.

Dan pada tahun lima puluh hijriyah Quhastan ditaklukkan secara paksa, dan pada tahun itu Muawiyah memanggil penduduk Syam untuk berbai’at dengan metode putra mahkota kepada orang setelahnya, kepada anaknya yaitu Yazid, lalu mereka membai’atnya. Muawiyah adalah orang pertama yang menjanjikan khilafah kepada anaknya, dan orang pertama yang menjanjikan khilafah ketika sehatnya. Kemudian Muawiyah mengirim surat kepada Marwan di Medinah untuk mengambil bai’at, lalu Marwan berkhathbah dan berkata: “Sesungguhnya amirul-mu’minien telah berpendapat mengangkat pengganti (sebagai khalifah) atas kalian anaknya yaitu Yazid, sebagai sunnah Abu Bakar dan Umar”. Lalu Abdurrahman bin Abu Bakar Shiddieq berdiri lalu berkata: “Tetapi sunnah Kisro dan Qaeshor. Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak menjadikan khilafah pada anak-anaknya, dan tidak pula pada seorang dari keluarganya”. (lihat: Tariekh al-Khulafa’, juz 1, hal. 79-80, Maktabah Syamilah 2).

KESIMPULAN PLUS PENJELASAN:

Yang bisa diambil dari pernyataan Imam Suyuthi dia atas adalah:

Pertama ; Imam Suyuthi berkali-kali menggunakan kata khilafah dan khalifah untuk kekuasaan Muawiyah, bahkan Muawiyah sendiri berkata: “Aku selalu mengharap khilafah sejak Rasululloh SAW bersabda kepadaku: “Wahai Muawiyah, apabila kamu berkuasa (idzaa malakta), maka berbuat baiklah”. Oleh karenanya, kata mulk[un] yang dikehendaki oleh Nabi SAW dalam hadits bahwa khilafah itu 30 tahun dan setelahnya adalah mulk[un], dan pada perkataan muawiyah ini (idzaa malakta), adalah bermakna kekuasaan yang menyerupai kerajaan, karena pengangkatan putra mahkotanya (seperti pada kesimpulan kedua), tetapi kekuasaan itu tetap memakai sistem khilafah, karena Muawiyah berkata, “Aku selalu mengharap khilafah…”, bukan murni sistem kerajaan, sebagaimana anggapan kaum Wahabi/salafi salaathien untuk mengokohkan sistem kerajaan Arab Saudi, yang diikuti oleh kaum liberal sejati dan semu liberal yang masih berjubah dan bersarung untuk mengokohkan sistem demokrasi sekular.

Kedua; Peralihan kekuasaan dari Muawiyah kepada Yazid bin Muawiyah melalui sistem putra mahkota dan meskipun tetap masih mamakai metode bai’at, sebenarnya kondisi inilah yang mengawali sistem khilafah bercampur (berbau) kerajaan, dan inilah kesalahan Muawiyah sebagai sahabat yang tidak ma’shum seprti halnya para nabi dan rasul, yang menjadikan khilafahnya terlepas dari khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah. Jadi hanya karena satu kesalahan ini. Sedangkan hukum-hukum yang dijalankan oleh Muawiyah dan para khalifah seterusnya adalah tetap hukum-hukum Islam semata. Karena ketika ada penyimpangan dari hukum Islam, maka para ulama masanya segera melakukan kewajiban beramar-makruf dan nahi-munkar untuk meluruskannya kembali. Berbeda dengan ulama saat ini, mereka justru menjadi pendukung setia penguasa yang tidak menerapkan hukum-hukum Islam dalam pemerintahannya. Ini bisa dipahami dari betapa ingkarnya para ulama saat itu terhadap Muawiyah dan para khalifah setelahnya yang hanya malakukan kesalahan tersebut. Lalu bagaimana kalau para ulama itu hidup di masa sekarang? Dan keingkaran para ulama itu bisa dibaca pada pernyataan Imam Suyuthi selanjutnya… Wallohu a’lam.

KAUM ASWAJA SEJATI TIDAK AKAN BERANI MENOLAK HAQQ DARI SIAPAPUN DATANGNYA, KARENA PADA DASARNYA HAQQ ADALAH MILIK ALLOH DAN DARI ALLOH, KECUALI KAUM ASWAJA TOPENG.

KEKHALIFAHAN MUAWIYAH (02)

BUKTI BAHWA MUAWIYAH ADALAH KHALIFAH YANG HAQ

Bismillahir Rohmaanir Rohiim
Tulisan semacam ini terus saya angkat untuk menyingkap kekeliruan paham sesat, yaitu paham yang hanya memakai dalil satu ayat atau satu hadits (seperti hadits terkait bahwa khilafah 30 tahun) dan membuang ayat atau hadits-hadits yang lain terkait khilafah dan khalifah. Tujuan mereka hanyalah untuk membatalkan sistem khilafah yang selama ini terus diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir (HTI). Mereka tidak menyadari bahwa khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang memuat kumpulan dalil - dalil syara' dari puluhan ayat Alqur'an, hadits, ijmak, qiyas serta kaedah-kaedah syara' yang lain. Sebagaimana shalat adalah sistem ubudiyah yang memuat kumpulan dalil-dalil syara'. Oleh karenanya, menggunakan hanya satu dalil hadits untuk menolak kewajiban khilafah (seperti hadits terkait bahwa khilafah 30 tahun) atau satu dalil hadits untuk menolak kewajiban shalat (seperti hadits "tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid") adalah kesesatan yang nyata.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami RH berkata:
ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻔﻮﺍﺋﺪ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﻭﻫﻲ ﺻﺤﺔﺧﻼﻓﺔ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﺄﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺗﺼﺮﻓﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﺴﺎﺋﺮ ﻣﺎ ﺗﻘﺘﻀﻴﻪ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻣﺘﺮﺗﺒﺔ ﻋلى ذلك ﺍﻟﺼﻠﺢ ﻓﺎﻟﺤﻖ ﺛﺒﻮﺕ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻟﻤﻌﺎﻭﻳﺔ ﻣﻦ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻭﺃﻧﻪ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﺣﻖ ﻭﺇﻣﺎﻡ ﺻﺪﻕ ﻛيف ﻮﻗﺪ ﺃﺧﺮﺝ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺣﺴﻨﻪ عن عبد ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﻤﻴﺮﺓ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﻤﻌﺎﻭﻳﺔ ﺍﻟﻠﻬﻢ اجعله ﻬﺎﺩﻳﺎ ﻣﻬﺪﻳﺎ .
“Bahwa hal tersebut (turunnya Hasan bin Ali RA dari kekhalifahan) adalah faedah syara’, yaitu sahnya kekhilafahan Muawiyah. Sedang tindakan Muawiyah terhadap pengaturan urusankaum muslim dengan semua tuntutan khilafah adalah konsekuensi dari perdamaian tersebut. Pendapat yang hak adalah tetapnya kekhilafahan Muawiyah sejak peristiwa itu,dan setelah itu beliau adalah khalifah yang hak dan imam yang benar. Bagaimana tidak? Imam Turmudzi benar-benar mengeluarkan dan menghasankan hadits dari Abdurrahman bin Abu ‘Amirah al-Shahabi dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah mendoakan Muawiyah: “Ya Alloh, jadikanlah dia orang yang memberi petunjuk dan yang mendapat petunjuk”.

(Dan hadits:)
ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺮﺑﺎض ﺒﻦ ﺳﺎﺭﻳﺔ، ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋﻠﻢ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﻗﻪ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ .
Dan Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya mengeluarkan hadits dari ‘Irbadl bin Sariyah, ia berkata:“Aku mendengar Rasululloh SAW berdoa: “Ya Alloh, ajarkan kepada Muawiyah al-Kitab dan hisab, dan jagalah ia dari azab neraka”.

(Dan hadits:)
ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍني في اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻣﺎ ﺯﻟﺖ ﺃﻃﻤﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻣﻨﺬ ﻗﺎﻝ لي رﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺇﺫﺍ ﻣﻠﻜﺖ ﻓﺄﺣﺴﻦ .
Dan Ibnu Abi Syaibah dalam kitan al-Mushannaf dan Thabrani dalam kitab Mu’jam Kabiir mengeluarkan hadits dari Abdul Malik bin Umair, ia berkata: “Muawiyah berkata:“Aku selalu menginginkan khilafah sejak Rasululloh SAW bersabda kepadaku:“Wahai Muawiyah, apabila kamu berkuasa, maka berbuat baiklah”.

(Penjelasan selanjutnya:)
ﻓﺘﺄﻣﻞ ﺩﻋﺎﺀ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪيث اﻷﻭﻝ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺠﻌﻠﻪ ﻫﺎﺩﻳﺎ ﻣﻬﺪﻳﺎ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﻛﻤﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﻓﻬﻮ ﻣﻤﺎ ﻳﺤﺘﺞ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻓﻀﻞ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔﻭﺃﻧﻪ ﻻ ﺫﻡ ﻳﻠﺤﻘﻪ ﺑﺘﻠﻚ ﺍﻟﺤﺮﻭﺏ ﻟﻤﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻧﻬﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺒﻨﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ ﻭﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ له ﺈﻻ ﺃﺟﺮ ﻭﺍﺣﺪ ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪ ﺇﺫﺍ ﺃﺧﻄﺄ ﻻ ﻣﻼﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻻ ﺫﻡ ﻳﻠﺤﻘﻪ ﺑﺴﺒﺐ ﺫﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﻣﻌﺬﻭﺭﻭﻟﺬﺍ ﻛﺘﺐ ﻟﻪ ﺃﺟﺮ . ﻭﻣﻤﺎ ﻳﺪﻝ ﻟﻔﻀﻠﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺑﺄﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﻭﻳﻮﻗﻰ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻭﻻ ﺷﻚ ﺃﻥ ﺩﻋﺎﺀﻩ ﻣﺴﺘﺠﺎﺏ ﻓﻌﻠﻤﻨﺎ ﻣﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻻﻋﻘﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻓﻌﻞ ﻣﻦ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺤﺮﻭﺏ ﺑﻞ ﻟﻪ ﺍﻷﺟﺮ .
Maka renungilah doa Nabi SAW untuk Muawiyah pada hadits pertama, bahwa Alloh menjadikannya orang yang memberi petunjuk dan yang mendapat petunjuk. Hadits itu hasan sebagaimana telah kamu ketahui, maka hadits itu bisa menjadi hujah atas keutamaan Muawiyah. Dan bahwasanya tidak ada celaan pada Muawiyah sebab peperangan yang terjadi, karena telah kamu ketahui, bahwa peperangan tersebut dibangun di atas ijtihad, dan bahwa Muawiyah tidak memiliki kecuali satu pahala. Karena ketika mujtahid itu salah, maka tidak ada dosa dan tidak pula ada celaan terhadapnya sebab kesalahan itu, karena ia dimaapkan, dan karenanya ditulis pahala baginya. Dan termasuk yang menunjukkan keutamaan Muawiyah juga doa pada hadits kedua, bahwa ia mendapat ilmu tentang al-Kitab dan hisab dan terjaga dari azab neraka. Dan tidak ada keraguan, bahwa doa Nabi SAW itu diijabah. Oleh karenanya, kami mengerti dari doa itu, bahwasanya tidak ada sanksi atas Muawiyah terkait peperangan yang ia lakukan, tetapi ia mendapat pahala”.

(Lihat: Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali Ibnu Hajar al-Haitami, al-Showa’iq al-Muhriqoh ‘ala Ahli al-Rofdl wa al-Dlolal wa al-Zindiqoh , juz 2, hal. 625, 626, 627, Muassasah al-Risalah Berut, cetakan ke 1, tahqiq Abdurrohman bin Abdulloh al-Turki dan Kamil Muhammad al-Kharroth, Maktabah Syamilah).

KESIMPULAN:

1. Muawiyah adalah Khalifah yang hak dan Imam yang benar.
2. Muawiyah adalah khalifah yang memberi petunjuk ( Haadiy) dan yang mendapat petunjuk ( Mahdiy). Ini seperti ungkapan hadits “al-Khulafa’al-Raasyidiin al-Mahdiyyiin” (para khalifah yang cerdas/memberi petunjuk dan mendapat petunjuk).
3. Karena itu, sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Muawiyah adalah sistem Khilafah, bukan sistem kerajaan (mulkiyyah).

ITULAH PAHAM ASWAJA YANG DIWAKILI OLEH IBNU HAJAR HAITAMI.
SEDANGKAN PAHAM YANG BERLAWANAN DENGANNYA ADALAH PAHAM SYIAH EKSTRIM, SESAT DAN ZINDIQ.