Rabu, 06 November 2019

SEPUTAR PERAYAAN MAULID NABI SAW

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Pada tulisan ini alfaqîr hanya akan menyampaikan maqolah ulama Ahlussunnah Waljama’ah dari Hijaz, Abuya Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah.

TUJUAN PERAYAAN MAULID NABI SAW

Abuya Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah berkata:
Anna hazhihi ...
أن هذه الإجتماعات هي وسيلة كبرى لدعوة إلى الله ، وهي فرصة ذهبية ينبغي أن ﻻ تفوت ، بل يجب على الدعاة والعلماء أن يذكروا الأمة بالنبي صلى الله عليه وسلم بأخلاقه وآدابه وأحواله وسيرته ومعاملته وعبادته ، وأن ينصحوهم ويرشدوهم إلى الخير والفلاح ويحذروهم من البلاء والبدع والشر والفتن ، وإننا دائما بفضل الله ندعو إلى ذلك ونشارك في ذلك ونقول للناس : " ليس المقصود من هذه الإجتماعات مجرد الإجتماعات والمظاهر بل إن هذه وسيلة شريفة إلى غاية شريفة وهي كذا وكذا ، ومن لا يستفد شيئا لدينه فهو محروم من خيرات المولد الشريف
“Sesungguhnya perayaan maulid ini adalah sarana besar untuk dakwah kepada (agama) Allah dan kesempatan emas yang tidak layak disia-siakan. Bahkan wajib atas para da’i dan ulama mengingatkan umat dengan Nabi saw, dengan akhlaknya, adabnya, kondisinya, sirohnya, muamalahnya dan ibadahnya. Menasihati umat, menunjukkan mereka kepada kebaikan dan kebahagiaan, memberi peringatan kepada mereka terhadap musibah, bid’ah, keburukan dan fitnah. Dan bahwa kami -dengan fadhal dari Allah- selalu mengajak kepada hal tersebut, bersekutu pada hal tersebut, dan berkata kepada umat: “Tujuan dari perayaan maulid ini bukan sekedar perayaan dan ekspressi, tetapi sebagai sarana mulia untuk tujuan mulia, yaitu ini dan itu. Dan siapa saja yang tidak mengambil faedah bagi agamanya, maka ia terhalang dari kebaikan maulid yang mulia”. (Syaikh Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki, Dzikrayat wa Munasabat, hal. 103, Maktabah al-Ghazali Damaskus, Muassasah Manahil al-‘Irfan, Beirut).

PERAYAAN MAULID NABAWI DI MALAM TERTENTU

Abuya Syaikh Muhammad bin ‘Alwy al-Maliki rohimahullah berkata:
Annanaa laa ...
أننا لا نقول بسنية الإحتفال بالمولد المذكور في ليلة مخصوصة بل من اعتقد ذلك فقد ابتدع في الدين . لأن ذكره صلى الله عليه وسلم والتعلق بهيجب أن يكون في كل حين ، ويجب أن تمتلأ به النفوس . نعم : إن في شهر وﻻدته يكون الداعي أقوى لإقبال الناس واجتماعهم وشعورهم الفياض بارتباط الزمان بعضه ببعض ، فيتذكرون بالحاضر الماضي وينتقلون من الشاهد إلى الغائب
"Sesungguhnya kami tidak mengatakan dengan kesunnahan perayaan maulid nabawi tersebut pada malam tertentu, tetapi siapa saja yang meyakini hal itu, maka ia benar-benar telah membuat bid’ah dalam agama. Karena mengingat dan mencintai Nabi SAW itu wajib ada pada setiap masa, dan wajib memenuhi jiwa dengannya. Ya, sesungguhnya pada bulan kelahirannya itu dorongannya lebih kuat untuk datang, berumpul, dan perasaan manusia yang penuh dengan keterkaitan zaman, sebagian zaman dengan sebagian zaman yang lain. Lalu mereka mengingat dengan zaman sekarang akan zaman lampau, dan berpindah dari zaman hadir ke zaman ghaib”. (Syaikh Muhammad bin ‘Alwy al-Maliki, Dzikrayat wa Munasabat, hal. 103, Maktabah al-Ghazali Damaskus dan Muassasah Manahil al-‘Irfan, Beirut).

PERAYAAN MAULID NABAWI HARUS BEBAS DARI KEMUNKARAN

Abuya Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah berkata :
Kullu maa ...
كل ما ذكرنا سابقا من الوجوه في مشروعية المولد إنما هو في المولد الذي خلا من المنكرات المذمومة التي يجب الإنكار عليها ، أما إذا إشتمل المولد على شيئ مما يجب الإنكار عليه كاختلاط الرجال بالنساء وارتكاب المحرمات وكثرة الإسراف مما ﻻ يرضى به صاحب المولد  الشريف صلى الله عليه وسلم فهذا ﻻ شك في تحريمه ومنعه لما اشتمل عليه من المحرمات لكن تحريمه حينئذ يكون عارضيا ﻻ ذاتيا كما ﻻ يخفى على من تأمل ذلك
“Semua alasan disyariatkannya maulid Nabi saw yang telah saya kemukakan, itu hanya berlaku pada maulid yang bebas dari kemungkaran yang tercela yang wajib diingkari. Adapun ketika maulid itu mengandung sesuatu yang wajib diingkari seperti campurnya laki-laki dan perempuan, menerjang perkara haram dan banyak berlebihan dimana pemilik maulid yang mulia Rasulullah saw tidak suka dengan hal itu, maka tidak diragukan lagi keharaman dan terlarangnya, karena mengandung perkara haram. Akan tetapi keharamannya ketika itu adalah hal baru, bukan haram asal, sebagaimana tidak samar atas orang yang mau berpikir terhadapnya".

RASULULLAH SAW  TIDAK PERNAH KELUAR DARI KUBURNYA UNTUK DATANG KE MAJLIS MAULID NABAWI

Abuya Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah berkata :
Tanbiih ...
تنبيه : أما ما يشاع حول المولد النبوي من أن الناس يعتقدون أن النبي صلى الله عليه وسلم يحضر بذاته الشريفة ويخرج من قبره . وأن الناس يقفون احتراماً لدخوله . وأنهم يهيئون له مكانا خاصا في وسط المجلس ، ويضعون أواني الماء لأجل أن يبارك عليها . فكل هذا افتراء محض لا أصل له عندنا بحمد الله وإن أقل الناس علما من عوالم المسلمين ﻻ يخطر بباله مثل هذا الإعتقاد وإنا نبرأ إلى الله من كل هذا الباطل والله من وراء القصد
"Peringatan: Adapun sesuatu yang telah populer ditengah-tengah maulid nabawi, bahwa orang-orang meyakini; bahwa Nabi saw keluar dari kuburnya dengan dzatnya yang mulia dan hadir secara langsung; bahwa orang-orang berdiri karena menghormati kedatangannya, mereka menyediakan tempat khusus untuknya di tengah-tengah majlis, dan mereka meletakkan bejana-bejana air agar Nabi memberi barokah padanya. Maka menurut kami (Ahlussunnah Wal Jama’ah) semuanya itu adalah kebohongan yang murni yang tidak memiliki dalil sama sekali, dan sebodoh-bodoh ulama kaum muslimiin tidak terlintas dalam hatinya keyakinan seperti itu, dan kami berlepas diri kepada Allah dari semua kebatilan itu. Allah mengetahui setiap tujuan dan akan membalasnya". (Syaikh Muhammad bin ‘Alwy al-Maliki, Dzikrayat wa Munasabat, hal. 110, Maktabah al-Ghazali Damaskus dan Muassasah Manahil al-‘Irfan, Beirut).

==============================================

KOMENTAR ALFAQÎR :

Momentum perayaan maulid nabawi untuk dakwah kepada penerapan syariah Islam Kâffah melalui penegakkan daulah islamiyah khilafah 'alâ minhajin nubuwwah adalah lebih utama. Karena akhlak Rasulullah SAW adalah menerapkan Alqur'an, menerapkan syariah Islam Kâffah. Sedang penerapan syariah Islam Kâffah tidak akan pernah bisa sempurna tanpa terlebih dahulu tegaknya khilafah 'alâ minhajin nubuwwah. Wallohu A’lamu Bishshawâb.

MEMAHAMI KHILAFAH DENGAN ILMU NAHWU

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Ilmu nahwu bukan dalil dan tidak bisa menjadi dalil terkait kilafah atau bukan khilafah. Saya hanya akan menunjukkan secuil tentang keteraturan dan keseimbangan alam semesta beserta ilmu-ilmu yang telah datang dari Sang Pencipta Yang Maha Perkasa Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya tunduk patuh terhadap satu sistem, khilafah, yang telah dibuat untuk mengatur ketertiban, keseimbangan, keamanan dan kenyamanan makhluk yang hidup di atas bumi bagian dari alam semesta ini.

Bukan semua perihal khilafah bisa dipahami dengan ilmu nahwu. Tetapi khilafah ketika dibandingkan dengan Pancasila dan NKRI; Pancasila ketika menjadi Dasar Negara, dan NKRI ketika menjadi bentuk dan wilayah Negara; Pancasila ketika diambil dari (nilai-nilai) Islam sehingga menjadi bagian dari Islam, dan NKRI yang telah memiliki wilayah tertentu dan terbatas sehingga menjadi bagian dari wilayah Dunia Islam.

Simak baik-baik ilmu nahwunya, terkait kaidah I'rob, sebagai bagian dari nahwu :

Syaikh Yusuf bin Syaikh Abdul Qodir Albarnawy di dalam Manzhumah Qowa'idul I'rob-nya berkata :
فإن تكن في ضمن أخرى صغرى      وإن تكن في ضمنها فكبرى
Fa in takun fi dhimni ukhroo shughroo  wa in takun fi dhimni haa fa kubroo
"Apabila jumlah (kalimat) itu berada di dalam jumlah lain, maka ia dinamakan jumlah shughro (kecil). Dan apabila jumlah lain itu ada di dalamnya, maka ia dinamakan jumlah kubro (besar)".

● PERHATIKAN contohnya :

(Untuk memudahkan terjemahnya mengikuti susunan lafadz arabnya)
Jumlah shughro (kalimat kecil) seperti ; قام أبوه / qooma abuuhu (berdiri bapaknya), sebagai bagian dari jumlah kubro (kalimat besar) yaitu ; زيد قام أبوه / zaedun qooma abuuhu (Zaed berdiri bapaknya).

Atau jumlah shughro ; أبوه قائم / abuuhu qooimun (bapaknya berdiri)", sebagai bagian dari jumlah kubro ; زيد أبوه قائم / zaedun abuuhu qooimun (Zaed bapaknya yang berdiri)".

Baik jumlah قام أبوه / qooma abuuhu yang berupa jumlah fi'liyyah (diawali dengan kalimah fi'il) dari sisi lain, atau jumlah أبوه قائم / abuuhu qooimun yang berupa jumlah ismiyyah (diawali dengan kalimah isim) dari sisi lain, keduanya menjadi khobar dari mubtada' berupa kalimah (kata) "Zaedun", dimana antara keduanya dan antara "Zaedun" saling terikat dan saling membutuhkan, dan tentu tidak boleh dipisahkan (dibuang). Karena ketika keduanya dipisahkan dari "Zaedun", maka sudah bukan jumlah shughro lagi, tetapi hanya sebagai jumlah fi'liyyah atau ismiyyah saja. Dan "Zaedun" pun sudah bukan jumlah kubro lagi, bahkan bisa menjadi kalimah yang tidak berfaidah.

Penting : Ketika ada jumlah kubro maka pasti ada jumlah shughro, tetapi tidak akan pernah ada jumlah shughro tanpa adanya jumlah kubro.

Pada jumlah shughro - kubro tersebut terdapat 4 kalimah (kata) dan 10 - 11 huruf  yang saling terikat dan menyatu dalam satu sistem I'rob nahwu, mubtada' - khobar - fi'il - fa'il atau mubtada' - khobar - mubtada' - khobar. Sedang sesuatu yang mengikat diantara semuanya adalah isim dhomir berupa huruf "HA" pada أبوه yang didhommah sehingga terbaca "HU (Dia)".

● LALU apa hubungannya dengan Pancasila dan NKRI?

Sekarang ingat kata kuncinya ialah "khilafah". Khilafah itu mencakup hukum dan wilayah. Hukum yang diterapkan dalam khilafah, dan wilayah tempat penerapan hukum atas warga negaranya. Ingat, khilafah. Hukum yang diterapkan dalam khilafah hanyalah hukum Allah seluruhnya, tidak sebagian atau setengahnya. Sedang wilayah tempat penerapan hukumnya adalah seluruh dunia selagi di sana terdapat manusia, muslim maupun kafir. Karena dunia seluruhnya adalah milik Allah SWT.

● Pancasila dan NKRI

Kalau Anda yakin bahwa Pancasila itu diambil dari Islam, berarti Pancasila adalah bagian dari hukum Allah. Maka ketika seluruh hukum Allah itu diterapkan, berarti Pancasila juga ikut diterapkan. Dan sampai kapan pun, bahkan sampai kiamat pun Pancasila tidak akan pernah bisa diterapkan. Sebagaimana ketika ada jumlah kubro maka pasti ada jumlah shughro, tetapi tidak akan pernah ada jumlah shughro tanta adanya jumlah kubro. Kuncinya adalah "khilafah".

Dan kalau Anda yakin bahwa seluruh bumi ini milik Allah, maka wilawah NKRI adalah milik Allah, bukan milik embahmu, bukan milik para pendiri negara, juga bukan milik para pahlawan. Semua yang ada diatas bumi ini pasti akan mati, semuanya, apalagi manusia-manusia jaman now yang umurnya sudah dibatasi tidak jauh dari angka 63 thn.

● Ingat, wilayah NKRI itu seperti rumah besar bagian dari rumah besar Dunia Islam, yang dihuni oleh sekumpulan manusia yang mempunyai tujuan dan kepentingan yang saling berbeda, dimana di dalamnya berjejer dan bertingkat kamar-kamar. Rumah besar itu pasti dibangun untuk keamanan dan kenyamanan. Keamanan dari binatang buas, rampok, maling, panasnya terik matahari, dinginnya hujan dan angin, serta gangguan-gangguan lain. Dan kenyamanan dalam menikmati pasangan hidup, makanan, minuman dan nikmat-nikmat lain yang mubah dan halal, bukan yang dilarang dan haram.
Di dalam rumah besar NKRI juga tersimpan segala macam harta kekayaan dunia dari yang hijau menyejukkan, yang putih menentramkan, yang kuning menyilaukan, yang merah menantang sampai yang hitam menggoda budak-budak dunia. Tapi sayang, karena rumah super besar Dunia Islam nya sedang dijajah, dijarah dan dirampok oleh imperialisme barat yang kapitalis dan timur yang sosialis-komunis, maka nasib rumah besar NKRI nya juga sama sedang dijajah, dijarah dan dirampok. Kuncinya, khilafah. Khilafah yang akan menyelamatkan rumah besar dunia Islam dengan mungusir penjajah, penjarah dan perampok, sehingga rumah besar NKRI juga bisa diselamatkan. Ingat, tidak ada jumlah shughro tanpa jumlah kubro.

● Keberadaan jumlah kubro dan jumlah shughro adalah bagian dari qodho dan qodar Allah, juga keberadaan rumah besar dunia Islam dan rumah besar NKRI. Dimana semuanya harus dijaga dan diselamatkan dari para penjajah, penjarah dan perampok, dengan mendatangkan pertolongan Allah berupa penerapan hukum-Nya secara sempurna melalui penegakkan khilafah, karena pada hukum-Nya terdapat pertolongan-Nya.

Rumah besar NKRI sebagai jumlah shughro harus menyatu dengan rumah besar dunia Islam sebagai jumlah kubro dengan ikatan ukhuwwah islamiyyah yang asasnya dhomir HU (Dia), dan dengan ikatan akidah islamiyyah yang berawal dari iman kepada Dia sebagai dhomir HU... Qul HuwallohU Ahad... katakanlah,  Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam sistem khilafah, sila pertama menyatu dengan rukun iman pertama, iman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa.

● Tidak perlu ada rasa takut :

Sudah wajar pada setiap pergantian status, baik status orang maupun status negara, ada pergantian nama dari yang dianggap buruk / kurang baik menjadi baik / lebih baik. Nama seseorang ketika baru memeluk Islam, ketika masuk pesantren, atau ketika ibadah haji, pada umumnya berganti dengan yang baik / lebih baik. Pergantian nama adalah kebanggaan, bukan kerendahan dan bukan penghinaan. Begitu pula ketika wilayah NKRI bergabung, bersatu dan melebur dengan dunia Islam sebagai wilayah khilafah, maka Indonesia tanpa NKRI adalah nama yang sudah baik dan bahkan yang lebih baik. Sedang Pancasila pun tidak hilang atau dibuang, tetapi benar-benar telah kembali menyatu dan melebur dengan induknya yaitu (nilai-nilai syariah) Islam yang rahmatan lil'alamin dalam bingkai khilafah rosyidah mahdiyyah.

Inilah hakekat penyatuan kebaikan dunia dengan kebaikan akhirat tanpa ada azab mendahului,
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار
Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanatan wa fil aakhiroti hasanatan wa qinaa 'adzaaban naar.

"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari siksa neraka".

Wallohu a'lam bishshawwab

Jumat, 01 November 2019

PIAGAM MADINAH TIDAK BISA DISAMAKAN DENGAN PANCASILA DAN UUD '45

Oleh: Abulwafa Romli

*Piagam Madinah tidak bisa disamakan dengan Pancasila dan UUD '45*
*Negara Islam Madinah tidak bisa disamakan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)*

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Banyak pihak dari kaum Aswaja Sekular dan kelompok nasionalis liberal telah memanipulasi Piagam Madinah hanya untuk menjustifikasi NKRI, Pancasila dan UUD '45 yang selama ini diklaim sebagai kesepakatan bersama para pendahulu dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga Pancasila dan UUD '45 terlihat islami. Padahal fakta Daulah Islam Madinah serta Piagam Madinah-nya itu sangat kontradiksi dengan fakta NKRI, Pancasila dan UUD '45.

Dengan mempelajari naskah Piagam Madinah dari kitab al-Bidayah wa al-Nihayah (juz III, hal. 272-276), karya Ibnu Katsir, atau Sîroh Ibnu Hisyam (juz 2, hal. 368 - 370), juga dengan memahami fakta NKRI, Pancasila dan UUD '45 sejak awal pembentukannya, seperti dari buku Dosa-Dosa Politik Orde Lama Dan Orde Baru Yang Tidak Boleh Berulang Kembali, karya A.N. Firdaus (kalau tidak keliru alfaqîr membaca buku tersebut pada tahun 2003, lalu buku itu dipinjamkan dan hilang), alfaqîr memahami, bahwa Negara Islam serta Piagam Madinah atau UUD Madinah (Watsiqah / Shahifah / Dustur Madinah) itu bukan hasil kesepakatan yang dibuat dan ditetapkan secara bersama diantara penduduk Madinah. Tetapi telah didirikan, dibuat dan ditetapkan secara sepihak oleh Rasulullah SAW dengan bimbingan wahyu, setibanya di Madinah dalam kapasitas beliau sebagai kepala Negara Islam pertama. Lalu Rasulullah saw menerapkan dan mengikatkan Piagam Madinah tersebut atas semua penduduk Madinah dalam kapasitas mereka sebagai warga Negara Islam. Kesimpulan ini bisa dipahami dari memahami teks Pembukaan / Pasal 1 Piagam Madinah yang akan dijelaskan dibawah, dan bahwa Rasulullah saw tidak berkata-kata dari hawa nafsu, tetapi dari wahyu yang diwahyukan kepadanya. Wa mâ yanthiqu 'anil hawâ in huwa illa wahyun yûhâ.

Sementara Pancasila dan UUD '45 itu hanyalah hasil "kesepakatan yang sarat dengan kepentingan dan tipu muslihat" dari kubu nasionalis sekular terhadap kubu ulama yang mewakili kaum muslimin nusantara pengemban kepentingan islami. Pancasila dan UUD '45 juga bukan hasil ijtihad syar'iy oleh ulama mujtahid, karena mereka yang terlibat dalam pembuatan dan penetapannya tidak ada satupun dari mereka yang kapasitasnya sebagai ulama mujtahid. Pancasila dan UUD '45 dibentuk dan ditetapkan tidak dari bimbingan wahyu, sebagaimana Piagam Madinah, tetapi hanya berdasarkan kepentingan dari semua kubu yang terlibat, dimana kubu nasionalis sekular pada akhirnya memperoleh "kemenangan" dan kubu ulama pengemban kepentingan Islami mendapat "kekalahan". Salah satu bukti kuatnya, baru sehari merdeka pada 17 Agustus 1945, sila pertama "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluk - pemeluknya", lalu pada 18 Agustus 1945 sudah diganti (dikhianati) menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa".

PASAL-PASAL KUNCI PIAGAM MADINAH YANG DISEMBUNYIKAN OLEH KAUM ASWAJA SEKULAR DAN KELOMPOK NASIONALIS LEBERAL

Piagam Madinah itu memiliki 47 pasal menurut kitab Albidayah Wannihayah karya Ibnu Katsir,dan 55 pasal menurut kitab Sîroh Ibnu Hisyam, dan dari padanya ada tiga pasal kunci yang menjadikan kedaulatan berada di tangan syara’, yaitu pasal ke 1 / 2, 23 / 27 dan 42 / 48  menurut Albidayah Wannihayah / Sîroh Ibnu Hisyam. Akan tetapi yang sering dipakai dan diulang-ulang oleh kaum Aswaja Sekular dan kelompok nasionalis liberal hanya satu pasal saja, yaitu pasal ke 1 / 2, untuk menjustifikasi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan UUD ‘45-nya yang faktanya telah menjadikan kedaulatan membuat dan menetapkan hukum berada di tangan rakyat, itu identik dengan Negara Madinah dengan Piagam Madinahnya.

Tiga pasal kunci tersebut berawal dari sini :
وقال محمد بن إسحاق: وكتب رسول الله صلى الله عليه وسلم كتابا بين المهاجرين والأنصار، وادع فيه يهود وعاهدهم وأقرهم على دينهم وأموالهم، واشترط عليهم وشرط لهم:
Muhammad bin Ishaq berkata: “Rasulullah SAW telah menulis surat diantara sahabat Muhajirin dan Anshar, dimana pada surat itu beliau berdamai dan membuat perjanjian dengan kaum Yahudi, mengakui agama serta harta benda mereka, dan memberi syarat atas mereka dan bagi mereka:

Pembukaan Piagam Madinah menurut Albidayah Wannihayah / Pasal 1 menurut Sîroh Ibnu Hisyam :
"ببسم الله الرحمن الرحيم" هذا كتاب من محمد النبي بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم.
“Bismillahirrahmanirrahim” Surat ini dari Nabi Muhammad diantara orang-orang beriman dan orang-orang muslim dari Quraisy dan Yatsrib (Muhajirin dan Anshar) dan siapa saja (orang-orang Yahudi) yang mengikuti, menyusul, dan berjihad bersama kaum Mu'min dan Muslim”.

Keterangan :
Pada pembukaan Piagam Madinah / Pasal 1 Piagam Madinah di atas tersurat sangat jelas, bahwa kaum Yahudi telah tunduk kepada sistem (syariat) Islam, karena mereka bisa ikut berjihad bersama kaum Muslim. Padahal jihad adalah bagian dari syariat Islam dan untuk kepentingan Islam dan kaum Muslim. Ini menunjukkan bahwa kedaulatan Negara Madinah berada di tangan syariat Islam.

Pasal 1 menurut Albidayah / 2 menurut Sîroh Ibnu Hisyam :
- إنهم أمة واحدة من دون الناس.
"Sesungguhnya mereka semua (warga negara Daulah Madinah) adalah umat yang satu yang berbeda dari manusia yang lain".

Keterangan :
Mereka yang menjadi umat yang satu adalah kaum Muslim dari sahabat Muhajirin dan Anshar, dan kaum Yahudi yang telah tunduk kepada sistem hukum Islam, sebagaimana pada pembukaan di atas, karena pasal 1 / 2 ini penjelasan dari pembukaan / pasal 1.

Imam Ibnu Katsir rh dalam catatan kakinya terkait pasal 1 mengatakan :
أي متميزين عن الناس، ويمكن أن يعني ذلك اليهود، ولكن هذا بعيد.
“Yakni mereka itu berbeda dari umat manusia yang lain, dan memungkinkan memasukkan kaum Yahudi, tapi kemungkinan ini jauh”.

Ini menunjukkan bahwa yang dikehendaki dengan umat yang satu adalah umat Islam, tanpa melibatkan kaum Yahudi sebagai umat lain, kecuali Yahudi yang tunduk kepada sistem hukum Islam dan berada dalam perlindungan negara Islam. Maka posisi Yahudi hanyalah pengikut.

Sedang umat non muslim di negara-negara yang menerapkan sistem demokrasi justru kaum muslimiin tunduk dan membebek kepada sistem kufur. Maka memakai pasal di atas untuk melegitimasi NKRI, Pancasila dan UUD '45 adalah sangat kelilu, jauh panggang dari api.

Pasal 23 / 27 :
- وانكم مهما اختلفتم فيه من شيئ فإن مرده إلى الله عز وجل وإلى محمد صلى الله عليه وسلم.
"Sesungguhnya kalian ketika berselisih mengenai sesuatu, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada Allah azza wajalla dan kepada Muhammad saw".

Keterangan :
Pasal 23 / 27 ini tersurat dengan jelas, bahwa kedaulatan itu berada di tangan syariat Islam, karena mengembalikan hukum sesuatu kepada Allah swt dan Rasulullah saw itu artinya dikembalikan kepada al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukumnya.

Pasal 42 / 48 :
- وإنه ما كان بين أهل هذه الصحيفة من حدث أو اشتئجار يخاف فساده فإن مرده إلى الله عز وجل وإلى محمد رسول الله وإن الله على أتقى ما في هذه الصحيفة وأبره.
"Sesungguhnya ketika terjadi peristiwa atau perelisihan diantara pemilik Piagam ini yang dikhawatirkan kerusakannya, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada Allah azza wajalla dan kepada Rasulullah saw. Dan bahwa Allah sangat menjaga yang terkuat dan terbaik isi kandungan Piagam ini".

Keterangan :
Pasal 42 / 48 ini dengan sangat jelas menyuratkan bahwa ketika terjadi perselisihan diantara penduduk warga negara Madinah, maka keputusan hukumnya dikembalikan kepada Allah swt (Alqur'an) dan Rasulullah saw (Assunnah). Ini juga menunjukkan bahwa kedaulatan negara Madinah berada di tangan syariat Islam.

Perbedaan antara pasal 23 / 27 dan pasal 42 / 48, kalau pasal 23 / 27 mengenai perselisihan terkait hukum segala sesuatu (benda), sedang pasal 42 / 48 mengenai perselisihan terkait amal perbuatan manusia. Jadi ketentuan penyelesaian hukum semuanya harus dikembalikan kepada syariat Islam.

Pasal-pasal di atas sebenarnya sesuai firman Allah SWT berikut:
ياأيهاالذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الـأمر منكم، فإن تنازعتُمْ في شيئ فردّوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر، ذلك خيرٌ وأحسنُ تأويلا. 
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. QS an-Nisa [4]: 59.

PIAGAM MADINAH HANYA BISA MENJADI DUSTUR DAULAH ISLAM ATAU KHILAFAH

Dengan fakta tiga pasal kunci dari Piagam Madinah diatas, dimana kedaulatan menetapkan hukum amal pebuatan dan segala sesuatu hanyalah milik Asysyâri', Allah swt dan Rasulullah saw, atau syariat, maka mustahil Piagam Madinah bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan yang meletakkan kedaulatan menetapkan hukum amal perbuatan dan segala sesuatu berada di tangan rakyat melalui wakil-wakilnya, baik yang masih jujur bekerja untuk kepentingan rakyat maupun yang bekerja untuk kepentingan penjajah kapitalis - komunis, dengan mengatasnamakan dan menjual rakyat. Adalah mimpi di siang bolong, Piagam Madinah bisa diterapkan dalam sistem kufur demokrasi dengan beragam jenisnya dan sistem komunis yang atheis.

Substansi Piagam Madinah hanya bisa menjadi dustur / UUD, dan hanya bisa diterapkan dalam Negara Islam yang memiliki karakter Negara Islam Madinah yang ditegakkan Rasulullah saw, atau dalam Negara Islam dengan sistem khilafah yang ditegakkan oleh Alkhulafa' Arrosyidîn Almahdiyyîn.

Dengan demikian, juga sangat keliru bahkan sesat menyesatkan, menyamakan Negara Islam Madinah dengan Rasulullah saw manusia ma'shum sebagai kepala negaranya, yang menerapkan serta melaksanakan syariah Islam Kâffah, disamakan dengan negara nasional dengan sistem kufur demokrasi atau komunis atheis dengan presiden yang pendusta, anti Islam Kâffah dan anti ulama pengemban dakwah sebagai kepala negaranya, yang menerapkan sistem hukum kufur produk hawa nafsu manusia yang tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Jarak perbedaan antara Negara Islam Madinah serta Piagam Madinah sebagai UUD-nya dan antara NKRI serta Pancasila dan UUD '45-nya, adalah sejauh antara langit dan bumi, antara ujung timur dan ujung barat. Karena antara keduanya sangat kontradiksi. Maka hanya manusia yang tidak memahami fakta keduanya atau manusia yang menyimpan niat jahat yang nekat menyamakan diantara keduanya.

INILAH KARAKTER KAUM MUNAFIQUN

Sesungguhnya kelakuan kaum munafiqun dari Aswaja Sekular dan Nasionalis Liberal dalam mencampur adukkan antara yang haqq dan yang bathil, yaitu dengan menyamakan negara demokrasi-sekular yang meletakkan kedaulatannya berada di tangan rakyat, disamakan dengan negara Islam Madinah yang meletakkan kedaulatannya berada di tangan syariat Islam, menyamakan UUD ’45 hasil produk manusia yang tidak ma’shum dengan Piagam Madinah hasil produk Nabi Muhammad saw yang ma’shum, dan menyembunyikan pasal-pasal kunci dari Piagam Madinah, itu sama halnya dengan kelakuan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). 

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:
ياأهل الكتاب لم تلبسون الحق بالباطل وتكتمون الحق وأنتم تعلمون.
“Hai ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil[*], dan menyembunyikan kebenaran[**], padahal kamu mengetahuinya?” QS Ali ‘Imron [3]: 71.

[*] Yaitu: menutupi firman-firman Allah yang termaktub dalam Taurat dan Injil dengan perkataan-perkataan yang dibuat-buat mereka (ahli Kitab) sendiri.
[**] Maksudnya: kebenaran tentang kenabian Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dan Injil. 

Dan Allah SWT juga berfirman:
ولا تلبسوا الحق بالباطل وتكتموا الحق وأنتم تعلمون.
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. QS al-Baqaroh [2]: 42.

AKHIRUL KALAM :

Fenomena manipulasi ajaran Islam pada setiap masa dan setiap generasi, baik ketika dunia berada dalam kekuasaan negara Islam khilafah maupun  berada dalam kekuasaan negara demokrasi dan komunis seperti saat ini, itu selalu ada dan akan terus ada. Sebagaimana selalu adanya maksiat dan munkar. Hanya saja ketika sistem Islam khilafah tegak, manipulator ajaran Islam, pelaku maksiat dan munkar, semuanya diperlakukan dan diselesaikan secara islami sesuai jenis manipulasi, maksiat dan munkarnya. Sehingga manipulasi, maksiat dan munkar tersebut bisa ditekan sampai batas minimal. Sangat kontras, ketika sistem kufur demokrasi atau komunis diterapkan, kemaksiatan dan kemunkaran dibiarkan bahkan dipelihara hingga merajalela dan menjadi wabah melanda seluruh lapisan masyarakat dunia.

Oleh karena itu, solusi tuntas untuk menekan dan mengatasi perilaku memanipulasi ajaran Islam, maksiat dan munkar itu hanya bisa dengan menerapkan syariah Islam Kâffah melalui penegakkan khilafah. Dan semuanya harus dimulai dengan dakwah syariah dan khilafah. Wallohu A’lamu Bishshawâb. []

Kamis, 31 Oktober 2019

JANGAN MEREMEHKAN BENDERA

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

BENDERA ISLAM, bendera tauhid, baik Liwa maupun Rayah, memiliki posisi sangat penting di dalam semua lini kehidupan, lebih-lebih di dalam kehidupan bernegara. Dalam kehidupan pribadi, setiap muslim wajib hukumnya mengetahui seperti apa bentuk bendera tersebut, lalu berusaha agar bisa membuat, menyimpan, mengibarkan atau membawanya sesuai kebutuhan yang dibenarkan oleh syara'. Dalam kehidupan bermasyarakat, umat Islam wajib saling memberi pengetahuan, saling menasihati, dan saling memberi wasiat terkait bendera tersebut agar selalu berkibar di tengah-tengah mereka. Sedang dalam kehidupan bernegara, negara wajib mengatur terkait bentuk bendera serta pengibarannya, dan menindak segala bentuk pelanggaran terhadapnya.

Bendera taunid, liwa & royah, itu bisa terlihat dengan jelas karena padanya tertulis kalimat tauhid "Lâ ilâha illallôh Muhammadur Rosululloh", sebagaimana bendera merah putih terlihat dengan jelas karena berwarna merah putih, atau bendera palu arit terlihat dengan jelas karena ada gambar palu aritnya. Kecuali bagi orang yang buta huruf, buta mata, atau buta hati.

Memang hakekat tauhid itu ada di dalam hati sebagaimana iman, cinta atau benci. Tetapi indikasinya bisa dilihat dan didengar oleh setiap orang yang melihat dan mendengar. Seseorang yang benar tauhid, iman dan cinta kepada Allah dan Rasulullah, jiwa raganya bergetar takjub penuh cinta ketika melihat atau mendengar nama Allah dan Rasulullah tertulis pada liwa & royah atau disebut seseorang. Sebagaimana ketika seorang lelaki yang benar mencintai perempuan, maka jiwa dan raganyanya bergetar penuh cinta dan kasmaran hanya dengan melihat pakaiannya yang pernah dipakainya, namanya tertulis di selembar kain, atau mendengar namanya disebut seseorang. 

Begitu pula dengan seseorang yang dihatinya ada kufur dan nifaq kepada Allah dan Rasulullah, maka ketika melihat liwa & royah yang padanya tertulis nama Allah dan Rasulullah, ia benci setengah mati, marah hingga wajahnya memerah, dan merampasnya hingga membakarnya. Ia berkata, "Ini bendera HTI, bukan bendera tauhid". Padahal sangat jelas tidak ada nama HTI tertulis padanya, sedang dua kalimat tauhid tertulis sangat jelas padanya. Sebagaimana seorang lelaki yang benar membenci perempuan, maka jiwa dan raganya bergetar karena marah dan benci ketika melihat pakaiannya yang pernah dipakainya, namanya tertulis di secarik kain, atau disebut oleh seseorang. 

BENDERA ISLAM ITU SANGAT PENTING

Kenapa bendera Islam, bendera tauhid, itu sangat penting? Karena :

Pertama: Masalah bendera Islam ketika berada didalam medan perang adalah masalah hidup dan mati. Artinya bendera itu harus tetap berkibar meskipun sampai berakibat terbunuhnya orang yang memegang bendera, dan mati dalam kondisi memegang bendera adalah mati terhormat, seperti pernah terjadi dalam perang Khaibar.

'an anasibni maalik ...
ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟﺮَّﺍﻳَﺔَ ﺯَﻳْﺪٌ ﻓَﺄُﺻِﻴﺐَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَﻫَﺎ ﺟَﻌْﻔَﺮٌ ﻓَﺄُﺻِﻴﺐَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَﻫَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺭَﻭَﺍﺣَﺔَ ﻓَﺄُﺻِﻴﺐَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻋَﻴْﻨَﻲْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻟَﺘَﺬْﺭِﻓَﺎﻥِ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَﻫَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴﺪِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺇِﻣْﺮَﺓٍ ﻓَﻔُﺘِﺢَ ﻟَﻪُ
Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: "Nabi SAW bersabda: "Zaid memegang Rayah (bendera) lalu ia syahid, kemudian Ja'far memegang Rayah lalu ia syahid, kemudian Abdullah bin Rawahah memegang Rayah lalu ia syahid -sesungguhnya kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata-, kemudian Khalid bin Walid memegang Rayah dari tanpa kepemimpinan, lalu karenanya mendapat kemenangan". HR Bukhari
Hadits ini juga menunjukkan, bahwa bendera (Rayah) wajib dikibarkan dalam perang dan futuhat (penaklukkan).

Kedua: Pemegang bendera Islam dalam kondisi futuhat, dakwah dan jihad, untuk menyebarkan kerahmatan dan keadilan Islam, adalah orang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

'an abi haazim ...
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﺎﺯِﻡٍ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ ﺳَﻬْﻞٌ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺍﺑْﻦَ ﺳَﻌْﺪٍ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻴْﺒَﺮَ ﻟَﺄُﻋْﻄِﻴَﻦَّ ﺍﻟﺮَّﺍﻳَﺔَ ﻏَﺪًﺍ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻳُﻔْﺘَﺢُ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻓَﺒَﺎﺕَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻟَﻴْﻠَﺘَﻬُﻢْ ﺃَﻳُّﻬُﻢْ ﻳُﻌْﻄَﻰ ﻓَﻐَﺪَﻭْﺍ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺟُﻮﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﻳْﻦَ ﻋَﻠِﻲٌّ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻳَﺸْﺘَﻜِﻲ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻓَﺒَﺼَﻖَ ﻓِﻲ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻭَﺩَﻋَﺎ ﻟَﻪُ ﻓَﺒَﺮَﺃَ ﻛَﺄَﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺑِﻪِ ﻭَﺟَﻊٌ ﻓَﺄَﻋْﻄَﺎﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃُﻗَﺎﺗِﻠُﻬُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻣِﺜْﻠَﻨَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻧْﻔُﺬْ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﺳْﻠِﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻨْﺰِﻝَ ﺑِﺴَﺎﺣَﺘِﻬِﻢْ ﺛُﻢَّ ﺍﺩْﻋُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﺃَﺧْﺒِﺮْﻫُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻮَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺄَﻥْ ﻳَﻬْﺪِﻱَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻚَ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻚَ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻚَ ﺣُﻤْﺮُ ﺍﻟﻨَّﻌَﻢِ
Dari Abi Hazim, ia berkata; "Telah memberi khabar kepadaku Sahel, yakni Ibnu Saed, ia berkata; "Pada hari perang Khaibar Nabi SAW bersabda: "Sungguh besok pagi aku akan memberikan Rayah kepada laki-laki yang akan mendapat kemenangan melalui kedua tangannya, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya". Lalu semalaman orang-orang berpikir siapakah diantara mereka yang akan diberi Rayah. Lalu pagi harinya mereka semua berharap diberi Rayah. Lalu Nabi bersabda: "Dimana Ali?". Lalu dikatakan: "Ia sedang sakit kedua matanya". Lalu Nabi meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Lalu ia sembuh, seakan-akan ia tidak terkena penyakit. Lalu Nabi memberikan Rayah kepadanya. Lalu ia berkata: "Apakah aku akan memerangi mereka sehingga mereka menjadi seperti kami". Lalu Nabi bersabda: "Berjalanlah pelan-pelan, sampai kamu singgah dihalaman rumah mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan beritahulah mereka dengan sesuatu yang wajib atas mereka, maka demi Allah, apabila Allah menunjukkan seseorang lantaran kamu, adalah lebih baik bagi kamu, dari pada kamu memiliki hewan ternak yang merah-merah". HR Bukhari
Hadits ini juga menunjukkan, bahwa Rayah dipakai dalam berdakwah kepada Islam.

Ketiga: Selain bendera Islam adalah bendera pengkhianatan, dan pada hari kiamat bendera itu akan dikibarkan oleh para pengkhianat.

'anibni 'umaro ...
ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟِﻜُﻞِّ ﻏَﺎﺩِﺭٍ ﻟِﻮَﺍﺀٌ ﻳُﻨْﺼَﺐُ ﺑِﻐَﺪْﺭَﺗِﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔ
Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: "Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda: "Pada hari kiamat, setiap pengkhianat itu memiliki Liwa (bendera) yang diangkat sesuai pengkhianatannya". HR Bukhari, dalam riwayat lain:

'an 'abdillah ...
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻜُﻞِّ ﻏَﺎﺩِﺭٍ ﻟِﻮَﺍﺀٌ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳُﻌْﺮَﻑُ ﺑِﻪِ
Dari Abdullah bin Umar ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Pada hari kiamat, setiap pengkhianat memiliki Liwa dimana ia dikenal dengannya". HR Bukhari

Tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari pada khianat kepada Allah dan Rasul-Nya SAW. Khianat kepada agama-Nya. Khianat kepada syariah-Nya. Khianat kepada hukum dan sistem-Nya. Dan khianat kepada kaum Muslim. Terlalu banyak contoh-contoh pengkhianatan itu. Pokus kita adalah pengkhianatan terhadap bendera Islam, sebagai bendera tauhid LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMAD RASULULLAH, bendera persatuan dan persaudaraan kaum muslimiin, dan bendera Daulah Khilafah. Yaitu dengan menggantinya dengan puluhan bahkan ratusan bendera negara nasional, bendera nasionalisme dan ashabiyyah. Maka terhadap bendera-bendera itulah hadits di atas bisa diterapkan.

Keempat: Imam Mahdi, pendukung dan tentaranya nanti akan mengibarkan Rayatun sûdun, bendera hitam-hitam, dan tentu bertuliskan kalimat tauhid berwarna putih-putih. Karena secara akal, sepertinya gak munkin, kalau bendera itu hanya sobekan-sobekan kain hitam, tanpa tertulis sesuatu yang mulia padanya dan tidak ada yang lebih mulia dari pada kalimat tauhid Lâ ilâha illallôh Muhammadur Rasululloh. 

Akhirnya, berhati-hatilah terhadap bendera, jangan salah mengibarkan bendera, dan jangan meremehkan bendera, karena bendera itu bisa menuntun kita ke surga atau ke neraka.
Wallahu a'lam bishshawwaab. []

Senin, 28 Oktober 2019

BERJALAN DI BAWAH LIWA NABI MUHAMMAD SAW

Bismillaahir Rahmaanir Rohiim
Wa tahta ...
... وتحت لواء محمد صلى الله عليه وسلم يوم القيامة سائرين ...
" (Ya Allah, jadikanlah kami) pada hari kiamat, berjalan di bawah LIWA Muhammad SAW ...".
Tentu sebelum datang ke telaga (alhaudh) dan sebelum masuk ke surga, sesuai urutan doa selanjutnya.
Kalimat di atas adalah penggalan dari doa sesudah shalat taraweh yang telah saya dengar sejak sebelum baligh. Lebih - lebih yang memanjatkan doa adalah bapak saya sendiri. Dulu saya belum mengerti dengan maknanya. Dan setelah mengerti maknanya, saya pun masih belum mengerti seperti apa bentuk LIWA Muhammad SAW itu. Dan baru benar - benar mengerti dari Hizbut Tahrir, tidak dari yang lainnya.
LIWA Muhammad SAW  pada hari kiamat adalah Liwaulhamdi seperti dalam hadis shahih berikut , dari Abi Said dan Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر وبيدي لواء الحمد ولا فخر وما من نبي يومئذٍ آدم فمن سواه إﻻ تحت لوائي ... رواه الترمذي و أحمد
"Aku adalah tuan anak Adam pada hari kiamat tidak ada sombong. Aku pemegang liwaulhamdi tidak ada sombong. Tidak ada seorang nabi pun pada hari itu, Adam lalu yang lainnya, kecuali di bawah liwaku ...".
Bagaimana pada hari kiamat kita bisa berjalan di bawah LIWA Muhammad SAW?
Semua balasan kebaikan di akhirat nanti hakekatnya adalah balasan dari baiknya penerapan iman dan amal di dunia ini. Dan semua balasan keburukan di akhirat nanti juga balasan dari buruknya penerapan iman dan amal di dunia ini.
Sekecil apapun amal kita di dunia ini, berupa kebaikan atau keburukan, maka di akhirat pasti mendapat balasannya, sebagaimana firman - Nya:
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ، ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره
"Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula". (QS Az Zalzalah, ayat : 7 - 8).
Surga Allah tidak diberikan kepada orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Syafaat Muhammad SAW tidak diberikan kepada orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Air Haudh Alkautsar (telaga alkautsar milik Muhammad SAW) tidak diberikan kepada orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Begitu pula dengan LIWA Muhammad SAW tidak dapat berjalan dan berbaris di bawahnya orang yang ketika di dunia menolak dan mengingkari keberadaannya. Karena ketika di dunia mereka lebih memilih surganya Dajjal, syafaatnya para fir'aun dan taghut, khamer dan minuman yang memabukkan lainnya, dan lebih memilih, membela dan mengibarkan bendera - benera nasionalisme dan yang lainnya, daripada LIWA Muhammad SAW.
Untuk perbandingan, Syaikh Abdulwahhab bin Ahmad bin Ali al-Anshari asy-Syafi’i al-Mishri asy-Sya’roni rh berkata:
ﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺸﻒ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻫﻨﺎ ﻻ ﻫﻨﺎﻙ، ﻓﻴﺠﻨﻲ ﻛﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺛﻤﺮﺓ ﻋﻤﻠﻪ، ﻓﻤﻦ ﺯﻝ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻫﻨﺎ ﺯﻟﺖ ﻗﺪﻣﻪ ﻫﻨﺎﻙ ﺑﻘﺪﺭ ﻣﺎ ﺯﻝ ﻫﻨﺎ .
Ahli kasyaf berkata: “Sesungguhnya berjalan di atas shiroth (jembatan yang lurus di atas neraka Jahannam) hakekatnya itu hanya di sini (dunia), tidak di sana (akhirat). Jadi setiap manusia akan memetik buah amalnya. Barang siapa yang di sini (di dunia) tergelincir dari syariat, maka di sana (di akhirat) kakinya akan tergelincir (terjatuh ke neraka Jahannam), sesuai ketergelincirannya (dari syariat) di sini (di dunia)”. (al-Mizan al-Kubro, hal. 52).
Sesungguhnya Liwa dan Rayah adalah bagian yang tak terpisahkan dari Syariat Islam yang keberadaannya benar - benar dijelaskan dalam hadits shahih. Barang siapa yang menginginkan di akhirat nanti bisa berjalan dan berbaris bersama Nabi Muhammad SAW di bawah Liwaulhamdi, maka di dunia ini, sejak detik ini, peganglah erat - erat LIWA atau RAYAH ini, angkat dan berjalan berbaris di bawahnya.
Janganlah Anda menolak, mengingkari, mencabuti dan membakar LIWA dan RAYAH, agar tidak menyesal pada hari kiamat nanti. Ingat, hari kiamat itu sudah sangat dekat!
Wallohu A’lamu Bishshawâb. []

Sabtu, 26 Oktober 2019

KHALIFAH TIDAK BISA DIPISAHKAN DARI PENERAPAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
● Sistem pemerintahan Islam, khilafah, adalah sistem yang unik berbeda dari sistem-sistem yang lainnya yang ada di dunia seperti demokrasi, teokrasi, kerajaan, republik dan komumis. Tidak ada sistem khilafah tanpa penerapan syariah Islam Kâffah, begitupun tidak akan pernah ada penerapan syariah Islam Kâffah tanpa khilafah. Karena itu, khilafah tidak akan bisa disamakan dengan sistem ruhiyyah (spiritual) Kepausan Vatikan Roma, dan tidak seperti organisasi Khilafatul Muslimiin pimpinan Ustadz Abdul Qodir Ahmad Baraja yang berpusat di Bandar Lampung. Khilafah juga tidak akan membiarkan bentuk- bentuk negara lain seperti negara nasional atau kerajaan eksis di negeri-negeri kaum muslimiin di dunia, karena justru bentuk negara selain khilafah itu yang selama ini menggantikan khilafah dan menghalangi berdirinya khilafah, maka setelah khilafah tegak nanti, negara-negara itu otomatis akan lenyap dari dunia Islam, sebagaimana lenyapnya khilafah dan penerapan syariah Islam Kâffah saat ini.
● Semua sanad khalifah baik sebagai nâibun 'anillâhi (wakil, pengganti dari Allah swt), sebagaimana pendapat Albaghowi bagi Adam dan Daud 'alaihimas salâm dan dan Azzamakhsyari bagi para nabi; nâibun 'aninnabiy saw (wakil, pengganti dari Nabi saw), sebagaimana pendapat jumhur ulama termasuk Abu Ya'la, Almawardi dan Ibnu Kholdun; khalîfatu man qoblahu (pengganti dari orang sebelumnya), sebagaimana pendapat Qolqosyandi dan Atthobari; maupun sebagai nâibun 'anil ummah (wakil, pengganti dari umat), sebagaimana pendapat Syaikh Taqiyyuddin Anabhani dan Hizbut Tahrir.
Begitu pula dengan semua definisi khilafah, baik sebagai ;
الخلافة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في تنفيذ ما آتى به من شرعة الإسلام
"Penganti dari Rasulullah saw dalam melaksanakan Syariat Islam yang telah dibawanya", sebagaimana pendapat Mushthofa Shobi Syaikhul Islam khilafah 'utsmaniyyah.
Atau sebagai ;
رياسة عامة في أمور الدين والدنيا لشخص من الأشخاص ، أو خلافة الرسول في إقامة الدين وحفظ حوزة الملة بحيث يجب اتباعه على كافة الأمة
"Kepemimpinan umum bagi seseorang dalam mengatur urusan agama dan dunia" atau "Pengganti Rasulullah SAW dalam menegakkan agama serta manjaga keutuhannya, dimana wajib diikuti oleh semua umat", sebagaimana pendapat 'Adhoduddin Al-Îjiy.
Atau sebagai ;
الإمام الأعظم القائم بخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا
"Imam Agung yang melaksanakan khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan mengatur dunia", sebagaimana pendapat ulama syafi'iyyah.
Atau sebagai ;
خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به
"Pengganti dari pemilik syariat dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama", sebagaimana pendapat Ibnu Kholdun.
Atau sebagai ;
النيابة عن النبي صلى الله عليه وسلم فى عموم مصالح المسلمين
"Pengganti dari Nabi SAW dalam umumnya masholih kaum muslimiin", sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibrahim Albaijuri.
Atau sebagai ;
رئاسة عامة للمسلمين جميعا في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم
"Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimiin di dunia, untuk menegakkan hukum - hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia", sebagaimana pendapat Syaikh Taqiyyuddin Anabhani dan Hizbut Tahrir.
(Semua sanad khalifah dan definisi khilafah diatas dikutip dari Dr. Mahmud Al Khôlidiy, Qowâ'idu Nizhômil Hukmi fil Islâm, hal. 226 - 234, Maktabah Al Muhtasib).
Semuanya itu baik khalifah dengan berbagai sanadnya maupun khilafah dengan berbagai definisinya, semuanya memiliki dua peket kewajiban yang sama, yaitu :
1. Menerapkan hukum-hukum syara' atas semua rakyat. Maka khalifah mengumpulkan zakat serta membagikannya, menegakkan hudûd, mengatur urusan manusia dengan Islam, dan mengatur sistem kehidupan Islam secara umum.
2. Mengemban dakwah Islam keluar batas-batas negara khilafah sampai ke seluruh penjuru dunia, serta menghilangkan semua hambatan dan penghalang dari depan dakwah Islam melalui jalan jihad.
Inti dari dua tugas tersebut adalah penerapan syariah Islam Kâffah, udkhulû fis silmi kâffah, atau ber-Islam kâffah. Maka tidak ada khalifah tanpa penerapan syariah Islam Kâffah, dan tidak ada penerapan syariah Islam Kâffah tanpa khalifah / khilafah. Karena keduanya saling melengkapi, saling terikat, dan tidak dapat dipisahkan. Memisahkan khalifah/ khilafah dari penerapan syariah Islam Kâffah, adalah melenyapkan eksistensi Islam Kâffah sendiri, karena khalifah/ khilafah adalah bagian dari syariah Islam Kâffah, dimana tanpa khalifah/ khilafah tidak akan ada syariah Islam Kâffah.
● DALIL-DALIL BAHWA KHALIFAH MENYATU DENGAN PENERAPAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH
Alloh swt berfirman :
وإذ قال ربك للمﻵئكة إني جاعل في الأرض خليفة
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ...". (QS Albaqoroh ayat 30).
Alloh swt berfirman :
ياداود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله إن الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بما نسوا يوم الحساب
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan perkara di antara manusia dengan haq (adil) dan janganlah kamu mengikuti (hukum produk) hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". (QS Shaad [38]:26).
Dan Rosululloh SAW pun diperintah agar memutuskan perkara diantara manusia dengan hukum Alloh swt. Alloh berfirman :
فاحكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم عما جآءك من الحق
"Maka putuskanlah perkara diantara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu". (QS Almaidah ayat 48).
Dan firman-Nya :
وان احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu". (QS Almaidah ayat 49).
Perintah Allah kepada Rasul-Nya agar berhukum dengan hukum-hukum-Nya, juga adalah perintah kepada umatnya agar mereka berhukum dengan hukum - hukum Allah swt. Dan termasuk umatnya adalah para khalifah sebagai wakil umat di sepanjang masa kekhilafahan, dimana mereka wajib memutuskan perkara diantara umat dengan hukum - hukum Allah swt.
● AQWAL ULAMA TENTANG WAJIBNYA MENEGAKKAN KHALIFAH SATU PAKET DENGAN KEWAJIBAN MENERAPKAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH
Perhatikan baik-baik aqwal ulama, diataranya adalah Imam Ibnu Hazem rh dalam kitab Almilal wal Ahwâ' wan Nihal, juz 4, hal. 87, beliau  menegaskan :
اتفق جميع أهل السنة وجميع المرجئة وجميع الشيعة وجميع الخوارج على وجوب الإمامة وأن الأمة واجب عليها الإنقياد لإمام عادل يقيم فيهم أحكام الله ويسوسهم بأحكام الشريعة التي أتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم حاشا النجدات من الخوارج فإنهم قالوا لا يلزم الناس فرض الإمامة وإنما عليهم أن يتعاطوا الحق بينهم ...{ الملل والأهواء والنحل، الجزء الرابع، ص: 87}.
“Semua Ahlussunnah, semua Murjiah, semua Syiah dan semua Khawarij telah sepakat atas wajibnya imamah (khilafah), dan bahwa umat wajib tunduk kepada imam yang adil, yang menegakkan hukum-hukum Allah pada mereka, dan yang memimpin mereka dengan hukum-hukum syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW, selain sekte Najdah dari Khawarij, karena mereka berkata, kewajiban imamah itu tidak mengikat manusia, dan manusia hanya wajib menjalankan hak di antara mereka…”.
Sayyid Husain Afandi rh dalam kitab AlHushûn AlHamîdiyyah, hal. 189-190, beliau menegaskan :
اعلم أنه يجب على المسلمين شرعا نصب إمام يقوم بإقامة الحدود وسد الثغور وتجهيز الجيوش وأخذ الصدقات وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وتزويج الصغار والصغائر الذين لا أولياء لهم وقطع المنازعات الواقعة بين العباد وقبول الشهادات القائمة على الحقوق وإقامة الجمع والأعياد ولا يتم جميع ذلك بين المسلمين إلا بإمام يرجعون إليه فى أمورهم: يدرأ المفاسد ويحفظ المصالح ويمنع مما تتسارع إليه الطباع وتتنازع عليه الأطماع يعول الناس إليه ويصدرون عن رأيه على مقتضى أمره ونهيبه. وقد أجمعت الصحابة رضي الله تعالى عنهم على نصب الإمام بعد وفاته عليه الصلاة والسلام. قال أبو بكر رضي الله تعالى عنه: لا بد لهذا الأمر من يقوم به فانظروا وهاتوا آراءهم، فقالوا من كل جانب: صدقت صدقت، ولم يقل أحد منهم لا حاجة بنا إلى إمام. ويجب طاعة الإمام على جميع الرعايا ظاهرا وباطنا فيما لا يخالف الشرع الشريف لقوله تعالى: {أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم} وهم العلماء والأمراء ولقوله عليه الصلاة والسلام: من أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصي أميري فقد عصاني. وفى صحيح البخاري عن النبي صلى الله عليه وسلم: من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن يطع الأمير فقد أطاعني وإنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به ...{الحصون الحميدية، ص: 189-190}.
“Ketahuilah bahwasanya secara syara’ wajib atas kaum muslim mengangkat imam yang menegakkan hudûd, menutup perbatasan negara, mempersiapkan tentara, mengambil zakat, mengatasi pemberontak, penyamun dan begal, mengawinkan laki-laki dan perempuan kecil yang tidak memiliki wali, memutuskan persengketaan yang terjadi di antara manusia, menerima kesaksian yang berdiri di atas hak, menegakkan shalat jum’at dan shalat hari raya, dan semuanya itu tidak akan dapat sempurna di antara kaum muslim, kecuali dengan adanya imam (khalifah) yang dibuat rujukan dalam perkara mereka, yaitu imam yang menolak bahaya, menjaga maslahat, mencegah berbagai persengketaan, tempat manusia bersandar kepadanya dan mengikuti perintah dan larangannya. Dan sahabat ra benar-benar telah ijmak atas mengangkat imam setelah Nabi saw wafat. Abu Bakar ra berkata: “Harus ada orang yang menegakkan perkara (agama) ini, maka berpikirlah dan keluarkan pendapat kalian!” Lalu dari setiap arah sahabat berkata: “Anda benar, anda benar!”, dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan, “Kami tidak membutuhkan imam!”. Dan semua rakyat wajib taat kepada imam, lahir dan batin, pada perkara yang tidak menyelahi syariat yang mulia, karena Allah berfirman: “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada Rasulullah dan kepada ulil amri di antara kalian”, dan mereka adalah para ulama dan umara, dan karena Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang taat kepada amirku, maka ia taat kepadaku, dan barang siapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku”. Dan dalam shahih al-Bukhari, Nabi saw bersabda: “Barang siapa taat kepadaku, maka ia taat kepada Allah, barang siapa maksiat kepadaku, maka ia maksiat kepada Allah, dan barang siapa taat kepada amir, maka ia taat kepadaku. Sesungguhnya imam adalah perisai yang (tentara) berperang dari belakangnya dan dibuat perlindungan…”.  
Sayyid Muhammad Amin rh dalam Ta'lîq kitab Bulûghul Marôm, beliau  menegaskan :
واتفق الأئمة الأربعة  على أن الإمامة فرض وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين، وعلى أنه لا يجوز أن يكون للمسلمين فى وقت واحد فى جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان...{بلوغ المرام، ص: 265، وانظر الميزان الكبرى فى باب حكم البغاة، ج 2، ص: 153}.
“Empat imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) telah sepakat bahwa imamah (khilafah) adalah fadhu, dan bahwa kaum muslim wajib memiliki imam yang menegakkan syiar-syiar agama, memberi keadilan kepada orang-orang yang teraniaya dari orang-orang yang menganiaya, dan bahwa kaum muslim dalam satu masa di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam, sama saja yang keduanya sepakat (rukun) atau yang keduanya berselisih…”. 
Tiga aqwal ulama diatas, InSyaaAlloh, sudah cukup jelas sehingga tidak butuh penjelasan lagi, dan sudah cukup mewakili dari semua aqwal ulama mujtahid serta ulama pengikutnya.
● DALAM SISTEM KUFUR DEMOKRASI KAUM MUSLIMIIN TIDAK AKAN BISA MENERAPKAN SYARIAH ISLAM KÂFFAH
Berbeda dengan para khalifah dalam sistem khilafah yang berlomba-lomba menerapkan syariah Islam Kâffah, para pemimpin dalam sistem demokrasi justru berlomba-lomba menerapkan hukum produk hawa nafsu manusia pengkhianat hukum Allah. Mereka memutuskan perkara dengan hukum produk hawa nafsu manusia pengkhianat hukum Alloh yang bernama dewan terhormat legislatif. Para Nabi dan Rosul saja berkewajiban menerapkan hukum Alloh, juga dewan terhormat dan tertinggi dari para khalifah dan majlis ummat masih berjuang dan bersungguh-sungguh dalam menjaga kewajiban itu. Lalu dewan pengkhianat legislatif demokrasi sangat beraninya membuang hukum Alloh dan menggantinya dengan hukum produk hawa nafsunya sendiri. Apakah mereka merasa lebih terhormat dan lebih tinggi derajatnya di atas para nabi, para rosul, para khalifah dan majlis ummah ?
Fakta dari pekerjaan dewan legislatif demokrasi yang membuang hukum Alloh dan menggantinya dengan hukum produk hawa nafsunya sendiri, adalah menunjukkan bahwa mereka telah berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan-tuhan kerdil pesaing Tuhan Yang Maha Besar Pencipta kehidupan, alam semesta dan manusia, Alloh swt. Sungguh keterlaluan. Dan sama keterlaluannya, adalah orang-orang yang masih mau memilih dan mengangkat mereka menjadi wakil dan pemimpinnya dalam sistem kufur demokrasi.
● PADAHAL YANG TIDAK BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH ADALAH ORANG-ORANG KAFIR, ZALIM ATAU FASIK, TIDAK ADA YANG KEEMPATNYA
Allah swt berfirman :
ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الكافرون ، ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الظالمون ، ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الفاسقون
"Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah,  maka mereka adalah orang - orang kafir... Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang - orang zalim... Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang - orang fasik". (QS Almaidah ayat 44, 45 dan 47).
● WALHASHIL
Tidak ada khalifah tanpa penerapan syariah Islam Kâffah, karena khalifah adalah wakil Allah, wakil Nabi saw, pengganti orang sebelumnya, atau wakil ummat, dalam / untuk kewajiban menerapkan syariah Islam Kâffah, atau menerapkan hukum - hukum Allah secara sempurna. Dan tidak ada penerapan syariah Islam Kâffah tanpa khalifah, karena khalifah (tentu dengan khilafahnya) adalah metode syar'iy untuk menerapkan syariah Islam Kâffah atau menerapkan hukum - hukum Allah secara sempurna. Dan meskipun khalifah sebagai metode, tetapi keberadaannya adalah bagian dari syariah Islam Kâffah, dimana tanpa khalifah tidak sempurna syariah Islam Kâffah. Khalifah juga termasuk kedalam kaidah :
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
"Sesuatu dimana kewajiban tidak dapat sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu adalah kewajiban".
Wallohu A’lamu Bishshawâb. []