Kamis, 18 Juli 2019

JAMA'AH YANG WAJIB DIIKUTI (1)

Siapakah Jama'ah Yang Sawad A'zhom Yang Wajib Diikuti ?

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem

Bukan hal yang tersembunyi, ketika setiap kelompok mengklaim, bahwa merekalah Jama'ah yang  sebenarnya. Jama'ah tersebut bukan sebuah organisasi dengan anggota terbanyak, juga bukan partai politik sekuler pemenang pemilu. Jama'ah tersebut adalah sebagaimana dijelaskan oleh ulama berikut ini :

Sayyid Alwi bin Abdul Qadier Asseghaf berkata:
ﻓﻼ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ : ﺇﻥ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻄﻠﻮﺏ، ﻭﺇﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﺎﺭﻗﻮﻥ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻟﻤﺬﻣﻮﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ، ﺑﻞ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻌﻜﺲ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻫﻢ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﻭﺇﻥ ﻗﻠﻮا، ﻭﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﺎﺭﻗﻮﻥ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺧﺎﻟﻔﻮﺍ، ﻓﺈﻥ ﻭﺍﻓﻘﻮﺍ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ . ﻓﺎﻧﻈﺮ ﻏﻠﻂ ﻣﻦ ﻇﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻬﻢ ﻋﺎﻟﻢ، ﻭﻫﻮ ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ، ﻻ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ، ﻓﻠﻴﺜﺒﺖ ﺍﻟﻤﻮﻓﻖ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺰﻟﺔ قدمه ﻟﺌﻼ ﻳﻀﻞ ﻋﻦ ﺳﻮﺍﺀ ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ، ﻭﻻ ﺗﻮﻓﻴﻖ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠّﻪ . ‏(ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻻﻋﺘﺼﺎﻡ ، ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻋﻠﻮﻱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ – ﺝ / 1 ﺹ 103 ).
“Tidak ada seorang (ulama) pun berkata, bahwa mengikuti jama’ah orang awam adalah yang dianjurkan (diperintah oleh Nabi SAW), dan bahwa ulama adalah yang keluar dari Jama’ah dan yang tercela dalam hadits, tetapi perkara yang benar itu sebaliknya. Sesungguhnya ulama adalah Sawad A’zhom meskipun jumlah mereka sedikit, sedang orang-orang awam adalah yang meninggalkan Jama’ah, ketika mereka menyelisihi ulama, sedang ketika mereka mengikuti ulama, maka demikianlah kewajiban atas mereka. Karenanya, perhatikan kesalahan orang yang menyangka, bahwa Jama’ah adalah kumpulan manusia, meskipun pada mereka tidak terdapat orang alim satupun. Yang demikian adalah dugaan keliru orang awam, bukan pemahaman ulama. Maka dalam perkara yang menggelincirkan ini, orang yang sukses harus mengokohkan kakinya, agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Tidak ada pertolongan selain dengan pertolongan Alloh”.

(dan pernyataan :)
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﻌﺼﻮﻡ، ﻓﻬﻮ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﻣﺎ ﻭﺍﻓﻘﻪ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﺒﺎﻋﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻐﺮﺑﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺧﺒﺮ ﺑﻬﻢ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ " : ﺑﺪﺃ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻏﺮﻳﺒًﺎ ﻭﺳﻴﻌﻮﺩ ﻏﺮﻳﺒًﺎ ﻛﻤﺎ ﺑﺪﺃ ﻓﻄﻮﺑﻰ ﻟﻠﻐﺮﺑﺎﺀ " ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ، ﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻭﺍﻟﻄﻐﺎﻡ، ﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ، ﻭﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺆﻣﺮﻭﻥ .‏ (ﻣﻮﺳﻮﻋﺔ ﺗﻮﺣﻴﺪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺒﻴﺪ - ﺝ / 4 ﺹ 299 )
“Adapun Ijma’ yang terjaga adalah Ijma’ sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikutinya, yaitu Sawad A'zhom (golongan agung) yang telah datang anjuran mengikutinya, meskipun hanya diikuti oleh orang-orang yang terasingkan (yang minoritas) dimana Nabi SAW telah mengkhabarkan tentang mereka dalam sabdanya: “Islam telah datang dalam kondisi asing dan akan kembali dalam kondisi asing sebagaimana datangnya, maka berbahagialah orang-orang yang terasingkan” (HR Muslim). Bukan perkara yang diikuti oleh orang-orang awam dan rakyat jelata, ulama kholaf dan muta’akhir yang mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya, dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkannya”.

(dan pernyataan :)
ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ، ﻭﻫﻢ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻗﻠﻴﻼ، ‏( ﺍﻟﺼﻮﺍﻋﻖ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﺔ ﺍﻟﺸﻬﺎﺑﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﺒﻪ ﺍﻟﺪﺍﺣﻀﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻴﺔ - ﺝ / 3 ﺹ 85 ).
“Maka siapa saja yang berpegang teguh terhadap agama sebagaimana sahabat Rasululloh SAW berpegang teguh kepadanya, maka merekalah Sawad A'zhom, dan merekalah Jama’ah, meskipun mereka minoritas”.
ﻭﻟﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺳﻴﻔﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﻫﻢ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﻟﻮ ﻭﺍﺣﺪﺍ . ( ﺍﻟﺼﻮﺍﻋﻖ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﺔ ﺍﻟﺸﻬﺎﺑﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﺒﻪ ﺍﻟﺪﺍﺣﻀﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻴﺔ - ﺝ / 3 ﺹ 85 ).
“Karena itu, Sufyan al-Tsauri berkata: “Yang dimaksud dengan Sawad A'zhom ialah siapa saja orang yang termasuk Ahlussunnah (yang berpegang kepada sunnah Nabi SAW) Waljama’ah (yang berpegang kepada sunnah sahabat), meskipun ia seorang diri”.

Jadi yang dikehendaki dengan term Jama'ah yang Sawad A'zhom adalah para ulama, tentu ulama mujtahid, beserta para pengikutnya, tentu yang benar-benar mengikutinya dalam berpegang teguh kepada sunnah Nabi Saw dan sunnah sahabatnya. Meskipun jumlah mereka sedikit dan mereka terasingkan, Alghurobâ.

Sedang berpegang teguh kepada sunnah Nabi Saw dan sunnah sahabatnya, adalah dengan menjadikan dien Islam sebagai solusi atas semua problematika kehidupan. Artinya Islam harus diterapkan secara sempurna dalam kehidupan, masyarakat dan negara. Dari sini diketahui bahwa penerapan Islam secara sempurna itu juga membutuhkan negara, tapi bukan sembarang negara. Negara itu yang bagian dari sunnah Nabi Saw dan sunnah para sahabatnya, yaitu Khilafah Rosyidah Mahdiyyah. Karena dengan meninggalkan Khilafah, Islam mustahil dapat diterapkan secara sempurna, karena khilafah sendiri adalah bagian dari ajaran Islam.

Dengan demikian, Jama’ah yang Sawad A'zham adalah mereka yang menerapkan Islam secara sempurna melalui penegakkan khilafah rosyidah, atau mereka yang sedang berdakwah kepada syariah dan khilafah, atau mereka yang mau diajak berjuang untuk hal tersebut, bukan mereka yang menolaknya, dan bukan mereka yang menjadi pembela dan penikmat sistem kufur demokrasi atau sistem atheis komunis.

Jadi tegaknya khilafah atau berdakwah kepada syariah dan khilafah, adalah penentu atas adanya Jama’ah yang Sawad A'zham dan yang Ghurobâ. Karena itu, tahun turunnya Hasan bin Ali dari khilafah dan menyerahkannya kepada Muawiyah disebut sebagai tahun Jama’ah. Dan karena itu juga, Jama'ah bisa berarti berkumpulnya kaum Muslim yang terdiri dari para imam mujtahid serta para pengikutnya di bawah bendera seorang khalifah.

Anda ingin menjadi bagian dari Jama'ah, Sawad A'zham dan Ghuroba ? Campakkan sistem demokrasi dan sistem komunis. Dan tegakkan sistem khilafah !

Anda ingin sukses dunia akhirat ? Terapkan syariah Islam secara kâffah dalam kehidupan, masyarakat dan negara ! []

Rabu, 10 Juli 2019

BENARKAH PANCASILA DAN NKRI MERUPAKAN KONSENSUS PARA PENDAHULU YANG TIDAK BOLEH DIUBAH?

Oleh : Ustadz Syamsuddin Ramadhan

Jawab:
Pertama, sesungguhnya, siapa saja yang mencermati perjalanan sejarah bangsa Indonesia, pastilah ia berkesimpulan bahwa Pancasila dan NKRI bukanlah konsensus para pendahulu yang tidak boleh diubah.  Pancasila dan NKRI dari sudut pandang apapun sah dan bisa diubah.   Pancasila dan NKRI sesungguhnya adalah “buah” dari manuver politik kelompok sekuler-demokrat untuk mendirikan negara demokrasi-sekuler dan mencegah berdirinya negara Islam di Indonesia.  Adapun statement sekelompok orang yang menyatakan bahwa Pancasila adalah konsensus luhur bangsa Indonesia, semua itu hanyalah propaganda politik dan opini belaka. 

Adapun diamnya umat Islam dan tokoh-tokoh Islam terhadap pendasaran negara dengan Pancasila, itu tidak berarti ada consensus diam (ijma` sukutiy) dari mereka untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara.  Sebab, diamnya masyarakat atas sesuatu tidak secara otomatis menunjukkan persetujuan dan penerimaan mereka terhadap sesuatu tersebut.  Bahkan sejarah menunjukkan bahwasanya Pancasila baru diterima oleh sebagian organisasi Islam dan pondok pesantren, bukan karena mereka memandang Pancasila sebagai konsensus luhur bangsa Indonesia atau karena keduanya final dan harga mati, tetapi  lebih karena paksaan dan ancaman dari rejim yang berkuasa saat itu.  Jikalau tidak ada paksaan, intimidasi, persekusi, dan ancaman niscaya mereka menolak Pancasila sebagai asas, dan NKRI sebagai sebuah bentuk pemerintahan.

Pada paparan sebelumnya telah dijelaskan sejarah perjalanan Pancasila dan NKRI yang dinamis, berubah, dan absah untuk diubah.    Realitas tersebut menggambarkan bahwasanya Pancasila dan NKRI bukanlah konsensus harga mati yang tidak bisa berubah.   Pancasila dan NKRI adalah produk politik yang terus mengalami dinamika dan perubahan.  Orang yang menyatakan bahwa Pancasila dan NKRI final dan harga mati jelas-jelas ahistoris, naïf, dan picik.

Kedua, seandainya dinyatakan bahwa Pancasila dan NKRI  adalah konsensus luhur bangsa Indonesia –meskipun faktanya tidak seperti itu--, inipun juga tidak berarti bahwa keduanya haram atau tabu untuk diubah; lebih-lebih lagi diposisikan lebih tinggi daripada Islam. 
Alasannya:

(1) kesepakatan manusia tidaklah ma’shum (terjaga dari kesalahan), kecuali kesepakatan para shahabat (Ijma’ shahabat).   Ijma’ shahabat (kesepakatan para shahabat) dijamin oleh wahyu (al-Quran dan hadits mutawatir) atas keterjagaannya dari kesalahan.   Adapun kesepakatan selain mereka –shahabat ra-- tidak dijamin kema’shumannya.  Para pendahulu kita, sebagus apapun personalitas mereka, tentu saja tidak luput dari kesalahan.  Produk kesepakatan mereka pun juga tidak ma’shum, bisa salah dan keliru; serta sama sekali tidak boleh dinyatakan final, harga mati, serta diletakkan di atas Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. 

Alasan (2), kesepakatan apapun, jika menyelisihi al-Quran dan Sunnah Nabi saw, atau memberangus sebagian atau keseluruhan ajaran Islam, atau menghalang-halangi tegaknya Islam secara sempurna; maka kesepakatan itu batal.   Kelompok Pancasilais, liberalis, sekuleris menolak dengan tegas upaya penegakkan syariah dan Khilafah dengan alasan ia akan memberangus eksistensi Pancasila dan NKRI.   Mereka juga menyatakan dakwah Islamiyyah tidaklah dilarang, dengan syarat tidak menyerukan syariah dan Khilafah.   Statement ini menunjukkan bahwa mereka tengah memposisikan Pancasila dan NKRI di atas Al-Quran dan Sunnah Nabi saw, dan dakwah disyaratkan tidak boleh mengubah Pancasila dan NKRI.   Syarat-syarat semacam ini jelas-jelas keliru dan bertentangan dengan Islam.

Di dalam riwayat-riwayat maqbul dituturkan bahwasanya setiap syarat yang bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah Nabi saw, walaupun 100 syarat, maka syarat itu batal.

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Barirah  bertanya kepada ‘Aisyah ra tentang status kitabah-nya (budak yang ingin memerdekakan dirinya dengan cara membayar kepada tuannya).  ‘Aisyah ra menjawab, “Jika kamu mau, aku akan memberikan kepada keluargamu, sedangkan walaa’ untukku”.  

Tatkala Rasulullah saw datang, ‘Aisyah menceritakan hal itu kepada beliau saw.  Beliau saw bersabda:
ابْتَاعِيهَا فَأَعْتِقِيهَا فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ, ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللهِ مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنِ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ
Belilah dia, lalu bebaskanlah dia, sesungguhnya wala’ itu milik orang yang memerdekakan”.   Kemudian, Rasulullah saw berdiri di atas mimbar, seraya bersabda, “Perhatikanlah kaum yang mensyaratkan syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah; siapa saja yang mensyaratkan satu syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah, maka tidak ada hak baginya, meskipun ia mensyaratkan seratus syarat”.[HR. Imam Bukhari]

Imam Ahmad menuturkan sebuah riwayat dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Barirah mendatangi dirinya, sedangkan pada saat itu Barirah seorang mukatabah (budak yang dibebaskan dengan cara membayar kepada tuannya), yang keluarganya telah membayarkan untuknya sebanyak 9 ‘uqiyyah.   ‘Aisyah ra berkata kepadanya, “Jika keluargamu mau, aku akan membayarnya sekali bayar, sedangkan wala` untukku”.  Barirah mendatangi keluarganya dan menceritakan hal itu kepada mereka.   Mereka menolak, kecuali mereka mensyaratkan bahwa wala` (loyalitas) tetap milik mereka.   ‘Aisyah ra mengabarkan hal itu kepada Nabi saw.  Nabi saw bersabda, “Lakukanlah”.   ‘Aisyah pun melakukan hal itu. 

Selanjutnya Nabi saw bangkit, dan berkhuthbah di hadapan manusia.  Beliau memuji Allah swt dan menyanjungNya, seraya bersabda :
مَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللهِ ، قَالَ كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ ، كِتَابُ اللهِ أَحَقُّ ، وَشَرْطُهُ أَوْثَقُ ، وَالْوَلاَءُ لِمَنْ أَعْتَقَ
“Perhatikan wahai laki-laki yang mensyaratkan syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah”.  Beliau bersabda, “Setiap syarat yang tidak terdapat di dalam Kitabullah maka ia bathil.  Kitabullah lebih benar, dan syaratnya (syarat yang didasarkan Kitabullah) lebih bisa dipercaya.  Sedangkan wala` bagi orang yang memerdekakan”. [HR. Imam Ahmad]

Imam Ahmad juga menuturkan hadits semakna dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw bersabda:
كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ مَرْدُودٌ، وَإِنْ اشْتَرَطُوا مِائَةَ مَرَّةٍ
“Setiap syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah ‘Azza wa Jalla, maka syarat itu tertolak, meskipun mereka mensyaratkan 100 kali”.[HR. Imam Ahmad]

Riwayat-riwayat ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwasanya setiap syarat yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi saw, tertolak dan batal. 

Sejak Pancasila ditasbihkan sebagai prinsip ideal dan dasar negara, maka berdirilah di atasnya negara demokrasi-sekuler yang mengatur urusan rakyat dengan aturan-aturan buatan manusia.   Jikalau di sana ada penerapan sebagian aturan agama, semacam nikah, sholat, zakat, dan lain-lain, itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa pemerintahan tersebut Islamiy atau berpihak kepada Islam.  Sama seperti kaum Muslim yang ada di Habasyah.  Kaum Muslim yang hijrah ke Habasyah diberi ijin untuk tetap memeluk agama Islam dan menunaikan kewajiban-kewajiban seorang Muslim.  Namun, tetap saja pemerintahan Najasyi adalah pemerintahan kufur.  Penerapan sebagian ajaran Islam oleh lembaga negara dan individu kaum Muslim bukan karena pemerintahannya berdasarkan Islam, tetapi karena penguasa negara kufur itu mengadopsi sebagian ajaran Islam dan memberikan ijin kepada individu-individu tersebut untuk hanya melaksanakan sebagian ajaran Islam. 

Di negeri yang berasaskan Pancasila ini, syariat Islam, khususnya syariat yang mengatur urusan-urusan negara dan publik jelas-jelas disingkirkan dan dicegah pemberlakukannya.  Di antara alasan kaum sok Pancasilais adalah bangsa Indonesia majemuk, tidak hanya umat Islam saja. Penerapan syariah dalam ranah negara dan masyarakat, masih menurut mereka, akan mengancam keragaman.   Oleh karena itu, di sepanjang lintasan sejarah Pancasila dan NKRI, siapapun yang berusaha melakukan “formalisasi” syariat Islam dalam ranah negara dan publik, acapkali dituduh anti dan membahayakan Pancasila dan NKRI.   

Bahkan, penguasa dengan alasan menjaga Pancasila dan NKRI tidak segan-segan memenjara, mengucilkan, dan memerangi orang-orang yang berusaha melakukan formalisasi Islam dalam ranah negara dan masyarakat. Semua ini semakin menegaskan bahwasanya Pancasila dan NKRI merupakan alat yang digunakan penguasa atau kelompok anti Islam untuk menghancurkan setiap upaya yang ditujukan untuk menerapkan Islam secara kaaffah.   Liciknya lagi, kelompok nasionalis-Pancasilais ini selalu berkoar-koar bahwa mereka tidak anti Islam; dan Pancasila itu tidak bertentangan dengan Islam.  Padahal, tindakan mereka jelas-jelas menunjukkan permusuhan dan kebencian mereka terhadap Islam.   Pemberlakuan sebagian ajaran Islam semacam sholat, zakat, puasa, dan ibadah-ibadah tertentu, sama sekali tidak bisa menutupi kejahatan dan keculasan mereka.  

Walhasil, tanpa disadari oleh sebagian umat Islam, Pancasila dan NKRI dijadikan sebagai “penghalang atau “pengganjal politis” atas setiap upaya penegakkan syariat dan Khilafah Islamiyyah.   Dengan kata lain, Pancasila dan NKRI adalah dinding yang sengaja dibangun kaum sekuler untuk membangun negara bangsa demokrasi-sekuler, sekaligus sebagai penghalang bagi siapa saja yang hendak menghancurkan eksistensi negara demokrasi-sekuler dan mendirikan negara Khilafah Islamiyyah.    

NKRI dan Pancasila juga diperalat untuk mencegah terjadinya persatuan umat Islam seluruh dunia di bawah naungan satu kepemimpinan tunggal, Amirul Mukminiin.  NKRI dan Pancasila juga diperalat untuk melanggengkan eksistensi penguasa-penguasa antek yang bekerja untuk kepentingan negara-negara imperialis dan korporasi-korporasi swasta tanpa mempedulikan lagi kedaulatan rakyat dan bangsanya.  
Oleh karena itu, umat Islam –khususnya ahlul quwwah-- tidak boleh tinggal diam dan berpangku tangan.  Sudah saatnya mereka berjuang dengan keras untuk melampaui penghalang-penghalang itu, lalu membangun negeri ini di atas pijakan yang shahih, yakni ‘aqidah Islamiyyah.  Lalu, menerapkan syariat Islam secara menyeluruh untuk mengatur urusan pemerintahan dan rakyat. 

Persoalan utama umat Islam sekarang ini adalah bagaimana mereka focus pada upaya menerapkan hukum Allah swt dan RasulNya secara menyeluruh dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara.  Sebab, setiap Muslim diperintahkan hidup sesuai dengan syariat Islam, dan dilarang menyimpang dari syariat Islam, meskipun hanya seujung rambut.   Persoalan umat Islam bukanlah “keterikatan dan kesetiaan mereka kepada NKRI dan Pancasila”.  Sebab, tidak ada perintah dalam al-Quran dan Sunnah yang ditujukan kepada umat Islam agar mereka setia dan membela mati-matian NKRI dan Pancasila.  

Lebih-lebih lagi, keduanya jelas-jelas tidak lahir dari al-Quran dan Sunnah Nabi saw.   Yang ada hanyalah perintah untuk membela, mentaati, dan mendakwahkan hukum Allah dan RasulNya.   Bahkan, menjadikan NKRI dan Pancasila sebagai standar diterima atau tidaknya amal perbuatan seorang Muslim, jelas-jelas hal itu mereka kesesatan yang nyata.  Begitu pula “membela NKRI dan Pancasila” sampai mati, tidaklah dihitung jihad fi sabilillah.  Bahkan, siapa saja yang mati dalam rangka membela NKRI dan Pancasila, maka ia justru memperoleh murka dan siksa Allah swt.

Benar, agenda umat Islam adalah berjuang untuk menerapkan Islam secara kaaffah dalam bingkai sistem pemerintahan Islamiy, yakni Khilafah Islamiyyah.  Pada persoalan inilah, umat Islam harus focus dan serius.  Persoalan mereka bukanlah menjaga dan mempertahankan Pancasila dan NKRI.  Pasalnya, Pancasila dan NKRI bukanlah harga mati, dan sama sekali tidak berhubungan dengan lenyap tidaknya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah swt dan RasulNya. 

Jika Pancasila dan NKRI dianggap harga mati dan berkaitan dengan rusak tidaknya keimanan seorang Muslim, lantas, bagaimana saudara-saudara kita yang ada di Amerika, Rusia, Inggris, Malaysia, Filipina, Arab Saudi, Iraq, dan negeri-negeri lain yang tidak menjadikan Pancasila dan NKRI sebagai asas dan bentuk pemerintahan negara mereka?  Apakah mereka semua kafir, dan layak dianggap sesat karena tidak menyakini Pancasila dan NKRI?

Sebaliknya, seorang Muslim, di mana pun mereka berada, apapun warna kulit dan bangsanya; jika ia berpaling dari syariat Islam, menolak dan memusuhi penerapan syariat Islam; atau berbuat tidak di atas dasar ‘aqidah Islamiyyah; atau menyakini bahwa Islam sejajar atau bahkan lebih rendah dibandingkan Pancasila dan NKRI, maka tanpa ada keraguan sedikit pun, ia telah keluar dari Islam.   Adapun seorang Muslim yang hidup tidak sejalan dengan al-Quran dan Sunnah, namun, di hatinya masih menyakini kewajiban untuk terikat dengan syariat Islam dan penyimpangan dirinya dari Islam tidak dibarengi dengan keyakinan, maka ia tidak boleh dikafirkan.  Barangkali ia termasuk kategori orang dzalim dan fasiq.

Jika ini persoalannya, lantas mengapa kita harus “khawatir  dan takut” tatkala kita hendak menjalankan kewajiban asasi kita sebagai seorang Muslim, yakni menerapkan Islam secara kaaffah dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara?  Mengapa kita merasa jengah dan minder ketika kita hendak mendirikan Daulah Islamiyyah yang akan menyempurnakan penerapan syariat Islam secara kaaffah? Mengapa kita harus bersembunyi di balik jargon-jargon abu-abu semacam “NKRI Bersyariah, “Kita Tetap Setia Kepada NKRI dan Pancasila”, dan jargon-jargon hipokrit lain, yang justru menghalang-halangi tegaknya syariah dan Khilafah?

Wahai para jenderal dan prajurit Muslim yang gagah berani, sungguh, jika Anda menolong agama Allah, dengan cara membantu dan mendukung perjuangan menegakkan syariat dan Khilafah, niscaya Allah swt akan melimpahkan ridlo dan pahalaNya kepada Anda sekalian.  Sebaliknya, jika Anda berpangku tangan, berpaling, bahkan memusuhi perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah, niscaya Anda akan mendapatkan kesukaran hidup di dunia dan akherat. (Gus syams)

Kamis, 04 Juli 2019

KHILAFAH MENYEMPURNAKAN IBADAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Khilafah menyempurnakan ibadah, artinya dengan khilafah yang menerapkan syariah Islam secara sempurna, kaum muslim bisa beribadah kepada Allah dengan sempurna, karena ibadah itu terdiri dari ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh; ibadah mengatur urusan diri dengan Tuhannya, ibadah mengatur urusan diri sendiri, dan ibadah nengatur urusan diri dengan sesamanya, termasuk urusan diri dengan masyarakat dan negara, termasuk cara mengelola negara. Dan substansi khilafah adalah seorang khalifah yang menerapkan syariah Islam secara sempurna. Karenanya, kalimat menegakkan khilafah bisa diganti dengan menegakkan khalifah atau menegakkan hukum-hukum khalifah, seperti dalam tafsir Alqurthubi.

Senin, 01 Juli 2019

DIMENSI HALAL BI HALAL

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini adalah kesempatan saya (Abulwafa Romli) untuk menyampaikan pidato halal bi halal dimana sebelumnya hanya tersimpan didalam otak. Pada kesempatan ini juga saya tidak bicara siapa sosok yang pertama kali mencetuskan istilah halal bi halal.

Istilah halal bi halal (halal dengan halal) itu diambil dari kata Arab berupa fi’il mâdhi istahalla dan mashdar istihlâl (mengikuti wazan istaf'ala dan istif'âlan) yang berarti minta halal / minta dihalalkan. Urutan shorofnya sebagai berikut :
استحل يستحل استحلالا ومستحلا فهو مستحل وذاك مستحل استحل لا تستحل مستحل مستحل
istahalla yastahillu istihlâlan wa mustahallan fahuwa mustahillun wa dzâka mustahallun istahilla lâ tastahilla mustahallun mustahallun.

Selasa, 25 Juni 2019

HAKEKAT FIRQAH MU'TAZILAH (6)

Manhaj Muktazilah & Definisi Akal

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Untuk mengetahui hakekat Muktazilah, terlebih dahulu harus mengetahui manhajnya dalam pembahasan akidah maupun syariah, yaitu:

تقديم أو تمجيد العقل على النقل وجعله حاكما على نصوص الشريعة

Taqdîmu aw Tamjîdul 'Aqli 'Alan Naqli Wa Ja'luhû Hâkiman 'Alâ Nushûshisy Syar'iyyati

"Mendahulukan atau Mengagungkan Akal atas Naqel, dan Menjadikan Akal Sebagai Hâkim atas Nash-Nash Syariah".

Rabu, 12 Juni 2019

MENCARI AHLUSSUNNAH WALJAMAAH

MENCARI YANG SATU DARI 73 KELOMPOK
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Semuanya berawal dari sabda Rasulullah saw :
وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً . رواه الترمذي وأحمد عن عبد الله بن عمرو بن العاص.
 “Dan umatku akan terpecah menjadi 70 kelompok dimana semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok…”.
Dan sabdanya:
 وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ مِنْهَا نَاجِيَةٌ وَالْبَاقُوْنَ هَلَاكَى . رواه الطبراني.
"Dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok dimana hanya satu yang selamat (yang masuk surga dengan tidak mampir dulu di neraka Jahannam), sedangkan yang lain semuanya hancur/rusak (tercebur di neraka)…”.