Jumat, 03 Juli 2020

KENAPA HIZBUT TAHRIR BELUM MEMBAI'AT KHALIFAH?

Kalau HT/HTI itu identik dgn ISIS, NII, KHILMUS, JAMUS, LDII Kediri, dll. Mk sejak dulu sdh membai'at amirnya menjadi khalifah. 

Faktanya, kenapa HT/HTI sampai sekarang masih belum mengangkat dan membai'at khalifah? 

Karena yang sedang dan terus diperjuangkan dan didakwahkan oleh Hizbut Tahrir diseluruh dunia itu bukan khilafah macam ISIS/IS, Jamus, Khilmus, NII, LDII (Islam Jama'ah) dan semacamnya. 

Tetapi khilafah ala minhajin nubuwwah yang nota bene adalah milik ummat islamiyyah di seluruh dunia, bukan milik Hizbut Tahrir semata. Dan sampai detik ini mayoritas ummat Islam masih belum mau diajak bersama mendirikan dan menegakkannya. 

Karenanya, Hizbut Tahrir masih terus berjuang dan berdakwah agar ummat paham, agar ummat menerima, agar ummat mau bersama menegakkan khilafah miliknya, agar ummat memilih, mengangkat dan membai'at seorang khalifah dari padanya. 

Ketidakmauan ummat itu juga yang menjadi penyebab tertundanya nashrullah akan tegak berdirinya khilafah ala minhajin nubuwwah kedua yang dijanjikan-Nya. 

Karena, Allah ta'ala tidak akan merubah nasib suatu kaum dari buruk menjadi baik, dari tidak punya khalifah menjadi punya khalifah, sampai mereka merubah pemikiran, pemahaman dan keyakinan yang ada di dalam otak dan hatinya, dari yang tidak paham dan anti khilafah sampai menjadi paham dan mendukung dakwah penegakkan khilafah. 

Jadi Anda tahu kan kenapa Hizbut Tahrir masih belum punya khalifah, kenapa khilafah yang diperjuangkan dan didakwahkan Hizbut Tahrir (khilafah tahririyyah kata kaum liberal dan talafiy) masih belum berdiri? 

Karena khilafah yang diperjuangkan dan didakwahkannya hanyalah khilafah ala minhajin nubuwwah yang kewajiban menegakkannya ditaklifkan atas seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

*SEMUA BERHAK MENCALONKAN DIRI SEBAGAI KHALIFAH*

Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Aktivis, Anggota Hizbut Tahrir

Untuk menjadi calon khalifah, maka dia harus Muslim, laki-laki, Baligh (dewasa), Merdeka, Adil dan memiliki kemampuan untuk mengemban amanah jabatan kekhalifahan. Orang Kafir, perempuan, anak kecil, budak, tukang bohong, jelas tak memiliki kapasitas untuk mencalonkan diri sebagai khalifah.

Lantas, siapa yang akan terpilih menjadi Khalifah ? Jawabnya, terserah kepada umat. Sebab, umat-lah yang memiliki kekuasaan. Terserah kepada umat, akan memberikan amanat kekuasaan itu kepada siapa.

Yang jelas, akad kekhilafahan itu asasnya berdasarkan keridhoan dan pilihan. Seseorang tidak boleh dipaksa menjadi Khalifah, umat juga tidak boleh dipaksa membaiat Khalifah.

Seorang yang akan dibaiat wajib sadar dirinya akan diberi amanah jabatan kekhilafahan, sementara umat wajib diberi pilihan secara sadar dan ridlo, untuk menentukan siapa calon khalifah yang akan dibaiat menjadi Khalifah.

Terlepas setiap muslim siapapun berhak mencalonkan diri sebagai khalifah asal memenuhi syarat, namun yang terpenting komitmen calon terhadap misi kekhilafahan. Umat tidak mungkin memilih calon khalifah yang menentang sistem khilafah, yang tidak memperjuangkan khilafah, atau yang menolak dicalonkan sebagai Khalifah.

Sementara Amir Hizbut Tahrir, yakni Syaikh Ato' Abu Rusytoh, adalah pimpinan Hizbut Tahrir yang sejak awal konsisten memperjuangkan Khilafah, berulang kali dipenjara oleh rezim antek karena memperjuangkan Khilafah, memenuhi syarat sebagai calon khalifah, serta siap sedia dicalonkan sebagai calon Khalifah kaum muslimin, untuk memimpin khilafah Ala Minhajin Nubuwah sebagaimana telah dikabarkan Rasulullah SAW.

Karena itu, bagi siapapun yang berminat menjadi calon khalifah, yang memenuhi syarat untuk dicalonkan sebagai Khalifah, yang bersedia untuk dicalonkan sebagai Khalifah, wajib memperjuangkan khilafah dan bersinergi bersama kaum muslimin lainnya untuk segera merealisir Nubuwah Khilafah.

Dia tidak saja memahami hukum wajibnya khilafah, tetapi juga menceburkan diri dalam perjuangan untuk menegakkan Khilafah. Dia, juga siap berkorban demi merealisir visi menegakkan Khilafah.

Soal siapa yang akan menjadi Khalifah, apakah amir Hizbut Tahrir atau calon khalifah lainnya, semua terserah pada keputusan Allah SWT melalui pilihan yang ditentukan oleh umat. Sebab, calon hanya sebatas calon, semua keputusan dikembalikan kepada umat.

Saat Umar RA meninggal, Ustman bin Affan RA dan Ali RA menjadi calon Khalifah, keduanya memiliki kapasitas untuk memegang jabatan kekhilafahan. Namun, keputusan umat yang diwakili sahabat senior, melalui penjaringan aspirasi yang dilakukan oleh Abdurahman bin Auf, menjatuhkan pilihan kepada Ustman bin Affan RA menjadi Khalifah, menggantikan Umar RA.

Yang paling urgen, adalah bagaimana kaum muslimin segera menegakkan Khilafah, menerapkan hukum Allah SWT, agar semua bala dan bencana di bumi ini segera diangkat oleh Allah SWT. Sebab, pangkal dari semua problematika yang mendera umat ini adalah tidak diterapkannya hukum Allah SWT.

Soal siapa khalifah pertama kaum muslimin setelah kekhilafahan terakhir diruntuhkan di Turki pada tahun 1924, biarlah dialektika perjuangan dan waktu yang akan menjawabnya.

Yang jelas, orang-orang seperti Ahok, Harie Tanoesoedibjo, Luhut Binsar Pandjaitan, Fictor Laiskodat, tidak akan mungkin menjadi calon khalifah karena tidak memenuhi syarat. Karena visi utama kekhilafahan adalah melanjutkan kehidupan Islam dengan kembali menerapkan hukum Allah SWT, sebagaimana dahulu pernah diterapkan Rasulullah SAW dan para sahabat, serta para Khalifah setelahnya. [].

*KALAU KHILAFAH TEGAK, SIAPA KHALIFAHNYA ?*

Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Aktivis, Anggota Hizbut Tahrir

Pertanyaan ini wajar muncul, karena umat telah sampai pada keyakinan penuh tentang kembalinya Khilafah Ala Minhajin Nubuwah. Pertanyaan ini juga wajib dijawab, agar Umat juga familiar dengan sosok yang akan memimpin kaum muslimin kelak.

Untuk menjawabnya, saya akan buat ilustrasi sederhana.

Saat Rasulullah SAW mengutus Mus'ab Bin Umair ke Madinah untuk menyiapkan masyarakat Madinah menegakkan Daulah Islam yang pertama, saat itu Madinah telah tersebar dua opini umum yang kuat. Yakni Islam dan Muhammad SAW.

Islam adalah Agama yang didakwahkan oleh Mus'ab Bin Umair di Madinah. Sementara Muhammad SAW, adalah Rasullullah pembawa risalah Islam.

Masyarakat Madinah ketika itu -meskipun mereka belum bertemu dengan Rasulullah SAW-, memahami bahwa kelak yang akan memimpin mereka, menjadi kepala negara Islam di Madinah adalah Rasulullah SAW.

Mereka belum bertemu Rasulullah SAW tetapi mereka beriman kepada Rasulullah SAW. Mereka dapat mengindera bagaimana sosok Rasulullah SAW melalui sosok Mus'ab Bin Umair, utusannya.

Jika konteksnya kita tarik pada diskursus khilafah, saat ini ada dua hal yang tak mungkin bisa dipisahkan. Yakni Khilafah dan Hizbut Tahrir.

Sebab, yang mengawali perjuangan mengembalikan kehidupan Islam melalui penegakan Institusi khilafah adalah Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir pula, yang membawa perjuangan ini dari Palestina ke seluruh dunia dan menjadi arus utama perjuangan kaum muslimin.

Di negeri ini, khilafah juga tak lepas dari peran HTI yang juga bagian dari Hizbut Tahrir. Jika ditanya siapa yang paling paham Khilafah, tentu jawabannya Hizbut Tahrir yang memang sejak awal konsisten memperjuangkannya.

Lantas, jika Khilafah tegak siapa yang akan menjadi Khalifahnya ? Jawabnya, tentulah Hizbut Tahrir akan mengajukan amirnya (pimpinan HT) sebagai calon Khalifah untuk dibaiat oleh seluruh kaum muslimin.

Hal demikian adalah wajar, sebagaimana dahulu Rasulullah yang memimpin perjuangan penegakan Daulah Islam di Madinah, Rasullullah SAW pula yang menjadi kepala negaranya.

Saat ini, ketua Umum partai politik juga umumnya dicalonkan oleh partainya sebagai calon presiden. Hal ini juga wajar, karena ketua partai adalah orang yang paling paham ideologi partai dan pergerakannya.

Kembali pada pertanyaan, siapakah yang akan menjadi Khalifah ketika khilafah berdiri kelak ?

Jawabnya adalah Hizbut Tahrir mengajukan Amir Hizbut Tahrir, yakni Syaikh Ato' Abu Rusytoh (Amir Ketiga Hizbut Tahrir setelah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dan Syaikh Abdul Qadim Zallum), sebagai calon Khalifahnya.

Meskipun semua kaum muslimin memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri sebagai khalifah asal memenuhi syarat, namun kaum muslimin wajib memiliki khalifah yang paham rincian hukum Syara' dan bagaimana menerapkannya dalam bingkai Daulah Khilafah.

Amir Hizbut Tahrir memiliki kemampuan untuk itu, telah melampaui sejumlah ujian dan kesabaran dalam dakwah, telah menekuni perjuangan dalam menegakkan Khilafah selama puluhan tahun, dan memiliki kesiapan untuk mengemban amanah dari Umat untuk menegakkan kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Jadi, kami aktivis Hizbut Tahrir tanpa ragu menawarkan Amir kami, Syaikh Ato' Abu Rusytoh, sebagai calon khalifah, yang siap untuk menerima baiat untuk didengar dan ditaati, untuk menerapkan Al Qur'an dan as Sunnah. [].

Jumat, 26 Juni 2020

*CINTA SEGITIGA ANTARA IBN HAJAR, AL-HAITSAMI, AL-IRAQI DAN KHILAFAH*

Oleh: *KH Hafidz Abdurrahman*
[Khadim Ma’had Syaraful Haramain]

*Hubungan Ibn Hajar, al-Haitsami dan al-Iraqi*

Al-Hafidz al-‘Iraqi, nama lengkapnya Zainuddin Abu al-Fadhl ‘Abdurrahim bin al-‘Iraqi [w. 806 H] adalah seorang Hafidz yang luar biasa. Karena dari tangannya, lahir para Hufadz, sekelas Ibn Hajar al-Asqalani dan al-Haitsami. Al-Haitsami [w. 807 H] menyebut guru, yang sekaligus mertuanya itu, dengan sebutan, “Tuanku, Guruku, al-‘Allamah, Guru para Hufadz di Timur dan Barat, yang memberi faidah kepada senior maupun junior.” Begitulah, al-Haitsami membahasakan gurunya yang luar biasa itu. 

Ibn Hajar al-Asqalani [w. 852 H], murid sekaligus teman al-Haitsami, sama-sama pernah belajar kepada al-‘Iraqi, menuturkan bagaimana al-‘Iraqi mendidik muridnya, “Belialah yang melatihnya, dan mengajarinya cara mentakhrij hadits dan mengarang kitab. Beliaulah yang membuatkan pengantar kitab untuknya.” [Inba’ al-Ghamr, Juz V/172]. Hubungan al-‘Iraqi dengan muridnya, al-Haitsami ini memang luar biasa. 

Membayangkan kisah hubungan murid dengan guru ini, tiba-tiba air mata ini meleleh. Mata ini menerawang jauh, membayangkan indahnya hubungan antara guru dengan murid yang begitu luar biasa, sesuatu yang tak lagi kita temukan hari ini. Al-Haitsami menemukan sosok gurunya itu sebagai teladan dalam masalah pemikiran, tsaqafah, akhlak dan perilaku, sehingga al-Haitsami bisa menjadi saudara yang jujur bagi gurunya, anak yang berbakti, kawan yang jujur, teman yang setia, murid yang taat dan pelayan yang amanah. Itulah sosok al-Haitsami bagi gurunya. Hanya ada satu panggilan untuk gurunya dari al-Haitsami, “Sayyidi [tuanku].” Sampai-sampai dalam urusan melayani gurunya beliau bak seorang budak. [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/201]

Sampai Ibn Hajar, teman sekaligus murid al-Haitsami, yang juga murid al-‘Iraqi, menuturkan ketulusan al-Haitsami itu dengan ungkapan, “Aku melihat beliau berkhidmat untuk guru kami, dan adab beliau kepada guru bukan karena memaksakan diri. Aku tidak melihatnya pada diri yang lain. Aku tidak mengira orang lain sanggup untuk melakukannya [sebagaimana yang dilakukan oleh al-Haitsami].” [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/202]

Di mata Ibn Hajar, al-Haitsami adalah orang yang sangat istimewa di mata gurunya, “Orang yang paling istimewa bagi beliau [al-‘Iraqi] adalah menantunya, guru kami, Nuruddin al-Haitsami. Beliaulah yang melatihnya, mengajarinya bagaimana mentakhrij hadits dan mengarang, serta menulis pengantar kitabnya, dan memberi nama untuknya.” [Inba’ al-Ghamr, Juz V/172]

Al-Haitsami memang bukan siapa-siapa, sebelum bertemu dengan al-‘Iraqi. Beliau lahir dari keluarga miskin, bukan keluarga berilmu, tapi keluarga biasa. Meski al-Haitsami mempunyai banyak guru, tetapi mulazamah beliau dengan al-‘Iraqi, kurang lebih selama 56 tahun itulah yang membentuk kepribadiannya, sehingga lahir menjadi sosok al-Hafidz yang luar biasa. 

Bagi al-Haitsami, al-‘Iraqi tak ubahnya seperti orang tuanya sendiri, bahkan lebih. Beliau menyertai ke manapun al-‘Iraqi berada, saat di rumah maupun bepergian, sampai wafat. Beliau haji bersama gurunya, dan semua perjalanan yang lainnya. Beliau menyertai gurunya dalam menyimak di majelisnya, baik di Mesir, Kaero, Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, Damaskus, Ba’labak, Alepo, Hamah, Homs dan Tarablus. [ad-Dhau’ al-Lami’, Juz V/201]

Karena itu, al-Haitsami menjadi orang paling istimewa, dan dipercayai gurunya untuk mendapatkan amanah ilmu hingga anak gadisnya. Itulah istimewanya al-Haitsami di antara murid-murid al-‘Iraqi yang lainnya, termasuk Ibn Hajar al-Asqalani sendiri, yang kemudian mendapat gelar sebagai Amirul Mukminin fi al-Hadits.  

Iya, al-Haitsami adalah sosok yang dididik oleh gurunya untuk melakukan tugas, kemudian tugasnya ditelaah saat selesai, dan dibantu bahkan hingga menulisnya. Gurunya yang menulis pengantar untuknya, dan memberi judul kitabnya. Wajar jika kemudian beliau disebut sebagai Hafidz, sejajar dengan gurunya, bahkan konon memiliki kelebihan dalam penguasaan matan, melebihi gurunya. Mereka bertiga, al-Hafidz al-‘Iraqi, al-Hafidz al-Haitsami dan al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, adalah tiga hafidz yang hidup sezaman. Mereka adalah guru dan murid yang luar biasa. 

*Cinta Segitiga dan Majma’ Zawaid al-Haitsami*

Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid [Kumpulan Zawaid dan Sumber dari berbagai Faidah] adalah nama kitab yang ditulis oleh al-Hafidz al-Haitsami, hasil didikan, telaah, koreksi, bahkan judul dan pengantarnya pun diberikan oleh gurunya, al-Hafidz al-‘Iraqi. 

Zawaid adalah kumpulan hadits, yang menambah kitab hadits, baik yang berbentuk Musnad maupun Mu’jam atas Kutub Sittah. Sebagian ulama’ meringkas dari sejumlah kitab Musnad dan Mu’jam, berdasarkan nama-nama syaikh, tetapi tidak disistematikakan dalam bab-bab fiqih. Karena menelusuri dan mencari hadits-hadits dalam bab-bab fiqih ini sulit dan melelahkan. 

Karena itu, al-Hafidz al-Haitsami berkata, “Aku melihat al-Mu’jam al-Ausath dan al-Mu’jam al-Kabir karya Abi al-Qasim at-Thabrani mempunyai kandungan ilmu yang luar biasa, yang tidak bisa diperoleh oleh pencarinya kecuali setelah melakukan penelaah yang mendalam, karena itu aku ingin mengumpulkan semua yang berserakan ke dalam bab fiqih, yang bisa menjadi sumber..” [Majma’ al-Bahrain, Juz I/1]

Enaknya, al-Hafidz al-Haitsami dibimbing langsung oleh guru, tuan dan ayah mertuanya, yang merupakan Huffadz bi al-Masyriq wa al-Maghrib, “Kumpulanlah karya-karya ini. Buanglah isnad-isnadnya agar hadits-hadits setiap babnya bisa dikumpulkan dalam datu bab dari sini.” Al-Haitsami mengatakan, “Ketika aku melihat petunjuk beliau kepadaku untuk melakukan itu, maka himmahku tertuju ke sana. Aku memohon kepada Allah untuk memudahkan dan menolongnya. Aku memohon kepada Allah agar memberinya manfaat. Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/30]

Cinta segitiga murid dan guru inilah yang menghasilkan kitab yang luar biasa ini. Bagaimana tidak,  Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid seperti karya tiga Hafidz. Penulisnya adalah al-Hafidz al-Haitsami, dibimbing, ditelaah dan dikoreksi oleh gurunya, al-Hafidz al-‘Iraqi, kemudian oleh muridnya, al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, kitab ini dibacakan dan ditelaah ulang di hadapan muridnya, sebagaimana yang dituturkan oleh al-Hafidz as-Sakhawi. Karena itu, kitab ini seperti karya tiga Hafidz. 

Wajar, jika kitab ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para ulama’ setelahnya. Muhammad bin Ja’far al-Kattani, dalam ar-Risalah al-Mustathrafah, memberikan komentar, “Ini adalah kitab hadits yang paling bermanfaat. Bahkan, tidak ada kitab hadits yang sepertinya. Belum pernah ada kitab dalam masalah ini disusun yang sebanding dengannya.” [ar-Risalah al-Mustathrafah, h. 129]

Ustadz Ahmad Rafi’ at-Thahthawi berkomentar, “Ini merupakan kitab Sunan yang paling penting, setelah enam kitab induk. Siapa saja yang menelaahnya, dia akan takjuk pada kehebatan kemampuan penulisnya dalam hadits.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/32]

Syaikh Muhammad ‘Abid as-Sindi, “Itu merupakan kitab yang agung, dengan kandungan yang luar biasa, begitu hebat. Belum pernah aku melihat seorang yang mendahuluinya sampai pada metode yang sangat jelas ini.” [Majma’ az-Zawaid, Juz I/32]

Bagaimana tidak hebat dan dahsyat? Di dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, penulisnya, al-Hafidz al-Haitsami, telah mengumpulkan Zawaid yang ada dalam kitab Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu Ya’la al-Mushili, Musnad Abu Bakar al-Bazzar, dan tiga kitab Mu’jam karya at-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath, dan al-Mu’jam as-Shaghir di dalam satu kitab. Kemudian disusun mengikuti bab fiqih. Termasuk di dalamnya, Bab al-Khilafah dalam satu bab tersendiri. 

*Bab al-Khilafah*

Dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid ini, Bab al-Khilafah diletakkan oleh al-Hafidz al-Haitsami pada urutan ke-22, sebelum Kitab al-Jihad, Kitab al-Maghazi wa as-Siyar, dan Kitab Qital Ahli al-Baghyi wa Ahli ar-Riddah. Perlu dicatat, al-Hafidz al-Haitsami adalah penganut mazhab Syafii. Biasanya, kitab-kitab fiqih mazhab Syafii membahas pembahasan Khilafah dan Imamah di Bab Kitab Qital Ahli al-Baghyi wa Ahli ar-Riddah. Tetapi, di dalam kitabnya yang luar biasa ini, al-Hafidz al-Haitsami meletakkan dalam bab tersendiri, terpisah dengan yang lain, dan lebih dulu, ketimbang bab tentang jihad. 

Dalam kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid terbitan Dar al-Minhaj, Jeddah-KSA, cetakan I, 1436 H/2015 M, Bab al-Khilafah ada pada juz XII, mulai dari halaman 7 sampai 242. Jumlah total hadits yang dibahas ada 369 hadits. Mulai hadits no. 8974 sampai 9343. 

Pendek kata, hampir semua hadits yang membahas tentang Khilafah, Imamah, Khalifah dan Imam ada di sana. Mulai dari pembahasan tentang Khulafa’ Rasyidin, Imamah, Khilafah dan Mulk, larangan membai’at dua khalifah, sampai detail tengang sifat dan kriterianya, nyaris semuanya ada. 

Pertanyaannya kemudian, apakah hadits sebanyak 369 hadits itu belum cukup untuk membuktikan, bahwa Khilafah itu ajaran Islam? Khilafah itu merupakan warisan Nabi. Pendek kata, siapa yang mencari kebenaran Islam, dan langsung meneguk dari sumbernya, maka bacalah dengan hati dan pikiran yang sehat, kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid. Sebagaimana namanya, insya Allah, kita akan mendapatkan banyak faidah. 

Dulu, para sahabat Nabi hanya membutuhkan satu ayat, atau satu hadits untuk meyakinkan mereka, dan mendorong mereka untuk mengamalkannya. Mereka tidak perlu berpuluh, bahkan beratus ayat atau hadits. Cukup satu saja, maka mereka langsung laksanakan. Itulah keimanan para sahabat. Maka, mereka pun menjadi umat terbaik. 

Tetapi, jika hati dan akalnya sudah dipenuhi kebencian terhadap ajaran Islam, seberapapun ayat al-Qur’an dan hadits Nabi tak akan sanggup meyakinkannya. Karena di dalam hatinya tak ada lagi iman kepada Islam. Wallahu a’lam.

Rabu, 24 Juni 2020

*MAKALAH DALIL KOKOH KEFARDHUAN MENEGAKKAN KHILAFAH*

Penyusun: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I 

[Dosen Fikih/Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"]

Salah satu dalil kokoh kefardhuan menegakkan Khilafah adalah dalil *ijma' sahabat*, kedudukannya sebagai salah satu sumber ushul al-syari'ah setelah al-Qur'an dan al-Sunnah pun adalah perkara yang ma'lum, bisa ditemukan dalam banyak referensi berharga ushul fikih dalam khazanah keilmuan kaum Muslim, sehingga keberadaan dalil kokoh ijma' sahabat atas kefardhuan menegakkan Khilafah wajib diperhatikan, menegaskan dalil-dalil al-Qur'an dan al-Sunnah yang mewajibkan kaum Muslim menegakkan Khilafah.

Kedudukan ijma’ sebagai salah satu dalil ushul al-syari’ah pun ditegaskan para ulama: Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (w. 204 H) menegaskan:

أَنَّ لَيْسَ لاَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُوْلَ فِي شَئْ حلّ وَ لاَ حَرَم إِلاَّ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ وَجِهَةُ الْعِلْمِ الخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَةِ أَوْ الإِجْمَاعِ أَوْ الْقِيَاسِ
Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), al-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas. [1]

Senada dengan itu, Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) juga menyatakan:

وَجُمْلَةُ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ تَرْجِعُ إلَى أَلْفَاظِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالِاسْتِنْبَاطِ
Keseluruhan dalil-dalil syariah merujuk pada ragam ungkapan yang tercantum dalam al-Kitâb (al-Qur’an), al-Sunnah (al-Hadits), Ijma’ dan Istinbâth (Qiyas).[2]

Mau dinafikan?! Dalam hal ini, Imam al-Sarkhashi (w. 483 H) yang digelari syams al-a’immah (mentari para imam) menegaskan:

ومن أنكر كون الإجماع حجة موجبة للعلم فقد أبطل أصل الدين فإن مدار أصول الدين ومرجع المسلمين إلى إجماعهم فالمنكر لذلك يسعى في هدم أصل الدين.
Siapa saja yang mengingkari kedudukan ijma’ sebagai hujjah yang secara pasti menghasilkan ilmu, berarti benar-benar telah membatalkan fondasi agama ini, karena sesungguhnya poros fondasi Din ini dan tempat kembali kaum Muslim kepada ijma’ mereka. Karena itu orang yang mengingkari ijma’ sama saja dengan berupaya menghancurkan fondasi agama ini.[3]

Catatan Kaki:
[1] Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Risâlah, Ed: Rif’at Fauzi, Mesir: Dar al-Wafa’, cet. I, 1422 H/2001, hlm. 16.
[2] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Al-Mustashfâ fî ‘Ilm al-Ushûl, Ed: Muhammad bin Sulaiman al-Asyqar, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1417 H/1997, juz II, hlm. 298.
[3] Muhammad bin Ahmad Al-Sarkhasi, Ushûl al-Sarkhasi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1414 H, juz I, 296.

*DALIL DAN PANDANGAN ULAMA TENTANG KHILAFAH*

Dr. H. Muhammad Azwar Kamaruddin, Lc., M.A.*

*Pendahuluan*
Kata Khilafah, merupakan kata yang tak asing bagi kaum muslimin, mulai dari zaman sahabat sampai fakta Khilafah dihilangkan pada tahun 1924, sehingga kaum muslimin generasi selanjutnya, menjadi asing dengan kata tersebut. Bersamaan dengan hilanganya institusi tersebut kaum muslimin kehilangan banyak bagian dalam pembahasan fiqih Islam, ada juga yang kabur, bahkan mengalami distorsi makna, seperti pembahasan tentang nukul dan qasamah dalam peradilan, hisbah, ta`zir, diyat, ghurrah, hukumah dalam sanksi, arsy jinayat sampai jihad kadang-kadang disalah artikan, terutama dalam 1/4 terakhir bagian fiqih tantang Jinayat seakan  hilang dari pembahasan kaum muslimin, hal tersebut hilang bersamaan dengan hilanganya kata Khilafah dari tengah kaum muslimin.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang defenisi, dalil, dan pandangan ulama tentang Khilafah. Adapun pandangan Ulama akan dikategorikan kedalam 9 klasifikasi yaitu: Ulama Lugha, Ulama Kalam, Empat Ulama Mazhab Fiqhi, Ulama Tafsir, Ulama Hadist, Ulama Siyasah Syariyyah, Ulama-ulama Fiqhi secara umum, Ulama dari Universitas Al-Azhar Mesir, dan beberapa Ulama dari kitab-kitab Mu’tabar.

*Pembahasan*

Kata Khilafah yang dulu sangat popular tersebut merupakan hal yang mujma` alaihi (terdapat konsensus ulama di dalamnya) sebagaimana disebutkan dalam kitab "al-mausu`ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah" (6/217).

Khilafah ini adalah institusi orang yang memimpinnya yaitu Khalifah, Imam dan Amirul Mukminin demikian dikemukakan oleh Imam annawawi dalam kitab raudhatu thalibin wa umdatul muftin dan sebagian ulama mengkiaskannya dengan istilah sultan sebagaimana dikemukakan oleh imam aththhabri, السلطان الأعظم هو الخليفة dan ini sangat dipahami oleh kaum muslimin dengan tidak menggunakan kata lain. Hal ini berdasarkan dari apa yang disepakati oleh para sahabat, ketika menggunakan kata Khalifah untuk untuk Abu Bakar dan Ustman RA., Amirul mukminin untuk Umar RA., dan Imam untuk `Ali Karramallah wajhah, sehingga ketiga kata inilah yang dipakai oleh para pemimpin kaum muslimin setelah masa khulafa` rasyidin yang menunjukkan bahwa kata tersebut memiliki makna tersendiri yang tidak dimiliki oleh kata lain, meskipun sama2 pemimpin seperti emperor, kaisar, Raja dll.

Al-Imam dalam pembahasan fiqih ada dua: al-Imam al-Akbar atau Khalifah, adanya kata al-akbar untuk membedakan dengan  Al-Imam al-ashgar atau imam salat 5 waktu, pembahasan keduanya memiliki Korelasi yang kuat karena sama-sama diikuti perintahnya, Cuma Imam salat dalam lingkup yang kecil sedangkan Al-Imam akbar atau Al-Imam al-A`zham dalam lingkup yang lebih luas, yang diikuti perintahnya dalam urusan Agama dan dunia.

Istilah Khalifah dimaksudkan sebagai pengganti kenabian في حراسة الدين وسياسة الدنيا به  sebagaiman yang diungkapkan oleh imam Al-Mawardy dalam kitab ahkam sulthaniyyah, begitupula kebanyak fuqaha madzhab seperti Al-Ramli dalam kitabnya nihayatul muhtaj.
Kata Khilafah menurut bahasa berasal dari mashdar خلف يخلف خلافة  yang maknanya بقى بعده أو يقوم مقامه،  oleh karena itu semua yang mengganti seseorang dinamakan Khalifah, oleh karena itu orang yang menggantikan Rasulullah SAW. Dalam menerapkan hukum-hukum syara dan memimpin kaum muslimin dalam urusan agama dan dunianya adalah Khalifah, dan kedudukannya dinamakan Khilafah dan Imamah, demikian diungkapkan oleh Al-Bushthani dalam bukunya محيط المحيط.
Sedangkan menurut istilah syara: رئاسة عامة في الدين والدنيا, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Abidin dalam hasyiahnya, begitu juga diungkapkan oleh Mahmud Alkhalidi dalam bukunya (قواعد نظام الحكم في الإسلام): bahwa Khilafah adalah: رئاسة عامة للمسلمين جميعا في الدنيا لإقامة أحكام الشرعي الإسلامي وحمل الدعوة إلى العالم.
Peristilahan kepemimpinan dalam Islam telah dipahami dengan baik oleh para ulama-ulama terdahulu yang mu'tabar (perkataannya bisa diterima), sehingga dalam buku-buku karangan mereka tak pernah lepas dari hal tersebut ketika membahas mengenai peristilahan-peristilahan di atas, atau membahas tentang hukum-hukumnya atau sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut.

Hukum menegakkannya adalah fardhu kifayah sebagaimana hukum yg diberikan oleh Ulama-ulama mu`tabar dari kaum muslimin. 

*Dalil tentang Wajibnya Khilafah*

Adapun dalil tentang wajibnya menegakkan Khilafah masing-masing dari (1) Al-Quran, (2) As-Sunnah, dan (3) Ijma’ Sahabat,  adalah sebagai berikut: 

الأدلة على وجوب إقامة الخلافة من الكتاب والسنة والإجماع:
أولا: إجماع الصحابة
أنه تواتر إجماع المسلمين في الصدر الأول من وفاة النبي ﷺ على امتناع خلو الوقت عن إمام، حتى قال أبو بكر رضي الله عنه في خطبته: ألا إن محمدا قد مات، ولا بد لهذا الدين ممن يقوم به، فبادر الكل إلى قبوله، وتركوا له أهم الأشياء، وهو دفن رسول الله ﷺ، ولم يزل الناس على ذلك في كل عصر إلى زماننا هذا من نصب إمام متبع في كل عصر. 
- أن في نصب الخليفة دفع ضرر مظنون وأنه واجب إجماعا. 
 أنا نعلم علما يقارب الضرورة أن مقصود الشارع فيما شرع من المعاملات والمناكحات والجهاد والحدود والمقاصات وإظهار شعار الشرع في الأعياد والجمعات إنما هو مصالح عائدة إلى الخلق معاشا ومعادا، وذلك لا يتم إلا بإمام من قبل الشارع يرجعون إليه فيما يعن لهم، فإنهم - مع اختلاف الأهواء وتشتت الآراء، وما بينهم من الشحناء - قلما ينقاد بعضهم لبعض فيفضي ذلك إلى التنازع والتواثب، وربما أدى إلى هلاكهم جميعا. (الجرجاني في شرح المواقف في علم الكلام).

ثانيا:القرآن الكريم
قال الله تعالى:﴿فاحكم بينهم بما أنزل الله﴾ وقال: ﴿ فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ﴾ وقال: ﴿واعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا﴾. فالآية الأولى خطاب للرسول صلى الله عليه وسلم وخطابه خطاب لأمته ما لم يرد دليل التخصيص، والحكم بما أنزل الله لا يكون إلا بحاكم. وكذلك التحكيم في الآية الثانية لا يكون إلا بحاكم وهو الإمام أو السلطان أو الخليفة، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. وأما الآية الثالثة فإنه سبحانه أمر بالجماعة ونهى عن الفرقة، ولما كانت الجماعة لا تكون إلا على الخليفة كما يفهم من مجموع أحاديث الجماعة، كان نصب الخليفة واجباً بناءً على نفس القاعدة السابقة.

ثالثا: السنة
أخرج مسلم من حديث عبد الله بن عمر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ‹‹من خلع يداً من طاعة الله لقي الله يوم القيامة لا حجة له، ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية›› والواجب في هذا الحديث أن تكون في عنق كل مسلم بيعة لا أن يبايع كل مسلم الخليفة، ووجود الخليفة هو الذي يوجد في عنق كل مسلم بيعة سواء بايع بالفعل أم لا، ولهذا كان الحديث دليلاً على وجوب نصب الخليفة لأن البيعة لا تكون إلا له. 

وعند مسلم من حديث أبي هريرة قال قال النبي صلى الله عليه وسلم: ‹‹الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به›› وهذا خبر أريد به الطلب. 

وأخرج أحمد والترمذي والنسائي والطيالسي من حديث الحارث الأشعري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ‹‹. . وأنا آمركم بخمس الله أمرني بهن بالجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد في سبيل الله، فإنه من خرج من الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه إلا أن يرجع. .›› والجماعة لا تكون إلا على رجل واحد هو الإمام كما في حديث حذيفة الذي رواه مسلم وفيه ‹‹. .قال تلزم جماعة المسلميـن وإمامهم. .›› وعند مسلم ‹‹من أتاكم وأمركم جميع على رجل واحد يريد أن يشق عصاكم أو يفرق جماعتكم فاقتلوه›› وحديث فضالة بن عبيد عند أحمد والبيهقي ‹‹ثلاثة لا تسأل عنهم رجل فارق الجماعة وعصى إمامه ومات عاصياً. .››، فهو صلى الله عليه وسلم أمرنا بالجماعة وبين لنا أنها تكون على رجل هو الإمام. وما دامت الجماعة لا تكون إلا على إمام كان نصبه واجباً من باب ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

وروى الإمام أحمد في المسند عن عبد الله بن عمر أن النبي ﷺ قال: «لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم» فأوجب ﷺ تأمير الواحد في الاجتماع القليل العارض في السفر تنبيهاً بذلك على سائر أنواع الاجتماع، ولأن الله تعالى أوجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ولا يتم ذلك إلا بقوة وإمارة وكذلك سائر ما أوجبه من الجهاد والعدل وإقامة الحج والجمع والأعياد ونصر المظلوم وإقامة الحدود لا تتم إلا بالقوة والإمارة ولهذا روي: "إن السلطان ظل الله في الأرض" ويقال: "ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان". والتجربة تبين ذلك ولهذا كان السلف - كالفضيل بن عياض وأحمد بن حنبل وغيرهما يقولون "لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان" انتهى.

قال أبو بكر رضي الله عنه في خطبته حين مات رسول الله ﷺ وولي الخلافة من بعده: ألا إن محمدا قد مات، ولا بد لهذا الدين ممن يقوم به.

 وقال الدارمي في سننه: أخبرنا يزيدُ بنُ هارونَ، نا بقيةُ حدّثني صفوانُ بنُ رُسْتُمَ، عَنْ عبدِ الرحمنِ بنِ ميسرَةَ، عن تميمٍ الداريّ،، قالَ: تطاوَلَ الناسُ في البناءِ في زَمَنِ عُمَرَ، فقالَ عُمَرُ: يا مَعْشَرَ العريبِ الأرضَ الأرضَ إنه لا إسْلامَ إلاَّ بِجَمَاعَةٍ، ولا جماعَة إلاَّ بإِمارَة، ولا إِمَارَة إلاَّ بطاعةٍ، فمن سوَّدَهُ قَوْمُهُ على الفِقْهِ كانَ حياةً لَهُ ولَهُمْ، وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ على غيرِ فِقْهٍ كان هلاكاً لَهُ وَلَهُمْ. ورواه ابن عبد البر القرطبي في جامع بيان العلم وفضله.

*Pandangan Ulama tentang Khilafah*

Adapun pendapat tentang hukum menegakkan Khilafah adalah fardhu kifayah sebagaimana dijelasakan masing-masing pandangan 9 kategori Ulama yang kami bagi dalam (1) Ulama Lugha, (2) Ulama Kalam, (3) 4 Ulama Mazhab Fiqhi, (4) Ulama Tafsir, (5) Ulama Hadist, (6) Ulama Siyasah Syariyyah, (7) Ulama-ulama Fiqhi secara umum, (8) Ulama dari Universitas Al-Azhar Mesir, dan (9) Ulama dari kitab-kitab Mu’tabar, penjelasannya adalah sebagai berikut: 

أقوال العلماء على وجوب إقامة الخليفة:
1. علماء اللغة:
- أساس البلاغة للزمشخري، ص122: خلفه: جاء بعده خلافة.
- كتاب العين للخليل بن أحمد الفراهيدي (دار ومكتبة الهلال، (4/ص266): الخَليفةُ بمنزلة مال يذهب فيُخلِفُ الله خَلَفاً أي خليفة فيقوم مقامه.
- معجم مقاييس اللغة لابن فارس (اتحاد الكتاب العربي، 2/170): الخِلافة، وإنَّما سُميِّت خلافةً لأنَّ الثَّاني يَجيءُ بَعد الأوّلِ قائماً مقامَه.
- لسان العرب لابن منظور الأفريقي (دار صادر-بيروت، ج12/ص22): والخليفة: إمام الرعية.
- المحكم والمحيط الأعظم لابن سيدة (دار الكتب العلمية، ج5/ص197): والخليفة : الملك الذي يُستَخلَف ممَّن قَبله.
- المصباح المنير للفيومي (المكتبة العلمية، ج1/ص178): وأما الخَلِيفَةُ بمعنى السلطان الأعظم. 
- مختار الصحاح لمحمد بن أبي بكر الرازي (مكتبة لبنان ناشرون، ص196): والخَلِيفَةُ السلطان الأعظم.
- الفروق اللغوية لابي هلال العسكري (مؤسسة النشر الاسلامي التابعة لجماعة المدرسين بقم المقدسة، ص222): الفرق بين الخلافة والإمامة: الخليفة والامام واحد، إلا أن بينهما فرقا، فالخليفة من استخلف في الأمر مكان من كان قبله، فهو مأخوذ من أنه خلف غيره، وقام مقامه. والامام: مأخوذ من التقدم، فهو المتقدم فيما يقتضي وجوب الاقتداء بغيره، وفرض طاعته فيما تقدم فيه.

2. علماء الكلام:
-  المواقف لعضد الدين الإيجي (دار الجيل-بيروت، ج3/ص574): الإمامة رياسة عامة في أمور الدين والدنيا، والأولى أن يقال هي خلافة الرسول في إقامة الدين بحيث يجب اتباعه على كافة الأمة.
- شرح المواقف للجرجاني (دار الكتب العلمية، ج8/ص376): الإمامة ليست من أصول الديانات والعقائد، بل هي عندنا من الفروع المتعلق بأفعال المكلفين إذ نصب الإمام عندنا واجب على الأمة سمعا.
- شرح المقاصد في علم الكلام للتفتازاني (دار المعرف النعمانية، ج2/ص272): والإمامة رياسة عامة في أمر الدين والدنيا خلافة عن النبي عليه الصلاة والسلام.

3. الفقهاء من المذاهب الأربعة:
أ‌. مذهب الحنفي
- البحر الرائق شرح كنز الدقائق لزين الدين ابن نجيم الحنفي (دار المعرفة، ج6/ص299):  وَعَرَّفَ الْمُحَقِّقُ الْإِمَامَةَ الْعُظْمَى في الْمُسَايَرَةِ بِأَنَّهَا اسْتِحْقَاقُ تَصَرُّفٍ عَامٍّ في الدِّينِ وَالدُّنْيَا على الْمُسْلِمِينَ وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا بُدَّ في الْإِمَامِ من عُمُومِ وِلَايَتِهِ وَلِذَا قالوا لَا يَجُوزُ اجْتِمَاعُ إمَامَيْنِ في زَمَنٍ وَاحِدٍ.
- الأشباه والنظائر لابن نجيم: يشترط في الإمام أن يكون قرشيا بخلاف القاضي ولا يجوز تعدده في عصر واحد وجاز تعدد القاضي ولو في مصر واحد ولا ينعزل الإمام بالفسق بخلاف القاضي.
- الدر المختار للحصكفي (دار الكتب العلمية: ص75): الإمامة صغرى وكبرى، فالكبرى استحقاق تصرف عام على الأنام، ونصبه أهم الواجبات.
- حاشية ابن عابدين (دار إحياء التراث، (ج1/ص368): وَعَرَّفَ الإمامة الكبرى بِأَنَّهَا رِيَاسَةٌ عَامَّةٌ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا خِلافَةً عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.
- بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع للكاساني (دار الكتب العلمية، ج7/ص2): لِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ، وَلَا عِبْرَةَ - بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ -؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - عَلَى ذَلِكَ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ.
ب. مذهب المالكي:
- حاشية الدسوقي على الشرح الكبير لمحمد عرفه الدسوقي (دار الفكر، ج4/ص198): إنَّ الْإِمَامَةَ الْعُظْمَى تَثْبُتُ بِأَحَدِ أُمُورٍ ثَلَاثَةٍ إمَّا بِإِيصَاءِ الْخَلِيفَةِ الْأَوَّلِ لِمُتَأَهِّلٍ لها وَإِمَّا بِالتَّغَلُّبِ على الناس لِأَنَّ من اشْتَدَّتْ وَطْأَتُهُ بِالتَّغَلُّبِ وَجَبَتْ طَاعَتُهُ.
- الخرشي على مختصر خليل (دار الفكر، ج3/ص109): الإمامة العظمى فرض كفاية على من توفرت فيه شروطها مع وجود من يشاركه وإلا تعينت عليه.
- منح الجليل شرح مختصر خليل لمحمد عليش (دار الفكر، ج3/ص193) : إقامة الإمامة العظمى فرض كفاية وشرطه كونه واحدا.
- بداية المجتهد في نهاية المقتصد لابن رشد الحفيد (مصطفى الباب الحلبي، ج2/ص460): فمن رد قضاء المرأة شبهه بقضاء الإمامة الكبرى. 
ج. مذهب الشافعي:
- الأم للإمام الشافعي (دار المعرفة، ج4/ص197): وإذا عَقَدَ الْخَلِيفَةُ فَمَاتَ أو عُزِلَ وَاسْتُخْلِفَ غَيْرُهُ فَعَلَيْهِ أَنْ يَفِيَ لهم بِمَا عَقَدَ لهم الْخَلِيفَةُ قَبْلَهُ.
- الشرح الكبير شرح الوجيز للرافعي (دار الكتب العلمية، ج11/ص72): لا بد للأُمَّة من إمام يُحْيِي الدينَ، ويقيم السنة وينصف المظلومين من الظالمين، ويستوفي الحقوقَ، ويَضَعها مواضعها، فلا يصلح الناس فوْضَى.
- روضة الطالبين وعمدة المفتين للنووي، المكتب الإسلامي ،ج10/ص42): الفصل الثاني في وجوب الإمامة وبيان طرقها لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها. قلت: تولي الإمامة فرض كفاية فإن لم يكن من يصلح إلا واحدا تعين عليه ولزمه طلبها إن لم يبتدئوه. وقال أيضا (ج10/ص49): يجوز أن يقال للإمام الخليفة والإمام وأمير المؤمنين.
- منهاج الطالبين للنووي (دار المنهاج ص 500): فصل في شروط الإمام الأعظم وبيان طرق الإمامة.
- وتابعه كل شراح المنهاج. (كنز الراغبين، نهاية المحتاج، تحفة المحتاج، مغني المحتاج، عجالة المحتاج، قوت المحتاج، بداية المحتاج، زاد المحتاج للكوهجي، النجم الوهاج، السراج الوهاج)
ب. مذهب الحنبلي:
- الإقناع في فقه الإمام أحمد بن حنبل للحجاوي (دار المعرفة، ج4/ص292): نصب الإمام الأعظم فرض كفاية ويثبت بإجماع المسلمين عليه. 
- الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف على مذهب الإمام أحمد بن حنبل للمرداوي، (دار إحياء التراث العربي، ج10/ص234): نصب الإمام فرض كفاية. قال في الفروع فرض كفاية على الأصح. فمن ثبتت إمامته بإجماع أو بنص أو باجتهاد أو بنص من قبله عليه وبخبر متعين لها حرم قتاله.
- كشاف القناع للبهوتي (دار الفكر، ج6/ص158): نصب الإمام الأعظم  على المسلمين  فرض كفاية  لأن بالناس حاجة إلى ذلك لحماية البيضة والمذب عن الحوزة وإقامة الحدود واستيفاء الحقوق والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.
- شرح منتهى الإرادات للبهوتي، (عالم الكتاب، ج3/ص387): ونصب الإمام فرض كفاية ) لحاجة الناس لذلك لحماية البيضة والذب عن الحوزة وإقامة حدود واستيفاء الحقوق والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.
- مطالب أولى النهى للرحيباني (المكتب الإسلامي (ج6/ص263): ونصب الامام فرض كفاية  لأن بالناس حاجة لذلك لحماية البيضة والذب عن الحوزة وإقامة الحدود وابتغاء الحقوق والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، ويتجه  أنه لا يجوز تعدد الامام.

4. المفسرون:
- مفاتيح الغيب لفخر الدين الرازي (دار الكتب العلمية، ج11/ص181) في تفسير سورة المائدة الآية 38: احتج المتكلمون بهذه الآية في أنه يجب على الأمة أن ينصبوا لأنفسهم إماماً معيناً والدليل عليه أنه تعالى أوجب بهذه الآية إقامة الحد على السراق والزناة فلا بدّ من شخص يكون مخاطباً بهذا الخطاب وأجمعت الأمة على أنه ليس لآحاد الرعية إقامة الحدود على الجناة بل أجمعوا على أنه لا يجوز إقامة الحدود على الأحرار الجناة إلا للإمام فلما كان هذا التكليف تكليفاً جازماً ولا يمكن الخروج عن عهدة هذا التكليف إلا عند وجود الإمام وما لا يتأتى الواجب إلا به وكان مقدوراً للمكلف فهو واجب فلزم القطع بوجوب نصب الإمام حينئذٍ.
- تفسير النيسابوري لأبي قاسم النيسابوري (ج5/ص465): أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله {فاجلدوا} هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. 
- الجامع لأحكام القرآن للقرطبي (دار الكتب المصرية، ج1/ص264): تفسير سورة البقرة الآية 30: هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم.
- تفسير ابن كثير (دار طيبة، ج1/ص221): وقد استدل القرطبي وغيره بهذه الآية على وجوب نصب الخليفة ليفصل بين الناس فيما يختلفون فيه، ويقطع تنازعهم، وينتصر لمظلومهم من ظالمهم، ويقيم الحدود، ويزجر عن تعاطي الفواحش، إلى غير ذلك من الأمور المهمة التي لا يمكن إقامتها إلا بالإمام، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

5. المحدثون:
شرح النووي على صحيح مسلم، دار إحياء التراث، ج12/ص231):  باب وجوب الوفاء ببيعة الخليفة الأول فالأول، وقال: أجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة.

6. علماء السياسة الشرعية:
- غياث الأمم والتياث الظلم لإمام الحرمين الجويني (دار الدعوة، ص15): الإمامة رياسة تامة وزعامة عامة تتعلق بالخاصة والعامة في مهمات الدين والدنيا متضمنها حفظ الحوزة ورعاية الرعية وإقامة الدعوة بالحجة والسيف.
- الأحكام السلطانية للماوردي (دار ابن قتيبة، ص3) :الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا،  وقال أيضا: "وعقدها لمن يقوم بها واجب بالإجماع وإن شذ عنهم الأصم".
- الإمامة العظمى عند أهل السنة والجماعة لعبد الله بن عمر الدميجي، (دار طيبة ص33) وتاريخ المذاهب الإسلامية لأبي زهرة (ج1/ص21): المذاهب السياسية كلها تدور حول الخلافة، وهي الإمامة الكبرى، وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي صلى الله عليه وسلم في إدارة شؤونهم، وتسمى إمامة؛ لأن الخليفة كان يسمى إماما، ولأن طاعته واجبة.

7. الكتب العامة في الفقه:
- موسوعة الفقهية الكويتية، وزارة ا لأوقاف والشؤون الإسلامية (ج6/ص215)
- لفقه الإسلامي وأدلته لوهبة الزحيلي، دار الفكر-سورية، ج8/ص260)

8. الكتب المقررة في جامعة الأزهر الشريف: 
- رياسة الدولة في الفقه الإسلامي للأستاذ الدكتور رأقت عثمان
- نظام الحكم الإسلامي مقارنا بالنظم السياسية ا لمعاصرة للأستاذ الدكتور إبراهيم بدوي

9. من الكتب المتناثرة:
- يقول ابن تيمية في كتاب السياسة الشرعية، ومجموع الفتاوى: يجب أن يعرف أن ولاة أمر الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين إلا بها؛ فإن بني آدم لا تتم مصلحتهم إلا بالاجتماع لحاجة بعضهم إلى بعض، ولا بد لهم عند الاجتماع من الحاجة إلى رأس حتى قال النبي ﷺ: «لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم» رواه أحمد من حديث عبد الله بن عمر.
- وقال الشيخ الطاهر بن عاشور في (أصول النظام الاجتماعي في الإسلام): "فإقامة حكومة عامة وخاصة للمسلمين أصل من أصول التشريع الإسلامي ثبت ذلك بدلائل كثيرة من الكتاب والسنة بلغت مبلغ التواتر المعنوي. مما دعا الصحابة بعد وفاة النبي ﷺ إلى الإسراع بالتجمع والتفاوض لإقامة خلف عن الرسول ﷺ في رعاية الأمة الإسلامية، فأجمع المهاجرون والأنصار يوم السقيفة على إقامة أبي بكر الصديق خليفة عن رسول الله ﷺ للمسلمين. ولم يختلف المسلمون بعد ذلك في وجوب إقامة خليفة إلا شذوذا لا يُعبأ بهم من بعض الخوارج وبعض المعتزلة نقضوا الإجماع فلم تلتفت لهم الأبصار ولم تصغ لهم الأسماع. ولمكانة الخلافة في أصول الشريعة ألحقها علماء أصول الدين بمسائله، فكان من أبوابه الإمامة. قال إمام الحرمين [أبو المعالي الجويني] في الإرشاد: (الكلام في الإمامة ليس من أصول الاعتقاد، والخطر على من يزل فيه يربى على الخطر على من يجهل أصلا من أصول الدين)". انتهى قول ابن عاشور، ومعنى كلام الجويني أن الإمامية إذ جعلوا الإمامة من أصول الاعتقاد فإنها ليست منه، ولكن الخطأ في الزلل فيها يناهز الخطر في الزلل في أصول الدين لأهميتها.
-  يقول الهيثمي في الصواعق المحرقة: "اعلم أيضاً أن الصحابة رضوان الله عليهم أجمعوا على أن نصب الإمام بعد انقراض زمن النبوة واجب بل جعلوه أهم الواجبات حيث اشتغلوا به عن دفن الرسول ﷺ."
-  وقال أبو بكر الأنصاري في غاية الوصول في شرح لب الأصول: (ويجب على الناس نصب إمام) يقوم بمصالحهم كسدّ الثغور وتجهيز الجيوش وقهر المتغلبة والمتلصصة لإجماع الصحابة بعد وفاة النبي ﷺ على نصبه حتى جعلوه أهم الواجبات، وقدّموه على دفنه ﷺ ولم يزل الناس في كل عصر على ذلك.
- وقال محمد بن أحمد بن محمد بن هاشم المحلي المصري الشافعي جلال الدين المفسر الفقيه المتكلم الأصولي النحوي في كتابه شرح المحلي على جمع الجوامع: ويجبُ على النَّاسِ نَصْبُ إمامٍ يقوم بمصالحهم كسد الثغور وتجهيز الجيوش وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وغير ذلك لإجماع الصحابة بعد وفاة النبي ﷺ على نصبه حتى جعلوه أهم الواجبات وقدموه على دفنه ولم يزل الناس في كل عصر على ذلك.
-  جاء في كتاب «غاية البيان شرح زبد ابن رسلان» للفقيه الشافعي شمس الدين محمد بن أحمد الرملي الأنصاري الملقب بالشافعي الصغير (وهو من علماء القرن التاسع الهجري) ما يلي: (يجب على الناس نصب إمام يقوم بمصالحهم، كتنفيذ أحكامهم وإقامة حدودهم وسد ثغورهم وتجهيز جيوشهم وأخذ صدقاتهم إن دفعوها وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وقطع المنازعات الواقعة بين الخصوم وقسمة الغنائم وغير ذلك، لإجماع الصحابة بعد وفاته ﷺ على نصبه حتى جعلوه أهم الواجبات، وقدموه على دفنه ﷺ ولم تزل الناس في كل عصر على ذلك).
- قال د. ضياء الدين الريّس في كتابه: الإسلام والخلافة ص 348: "والإجماع كما قرروه أصل عظيم من أصول الشريعة الإسلامية وأقوى إجماع أو أعلاه مرتبة هو إجماع الصحابة رضي الله عنهم لأنهم هم الصف والرعيل الأول من المسلمين، وهم الذين لازموا الرسول ﷺ واشتركوا معه في جهاده وأعماله وسمعوا أقواله فهم الذين يعرفون أحكام وأسرار الإسلام وكان عددهم محصوراً وإجماعهم مشهوراً وهم قد أجمعوا عقب أن لحق الرسول ﷺ بالرفيق الأعلى على أنه لا بد أن يقوم من يخلفه واجتمعوا ليختاروا خليفته ولم يقل أحد منهم أبداً أنه لا حاجة للمسلمين بإمام أو خليفة فثبت بهذا إجماعهم على وجوب وجود الخلافة وهذا هو أصل الإجماع الذي تستند إليه الخلافة".
- وقال د. ضياء الدين الريس في كتابه الإسلام والخلافة ص99: "فالخلافة أهم منصب ديني وتهم المسلمين جميعاً، وقد نصت الشريعة الإسلامية على أن إقامة الخلافة فرض أساسي من فروض الدين بل هو الفرض الأعظم لأنه يتوقف عليه تنفيذ سائر الفروض"،
- وقال أيضاً في ص 341: "إن علماء الإسلام قد أجمعوا كما عرفنا فيما تقدم - على أن الخلافة أو الإمامة فرض أساسي من فروض الدين بل هو الفرض الأول أو الأهم لأنه يتوقف عليه تنفيذ سائر الفروض وتحقيق المصالح العامة للمسلمين ولذا أسموا هذا المنصب «الإمامة العظمى» في مقابل إمامة الصلاة التي سميت «الإمامة الصغرى» وهذا هو رأي أهل السنة والجماعة وهم الكثرة العظمى للمسلمين وهو إذاً رأي كبار المجتهدين: الأئمة الأربعة والعلماء أمثال الماوردي والجويني والغزالي والرازي والتفتازاني وابن خلدون وغيرهم وهم الأئمة الذين يأخذ المسلمون عنهم الدين وقد عرفنا الأدلة والبراهين التي استدلوا بها على وجوب الخلافة".
- وقال الشيخ علي بلحاج في كراسته "إعادة الخلافة من أعظم واجبات الدين": "الخلافة على منهج النبوة" كيف لا وقد قرر علماء الإسلام وأعلامه أن الخلافة فرض أساسي من فروض هذا الدين العظيم بل هو "الفرض الأكبر" الذي يتوقف عليه تنفيذ سائر الفروض، وإن الزهد في إقامة هذه الفريضة من "كبائر الإثم"، وما الضياع والتيه والخلافات والنزاعات الناشبة بين المسلمين كأفراد وبين الشعوب الإسلامية كدول إلا لتفريط المسلمين في إقامة هذه الفريضة العظيمة،"
-   قال ابن خلدون (في المقدمة): "إن نصب الإمام واجب قد عرف وجوبه في الشرع بإجماع الصحابة والتابعين؛ لأن أصحاب رسول الله ﷺ عند وفاته بادروا إلى بيعة أبي بكر رضي الله عنه وتسليم النظر إليه في أمورهم، وكذا في كل عصر من بعد ذلك ولم يترك الناس فوضى في عصر من الأعصار، واستقر ذلك إجماعا دالا على وجوب نصب الإمام". أي أن الأمة نقلت هذا الإجماع واستقر لديها كابرا عن كابر، وطبقة عن طبقة، فوجود الإجماع متواتر.
- قال الخطيب البغدادي - رحمه الله - أجمع المهاجرون والأنصار على خلافة أبي بكر قالوا له: يا خليفة رسول الله ولم يسمَّ أحد بعده خليفة، وقيل: إنه قبض النبي ﷺ عن ثلاثين ألف مسلم كُلٌ قال لأبي بكر: يا خليفة رسول الله ورضوا به من بعده رضي الله عنهم. أقول: وليست العبرة ببيعة آحاد المسلمين كلهم له، بل العبرة بإجماعهم على حرمة خلو العصر من إمام، وعلى فرضية خلافة رسول الله ﷺ، فالرسول ﷺ إذ قال: «ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية»، يفهم من هذا أن المطلوب هو وجود خليفة له في الأعناق بيعة لا أن يبايعه كل مسلم، وبالتالي فلو كان عدد المسلمين ملياراً فليس المطلوب أن يبايع المليار، بل أن يكون على المليار خليفة أخذ البيعة بالتراضي من الأمة أو ممن يمثل الأمة!.
-  وقال أبو الحسن الأشعري: أثنى الله - عز وجل - على المهاجرين والأنصار والسابقين إلى الإسلام، ونطق القرآن بمدح المهاجرين والأنصار في مواضع كثيرة وأثنى على أهل بيعة الرضوان فقال عز وجل: ﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ﴾، (سورة الفتح، الآية 18). قد أجمع هؤلاء الذين أثنى الله عليهم ومدحهم على إمامة أبي بكر الصديق رضي الله عنه وسمّوه خليفة رسول الله وبايعوه وانقادوا له وأقروا له بالفضل وكان أفضل الجماعة في جميع الخصال التي يستحق بها الإمامة من العلم والزهد وقوة الرأي وسياسة الأمة وغير ذلك.
-  وقال أبو بكر الباقلاني في معرض ذكره للإجماع على خلافة الصديق رضي الله عنه: وكان رضي الله عنه مفروض الطاعة لإجماع المسلمين على طاعته وإمامته وانقيادهم له حتى قال أمير المؤمنين علي كرم الله وجهه مجيبا لقوله رضي الله عنه لما قال: أقيلوني فلست بخيركم، فقال: لا نقيلك ولا نستقيلك قدمك رسول الله ﷺ لديننا ألا نرضاك لدنيانا يعني بذلك حين قدمه للإمامة في الصلاة مع حضوره واستنابته في إمارة الحج فأمرك علينا وكان رضي الله عنه أفضل الأمة وأرجحهم إيماناً وأكملهم فهماً وأوفرهم علماً.
-  قال الشهرستاني: (واصفا حال الصحابة حين اقتربت وفاة أبي بكر رضي الله، واختياره لعمر رضي الله عنه) "وما دار في قلبه (أي أبي بكر) ولا في قلب أحد أن يجوز خلو الأرض عن إمام، فدل ذلك كله على أن الصحابة، وهم الصدر الأول كانوا على بكرة أبيهم متفقين على أنه لا بد من إمام، فذلك الإجماع على هذا الوجه، دليل قاطع على وجوب الإمامة".

*Kesimpulan*

1. KHILAFAH adalah institusi sedangkan orang yang memimpinnya disebut KHALIFAH,
2. Hukum menegakkan Khilafah adalah WAJIB berdasarkan dalil dalam Al-Quran, As-Sunnah, dan Ijma’ Sahabat, dan 
3. Menegakkan Khilafah merupakan FARDHU KIFAYAH sebagaimana pandangan Ulama-ulama mu`tabar dari kaum muslimin, baik itu dari Ulama Lugha, Ulama Kalam, Ulama Fiqhi, Ulama Tafsir, Ulama Hadist, dan Ulama-Ulama Mutaakhirin.

*(Siswa: I'dadiyah, Madrasah Tsanawiah, dan Madrasah Aliyah DDI Mangkoso Kab. Barru Sulawesi Selatan, Indonesia, Mahasiswa: S1, S2, dan S3 Univeritas Al Azhar, Kairo, Mesir.